desa

Galengan Sawah Bercerita: Desa Mencari Makna

…. tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan? – a random thought

desaku_1

Tengah Sawah, Dusun Ringinpitu, Plampangrejo, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur

Jejak langkah.

Pernahkah merenung sudah seberapa jauh kaki melangkah menapaki jalan kehidupan kita? Pernahkan bertanya kemana langkah kaki menuju dan apakah kita melangkah ke jalan yang benar? Ada ribuan tanya mengiringi setiap gerak langkah perjalanan, saat kita berusaha memaknai.

Jalan hidup defaultnya terasa lempeng-lempeng dan lurus-lurus saja. Hanya sesekali terasa mendaki atau tak sadar kita telah jauh melangkah menurun. Terkadang terjal dan berliku. Ada kalanya kita sampai pada persimpangan, banyak jalan yang tebentang di hadapan dan kita dituntut untuk membuat sebuah keputusan: memilih. Tanpa tahu dengan pasti, bagaimana dan dimana jalan yang kita pilih akan berujung.

Ada yang menapaki perjalanan sebagai langkah-langkah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Ada yang menapaki perjalanan penuh dengan strategi dan perhitungan untuk sebuah kata kunci: menjadi pemenang kehidupan. Ada yang sekedar mengikuti kata hati, kemana nurani bicara disanalah dia akan pergi. Adapula yang berfikir bahwa setiap peristiwa kehidupan tak ubahnya bilangan random yang tak perlu disiati, karena itulah inti dari seninya perjalanan hidup. Tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan?

Menyusur Jejak Langkah

Peristiwa mudik, pulang kampung kembali ke desa, ke dusun tempat kita lahir dan tumbuh, buatku adalah peristiwa sakral yang selalu istimewa. Disinilah, titik nol langkah perjalanan hidup kita dimulai. Dan menyusurinya kembali adalah peristiwa transendental yang mengingatkan kita untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita tempuh: are we on the right track?

Adalah jalan setapak, galengan sawah, jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang diantara petak-petak sawah yang dahulu pernah, selama tak kurang dari enam tahun aku menyusurinya pulang pergi. Jalan terpendek dari rumah menuju SD ‘Inpres’ Negeri, yang terletak di pinggir sawah di dusun kami. Saat itu ada lima SD Negeri dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa kami, desa Plampangrejo. SD Negeri Plampangrejo 3 adalah satu-satunya sekolah di dusun kami, dusun Ringinpitu. Sebelum akhirnya kesuksesan program KB di era orde baru yang berakibat menurunya jumlah anak-anak membuat salah satu sekolah harus ditutup, kekurangan murid. Dan sekolah ku berubah nama menjadi SDN Plampangrejo 2. Dan hari itu, kami menyusuri galengan sawah itu kembali.

Galengan Sawah Bercerita

Bagiku, menapaki kembali jalan galengan sawah itu seperti membuka dan membaca kembali buku cerita lama. Bayangkan sedikitnya enam tahun aku menyusuri jalan yang sama, sepanjang hampir 2 km itu, setiap hari.

Secara fisik, meski puluhan tahun berlalu tak banyak yang berubah. Ceritanya yang berganti. Dahulu, di jalan itu, setiap pagi dan siang hari, ramai anak-anak berseragam merah putih, berjalan, meniti (jembatan papan kayu), dan melompat (kalen, saluran irigasi), menyusur setapak dan demi setapak dengan riang hati. Bila musim hujan tiba, daun pisang menjadi payung, tas dan sepatu harus dibungkus keresek. Seringkali kami harus menempuh jalur yang lebih panjang karena jembatan papan kayu hanyut oleh deras arus air kalen. Sepeda Ontel dan Payung adalah sebuah kemewahan buat kami saat itu.

Kini, yang ada hanyalah hening dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak berjalan kaki menuju sekolah. Yang bersepeda ontel pun nyaris tidak ada. Kemajuan zaman membuat manusia semakin merasa nyaman, anak-anak dusun pun diuntungkan, antar jemput pakai sepeda motor dan mobil menjadi kebiasaan. Hidup boleh di desa, tetapi gaya hidup tak boleh kalah dengan orang kota- imajinasi kesuksesan hidup yang selalu mereka bayangkan lewat tayangan sinetron di TV.

Di jalan itu banyak cerita. Di bawah rumpun pohon bambu, ada rumah Lek Man Gun dan Bek Saudah. Keduanya kini telah tiada, Allahu yarhamhum. Pasangan suami istri ini selalu terlihat bekerja keras sebagai pengrajin alat-alat dapur dan pertanian dari bahan dasar bambu yang melimpah ruah di dusun kami. Ada tampah, tompo, dan banyak lagi yang bahkan aku sudah tak mampu mengingat namanya. Sebelum akhirnya alat-alat dapur dari bambu itu tergantikan oleh peralatan plastik made in negeri tirai bambu yang serba murah. Peralatan plastik itu menggempur pasar desa, dan kehidupan Lek Man Gun dan Bek Saudah pun kian merana. Barang-barang hasil tanganya yang terampil itu tak lagi laku di pasar desa.

Lek Man Gun adalah leleki gagah, tinggi besar, dan kulitnya kuning langsat. Begitun Bek Saudah, kulitnya kuning langsat tak seperti kebanyakan orang-orang desa kebanyakan yang kulitnya buluk kusam. Sayang kesempurnaan fisik mereka tak seindah cerita hidup yang menyertainya, setidaknya menurut ukuran kesuksesan hidup orang modern jaman sekarang. Kami masih ingat betul senyum tulus khas keduanya. Meski tengah sibuk berkarya, sapaan hangatnya tak pernah alpa menyapa kami yang melintas di depanya. Merekalah saksi hidup kami, yang mengamati kami tumbuh dari anak-anak hingga tumbuh menjadi remaja hari demi hari. Kini, di tempat yang sama yang ada hanyalah sunyi.

Selain rimbunan pohon bambu, tegalan pekarangan rumah Lek Man Gun juga dikelilingi oleh pagar hidup dari tanaman waribang, alias bunga sepatu. Bunga yang belakangan kutahu adalah bunga kebangsaan negara Malaysia. Bunganya indah berwarna merah, meski tidak pernah berubah jadi buah, yang sering diminta bawa oleh Guru kami di kelas untuk menerangkan alat reproduksi tumbuhan: Benang sari dan Putik. Ada juga bunga sejenis, berwarna merah lebih muda, tetapi tidak pernah mekar, dan jika dipetik dan dihisap pangkalnya, ada cairan yang manis sekali, semanis madu. Jika dulu tegalan itu hanya ditanami pohon pisang, kini tegalan itu jadi perkebunan buah naga.

