Secangkir Kopi Rakyat

… terkadang kita hanya perlu berdamai dengan kepahitan hidup, agar kepahitan itu menjadi sebuah kenikmatan, seperti segelas kopi pahit yang lebih menggairahkan bagi para penikmat sejatinya – a random thought

secangkir_kopi_rakyat

Ilustrasi : Secangkir Kopi

Pulang larut malam, dengan wajah, hati dan pikiran kusut adalah my typical day selama menjalani hidup di kota ini. Sebelum beranjak ke ruang tidur, aku sering berlama-lama, menikmati my me-time di ruang tamu, hingga hitungan waktu telah berganti hari.

Terkadang ditemani secangkir kopi. Kopi pahit, tanpa gula. Bukan karena tak kuat membeli gula, atau takut diserang diabetes. Bukan pula, aku penikmat kopi sejati. Tetapi, entahlah, rasanya, kopi pahit bisa menjadi penawar segala rasa pahit di setiap rongga hati ini.

Malam ini aku menyeduh secangkir kopi spesial. Kopi rakyat aku menyebutnya. Dari bubuk kopi yang sangat bersahaja. Terbungkus plastik kiloan tipis, tanpa ada nama merek secuil pun dibungkusnya. Oleh-oleh dari seorang kawan satu perjuangan, saat pulang liburan menengok anak-anak dan istri di tanah air beberapa waktu yang lalu. Katanya, kopi itu dibeli dari si embah-embah tua yang berjualan di pasar tradisional, pusat ekonomi para rakyat jelata, di pinggiran kota Pekanbaru. Kopi itu lahir dari tetesan keringat dan kumpulan keperkasaan yang tersisa dari tangan-tangan si embah yang mulai mengeriput itu. Bukan dari mesin-mesin pabrik milik penguasa kapitalis itu.

Kuciumi aromanya, saat uap mengepul dari secangkir kopi yang baru aku seduh itu. Sungguh harum bersahaja. Mataku pun terpejam meresapinya. Alam pikiran ku pun terbawa ke awang-awang. Terperosok pada jebakan penggalan waktu dua puluh tahun waktu silam di kampung halaman.

Aku, yang hanya seorang bocah yang tidak istimewa. Kegirangan memanjat sepohon kopi yang buahnya sudah ranum kemerah-merahan di kebun belakang rumah. Memetiki buahnya yang harum, seharum bunga-bunganya  yang putih usai musim hujan tiba. Mengulumnya, mengelamuti daging buahnya yang tipis, lalu melepahnya. Nenek ku memunguti biji-biji kopi yang keluar dari mulut cucu kesayangan itu. Menjemurnya hingga kering. Lalu menggorengnya dengan kereweng, penggorengan tanpa minyak dari tanah liat itu, dengan perapian dari kayu bakar. Hingga biji kopi itu pun gosong, bagai arang hitam tapi amatlah harum baunya. Sang nenek pun menumbuk sendiri bongkahan biji-biji kopi hitam itu, didalam lesung dari kayu. Lalu, mengayaknya, hingga diperoleh bubuk kopi hitam yang lembut. Terakhir, menyajikan secangkir kopi hitam itu, untuk sang suami tercinta, yang duduk manis dalam sunyi, di kursi kesayanganya di ruang tamu. Di setiap pagi, dan senja hari.

Sang nenek adalah istri kedua kakek ku. Yang setelah sepeninggal kakek ku, nasibnya tidaklah aku tahu. Diboyong oleh anak satu-satunya dari suami pertama, beserta seluruh harta warisanya, tanpa tersisa. Kabarnya, hidup terlunta di pedalaman Papua saat itu. Dan tak satupun, kami yang tahu kapan sang nenek menghembuskan nafas terakhirnya. Argh, perjalanan hidup manusia sering kali tidak mudah ditebak. Kita tak pernah bisa memilih, dari rahim siapa kita dilahirkan, dan di belahan bumi yang mana kita akan dikuburkan. Do’a keselamatan dan kebahagiaan selalu untuk mu, Nek!

**

Malam ini, hingga tegukan terakhir pun, kopi rakyat masih tersisa. Meninggalkan cete, gumpalan ampas kopi  di dasar cangkir. Rupanya, kopi pahit pun menjadi terasa nikmat rasanya. Mungkin, begitu juga dengan kepahitan hidup. Pahit rasanya di hati, bisa menjadi kenikmatan jika kita tahu cara menikmatinya. Meskipun, seperti kopi yang masih meninggalkan cete, hidup tak akan pernah menjadi sempurna. Sudahlah, pahit atau manis, nikmati saja hidup ini !

