Advertisements

Tag Archives: darul ulum

Selamat Jalan Kyai : Mengenang KH Dimyati Romli

…. semua berasal dari Nya dan kembali pulang menuju Nya kembali. Dari ketiadaan, kemudian ada, dan kembali ketiadaan. Itulah hidup. – a random thought

 

yai_dim_okezone

Ilustrasi : KH Dimyati Romli (Tengah Bersurban), Sumber: jombangpemkab.g.id

Rabu, 18 Mei 2016

Pagi  yang mengawali hari ini disambut dengan rintik rinai hujan yang panjang.  Daun-daun maple yang menghijau dan telah mekar sempurna pun basah kuyub, jalan-jalan beraspal basah, membentuk kubangan-kubangan air kecil di beberapa sudut.

Waktu sholat subuh baru saja usai, tetapi jam di dinding masih pukul 4.30. Setelah membimbing anak lanang membaca buku setebal 30 halaman, aku tertidur kembali, terbuai suara rintik hujan yang mendamaikan. Oh, hujan pagi hari ini begitu melenakan membawa ku ke alam bawah kesadaran.

Beberapa jenak kemudian aku terbangun. Kulihat waktu di handpon ku menunjukkan pukul 7.15. “Tuing” . Ada pesan WA masuk dari seorang teman satu bilik asrama di pondok pesantren Darul Ulum Jombang dulu:

Innalillahi wainnailaihirojiuun, telah berpulang kerohmatulloh KH.Dimyati Romli pengasuh pp. Darul ulum jombang dan mursyid thoriqoh qodriyah wa naqsabandiyah,mohon bantuan bacaan fatihah buat beliau “

Hujan yang masih saja menitik seolah mengiringi suasana duka dalam hati ku.  Sedih, haru, sekali hatiku. Seketika, terbayang wajah teduh kyai ku itu tersenyum dan melambaikan tanganya kepada ku. Oh, Tuhan, begitu cepat kau panggil hamba-hamba Mu yang soleh dan yang engkau kasihi. Setelah Engkau panggil Kyai Hannan, Kyai As’ad, kini Engkau panggil pula Kyai Dimyati.

Selamat Jalan Kyai ! Hari ini, ribuan santri-santri mu di seluruh pelosok negeri menangisi kepergian mu. Mengiring kepergian mu dengan rapalan doa-doa yang tak henti. Ku yakin, taman-taman syurga sedang menanti mu di alam kehidupan mu berikutnya. Semoga, kepergian mu, segera terganti oleh ribuan kyai Dimyati – kyai Dimyati yang baru.

Mengenang Kyai Dim

Kyai Dim adalah salah satu kyai NU yang Karismatik dan berpengaruh, khususnya di Jawa Timur. Selain sebagai ketua Majelis pimpinan (baca: pengasuh) pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Beliau juga seorang Mursyid (baca: maha guru) Thoriqah Qadiriyah Wannaqsabandiyah (gerakan amalan sufi/tarekat) yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Ulum, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat di tataran akar rumput dengan Pondok Njoso.

Perawakanya tidak terlalu tinggi. Wajahnya teduh menentramkan hati setiap orang yang menatapnya. Penampilanya sederhana dan bersahaja. Kemana-kemana lebih sering memakai sarung, baju dan peci putuh yang nampak juga sangat sederhana bahkan terlihat sudah lusuh. Kemana-kemana , asalkan tidak terlalu jauh lebih senang jalan kaki ketimbang naik kendaraan. Tak sedikit pun, terpancar kemewahan hidup dari beliau. Seperti kebanyakan kyai-kyai NU pada umumnya, beliau juga merokok.

Aku memiliki kenangan sendiri dengan Kyai Dim, begitu beliau akrab dipanngil. Selama mondok 3 tahun di pondok Njoso, hampir setiap hari aku bersua dengan beliau. Kecuali jika berhalangan, beliau yang selalu menjadi imam jamaah sholat subuh di masjid pondok induk dan memimpin do’a Istigotsah setelahnya. Setelah mengamini do’a-do’a kyai Dim yang khusuk dan berurai air mata, kami para santri berebut mencium telapak tangan beliau. Iring-iringan para santri mengiring langkah-langkah kaki berterompah beliau dari masjid sampai ke ndalem. Seminggu sekali, beliau mampir bertakziah ke makam para kyai pendiri pondok di pesarean pondok.

Seminggu sekali, antara waktu maghrib dan isyak, aku ngaji kitab kuning dengan beliau. Bertempat di Pendopo lama, beliau membaca kitab tafsir surat Yasin. Surat yang mendapatkan tempat sangat istimewa dalam Alquran, khususnya di kalangan para Nahdliyin. Setiap hari kamis antara waktu duhur dan ashar, dari bilik asrama aku lamat-lamat mendengar ceramah beliau yang mengisi acara kemisan di masjid yang pesertanya ratusan mbah-mbah thoriqah dari pelosok-pelosok dusun yang sebagian besar dari Jombang, Mojokerto, dan Nganjuk.

Setahun dua kali, setiap malam tanggal 11 muharram, disebut dengan sewelasan, dan setiap malam 15 Sya’ban, disebut dengan nisfu sya’banan, aku pun mendengar ceramah- ceramah beliau. Saat setiap jengkal tanah di bumi darul ulum menjadi lautan manusia, ribuan santri murid thariqoh qadiriyah wannaqsabandiyah dari berbagai pelosok negeri, berkumpul, bermujahadah, sholat, berdzikir, berdo’a bersama dari lepas duhur, hingga subuh hari.

kyai_dim_okezone

KH Dimyathi Romli disholatkan di Masjid Pondok Induk Darul Ulum Jombang (Sumber: okezone.com)

Selamat Jalan Kyai! Ilmu mu yang telah engkau tularkan, do’a-doa mu yang dengan tulus selalu kau rapalkan, keteladanan mu yang selalu engkau contohkan, akan selalu menjadi inspirasi abadi dalam hati-hati kami, para santri mu, di seluruh pelosok negeri.

