Tag Archives: darul ulum jombang

Ketika Kangen Bernostalgia Ngaji Kitab Kuning di Pesantren Mendera

Allahu/utawi gusti Allah / iku / yaktumu / nentokno/ bainakumantarane siro kabeh / ayyuhal mu’minuuna / hai wong mukmin kabeh / walkafiruuna / lan wong kafir / yaumal qiyamati / ono ing dino kiamat / fiimaa / ing ndalem opo /  kuntum / ono siro kabeh / fiihi / ing ndalem ma, iku / takhtaliffuun / podo bertentangan siro kabeh- (Kitab Tafsir Jalalain)

ngaji_kitab_jalalain_edit

KH Cholil Dahlan Membaca Kitab Tafsir Jalalain di Masjid Pondok Induk, Darul Ulum Jombang

Belajar cukup lama di luar negeri, di kampus kelas dunia dengan fasilitas dan sistem pendidikan paling mutakhir binti kekinian, justru membuat saya kangen dengan latar belakang pendidikan tradisional saya. Yaitu, Ngaji kitab kuning di pondok pesantren bersama para kyai. Sistem pendidikan yang sudah berumur ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Indonesia mengenal yang namanya sekolah, dan hebatnya hingga sekarang masih bertahan di ribuan pesantren-pesantren di Indonesia.

Entahlah, saya merasa selalu masih ada yang kurang dari sistem pendidikan di barat. Kuliah, tutorial, praktikum, diskusi, seminar, course work, tak satu pun yang menurut saya lebih baik dari sistem ngaji kitab kuning di pesantren. Ada rasa yang sangat istimewa, ada kekuatan magis menyergap hati, ketika sang kyai membaca kitab berbahasa Arab itu, kata per kata, dan menerjemahkan setiap kata itu dalam bahasa Jawa, teriring tangan saya menulis kan terjemahan per kata itu dalam tulisan Arab Pego di bawah setiap kata pada kitab kuning di pangkuan saya. Lalu, sang kyai mengelaborasi makna dari teks kedalam values, nilai-nilai, kebajikan yang bisa dijadikan pegangan hidup sepanjang hayat. Tak jarang beliau memberi nasihat, petuah-petuah bijak, serta do’a dan harapan untuk kebaikan kami. Membuka wawasan kami, dengan wawasan baru yang mencerahkan.

“… Awak mu telung puluh tahun engkas, sedeng wes dadi Profesor wisan, wes Guru Besar awakmu engkok. Makanya jangan pernah berhenti menuntut ilmu, dimana saja kapan saja, masio engkok lek awakmu prei muleh, kitab mu gowonen, buku mu gowonen, karena menurut kanjeng nabi, orang belajar itu tidak pernah berhenti, minal lahmi ilal lahdi, mulai rahim ibu sampai liang lahad, kita harus belajar dan mencari ilmu.” – KH. Cholil Dahlan

Tidak banyak kitab kuning yang berhasil saya khatamkan di pesantren. Tetapi diantara kitab-kitab yang pernah saya kaji tersebut, ada satu kitab yang sangat istimewa bagi saya. Yaitu kitab tafsir (Alquran) jalalain, karya duo Jalal: Jalaludin Almahali dan Jalaludi Assuyuti. Buat saya, mengaji kitab ini, penuh dengan kenangan, dan meninggalkan nostalgia yang istimewa dalam hidup saya. Selain memang, kitab ini adalah kitab paling besar yang pernah saya pelajari selama nyantri di pesantren.

Saya mengaji kitab ini pada tiga kyai. Pertama pada Kyai Ahmad Qusiry Syafaat, waktu nyantri di pondok pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi. Kemudian pada kyai Hannan Ma’sum (alm.) dan Kyai Cholil Dahlan di pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.

Kebetulan waktu dan tempatnya selalu sama, yaitu waktu di antara maghrib dan isyak, bertempat di ruang utama masjid induk pesantren. Dan kebetulan juga, ketiga kyai ini memiliki sifat menonjol yang sama. Kyai paling kalem dan adem, kyai yang paling halus tutur katanya di pesantren. Menatap wajah para kyai ini, hati saya seolah luluh lantak, dan seketika berasa masuk dalam kulkas.

Kegiatan belajar seharian di sekolah dan madrasah, membuat pengajian habis Maghrib ini, penuh dengan perjuangan. Saya selalu melem merek, bahkan sering secara tidak sadar tertidur pulas dalam posisi duduk sampek ngiler di pojokan masjid, dan baru terbangun ketika terdengar suara Wallahu a’lam bis showab -Allah maha tahu kebenaranya dari sang kyai, pertanda pengajian telah usai. 

Masih teringat kuat dalam ingatan saya do’a-do’a panjang yang dipanjatkan para kyai sehabis mengaji. Saya yakin, do’a-do’a itulah yang membawa keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan saya hingga saat ini. Berebut, mencium telapak tangan beliau sehabis mengaji dan selepas jama’ah sholat isyak. Rasanya, bau wangi telapak tangan sang kyai masih tercium hingga saat ini.

Tak terasa, sudah lebih dari tiga belas tahun yang lalu saya terakhir mengaji kitab ini. Dan nyaris, sejak saat itu saya tidak pernah membukanya kembali. Semoga kitab saya yang penuh dengan coretan-coretan  kenangan itu, masih tersimpan rapi di rumah orang tua saya di kampung Banyuwangi. Sungguh, saya ingin membukanya kembali. Sering saya teramat kangen dan ingin mengulangi kembali setiap momentum mengaji kitab tafsir Jalalain tersebut. Mendengar kembali suara sang kyai. Menatap wajah teduh nya, menciumi telapak tanganya, dan mendengar rapalan do’a-do’a nya.

Pernah juga, berandai-andai, jika pengajian itu bisa dibuat live streaming, sehingga saya bisa mengikutinya kembali dari jauh. Atau dibuat MOOC khusus pengajian kitab kuning dari ribuan pesantren-pesantren NU se Indonesia. Membayangkang, lambang-lambang kampus disini, berganti dengan lambang-lambang pesantren NU. Ada pesantren Tebu Ireng, Tambak Beras, Darul Ulum, Blokagung, Krapyak, Denanyar, Langitan, Kajen, Lirboyo, Buntet, Cipasung, Genggong, Guluk-guluk. Dan saya bisa mengikuti pengajian kitab-kitab kuning, lewat rekaman video, yang bisa saya putar kapan saja saya mau.

Rupanya, Gusti Allah mendengar bisikan hati saya. Gusti Allah mengerti kerinduan yang tersimpan dalam hati ini. Hari ini, secara tidak sengaja saya menemukan video pengajian kyai saya, Kyai Cholil Dahlan sedang mengaji Kitab Tafsir Jalalain, di youtube, yang baru saja diupload sehari yang lalu. Pengajian itu ternyata masih di tempat yang sama, wajah sang kyai pun masih sama. Ya Allah, betapa senangnya hati ini bisa mendengar suara dan menatap wajah sang kyai kembali. Walaupun masih ada 3 video, mudah-mudahan yang upload istikomah, berkenan merekam setiap pengajian dan menguploadnya ke youtube.

Memang ngaji di pondok tidak pernah sama dengan Liqo’. Kyai pondok tak tergantikan oleh murabbi, murabbiyah, ustad, ustadzah, dari masjid kampus dan rohis sekolah umum. Coba lihat, dengar, dan rasakan, video pengajian di atas ! Bedakan dengan pengajian wahabi yang mendominasi di youtube. Matur nuwun Gusti ! Khususon ila Kyai Ahmad Qusairy, Kyai Hannan Ma’sum (Alm.), Kyai Cholil Dahlan, lahumul faatihah


Informasi Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Berotak London, Berhati Masjidil Haram – KH. Musta’in Romly (Pengasuh PP Darul Ulum , 1985)

darul_ulum_07

Salah Satu Gedung di Kompleks PP Darul Ulum Jombang

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang keberadaanya tak lekang dimakan jaman. Namun, dalam perkembanganya pesantren juga mengalami dinamika mengikuti perkembangan jaman yang memiliki tantangan sendiri. Dari lembaga pendidikan tradisional yang tersentral pada sosok kyai dan kajian kitab kuning, saat ini banyak pesantren yang mengadopsi sistem pendidikan formal  berupa sekolah-sekolah, universitas umum di luar pesantren. Salah satu pesantren yang bisa dikatakan sangat sukses mengelola sekolah/universitas umum ke dalam manajemen pesantren adalah Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Lulusan pesantren ini, tidak kalah bahkan lebih unggul dengan siswa lulusan sekolah umum di luar pesantren. Tidak sulit bagi santri lulusan pesantren ini untuk menembus perguruan tinggi negeri favorit baik di dalam maupun di luar negeri. Berikut sekilas tentang Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

Siapa Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang?

Saat ini ketua umum pengasuh pondok pesantren Darul Ulum adalah KH A. Dimyathi Romly menggantikan KH As’ad Umar yang meninggal pada tahun 2010.

Dimana tepatnya letak Pondok Pesantren Darul Ulum?

Pondok pesantren Darul Ulum (dahulu lebih dikenal sebagai pondok Njoso), terletak di desa Rejoso, kecamatan Peterongan, kabupaten Jombang, Jawa Timur. Lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau menggunakan transportasi umum. Berada di jalan propinsi Surabaya-Madiun/Solo, yang dilalui bus umum (Turun di pasar Peterongan Jombang). Pondok pesantren Darul Ulum juga dilalui jalur rel kereta api nasional. Untuk kereta api ekonomi jarak dekat bisa turun di stasiun Peterongan (berada di antara stasiun Jombang dan stasiun Mojokerto) yang berada di dalam komplek pondok pesantren, atau di stasiun Jombang untuk kereta eksekutif/bisnis/ekonomi jarak jauh, yang tidak jauh lokasinya dari pondok pesantren (bisa ditempuh dengan becak).

Apa Mahdzab Pondok Pesantren Darul Ulum?

Pondok pesantren Darul Ulum (PPDU) adalah salah satu pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU), yang tentu saja ber –Ahli Sunnah Wal Jama’ah. PPDU adalah salah satu pusat Thoriqah Qodiriyah Wannaqsabandiyah di Indonesia. Mursyid-mursyid  Thoriqah yang terkenal di antaranya adalah KH. Romly Tamim dan KH. Musta’in Romly, yang saat ini diteruskan oleh KH. Dimyati Romly (Ketua Umum Majelis Pimpindan Pondok Pesantren Darul Ulum).

darul_ulum_06

Salah Satu Gedung di PPDU

Bagaimana Sistem Pendidikan Di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Filosofi pendidikan di PPDU adalah tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Semuanya penting untuk di pelajari. Sistem pendidikan 24 jam di Asrama dan Sekolah. Mata pelajaran agama dan mata pelajaran umum dipelajari secara proporsional di sekolah full day (7.00 – 13.00, dan 14.00- 17.00) dibawah bimbingan guru dan ustadz. Di Asrama, pengajian intensif keagamaan khas pesantren di bawah bimbingan para kyai/bu nyai dan ustad/ustadzah.

