Advertisements

Tag Archives: dosen

Membaca Prof. Komaruddin Hidayat

…. menatap gesture wajahnya menghadirkan kesejukan dan kenyamanan, membaca tulisanya membuat ku seperti tersihir, terperangkap dalam kedalaman ilmunya yang dalam, alam pikiran ku terbawa oleh diskusi yang sangat menggairahkan fikir, tidak sekedar mencerahkan, tetapi juga menentramkan jiwa – A Random Thought.

Mas_Komaruddin_Hidayat

Prof. Komar (Curtesy of : lampost.co)

Rasanya, hampir semua masyarakat Indonesia yang melek informasi, mengenal sosok beliau ini. Wajahnya tak asing sering muncul di layar kaca. Selalu menjadi tokoh rujukan setiap permasalahan kebangsaan, kenegaraan, dan keberagaman di negeri ini. Prof. Komaruddin Hidayat. Seperti namanya, beliau bak rembulan yang menerangi gelapnya permasalahan-permasalahan kompleks negeri ini.

Saya merasa mengenal beliau sejak setahun yang lalu, saat pulang ke Indonesia, mengisi liburan musim dingin dan natal. Saat itu, secara tidak sengaja, selepas ziarah di makam Gus Dur di pesantren Tebu Ireng Jombang, dalam perjalanan pulang, mampir ke toko buku milik koperasi pesantren, yang berada tidak jauh dari kompleks makam. Di toko buku kecil itulah, saya menemukan sebuah buku bersampul dominasi warna hitam yang sangat menarik hati saya. Judulnya: Agama mimiliki seribu nyawa. Berbeda dengan buku-buku yang biasa saya beli sebelum-sebelumnya, hanya terbaca beberapa halaman di depan, habis itu buku itu teranggurkan begitu saja, tanpa pernah selesai membacanya. Buku tulisan Prof. Komaruddin Hidayat pertama yang pernah saya beli ini, begitu menyihir saya.

Baru kali ini, saya merasa begitu nikmat membaca sebuah buku. Sehingga, buku itu habis saya lahap sehari semalam. Membaca buku itu, seperti diajak dalam sebuah diskusi yang sangat menggairahkan fikir. Bahasanya yang sentimentil begitu menyentuh hati. Sehingga tidak hanya mencerahkan fikir, tetapi juga menenangkan jiwa. Setiap tulisanya, membawa saya pada perenungan dan penghayatan hidup yang begitu mendalam.

Kembali ke Nottingham dan kesibukan riset PhD kembali melupakan saya akan sosok Prof. Komaruddin Hidayat. Sampai beberapa hari yang lalu, saya secara tidak sengaja menemukan acara TVRI Jawa Tengah, namanya SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi), yang diupload di youtube. Dari acara yang sangat inspiratif itulah, saya begitu terpesona dengan kepribadian beliau. Saya begitu takjub ternyata ada orang yang jalan pikiranya begitu sejalan dengan jalan pikiranku. Akhirnya, saya ubek-ubek semua video yang ada di youtube. Mungkin ada ratusan video yang sudah saya tonton (niat banget).

Dari situlah, saya merasa bahwa saya telah menemukan mutiara hilang yang selama ini saya cari-cari. Sosok teladan yang selama ini tak jua saya temukan. Sejak lulus pesantren dan kuliah, entahlah tidak ada sosok teladan yang masih hidup yang menurut saya ideal untuk saya jadikan role model. Tidak ada sosok yang bisa menggantikan kyai-kyai saya di pesantren, yang waktu saya kuliah satu persatu dipanggil oleh Allah. Sering saya merasa iri pada teman kuliah dari fakultas lain yang begitu terinspirasi oleh dosen-dosen nya. Tetapi entahlah saya belum juga menemukan figur-figur teladan ideal itu yang sreg di hati.

Kerinduan akan sosok teladan itu semakin menjadi-jadi ketika saya mengawali karir sebagai dosen. Sungguh, di awal perjalanan karir itu saya membutuhkan sosok yang seharusnya bisa saya jadikan contoh ideal di karir saya. Tetapi, tak ada satu pun juga yang sreg di hati. Menjadi dosen, ternyata tak seideal yang saya bayangkan sebelumnya. Banyak ternyata yang menjadikan dosen sebagai status sosial di tengah-tengah masyarakat, selebihnya lebih asyik mencari duit besar di luar kampus. Nyaris saya belum menemukan dosen yang begitu mencintai dan menghayati profesinya sebagi dosen. Sampai-sampai ada sindiran, GBHN, Guru Besar (baca: Professor) Hanya Nama. Ironis sekali, saya baru tahu ternyata banyak profesor yang ternyata tidak melakukan riset sama sekali.