Advertisements

Ketika Kangen Bernostalgia Ngaji Kitab Kuning di Pesantren Mendera

Allahu/utawi gusti Allah / iku / yaktumu / nentokno/ bainakumantarane siro kabeh / ayyuhal mu’minuuna / hai wong mukmin kabeh / walkafiruuna / lan wong kafir / yaumal qiyamati / ono ing dino kiamat / fiimaa / ing ndalem opo /  kuntum / ono siro kabeh / fiihi / ing ndalem ma, iku / takhtaliffuun / podo bertentangan siro kabeh- (Kitab Tafsir Jalalain)

ngaji_kitab_jalalain_edit

KH Cholil Dahlan Membaca Kitab Tafsir Jalalain di Masjid Pondok Induk, Darul Ulum Jombang

Belajar cukup lama di luar negeri, di kampus kelas dunia dengan fasilitas dan sistem pendidikan paling mutakhir binti kekinian, justru membuat saya kangen dengan latar belakang pendidikan tradisional saya. Yaitu, Ngaji kitab kuning di pondok pesantren bersama para kyai. Sistem pendidikan yang sudah berumur ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Indonesia mengenal yang namanya sekolah, dan hebatnya hingga sekarang masih bertahan di ribuan pesantren-pesantren di Indonesia.

Entahlah, saya merasa selalu masih ada yang kurang dari sistem pendidikan di barat. Kuliah, tutorial, praktikum, diskusi, seminar, course work, tak satu pun yang menurut saya lebih baik dari sistem ngaji kitab kuning di pesantren. Ada rasa yang sangat istimewa, ada kekuatan magis menyergap hati, ketika sang kyai membaca kitab berbahasa Arab itu, kata per kata, dan menerjemahkan setiap kata itu dalam bahasa Jawa, teriring tangan saya menulis kan terjemahan per kata itu dalam tulisan Arab Pego di bawah setiap kata pada kitab kuning di pangkuan saya. Lalu, sang kyai mengelaborasi makna dari teks kedalam values, nilai-nilai, kebajikan yang bisa dijadikan pegangan hidup sepanjang hayat. Tak jarang beliau memberi nasihat, petuah-petuah bijak, serta do’a dan harapan untuk kebaikan kami. Membuka wawasan kami, dengan wawasan baru yang mencerahkan.

“… Awak mu telung puluh tahun engkas, sedeng wes dadi Profesor wisan, wes Guru Besar awakmu engkok. Makanya jangan pernah berhenti menuntut ilmu, dimana saja kapan saja, masio engkok lek awakmu prei muleh, kitab mu gowonen, buku mu gowonen, karena menurut kanjeng nabi, orang belajar itu tidak pernah berhenti, minal lahmi ilal lahdi, mulai rahim ibu sampai liang lahad, kita harus belajar dan mencari ilmu.” – KH. Cholil Dahlan

Tidak banyak kitab kuning yang berhasil saya khatamkan di pesantren. Tetapi diantara kitab-kitab yang pernah saya kaji tersebut, ada satu kitab yang sangat istimewa bagi saya. Yaitu kitab tafsir (Alquran) jalalain, karya duo Jalal: Jalaludin Almahali dan Jalaludi Assuyuti. Buat saya, mengaji kitab ini, penuh dengan kenangan, dan meninggalkan nostalgia yang istimewa dalam hidup saya. Selain memang, kitab ini adalah kitab paling besar yang pernah saya pelajari selama nyantri di pesantren.

Saya mengaji kitab ini pada tiga kyai. Pertama pada Kyai Ahmad Qusiry Syafaat, waktu nyantri di pondok pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi. Kemudian pada kyai Hannan Ma’sum (alm.) dan Kyai Cholil Dahlan di pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.

Kebetulan waktu dan tempatnya selalu sama, yaitu waktu di antara maghrib dan isyak, bertempat di ruang utama masjid induk pesantren. Dan kebetulan juga, ketiga kyai ini memiliki sifat menonjol yang sama. Kyai paling kalem dan adem, kyai yang paling halus tutur katanya di pesantren. Menatap wajah para kyai ini, hati saya seolah luluh lantak, dan seketika berasa masuk dalam kulkas.

Kegiatan belajar seharian di sekolah dan madrasah, membuat pengajian habis Maghrib ini, penuh dengan perjuangan. Saya selalu melem merek, bahkan sering secara tidak sadar tertidur pulas dalam posisi duduk sampek ngiler di pojokan masjid, dan baru terbangun ketika terdengar suara Wallahu a’lam bis showab -Allah maha tahu kebenaranya dari sang kyai, pertanda pengajian telah usai. 

Masih teringat kuat dalam ingatan saya do’a-do’a panjang yang dipanjatkan para kyai sehabis mengaji. Saya yakin, do’a-do’a itulah yang membawa keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan saya hingga saat ini. Berebut, mencium telapak tangan beliau sehabis mengaji dan selepas jama’ah sholat isyak. Rasanya, bau wangi telapak tangan sang kyai masih tercium hingga saat ini.