Beberapa puluh langkah kemudian, pemandangan berikutnya adalah rimbunan pohon kelapa. Dahulu, di antara pohon kelapa itu adalah tanaman singkong. Yang merupakan bahan pokok industri panganan getuk lindri. Zaman berubah, selera cita rasa makanan orang-orang desa pun ikut berubah. Getuk warna-warni dengan taburan parutan kelapa diatasnya telah tergantikan cake warna-warni berbahan terigu dengan parutan keju di atasnya. Wajarlah, jika orang-orang desa mulai malas menanam singkong yang tidak ada harganya. Tegalan singkong pun kini berubah jadi hamparan tanaman padi, dengan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya.

Jejak langkah kami terhenti, ketika kami sampai pada tempat jembatan papan kayu dulu itu berada. Jembatan itu benar-benar telah tiada, dan kalen saluran irigasi itu terlalu lebar buat kami untuk dapat meloncatinya. Dari kejauhan kulihat galengan-galengan sawah lebakan dengan tanaman mendong yang legendaris itu benar-benar telah raib. Tergantikan oleh rerimbunan pohon kelapa berpagar yang tak bisa lagi terlewati oleh pejalan kaki.

Tanaman mendong atau mensiang, bahan baku tikar kini pun telah tiada. Dahulu saat masih banyak ibu-ibu rumah tangga menganyam tikar mendong, tanaman ini adalah komoditas yang menjanjikan. Lagi-lagi, kondisi pasar desa tak lagi bersahabat saat tikar berbahan plastik sintesis dari pabrik menyerbu pasar desa. Lagian, sudah tak jaman, hari gini tidur di atas dipan beralaskan tikar. Spring Bed sudah terbeli oleh orang-orang desa.

Karena langkah terhenti, pagi itu, kami hanya bisa duduk-duduk di galengan-pematang sawah. Merenung, menyatu dengan alam. Pemandangan yang hijau, udara yang segar, hawa yang sejuk, suasana yang hening, hanya terdengar orkestra nyanyian kodok, jangkrik dan burung truwok yang hendak bertelur. Bukankah itu kemewahan bagi orang-orang kota?

Di pematang sawah, jangkar alam fikiranku terbawa pada cerita-cerita masa lalu. Tentang ikan kutuk alias gabus besar-besar dan belut yang dulu begitu melimpah di tempat ini, tentang burung gemak alias puyuh dan burung pitik-pitikan yang wujudnya mirip dengan ayam. Dulu kami, sering mengejar dan memburunya. Sarang dan telurnya mudah kami temukan di antara rimbun tanaman mendong. Belum lagi tentang burung emprit, kutilang, prenjak, srikatan, waakhowatuha. Entah dimana mereka kini rimbanya. Hilang tanpa meninggalkan pesan. Belakangan aku tahu, burung yang kami sebut burung pitik-pitikan itu hidup bebas berdampingan dengan manusia di kampusku, Universitas Nottingham, Inggris. Tak seorang pun berani menangkapnya. Terbesit rasa sesal, kenapa dulu kami begitu kejam memburunya.

Di pematang sawah itu rasa keprihatinanku menyergap. Cerita klasik ekonomi pedesaan yang bak lingkaran setan, sangat tidak menguntungkan dalam rantai sistem ekonomi. Terus berulang, entah dimana juntrungnya. Tentang harga benih, pupuk, dan obat hama yang mahal di masa tanam, kemudian harga jual yang tiba-tiba anjlok saat panen tiba. Panen raya saja merugi, apalagi jika gagal panen? Juga tentang komoditas pertanian lainya yang tak ada harganya di pasar. Aku sangat awam dengan ilmu ekonomi, kalaupun aku seorang Profesor di bidang ekonomi pun, aku tak yakin bisa mengatasi keadaan. Benar, keadaan sistemik yang tidak menguntungkan.

Masa depan ekonomi pertanian di pedesaan rasanya begitu suram. Lebih-lebih arah pembangunan pemerintah yang tidak pernah memihak. Ironi saat puncak kekuasaan dikuasai partai yang sloganya partainya wong cilik. Ironi di negeri agraris dan maritim yang arah pembangunan negerinya tak berpihak untuk bidang keduanya. Alangkah lucunya, masya alloh di negeri yang garis pantainya terluas di dunia, garam saja harus impor. Di hamparan tanah yang subur, tongkat dilempar jadi tanaman saja, bahan pangan masih harus impor.

Tak heran, jika tak seorang pun, dari pemuda-pemudi desa yang berminat jadi petani muda, harapan masa depan. Kecuali petani muda sloganistik, yang biasanya hanya abang-abang lambe. Hanya kamuflase, yang sebentar saja tak ada rimbanya. Buat muda-mudi desa, memilih menjadi petani itu tak ubahnya memperpanjang rantai kemiskinan yang turun temurun.

Untuk memutus rantai kemiskinan itu, yang beruntung, punya otak agak encer, menempuh pendidikan tinggi, untuk kemudian menjadi priyayi di kota. Yang kurang beruntung di bidang akademik, dan orang tua punya modal yang cukup memilih bekerja di luar negeri, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang agak kurang beruntung lagi, yah merantau di kota-kota dimana uang banyak beredar, Denpasar salah satu tujuan utamanya. Yang tidak punya pilihan, kerja serabutan di desa, dengan konsekuensi menerima apa pun yang diberikan oleh hidup di desa. Masih adakah anak muda yang menggenggam asa untuk membangun desanya?

Dari sudut pandang uang saja, apalah yang bisa diharapkan dari desa? Tetapi, dari sudut pandang kehidupan keseluruhanya, kita perlu belajar kembali dari desa. Tentang ketulusan, kepolosan, kesederhanaan, kepasrahan, dan mendefinisikan kembali: apa yang kita cari dalam hidup. Desa adalah tempat untuk meraba-meraba kembali kemanusian kita, yang secara tak sadar, kesibukan telah menjadikan kita tak ubahnya mur baut mesin industri pencipta uang. Desa kembali mengingatkan kita kembali bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang lebih penting dari sekedar uang.