Secangkir Kopi Pahit di Bandara Birmingham

…. sepahit-pahit kenyataan hidup, bisa menjadi sebuah kenikmatan, jika kita tahu cara menikmatinya, seperti secangkir kopi pahit – A Random Thought

 

kopi_pahit

Ilustrasi: Kopi Pahit

 

Menjelang tengah hari di hari itu, takdir menemukan ku sedang berada di sebuah warung kopi di terminal kedatangan, bandara internasional Birmingham. Aku memesan secangkir cappucino berukuran sedang, lalu duduk di kursi di pojokan warung kopi itu ditemani oleh kesendirian ku.

Dari pojokan warung kopi itu, kedua mataku menyapu setiap wajah orang-orang yang baru saja turun dari pesawat  dari berbagai belahan dunia itu. Otak ku bekerja dengan algoritma paling canggih, mencocokkan gambar wajah yang tertangkap oleh mata ku dengan gambar wajah yang tersimpan di memori otak ku. Kalau-kalau orang yang aku tunggu itu sudah datang.

Aku bukanlah penikmat kopi, tetapi belakangan aku cukup sering menyeruput kopi. Uniknya, aku selalu sengaja memilih belajar menikmatinya tanpa gula. Oh bukan, aku tidak sedang diet gula atau takut gula darah ku meningkat tajam. Selama ini aku tidak bermasalah dengan penyakit gula itu, lebih tepatnya aku tidak peduli.

Tetapi, aku sedang belajar menikmati kopi itu apa adanya. Pahit memang, tapi aromanya asli, cita rasanya apa adanya, kopi seutuhnya. Tidak mudah ternyata, mengajari lidah ku untuk merubah kepahitan itu menjadi sebuah kenikmatan ala para penikmat kopi sejati.

Sama tidak mudahnya menjalani hari-hari ku belakangan ini, yang rasanya pahit sekali. Belajar menerima kritikan-kritikan sepedas sambel balado itu alamak pahit rasanya. Berjuang, bekerja keras siang malam itu juga pahit. Bersabar, menahan ego belajar rendah hati pun tak kalah pahitnya. Apalagi, belajar menerima kenyata yang tidak sesuai harapan, itu sungguh pahit sekali kawan.

Jadi, aku belajar menjadi penikmat sejati kopi pahit seiring dengan belajar menjadi penikmat kepahitan hidup. Perlahan lidah ku mulai terbiasa dengan kopi pahit. Sangat perlahan, aku pun sudah mulai akrab dengan kepahitan hidup.

 

bandara_birmingham

Terminal Kedatangan, Bandara Internasional Birmingham

 

Kuseruput kopi pahit di depan ku itu perlahan, mata dan hati ku dengan khusuk membaca lembar demi lembar cerita pendek karya Kang Seno, yang aku print out  dengan fasilitas printer gratis di kampus itu.  Awalnya, kebiasaan membaca karya sastra itu, hanya tempat pelarian, sebagai tombo mumet dari menulis disertasi PhD ku yang sudah terlalu lama membusuk, ndak kelar-kelar itu. Tetapi, sekarang menjadi candu.

Awalnya, aku tidak mengerti sama sekali bagaimana menikmati sebuah karya sastra. Mengerti apalah aku ini dengan yang namanya sastra. Aku yang hanya lulusan STM, dan perguruan tinggi teknik. Susunan kata yang kata nya indah itu tak ubahnya susunan kata yang membingungkan di otak ku, terasa absurd.

Tetapi, belakangan, rasanya aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin susunan kata-kata itu bisa menyihir ku. Kalimat demi kalimat itu terasa sangat indah dan nikmat luar biasa, menggeleparkan hati ku. Kata-kata itu, seolah kata-kata indah yang dihembuskan oleh angin syurga. Aku baru mengerti, kalau membaca karya sastra itu harus dengan sepenuh hati, harus dengan segenap rasa.

Seperti halnya aku telah berhasil menjadi penikmat sastra, aku bercita-cita dalam waktu dekat bisa menjadi penikmat kopi pahit sejati, menjadi penikmat setiap kepahitan hidup.