Tak terasa, sudah lebih dari tiga belas tahun yang lalu saya terakhir mengaji kitab ini. Dan nyaris, sejak saat itu saya tidak pernah membukanya kembali. Semoga kitab saya yang penuh dengan coretan-coretan  kenangan itu, masih tersimpan rapi di rumah orang tua saya di kampung Banyuwangi. Sungguh, saya ingin membukanya kembali. Sering saya teramat kangen dan ingin mengulangi kembali setiap momentum mengaji kitab tafsir Jalalain tersebut. Mendengar kembali suara sang kyai. Menatap wajah teduh nya, menciumi telapak tanganya, dan mendengar rapalan do’a-do’a nya.

Pernah juga, berandai-andai, jika pengajian itu bisa dibuat live streaming, sehingga saya bisa mengikutinya kembali dari jauh. Atau dibuat MOOC khusus pengajian kitab kuning dari ribuan pesantren-pesantren NU se Indonesia. Membayangkang, lambang-lambang kampus disini, berganti dengan lambang-lambang pesantren NU. Ada pesantren Tebu Ireng, Tambak Beras, Darul Ulum, Blokagung, Krapyak, Denanyar, Langitan, Kajen, Lirboyo, Buntet, Cipasung, Genggong, Guluk-guluk. Dan saya bisa mengikuti pengajian kitab-kitab kuning, lewat rekaman video, yang bisa saya putar kapan saja saya mau.

Rupanya, Gusti Allah mendengar bisikan hati saya. Gusti Allah mengerti kerinduan yang tersimpan dalam hati ini. Hari ini, secara tidak sengaja saya menemukan video pengajian kyai saya, Kyai Cholil Dahlan sedang mengaji Kitab Tafsir Jalalain, di youtube, yang baru saja diupload sehari yang lalu. Pengajian itu ternyata masih di tempat yang sama, wajah sang kyai pun masih sama. Ya Allah, betapa senangnya hati ini bisa mendengar suara dan menatap wajah sang kyai kembali. Walaupun masih ada 3 video, mudah-mudahan yang upload istikomah, berkenan merekam setiap pengajian dan menguploadnya ke youtube.

Memang ngaji di pondok tidak pernah sama dengan Liqo’. Kyai pondok tak tergantikan oleh murabbi, murabbiyah, ustad, ustadzah, dari masjid kampus dan rohis sekolah umum. Coba lihat, dengar, dan rasakan, video pengajian di atas ! Bedakan dengan pengajian wahabi yang mendominasi di youtube. Matur nuwun Gusti ! Khususon ila Kyai Ahmad Qusairy, Kyai Hannan Ma’sum (Alm.), Kyai Cholil Dahlan, lahumul faatihah


Gus Dur : Yang Selalu Hidup di Tengah Kita

“… orang yang berilmu dan bermanfaat ilmunya pada dasarnya ia tidak pernah mati. meskipun jasadnya telah menyatu kembali dengan tanah dari apa dia diciptakan, tetapi ilmu, inspirasi, dan semangat juang nya senantiasa hidup di tengah-tengah kita. Benarlah apa kata Sang Nabi, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya buat sesamanya.

gusdur_01

Jika saya ditanya siapa orang Indonesia yang paling hebat dan paling berpengaruh seumur hidup saya? Saya pasti dengan mantap akan menjawab Gus Dur lah orang nya. Dia lah yang banyak mempengaruhi saya dalam memahami dan menjalani hidup dan kehidupan, agama dan keberagamaan. Dan saya sangat yakin beliau juga mempengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia lainya. Seiring semakin dewasanya pemikiran saya berikut semakin banyak bacaan saya, semakin pula saya membenarkan dan mengagumi pemikiran-pemikiran Gus Dur. Pernah memang saya berfikir jalan pikiranya ngawur, tetapi seiring berjalanya waktu pada akhirnya saya menyadari bahwa jalan pikiranya tidak lain selain kebenaran.

Meskipun empat tahun sudah Gus Dur meninggalkan kita semua, tetapi Gus Dur masih selalu hadir di tengah-tengah kita. Jalan pikiranya masih saja terus dipelajari dan dilanjutkan, kiprahnya terus saja selalu dikenang, namanya masih saja sering disebut, keberadaanya masih selalu diidolakan, khususnya oleh jutaan orang yang menamakan dirinya Gusdurian. Lihatlah pula makamnya yang setiap harinya dizirahi oleh ribuan orang dari segala penjuru tanah air. Ulang tahun hari kematianya (khoul), setiap tahun dieperingati di berbagai daerah berhari-hari oleh pencintanya yang lintas etnis. Bahkan, Pak SBY orang nomor satu di Indonesia pun bersedia menyempatkan datang ke Jombang untuk acara ini.  Betapa luar biasanya anak manusia satu ini, patutlah jika banyak orang yang menyebutnya waliyullah, sang kekasih Tuhan.

Ziarah Ke Makam Gus Dur

Liburan natal di Tanah air tahun 2013 ini, alhamdulilah  saya bisa menyempatkan untuk berziarah lagi ke makam Gus Dur. Kali ini saya bersama Istri dan Anak saya. Ini adalah ziarah kedua kali saya di makam Gus Dur. Pertama, waktu beberapa hari setelah wafatnya Gus Dur, bersama Mas Danu, seorang kawan sesama dosen muda di ITS beberapa tahun yang lalu.

