Tag Archives: cerita persahabatan

Sekedar Berteman Saja

…. aku hanya ingin berteman, berteman saja, titik. – a random thought

 

berteman

Ilustrasi : berteman

 

Banyak yang bilang, pola hubungan orang-orang modern di jaman sekarang, tak ubahnya hubungan para politisi di senayan. Tidak ada teman dan lawan sejati, yang ada  hanyalah kepentingan sejati.

Kita berteman semata karena ada sebuah kepentingan, ketika kepentingan berlalu, pertemenan pun berlalu saja.

Kita berteman hanya karena kebetulan kita berada di lini ruang dan waktu yang berhimpitan, begitu lini itu berjauhan, pertemenan pun menjauh begitu saja, usang
dimakan waktu.

Tetapi, hidup selalu menyimpan pengecualian-pengecualian. Aku kadang merasa sangat bersyukur, ditakdirkan masih memiliki beberapa teman atau lebih tepatnya sahabat yang berteman ya karena berteman saja. Walaupun jumlahnya lebih sedikit dari jumlah jari dalam satu telapak tangan.

Berteman karena sekedar berteman saja,  hubungan kami tak terjebak dalam ruang kepentingan yang sempit. Tak lekang dimakan waktu yang terus berjalan. Tak berubah walau terpisah ruang yang berjauh-jauhan. Kami berteman dari anak-anak tumbuh remaja, mendewasa hingga kini mulai menua.

Sebenarnya, aku bukanlah pribadi yang suka berteman. Aku bukanlah pribadi yang baik hati, supel dan pandai bergaul, bahkan sebaliknya aku lebih asyik dengan diriku sendiri. Karenanya, aku sering merenung, bertanya-tanya mengapa mereka ditakdirkan Tuhan di sekelilingku?

Pada teman ku itu belajar banyak hal tentang kehidupan, yang tidak banyak ku temukan pada manusia-manusia kebanyakan di Jaman sekarang. Menurut ku, teman-teman  ku itu makhluk langka di jaman ini.

Saat orang-orang berlomba-lomba merengkuh keunggulan diri, mereka malah memilih menempuh jalan sunyi, menebar kejujuran dan ketulusan hati. Ijazah kampus ternama pun disimpan rapi di dalam lemari.

Saat orang-orang sikut-sikutan berebut menjadi yang terdepan, teman-teman ku lebih asyik bekerja sangat-sangat keras di belakang layar.

Saat orang-orang memuja gengsi, menuhankan kemewahan materi, teman-teman ku lebih memilih kesederhanaan dan kebersahajaan hidup. Bergaul dengan orang-orang biasa di dalam gerbong kereta dan bus ekonomi lebih membahagiakan mereka daripada duduk nyaman sambil selfie di mobil mewah sendirian.

Berdiskusi dengan para petani dengan bau keringatnya yang menyengat lebih menggairahkan mereka daripada berdiskusi dengan para manajer dan direktur perusahaan dengan dasi nya rapi dan wangi.

Sekali lagi, sungguh aku beruntung berteman dengan mereka. Karena mereka, aku mampu melihat dunia dengan cara yang berbeda. Semoga pertemenan kita tetap apa adanya selamanya!


Teman Ngontel

Hidup adalah tentang menggores kenangan-kenangan di halaman putih buku ingatan yang tersimpan di kepala dan terekam di hati. Yang akan kita buka kembali, di kala senja usia nanti. Yang karenanya, kita akan dihakimi di alam kehidupan berikutnya nanti. -a random thought

denhague_02

Ilustrasi: Teman Ngontel, Den Hag, Belanda

Belakangan ini, saya merasa kena gejala Permanent Head Damage (PhD). Konon itu adalah hal biasa terjadi pada mahasiwa PhD tingkat akhir seperti saya saat ini. Yang saya alami adalah suka ngomong sendiri di jalanan, baik saat jalan kaki maupun sedang naik sepeda. Seolah saya sedang berdiskusi dengan seorang invisible man di samping saya. Tetapi belum parah banget sih, masih sadar kalau sedang berpapasan dengan orang lain langsung mingkem, walaupun sering kebablasan juga. Mungkin sekali dari orang-orang yang berpapasan itu ada yang menganggap saya memang ora genep. Haha, maklum saya bertahun-tahun menghabiskan sebagian besar waktu saya di lab. dengan orang-orang nerd. Orang-orang yang lebih asyik dengan alam pikiranya sendiri-sendiri. Orang-orang yang lebih suka menggauli komputer, ketimbang bertegur sapa dengan orang-orang di sekitarnya. Kami biasa, selama 10-12 jam di tempat yang sama, secara fisik hanya berjarak beberapa centi, tetapi tidak saling bertegur sapa sama sekali. Yah, mungkin begitulah jalan hidup computer scientist sejati. Orang-orang yang rela kehilangan beberapa ketrerampilan sosialnya dari orang-orang normal pada umumnya.

Gejala ini, mengingatkan saya pada suatu siang hampir dua puluh tahun yang lalu. Saya berdebat sengit dengan seorang teman dekat yang hampir setiap hari ngontel –naik sepeda bareng pergi pulang sekolah dari ndeso kami yang berjarak lebih dari 10 km. Siang yang terik sepulang sekolah itu, kami berpapasan dengan seorang perempuan yang ngomong, ngomel sendiri sambil mengayuh sepedanya.

Saya bilang kalau perempuan itu sepertinya ora pati nggenah, alias setengah gila. Eh, si teman itu ngotot banget kalau kayak gitu itu normal-normal saja. Menurutnya, adalah sesuatu yang wajar, jika ada seseorang yang melakukan monolog seperti itu meskipun di tempat umum, yang dilihat oleh banyak orang. Sementara saya juga ngotot, bagaimana pun juga orang normal pasti malulah ngomong-ngomong sendiri tidak jelas seperti itu. Nahloh, sekarang itu terjadi pada diri saya sendiri. Haruskah saya memvonis diri saya sendiri sebagai orang setengah gila? Mudah-mudahan saja pendamat teman saya yang lebih sohih.

Saya jadi ingin mengenang teman ngontel saya ini. Seorang teman yang saya masih merasa dekat dengan nya hingga sekarang. Kebetulan, kami dari desa yang sama, yang tiap hari harus ngontel di SMP di kota kecamatan, yang konon, waktu itu adalah SMP terbaik se-Kabupaten Banyuwangi. Kebetulan sejak kelas dua, kami juga berada di kelas yang sama.