***

Tak terasa, sudah lebih satu jam waktu berlalu, ketika sang teman yang aku tunggu datang menghampiriku. Ku pesankan secangkir kopi yang sama dengan ku untuk nya. Kami pun larut dalam cerita.

Kami beranjak dari warung kopi itu, ketika kedua cangkir itu menjadi cangkir-cangkir kosong tak bertuan. Menuju tempat khusus untuk berwudlu  di lantai 1, dan sembahyang di tempat khusus untuk bersembahyang di lantai yang sama , dekat counter over sized baggage. Setelah melipat sajadah, kutinggalkan sebaris tulisan di buku tamu di tempat sembahyang itu, sebagai ucapan terima kasih tiada terkira.

Setelah bertukar do’a. Kami pun kembali berpisah, menyusuri lika-liku jalanan takdir masing-masing. Good Luck, kawan !

 

 

 

Menghayati dan Menjadi Penikmat Kehidupan

Apalah artinya hidup, jika tak lebih dari sekedar aktivitas mengembang dan mengempiskan nafas kehidupan – a random thought.

calton_hill_06

Ilustrasi: Kota Edinburgh, Scotland, UK

Apalah artinya secangkir kopi pahit panas di pagi hari, jika sampean bukanlah penikmat kopi. Tetapi, lain halnya bagi para penikmat kopi. Kopi pahit itu, penuh filosofi kehidupan. Kopi pahit itu, aromanya adalah pemantik semangat hidup tiada duanya.

Apalah artinya rangkaian kata-kata dalam bait puisi, cerpen, atau novel, jika sampean bukanlah penikmat sastra. Tetapi, lain cerita bagi para penikmat sastra. Kata-kata itu adalah syurga imajinasi yang keindahanya sungguh tiada terkira. Kata-kata itu adalah pelipur hati yang sedang terluka, gundah gulana dirundung nestapa, penyemangat jiwa-jiwa yang lelah diambang keputusasaan, sahabat hati-hati yang sedang berselimut sepi, pembangkit energi semangat dan inspirasi hidup.

Apalah artinya goresan-goresan warna pada kanvas itu, jika sampean bukanlah penikmat seni. Tetapi, lain jadinya jika lukisan itu di hadapan penikmat seni. Ratusan juta rupiah pun, rela dipertaruhkan demi memilikinya.

Apalah artinya sebuah peci dari anyaman rotan yang telah usang itu, yang bisa kau beli murah di pasar legi, jika sampean tak mengerti kenangan-kenangan yang disimpan olehnya. Tetapi, lain artinya bagi sang pemilik kenangan. Berapa pun harga kau tawarkan, dia tak kan rela melepas peci penyimpan kenangan itu.

Dan,
Apalah artinya hidup, jika sampean tak mampu menghayati dan menjadi penikmat kehidupan?

Pernikahan tak lebih dari sekedar pergantian status yang dikukuhkan pada buku nikah, kawin, beranak pinak, lalu berjuang mencari nafkah sepanjang hayat untuk menghidupi mereka.

Bekerja, tak ubahnya rutinitas pergi-pulang ke kantor. Bergelut dengan kemacetan, menyelesaikan tugas yang terus menumpuk seolah tak ada habisnya. Berlomba dengan berbagai cara untuk  menjadi yang paling menonjol. Dan menerima gajian di setiap akhir bulannya, serta kenaikan pangkat dan jabatan, kadang-kadang saja.

Belajar, tak ubahnya rutinitas pergi-pulang ke sekolah. Berusaha sekuat tenaga mengerjakan tugas-tugas dan ujian yang akan terbayar dengan nilai-nilai angka atau huruf. Dan berakhir dengan selembar ijazah di penghujungnya atu gelar beberapa huruf di belakang nama yang selalu sampean bangga-banggakan.

Beragama, tak ubahnya ritual dan pemkaian simbol yang kering makna, sekedar penghapus rasa takut kalau-kalau neraka itu benar-benar ada. Jungkat jungkit rukuk dan sujud menyembah Tuhan, tetapi hati tak pernah merasakan kehadiran cinta sang pemberi kehidupan. Karena urusan-urusan dunia terlalu membelenggunya.

Kawan, sudahkan sampean mampu menghayati dan menjadi penikmat kehidupan dari setiap jengkal langkah hidupmu? Jika, demikian adanya, tolong ajari aku! Apalah artinya hidup, jika tak lebih dari sekedar aktivitas mengembang dan mengempiskan nafas kehidupan.