Makam Gus Dur ini berapada di dalam kompleks pondok pesanten Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Untuk mencapai lokasi,  anda bisa menggunakan public transport dengan sangat mudah. Dengan bus dari terminal Jombang anda bisa naik bus mini jurusan Jombang – Malang tidak lebih dari 30 menit. Anda bisa juga naik bus yang sama dari stasiun kereta api Jombang. Selain bus mini, anda juga bisa naik angkot dari teminal maupun stasiun kereta api Jombang.

gusdur_02

Pada ziarah yang kedua kali ini saya cukup kaget, karena banyak sekali perubahan. Jika dahulu saya bisa masuk komplek pondok pesantren untuk menuju makam, sekarang jalan akses tersebut sudah ditutup. Sebagai ganti, untuk menuju lokasi makam, kit harus melalui gang-gang diantara perumahan penduduk sekitar pondok pesantren. Dimana jalan-jalan akses tersebut sudah berubah bak pasar yang dipenuhi outlet orang jualan layaknya jalan akses menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Di jaln-jalan ini mulai penjual kacang godok bungkus koran harga 500an, toko oleh-oleh, pakaian, buku, suvenir bisa anda temui.

gusdur_03

Dalam hati kecil saya berbisik, betapa luar biasanya sosok Gus Dur ini, sudah meninggalkan barokahnya masih bisa dirasakan oleh rakyat hingga sekarang. Bisa terbayang, berapa banyak orang yang ekonominya terangkat dengan keberadaan makam Gus Dur. Dari  penjual makanan, buah-buahan, pakaian, suvenir, penyedia jasa toilet, tukang ojek, sopir angkot, tukang foto , tukang pakir, hingga pemilik penginapan dan hotel, mereka semua kecipratan barokah rejeki, sejak jasad Gus Dur dimakamkan disitu. Jikalau ada pakar ekonomi yang menghitung, saya sangat yakin ada lonjakan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan di Jombang sejak dimakamkanya jasad Gus Dur di tempat ini.

gusdur_04

Mendekati kompleks pemakaman, ribuan orang menyemut masuk dan keluar dari makam. Dari anak-anak kecil, remaja, tua, hingga lanjut usia tumplek blek berdoa di komplek pemakaman keluarga pesantren Tebu irang ini. Jika dulu pertama datang kesini tempat berdoa hanyalah pendopo kecil, sekarang sudah dibangun bangunan dua lantai mengitari makam yang dibangun khusus untuk peziarah. Walaupun di luar kota Jombang sangat panas dan gerah, hawa di sekitar kompleks pemakaman ini sangat sejuk dan menyenangkan. Ilyas, anak saya pun sangat kegirangan berada di kompleks makam ini.

gusdur_05

Para peziarah ini kebanyakan adalah rombongan dari berbagai daerah. Mereka datang untuk berdoa dengan membaca tahlil, alquran, dan istigotsah. Tidak jarang sering terdengar dari ketua rombongan kata-kata, Ya Waliyallah.  Tentu saja mereka tidak berdoa meminta kepada Gus Dur, tetapi mendoakan kepada Allah untuk Gus Dur. Atau mereka berdoa terkabulnya hajat-hajat mereka dengan wasilah orang-orang yang dianggap dekat dengan Allah yaitu waliyallh, dan mungkin Gus Dur adalah salah satunya. Wallahu a’lam.

gusdur_06

Mampir Ke Pesanten Darul Ulum

Selain ke Tebuireng, kami sempatkan juga mampir ke Pondok Pesantren Darul Ulum. Pesantren ini adalah almamater saya dan istri saya dimana kami untuk kali pertama bertemu. Dari terminal Jombang, saya naik becak yang mengantar saya langsung ke dalam kompleks pesantren.

gusdur_07

Di Pesantren saya hanya ziarah ke makam. Kebetulan dua kyai saya ketika saya belajar di pesantren ini yaitu KH. Hanan Ma’sum dan KH As’ad Umar sudah meninggal dunia. Sehingga kami hanya bisa soan ke makamnya saja. Kata Gus Dur, dia lebih senang sowan ke orang yang sudah meninggal dunia ketimbang yang masih hidup. Hal ini katanya karena orang yang sudah meninggal, tidak punya kepentingan dunia lagi.

Sehabis ziarah di makam, dan nostalgia makan bakso kesukaan kami waktu nyantri di pesantren ini, kami sowan ke ndalem salah satu ustadz yang kebetulan dekat dengan kami berdua dan rumahnya tidak jauh dari pesantren. Senang rasanya, dinasehati tentang kebajikan dan kearifan hidup seperti anak sendiri.

Berkunjung kepada orang-orang alim baik yang masih hidup maupun sudah meninggal dunia memang senantiasa membawa berkah sendiri. Berkah berupa nikmat kecipratan ilmu dan hikmah.

 


Warisan Budaya Leluhur, Jati Diri, dan Masa Depan Bangsa Kita

… Bangsa yang akan menjadi bangsa besar adalah bangsa yang mampu berdiri tegak di atas punggung warisan budaya leluhurnya.

Alkisah ada seorang pakar pendidikan di Indonesia diundang sebagai pembicara tamu dalam sebuah Seminar Kependidikan Internasional di Universitas Manchester Inggris. Dalam presentasinya beliau memaparkan tentang spiritualisasi dalam Pendidikan. Dengan bangganya beliau memaparkan paradigma-paradigma paling mutakhir  dalam dunia pendidikan dari berbagai profesor dan  pakar pendidikan di Dunia. Di antaranya beliau  memaparkan tentang paradigma Active Learning dan Mastery Learning.

Setelah memberikan presentasinya,  ada seorang Profesor dari Universitas Leed Inggris menyamperin beliau, dan terjadi perbincangan sebagai berikut:

Prof Leed : Pak, bapak tau mengenai Active Learning?

Pakar Indonesia : Iya saya tahu, emangnya kenapa Prof?

Prof Leed : Taukah anda, Bapak Ki Hajar Dewantoro sudah membicarakan tentang Active Learning sejak tahun 1941. Ki Hajar sudah memperkenalkan paradigma itu sejak 70 tahun lalu dengan Tut Wuri Handayani nya. Mengenai Mastery Learning, ki Hajar  juga sudah memperkenalkan dengan konsep Ing Ngarso Sung Tulodo nya.