Meskipun teman karib, yang hampir tiap hari ngontel beriringan, tetapi kami sebenarnya hampir selalu berbeda pendapat. itu tercermin dari tulisan tangan kami yang kontras perbedaanya. Tulisan tangan saya ekstrim miring ke kanan, sementara tulisan dia ekstrim miring kekiri. Hikmahnya, eyel-eyelan sepanjang perjalanan naik sepeda itu membuat jarak total 20 km tiap hari itu tidak terasa.

Ada saja yang kami perdebatkan. Tidak hanya saling berdebat, tetapi dia juga dia tidak sungkan-sungkan mengkritik. Pernah suatu hari saya sakit hati sama dia. Waktu saya membaca puisi di depan kelas pada saat pelajaran bahasa Indonesia. Dia bilang saya wagu, tidak pantes membaca puisi seperti itu. Padahal puisi yang saya baca itu mendapat nilai cukup bagus dari Bu Tutik, guru bahasa Indonesia kami.

Meskipun nyaris tidak pernah sependapat, tetapi anehnya, kami masih akrab-akrab saja. Saya sering mampir makan siang, sholat, dan nonton TV di rumahnya. Yang paling saya suka adalah minum air kendi yang hanya ada di rumahnya. Duh rasanya sueger alami sekali. Apalagi, direguk sepulang sekolah seperti itu, setalah ngontel sepuluh kilometer di tengah terik matahari, menyusuri jalan beraspal di antara hamparan sawah sejauh mata memandang dengan pemandangan lukisan alami gunung raung yang gagah itu.Biuh, rasanya, bagai air syurga segarnya.

Cerita di bangku SMP itu kami tutup dengan goresan kenangan yang sangat indah. Saat pelepasan kelas tiga SMP itu, kami bersama kedua orang tua kami, sama-sama dipanggil di atas panggung. Mendapat penghargaan berupa piala kecil dari kepala sekolah. Saya sebagai lulusan dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi pertama, sementara sang teman tertinggi ketiga. Bu Kutrik, guru bahasa Inggris kami, yang juga wakil kepala sekolah, berkomentar:  wah rupanya tahun ini prestasi terbaik diboyong anak-anak desa Plampangrejo, mengikuti jejak sukses wali kelasnya, Bu Mahmudah, yang juga sama-sama dari desa Plampangrejo.

Setamat SMP, kami berpisah mengikuti garis nasib sendiri-sendiri. Tetapi, sayangnya kami sama-sama gagal meraih impian kami masing-masing. Sang teman, yang dari awal kelas tiga bercita-cita ingin sekolah di SMA 3 Yogyakarta, ternyata ditolak mentah-mentah,  meskipun NEM nya waktu itu salah satu yang tertinggi se Kabupaten Banyuwangi. Dan harus puas hanya diterima di SMA 2 Bantul, setelah gagal masuk SMA 1 Bantul, di kota kelahiranya itu.

Saya lebih parah lagi. Saya bercita-cita ingin sekolah di STM Telkom Sandi Putra, Malang. Tapi harus gigit jari setelah gagal tes wawancara dan tes kesemaptaan. Kegagalan itu  mengantarkan saya masuk pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Sebelum akhirnya, setahun kemudian pindah ke pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Padahal, sangat mudah saja, saya dulu seperti teman-teman sekelas pada umumnya, masuk di SMA 1 Genteng, SMA terbaik di kabupaten Banyuwangi. Entahlah, saya waktu itu menolak mentah-mentah, saat bapak hendak mendaftarkan saya di SMA itu. Tetapi, mungkin itulah yang namanya hidup atau garis hidup.

Ketika kami menghidupi masa-masa SMA kami masing-masing, kami  masih keep in touch satu sama lain. Karena waktu liburan yang tidak sama antara sekolah umum dan di pesantren, sang teman pernah nyambangi saya di pesantren Blokagung. Begitu juga dengan saya, rela mbolos dari pondok pesantren, demi bermain ke rumahnya saat liburan sekolah.

Saat saya di Jombang, kami masih saja rajin berdebat. Bedanya, kalau di jaman SMP kami berdebat langsung saat ngontel beriringan. Waktu saya di Jombang, kami berdebat lewat surat-suratan. Layaknya, orang pacaran saja, hampir setiap seminggu kami saling berkirim surat. Hehehe

Waktu jaman kuliah, sang teman diterima di fakultas kedokteran hewan, UGM. Saya di fakultas teknologi informasi, ITS. Saat jaman kuliah ini, komunikasi sudah semakin jarang. Hanya sesekali kami saling berkirim email. Pernah juga suatu waktu, saat liburan kuliah, saya yang main ke Yogyakarta.

Menjelang lulus kuliah, saya masih ingat sang teman lah yang memaksa saya untuk mengambil kesempatan kuliah negeri dengan beasiswa, yang saat itu sudah saya dapatkan saat masih mengerjakan Tugas Akhir aka skripsi. Padahal, saya kurang begitu berminat, karena saya sudah kebacut ingin cepat kaya, dengan kerja di perusahaan asing. “Kapan lagi lo, sampean bisa merasakan hidup di luar negeri? itu akan menjadi kenangan-kenangan tak terlupakan, dalam hidup sampean”. Begitulah, kata-katanya mencoba meyakinkan saya. Tetapi, akhirnya saya pun memilih bekerja di perusahaan Korea, menjadi orang Jakarta. Sebelum saya sadar bahwa dunia kerja dan keindahan Jakarta ternyata tak seindah yang saya bayangkan. Saya pun akhirnya menuruti saran sang kawan.

Dalam memilih karir setelah lulus kuliah, kami pun berbeda pendapat, bagi dia yang penting adalah menjadi PNS. Saya malah sebaliknya, asal bukan PNS. Walaupun, pada akhirnya, kita sama-sama berstatus PNS, hehe. Sang kawan menjadi PNS sebagi dokter hewan, di kota Cirebon. Saya jadi PNS, sebagai dosen di alamamater sendiri.

Latar belakang pendidikan agama yang berbeda membuat kamu memiliki cara pemahaman dan penghayatan agama yang sangat berbeda, walaupun theologically, for sure kami sepakat. Saya yang alumni pondok, sudah bisa ditebak sangat NU banget, dengan pemahaman Islam yang sangat moderat, Islam yang ramah dan lentur dengan budaya pribumi. Lebih mengutamakan esensi daripada bungkus-bungkus budaya. Dalam hal-hal yang tidak ushul (pokok-pokok) agama, buat saya ekspresi keberagamaan orang Indonesia tidak harus sama persis dengan Arab.