Kitab Kuning Apa saja yang dipelajari di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Sebagaimana umumnya di pondok pesantren NU, di Darul Ulum tradisi mengkaji kitab kuning ini masih dilestarikan. Jenis kitab yang dipelajari berbeda di masing-masing asrama. Salah satu kitab yang dikaji di masjid induk Pondok Pesantren Darul Ulum adalah kitab tafsir Jalalain, bersama KH Cholil Dahlan.

Berikut salah satu rekaman pengajian kitab tafsir jalalain di Pondok Induk:

Apa Keunggulan Pondok Pesantren Darul Ulum dibanding Pondok Pesantren yang Lain?

Keunggulan Pondok pesantren Darul Ulum (PPDU) adalah di sekolah umum nya yang unggul. Selain memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap, sekolah-sekolah di bawah manajemen PPDU ini memiliki kualitas unggul. Bahkan lebih unggul dari sekolah negeri di luar pesantren. Beberapa sekolah sudah memenuhi standard internasional, dan menjadi percontohan sekolah swasta yang sukses memperoleh sertifikat berstandard internasional. Prestasi santri yang membanggakan di tingkat nasional maupun internasional.

darul_ulum_03

Masjid Pondok Induk Darul Ulum Jombang

Jika kamu ingin mondok tetapi juga ingin  di terima di Perguruan Tinggi Negeri /Kedinasan favorit setelah lulus untuk mengejar cita-cita profesi yang anda inginkan, Darul Ulum adalah pilihan yang tepat. Terbukti, alumninya dengan mudah bisa menembus PTN favourite seperti ITB, UI, UGM, ITS, Unair, IPB, dll. Bahkan beberapa perguruan tinggi di luar negeri. Hal ini tentu tidak mudah diraih oleh alumni pondok pesantren yang lain.

Siswa/siswi sekolah di PPDU juga langganan juara untuk berbagai kompetisi/olimpiade tingkat nasional maupun internasional.

00_ghent_09

Ilustrasi: Dua Alumni Santri PP Darul Ulum di Katholic Universitat Leuven, Belgia

Apa Beda Sekolah di Pondok Pesantren Darul Ulum dibanding Sekolah di Luar Pondok?

Jelas bedanya. Di darul ulum, anda akan belajar agama cukup intensif yang tidak mungkin anda dapatkan di sekolah luar pesantren. Tidak hanya belajar agama Islam 2 jam selama seminggu, di pesantren anda belajar bahasa arab (nahwu dan shorof), belajar membaca literatur kitab kuning, hadist, tajwid Alquran, tafsir Alquran, aqidah, fiqih, dsb. Semua adalah bekal penting untuk memahami what life is?

Di asrama pesantren, karakter anda akan tertema dibawah bimbingan figur para kyai dan bu nyai, ustad dan ustadah. Pesantren tidak sekedar sekolah tempat transfer of knowledge tapi juga sekolah kehidupan. Belajar arti kehidupan, kesederhanaan, kebersamaan, kemandirian, tenggang rasa, dan keikhlasan. Hidup bersama di asrama dan di kelas dengan teman dari berbagai daerah, berbagai budaya, dan karakter yang berbeda walaupun awalnya tidak mudah adalah pengalaman hidup berharga yang akan membekas selamanya. Di Darul Ulum, terdapat lebih dari 7000 santri dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua semua ada.

SMADU2

Ilustrasi: Gedung SMA DU 2 BBPT (Courtesy: http://tasaffimaa.blogspot.co.uk/ )

Unit Pendidikan Apa saja yang ada Di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Pondok pesantren Darul Ulum (PPDU) adalah sekolah yang memiliki unit pendidikan terlengkap di Indonesia. Dari Jenjang Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Berikut daftar unit pendidikan yang ada di PPDU:

  1. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Rejoso
  2. Madrasah Tsanawiyah (M.Ts) Plus Darul Ulum
  3. Madrasah Tsanawiyah Negeri (M.Ts. N) Rejoso di PP. Darul Ulum
  4. SMP Darul Ulum 1 Unggulan
  5. SMP Negeri 3 Peterongan di di PP. Darul Ulum
  6. SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT,  Link: Website , Brosur
  7. SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT ( Berstandar Internasional ), Link: Website, Brosur BROSUR SMA DU 2 PDF V1, BROSUR SMA DU 2 PDF V2 , Update: Brosur SMA DU 2 2015/2016
  8. SMA Darul Ulum 3 Bilingual, Update: Website SMA DU 3
  9. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Rejoso di PP. Darul Ulum
  10. Madrasah Aliyah Unggulan Darul Ulum
  11. SMK Darul Ulum 1
  12. SMK Telkom Darul Ulum, (Jurusan: Teknik Komputer dan Jaringan, Multimedia, Rekayasa Perangkat lunak) Link: Website
  13. Universitas Darul Ulum (UNDAR) di Kota Jombang, Link: Website
  14. Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) di dalam pondok pesantren Darul Ulum Jombang, Link: Website
darul_ulum_11

Islamic Centre di PP Darul Ulum Jombang

Bisakah mondok sambil kuliah di Darul Ulum?

Ya, bisa sekali. Sampean bisa ngaji belajar kitab kuning dan tinggal di asrama pondok pesantren, sambil kuliah. Pondok Pesantren Darul Ulum, memiliki dua Universitas, yaitu: Universitas Darul Ulum (UNDAR), yang berdiri sejak tahun 1965 dan terletak di kota Jombang; Serta Universitas Pesantren Darul Ulum (UNIPDU), yang berada di dalam kompleks pondok pesantren Darul Ulum, di desa Rejoso, Peterongan Jombang. Meskipun secara historis keduanya lahir dan menjadi bagian tak terpisahkan dari rahim pondok pesantren Darul Ulum, kedua universitas tersebut memiliki manajemen yang terpisah, yang independent satu sama lain.

Fakultas/Jurusan apa saja yang ada di Universitas Darul Ulum Jombang?

Fakultas dan Jurusan di UNDAR meliputi: Fakultas Hukum (FH):; Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol): Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Pemerintahan, Sosiologi; Fakultas Agama Islam (FAI): Al-Ahwal Al- Syakhshiyyah, Pendidikan Agama Islam, Perbandingan Agama, Tafsir Hadits; Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP):Bimbingan & Konseling; Fakultas Teknik (FT): Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Informatika; Fakultas Ekonomi (FE): Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Manajemen, Akuntansi; Fakultas Psikologi: Ilmu Psikologi; Fakultas Pertanian: Agroteknologi, Agribisnis; Pasca Sarjana: S2, Magister Ekonomi Pembangunan, S2 Hukum Islam, S2 Pendidikan Islam.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di webiste UNDAR: http://www.undar.ac.id. Akreditasi institusi maupun masing-masing jurusan yang ada di Universitas Darul Ulum bisa dilihat di website Badan Akreditasi Nasional (BAN PT): Disini.

Berapa biaya kuliah di UNDAR?

Informasi pendaftaran, dan biaya kuliah di UNDAR bisa dilihat di website UNDAR: http://www.undar.ac.id 

Fakultas/Jurusan Apa saja yang ada Di UNIPDU Pondok Pesantren Darul Ulum?

Di UNIPDU terdapat 6 fakultas, yaitu Fakultas Agama Islam (Jurusan: S1 Pendidikan Agama Islam, S1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidiyah, dan S1 Ahwalus Syahsiah), Fakultas Ilmu Kesehatan (Jurusan: S1 Keperawatan, D3 Keperawatan, D3 Kebidanan, dan Profesi Ners./Perawat), Fakultas Bahasa dan Sastra (Jurusan: S1 Bahasa dan Sastra Inggris, S1 Pendidikan Bahasa Inggris, D3 Bahasa Jepang), Fakultas Teknik (Jurusan: S1 Sistem Informasi), Fakultas Ilmu Administrasi (Jurusan: S1 Ilmu Administrasi Niaga), Fakultas MIPA (Jurusan: S1 Matematika Sains, S1 Pendidikan Matematika). Fakultas favorit di UNIPDU adalah Fakultas Ilmu Kesehatan.

Apa Akreditasi Universitas  Pesantren Darul Ulum Jombang?

Alhamdulilah, saat ini UNIPDU memperoleh akreditasi B dari BAN-PT. Untuk akreditasi masing-masing Jurusan bisa dilihat di website BAN PT: Disini.

Apa Persyratan Masuk Di Pondok Pesantren Darul Ulum?

 

peryaratan_umum_darul_ulum_2016

Persyaratan Umum

 

 

peryaratan_khusus_darul_ulum_2016

Persyaratan Khusus

 

Berapa Biaya Pendidikan Di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Biaya pendidikan di PPDU relatif terjangkau. Biaya pendidikan di PPDU berubah setiap tahunya dan tergantung pada Unit Pendidikan dan Asrama tempat tinggal yang dipilih. Biaya masuk pertama minimal berkisar antara Rp. 1.500.000 s.d Rp. 5.000.000, Biaya SPP perbulan minimal : Rp. 150.000 – 400.000, Biaya Hidup minimal perbulan: Rp. 500.000 – Rp. 700.000. Untuk tahun 2014/2015 bisa dilihat pada tabel berikut (Klik Untuk Memperbesar):

biaya_ppdu

Biaya Pendidikan di Darul Ulum, 2014/2015

biaya

Biaya Pendidikan Di PP Darul Ulum Jombang 2015/2016

 

biaya_darul_ulum_2016

Biaya Masuk PP Darul Ulum 2016/2017

 

Catatan: Biaya tersebut belum termasuk biaya tinggal di Asrama.

ponti

Ilustrasi: Asrama Pondok Tinggi Darul Ulum

Asrama apa saja yang ada di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Satiap santri yang mendaftar di pondok pesantren Darul Ulum, bisa memilih salah satu asrama yang ada di pondok pesantren Darul Ulum. Biaya tinggal di asrama berbeda antara asrama satu dengan yang lainya.