Rupanya, sosok Prof. Komaruddin Hidayat inilah sosok teladan yang saya cari-cari itu selama ini. Seperti seorang ABG yang mengidolakan artis idolanya, mungkin seperti itulah saya mengidolakan beliau. Seorang dosen yang sangat mencintai dan menghayati pekerjaanya. Bukan sekedar profesor yang tiarap di belakang meja di kampus, tetapi seorang profesor yang mampu menularkan ilmunya untuk kemanfaatan masyarakat, bangsa dan negara. Berkontribusi besar dalam pengembangan hidup kebangsaan, kenegaraan, dan keberagamaan. Tidak sekedar pintar otaknya, tetapi sungguh mulia akhlaknya. Kerendahhatianya, terpancar pada senyum, keramahan, dan sikapnya yang membuat nyaman siapa saja yang berada di dekatnya.

Entahlah, saya tidak tahu kenapa saya gandrung dengan beliau. Mungkin kesamaan latar belakang pendidikan pesantren dan keluarga orang biasa yang membuat alam pikiran saya begitu sejalan dengan alam pikiran beliau. Saking gandrungnya, di akhir pekan lalu saya habiskan waktu saya hanya untuk membaca ratusan artikel beliau. Gila, baru kali ini saya membaca artikel sebanyak itu terus-terusan. Sampai artikel-artikel itu saya kliping dalam satu blog disini. Ketika beberapa tulisan itu saya share ke beberapa teman saya, teman-teman saya kok merasa biasa-biasa saja, malah ada yang bilang tulisanya berat, tidak mudah dipahami. Argh, mungkin saya saja yang terlalu lebay. Tetapi, bersyukur rasanya, telah kutemukan teladan hidup, yang saya cari-cari selama ini, itu. Terima kasih Prof. Komaruddin Hidayat atas inspirasinya. Terima kasih telah membangkitkan gairah hidup saya yang sering kali tidak begitu bergairah.

Advertisements

Indonesian Festival 2013, Nottingham UK

indofest

Saturday (15/06/2013). For me, It was so special day. The day, in which I felt home. The day, in which I felt I was in tiny Indonesia in the UK. The day, I can hear clearly the sound of Gamelan and other traditional music instrument for the first time in the UK. Yeah, the day was 10th Indonesian Festival 2013 (Indofest 2013) in The University of Nottingham.  It was annual event organized by Indonesian Student Society in The University of Nottingham in collaboration with Indonesian embassy and Indonesian students association in the  UK aimed at introducing and promoting the richness of Indonesian culture, the “unity in diversity” of Indonesian people, and the wonderful of Indonesian nature, as well as the amazingly enchanting Indonesian foods and cuisine.  There were thousands of people across the UK flocked to the one of green fields in the University  of Nottingham, one of the greenest campus environment in the world. They were Indonesian, as well as local and other nationality people. Luckily, it was quite sunny day in the summer session, the thing that made everyone felt very happy.

To introduce the Indonesian culture, people, and nature The Indonesian festival held some events including cultural performance in what we called “Indonesia Got Talent” program, Folk Games, Food Stalls, Workshops, and Photo exhibition. Herewith, some pictures that I could take from the spot.

Cultural Performance

The event was opened with a dance performance by “Tari Pendet”, Pendet Dance, a very famous dance from Bali. I saw by myself, this dance successfully attracted attention of  eyes. It was very dazzling dance performance indeed.

Another dance was ” Tari Saman”, the Saman Dance. It was also very famous dances performed by a group of people showing succinctness of the performer gestures. It was very attractive dance, indeed. Actually, there were many other dance performances that I  had no chance to spot them. You know, I was one of the event organizing committee.

Other than dance performance, there was traditional fashion show performed by British and other International people in the UK. It felt very proud and happy to know that other people from different nationalities loved our national costumes.

They also looked very happy and proud with these traditional costumes.  Yeah, to know and to learn the other cultures is always fascinating.