Sementara sang teman, yang belajar agama dari liqo’ dan halaqah di sela-sela kuliah di kampus. Pemahaman agamanya lebih cenderung ke salafy-wahaby yang agak rigid dalam memahami agama. So, banyak amalan-amalan agama saya yang ala NU seperti tahlilan(mendoakan orang yang sudah meninggal dunia), ziarah kubur, menurut pemahaman dia, itu dianggap sesat, dan tempatnya di Neraka. Saya ‘pemuja’ Gus Dur, sementara dia penghujat Gus Dur.

Puncaknya, beberapa waktu yang lalu, saat saya kampanye Islam Nusantara, Islam yang ramah, toleran, dan rahmat bagi alam, lewat jejaring facebook. Sang teman, kirim message yang isinya: “Kang, maaf yo, untuk sementara sampean saya unfriend dan saya block dari facebook”. Saya mung mbatin tertawa, mau unfriend dan nge block kok pakai ijin segala. Kebetulan saya juga sudah jarang facebookan lagi.  Sejak saat itu, kami tidak pernah komunikasi sama sekali. Tetapi, ada teman dia yang rajin ngabari kabar sang teman ke saya.

Saya berjanji, someday saya akan main ke rumah sang teman. Beda pandangan bukan berarti harus putus hubungan. Bukankah kita sudah terbiasa berdebat, dan berbeda pandangan. Belakangan, saya sadar susahnya di jaman sekarang nyarik seorang teman yang maun menjadi cermin buat diri kita sendiri seperti sang teman tadi. Teman yang mau mengkritik, mendebat, meluruskan, tapi di saat yang sama, diam-diam setulus hati mendoakan kebaikan kita. Serta persahabatan yang berkelanjutan, lintas ruang dan waktu. Kebanyakan teman model jaman sekarang adalah teman-teman yang selalu tampak manis di depan kita. Tetapi, kita tak pernah tahu apa yang terjadi ketika di belakang kita. Jangan-jangan malah menceritakan keburukan kita kepada orang lain. Jangan-jangan malah bersorak sorai, ketika kita terpuruk dan jatuh. Pun kita berteman sebatas kepentingan, saat kita masih saling membutuhkan, saat kita terjebak dalam ruang dan waktu takdir yang berdekatan, disitu kita berteman. Selanjutnya, ya wassalam!

Semoga kita dikaruniai teman-teman sejati yang baik, mau menjadi cermin diri kita. Dan terhindar dari teman-teman yang tampak baik di depan saja. Ammiin


MISUH

Misuh, dalam budaya Jawa, misuh itu artinya mengumpat atau berkata kotor. Seperti kata MATA MU, JANCUK, RAIMU, KAKEAN MU.
Sama halnya dengan kata ‘BANGSAT’, dalam hasanah bahasa nasional kita. Umumnya, misuh itu ungkapan kekesalan, kejengkelan, makian, dan konco-konconya.
Tetapi, misuh juga bisa menjadi pertanda keakraban yang sudah akut.

Perasaan ku, aku jarang misuh. Apalagi, kalau misuhi orang lain. Seumur hidupku, saya pernah punya satu pengalaman misuh yang sangat menyejarah.
Waktu masih muda dulu, di dalam sebuah asrama santri yang sangat dekat dengan masjid. Aku terpaksa misuh, dalam keadaan masih dalam balutan sarung, baju koko, peci putih, dan berkalung sajadah, dan baru saja selasai jamaah isyak dari masjid.

Seonggok wajah putih, tertunduk malu, tersandar pada dinding lemari kayu bercat hijau. Amarahku sudah diubun-ubun, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut, kecuali dua kata: JANCUK, BAJINGAN! sambil kutampar kedua pipinya berkali-kali, hingga memerah pasrah tanpa perlawanan sama sekali. Kemudian terdiam tanpa kata. Hingga  pedihnya penghianatan atas kepercayaan itu berangsur sembuh. Hingga kami semua akrab seperti saudara kembali. Seperti pernikahan, persahabatan pun butuh dinamika.

Maafkan sekali lagi kelakuanku saat itu kawan!

Belakangan, aku suka misuh sendiri. Misuh pada program komputer yang ku buat sendiri. Ketika logika tak sejalan dengan luaran program, misuhlah pelampiasanya. Walaupun, sering kali penyebabnya hanya secuil baris kode yang tersilap atau terlupa. Untung teman-teman sekantor ku tak ada yang tahu artinya “Jancuk”. Argh, ternyata menjadi programmer, tak saja memeras otak, tetapi juga menguras emosi.


Wisata Ilmu dan Persahabatan Di Eropa: 6 Kota 3 Negara 1 Benua

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi. – Sahabat Kecil, Ipang

00_ghent_01
*)Kota Ghent, Belgium

Jalan-jalan menelusuri kota-kota cantik nan esotik di Eropa? wah, pasti impian banyak orang bukan? Dan saya adalah salah satunya. Buat keluarga artis, pengusaha kaya raya, atau pejabat negara tentu itu bukanlah impian mahal. Kapan saja mereka menginginkan, impian itu bisa dengan mudahnya terwujud dengan uang yang mereka miliki. Tapi buat orang-orang desa nan miskin seperti saya, tentu saja itu impian sangat mahal. Duite sopo Kang? Arep ngedol sawahe sopo? Mbah Mu  a? (red: uang nya siapa bro? mau jual sawah siapa? sawah nenenk mu? )

Tapi, Gusti Allah itu selalu memiliki caraNya sendiri  dalam menakdirkan jalan hidup hamba Nya yang tak pernah lelah berusaha. Alhamdulilah, pas liburan musim panas 2013 kemaren, saya ditakdirkan bisa jalan-jalan gratis di 6 kota di Eropa. Ceritanya, makalah hasil penelitian saya selama tahun pertama diterima untuk dipresentasikan di sebuah konferensi ilmiah di Kota Ghent, Belgia. Lebih mujur lagi, sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, tempat saya menempuh pendidikan PhD, dengan baik hatinya membayari semua biaya pendaftaran termasuk biaya transportasi dan akomodasi selama 5 hari di Kota Ghent, Belgia itu.

Untuk jalan-jalan kali  ini saya lebih senang menyebutnya dengan wisata ilmu dan persahabatan. Karena tujuan nya memang untuk mencari ilmu dan silaturrahim ke konco-konco lawas (red. teman-teman lama) yang bertebaran di Eropa sana. Biar pun, ndeso gini, alhamdulilah saya punya banyak teman yang saat ini sedang berada di benua biru. *astgahfirullah, mulai sombong neh :p*. Yuk mari ikuti  cerita perjalanan saya.