Advertisements

Desa: kemiskinan, kebodohan, dan kekufuran

“… ah sayang, anugerah Gusti Allah berupa sumber daya alam yang melimpah gemah ripah loh jinawi itu tidak dibarengi dengan pembangunan Sumber Daya Manusianya. Malah dibarengi keserakahan segelintir orang yang sok berkuasa. Alhasil, bukanya membawa kemakmuran dan keberkahan hidup bersama, tapi malah memperpanjang cerita kemiskinan yang terus berderit-derit.” – a random thought

kemiskinan_00
*) Gerdu

Pagi itu  langit di desa Wonoasri begitu sumringah. Membiru sempurna, tak segumpal awan kelabu pun menghalangi mata telanjang ku yang menatap nya dengan khusuk. Matahari pun tak malu-malu menerangi, menghangatkan, dan memberi energi kehidupan seluruh alam jagat raya. Seolah memancarkan aura keikhlasan yang sempurna menjalankan takdir Tuhan yang telah ditetapkan untuk nya. Angin pun semilir membelai lembut rambut ku yang agak gondrong, menjanjikan kedamaian dalam nurani kecil  ku yang sedang lari dari jerat-jerat kesibukan hidup yang membelenggu. Aku yang sedang sembunyi dari hiruk pikuk dan hingar bingar pesona kemajuan dan keglamouran kehidupan dunia yang sering kali melenakan. Aku yang sedang duduk termenung di sebuah Gerdu reyot di mulut  jalan masuk rimbunan hutan jati, paru-paru desa ini. Aku yang sedang mencoba mendengar alam yang sedang bersenandung lirih.

Sesuai namanya, wono yang artinya hutan, desa Wonoasri di Kabupaten Madiun Jawa Timur ini memiliki anugerah berupa hutan, khususnya hutan jati yang begitu melimpah. Ijo royo royo (kehijau-hijauan) hutan ini begitu memanjakan mata yang memandangnya. Tidak hanya rimbunan hutan jati yang subur, hamparan tanaman jagung, kacang tanah, dan rerumputan yang tumbuh diantara pohon jati yang sudah ditebang itu juga memesona. Mereka seolah menegaskan, tanah ini adalah tanah yang subur. Tak terlalu berlebihan kiranya kalau ada yang menyebut tanah kita tanah syurga, tongkat dilempar pun jadi tanaman  seperti tongkat batang ketela pohon misalnya.

kemiskinan_01
*) Potret Kemiskinan

Di jalanan kecil menuju perut hutan jati itu Aku melihat laki-laki dan perempuan-perempuan  desa berlalu lalang,  masuk dan keluar hutan jati milik negara itu. Baju mereka terlihat sudahsangat lusuh, bahkan sudah sobek-sobek di badan,  lengkap dengan caping dari anyaman bambu dan dengan sepatu usang atau pun dengan kaki telanjang. Mereka datang dengan  mengendarai sepeda ontel yang juga sudah usang lagi sudah karatan.  Tubuh mereka kurus kering, seolah kontras dengan tanaman jati dan jagung yang subur. Menyuguhkan tidak sekedar potret kesederhanaan dan kebersahajaan hidup, tetapi sebuah keniscayaan kemiskinan dan kemelaratan hidup.

kemiskinan_02
*)Potret Kemiskinan

Keluar dari hutan, sepeda ontel mereka penuh dengan muatan yang terlihat begitu berat, berupa rumput untuk ternak mereka, atau berupa kayu bakar untuk keperluan dapur mereka atau pun di tukar dengan beberapa lembar rupiah. Begitulah, mereka pagi itu bertebaran menjemput karunia Tuhan. Dan, senyum tulus dan keramahan mereka tak jua segera luput dari ingatan ku.

kemiskinan_03
*) Potret Kemiskinan

Pikiranku tak juga hendak mau terhenti. Sebuah teka-teki beregelayut tak mau pergi dari pikiran ku. Kenapa Gusti, anugerah alam yang subur melimpah ini tak memberi kesejahterahan dan keberkahan hidup mereka? apakah karena sebuah keserakahan? Iya, bisa jadi alam yang subur ini dikuasai oleh segelintir orang yang sok berkuasa. Katanya sih dikelola oleh negara dan dijamin oleh undang-undang untuk kesejahteraan rakyat sebesar-besarnya. Nyatanya? hanya segelintir orang serakah yang dekat dengan penguasa yang menikmatinya.

kemiskinan_04
*) Potret Kemiskinan

Ataukah karena Kebodohan? Coba saja mereka pintar dan berpendidikan tinggi, pasti mereka tidak semiskin itu. Mereka bisa jadi pejabat, atau pegawai bergaji besar di kota besar. Trenyuh rasanya, di desa ini, sejauh mata telanjang memandang dari rumah saya tinggal saja saya melihat ada tiga anak manusia yang diuji dengan keterbelakangan mental. Aku jadi ingat kampung Idiot di kabupaten sebelah, yang satu kampung hampir semua penduduknya idiot.

Tetapi, apakah benar pendidikan memang begitu? bukankah pendidikan hanya menciptakan tirani, keangkuhan dan kesombongan? Lihat saja, anak-anak desa yang kebetulan brilian otaknya. Setelah menjadi pintar, kaya, berpangkat dan terhormat,  apa yang mereka perbuat untuk desa ini? Jangankan membawa keberkahan buat orang-orang di desanya, yang ada malah menyakitkan hati dengan pameran kekayaan simbol kesuksesan hidup mereka. Mobil yang mewah, istri yang cantik, dan anak-anak mereka yang terlihat pintar dan cerdas. Mereka yang dulu sering bertandang dari pintu ke pintu rumah penduduk sekitar, sekarang berubah jadi tontonan keangkuhan hidup mereka.

kemiskinan_05
*) Potret Kemiskinan

Tetapi, bukanya pendidikan seharusnya tidak begitu? Bukanya pendidikan seharusnya menjadi pemutus rantai kemiskinan? Bukanya pendidikan seharusnya mencerahkan dan membawa keberkahan hidup? Andai saja mereka pintar, tidak saja mereka hanya mampu menjual kayu gelondongan dan bahan mentah. Mereka bisa merubah kayu gelondongan itu menjadi furniture, mainan anak, pensil dan produk lain bernilai ekonomi tinggi dan sekali lagi kalau mereka pintar mereka bisa menjualnya ke seluruh penjuru dunia. Jagung, kedelai, kacang tanah, singkong mereka pun tidak hanya dijual apa adanya. Jikalau mereka pintar, mereka bisa mengubahnya menjadi produk bernilai tinggi. Keripik singkong pun bisa menjadi camilan dunia mengalahkan kentang goreng, jika dibuat, dikemas, dan dipasarkan oleh orang-orang pintar.