Folks Games

In other hand, we also introduced the Indonesian folks games. As matter of fact, Indonesia has a bunch of traditional games scattered around the Archipelago. Unfortunately, the advance of electronic and digital technology made these cultural heritages vanished. It might be only played once a year during the celebration of our independent day. It was so regretful.

In the festival, some of the games were introduced. such as “Balap Karung”.


Interestingly, It was not only played by Indonesian children, but also International children. Children, no matter what their nationality and cultural background, they are the same. They are always sincerely cheerful. They honestly express what they feel. Dealing with children is always entertain me.

The other folks games played in Indofest 2013 were Bangkiak Race and Tarik Tambang. Have a look on the following pictures, that were  successfully captured from the spot. Bangkiak is modified slipper made from wood. It must be worn by three children who must race together on the track.

While Tarik Tambang is very simple games. Two groups of people in opposite sides are pulling the same rope against each other. The winner is the group who could pull the rope stronger than another group.

At the heart of both games Bangkiak race and Tarik Tambang is a message that people should work together very well in team, it is the way to teach the children the essence of team work in which every people in team plays an important role and no one could gain full success by his/her self without helping hands from the others.

Foods

It was the things that I had been waiting for a long time to come. Yeah, the very Indonesian foods. I do not know why, my tongue never compromises with European foods. And it was the time to grab the very Indonesian food in Nottingham. So yummy.

This food yellow rice is called Tumpeng. It was amazingly delicious. It is usually made in the day of celebration such as birth day celebration. So, it is just like Tart Cake in western culture. This food has deep philosophy but in the essence is the expression of gratitude devoted to Allah, one and the only one God,  for all His blessing to us.

There were approximately 40 Indonesian food stalls in this festival with a bunch of foods from Nasi Padang to Es Cendol. Indeed, it was a great pleasure.

Other than ready served foods, there were also Indonesian food groceries as well, where you can find Indonesian food ingredient there. It was like traditional market in Indonesia. Where every people that dominated by women could speak in Javanese Language to each other without any hesitation, even it was in the UK.

I was so lucky, I found Tempeh and Sambal Pecel in the food groceries stall. They were not available in Nottingham and here they came. Although it was quite expensive compare again the price in Indonesia.

For a bar of Tempe I must pay £2 (approximately Rp. 30.000, it was equal to price of a half kilogram chicken) and £1.25 (approximately Rp. 18.000) for Sambel Pecel. However, for the UK prices, it was quite affordable.

The Workshops

To introduce the Indonesian cultures and local heritages, in the festival also be held some workshops. One of the workshop was Batik Workshop. It gave practical experience how to make Batik from scratch.

At the beginning, the visitor interested in Batik were given a chance to draw his/her own motif on white  fabric. Promptly, afterward, they drew the motif using Canting and Malam. The special tool and ink for drawing the Batik.

I saw they looked very enthusiastic learning how to make it  gradually, scratch by scratch. The process really taught us that there is no instant way to achieve a great masterpiece. Each single great achievement needs long, tedious, even painful process. Only love make the process become a pleasure.

In addition, in the festival, the committee also held Bahasa Indonesia workshop. It gave at glance introduction on how to speak some common words in Bahasa Indonesia. It was to great pleasure, to see some foreigners learning Bahasa Indonesia happily.

In the festival also be  held Bhineka Sport Championship, and the adventure Games.

The Sponsors

This festival was sponsored by Indomie, a top instant noodle brand in Indonesia and Teh Botol Sosro, to brand ready served tea.

Thanks Goes to…

We should thanks to The Indonesian Festival 2013 President and Vice President, the Indonesian Ambassador for UK and Ireland, T.M. Hamzah Thayeb. Great Job, Guys!

and for sure a bunch of thanks went to all organizing committee members, volunteers, and whoever had come to the festival. See you soon in Indonesian Festival 2014 next year !

Understanding the fact that we are different, then trying to know and learn each other is at the heart of harmony in Life. What a wonderful life, living in diversity. Not to compete against each other but to know and love each other.  Indeed,the diversity yield the unity for a better life in this one and only one beautiful world, where we live together as one.

*) Just a random note might be worth to remember in the future.


Ketika Guru , Dosen, Gus dan Kyai Tidak Keramat Lagi di Pesantren

“Pak… pak ! pak Yusuf Ganteng deh” teriak seorang siswi SMA di sebuah pesantren di Jawa TImur, dari lantai dua, kearah Gurunya bernama Pak Yusuf yang sedang berjalan menuju kantor sekolah.