London, United Of Kingdom


*) Kota London, UK.

Untuk menuju kota Ghent, Belgia, saya berencana naik Bus malam langsung dari Nottingham dengan transit di kota London. Berangkat dari Nottingham jam 3 siang, nyampek di Ghent nya jam 4 pagi. Tapi, sialnya, ketika sampai London dan mau naik Bus ke Ghent, saya dilarang naik Bus, alasanya karena saya tidak memiliki VISA schengen. Padahal, saya menggunakan paspor dinas, paspor berwarna biru, yang menurut keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussel pemegang paspor biru ini bebas visa selama 30 hari di negara Belgia, Netherland (Belanda), dan Luxemburg. Saya sempat eyel-eyelan (red. adu mulut) berkali-kali sama petugas Bus, tapi rupanya kandas. Mereka beralasan, tidak bisa karena Bus yang akan saya naiki itu akan melewati Perancis, yang walaupun saya cuman numpang lewat doang saya tetap harus memilika Visa Schengen.

Duh Gusti ! haruskah impian jalan-jalan di eropa yang sudah di depan mata, tiba-tiba lenyap begitu saja. Saya hanya bisa nelangsa memandangi Bus Euro Line yang pergi meninggalkan saya sendirian di terminal bus Victoria London, di hari yang sudah merambat malam itu. Bus itu seolah-olah mengejek saya sambil berkata : “kasihan deh lo !”. Saya kembali duduk di kursi tunggu, rasanya masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi. Saya curhat lewat Whats App ke salah satu teman dekat saya di Nottingham. Teman saya itu malah ngeledek:

” Udah balik saja ke Nottingham cak ! lanjutkan kampanye online nya buat kemenagan Khofifah!”

Tapi, yaudahlah mau gimana lagi. Semua yang terjadi terjadilah. Akhirnya, saya memutuskan untuk balik saja ke Nottingham. Bus terakhir dari London ke Nottingham akan berangkat 10 menit lagi. Saya berjalan gontai menuju pintu bus. Sang sopir memeriksa kertas bukti booking online saya. Dia mengernyitkan dahi nya. Dia berkali-kali  mencocokkan kode booking tiket saya dengan daftar kode tiket yang dia miliki, dan ternyata  tidak ada. Setelah bertanya ke rekan kerjanya, Sopir itu akhirnya bilang ke saya:

“Maaf kamu harus menukar dulu dengan tiket bus di Counter Penjualan Tiket, Kamu harus cepat-cepat karena bus nya 3 menit lagi mau berangkat”.

Saya mencari-cari counter penjualan ticket bus national express itu, tapi tidak ketemu juga. Sampai Bus nya berangkat dan sekali lagi seolah mengejek saya sambil berkata: “Selamat mbambung ya ! “. 

Tiba-tiba, sifat asli saya yang suka ngeyelan dan mekso yang sudah habis terkuras sama petugas Bus ke Ghent sebelum nya muncul kembali. Hati saya berbisik, pokoknya bisa tidak bisa, besok pagi saya harus nyampek di Ghent, Belgia. Pantang buat saya untuk menyerah.

Saya tiba-tiba teringat salah satu teman kenalan saya di facebook. Dia kebetulan yang menjaga wisma indonesia di KBRI London. Sayangnya, karena hanya baru kenal di facebook saya tidak memiliki nomer HP nya. Saya message teman saya itu minta nomer HP nya. Untungnya, dia lagi Online.

Setelah saya telpon dan mendapatkan nomer Whats App nya, Cak Hanif, nama teman saya itu, memberi petunjuk jalan menuju wisma indonesia. Rupanya saya harus naik Tube, kereta api bawah tanah, dua kali dan harus berjalan sekitar 500 meter hingga akhirnya setelah bersusah payah sampai juga saya di Wisma Indonesia.

Sampai di Wisma Indonesia, Cak Hanif dan istrinya menyambut saya dengan sangat hangat. Meskipun baru kenal, saya sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri. Saya langsung diajak makan malam bersama di dapur. Cak Hanif dan istrinya serta satu orang Indonesia lagi yang sedang kuliah di London menemani saya makan malam bersama. Sambil makan,kami ngobrol gayeng dan akrab. Rupanya Cak Hanif dan istrinya aslinya orang Banyuwangi juga, sama dengan saya. Latar belakang yang sama-sama dari pesantren, membuat kami keasyikan ngobrol hingga larut tengah malam. Cak Hanif ini ternyata alumni pondok pesantren minhajut thulab, paras gempal, sumber beras, Muncar Banyuwangi.

Sekitar jam 12 malam, Cak Hanif mengantar saya di salah satu kamar. Setelah menuliskan password wifi di secarik kertas, cak hanif meninggalkan saya sendiri di kamar dengan 3 spring bed itu. Cak hanif bilang kalau dia akan ngelembur mendata Daftar Pemilih Tetap warga indonesia di Inggris untuk Pemilu 2014, kalau ada apa-apa dia berpesan untuk Whats App saja.

Setelah sholat isyak, saya menyalakan laptop dan langsung mencari tiket pesawat untuk besok pagi. Lewat agen online, saya mendapatkan tiket yang cukup murah dengan British Airways berangkat keesokan harinya jam 6 pagi dari Hethrow Airport. Hanya saja yang menjadi masalah, status tiket nya ternyata tidak langsung diconfirm. Saya telpon agen nya, tidak diangkat, karena ternyata mereka baru bisa melayani mulai jam 8 pagi. Sementara pesawatnya berangkat Jam 6 pagi.

Meskipun status tiket saya belum jelas, saya minta dipesankan taksi sama Cak Hanif yang akan menjemput saya jam 4 pagi menuju Hethrow Airport. Cak Hanif juga berpesan, besok pagi jam 4 kalau pergi ndak usah bangunin dia, saya diminta untuk langsung keluar saja, karena pintunya akan terkunci secara otomatis.  Dia juga menggratiskan biaya sewa kamar kamar di Wisma Indonesia yang seharusnya bayar £16 itu.

Pada akhirnya saya tidak bisa tidur semalaman, karena berkali-kali saya cek status tiket saya belum juga diconfirm. Sampai jam 4 pagi Taxi yang akan mengantarkan saya ke Bandara itu datang.

Sampai di Heathrow Airport, saya mencoba self check in. Tetapi, walaupun sudah saya coba berkali-kali ternyata tidak bisa, karena memang status tiket saya belum diconfirm. Akhirnya saya duduk di ruang tunggu, sekalian sholat subuh sambil duduk. Setelah sholat, saya telpon lagi nomer agen online itu, tetapi tetap saja tidak diangkat. Saya ubek-ubek lagi website agen tiket pesawat online itu. Sampai akhirnya saya menemukan nomor telepon lainya yang bisa dihubungi. Alhamdulilah, di detik-detik terakhir ternyata saya telpon diangkat dan tiket saya bisa diconfirm.