Pakar Indonesia : Ohya *Malu setengah mati*.

**

Di atas adalah salah satu potret kecil bagaimana kita, orang Indonesia sudah lupa siapa diri kita sebenarnya sebagai sebuah bangsa. Bagaimana bangsa lain justru lebih tahu tentang bangsa kita dari pada kita sendiri.  Dan kita baru sadar setelah diingatkan oleh bangsa lain yang mempelajari budaya bangsa kita, atau ketika kearifan bangsa kita dipakai atau di klaim orang bangsa lain.

Dalam hal pendidikan misalnya, bagaimana kita sudah lupa siapa kita di pendidikan kita. Kita sudah kadung terkena virus rendah diri komplikasi akut, sehingga mentah-mentah mengadopsi sistem pendidikan dari luar untuk gagah-gagahan dengan cap standar internasionalnya, yang justru bisa jadi tidak sesuai dengan akar budaya bangsa kita. Kenapa tidak belajar dan mengembangkan dari warisan budaya leluhur kita sendiri. Kenapa dalam pendidikan kita tidak mewarisi dan mengembangkan konsep pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, Bapak pendidikan kita sendiri? Saya sangat yakin hal-hal yang telah dikembangkan oleh leluhur kita itu tidak dibuat dengan cara ngawur, tetapi dibuat dengan kajian filosofis yang sangat dalam.

Konon, justru konsep pendidikan yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro itu saat ini malah dikembangkan dan diterapkan di negara Jepang dan Singapura. Di Jepang, Filosofi tiga dinding yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro saat ini telah dijadikan standard kelas sekolah-sekolah di Jepang. Begitu juga dengan sistem pendidikan di Singapore yang membagi sekolah menjadi sekolah negeri, sekolah swasta, dan sekolah swasta yang disubsidi pemerintah diakui diadopsi dari sistem pendidikan yang diperkenalkan ala Ki Hajar. Bahkan salah seorang pakar pendidikan di Singapore pun pernah mengatakan Jika saja Indonesia memakai dan ingat filosopi pendidikanya Ki Hajar Dewantoro, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling maju ke depan.

tiga dinding

Ini baru satu contoh potret kecil dalam bidang pendidikan dari banyak aspek kehidupan yang dapat dipelajari dari warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang ternyata sangat luar biasa. Sebagai sebuah bangsa besar, yang terkenal kejayaanya sejak jaman Sriwijaya kemudian jaman Majapahit, Kerajaan Mataram, tentunya banyak sekali capaian-capaian mengagumkan dalam berbagai aspek kebudayaan manusia. Saya sangat yakin, leluhur kita memiliki capaian yang tinggi dalam Teknologi bangunan, teknologi maritim, teknologi pertanian, teknologi pertahanan, industri, bidang hukum dan kemasyarakatan dan sebagainya tentunya.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah kenapa kita tidak terwarisi capaian besar nenek moyang kita yang konon katanya luar biasa itu?dan jika pertanyaan itu boleh dilanjutkan, dimana kita bisa belajar capain-capain luar biasa nenek moyang kita itu?

***

Ketika saya berada di Inggris ada satu hal dari beberapa hal penting dari orang Inggris yang menurut saya patut untuk ditiru, yaitu budaya menghargai dan mempertahankan tradisi leluhurnya dan budaya dokumentasi atau knowledge management yang sangat luar biasa. Sebenarnya, saya mendapatkan teori ini justru ketika saya belajar di pesantren, lembaga pendidikan tertua di Indonesia sebelum mengenal adanya sekolah dan universitas. Di pesantren-pesantren NU  pada umumnya, setidaknya di dua pesantren tempat saya pernah ngaji  yaitu pondok pesantren darussalam blokagung banyuwangi dan pondok pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Ada satu maqalah yang dijadikan filosofi dalam pengembangan sistem pendidikan di  pesantren, yaitu:

“al-muhafadhatu alal qadimish Shalih wal akhdzu bil jadidil aslah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil pola baru yang lebih baik)

Maqalah ini mengajarkan kita untuk mempertahankan tradisi yang baik dan baru mengadopsi pola baru jika hanya pola baru itu dirasa lebih baik. Maqalah ini juga mengajarkan kita untuk mempertahankan jati diri kita sendiri, tetapi juga tidak menutup diri untuk perubahan yang lebih baik. Tidak untuk asal meniru budaya orang lain dan melupakan tradisi kita sendiri, bahkan merasa rendah diri dengan budaya kita sendiri.

Secara konsep saya mendapatkanya di pesantren, tapi justru saya melihat bagaimana konsep ini benar-benar diterapkan ketika saya berada di Inggris.

Antara Pesantren  dan Universitas OxBridge (Oxford & Cambridge)

Siapa sih yang tidak kenal Universitas Oxford, dan Universitas Cambridge? Dua kampus Inggris yang selalu konsisten berada dalam lima kampus terbaik di Dunia itu. Sebelumnya, saya membayangkan dua kampus ini memiliki bangunan-bangunan yang modern dan mutakhir dengan papan nama besar Universitas Oxford atau Universitas Cambridge, sehingga saya ingin sekali saya berfoto di depan papan nama dua kampus prestigious tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung di Universitas Oxford dan ternyata bayangan ku itu salah total. Saya berharap menemukan papan nama besar bertuliskan Universitas Oxford, ternyata tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah bangunan-bangunan tua berasitektur romawi kuno. Universitas Oxford dan cambridge terbagi menjadi beberapa college (setara fakultas kalau di Indonesia), yang seolah berdiri sendiri. Yang menarik adalah di setiap College ini pasti terdapat sebuah gereja katedral, yang merupakan jantung dari college, sebuah dining room (ruang makan), lecture hall (tempat kuliah), dan Asrama Mahasiswa. Jika anda pernah melihat film harry potter, begitulah suasana kampus Universitas Oxford karena memang film ini beberapa scenenya diambil di kampus ini.