Total, ada 36 asrama yang berada di komplek pondok pesantren Darul Ulum. Berikut adalah daftar asrama yang ada di Pondok Pesantren Darul Ulum (Tahun 2015): (Ringkasan Tabel Biaya tinggal di Asrama Darul Ulum, bisa diunduh : disini)

  1. Asrama Putra, Pondok Induk Darul Ulum ( Meliputi asrama: Ibnu Sina, Alfaraby, Cordova, Al-Azhar, Al-Qahiroh, Raden Rachmat, Raden Fatah, Bani Tamim, Alghazali, Falestine). Biaya Masuk Awal: Rp. 875. 000, Biaya Perbulan: Rp. 75.000 (Belum termasuk biaya makan/catering). Informasi detail bisa dilihat: disini.
  2. Asrama I : ‘Almasyhari’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 2.260.000, Biaya Perbulan: Rp. 520.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  3. Asrama II: ‘Alkhodijah’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 2.530.000, Biaya Perbulan: Rp. 520.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  4. Asrama III : ‘Nusantara’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.790.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  5. Asrama IV : ‘H: Al-karimah’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.700.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  6. Asrama IV : ‘I: Ainussyam’ Putri . Biaya Masuk Awal: Rp. 1.600.000, Biaya Perbulan: Rp. 375.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  7. Asrama IV : ‘K: Al-Maimunah’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.925.000, Biaya Perbulan: Rp. 475.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  8. Asrama IV : ‘L: Al-Mubarok’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.500.000, Biaya Perbulan: Rp. 375.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  9. Asrama IV : ‘M: Ainul Yaqin’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 2.350.000, Biaya Perbulan: Rp. 350.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  10. Asrama IV : ‘Y: Al-Choliliyah’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.980.000, Biaya Perbulan: Rp. 275.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  11. Asrama V : ‘Haflatul Mubarok’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 900.000, Biaya Perbulan: Rp. 125.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  12. Asrama VI : ‘Assyafiiyah’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.725.000, Biaya Perbulan: Rp. 475.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  13. Asrama VII : ‘Al-Husna’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.800.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  14. Asrama VIII : ‘Robiatul Adawiyah’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.590.000, Biaya Perbulan: Rp. 390.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  15. Asrama IX : ‘Al-Kautsar’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.480.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  16. Asrama X : ‘Hurun Inn’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.800.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  17. Asrama XI : ‘Muzamzamah -Chosiyah’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 2.452.000, Biaya Perbulan: Rp. 475.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  18. Asrama XII: ‘Bani Umar’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.625.000, Biaya Perbulan: Rp. 375.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  19. Asrama XIII : ‘Al-Bilqis-Sulaiman’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.680.000, Biaya Perbulan: Rp. 430.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  20. Asrama XIV : ‘Hidayatul Quran’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.800.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  21. Asrama XV : ‘Al-Falah’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.825.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  22. Asrama XVI : ‘Asyafaruma’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.750.000, Biaya Perbulan: Rp. 500.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  23. Asrama XVII : ‘ARROMEL’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.630.000, Biaya Perbulan: Rp. 80.000.(Belum termasuk biaya makan/catering) Informasi detail bisa dilihat: disini.
  24. Asrama XVIII : ‘AL-HUNNAIN’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.750.000, Biaya Perbulan: Rp. 550.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  25. Asrama XIX : ‘WISMA KA’BAH’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.070.000, Biaya Perbulan: Rp. 120.000.(Belum termasuk biaya makan/catering)Informasi detail bisa dilihat: disini.
  26. Asrama XX : ‘Al-HAMBRA’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.450.000, Biaya Perbulan: Rp. 450.000.(Belum termasuk biaya makan/catering)Informasi detail bisa dilihat: disini.
  27. Asrama XXI : ‘ARDALES’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.600.000, Biaya Perbulan: Rp. 390.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  28. Asrama XXII: ‘PONDOK TINGGI’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 3.250.000, Biaya Perbulan: Rp. 500.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  29. Asrama XXIII: ‘BAITUL MAQDIS’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 2.200.000, Biaya Perbulan: Rp. 365.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  30. Asrama XXIV: ‘AL-MADINAH’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.500.000, Biaya Perbulan: Rp. 370.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  31. Asrama XXV: ‘AL-ASSADIYAH’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 4.750.000, Biaya Perbulan: Rp. 650.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  32. Asrama XXVI: ‘AL-HASYIMI’ Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.750.000, Biaya Perbulan: Rp. 400.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  33. Asrama XXVII: ‘AL-FURQON’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.350.000, Biaya Perbulan: Rp. 380.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  34. Asrama XXVIII: ‘AR-RIFAI’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 300.000, Biaya Perbulan: Rp. 90.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  35. Asrama XXIX: ‘QUEEN AL-AZHAR’ Putri. Biaya Masuk Awal: Rp. 8.000.000, Biaya Perbulan: Rp. 800.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.
  36. Asrama XXX: ‘ARRISALAH’ Putri dan Putra. Biaya Masuk Awal: Rp. 1.750.000, Biaya Perbulan: Rp. 430.000. Informasi detail bisa dilihat: disini.

 

darul_ulum_02

Salah satu Asrama di Pondok Induk Darul Ulum

Adakah Tips Memilih Asrama?

Pada dasarnya standard pendidikan di masing-masing asrama kurang lebih sama. Yang perlu diperhatikan adalah biaya tinggal di asrama. Fasilitas masing-masing asrama beragam sesuai dengan biaya yang ditetapkan. Semakin mahal, logikanya fasilitas yang disediakan semakin bagus.

Bagi calon santri yang ingin lebih intensif belajar agama, khususnya bagi yang sudah mondok sebelumnya, misal SMP nya sebelumnya di Pondok Pesantren, untuk santri putra, Asrama XXI: ARDALES dan Asrama Pondok Induk mungkin bisa jadi pilihan yang tepat, karena disini dikaji kitab-kitab kuning secara lebih Intensif, seperti kitab Tafsir Jalalain, Al-Hikam, Bukhori Muslim, dll yang dikaji bersama KH. Cholil Dahlan. Bagi santri yang berniat menghafal Alquran, Asrama XIV : ‘Hidayatul Quran’ bisa menjadi pilihan yang paling tepat. Selanjutnya buat santri putri yang menginginkan fasilitas pondok pesantren di atas rata-rata, mungkin  Asrama XXIX: ‘QUEEN AL-AZHAR’ atau ‘Attin’ bisa menjadi pilihan yang tepat.

Berapa biaya kuliah di Universitas Pesantren Darul Ulum?

Biaya kuliah di UNIPDU relatif terjangkau, bisa dilihat di Tabel di bawah. Informasi terbaru tentang pendaftaran dan biaya pendaftaran bisa dilihat di website UNIPDU: http://www.unipdu.ac.id

biaya_kuliah_unipdu

Biaya Kuliah di UNIPDU

Kapan Pendaftran Pondok Pesantren Darul Ulum?

Setiap tahunya, pendaftaran santri baru dibuka sekitar bulan Mei-Juli. Untuk informasi terbaru bisa ditanyakan melalui Telp. (0321) 866686. Update: Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pembelajaran 2015-2016 : 2 Mei s.d 7 Juni 2015, Pada setiap hari Sabtu – Kamis (Hari Jumat Libur, hari Ahad buka), pukul 08.00 – 16.00 WIB. Tes Masuk: 08 Juni 2015 s/d 09 Juni 2015. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di: http://psb.ponpesdarululum.id/info-ppdb.html

Update Pendaftaran Santri Baru 2016/2017

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pembelajaran 2016/2016 : 30 April 2016 – 19 Juni 2016. Pelaksanaan Tes : 20-21 Juni 2016. Pengumuman Hasil Tes: 24 Juni 2016. Daftar Ulang : 24-25 Juni 2016.  Pendaftaran online : http://psb.ponpesdarululum.id

 

PPDB_PPDU_2016

PPDB Santri Baru 2016/2017

 

Waktu Pendaftaran : Sabtu – Kamis pukul 08.00 – 16.00 WIB (Jumat Tutup, Sabtu-Minggu Buka)

Informasi Lebih lanjut :SMA DArul Ulum 1,  SMA Darul Ulum 2

Dimana Tempat Pendaftaran Pondok Pesantren Darul Ulum?

Pendaftaran bisa dilakukan langsung di Kantor Pusat Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso Peterongan Jombang atau secara online di http://psb.ponpesdarululum.id

Apakah Persyaratan Masuk Darul Ulum Jombang? 

Semua yang mondok di Darul Ulum wajib sekolah, baik di Sekolah Madrasah maupun Sekolah umum. Oleh karenanya, persyaratan utama adalah memiliki ijasah/raport terakhir dari jenjang sekolah sebelumnya. Selain itu, hampir semua sekolah/unit pendidikan di PPDU melalui tahap tes (meliputi tes tulis dan tes wawancara), untuk lebih detail lihat di Brosur.

Apakah ada Tes Masuk Pondok Pesantren Darul Ulum?

Untuk dapat diterima di sekolah-sekolah di PP Darul Ulum, diadakan tes masuk. Tes Hari Pertama meliputi: Ujian Psikotes dan Tes Potensi Akademik oleh tim BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jakarta, Meliputi : Pemahaman, Penalaran, Numerik dan Bidang Studi (Matematika, IPA, IPS). Tes Hari Kedua : Wawancara Kemampuan Dasar Keagamaan dan Test Bahasa Inggris.

Dimana santri tinggal selama di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Semua santri harus tinggal di asrama baik di Pondok Induk, Pondok Tinggi, maupun di Asrama ndalem, yang bisa dipilih oleh santri / Wali Santri. Lihat daftar asrama: Disini atau Disini.

Apakah ada Thoriqah di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Ya Thoriqoh menjadi bagian tak terpisahkan dari Pondok Pesantren Darul Ulum. Thoriqoh yang ada di Pondok Pesantren Darul Ulum adalah Thoriqah Qodiriyah Wannaqsabandiyah. Mursyid thoriqoh di darul ulum saat ini adalah KH Dimyati Romly, yang juga ketua umum pengasuh pondok pesantren Darul Ulum, menggantikan para mursyid sebelumnya, seperti: KH Romly Tamim, KH Musta’in Romly, dan KH Rifai Romly.

Kegiatan rutin thoriqoh ini diantarnya adalah kemisan, yang diselenggarakan di masjid pondok induk Darul Ulum. Dan suwelasan yang diadakan setahun tiga kali. Kegiatan Thoriqah ini diikuti warga masyarakat umum (biasanya sudah senior) di kabupaten Jombang dan sekitarnya.

Fasilitas Apa Saja yang Ada di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang?

  1. Setiap unit pendidikan memiliki gedung sendiri dengan fasilitas yang lengkap
  2. Asrama Santri
  3. Kantin
  4. Jasa loundry
  5. Lapangan sepak bola
  6. Gedung olah raga (GOR)
  7. Rumah sakit UNIPDU Medica
  8. ATM (BCA, BRI Syariah) di dalam pondok
  9. Language acces centre.
  10. Perpustakaan Pondok

 

Bagaimana gambaran kehidupan di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Sekilas tentang potret kehidupan di pesantren Darul Ulum, bisa dilihat dalam dokumentasi video berikut ini:

Bagaimana gambaran suasana sekolah di Pondok Pesantren Darul Ulum?

Potret suasana sekolah di Darul Ulum bisa dilihat disini:

Dan juga disini:

Dimana Informasi Lebih lanjut tentang Pondok Pesantren Darul Ulum?

Bisa dilihat di website, brosur (terlampir), maupun Telp. (0321) 866686

Bagaimana Prosedur Pendaftaran, dan Persyaratan Mendaftar di Darul Ulum?

Penjelasan lebih detail bisa dilihat pada brosur informasi pendaftaran berikut ini:

DOWNLOAD

  1. Brosur Pendaftaran Pondok Pesantren Darul Ulum 2014/2015 (PDF/E-Brosur).
  2. Brosur SMA DU 2 BBPT 2014/2015 (PDF/E-Brosur 1 /E-Brosur 2)
  3. Brosur SMA DU 2 BBPT 2015/2016: DISINI

Masih Ragu menyekolahkan anak di Pondok?