Mungkinkah, karena kita terlalu dimanja  dan terlenakan oleh alam, sehingga kita lupa meningkatkan kualitas diri kita? Mengapa, singapore negara sangat kecil yang tidak memiliki sumber daya alam itu jadi jauh lebih makmur dan sejahtera dari kita? Bukankah, harus kita akui karena mereka lebih pintar daripada kita?

Kalau begitu, jika pendidikan itu pemutus rantai kemiskinan? Sudahkah mereka diberi kesempatan yang sama? Bukanya pendidikan itu terbuka luas hanya buat mereka yang kaya atau memiliki otak pintar? Bukan untuk yang miskin dan bodoh. Bukanya yang miskin itu biasanya otaknya bodoh? Kebodohan memang menciptakan kemiskinan, keterbelakangan, dan bahkan kekufuran jauh dari Tuhan. Jika pendidikan pembasmi kebodohan? masih adakah harapan pendidikan yang  terbaik untuk mereka yang miskin dan bodoh? Atau buat mereka yang sengaja dimiskinkan dan dibodohkan?

Ini hanyalah satu potret kemiskinan di negeri ini. Mereka adalah silent majority di negeri ini. Mereka sebenarnya banyak, bahkan mayoritas, tetapi seolah dianggap tidak ada. Karena mereka tidak pernah bersuara dan disuarakan? Mereka adalah yang dilemahkan. Mereka yang sering kali luput dari pemberitaan. Bukankah negeri ini oleh media hanya diwakili oleh Jakarta?

Sesulit apa pun, semoga selalu ada secercah harapan  yang lebih baik untuk negeri ini.   Seperti sepenggal kutipan kata di bawah ini:

Sepahit apapun ujian saat ini..
Sebesar apapun cobaan saat ini..
Sesulit apapun kehidupan saat ini..
Yakinlah..
Bahwa semua itu hanyalah sementara
Percayalah..
Bahwa akan ada satu waktu dimana Allah pasti menggantikan
Pahit dengan Manis..
Kesulitan dengan kemudahan dan cobaan dengan keindaahan.

Jakarta, 11 Januari 2014 (Khofifah Indar Parawansa)

 

Semoga saja !

Sepeda Ontel di Cambridge : yang tak lekang diterjang arus majunya teknologi transportasi

Menelusuri setiap sudut kota kecil ini membawa ingatan saya kembali pada tahun 90-an awal. Saya merasa bernostalgia dengan kehidupan dusun ku yang damai (Dusun Wringinpitu, Desa Plampangrejo), di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur; tempat dimana saya menghabiskan masa kecil ku yang penuh dengan kenangan. Kenanganan yang kini sudah tercerabut oleh keangkuhan perubahan Jaman yang entah saya tak tahu harus pergi kemana lagi jika saya ingin mengenangnya. Hingga akhirnya, kota kecil ini menghadirkan kenangan dan menghidupkan suasana masa lalu itu kembali. Di kota Cambridge, Inggris, kota pusat sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia di dunia saat ini, tempat dimana salah satu universitas terbaik di atas jagad raya itu berada, saya kembali terhanyut dalam buaian romantika kenangan masa lalu kembali. Dan tahukah anda, kenanganan apakah itu?

Sepeda Ontel, Desa ku dan Kenangan masa kecil ku

sepeda ontel di cambridge_26

Iya kenangan itu adalah kenangan tentang sepeda Ontel. Mode transportasi bersahaja yang menjadi bagian tak terpisahkan dari langkah  panjang peradaban umat manusia. Masih terekam kuat dalam ingatan saya ketika saya masih kecil, di era tahun 90an di kampung saya sepeda ontel pernah menjadi mode transportasi paling utama. Para petani desa hilir mudik pulang pergi dari sawah ladang mereka dengan sepeda ontel mereka, termasuk untuk mengangkut hasil panen sawah dan ladang mereka. Anak-anak sekolah pun ramai bersepeda pergi dan pulang dari sekolah mereka. Mereka pergi bergerombol dan berboncengan berarak-arakan seperti laskar prajurit yang sedang pergi berperang. Saya termasuk di antara mereka. Bahkan Waktu SMP, saya dan beberapa teman dari desa Plampangrejo, harus mengayuh sepeda di setiap pagi-pagi buta  sejauh lebih dari 10 KM untuk menuju ke SMP Negeri yang terletak di Kota Kecamatan.

Tidak hanya untuk transportasi dalam desa, sepeda ontel di kampung saya pada saat itu juga biasa digunakan untuk menempuh perjalanan jarak jauh antar desa bahkan antar kecamatan. Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya, di setiap hari raya tiba, bapak selalu mengajak saya untuk bersilaturahim ke rumah saudara-saudara kami di luar desa dan kecamatan hanya dengan sepeda ontelnya. Saya dibonceng oleh Bapak, sementara adik saya yang perempuan di bonceng oleh emak  saya. Kami tidak sendiri, biasanya kami pergi bersama-sama dengan saudara yang lain. Pergi pagi-pagi buta dan kembali di rumah ketika malam mulai menjelang. Menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer, dari desa satu ke desa lainya, melintasi jembatan bambu,  bahkan seringkali harus menyebrangi sungai. Sungguh, sebuah kekuatan semangat silaturrahim yang sangat-sangat luar biasa pada saat itu, apalagi untuk ukuran masa sekarang.

Sepeda Ontel, Desaku, dan Riwayatmu kini

Lain ladang lain belalang, lain dulu lain sekarang. Sekarang, jika saya pulang kampung keadaan jauh berbeda. Sepeda ontel, yang dahulu di setiap keluarga setidaknya memiliki satu sepeda ontel, kini pun tinggal kenangan. Sepeda Bapak saya, yang dulu kokoh dan tangguh pun sudah lama dianggurin di dalam kandang ayam. Yang lambat laun karatan dan akhirnya rusak dimakan usia. Hanya sepeda-sepeda model BMX yang dipakai oleh mainan anak-anak kecil saja yang masih tersisa. Moda transportasi desa kini telah tergantikan oleh motor dan Mobil.

Jujur dari hati nurani yang paling dalam, setiap kali pulang kampung, saya merindukan suasana kedamaian dan ketentraman desa ku yang dulu. Di jalan kampung di depan rumah saya, yang hingga saat ini belum diaspal itu, kini penuh bising dengan suara berisik sepeda motor dan mobil. Apalagi, di hari lebaran. Jumlah volume mobil yang lewat di depan rumah saya meningkat sangat drastis. Hampir setiap menit ada saja mobil yang lewat. Menghadirkan suara bising dan menghembuskan debu-debu jalanan yang sangat menyiksa.