oxfordsmall

Sebenarnya, konsep ini kurang lebih sama dengan sistem di Pesantren. Masjid adalah adalah jantung dari sistem pendidikan di pesantren. Disinilah santri sholat berjamaah, dan mengaji. Kemudian di sekitar masjid adalah asrama-asrama santri tempat para santri bermukim. Dan tentu saja sekolah yang biasnya terletak agak jauh dari masjid, tempat untuk  belajar secara formal. Kesamaan lainya adalah tradisi mempertahankan aristektur bangunan. Di Oxford, semua bangunan memang dipertahankan dengan arsitektur yang  sama sejak universitas tersebut didirikan sekitar abad 11 hingga sekarang.  Kalaupun ada renovasi, tidak akan merubah bentuk asli dari bangunan tersebut. Demikian juga di Pesantren, arsitektur masjid  biasanya juga dipertahankan sama dengan arsitektur masjid pada saat pesantren tersebut didirikan sampai dengan mungkin akhir jaman nanti.

Sebenarnya, tradisi melestarikan budaya leluhur itu tidak ada hanya terjadi di universitas sekaliber oxford dan cambridge saja tetapi dalam bidang kehidupan yang lain juga. Arsitektur rumah misalnya, di Inggris arsitektur rumahnya dari dulu hingga sekarang kurang lebih sama. Bangunan rumah orang inggris adalah rumah sederhana bertingkat dua dengan ciri khas batu bata dan cerobong asap nya.

Di Indonesia, mana ada ya kontraktor yang mengembangkan perumahan dengan konsep rumah Joglo? Kalau pun ada mungkin tidak laku jual, karena calon pembelinya takut dibilang udik, kuno dan ketinggalan jaman. Padahal bisa jadi rumah Joglo adalah rumah yang dikembangkan dengan kearifan lokal yang agung dan penuh nilai filosofis yang tinggi tidak dengan ngawur. Arsitekturnya disesuaikan dengan iklim dan cuaca di tanah jawa, demikian juga dengan desain interior nya yang disesuaikan dengan kondisi socio cultural  orang jawa yang ramah, guyup, rukun dan penuh kebersamaan serta cita rasa humor yang tinggi. Bahan bangunan dari kayu juga, bisa jadi adalah pilihan yang tepat untuk daerah tropis yang hemat energi dan .

Belakangan saya baru sadar, bahwa ternyata bangunan-bangunan modern di Universitas Nottingham , Jubilee campus yang merupakan salah salau proyek Taman Inovasi Universitas yang dikembangkan  dengan konsep sustainable energy and environtmental friendly ternyata juga berdinding kayu. Sama kayak bangunan khas Joglo orang Jawa jaman dahulu.

**

Jadi, kenapa kita masih harus merasa rendah diri dengan capaian bangsa kita sendiri? Sudah saatnya, kita kembali menjadi diri kita sendiri. Sudah saatnya kita kembali menemukan jati diri bangsa kita sendiri. Kita adalah bangsa yang besar yang memiliki warisan budaya yang luhur. Kita harus melestarikan budaya, dalam artian yang sangat luas, yang berakar dari budaya kita sendiri, dan mengembangkanya. Kita punya kearifan yang adiluhung di hampir semua aspek kehidupan kehidupan. Tidak hanya yang tampak secara fisik, tapi kita juga memiliki warisan budaya dalam bentuk filosofi hidup yang luhur. Kita sendiri yang seharusnya bangga, yang harus melestarikan, mengembangkan dan memperkenalkan jati diri bangsa kita dalam konteks pergulatan budaya yang semakin datar dan global ini. Jangan sampai kita baru sadar, setelah budaya kita dipelajari oleh orang lain, dan kita harus belajar ke bangsa lain untuk mempelajari budaya bangsa kita sendiri. Sungguh ironis, ketika anak cucu kita nanti ingin belajar sastra jawa, harus keluar uang banyak untuk mempelajari di sebuah Universitas di Belanda. Jangan sampai suatu saat anak cucu kita yang ingin belajar seni musik dangdut, harus belajar di sebuah Universitas di Amerika.

Mari kita menghargai sekecil apapun, setiap capain dari leluhur kita, para pendahulu kita. Bukan justru, memusnahkanya. Menurut hemat saya, … Bangsa yang akan menjadi bangsa besar adalah bangsa yang mampu berdiri tegak di atas punggung warisan budaya leluhurnya.

Referensi:

[1]  Tendy Naim, http://www.youtube.com/watch?v=bkgHuTK_ytQ


London: satu diantara dua kota dalam sebuah mantra pesantren yang bertuah

….berotak London, berhati masjidil haram (mekah)

Dulu waktu saya nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang, ada salah satu moto, jargon, atau apalah yang saya lebih suka menyebutnya mantra ,yang sangat terkenal, yaitu : berotak london, berhati masjidil haram (Mekah). Mantra ini konon mulai populer di kalangan santri secara turun temurun dari generasi ke generasi , sejak salah satu pesantren besar dan termashur di Kabupaten Jombang ini diasuh oleh (alm) Kyai Haji Musta’in Romly (lebih merakyat dipanggil  kyai Ta’in). Kyai Tain adalah kyai karismatik yang sangat tersohor sebagai mursyid (baca: guru) thariqah (gerakan sufisme islam) dengan puluhan ribu jamaahnya pada jaman nya saat itu. Sang kyai adalah juga pendiri Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang, salah satu universitas swasta Islam terbaik yang alumninya sangat disegani pada masa nya i.e.  sekitar  tahun 80-90 an.