Hah.. lega rasanya. 45 menit sebelum pesawat berangkat saya bisa self chek in. Dan lebih lega lagi, pada pemeriksaan imigrasi di Bandara Hethrow sama sekali tidak ada masalah. Mereka sama sekali tidak menanyakan masalah Visa. Jam 5.45 saya masuk pesawat, Alhamdulilah Gusti …. akhirnya I am flying on the sky from London to Brussel with British Airways. Untung saya nekat berangkat, dan tidak mutung balik ke Nottingham. Pada saat seperti inilah, saya merasa beruntung memiliki sifat ngeyelan dan suka memaksakan diri itu, hehehe…

Ghent, Belgium

00_ghent_02
*)Salah Satu Sudut Kota Ghent, Belgium

Di atas awan, di dalam pesawat British Airways, sambil melihat langit dari balik jendela pesawat, saya rasanya masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Perjalanan panjang naik bus malam Nottingham – London – Ghent yang sudah saya rencanakan sebelumnya gagal total. Yah, begitulah hidup. Seringkali kenyataan yang terjadi tak sesuai dengan yang direncanakan. Tetapi, kenyataan bisa jadi malah menjadi lebih indah dari yang kita rencanakan.

Perjalanan dari London ke Brussel, Belgia ini cukup singkat. Hanya butuh waktu kurang lebih 50 menit. Jadi, sekitar pukul 08.00 waktu setempat (waktu di Belgia 1 jam lebih cepat dari London) pesawat sudah mulai mendarat di Bandara Brussel.  Dari atas pesawat, tata kota Brussel terlihat begitu rapi dan indah. Bersih dan teratur.  Saya sangat yakin arsitektur kota ini tentunya direncanakan dan dibuat dengan sangat sangat cermat dan penuh perhitungan.

Tiba di Bandara, akhirnya bagian yang paling saya takutkan datang juga. Yaitu, bagian imigrasi. Saya sudah was-was sekali, jangan-jangan saya dipulangkan lagi ke London karena tidak memiliki visa Schengen. Ketika petugas imigrasi memeriksa paspor biru saya, saya tak henti-henti nya baca sholawat. Duh Gusti mugi-mugi ndak ada masalah. Rupanya, dia sama sekali tidak mempermasalahkan VISA. Sepertinya mereka sudah tahu kalau pemegang paspor biru Indonesia tidak perlu VISA. Tapi dia meminta surat undangan conference dan tiket balik pesawat.

Bodohnya, saya tidak memiliki keduanya dan dia meminta dalam bentuk print out. Saya pun merayu dengan menunjukkan bukti email dari ponsel pintar saya. Tetapi, sial dia tidak mau tahu. Pokoknya dia maunya dalam bentuk print out, titik. Yah gimana lagi dong. Saya didiamin cukup lama, sementara saya hanya bisa diam sambil tak henti-hentinya baca sholawat. Setalah kurang lebih 5 menit, akhirnya si petugas imigrasi itu meminta saya untuk menunjukkan tiket dan undangan dari ponsel saya dan akhirnya meloloskan saya dari pemeriksaan imigrasi. Horee… hati saya bersorak riang.

Dari Bandara, saya harus naik kereta selama kurang lebih 2.5 jam. Keretanya tingkat seperti bus double decker di London. Yang jelas sangat nyaman sekali. Di kereta ini, saya baru sadar kalau di Belgia mereka menggunakan bahasa perancis dan belanda. Bahasa inggris sangat minim sekali digunakan, semua papan informasi tertulis hanya dalam bahasa belanda dan perancis. Ini yang sedikit membingungkan saya.

00_ghent_03
*) Bersama Anas, Dari Sudan

Akhirnya sekitar pukul 11 siang saya sampai juga di Hotel tempat konferensi itu diselenggarakan. Saya langsung setor muka ke dosen pembimbing saya  yang ternyata sudah mengkhawatirkan saya kok belum muncul di tempat konferensi.

Konferensi ilmiah dibidang penjadwalan ini berlangsung selama 4 hari. Berbeda dengan konferensi internasional yang pernah saya hadiri sebelum-sebelumnya, konferensi ini sangat istimewa buat saya. Menghadiri konferensi ini buat saya tak ubahnya seperti anak muda yang sedang menghadiri konser langsung band idolanya. Karena, disini saya bisa bertemu langsung dengan para profesor dan pakar yang sudah sangat saya kenal namanya dari makalah-makalah karya mereka yang saya baca selama ini. Berbeda dengan di Indonesia yang biasanya seminar seperti kayak ini hanya dihadiri kalangan akademisi, di sini banyak sekali peserta yang hadir dari kalangan industri.

Ohya, kota Ghent ini sangat cantik. Katanya sih, salah satu kota terindah di Eropa daratan. Satu lagi, kota ini merupakan salah satu kota cagar budaya dunia. Disini banyak sekali bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri yang menjadikan bukti-bukti kejayaan kekaisaran Romawi pada masanya. Sekilas kota ini mirip dengan kota Edinburgh di Skotlandia. Transportasi utama di kota ini adalah Tram dan sepeda ontel yang membuat kota ini sangat nyaman untuk disinggahi.

Di sela-sela acara konferensi, panitia mengadakan beberapa kegiatan sosial. Diantaranya adalah menyusuri sungai yang membelah kota Ghent dengan boat dan Makan malam di salah satu bangunan bekas sekolah calon pendeta katolik. Selama kegiatan sosial ini, saya merasa sangat beruntung bertemu dengan orang-orang baru yang sangat mengasyikkan dan menginpirasi. Karena sering jalan bareng, akhirnya saya jadi lebih akrab dan mengenal kehidupan pribadi dan sisi lain dari dosen pembimbing saya.

Selama konferensi ini juga saya bertemu dengan seorang teman dari Indonesia. Mas Komar namanya. Dia dosen Teknik Industri, Universitas Indonesia (UI) yang sedang tugas belajar untuk menyelesaikan PhD di salah satu Universitas di Brussel. Dia orangnya sangat super baik sekali. Gimana tidak baik, tiap hari selama konferensi dia selalu membawakan saya makan siang dengan menu masakan Indonesia. Masakan istri tercintanya yang sangat dahsyat kelezatanya itu tidak akan pernah saya lupakan. Gulai kambing, udang asam manis, Tom Yam, Bakso dengan nasi super punelnya adalah anugerah rejeki Gusti Allah yang tak ternilai harganya di saat kita berada di negeri orang seperti di kota Ghent, Belgia ini.