Desa saya yang dulu damai, di setiap lebaran berubah menjadi  tak ubahnya suasana di jalanan Ibu kota yang berisik. Mungkin, karena mobil adalah simbol kesuksesan pencapaian hidup manusia Indonesia. Sehingga kuda-kuda besi dari Jepang itu harus dipertontonkan ke seluruh penduduk kampung oleh anak-anak desa yang merasa sukses merantau di negeri seberang. Atau karena mereka merasa harga diri mereka ada pada benda bergerak penyebar polusi itu? dan seolah penduduk kampung pun mengamini bahwa merekalah yang mobilnya paling bagus yang paling sukses hidupnya.

Kalau sudah begini, kemana saya harus mencari kedamaian kampung saya yang dulu lagi?

08_sepeda ontel di cambridge_01

Para Mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontelnya.

Sepeda Ontel dan Cambridge.

Di Cambrige, sepeda ontel adalah moda transportasi mainstream. Di kampus Universitas Cambridge misalnya, mayoritas mahasiswa menggunakan sepeda ontel untuk mobilitas mereka di sekitar kampus yang sangat luas. Sebenarnya ada layanan Bus murah khusus mahasiswa cambridge yang mengelilingi kampus dan city center. Tetapi sepertinya layanan Bus ini kurang dinikmati. Mungkin karena tidak gratis dan kurang fleksibel, karena bus hanya lewat setiap 10 menit sekali. Waktu 10 menit menunggu mungkin sangat berharga bugi para mahasiswa Cambridge.

08_sepeda ontel di cambridge_02

Sepeda Ontel di salah satu gedung perkuliahan di Universitas Cambridge

Tidak hanya dalam lingkungan kampus dan mahasiswa, sepeda ontel juga sangat populer di antara masyarakat pada umumnya di Cambridge. Di pusat kota Cambridge misalnya, anda bisa menyaksikan pengguna sepeda Ontel yang sangat banyak. Demikian juga sepeda-sepeda ontel yang diparkir di sepanjang jalan. Di Cambridge, dan di Inggris pada umumnya, parkir untuk mobil sangat mahal, hampir £1 pound (Rp.15.000) per jam. Tetapi tidak halnya dengan parkir sepeda ontel, anda bisa parkir di tempat-tempat parkir sepeda yang disediakan dengan gratis.

Sepeda Ontel di Pusat Kota Cambridge

Selain di pusat kota, sepeda ontel juga banyak digunakan para pemakai mass public transport seperti kereta api. Umumnya, mereka menggunakan sepeda dari rumah ke stasiun kereta api. Tetapi, banyak juga yang membawa sepedanya masuk ke dalam kereta api dan ini sangat diperbolehkan di Inggris. Mereka biasanya menggunakan tipe sepeda lipat yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas dan dibawa masuk ke dalam kereta. Kalaupun tidak memiliki sepeda lipat, di dalam kereta api juga terdapat tempat khusus para penumpang dengan sepedanya, yang terletak di antara sambungan gerbong.

Sepeda Ontel di Salah satu stasiun kereta Api

Berbagai Rupa Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin anda berfikir bahwa sepeda Ontel di Cambridge adalah sepeda ontel modern mahal berharga puluhan juta rupiah seperti sepeda Ontel kalangan berada di kota-kota besar di Indonesia. Sepeda-sepeda  ontel di Cambridge adalah sepeda ontel bersahaja yang mengingatkan saya pada sepeda ontel -sepeda ontel di kampung saya pada era 90-an. Berikut beberapa foto yang berhasil saya abadikan.

Seorang mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontel bersahaja nya

Kira-kira masih ada ndak ya saat ini mahasiswa/i di salah satu kampus di Indonesia yang masih mau berangkat ke kampus dengan sepeda bututnya seperti mahasiswi Cambridge di atas? di kampus saya di surabaya, sebuah PTN yang dulu dikenal sangat merakyat saja saat ini mahasiswa/i nya sudah pada berlomba-lomba dengan mobil-mobil nya. Yang merubah parkiran sepeda ontel dan motor butut menjadi layaknya sebuah show room mobil. Ironis memang, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru saya temukan di kampus di Inggris, negara maju yang kemakmuran dan pendapatan perkapitanya berpuluh-puluh kali lipat dengan Indonesia. Sementara, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru menjadi barang yang sangat langka di kampus di Indonesia yang katanya negara dunia ketiga yang ketinggalan secara ekonomi.

Sepeda Ontel lainya

Yang menjadi ciri khas sepeda ontel di Cambridge adalah sebuah keranjang berwarna coklat yang terbuat dari anyaman kayu serabut. Biasanya, keranjang ini digunakan untuk menaruh tas dan barang-barang bawaan lainya. Pemakai sepeda ontel di kota ini juga lintas profesi, lintas umur, dan lintas gender. Tidak hanya mahasiswa dan ibu rumah tangga, penyandang profesi lain pun ikut mengayuh sepeda.

Mahasiswi cambridge dan sepeda ontenya

Tidak hanya para remaja, anak-anak dan para lanjut usia pun bersepeda. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun bersuka ria dengan sepeda-sepeda nya.

Lelaki dan sepeda ontelnya

Bahkan tidak hanya yang bertubuh normal, yang mengalami cacat fisik pun banyak yang menggunakan sepeda. Berikut berbagai pose masyarakat Cambridge dengan sepeda-sepeda ontel mereka.

Sepeda Ontel Kaki tiga

Sang putri dengan sepeda ontelnya

Si Bapak dan sepeda Ontel feminin nya

Si Kecil dan sepeda Ontelnya

Si manis dan sepeda ontelnya

Mahasiswi cerdas dan sepeda ontelnya

Si seksi dan sepeda ontel bututnya

Pak Tua dan sepeda Ontelnya

Sang professional dan sepeda ontelnya

Si modis dan sepeda Ontelnya

Si Gaul dan Sepeda Ontelnya

Yang unik dari Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin kita berfikir sepeda ontel tidak praktis dan memiliki keterbatasan untuk ukuran keluarga. Mungkin kita berfikir mobil adalah moda transportasi paling sempurna untuk sebuah keluarga. Dimana pasangan dan anak-anak kita bisa diangkut bersama. Tetapi, yang menarik di Inggris, sepeda ontel tak menghalangi kebersamaan keluarga. Bahkan, sepeda ontel bisa digunakan untuk membawa seorang bayi. Ya Mereka  menarik baby box dengan sepeda ontelnya.