“Pak, besok saya tidak bisa ikut kelasnya bapak, karena ada keperluan mendadak” .

“Makasih ya pak… bye…”

itu adalah suara salah seorang Siswi SMA dari henpon seorang kawan saya yang berprofesi sebagai guru. Saya kirain pacarnya kawan saya tadi, eh ternyata Siswi nya di kelas.

Guru termasuk, dahulu adalah sosok yang sangat dihormati, ditaati, bahkan “dikeramatkan” .

Akan tetapi, lain dulu lain sekarang. Saya begitu kaget, pada satu saat, ketika saya berada di sebuah Sekolah Menengah Atas di sebuah pesantren ada Siswi nya yang dengan santainya menelpon Gurunya di tengah larut malam. Kayak teman nya saja.

Saya bertambah kaget, ketika akhirnya saya tahu bahwa anak-anak SMA sekarang sudah berani meng “godai” guru-guru nya.

Inikah potret anak muda jaman sekarang di negeri Indonesia yang terkenal sangat santun itu?

Saya jadi bertanya-beranya. Di pesantren yang setiap malam belajar kitab “Taklim Mutaalim” aja seperti kayak itu, apalagi sekolah di luar sana yang tidak pernah makan kitab kuning?

Kitab Taklim Mutaalim adalah kitab yang dikaji hampir di seluruh pesantren di Indonesia. Isinya adalah tuntunan bagaimana seorang murid harus bersikap ketika belajar. Di dalam nya menurut saya lebih banyak mengajarkan tentang Akhlak. Akhlak tentang bagaimana seorang murid bersikap hormat dan “tawaduk” terhadap Gurunya. Bahkan kita pun disuruh sangat hormat terhadap putra-putri Guru kita.

Itulah mengapa, di budaya pesantren Kyai, Guru, Ustadz adalah sosok yang sangat dihormati. Jika bertemu sang kyai, santripun dengan “tawaduk” akan merundukkan badan nya, kemudian mencium telapak tangan sang Kyai, Ustadz, dan Guru.

Sekarang : Guru = Teman ?

Mungkin karena saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya budaya lokal, semua berubah menjadi budaya global yang di dominasi orang barat. Sementara orang timur, khusunya orang Indonesia menjadi korban dari budaya global tersebut, sehingga orang-orang timur khususnya Indonesia mengidap penyakit yang sangat kronis, yaitu: merasa malu dengan budaya nya sendiri.

Di barat, mungkin seharusnya posisi Guru dan Siswa adalah sejajar. Guru dan Siswa, Dosen dan Mahasiswa berada pada posisi yang sejajar. Hubungan yang terjadi antara Guru dan Siswa, dan Dosen dan Mahasiswa adalah tidak lebih dari hubungan teman.

Saya jadi ngeri membayangkan jika budaya ini menggeogoti budaya Tawaduk di Pesantren. Apa jadinya jika Budaya Tawaduk, “Merendahkan” diri di hadapan Guru, Ustad, kyai itu hilang? Saya takut suatu saat ada Guru, kyai, an ustadz yang dilecehkan oleh muridnya. Saya jadi teringat kasus beberapa siswa yang dikeluarkan dari sekolah karena menghina, melecehkan gurunya.

Masihkah kita, publik akan membela Siswa Tersebut?

Hah, mengerikan sekali. Profesi yang dulu sangat dihormati, di alu-alukan, di “pahlawankan” itu kini jadi Profesi yang sering dilecehkan. Apalagi ketika segala sesuatu dinilai dengan materi, bahkan kehormatan pun dinilai dengan materi, Apa kabar nasibmu duhai Engkau Si Oemar Bakri?


Dosen “Cupu-Cupu” ? haha….


Waktu ternyata tak pernah memberi kesempatan untuk saya terlunta-terlunta di
persimpangan waktu, ketika satu peranan telah selesai, satu peranan baru yang
lain kembali diberikan oleh sang waktu.


dan….
setiap kita punya satu peranan yang harus kita mainkan.

Hari ini sejarah saya mencatat, saya mengawali peran baru sebagai seorang ‘dosen’. Dosen ? haha… satu profesi yang sebenarnya tidak pernah saya cita-cita kan sebelumnya. Namun, perjalanan waktu akhirnya mengajarkan kepada saya untuk memilih profesi ini. Bekerja di perusahaan swasta, perusahaan BUMN, perusahaan Asing, Sekolah di luar negeri sudah pernah saya cicipi.