Waktu saya di pondok Njoso (panggilan rakyat untuk pesantren ini), tahun 1999-2002, mantra ini begitu melekat di hati saya. Bagaimana tidak, mantra itu tertulis di back cover buku saku amalan harian santri i.e. istigotsah, tahlil, sholawatan, dll. yang kemana-kemana selalu saya bawa. Di pondok njoso, secara rutin setiap hari selalu diamalkan bacaan istigotsah  setiap ba’da sholat ashar dan ba’da sholat subuh. Buat saya pribadi, mantra itu melahirkan sebuah mimpi.  Diam-diam dari sekedar tulisan tanpa nyawa di back cover buku ini, mantra itu  merasuk dan terhujam kuat dalam hati saya, yang menginspirasi bagaikan ruh yang tak bertuan. Berawal dari menghayalkan indahnya kota London, salah satu simbol kejayaan peradaban manusia saat itu dan mungkin hingga kini, dan juga membayangkan betapa nikmat dan khusuknya berdoa , membasahi keringnya jiwa di tempat suci masjidil haram di kota Mekah itu. Sampai kemudian melahirkan mimpi  dan janji diri bahwa suatu saat saya harus melihat dengan mata dan kepala saya sendiri dua kota Impian tersebut. Walaupun pada saat itu, itu hanyalah sebuah hayalan kosong seorang santri miskin  kampungan belaka.

Sebenarnya, mantra itu adalah sebuah pesan dari Sang kyai untuk para santri untuk tidak mendikotomi ilmu. Kalau bicara pesantren, orang pasti berfikir bahwa pesantren itu adalah tempat belajar ilmu agama, ilmu akhirat saja. Memang ada benarnya, dulu pesantren memang identik dengan tempat orang ngaji (menkaji, red) kitab-kitab klasik (biasa disebut dengan kitab kuning) rujukan ilmu-ilmu agama Islam e.g.  fiqih, hadis, tafsir, bahasa Arab, tasawuf, dll. Pesantren yang seperti ini disebut pesantren Salaf ( jangan salah arti dengan aliran syalafi wahabi yang berbaya itu ya !! ). Pesantren seperti ini, meskipun masih ada, sudah mulai tergilas oleh angkuhnya perubahan jaman yang semakin materialistis.

Pesantren Darul Ulum, sejak dahulu sangat konsisten untuk tidak mendikotomi ilmu menjadi  Ilmu agama dan Ilmu Umum. Ilmu adalah ilmu, semuanya bersumber dari Allah. Para pendiri Darul Ulum berkeyakinan bahwa, dikotomi ilmu itu adalah taktik orang Belanda untuk membodohi umat Islam. Oleh karena itu,di pesantren ini  santri wajib belajar ilmu kedua-keduanya. Tidak boleh belajar ilmu agama atau ilmu umum saja. Pesantren Darul Ulum adalah simbol pesantren yang menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum, atau dikenal dengan pesantren Khalaf (Modern, red). Tidak mengherankan jika pada akhirnya di pesantren ini berdiri sekolah-sekolah umum dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, hingga Perguruan Tinggi. Yang kualitasnya tidak kalah, bahkan lebih unggul dengan sekolah-sekolah umum di luar pesantren. Diantara sekolah-seklah itu, saya dulu memilih sekolah di STM Telkom Darul Ulum yang saat itu memiliki satu, yaitu Jurusan elektronika komunikasi /Informatika. Dengan alasan pada saat itu Tahun 1999, hal-hal yang berbau teknologi informasi/informatika, terdengar sangat keren sekali di telinga saya.

Mungkin bisa jadi STM Telkom Darul Ulum saat itu  adalah salah satu sekolah dengan jumlah mata pelajaran terbanyak di dunia. Bayangkan, Saat itu, saya sekolah mulai jam 07.00-16.00 setiap hari kecuali hari Jumat. Sistem pembelajaranya, diawali dari membaca Alquran selama 15 menit pertama kemudian diikuti mata pelajaran-mata pelajaran lainya. Mata pelajaran yang harus saya pelajari saat itu sangat banyak sekali, mungkin ada sekitar 35 mata pelajaran. Kenapa demikian? karena sekolah ini menggabungkan 4 kurikulum sekaligus. Pertama adalah kurikulum pesantren, dimana saya harus belajar ilmu bahasa arab modern, nahwu, sharaf, ilmu alquran, tafsir, hadist, fiqih, aqidah, baca kitab kuning, dll.

Kedua kurikulum Nasional STM Jurusan Elektronika komunikasi, ini lebih gila lagi jumlah mata pelajaranya, semua mata pelajaran SMA IPA (minus biologi) ditambah mata pelajaran kejuruan elektonika komunikasi (sama kayak Mata Kuliah Jurusan Elektronika) dimana saya harus belajar sistem digital, rangkaian elektronika, gambar teknik, teknik instalasi listrik, teknik audio video, dll. Saya sampai heran elektronika komunikasi kok ya ada mata pelajaran teknik instalasi listrik (itu kan elektro arus kuat).