Bagi kebanyakan orang, terutama golongan menengah ke atas,  pondok pesantren mungkin hanya dipandang sebelah mata.  Kumuh, terbelakang sering dikonotasikan pada sistem pendidikan tertua di Indonesia ini. Bahkan, banyak yang berfikir: ” Mau jadi apa sekolah di pondok? Mau jadi teroris? “. Melepaskan anak di pondok pesantren sendiri, jauh dari orang tua bisa menjadi kekhawatiran tersendiri bagi banyak orang tua.

Tapi percayalah, saya sebagai salah satu alumni Darul Ulum, berani mengatakan bahwa darul ulum adalah tempat yang tepat. Tidak saja belajar materi pelajaran seperti di sekolah umum di luar. Disini, saya merasa belajar tentang kehidupan. Hidup bersama dengan banyak orang di asrama, sekilas terlihat menderita. Tetapi justeru disinilah, saya menemukan kebahagian hidup dan belajar banyak tentang hidup. Belajar kemandirian, kestiakawanan, tepo seliro. Dan juga belajar tentang kesederhanaan dan kebersahajaan hidup.  Peran kyai dan Ibu nyai di Pesantren juga besar dalam membimbing kita menemukan arti hidup sebenarnya.

Buat orang tua yang masih ragu, mungkin tulisan blog salah satu wali santri dari kota Denpasar ini bisa menjadi salah satu inspirasi, monggo silahkan dibaca disini. Dan juga buat orang tua dari golongan berada, yang anaknya terbiasa hidup bergelimang harta, sekarang di Darul Ulum sudah ada asrama kelas eksekutif (kayak naik kereta api saja hehehe…), silahkan cek informasinya disini : Asrama Attin.  Asrama ini dibangun khusus untuk membidik calon orang tua santri dari golongan berada, dan dibangun dengan sponsor pribadi dari Ibu Titik Suharto. Untuk asrama kelas bisnis/eksekutif (tidur pakek dipan, mandi pakek shower, satu kamar 4 orang) lainya bisa tinggal di asrama hurun iin, muzamzamah, chosiyah (untuk putri), dan asrama Pondok Tinggi (untuk putra). Sedangkan untuk asram kelas ekonomi (tidur tidak pakai dipan, bisa beli kasur lipat, satu kamar lebih dari sepuluh orang) : bisa tinggal di asrama putri 1 – 8 , dan asrama di pondok induk untuk putra.

Setiap asrama, memiliki program dan biaya sendiri. Yah, kalau ingin mengajari  putra-putri anda tentang kesederhanaan dan kebersahajaan hidup yang menjadi ciri khas pesantren, tinggal  lah di asrama kelas ekonomi. Saya dulu, tinggal di asrama, satu kamar 20 orang dari berbagai daerah. Tidur tanpa kasur tanpa bantal, hanya ada beberapa bantal di asrama yang jadi rebutan. Kadang juga pakai bantal sajadah dilipat-lipat. Lebih seringnya, tidak pakai bantal. Tapi justru dalam hidup penuh keprihatinan itulah, saya belajar banyak tentang hidup ini. Membuat saya menjadi peka terhadap orang lain, mudah empati terhadap orang lain. Serta yang lebih penting, membuat saya menjadi pribadi yang tidak cengeng, tahan menderita, tabah, dan lebih tough menajalani hidup. Sekarang, sepuluh tahun lebih berlalu, saya melihat justru teman-teman yang waktu di pesantren penuh keprihatinan inilah yang saat ini terlihat sangat sukses dalam hidupnya.

Berapa Nomor Kontak Pondok Pesantren Darul Ulum?

Informasi profil PP Darul Ulum bisa dilihat di website : http://ponpesdarululum.id . Pertanyaan lewat telepon bisa ditanyakan di Kantor Pusat Pondok Pesantren Darul Ulum: No. Telp. (0321) 866686. 

Untuk menghubungi masing-masing asrama di PP Darul Ulum bisa dilihat di Tabel Asrama PP Darul Ulum (Termasuk No. Telp. masing-masing asrama di PP Darul Ulum): Disini

Related Post:

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube


Senjata Pamungkas Itu Bernama Do’a Istigotsah

Istigotsah

Terlahir di tengah-tengah keluarga dengan tradisi NU yang kental di kampung, sedikit banyak membentuk cara pandang saya bagaimana memaknai hidup dan kehidupan ini. Diantaranya adalah dengan mengandalkan kekuatan Do’a. Bahkan sering kali dalam hidup ini, saya hanya bondo nekat dengan kekuatan do’a -do’a. Kalau kebanyakan orang berusaha sekuat tenaga terlebih dahulu, kemudian berdoa. Saya justru sering sebaliknya. Berdo’a dulu sepenuh hati, kemudian ikhtiar nya mengikuti kata hati.

Karena sejak kecil saya percaya ada kekuatan yang luar biasa di atas kekuatan kita sendiri. Dia lah yang berkuasa atas segala-segalanya. Sehingga sesuatu yang tidak masuk akal pun, bisa terjadi jika Dia menghendaki. Saya masih ingat dahulu jaman SD, hati saya bisa menebak soal-soal yang akan keluar dalam soal ujian. Pun, pada saat mengerjaan soal Biologi pada saat ujian SPMB/UMPTN masuk perguruan tinggi negeri, karena saya alumni STM yang tidak ada pelajaran Biologinya, saya cuman mengandalkan bacaan sholawat nariyah, dan saya isi lembar jawaban tanpa melihat soal. Dan, alhamdulilah, Allah tidak pernah mengecewakan saya karena bersandarnya saya dengan kekuatan doa-doa itu.

Kebiasaan mengandalkan do’a itu semakin terasah ketika saya nyantri di pesantren Darul Ulum Jombang. Di pesantren ini, yang merupakan salah satu pusat gerakan sufi, Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandy di pulau Jawa, kita dibiasakan mendekat ke Sang Khaliq dengan do’a istigotsah. Selepas jamaah sholat Ashar, dan  jamaah sholat Subuh, kita para santri dengan dibimbing sang Kyai selalu membaca do’a istigotsah ini. Istigotsah adalah kumpulan do’a-do’a kita memohon pertolongan dengan sangat kepada Allah SWT.

Bacaan istigotsah ini pun menjadi tradisi di kalangan NU. Seringkali diadakan istigotsah kubro, membaca istigotsah bersama-sama dengan ribuan orang, ketika kita memiliki hajat dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Jadi, masihkah sampean percaya dengan kekuatan do’a-do’a itu? Jika sampean sedang dalam proses berjuang mencapai sesuatu, dan sampean ingin adanya campur tangan Tuhan untuk mencapainya. Percayalah, do’a-do’a Istigotsah ini insha Allah akan memuluskan perjuangan mu.Percayalah tiada yang mungkin jika Dia yang menghendaki.

Berikut bacaan istigotsah yang saya ambil dari buku Panduan Amalan Harian Santri Asrama II, Alkhadijah, Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Silahkan di DOWNLOAD DISINI. Di file ini juga dilengkapi dengan bacaan Yasin Fadhilah. Saya sedang membuat aplikasi android nya, sehingga akan memudahkan sampean menggunakanya dari HP sampean. Inshaa Allah.

RELATED LINKS:
(1) Bacaan Istigotsah Darul Ulum (PDF Version)

(2)  Bacaan Istigotsah Darul Ulum (HTML5 Version)

 


Tentang Pesantren-Pesantren NU

Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang. Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

ppdu_jombang

Ilustrasi: Kantor Pusat PP Darul Ulum Jombang

Pesantren? Apa yang terlintas di pikiran  sampean ketika mendengar kata Pesantren? Mungkin terlintas di kepala sampean sarung dan kopiah, atau udik, terbelakang, tradisional, sarang teroris. Tempat orang-orang nakal, atau justru  sebaliknya tempat orang-orang alim? Tapi buat saya pribadi, pesantren begitu berarti dalam hidup saya. Saya paling bangga jika menyebut diri saya alumni pesantren. Tempat yang membentuk saya personally, tempat yang menempa saya bagaimana memandang, memaknai, dan menjalani kehidupan ini.

Sayang nya, banyak orang yang salah memandang institusi pendidikan tertua ini. Dahulu, oleh orang barat pesantren pernah di pandang sebagai sarang teroris. Dipandang sebagai tempat  untuk pengkaderan orang-orang militan, yang menghalalkan kekerasan atas nama Tuhan. Adalah Gus Dur orang yang berhasil menunjukkan kepada dunia, tentang Islam Indonesia, yang damai, moderat, santun, dan tidak berbenturan dengan dunia barat. Gus Dur lah yang getol, mengajak para akademisi barat blusukan ke pesantren-pesantren NU, untuk melihat langsung bagaimana pesantren-pesantren NU ini. Untuk menunjukkan secara langsung pandangan bahwa pesantren adalah sarang teroris dan akar militansi islam adalah pandangan yang benar-benar salah. Sehingga sekarang, kalau kita mau menulis artikel ilmiah tentang NU, tentang pesantren, justru profesor rujukanya bisa jadi orang Belanda, orang Australia, atau orang Amerika.

Gus Dur jugalah yang mengangkat pesantren ke pentas dunia. Pesantren yang identik dengan nilai tradisional dan keterbelakangan ini justru mampu, memunculkan anak-anak pesantren NU keluar dengan pemikiran-pemikiran Islam yang tidak berbenturan bahkan menawarkan ide-ide segar melengkapi kemajuan jaman. Sehingga muncullah, istilah masyarakat Madani, Islam yang pro demokrasi, Islam yang pro kesetaraan gender, dan sebagainya.

Baiklah, kali ini saya mau sharing tentang  Pesantren-Pesantren NU. Secara garis besar semua pesantren NU memiliki kesamaan, sebagaimana pada tulisan saya sebelumnya disini. Akan tetapi, pada perkembanganya, seiring dengan kemajuan jaman, pesantren-pesantren NU ini pun berubah beradaptasi dengan kebutuhan dan tuntutan jamanya masing-masing. Tetapi ada juga yang mencoba bertahan, mempertahankan  tradisi lama, mempertahankan ciri khas pesantren dan mencoba tak lekang di makan jaman. Menurut pengamatan, asal-asalan saya, pesantren-pesantren NU ini bisa dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Pesantren Syalafiah

Ini yang sebenarnya aslinya pesantren, sejak berabad-abad yang lalu, yang sampai sekarang masih bertahan. Model pendidikan asli Indonesia. Di Pesantren ini, kurikulumnya 100% kurikulum pesantren, yang boleh dibilang 100% pendidikan agama. Pendidikan berpusat pada Madrasah Diniyah dan Kajian Kitab Kuning. Ilmu yang dipelajari meliputi kajian ilmu alat (Nahwu dan Sharaf) atau grammar bahasa Arab, sampai dengan sastra Arab (seperti mantiq dan balagah), Ilmu Fikih, Hadis, Tafsir Alquran, Tasawuf, dsb. Ilmu agama benar-benar dipelajari secara intensive dan mendalam. Saya berani bertaruh, kalau lulusan pesantren ini pengetahuan agama nya lebih mumpuni daripada lulusan perguruan tinggi islam umum seperti UIN atau IAIN. Di pesantren jenis ini tidak ada sama sekali sekolah atau Madrasah umum seperti di luar pesantren.