Semua itu akhirnya menanamkan kesadaran yang mendalam dalam diri saya bahwa:
pada akhirnya nilai saya tidaklah diukur dari seberapa banyak yang uang yang berhasil kita kumpulkan, bukan dari seberapa tinggi jabatan yang berhasil kita raih, dan bukan pula deret gelar kesarjanaan di depan dan di belakang nama kita.
Akan tetapi seberapa besar kontribusi kita terhadap orang dan lingkungan di sekitar kita lah yang menurut saya adalah yang membuat seberapa berarti nya diri saya ini, dan dosen adalah salah satu yang menjalankan peran penting itu. peran untuk berkontribusi, melakukan transfer of knowledge dari generasi ke generasi penerus bangsa ini. ciee..

Prek !!

waktu jua akhirnya yang menjawab bahwa saya harus memerankan sebagai salah satu dosen di Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dan saya harus memulai nya sebagai dosen “cupu-cupu” alias culun punya. Dosen baru yang jam terbang nya masih 0 detik 0 menit 0 jam.

parahnya dapat bola panas ngajar dua mata kuliah yang dulu diajar oleh seorang dosen yang sangat ‘extraordinary’. Dia satu-satu nya dosen yang tidak pernah memberi nilai ‘A’. Dosen yang terkenal sangat ‘genius’ dan pintar sekali. Dosen yang kelasnya terasa sangat menegangkan, menakutkan dan mencekam bak nonton film horor, hi hi.. Saya pernah menebar senyum di kelas, mengamalkan sunah rasul yang nilainya kayak shodaqah duit. eh, malah kena damprat.

” Heh… kamu!, kenapa kamu tersenyum2!, kamu meremehkan saya ya !, kamu merasa sudah pintar ! keluar kamu !! ”

ooo mai got.. ku akui dia sangat pintar, enak dan detail sekali kalo menerangkan. Namun, ternyata beliau tidak bisa menciptakan rasa nyaman di hatiku dan mungkin di hati kebanyakan teman-teman saya. Sehingga, rasanya ada dinding tebal yang menghalang-halangi ilmu yang beliau sampaikan masuk ke otak saya.

setiap berada di kelas nya, saya selalu menghayal: ‘seandainya dosen ini sabar dan bersahabat dengan mahasiswa, maka kuliah ini akan sangat menyenangkan sekali, coba kalo aku berada di posisi beliau’.

Dan ternyata saya benar-benar kualat, karena suatu hal sang dosen berpindah di Jurusan lain, di fakultas dan Institut yang sama. Dan saya lah yang kena bola panas menggantikan mengajar mata kuliah beliau. alamak….. mungkin saja saya bisa sabar dan bersahabat dengan mahasiswa, tetapi sayang nya saya tidak lah se cerdas dan segenius sang dosen saya.ho ho… gimana dunk 😀

Ada perasaan takut, ada perasaan minder, ada rasa pesimis dan berjuta rasa ndak keruan lainya, menghantuiku ketika akan pertama kali mengajar. Tetapi… ternyata ketakutan itu tinggallah ketakutan dan alhamdulilah kelas pertama ‘well done’. Kelas yang sangat menyenangkan. Kelas yang hidup dan interaktif.

Mahasiswa saya bisa tertawa, tersenyum, dan serius di saat yang tepat ketika saya menyampaikan. Mahasiswa saya cerdas-cerdas dan aktif, ketika saya kasih kesempatan bertanya, bahkan belum saya kasih kesempatan bertanya banyak yang angkat tangan. Berbeda sekali, ketika saya jadi Tutor di UTP Malaysia. Kalau saya kasih kesempatan bertanya, tak satu pun yang angkat tangan, sangat pasif. tetapi kalau di test egh… kagak bisa, hehe… Kelas saya yang pertama sangat memuaskan bagi saya, dari hasil post test yang saya adakan untuk menaksir sebarapa paham mereka dengan materi yang saya sampaikan. Luar biasa 99% well done !!

Ya Allah berilah aku petunjuk, bimbingan, dan hidayah Mu. Sebagai perantara, penyampai ilmu-ilmu mu. Jadikanlah ilmu yang bermanfaat untuk kemashlahatan dunia dan akhirah..

Aammiin..