Ketiga Kurikulum Informatika. Ceritanya pada tahun 1999 pemerintah belum ada SMK jurusan Teknologi Informasi seperti sekarang. Sehingga tidak ada kurikulum nasional. Tapi rupanya, kyai saya (alm) KH As’ad Umar lebih cerdas duluan menangkap perkembangan jaman, sehingga tahun 1996 memaksa mendirikan STM Telkom dengan jurusan Informatika. Dengan kurikulum lokal ini saya harus belajar bahasa pemrograman, sistem basis data, sistem informasi manajemen, teknik dan sistem komputer, sistem jaringan komputer, dll. Saya masih ingat, betapa senangnya saya saat itu bisa bikin game sederhana pakek bahasa pemorgraman Basic pada saat masih duduk di kelas 1 STM.

Kurukulum yang keempat, yang terakhir adalah Kurikulum Telekomunikasi, ini lebih sadis lagi, tidak ada kurikulum nasionalnya. Guru kami yang ngajar mata pelajaran pada kurikulum ini cuman ada dua orang. Keduanya adalah praktisi di Industri telekomunikasi. Yang pertama, adalah seorang karyawan PT Telkom, alumni STT Telkom Bandung, maaf sekali saya lupa namanya 😀 * murid kurang ajar*. Yang kedua adalah Pak Djungkung Prabowo, seorang karyawan pakarnya jaringan telekomunikasi di PT XL , alumni ITB Bandung. Dari kedua guru hebat ini saya belajar banyak tentang sistem telekomunikasi, teknik jaringan kabel, teknik switching, dll.

Keempat kurikulum ini dicampur aduk  jadi satu di sekolah kami. Jadi abis baca kitab kuning, kita belajar nyolder bikin perangkat elektronika. Habis hafalan hadist kita belajar bikin program. Semua campur aduk jadi satu. Tidak ada ilmu yang dianaktirikan. Semua ilmu sama-sama penting untuk dipelajari. Walaupun ndak kebayang juga waktu itu, betapa banyak ilmu-ilmu yang bersaing untuk  masuk dan mengendap di otak saya. Dan saya tidak pernah tahu mana dari ilmu-ilmu itu yang akan bermanfaat buat kehidupan saya selanjutnya. Selepas sekolah, jam 16.00 sore, saya harus mengejar pengajian kitab hadist jawahirul bukhori yang diselenggarakan sampai menjelang sholat maghrib. Setelah  jamaah sholat maghrib di Masjid utama pondok.

“Penderitaan” kami tidak berhenti disitu. Habis maghrib, kita wajib ngaji satu kitab kuning. Ada banyak pengajian kitab kuning, kita para santri dibebaskan memilih sesuai selera masing-masing. Saya lebih memilih ngaji kitab tafsir jalalain dan kitab minhajul abidin (kitab berat karya Imam Alghazali) dengan (alm) KH. Hannan Maksum. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu menjelang sholat isyak.

Habis sholat isyak, masih ada lagi sekolah di Madrasah Diniah yang khusus mendalami ilmu-ilmu agama seperti fiqih, taklim mutaalim, aqidah, nahwu shorof, dll. Luar biasa berat bebanya memang, sebagai santri biasa, saya sering tertidur tanpa sadar pas ngaji habis maghrib dan sekolah di madrasah diniah malam hari .  Sehingga kitab saya banyak yang bolong-bolong belum dimaknai (biasanya sambil membaca kitab klasik berbahasa arab tanpa harokat, kita menulis artinya dalam bahasa jawa dalam tulisan pegon/arab jawi) . Tapi itulah seninya menuntut ilmu. Biar ngantuk dan tertidur, satu jam di majelis ilmu lebih utama daripada sholat sunat 1000 rakaat. Dan meskipun kita tidak pernah tau, kapan dan ilmu yang mana yang akan bermanfaat suatu saat nanti. Pokoknya yang pentinig kita pelajari semua.

Itu hanya sekelumit cerita dari cerita panjang di kehidupan pesantren yang penuh makna, yang mungkin jika dituliskan akan menjadi trilogi Novel pendingin jiwa, *hayah…*. Tetapi pada intinya, misi dari Darul Ulum adalah mencetak generasi muda yang cerdas otaknya, secerdas otak orang-orang yang membangun peradaban di kota London, Inggris. Tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga bersih, bening dan suci hatinya seperti hati orang-orang yang sedang bersujud di masjidil haram di kota Mekah, Saudi Arabia.

**

Setelah 10 tahun meninggalkan bumi perjuangan Darul Ulum. Rupanya rapalan mantra yang berubah jadi mimpi itu. Hari ini, Allah berkenan merubahnya menjadi sebuah kenyataan yang sangat indah. Ya hari ini saya melihat kota London dengan mata dan kepala saya sendiri. Seakan sukma ku berteriak kencang-kencang  “LONDON, i am coming,  ini to….. yang namanya kota London itu”. *ternyata biasa saja *

di kota itu, Kusaksikan betapa megahnya Istana Buckingham, …..

indahnya tata kota London yang dikelilingi taman-taman kota yang Cantik dan menyejukan pandangan,

gagahnya Bigbang Tower, landmark kota London itu. Serta Romantisnya suasana di sekitar sungai Thames dan menakjubkanya London eye…

. Dan lebih indah lagi tentunya , ternyata Allah memberi kesempatan saya untuk menuntut ilmu di negeri nya ratu elisabeth ini selama tiga tahun kedepan. Alhamdulilahirabbilalamin… *maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?*

Jika Allah sudah memperlihatkan saya pada kota pertama dalam rapalan mantra bertuah itu. Mudah-mudahan Allah, berkenan juga memperlihatkan saya pada kota kedua dalam mantra bertuah itu. Masjidil haram di Mekah.  Entah kapan, Insya Allah. Toh, Jika Allah berkehendak, apa yang dikehendakinya terjadi maka terjadilah.

* Doa itu senjatanya orang  yang beriman, jika percaya, berdoalah, dan Tuhan pasti akan mengabulkan *