Ilustrasi: Santri Pesantren Sidogiri, (Courtesy: http://ghozalios.blogspot.co.uk/ )

Seiring dengan kecenderungan manusia Indonesia yang semakin materialistis, pesantren ini mulai banyak ditinggalkan. Biasanya pesantren ini sekarang hanyalah pesantren kecil di desa-desa yang jumlah santrinya tinggal ratusan atau bahkan tinggal puluhan. Pesantren-pesantren kecil ini biasanya, hampir sama sekali tidak mengenakan biaya pendidikan kepada santri-santrinya. Tetapi ada juga pesantren syalafiah yang hingga saat ini bisa tetap eksis dengan jumlah santri di atas 10.000, contohnya adalah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Menurut hemat saya, Pesantren Sidogiri bisa dijadikan contoh model pesantren syalaf yang paling sukses yang tak lekang di makan jaman. Meskipun tidak mengadopsi sekolah umum formal, pesantren ini bisa mandiri dalam arti sesungguhnya. Bagaimana tidak, pada saat banyak pesantren lainya, banyak yang mengharap bantuan dari pemerintah, dari politisi, maupun sumber-sumber dana lain. Pesantren ini bisa mandiri dengan usaha perekonomian nya sendiri yang berbasis pesantren. Sebut saja pesantren ini memiliki usaha air dalam kemasan, usaha koperasi, usaha perbankan dalam bentuk Baitul Maal wat Tamwil, usaha travel umroh dan haji, usaha percetakan dan sebagainya. Disebut, omset usaha koperasinya saja sudah bisa tembus Rp. 1 triliun [ 1 ].

Jadi, jika sampean berkeinginan untuk benar-benar paham terhadap ilmu agama Islam, tafaquh fiddin, pesantren jenis ini menurut hemat saya, sangat pas buat anda, ketimbang sekolah di madrasah atau perguruan tinggi milik pemerintah ( e.g. Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah, IAIN/STAIN/UIN).

 2. Pesantren Hybrid (Syalaf + Kholaf)

Sesuai dengan jargon pesantren, “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat. Sebagian besar pesantren, mulai terbuka atau responsif terhadap perubahan jaman. Pesantren-pesantren dalam perkembanganya mulai membuka Madrasah dan Sekolah Umum. Tidak hanya Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam tetapi juga sekolah-sekolah umum e.g. SD, SMP, SMA, SMK, Universitas.

ILustrasi: PP Bahrul Ulum Tambak Beras (Source: http://siakero.blogspot.co.uk)

Menurut hemat saya, jenis pesantren ini adalah mayoritas pesantren-pesantren NU saat ini. Selain tetap menjalankan core tradisi pendidikan kepesantrenanya, pesantren ini juga membuka sekolah-sekolah atau madrasah. Mereka berprinsip tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, semuanya penting dan semua harus dipelajari. Akan tetapi dalam penyelenggaraanya, bukan pekerjaan mudah memang menyeimbangkan apalagi berharap sama-sama mendapatkan ilmu dengan kualitas maksimal antara ilmu agama dan ilmu umum. Apalagi kalau berharap dapat ilmu agama yang mendalam sebagaimana di pesantren salaf, sekaligus mendapatkan ilmu umum yang bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum favorit di luar pesantren. Tidak jarang, pada akhirnya pesantren jadi berat sebelah.

Sehingga menurut saya, lebih spesifik lagi ada tiga jenis pesantren ini. Yang pertama, pesantren yang lebih berat ilmu agamanya. Sebagai contoh adalah Pondok Pesantren Darussalam, Blok Agung, Tegalsari, Banyuwangi. Termasuk pesantren Manbaul Ulum, dan Minhajut Thulab, di Kabupaten yang sama. Di Pesantren ini, sampean bisa belajar agama yang cukup sebanding dengan di pesantren syalaf. Kitab-kitab kuning besar seperti Ihya Ulumiddin, juga masih dikaji di pesantren ini. Sampean juga tidak perlu khawatir tidak memiliki ijasah sekolah umum, karena di pesantren ini juga ada Madrasah Ibtidiyah/Tsanawiyah/Aliyah/ Sekolah Tinggi Agama Islam maupun SD, SMP, SMA, SMK. Tetapi, untuk kualitas sepertinya saya harus jujur, sebagaimana kebanyakan sekolah di pesantren NU kebanyakan, masih ala kadar nya. Rasanya, sulit lulusan SMA/MA dari pesantren jenis ini yang bisa bersaing dengan SMA Negeri di luar pesantren untuk bisa diterima di perguruan tinggi negeri umum favorit. Untuk menjembatani kesenjangan itu, Depag memiliki program khusus program beasiswa santri berprestasi  yang merupakan jalur khusus alumni pesantren untuk diterima di PTN favourite tanpa melalui jalur umum.

Yang kedua adalah pesantren yang relatif seimbang antara Ilmu agama dan Ilmu umum nya. Contoh dari tipe pesantren ini adalah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, dan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denayar Jombang. Dibanding dengan sebelumnya, kualitas sekolah umum di pesantren ini cukup bagus. Di Bahrul Ulum misalnya, di pesantren ini terdapat Madrasah Aliyah Negeri Tambak Beras, yang cukup terkenal.

Yang ketiga adalah pesantren yang kualitas sekolah umumnya sangat bagus, bisa bersaing bahkan bisa dibilang lebih bagus dari sekolah umum di luar pesantren. Akan tetapi, anda jangan berharap bisa mendalami ilmu agama sedalam di pesantren syalaf. Sebuah majalah NU pernah menyindir, Kitab Kuning merana di pesantren ini. Walaupun minim jika dibandingkan dengan pesantren syalaf, teapi tentunya pendidikan ilmu agama di pesantren ini jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan di sekolah umum. Pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang dan PP Amanatul Ummah adalah contoh sempurna dari jenis pesantren ini. Di pesantren ini, terdapat sekolah-sekolah unggulan seperti SMP Negeri Unggulan 3 Peterongan, SMA Unggulan Darul Ulum 1 BPPT, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT RSBI  (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional Sebelum dihapus).

smu_du_2

Ilustrasi: Santri Darul Ulum di SMA Unggulan DU 2 BPPT

Alumni sekolah di pesantren ini banyak sekali yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit seperti ITS, Unair, UGM, UNDIP, ITB, IPB, UI. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya banyak alumni pesantren ini yang jadi dokter, insinyur, ahli hukum tata negara, dan berbagai profesi lainya. Pesantren ini seolah ingin membuktikan bahwa alumni pesantren tidak hanya bisa jadi ahli agama, tetapi juga bisa sukses di berbagai bidang profesi kehidupan.

Jadi kalau sampean pingin sekolah di sekolah yang tidak kalah bagus di SMP atau SMA Negeri favorit di kota kamu, semisal sampean pengen jadi Ahli hukum, Dokter, Insinyur sekaligus  ingin memiliki fondasi dasar keagamaan yang kuat (ingat level dasar, bukan advanced lowh), pesantren jenis ini adalah pesantren pilihan terbaik buat sampean.

3. Pesantren Modern (Kholaf)

Yang jelas di pesantren ini tidak ada kitab kuning. Walaupun saya yakin awal mulanya NU, tetapi pesantren jenis ini mengklaim berdiri di atas semua golongan. Berbeda dengan pesantren NU yang bermadzaf Imam Syafii (Syalafiyah, As’ariyah) pesantren ini biasanya tidak mengklaim bermahdzab pada mahdzab tertentu. Saya lebih senang menyebutnya boarding school untuk jenis pesantren ini. Biasnya di pesantren modern ini digunakan bahasa internasional, yaitu bahasa Arab dan Inggris. Contoh dari pesantren jenis ini adalah: Pondok Modern Gontor, Pondok Modern Assalam Solo,  dan Pesantren Darunnajah.

Ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Gontor Ponorogo

Pembentukan karakter yang mengkolaborasikan sistem pendidikan modern dan islam sangat kental di pesantren ini. Kedisiplinan dan penguasaan bahasa asing juga menjadi penekanan dari pondok pesantren modern ini. Pondok pesantren modern ini seolah ingin menepis anggapan pesantren yang identik dengan keterbelakangan, kumuh, dan anti kemajuan.

Jika sampean  berniat melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren, atau sampean orang tua yang ingin menyekolahkan putra/putrinya ke pesantren semoga tulisan ini sedikit bisa memberi gambaran. Saya pribadi, sebagai alumni salah satu pesantren, sangat menyarankan untuk memilih pesantren sebagai jalur pendidikan yang tepat. Apalagi jika melihat mentalitas anak sekolah jaman sekarang yang begitu rapuh, yang begitu mudah terpengaruh oleh budaya luar dan mudah terberdaya dengan teknologi. Miris rasanya, melihat pergaulan bebas anak remaja jaman sekarang.  Masih SMP sudah banyak yang sudah bunting, Mudah diperdaya oleh laki-laki hidung belang hanya lewat Facebook, begitu mudahnya terbawa budaya ikut2an mode/ gaya hidup yang mendera di tengah-tengah era keterbukaan informasi. Seolah mereka tak memiliki jati diri, tak memiliki pegangan hidup yang pasti.

Dengan di pesantren, saya sangat yakin mereka setidaknya akan memiliki pegangan, dasar agama yang kuat yang membuat mereka tidak rapuh ketika terpaan ideologi, gaya hidup luar yang datang bertubi-tubi.  Mereka bisa memaknai  setiap episode kehidupan dengan bijak, karena memiliki kecerdasan spiritual yang diasah di pesantren. Bahwa keterbukaan informasi sebagai akibat dari kemajuan jaman tidak dapat dielakkan, karenanya kita perlu membekali anak-anak kita tidak hanya dengan ilmu tapi juga dengan Iman dan Taqwa. Kuat Ilmu, Kuat Iman, Kuat Takwa, agar anak-anak kita tidak sekedar sukses mengejar kesuksesan semu di dunia saja, tetapi juga sukses, selamat, bahagia di dunia dan di akhirat.


Wisata Ilmu dan Persahabatan Di Eropa: 6 Kota 3 Negara 1 Benua

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi. – Sahabat Kecil, Ipang

00_ghent_01
*)Kota Ghent, Belgium

Jalan-jalan menelusuri kota-kota cantik nan esotik di Eropa? wah, pasti impian banyak orang bukan? Dan saya adalah salah satunya. Buat keluarga artis, pengusaha kaya raya, atau pejabat negara tentu itu bukanlah impian mahal. Kapan saja mereka menginginkan, impian itu bisa dengan mudahnya terwujud dengan uang yang mereka miliki. Tapi buat orang-orang desa nan miskin seperti saya, tentu saja itu impian sangat mahal. Duite sopo Kang? Arep ngedol sawahe sopo? Mbah Mu  a? (red: uang nya siapa bro? mau jual sawah siapa? sawah nenenk mu? )

Tapi, Gusti Allah itu selalu memiliki caraNya sendiri  dalam menakdirkan jalan hidup hamba Nya yang tak pernah lelah berusaha. Alhamdulilah, pas liburan musim panas 2013 kemaren, saya ditakdirkan bisa jalan-jalan gratis di 6 kota di Eropa. Ceritanya, makalah hasil penelitian saya selama tahun pertama diterima untuk dipresentasikan di sebuah konferensi ilmiah di Kota Ghent, Belgia. Lebih mujur lagi, sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, tempat saya menempuh pendidikan PhD, dengan baik hatinya membayari semua biaya pendaftaran termasuk biaya transportasi dan akomodasi selama 5 hari di Kota Ghent, Belgia itu.