Brussel, Belgium

00_ghent_04
*) Bersama Mas Komar, UI

Hari Jumat pagi  setelah sarapan di restoran hotel ibis, tempat saya menginap selama konferensi, saya meninggalkan kota cantik Ghent. Hari itu saya berencana silaturrahim ke apartemen mas komar di Brussel, ibu kota Begia. Sesuai petunjuk, dari hotel saya naik Tram menuju stasiun kereta Sint-Pieters di pusat kota Ghent. Kemudian lanjut naik kereta api turun di stasiun central di Brussel.  Sebelum saya berangkat, saya lupa ngabari Mas komar jam berapa saya berangkat dari Ghent. Parahnya lagi, ternyata operator selular saya tidak support roaming service. Beberapa hari sebelumnya saya mengandalkan wifi hotel untuk komunikasi lewat Whats App. Saya cuman berharap, mudah-mudahan di stasiun ada Wifi gratis.

Setiba di stasiun central Brussel, saya clingak-clinguk sendirian. Semua papan informasi dalam bahasa Belanda dan Perancis membuat saya agak bingung. Saya hanya mengandalkan insting untuk mencari pintu keluar. Di stasiun inilah kejadian menyedihkan terjadi. Dompet saya kecopetan bro! Ceritanya ada dua orang kulit hitam tiba-tiba ngasih petunjuk saya untuk keluar lewat eskalator. Satu orang di depan saya, satu nya lagi berada di belakang saya. Ketika hampir nyampek di atas, orang di depan saya itu tiba-tiba menjatuhkan casing handphone. Kemudian dia jongkok mengambil casing itu dan berhenti cukup lama. Karuan saja karena eskalator berjalan, saya  terjungkal-jungkal, menabrak orang tersebut. saya sampek bilang “what the fuck man !”. Setelah itu, dia langsung ngacir begitu saja bersama orang yang berada di belakang saya. Tanpa sama sekali menoleh ke belakang dan tanpa berkata sepatah kata pun.

Ketika saya mengambil handphone untuk mencari-cari sinyal wifi, saya baru sadar kalau dompet saya yang tebal banget sudah raib. Syok rasanya, karena semua harta karun saya tersimpan di dompet itu. Semua kartu2 penting hilang, termasuk kartu mahasiswa dan ATM. Hanya beberapa receh uang euro yang tersisa di saku baju. Parahnya lagi, saya ndak bisa menghubungi Mas Komar karena ternyata tidak ada Wifi gratis. Duh Gusti.

Untungnya, beberapa menit kemudian, Mas Komar dengan senyum khas dan gayanya yang sangat santai tiba-tiba datang nyamperin saya. Mas komar sangat santai dan mencoba menenangkan saya yang awalnya sangat panik. Dia datang seperti malaikat yang diturunkan oleh Tuhan dari langit. Mungkin karena terkena aura mas nya yang calm down, mendadak saya jadi tenang dan sama sekali tidak sedih dengan hilangnya dompet itu. Saya hanya perlu memblokir kartu debet saya, karena di beberapa outlet belanja, kartu debet ini bisa dipakai tanpa verifikasi password. Mas komar meminjamkan handphoneya untuk saya gunakan menelpon bank saya di UK.

00_ghent_05
*) Salah satu Masjid berarsitektur Maroko di Brussel

Setelah menaruh barang dan makan siang di apartemen Mas Komar. Mas komar mengajak saya sholat Jumat di masjid terdekat. Brussel ini rupanya salah satu kota di Eropa dengan penduduk Muslim terbanyak. Kebanyakan Muslim di kota Brussel ini adalah pendatang dari Maroko. Kami sholat jumat di salah satu masjid dengan gaya arsitektur Maroko tersebut. Diluar masjid ternyata banyak sekali pengemis seperti para pengemis di kawasan Ampel, kota Surabaya. Miris rasanya, melihat banyak sekali para muslim pendatang ini hanya menjadi pengemis yang merusak pemandangan kota Brussel.

00_ghent_06
*) Salah satu sudut Kota Brussel, Belgia.

Usai sholat jumat, Mas Komar mengajak saya jalan-jalan keliling kota brussel dengan bus, tram, dan kereta api. Saya ditunjukkan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Kota Brussel. Di antaranya adalah kantor uni eropa, city centre, patung anak kecil yang sedang kencing dan atomium.  Kota Brussel ini sangat bersih dan yang menarik adalah disini banyak sekali taman-taman kota yang indah. Tempat yang sangat cocok untuk bermain bersama anak-anak.

00_ghent_07
*) Patung Anak Kecil Lagi Pipis

Arsitektur  bangunan di kota Brussel ini tidak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan di kota-kota di Inggris. Yaitu arsitektur khas bangunan romawi kuno yang sangat kompleks, detail dan rumit. Salah satu icon wisata dari kota Brussel adalah Atomium. Itu lo, bangunan berbentuk atom raksasa.

00_ghent_21
*) Atomium, Brussel

Sebelum kembali ke rumah, Mas Komar mengajak saya belanja di salah satu kawasan mayoritas Muslim. Di tempat itu banyak dijual makanan khususnya daging Halal. Kawasan ini mirip sekali dengan kawasan Hyson Green di Nottingham.

00_ghent_08
*) Toko Halal, Brussel.

Setelah sholat ashar dan makan sore, saya pamitan ke Mas Komar, istrinya, dan dua orang putri cantiknya untuk melanjutkan perjalanan ke kota Leuven. Mas Komar mengantar saya ke stasiun kereta api. Mas komar meminjami saya uang beberapa ratus euro untuk bekal sampai kembali lagi di UK.

Leuven, Belgium

00_ghent_09
*) Bersama Bang Roil di Lab.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kereta api, akhirnya saya sampai Juga di stasiun Leuven. Saya sudah membeli nomor belgia, yang saya beli di emperan masjid setelah sholat Jumat di Brussel. Bang Roil menjemput saya di stasiun. Senang sekali rasanya berjumpa kembali dengan kawan lama yang sudah 5 tahun tidak pernah bertemu. Bang Roil ini senior saya di pesantren Darul Ulum Jombang dan senior saya juga waktu kuliah S2 di Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia. Beliau, yang sangat terkenal kepintaranya itu, sedang menyelesaikan Post Doctoral di Universitas Katolik Leuven, tempat dia menyelesaikan sekolah PhD nya. Waktu di UTP saya sering kali dikira adik kandung beliau, karena katanya wajahnya mirip :D.