Sepeda ontel dan Baby Box

Untuk membawa anak-anak yang sudah agak besar. Sepeda ontel bisa dilengkapi dengan boncengan seperti foto-foto di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Boncengan Anak nya

Sepeda Ontel untuk dua orang

Ayah, Anak, dan Sepeda Ontelnya

Sepeda Ontel dan Kenyamanan Kota

Dengan masyarakatnya yang mayoritas adalah pengguna sepeda ontel, Cambridge menjadi salah satu kota di Inggris yang sangat nyaman untuk disinggahi. Udara yang bersih, tidak ada kemacetan, tidak ada polusi, dan yang pasti sangat nyaman untuk dinikmati. Ritme kehidupan terasa berjalan dengan penuh kedamaian yang menentramkan hati dan menenangkan pikiran.  Tidak seperti kota-kota besar yang bersisik dan penuh dengan kepenatan dan hiruk pikuk kesibukan hidup. Cambridge, tidak salah jika kota ini adalah sumber inspirasi kesempurnaan sebuah peradaban umat manusia. Di kota inilah, telah lahir ilmuwan-ilmuwan kenamaan yang telah banyak merubah dan mempengaruhi dunia, seperti  Isaac Newton, Darwin dan sebagainya.

Suasana di depan Stasiun Kereta Api Cambridge

Suasana dalam salah satu kampus Universitas Cambridge

Untuk mengintip nyamanya kota Cambridge, yuk kita intip dua video di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Masa Depan nya di Indonesia

Melihat serunya bersepeda Ontel di Cambridge, dan Inggris pada umumnya. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa tidak di Indonesia ya? Bukankah sepeda Ontel itu moda transportasi yang murah? Mungkin banyak dari kita berfikir sangat nyaman bersepeda di Eropa karena udaranya yang sejuk dan nyaman, sementara di Indonesia sangat panas dan tidak nyaman untuk bersepeda.

Tetapi, menurut saya itu tidak sepenuhnya benar. Justru cuaca di Inggris jauh lebih complicated dengan cuaca di Indonesia. Di musim panas, Inggris suhunya bisa mencapai di atas 30 derajat dan tidak kalah sumuknya dengan kota Surabaya, toh mereka malah asyik berpanas-panasan dengan sepeda ontelnya. Di musim dingin suhu bisa di bawah 0 derajat celcius dan bersalju. Hujan bisa turun kapan saja  sepanjang tahun.

Jadi menurut saya, bersepeda ontel itu bukan karena keadaan dan ketidakberdayaan. Tetapi karena pilihan budaya hidup. Pilihan yang dipengaruhi oleh bagaimana pola pikir kita terhadap kehidupan dunia ini. Jika gaya hidup mewah dan pamer kakayaan hidup adalah pilihan mungkin sepeda ontel bukanlah pilihan yang tepat. Hal ini akan berbeda jika kesederhanaan dan keharmonian hidup dan alam menjadi pilihan.

Rindu alam desa ku yang dulu: Makanan “ndeso” yang Go Internasional

… sangat tidak disangka, makanan yang sangat bersahaja dan telah dilupakan itu saya temui kembali dengan harga yang sangat-sangat mahal.

Salah satu perbedaan budaya yang terkadang bisa menjadi kendala ketika kita hidup di negara lain adalah perbedaan selera makanan.  Bukanlah hal yang mudah memaksa lidah yang sudah terbiasa puluhan tahun dengan cita rasa lokal nusantara  dengan cita rasa makanan orang Bule. Kalau sudah begitu, apa boleh buat mau tidak mau harus masak sendiri. Walaupun, terkadang urusan masak ini buat orang seperti saya, yang terbiasa dilayani di rumah, terasa begitu menyiksa. Belum lagi, sebagai seorang muslim  yang hidup di negara mayoritas non-muslim, kita harus berhati-hati dalam mencari makanan yang halal.

Di kebanyakan supermarket di Inggris,  tidak dijual makanan khususnya daging yang berlabel Halal. Oleh karena itu, saya harus jeli mencari penjual daging muslim atau memilih tidak makan daging/ayam. Dan sedihnya, di Inggris label halal artinya lebih mahal :(.

Di Nottingham, untungnya ada sebuah  tempat yang  penduduknya mayoritas Muslim, namanya Hyson Green. Dari kampus bisa ditempuh sekitar 20 menit jalan kaki. Di Hyson green ini, mayoritas penduduknya adalah pendatang dari Timur Tengah : India, Pakistan, Bangladesh, Oman, Kazahtan, dll. Bila berada di tempat ini, saya berasa seperti di lingkungan makam sunan Ampel Surabaya. Banyak tulisan Arabnya, dan nama tokonya ke arab-araban juga seperti : Medina, Syarif, dll. Saya hampir tiap minggu ke tempat ini untuk membeli kebutuhan dapur.

Yang tidak habis pikir ternyata di perkampungan muslim ini,  saya menemukan makanan “ndeso” jaman mbah-mbah saya dulu. Makanan yang membuat saya, seolah memutar kembali kenangan 20 tahun lalu ketika masih SD, bersama balutan kasih sayang kakek dan nenek saya di kampung yang sangat bersahaja. Dulu, mbah-mbah saya makan nya ya makanan-makanan “ndeso” yang sekarang sudah terlupakan bahkan oleh orang desa itu sendiri. Saya jadi kangen almarhum mbah-mbah saya. Semoga mereka bahagia di alam kubur mereka, Ammiin.

Makanan “ndeso” tersebut di antaranya adalah:

(1) Beton

20130320_104255

Ini adalah biji buah nangka. Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya. Dahulu, beton ini cuman direbus terus dijadikan camilan favorit di malam hari. Di Inggris, makanan ini dilabeli dengan “Jack Fruit Seed”. Tetapi, yang bikin kaget adalah harganya. Satu kilo dijual dengan harga £ 5.49 atau sekitar Rp. 82. 500 (£1 = Rp. 15.000). Buat saya ini harga yang sangat mahal sekali, karena 1 pack bersisi 15 butir telur harganya cuman £1.5, dan 1 kg daging ayam hanya £1.5 – £2.0 .

20130320_104441

(2) Jambe (Buah Pinang), harga £3.99 / Kg.