Untuk jalan-jalan kali  ini saya lebih senang menyebutnya dengan wisata ilmu dan persahabatan. Karena tujuan nya memang untuk mencari ilmu dan silaturrahim ke konco-konco lawas (red. teman-teman lama) yang bertebaran di Eropa sana. Biar pun, ndeso gini, alhamdulilah saya punya banyak teman yang saat ini sedang berada di benua biru. *astgahfirullah, mulai sombong neh :p*. Yuk mari ikuti  cerita perjalanan saya.

London, United Of Kingdom


*) Kota London, UK.

Untuk menuju kota Ghent, Belgia, saya berencana naik Bus malam langsung dari Nottingham dengan transit di kota London. Berangkat dari Nottingham jam 3 siang, nyampek di Ghent nya jam 4 pagi. Tapi, sialnya, ketika sampai London dan mau naik Bus ke Ghent, saya dilarang naik Bus, alasanya karena saya tidak memiliki VISA schengen. Padahal, saya menggunakan paspor dinas, paspor berwarna biru, yang menurut keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussel pemegang paspor biru ini bebas visa selama 30 hari di negara Belgia, Netherland (Belanda), dan Luxemburg. Saya sempat eyel-eyelan (red. adu mulut) berkali-kali sama petugas Bus, tapi rupanya kandas. Mereka beralasan, tidak bisa karena Bus yang akan saya naiki itu akan melewati Perancis, yang walaupun saya cuman numpang lewat doang saya tetap harus memilika Visa Schengen.

Duh Gusti ! haruskah impian jalan-jalan di eropa yang sudah di depan mata, tiba-tiba lenyap begitu saja. Saya hanya bisa nelangsa memandangi Bus Euro Line yang pergi meninggalkan saya sendirian di terminal bus Victoria London, di hari yang sudah merambat malam itu. Bus itu seolah-olah mengejek saya sambil berkata : “kasihan deh lo !”. Saya kembali duduk di kursi tunggu, rasanya masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi. Saya curhat lewat Whats App ke salah satu teman dekat saya di Nottingham. Teman saya itu malah ngeledek:

” Udah balik saja ke Nottingham cak ! lanjutkan kampanye online nya buat kemenagan Khofifah!”

Tapi, yaudahlah mau gimana lagi. Semua yang terjadi terjadilah. Akhirnya, saya memutuskan untuk balik saja ke Nottingham. Bus terakhir dari London ke Nottingham akan berangkat 10 menit lagi. Saya berjalan gontai menuju pintu bus. Sang sopir memeriksa kertas bukti booking online saya. Dia mengernyitkan dahi nya. Dia berkali-kali  mencocokkan kode booking tiket saya dengan daftar kode tiket yang dia miliki, dan ternyata  tidak ada. Setelah bertanya ke rekan kerjanya, Sopir itu akhirnya bilang ke saya:

“Maaf kamu harus menukar dulu dengan tiket bus di Counter Penjualan Tiket, Kamu harus cepat-cepat karena bus nya 3 menit lagi mau berangkat”.

Saya mencari-cari counter penjualan ticket bus national express itu, tapi tidak ketemu juga. Sampai Bus nya berangkat dan sekali lagi seolah mengejek saya sambil berkata: “Selamat mbambung ya ! “. 

Tiba-tiba, sifat asli saya yang suka ngeyelan dan mekso yang sudah habis terkuras sama petugas Bus ke Ghent sebelum nya muncul kembali. Hati saya berbisik, pokoknya bisa tidak bisa, besok pagi saya harus nyampek di Ghent, Belgia. Pantang buat saya untuk menyerah.

Saya tiba-tiba teringat salah satu teman kenalan saya di facebook. Dia kebetulan yang menjaga wisma indonesia di KBRI London. Sayangnya, karena hanya baru kenal di facebook saya tidak memiliki nomer HP nya. Saya message teman saya itu minta nomer HP nya. Untungnya, dia lagi Online.

Setelah saya telpon dan mendapatkan nomer Whats App nya, Cak Hanif, nama teman saya itu, memberi petunjuk jalan menuju wisma indonesia. Rupanya saya harus naik Tube, kereta api bawah tanah, dua kali dan harus berjalan sekitar 500 meter hingga akhirnya setelah bersusah payah sampai juga saya di Wisma Indonesia.

Sampai di Wisma Indonesia, Cak Hanif dan istrinya menyambut saya dengan sangat hangat. Meskipun baru kenal, saya sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri. Saya langsung diajak makan malam bersama di dapur. Cak Hanif dan istrinya serta satu orang Indonesia lagi yang sedang kuliah di London menemani saya makan malam bersama. Sambil makan,kami ngobrol gayeng dan akrab. Rupanya Cak Hanif dan istrinya aslinya orang Banyuwangi juga, sama dengan saya. Latar belakang yang sama-sama dari pesantren, membuat kami keasyikan ngobrol hingga larut tengah malam. Cak Hanif ini ternyata alumni pondok pesantren minhajut thulab, paras gempal, sumber beras, Muncar Banyuwangi.

Sekitar jam 12 malam, Cak Hanif mengantar saya di salah satu kamar. Setelah menuliskan password wifi di secarik kertas, cak hanif meninggalkan saya sendiri di kamar dengan 3 spring bed itu. Cak hanif bilang kalau dia akan ngelembur mendata Daftar Pemilih Tetap warga indonesia di Inggris untuk Pemilu 2014, kalau ada apa-apa dia berpesan untuk Whats App saja.

Setelah sholat isyak, saya menyalakan laptop dan langsung mencari tiket pesawat untuk besok pagi. Lewat agen online, saya mendapatkan tiket yang cukup murah dengan British Airways berangkat keesokan harinya jam 6 pagi dari Hethrow Airport. Hanya saja yang menjadi masalah, status tiket nya ternyata tidak langsung diconfirm. Saya telpon agen nya, tidak diangkat, karena ternyata mereka baru bisa melayani mulai jam 8 pagi. Sementara pesawatnya berangkat Jam 6 pagi.

Meskipun status tiket saya belum jelas, saya minta dipesankan taksi sama Cak Hanif yang akan menjemput saya jam 4 pagi menuju Hethrow Airport. Cak Hanif juga berpesan, besok pagi jam 4 kalau pergi ndak usah bangunin dia, saya diminta untuk langsung keluar saja, karena pintunya akan terkunci secara otomatis.  Dia juga menggratiskan biaya sewa kamar kamar di Wisma Indonesia yang seharusnya bayar £16 itu.

Pada akhirnya saya tidak bisa tidur semalaman, karena berkali-kali saya cek status tiket saya belum juga diconfirm. Sampai jam 4 pagi Taxi yang akan mengantarkan saya ke Bandara itu datang.

Sampai di Heathrow Airport, saya mencoba self check in. Tetapi, walaupun sudah saya coba berkali-kali ternyata tidak bisa, karena memang status tiket saya belum diconfirm. Akhirnya saya duduk di ruang tunggu, sekalian sholat subuh sambil duduk. Setelah sholat, saya telpon lagi nomer agen online itu, tetapi tetap saja tidak diangkat. Saya ubek-ubek lagi website agen tiket pesawat online itu. Sampai akhirnya saya menemukan nomor telepon lainya yang bisa dihubungi. Alhamdulilah, di detik-detik terakhir ternyata saya telpon diangkat dan tiket saya bisa diconfirm.

Hah.. lega rasanya. 45 menit sebelum pesawat berangkat saya bisa self chek in. Dan lebih lega lagi, pada pemeriksaan imigrasi di Bandara Hethrow sama sekali tidak ada masalah. Mereka sama sekali tidak menanyakan masalah Visa. Jam 5.45 saya masuk pesawat, Alhamdulilah Gusti …. akhirnya I am flying on the sky from London to Brussel with British Airways. Untung saya nekat berangkat, dan tidak mutung balik ke Nottingham. Pada saat seperti inilah, saya merasa beruntung memiliki sifat ngeyelan dan suka memaksakan diri itu, hehehe…

Ghent, Belgium

00_ghent_02
*)Salah Satu Sudut Kota Ghent, Belgium

Di atas awan, di dalam pesawat British Airways, sambil melihat langit dari balik jendela pesawat, saya rasanya masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Perjalanan panjang naik bus malam Nottingham – London – Ghent yang sudah saya rencanakan sebelumnya gagal total. Yah, begitulah hidup. Seringkali kenyataan yang terjadi tak sesuai dengan yang direncanakan. Tetapi, kenyataan bisa jadi malah menjadi lebih indah dari yang kita rencanakan.

Perjalanan dari London ke Brussel, Belgia ini cukup singkat. Hanya butuh waktu kurang lebih 50 menit. Jadi, sekitar pukul 08.00 waktu setempat (waktu di Belgia 1 jam lebih cepat dari London) pesawat sudah mulai mendarat di Bandara Brussel.  Dari atas pesawat, tata kota Brussel terlihat begitu rapi dan indah. Bersih dan teratur.  Saya sangat yakin arsitektur kota ini tentunya direncanakan dan dibuat dengan sangat sangat cermat dan penuh perhitungan.

Tiba di Bandara, akhirnya bagian yang paling saya takutkan datang juga. Yaitu, bagian imigrasi. Saya sudah was-was sekali, jangan-jangan saya dipulangkan lagi ke London karena tidak memiliki visa Schengen. Ketika petugas imigrasi memeriksa paspor biru saya, saya tak henti-henti nya baca sholawat. Duh Gusti mugi-mugi ndak ada masalah. Rupanya, dia sama sekali tidak mempermasalahkan VISA. Sepertinya mereka sudah tahu kalau pemegang paspor biru Indonesia tidak perlu VISA. Tapi dia meminta surat undangan conference dan tiket balik pesawat.

Bodohnya, saya tidak memiliki keduanya dan dia meminta dalam bentuk print out. Saya pun merayu dengan menunjukkan bukti email dari ponsel pintar saya. Tetapi, sial dia tidak mau tahu. Pokoknya dia maunya dalam bentuk print out, titik. Yah gimana lagi dong. Saya didiamin cukup lama, sementara saya hanya bisa diam sambil tak henti-hentinya baca sholawat. Setalah kurang lebih 5 menit, akhirnya si petugas imigrasi itu meminta saya untuk menunjukkan tiket dan undangan dari ponsel saya dan akhirnya meloloskan saya dari pemeriksaan imigrasi. Horee… hati saya bersorak riang.

Dari Bandara, saya harus naik kereta selama kurang lebih 2.5 jam. Keretanya tingkat seperti bus double decker di London. Yang jelas sangat nyaman sekali. Di kereta ini, saya baru sadar kalau di Belgia mereka menggunakan bahasa perancis dan belanda. Bahasa inggris sangat minim sekali digunakan, semua papan informasi tertulis hanya dalam bahasa belanda dan perancis. Ini yang sedikit membingungkan saya.