Malam itu saya menginap di apartemen Bang Roil. Auro kesempurnaan kebahagian terpancar dari keluarga Bang Roil yang baru saja dianugerahi seorang putri cantik bernama Adore. Semalaman saya banyak mengobrol dan diskusi dengan beliau. Layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Buat saya, sejak dahulu beliau selalu menginspirasi. Terutama dalam hal kerja keras, kemauan keras, dan kegigihan dalam mencapai sesuatu.

00_ghent_10
*) Ngontel di Universitas Katolik Leuven

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bang Roil mengajak saya mengontel keliling kampus dan kota Leuven. Ohya, kota Lueven ini dari jaman dahulu terkenal sebagai kota pelajar yang terpandang di Belgia dan Eropa pada umumnya. Seperti Oxford dan Cambridge di Inggris.

Kampus U.K. Lueven sangat luas dan hijau. Masuk ke dalam kampus, terasa seperti masuk ke dalam hutan yang sangat luas. Sepeda Ontel adalah alat transportasi mainstream di kota ini. Setelah bertahun-tahun tidak ngontel, saya baru  benar-benar dapat merasakan nikmatnya naik sepeda ontel  di kota ini. Hijau, alami, suasananya sangat tenang, dan udaranya sangat segar. Bersepeda di kampus ini, terasa seperti berkeliling di taman-taman syurga. Sebuah tempat yang sangat sempurna untuk belajar dan hidup.

Saya diajak bermain di Laboratorium tempat beliau melakukan penelitian. Ternyata ada mahasiswa Master di bawah bimbingan Bang Roil yang sedang bekerja di Lab. Rajin benar mahasiswa ini, hari Sabtu sepagi itu sudah bekerja di Lab. Riset bang roil adalah tentang pengelolaan air limbah.

00_ghent_11
*) Sudut Kota Leuven, Belgia

Setelah puas berkeliling kampus, kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke pusat kota Leuven. Ada banyak tempat-tempat bersejarah di kota Leuven ini, diantaranya adalah asrama tempat penampungan para wanita janda yang suaminya gugur berperang ketika Perang Salib. Tipikal kota-kota tua di Eropa isinya adalah bangunan-bangunan seperti gereja-gereja katolik berasitektur romawi kuno.

Setelah sholat Duhur, saya pamitan ke Bang Roil, Atun istriny, dan si kecil Adore untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Eindhoven, Belanda. Saya kembali harus naik kereta kurang lebih 4 jam dari Leuven menuju kota Eindhoven di Belanda.

Eindhoven, Netherland

00_ghent_12
*) Di Sekitar Kampus, T.U. Eindhoven

Begitu turun dari kereta di stasiun Eindhoven,  seseorang sudah menunggu kedatangan saya. Dia adalah Mas Danu, teman sesama dosen di Jurusan Sistem Informasi ITS. Sudah hampir 3 tahun kami tidak saling bertemu. Rasanya senang sekali bisa reunian kembali, apalagi reuninya di Eropa. Sesuai dengan hayalan kita dulu sebelumnya. Beliau masuk bareng sama saya jadi dosen di ITS. Meskipun dari kampus yang berbeda, saat pertama kali bertemu dulu, kami langsung merasa dekat dan cocok, karena sama-sama berlatar belakang NU dan sama-sama GUSDURian :D. Bahkan, kita duet bareng ngajar mata kuliah yang sama.

00_ghent_13
*) Masjid di Eindhoven

Jadi reunian ini sangat spesial sekali. Saya merasa seperti pertemuan Gus Dur dan Gus Mus yang kangen-kangenan karena sudah lama tidak saling bertemu. Saya sangat menikmati pertemuan yang sangat manusia seperti ini. Artinya, kami saling bertemu bukan karena ada kepentingan bisnis atau urusan lain. Hanya pertemuan biasa, antara manusia biasa yang mendiskusikan hal-hal yang biasa. Tidak ada udang di balik batu.

Dari stasiun, kami naik sepeda ontel menuju apartemen beliau. Sama seperti di Belgia, sepeda ontel adalah alat transportasi mainstream di negeri kincir angin Belanda ini. Di apartemen, mas Danu sudah menyiapkan masakan Soto Tauco Pekalongan. Hebatnya, ini masakan beliau sendiri lowh. Sambil menikmati soto, kami ngobrol santai dengan sangat gayeng. Sesekali tertawa terbahak-bahak bersama.

00_ghent_14
*) Gereja di Eindhoven

Usai sholat ashar, kami sepedahan lagi keliling kampus T.U. Eindhoven dan City Centre. Keliling kampus sambil foto-foto layaknya ABG, yang lupa umur.  Karena sebagian besar naik sepeda kota Eindhoven ini sangat nyaman untuk disinggahi. Tentu saja tidak ada kemacetan apalagi polusi udara. Ritme hidup terasa sangat damai dan berjalan sangat alami. Kami berkelililng melihat masjid, gereja, dan merasakan suasana kehidupan orang-orang Eindhoven.

Sore itu kebetulan ada pertandingan sepak bola di stadion. Ribuan supporter bergerombol pergi menuju stadion. Uniknya mereka datang ke stadion dengan naik sepeda ontel atau jalan kaki. Pemandangan yang sangat indah bukan? Jadi membayangkan kalau seandainya para Bonek, supporter PERSEBAYA datang ke stadion naik sepeda ontel begitu sepertinya seru sekali.

00_ghent_15
*) Bersama Mas Danu
Menyusuri sudut-sudut kota Eindhoven ini benar-benar membuka perspektif baru buat saya what a life is. Dibanding orang Inggris, orang Belanda jauh lebih ramah. Setiap berpapasan dengan orang baru pun, mereka dengan senang hati menyapa kita. Apalagi kalau tahu kita bawa kamera, mereka akan sangat senang bahkan meminta anda memfoto mereka. Hal ini tentu bukan hal biasa di Inggris. Secara umum, orang Belanda lebih hangat daripada orang Inggris.

Sama seperti di kota-kota besar di Eropa lainya, disini banyak sekali gereja-gereja yang ditinggalkan jamaahnya. Tinggal bangunan-bangunan cantik nan kokoh tapi dianggurin, tidak ada pemujaan Tuhan di dalamnya. Bahkan, banyak diantaranya yang beralih fungsi menjadi diskotik. Sepertinya, orang-orang di Eropa sudah tidak memahami agama sebagai kegiatan ritual lagi, tapi lebih memahaminya sebagai way of life. Yang penting mereka baik, jujur, dan berbudi pekerti yang luhur sudah cukup, meskipun mereka tidak pernah datang ke Gereja.