20130320_104502

Saya tahunya ini namanya buah Jambe. Dahulu ini makanan favoutite mbah dok (mbah wedok) saya. Ini biasanya dimakan dengan Daun Sirih, Gambir dan Batu Gamping. Terus, dikunyah-kunyah yang akan menghasilkan “Du Bang” singkatan dari Idu Abang (Air Liur Berwarna Merah). Seingat saya dulu, mengunyah daun sirih dan kawan-kawan ini ini disebut dengan “nginang”. Biasanya, setelah aktivitas ini dilanjutkan dengan aktivitas “nyusur” yaitu aktivitas membersihkan gigi dengan tembakau dan mengulum tembakau tersebut sampai beberapa menit hingga jam.

Sekarang di desa saya, budaya nginang dan nyusur ini sudah hilang di telan jaman. Walaupun sebenarnya bisa jadi, kearifan lokal ini, memberi manfaat secara medis. Misalnya, membuat gigi dan gusi lebih kuat, yang sangat menarik jika  dilakukan penelitian dengan kaidah ilmiah modern. Tapi entahlah, bangsa ini sepertinya  sudah kadung merasa rendah diri dengan kearifan lokal yang dimiliki nenek moyang nya. Sehingga semuanya  dianggap kuno, ketinggalan jaman dan tidak ilmiah.

(3) Ontong (Harga £3 / Kg)

20130320_104356

Ini adalah bunga pohon pisang. Makanan bersahaja yang bisa diambil gratis di desa ini sangat cocok dimasak Lodeh. Dengan kuah santan yang kental dan bumbu udang ebi. Ontong ini juga pas dibuat sayur teman makan Pecel. Wah rasanya sangat luar biasa. Sayang beribu sayang disini harganya lebih mahal dari daging ayam dan daging sapi 😦

(4) Lompong dan Bothe

20130320_105549

Gambar di atas adalah Tebu, Hati  daun pisang, batang lompong (Keladi), dan Umbi nya.  Ini adalah makanan saat saya masih kecil di desa saya dulu. Tebu, saya biasa ambil dari halaman rumah. Lompong atau batang daun keladi, ini biasanya dibuat lodeh. Umbi keladi nya, saya dulu nyebutnya mbothe, biasanya dipakek sambal goreng atau cukup direbus saja.

(5)Pohong dan Polo Kependem Lainya

20130320_104309

Ini adalah umbi-umbian yang dulu sangat jamak saya temukan di desa. Orang desa di Jawa menyebutnya dengan Polo Kependem. Ada puluhan jumlahnya, yang dulu ini adalah makanan utama desa sebagai pengganti beras. Diantara yang masih saya ingat adalah ada singkong, suwek, gembili, gembolo, gadung, garut dan banyak lagi lainya.

20130320_104632

Saya yakin tanaman-tanaman dan makanan “ndeso” yang dulu sangat dilestarikan secari arif oleh orang-orang desa itu adalah sumber makanan yang sangat kaya gizinya. Gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Buktinya, orang-orang desa jaman dahulu badanya kuat-kuat, sehat-sehat dan jarang terserang penyakit.

Sayang seribu sayang, makanan-makanan “ndeso” itu sekarang tinggal kenangan. Karena kadung ada anggapan kalau ndak bisa makan nasi dari beras itu miskin dan terbelakang, sehingga tanaman polo kependem yang puluhan jumlahnya itu kini tinggal cerita. Para petani desa sekarang sudah tidak tertarik dengan makanan dari polo kependem tersebut, sehingga tanaman polo kependem itu sekarang nyaris punah.

Padahal, masih ingat betul dalam ingatan saya dahulu. Di belakang rumah mbah saya yang luas, yang ditakdirkan oleh Tuhan sebagai tanah yang subur, dengan mudahnya saya bisa menemukan berbagai jenis makanan baik yang terpendam dalam tanah (disebut dengan polo kependem) seperti singkong, ketela rambat, suwek, gembili, gembolo, gadung, garut, dan sebagianya yang saya lupa namanya. Begitu juga dengan makanan yang menggantung (disebut dengan polo gumantung) seperti nangka, keluwih, sukun, kopi, melinjo, mente, belum lagi buah-buahan seperti nanas, jambu air, jambu kelutuk, sawo, kelapa, mangga, jeruk. Semuanya disediakan secara gratis dan melimpah oleh alam.

Sekarang kalau saya pulang kampung, belakang rumah mbah saya itu tidak lebih dari lahan gersang. Hanya beberapa pohon kelapa, yang degan nya selalu menarik perhatian anak saya. Dalam hati saya selalu berbisik kepada anak saya; ” Sayang nak, tak pernah engkau saksikan, betapa melimpah ruah nya hasil alam  pas jaman ayah kecil dahulu”.

Begitu juga dengan sungai di belakang rumah mbah saya. Kali setail, nama sungai itu. Dahulu, sungai itu melimpah dengan berbagai jenis ikan air.  Ada Ikan tombro, ikan melem, ikan gabus, ikan tawes, ikan wader, ikan lele,  ikan uceng, ikan kocolon itu hanya sedikit nama ikan yang masih saya ingat namanya.  Ada juga udang, empet, remis yang jumlahnya melimpah diantara bebatuan sungai yang airnya jernih dan segar untuk mandi. Oh sayang, semuanya tinggal kenangan.

Sekarang, jika saya pulang ke kampung halaman. Sungai itu tinggalah hamparan sungai yang gersang. Airnya kuning tercemar, tidak ada kehidupan lain di sungai itu kecuali ikan kecil-kecil yang kulitnya keras dan tidak enak untuk dimakan.

Rupanya, pesona alam desaku yang melimpah ruah itu telah musnah oleh keserakahan anak manusia. Atas dalih untuk meningktakan pendapatan petani, bahan kimia digunakan secara berlebihan oleh para petani sehingga membuat sungai tercemar dan memusnahkan kehidupan biota alami sungai itu. Atas nama pembangunan, ribuan tetumbuhan sumber makanan dan vegetasi alami alam desaku itu telah dimusnahkan.

Andai saja saya boleh meminjam mesin waktu, ingin rasanya saya kembali ke masa itu. Akan saya turuti petuah leluhur nenek moyang saya, menjaga kelestarian alam desa ku dengan arif dan bijaksana. Bersikap santun dengan alam, bersahabat dengan baik dengan alam.

Ah sayang seribu sayang, Pesona alam desaku yang dahulu itu kini tinggallah kenangan. Semoga, anak cucuku kelak tahu, bahwa cerita negeri syurga itu pernah ada. Oh.. sungguh saya rindu pesona alam desa ku yang dulu.