00_ghent_03
*) Bersama Anas, Dari Sudan

Akhirnya sekitar pukul 11 siang saya sampai juga di Hotel tempat konferensi itu diselenggarakan. Saya langsung setor muka ke dosen pembimbing saya  yang ternyata sudah mengkhawatirkan saya kok belum muncul di tempat konferensi.

Konferensi ilmiah dibidang penjadwalan ini berlangsung selama 4 hari. Berbeda dengan konferensi internasional yang pernah saya hadiri sebelum-sebelumnya, konferensi ini sangat istimewa buat saya. Menghadiri konferensi ini buat saya tak ubahnya seperti anak muda yang sedang menghadiri konser langsung band idolanya. Karena, disini saya bisa bertemu langsung dengan para profesor dan pakar yang sudah sangat saya kenal namanya dari makalah-makalah karya mereka yang saya baca selama ini. Berbeda dengan di Indonesia yang biasanya seminar seperti kayak ini hanya dihadiri kalangan akademisi, di sini banyak sekali peserta yang hadir dari kalangan industri.

Ohya, kota Ghent ini sangat cantik. Katanya sih, salah satu kota terindah di Eropa daratan. Satu lagi, kota ini merupakan salah satu kota cagar budaya dunia. Disini banyak sekali bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri yang menjadikan bukti-bukti kejayaan kekaisaran Romawi pada masanya. Sekilas kota ini mirip dengan kota Edinburgh di Skotlandia. Transportasi utama di kota ini adalah Tram dan sepeda ontel yang membuat kota ini sangat nyaman untuk disinggahi.

Di sela-sela acara konferensi, panitia mengadakan beberapa kegiatan sosial. Diantaranya adalah menyusuri sungai yang membelah kota Ghent dengan boat dan Makan malam di salah satu bangunan bekas sekolah calon pendeta katolik. Selama kegiatan sosial ini, saya merasa sangat beruntung bertemu dengan orang-orang baru yang sangat mengasyikkan dan menginpirasi. Karena sering jalan bareng, akhirnya saya jadi lebih akrab dan mengenal kehidupan pribadi dan sisi lain dari dosen pembimbing saya.

Selama konferensi ini juga saya bertemu dengan seorang teman dari Indonesia. Mas Komar namanya. Dia dosen Teknik Industri, Universitas Indonesia (UI) yang sedang tugas belajar untuk menyelesaikan PhD di salah satu Universitas di Brussel. Dia orangnya sangat super baik sekali. Gimana tidak baik, tiap hari selama konferensi dia selalu membawakan saya makan siang dengan menu masakan Indonesia. Masakan istri tercintanya yang sangat dahsyat kelezatanya itu tidak akan pernah saya lupakan. Gulai kambing, udang asam manis, Tom Yam, Bakso dengan nasi super punelnya adalah anugerah rejeki Gusti Allah yang tak ternilai harganya di saat kita berada di negeri orang seperti di kota Ghent, Belgia ini.

Brussel, Belgium

00_ghent_04
*) Bersama Mas Komar, UI

Hari Jumat pagi  setelah sarapan di restoran hotel ibis, tempat saya menginap selama konferensi, saya meninggalkan kota cantik Ghent. Hari itu saya berencana silaturrahim ke apartemen mas komar di Brussel, ibu kota Begia. Sesuai petunjuk, dari hotel saya naik Tram menuju stasiun kereta Sint-Pieters di pusat kota Ghent. Kemudian lanjut naik kereta api turun di stasiun central di Brussel.  Sebelum saya berangkat, saya lupa ngabari Mas komar jam berapa saya berangkat dari Ghent. Parahnya lagi, ternyata operator selular saya tidak support roaming service. Beberapa hari sebelumnya saya mengandalkan wifi hotel untuk komunikasi lewat Whats App. Saya cuman berharap, mudah-mudahan di stasiun ada Wifi gratis.

Setiba di stasiun central Brussel, saya clingak-clinguk sendirian. Semua papan informasi dalam bahasa Belanda dan Perancis membuat saya agak bingung. Saya hanya mengandalkan insting untuk mencari pintu keluar. Di stasiun inilah kejadian menyedihkan terjadi. Dompet saya kecopetan bro! Ceritanya ada dua orang kulit hitam tiba-tiba ngasih petunjuk saya untuk keluar lewat eskalator. Satu orang di depan saya, satu nya lagi berada di belakang saya. Ketika hampir nyampek di atas, orang di depan saya itu tiba-tiba menjatuhkan casing handphone. Kemudian dia jongkok mengambil casing itu dan berhenti cukup lama. Karuan saja karena eskalator berjalan, saya  terjungkal-jungkal, menabrak orang tersebut. saya sampek bilang “what the fuck man !”. Setelah itu, dia langsung ngacir begitu saja bersama orang yang berada di belakang saya. Tanpa sama sekali menoleh ke belakang dan tanpa berkata sepatah kata pun.

Ketika saya mengambil handphone untuk mencari-cari sinyal wifi, saya baru sadar kalau dompet saya yang tebal banget sudah raib. Syok rasanya, karena semua harta karun saya tersimpan di dompet itu. Semua kartu2 penting hilang, termasuk kartu mahasiswa dan ATM. Hanya beberapa receh uang euro yang tersisa di saku baju. Parahnya lagi, saya ndak bisa menghubungi Mas Komar karena ternyata tidak ada Wifi gratis. Duh Gusti.

Untungnya, beberapa menit kemudian, Mas Komar dengan senyum khas dan gayanya yang sangat santai tiba-tiba datang nyamperin saya. Mas komar sangat santai dan mencoba menenangkan saya yang awalnya sangat panik. Dia datang seperti malaikat yang diturunkan oleh Tuhan dari langit. Mungkin karena terkena aura mas nya yang calm down, mendadak saya jadi tenang dan sama sekali tidak sedih dengan hilangnya dompet itu. Saya hanya perlu memblokir kartu debet saya, karena di beberapa outlet belanja, kartu debet ini bisa dipakai tanpa verifikasi password. Mas komar meminjamkan handphoneya untuk saya gunakan menelpon bank saya di UK.

00_ghent_05
*) Salah satu Masjid berarsitektur Maroko di Brussel

Setelah menaruh barang dan makan siang di apartemen Mas Komar. Mas komar mengajak saya sholat Jumat di masjid terdekat. Brussel ini rupanya salah satu kota di Eropa dengan penduduk Muslim terbanyak. Kebanyakan Muslim di kota Brussel ini adalah pendatang dari Maroko. Kami sholat jumat di salah satu masjid dengan gaya arsitektur Maroko tersebut. Diluar masjid ternyata banyak sekali pengemis seperti para pengemis di kawasan Ampel, kota Surabaya. Miris rasanya, melihat banyak sekali para muslim pendatang ini hanya menjadi pengemis yang merusak pemandangan kota Brussel.

00_ghent_06
*) Salah satu sudut Kota Brussel, Belgia.

Usai sholat jumat, Mas Komar mengajak saya jalan-jalan keliling kota brussel dengan bus, tram, dan kereta api. Saya ditunjukkan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Kota Brussel. Di antaranya adalah kantor uni eropa, city centre, patung anak kecil yang sedang kencing dan atomium.  Kota Brussel ini sangat bersih dan yang menarik adalah disini banyak sekali taman-taman kota yang indah. Tempat yang sangat cocok untuk bermain bersama anak-anak.

00_ghent_07
*) Patung Anak Kecil Lagi Pipis

Arsitektur  bangunan di kota Brussel ini tidak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan di kota-kota di Inggris. Yaitu arsitektur khas bangunan romawi kuno yang sangat kompleks, detail dan rumit. Salah satu icon wisata dari kota Brussel adalah Atomium. Itu lo, bangunan berbentuk atom raksasa.

00_ghent_21
*) Atomium, Brussel

Sebelum kembali ke rumah, Mas Komar mengajak saya belanja di salah satu kawasan mayoritas Muslim. Di tempat itu banyak dijual makanan khususnya daging Halal. Kawasan ini mirip sekali dengan kawasan Hyson Green di Nottingham.

00_ghent_08
*) Toko Halal, Brussel.

Setelah sholat ashar dan makan sore, saya pamitan ke Mas Komar, istrinya, dan dua orang putri cantiknya untuk melanjutkan perjalanan ke kota Leuven. Mas Komar mengantar saya ke stasiun kereta api. Mas komar meminjami saya uang beberapa ratus euro untuk bekal sampai kembali lagi di UK.

Leuven, Belgium

00_ghent_09
*) Bersama Bang Roil di Lab.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kereta api, akhirnya saya sampai Juga di stasiun Leuven. Saya sudah membeli nomor belgia, yang saya beli di emperan masjid setelah sholat Jumat di Brussel. Bang Roil menjemput saya di stasiun. Senang sekali rasanya berjumpa kembali dengan kawan lama yang sudah 5 tahun tidak pernah bertemu. Bang Roil ini senior saya di pesantren Darul Ulum Jombang dan senior saya juga waktu kuliah S2 di Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia. Beliau, yang sangat terkenal kepintaranya itu, sedang menyelesaikan Post Doctoral di Universitas Katolik Leuven, tempat dia menyelesaikan sekolah PhD nya. Waktu di UTP saya sering kali dikira adik kandung beliau, karena katanya wajahnya mirip :D.

Malam itu saya menginap di apartemen Bang Roil. Auro kesempurnaan kebahagian terpancar dari keluarga Bang Roil yang baru saja dianugerahi seorang putri cantik bernama Adore. Semalaman saya banyak mengobrol dan diskusi dengan beliau. Layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Buat saya, sejak dahulu beliau selalu menginspirasi. Terutama dalam hal kerja keras, kemauan keras, dan kegigihan dalam mencapai sesuatu.

00_ghent_10
*) Ngontel di Universitas Katolik Leuven

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bang Roil mengajak saya mengontel keliling kampus dan kota Leuven. Ohya, kota Lueven ini dari jaman dahulu terkenal sebagai kota pelajar yang terpandang di Belgia dan Eropa pada umumnya. Seperti Oxford dan Cambridge di Inggris.

Kampus U.K. Lueven sangat luas dan hijau. Masuk ke dalam kampus, terasa seperti masuk ke dalam hutan yang sangat luas. Sepeda Ontel adalah alat transportasi mainstream di kota ini. Setelah bertahun-tahun tidak ngontel, saya baru  benar-benar dapat merasakan nikmatnya naik sepeda ontel  di kota ini. Hijau, alami, suasananya sangat tenang, dan udaranya sangat segar. Bersepeda di kampus ini, terasa seperti berkeliling di taman-taman syurga. Sebuah tempat yang sangat sempurna untuk belajar dan hidup.

Saya diajak bermain di Laboratorium tempat beliau melakukan penelitian. Ternyata ada mahasiswa Master di bawah bimbingan Bang Roil yang sedang bekerja di Lab. Rajin benar mahasiswa ini, hari Sabtu sepagi itu sudah bekerja di Lab. Riset bang roil adalah tentang pengelolaan air limbah.