Malam hari nya, setelah capek jalan-jalan, makan malam dan sholat isyak. Saya langsung terkapar, tertidur kecapekan di apartemen Mas Danu.

Enschede, Netherland

00_ghent_16
*)Kampus Universitas Twente

Keesokan harinya, saya bingung mau melanjutkan perjalanan kemana. Bukanya, tidak ada tujuan, tapi terlalu banyak tujuan, sementara waktu saya tinggal satu hari. Antara mengunjungi teman di Delf, Amsterdam, Utrecth, atau yang di Twente. Akhirnya saya memutuskan ke tempat yang terjauh sekalian, yaitu di Enchede, tempat Universitas Twente berada.

Perjalanan dari Eindhoven ke Enschede dengan kereta cukup jauh juga. Tidak ada kereta yang langsung ke Enschede, saya harus transit ke Utrecht dulu. Maunya mampir sebentar di Utrecht, tapi setelah dipikir-pikir malah ndak enak ketemu teman cuman sekejap saja. Setelah perjalanan hampir 4 jam, akhirnya saya sampai juga di Enschede.

Seorang teman tiba-tiba saja menguntitku dari belakang. Dia adalah si Iwan. Kawan lama yang sudah lama tidak pernah ketemu 5-6 tahun. Dia tidak banyak berubah ternyata, wajahnya masih saja imut kayak anak SMA. Dulu pertama kali bertemu tahun 2007, waktu saya ambil S2 di UTP Malaysia, sementara dia waktu itu sedang di tahun terakhir kuliah S1 nya.

00_ghent_17
*)Bersama Iwan

Tiba di apartemen Iwan, langsung gabung dengan teman-teman Indonesia yang sedang mengadakan pengajian mingguan yang kebetulan hari itu bertempat di rumah Iwan. Pengajianya sama persis seperti model pengajian teman-teman jamaah tarbiyah, PKS. Karena dulu saya pernah ikutan, jadi sedikit tahu model pengajianya seperti apa. Yang penting saya bisa makan gratis habis pengajian hehe. Senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia disini. Feel like at home.

Selepas pengajian, sama seperti di Eindhoven, Iwan ngajak saya sepedahan keliling kampus Universitas Twente, sambil foto-foto. Waktu keliling kampus itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil nama saya: ” Mas Mukhlason…….. “. Yang ternyata adalah Krisnawati, adek kelas saya waktu kuliah S1 di ITS. Sangat tidak sengaja kami bisa ketemu. Bahkan saya tidak tahu kalau dia ada di Twente juga. Rupanya, dia mahasiswa baru program master di Universitas Twente dengan beasiswa dari Dep. KOMINFO. Senang sekali tak terkira bertemu dengan tidak sengaja seperti ini.

00_ghent_18
*)Bersama Krisna

Setelah dari kampus, Iwan mengajak saya kumpul-kumpul dengan teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia (PPI ) Twente. Ada teman yang mengadakan farewell party dengan BBQ di rumahnya. Seru juga bertemu dengan orang-orang Indonesia sebegitu banyaknya. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali yang menggambarkan suasana kekeluargaan yang rekat di antara teman-teman PPI  Twente. Yang menarik, ketika mereka pulang bareng-bareng, semuanya naik sepeda dengan sepedanya masing-masing. Benar-benar terasa seperti sepeda sehat jaman dahulu kala.

Malam harinya, si Iwan mengajak saya ketemu dengan teman-teman bulenya. Ceritanya mereka teman satu kelompok tugas, yang baru saja mau ketemu kembali setelah liburan musim panas. Di sebuah kafe, kami berlima ngobrol santai sampai tengah malam. Saya dan Iwan minum capucino, sementara 3 teman bule iwan lainya minum Bir. Meskipun, saya orang asing di antara mereka. Tetapi mereka sangat menghargai kehadiran saya. Mereka membawa saya masuk dalam obrolan mereka yang bercerita tentang liburan mereka masing-masing. Sehingga saya sama sekali tidak merasa terkucilkan :p. Di inggris, saya jarang sekali mengobrol lama dengan bule seperti ini. Kecuali jika ada acara formal dinner pada saat menghadiri short course atau conference.

Baru pukul 1 dini hari saya bisa tertidur di kamar Iwan, setelah ngobrol ngalur ngidul. Keesokan harinya, jam 6 pagi, setelah sarapan indomie dan coklat panas bikinan Iwan, dengan dibonceng sepeda ontel, Iwan mengantar saya ke stasiun kereta api terdekat untuk kembali ke Brussel dan terbang kembali ke London. Karena keasyikan jalan-jalan, saya sama sekali belum sempat beli oleh-oleh. Oleh-olehnya hanya cerita, kenangan, dan pelajaran hidup. Si Iwan malah yang ngasih oleh-oleh ke saya satu bungkus rendang uda gembul dari Bandung.

00_ghent_19
*)Stasiun Kereta Api

Yah akhirnya saya harus kembali ke tempat perjuangan. Senang sekaligus sedih karena dalam hati sebenarnya masih ingin jalan-jalan dan mengunjungi teman-teman lainya. Tapi, apa daya waktu jua yang membatasi. Dalam hidup ini, salah satu hal yang paling saya syukuri adalah dengan dipertemukanya saya dengan teman-teman hebat seperti mereka. Yang dekat dan bersahabat. Yang menginspirasi dan menyemangati.  Yang baik hati dan membuat kita selalu nyaman berlama-lama berada di dekatnya. Sebuah persahabatan yang barokah insya Allah. Seperti lirik lagunya Ipang:

….bersama mu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal diri mu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.  Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah, untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi.

00_ghent_20
*)Bandara Brussel

Di bandara Brussel, sambil menunggu pesawat datang, saya duduk sendirian di sudut ruang tunggu. Saya buka foto-foto di kamera DSLR saya, sambil mengingat kenangan-kenangan yang baru saja terjadi. Dalam hati saya berdoa, Ya Allah karunikanlah saya sahabat-sahabat dekat dan baik seperti mereka sebanyak-banyaknya.

Setiap peristiwa datang dan pergi, tetapi kenangan dan pelajaran yang tertinggal akan tetap abadi.

Oke deh, sekarang waktunya kembali melanjutkan perjuangan hidup ! Bukan waktunya, terbuai kenangan-kenangan indah *dasar melankolis* Terima kasih wahai Sahabat! Thanks God.