Nottingham, 24-03-12; 23:54  , yang merindukan desa kecil di selatan Kabupaten Banyuwangi tahun 80-90 an.

 

Antara Guru-Guru Desa dan Potret Pendidikan Indonesia.

” …… Ternyata keadaan pendidikan di SD di desa sekarang pun tak berubah, bahkan mungkin bisa jadi lebih buruk dengan ketika saya menjadi murid SD di desa 20 tahun silam. Akankah, 20 tahun yang akan datang pendidikan di desa tetap bergeming dengan keadaan nya seperti itu? Bagaimanapun juga ini adalah potret nyata  nan buram pendidikan di Indonesia”.

Sudah hampir dua bulan lamanya saya berinteraksi dengan mereka-mereka yang luar biasa di mata saya, mereka para pahlawan-pahlawan desa, yang tidak pernah diberi  dan tidak pernah mengharapakan tanda jasa. Mereka adalah para guru-guru desa, guru-guru di sekolah-sekolah rakyat, di pelosok-pelosok pinggiran Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Saya beinteraksi dengan mereka dalam kapasitas saya, sebagai tutor Universitas Terbuka UPBJJ-Surabaya. Sebuah universitas tanpa kampus, dengan jumlah mahasiswa lebih dari 24.000, tersebar di daerah-daerah Jawa Timur. Salah satunya adalah di Kabupaten Jombang. Di Kabupaten Jombang, tutorial dilaksanakan seminggu sekali, meminjam gedung sebuah SMA Negeri di kota Jombang (SMA Negeri 3 Jombang).

Seminggu sekali, tepatnya setiap hari minggu, saya bertemu dengan mereka, dari Surabaya menuju kota Jombang. Seminggu sekali, mereka berduyun-duyun pergi dari pelosok-pelosok desa menuju kota Jombang.

Sebagian dari mereka berasal dari SD desa-desa seperti : SDN Bugasur Kedaleman I,SDN Ngoro 1 Ngoro,SDN Karangpakis II,SDN Banjardowo I,SDN Mangunan II,SDN Sukodadi II,SDN Pengampon II,SDN Sumberingin,SDN Sumbergondang,SDN Genenganjasem I,SDN Kabuh I,SDN Durikedungjero,SDN Krembangan,  SDN KEPUHREJO O2,SDN KEPUHREJO O2,SDN KUDUBANJAR,SDN PACAPELUK 0, SDN MENTURUS,SDN KUDUBANJAR 01,SDN SUMBERTEGUH,SDN KUDUBANJAR 01,SDN KUDUBANJAR 01,SDN SUMBERTEGUH,SDN KUDUBANJAR 02,SDN SUMBERTEGUH,SDN SIDOMULYO,SDN
SUMBERSARI,SDN BALONGSARI 02,SDN TURIPINGGIR 01,SDN NGOGRI 01,SDN MEGALUH,SDN BEDAHLAWAK II,SDN SUDIMORO,SDN KALIKEJAMBON,SDN KEDUNGOTOK 2,SDN JATIWATES 1,SDN KEDUNGLOSARI 2,MIM 10 REJOSOPINGGIR, SD TAMPINGMOJO 02,SD MOJOKRAPAK 01,SD SENGON 02, SD MOJOKRAPAK 03,SDN MOJOKRAPAK 01,SDN DUKUHKLOPO 1,SDN MOJOKRAPAK 3,SDN KEBONTEMU 2,SDN SENDEN,SDN MANCAR I,SDI AL FATTAH,SDN SENDEN,SDN BONGKOT,SDN SENDEN, SDN PULOREJO 2,SDN PULOREJO 2,SDN BONGKOT,SDN PULOGEDANG II,SDN GABUSBANARAN,SDN REJOSOPINGGIR I, dan lain-lain.

Sebenarnya disini saya adalah Tutor, untuk mata kuliah Komputer dan Media Pembelajaran. Tetapi, tidak hanya itu, Saya lebih tertarik untuk mencoba memotret pendidikan di Indonesia dari mereka-mereka ini. Kenapa? Karena pendidikan di Indonesia tidak bisa dipotret dari sekolah-sekolah di kota, dan kota-kota besar. Sementara ini, kita tahu sudah banyak sekali sekolah-sekolah bagus, bahkan sekolah-sekolah internasional pun semakin banyak bak cendawan di musim hujan. Tetapi itu hanyalah sangat setetes air dari setimba air pendidikan di Indonesia. Justru, pendidikan di desa-desalah potret nyata pendidikan di Indonesia. Karena 90% penduduk Indonesia tinggal disana.

Ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat dari potret yang saya ambil dari mereka, para guru-guru desa kita ini. Yang pertama adalah pendidikan para Guru SD di desa. Terlepas dari apapun, faktanya mereka kebanyakan hanya berlatar pendidikan Diploma 2 PGSD. Untuk itulah program S1 PGSD ini diselenggarakan khusus buat mereka. Yang kedua adalah metode dan fasilitas pendidikan yang sangat minimalis. Metode yang diterapkan Guru-guru SD saat ini ternyata tidak berbeda dengan metode yang diterapkan jaman saya sekolah 20 tahun yang lalu. Tidak jauh dari metode menghapal dan menghitung. Fasilitas? hemm… di jaman internet seperti saat ini, masih banyak sekolah yang belum memiliki satu pun komputer. Kalaupun ada, hanya ada satu komputer di ruang kepala sekolah, untuk administrasi. Jangan pernah membayangkan ada laboratorium komputer di sekolah-sekolah SD di desa. Yang ketiga adalah minimnya jumlah siswa SD di desa-desa. Mungkin karena keberhasilan Keluarga Berencana jaman nya Pak Harto, sehingga saat ini semakin sedikit jumlah anak Indonesia usia Sekolah Dasar. Banyak sekolah yang dimerger karena kekurangan murid. Rata-rata satu kelas kurang dari 20 siswa, bahkan ada seorang Guru SD bilang kepada saya, siswanya satu kelas cuman 4 orang cewek semua.

Tidak mudah memang untuk merubah nasib pendidikan di tanah air, tetapi semua tidak akan pernah berubah jika kita tidak merubah. Di awal pertemuan saya bilang ke mereka-mereka yang luar biasa ini. Jika Bapak/Ibu ingin merubah dunia, ada satu titik yang harus rubah terlebih dahulu, yaitu : diri bapak/Ibu sendiri ( cited from
somewhere).

Selalu masih ada harapan untuk menjadi lebih baik ! Maju terus Guru-Guru Desa di Indonesia…