00_ghent_11
*) Sudut Kota Leuven, Belgia

Setelah puas berkeliling kampus, kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke pusat kota Leuven. Ada banyak tempat-tempat bersejarah di kota Leuven ini, diantaranya adalah asrama tempat penampungan para wanita janda yang suaminya gugur berperang ketika Perang Salib. Tipikal kota-kota tua di Eropa isinya adalah bangunan-bangunan seperti gereja-gereja katolik berasitektur romawi kuno.

Setelah sholat Duhur, saya pamitan ke Bang Roil, Atun istriny, dan si kecil Adore untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Eindhoven, Belanda. Saya kembali harus naik kereta kurang lebih 4 jam dari Leuven menuju kota Eindhoven di Belanda.

Eindhoven, Netherland

00_ghent_12
*) Di Sekitar Kampus, T.U. Eindhoven

Begitu turun dari kereta di stasiun Eindhoven,  seseorang sudah menunggu kedatangan saya. Dia adalah Mas Danu, teman sesama dosen di Jurusan Sistem Informasi ITS. Sudah hampir 3 tahun kami tidak saling bertemu. Rasanya senang sekali bisa reunian kembali, apalagi reuninya di Eropa. Sesuai dengan hayalan kita dulu sebelumnya. Beliau masuk bareng sama saya jadi dosen di ITS. Meskipun dari kampus yang berbeda, saat pertama kali bertemu dulu, kami langsung merasa dekat dan cocok, karena sama-sama berlatar belakang NU dan sama-sama GUSDURian :D. Bahkan, kita duet bareng ngajar mata kuliah yang sama.

00_ghent_13
*) Masjid di Eindhoven

Jadi reunian ini sangat spesial sekali. Saya merasa seperti pertemuan Gus Dur dan Gus Mus yang kangen-kangenan karena sudah lama tidak saling bertemu. Saya sangat menikmati pertemuan yang sangat manusia seperti ini. Artinya, kami saling bertemu bukan karena ada kepentingan bisnis atau urusan lain. Hanya pertemuan biasa, antara manusia biasa yang mendiskusikan hal-hal yang biasa. Tidak ada udang di balik batu.

Dari stasiun, kami naik sepeda ontel menuju apartemen beliau. Sama seperti di Belgia, sepeda ontel adalah alat transportasi mainstream di negeri kincir angin Belanda ini. Di apartemen, mas Danu sudah menyiapkan masakan Soto Tauco Pekalongan. Hebatnya, ini masakan beliau sendiri lowh. Sambil menikmati soto, kami ngobrol santai dengan sangat gayeng. Sesekali tertawa terbahak-bahak bersama.

00_ghent_14
*) Gereja di Eindhoven

Usai sholat ashar, kami sepedahan lagi keliling kampus T.U. Eindhoven dan City Centre. Keliling kampus sambil foto-foto layaknya ABG, yang lupa umur.  Karena sebagian besar naik sepeda kota Eindhoven ini sangat nyaman untuk disinggahi. Tentu saja tidak ada kemacetan apalagi polusi udara. Ritme hidup terasa sangat damai dan berjalan sangat alami. Kami berkelililng melihat masjid, gereja, dan merasakan suasana kehidupan orang-orang Eindhoven.

Sore itu kebetulan ada pertandingan sepak bola di stadion. Ribuan supporter bergerombol pergi menuju stadion. Uniknya mereka datang ke stadion dengan naik sepeda ontel atau jalan kaki. Pemandangan yang sangat indah bukan? Jadi membayangkan kalau seandainya para Bonek, supporter PERSEBAYA datang ke stadion naik sepeda ontel begitu sepertinya seru sekali.

00_ghent_15
*) Bersama Mas Danu
Menyusuri sudut-sudut kota Eindhoven ini benar-benar membuka perspektif baru buat saya what a life is. Dibanding orang Inggris, orang Belanda jauh lebih ramah. Setiap berpapasan dengan orang baru pun, mereka dengan senang hati menyapa kita. Apalagi kalau tahu kita bawa kamera, mereka akan sangat senang bahkan meminta anda memfoto mereka. Hal ini tentu bukan hal biasa di Inggris. Secara umum, orang Belanda lebih hangat daripada orang Inggris.

Sama seperti di kota-kota besar di Eropa lainya, disini banyak sekali gereja-gereja yang ditinggalkan jamaahnya. Tinggal bangunan-bangunan cantik nan kokoh tapi dianggurin, tidak ada pemujaan Tuhan di dalamnya. Bahkan, banyak diantaranya yang beralih fungsi menjadi diskotik. Sepertinya, orang-orang di Eropa sudah tidak memahami agama sebagai kegiatan ritual lagi, tapi lebih memahaminya sebagai way of life. Yang penting mereka baik, jujur, dan berbudi pekerti yang luhur sudah cukup, meskipun mereka tidak pernah datang ke Gereja.

Malam hari nya, setelah capek jalan-jalan, makan malam dan sholat isyak. Saya langsung terkapar, tertidur kecapekan di apartemen Mas Danu.

Enschede, Netherland

00_ghent_16
*)Kampus Universitas Twente

Keesokan harinya, saya bingung mau melanjutkan perjalanan kemana. Bukanya, tidak ada tujuan, tapi terlalu banyak tujuan, sementara waktu saya tinggal satu hari. Antara mengunjungi teman di Delf, Amsterdam, Utrecth, atau yang di Twente. Akhirnya saya memutuskan ke tempat yang terjauh sekalian, yaitu di Enchede, tempat Universitas Twente berada.

Perjalanan dari Eindhoven ke Enschede dengan kereta cukup jauh juga. Tidak ada kereta yang langsung ke Enschede, saya harus transit ke Utrecht dulu. Maunya mampir sebentar di Utrecht, tapi setelah dipikir-pikir malah ndak enak ketemu teman cuman sekejap saja. Setelah perjalanan hampir 4 jam, akhirnya saya sampai juga di Enschede.

Seorang teman tiba-tiba saja menguntitku dari belakang. Dia adalah si Iwan. Kawan lama yang sudah lama tidak pernah ketemu 5-6 tahun. Dia tidak banyak berubah ternyata, wajahnya masih saja imut kayak anak SMA. Dulu pertama kali bertemu tahun 2007, waktu saya ambil S2 di UTP Malaysia, sementara dia waktu itu sedang di tahun terakhir kuliah S1 nya.

00_ghent_17
*)Bersama Iwan

Tiba di apartemen Iwan, langsung gabung dengan teman-teman Indonesia yang sedang mengadakan pengajian mingguan yang kebetulan hari itu bertempat di rumah Iwan. Pengajianya sama persis seperti model pengajian teman-teman jamaah tarbiyah, PKS. Karena dulu saya pernah ikutan, jadi sedikit tahu model pengajianya seperti apa. Yang penting saya bisa makan gratis habis pengajian hehe. Senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia disini. Feel like at home.

Selepas pengajian, sama seperti di Eindhoven, Iwan ngajak saya sepedahan keliling kampus Universitas Twente, sambil foto-foto. Waktu keliling kampus itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil nama saya: ” Mas Mukhlason…….. “. Yang ternyata adalah Krisnawati, adek kelas saya waktu kuliah S1 di ITS. Sangat tidak sengaja kami bisa ketemu. Bahkan saya tidak tahu kalau dia ada di Twente juga. Rupanya, dia mahasiswa baru program master di Universitas Twente dengan beasiswa dari Dep. KOMINFO. Senang sekali tak terkira bertemu dengan tidak sengaja seperti ini.

00_ghent_18
*)Bersama Krisna

Setelah dari kampus, Iwan mengajak saya kumpul-kumpul dengan teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia (PPI ) Twente. Ada teman yang mengadakan farewell party dengan BBQ di rumahnya. Seru juga bertemu dengan orang-orang Indonesia sebegitu banyaknya. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali yang menggambarkan suasana kekeluargaan yang rekat di antara teman-teman PPI  Twente. Yang menarik, ketika mereka pulang bareng-bareng, semuanya naik sepeda dengan sepedanya masing-masing. Benar-benar terasa seperti sepeda sehat jaman dahulu kala.

Malam harinya, si Iwan mengajak saya ketemu dengan teman-teman bulenya. Ceritanya mereka teman satu kelompok tugas, yang baru saja mau ketemu kembali setelah liburan musim panas. Di sebuah kafe, kami berlima ngobrol santai sampai tengah malam. Saya dan Iwan minum capucino, sementara 3 teman bule iwan lainya minum Bir. Meskipun, saya orang asing di antara mereka. Tetapi mereka sangat menghargai kehadiran saya. Mereka membawa saya masuk dalam obrolan mereka yang bercerita tentang liburan mereka masing-masing. Sehingga saya sama sekali tidak merasa terkucilkan :p. Di inggris, saya jarang sekali mengobrol lama dengan bule seperti ini. Kecuali jika ada acara formal dinner pada saat menghadiri short course atau conference.

Baru pukul 1 dini hari saya bisa tertidur di kamar Iwan, setelah ngobrol ngalur ngidul. Keesokan harinya, jam 6 pagi, setelah sarapan indomie dan coklat panas bikinan Iwan, dengan dibonceng sepeda ontel, Iwan mengantar saya ke stasiun kereta api terdekat untuk kembali ke Brussel dan terbang kembali ke London. Karena keasyikan jalan-jalan, saya sama sekali belum sempat beli oleh-oleh. Oleh-olehnya hanya cerita, kenangan, dan pelajaran hidup. Si Iwan malah yang ngasih oleh-oleh ke saya satu bungkus rendang uda gembul dari Bandung.

00_ghent_19
*)Stasiun Kereta Api

Yah akhirnya saya harus kembali ke tempat perjuangan. Senang sekaligus sedih karena dalam hati sebenarnya masih ingin jalan-jalan dan mengunjungi teman-teman lainya. Tapi, apa daya waktu jua yang membatasi. Dalam hidup ini, salah satu hal yang paling saya syukuri adalah dengan dipertemukanya saya dengan teman-teman hebat seperti mereka. Yang dekat dan bersahabat. Yang menginspirasi dan menyemangati.  Yang baik hati dan membuat kita selalu nyaman berlama-lama berada di dekatnya. Sebuah persahabatan yang barokah insya Allah. Seperti lirik lagunya Ipang:

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi.

00_ghent_20
*)Bandara Brussel

Di bandara Brussel, sambil menunggu pesawat datang, saya duduk sendirian di sudut ruang tunggu. Saya buka foto-foto di kamera DSLR saya, sambil mengingat kenangan-kenangan yang baru saja terjadi. Dalam hati saya berdoa, Ya Allah karunikanlah saya sahabat-sahabat dekat dan baik seperti mereka sebanyak-banyaknya.

Setiap peristiwa datang dan pergi, tetapi kenangan dan pelajaran yang tertinggal akan tetap abadi.

Oke deh, sekarang waktunya kembali melanjutkan perjuangan hidup ! Bukan waktunya, terbuai kenangan-kenangan indah *dasar melankolis* Terima kasih wahai Sahabat! Thanks God.