cerita perjalanan

Tet Li: Setangkup Cerita Perjalanan

… hidup tak seindah yang terlihat.  hanya sawang-sinawang. Karenanya, agar terasa indah, sesekali kita perlu menjadi penonton kehidupan – a random thought

tetli_tanjung_pinang

Danau Kaloin Tet Li, a random place in Bangka Island.

Acara seminar internasional yang sedianya diadakan tiga hari, rupa-rupanya berakhir di hari pertama. Acara city tour yang janjinya sudah include biaya pendaftaran pun dibatalkan tanpa penjelasan sepatah kata. Haha, aku pun ketawa saja. Mungkin panitia kehabisan uang fikirku.

Yang penting sudah menggugurkan kwajiban, mempresentasikan makalah ku di forum (literally) internasional, meskipun jujur 100% di forumku itu hanya ada orang Indonesia. Lalu, dapat sertifikat dan empat buah stempel basah dari panitia di atas dua lembar kertas dari kolegaku di bagian keuangan.

Di hari kedua, aku dan tiga orang yang baru ku kenal di tempat seminar menyusun sebuah rencana. Sopir taksi online, yang baru kenal dengan salah satu dari kami di Bandara, hari itu bersedia mengantar kami berpetualang menyusuri pulau Bangka.

Tujuan pertama kami adalah danau Tetli. Danau bekas tambang timah ini kabarnya keindahanya luar biasa. Dari atas pesawat sebelum mendapat di Bandara Depati Amir danau-danau itu terlihat  begitu cantik memesona, airnya jernih biru kehijau-hijauan.

Rupanya, Mas Sopir pun belum pernah ke tempat satu ini. Jadilah, google map menjadi penunjuk jalan kami. Awalnya kami baik-baik saja. Tetapi kami menjadi sedikit was-was ketika petunjuk google map membawa kami menyusuri jalan-jalan makadam tak beraspal di tengah-tengah hutan.

Di jalan sempit itu, kiri-kanan kami hanyalah pohon-pohon kelapa yang lebat. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya jarang-jarang di tengah-tengah hutan. Rumah yang halamanya terlalu luas, lengkap dengan kandang babi. Terlihat oleh kami seekor babi berlari-larian di pekarangan. Sesekali terlihat kelapa sawit, dan rerimbunan pohon pala yang merambat, atau rimbun pohon cocoa. Yang lebih sering kami jumpai adalah kuburan cina yang ukuranya besar-besar di sepanjang jalan itu.

Uniknya, hampir semua plang masuk ke desa bertuliskan huruf cina. Kami hampir saja berputus asa, merasa tersesat dan tak tahu jalan pulang. Beruntunglah, seorang warga yang kebetulan berpapasan dengan kami memberi kami petunjuk jalan.

Akhirnya yang kami cari kami temukan juga. Sebuah danau di tengah-tengah hutan yang terlihat tak bertuan. Kami adalah satu-satunya pengunjung danau itu. Oila, begitu instagramable betul danau itu. Sebuah danau yang jernih airnya, biru kehijau-hijauan (torquise) yang dikelilingi gundukan pasir putih.

Andai saja ada perahu sampan warna-warni, ingin rasanya berkeliling mendayung sampan mengitari danau itu. Tetapi yang ada hanyalah kesunyian dan desau suara angin.  Aku duduk di tepi danau, menatap, merenung, mengagumi dan diam menatap keindahan alam itu. Menenangkan, tetapi ketakutan akan kesunyian itu tiba-tiba saja datang menyergap.

Aku berlarian menuju mobil yang siap meninggalakan tempat, saat seekor serigala keluar dari balik gundukan batuan gamping putih yang tadi kududuki dan kuinjak-injak. Dan kami pun segera berlalu, melanjutkan perjalanan.

Pangkal Pinang, 04/10/2018

Related Links:

 

Advertisements

Jakarta Sabtu Pagi: Monas – Munas – Kota Tua

“… mungkin aku terlalu udik, aku tak tahu bagaimana cara menikmati hidup di Ibu kota – a random thought.

jakarta_munas

Lampu Pedistrian By Monumen dan Museum Nasional

Untuk menunggu penerbangan sore hari ke Surabaya, Sabtu pagi aku harus mencari cara untuk membunuh waktu. Dan cara yang aku pilih adalah ‘to feel being grass-root Jakartans’. Dari penginapan murah meriah, kelas melati di bilangan karet, kuningan (katanya sih kos-kosan wanita-wanita simpanan para esmud sukses tajir bergelimang harta di Jakarta), aku bersama seorang teman, keluar menyusuri gang-gang sempit padat penduduk.

Diantara himpitan gedung-gedung yang megah, gagah, menjulang, mencakar langit, Jakarta menyimpan banyak ironi. Kawasan padat penduduk, kumuh, pengap, berisik, bau, yang tak menyisakan tempat buat anak-anak untuk bermain. Aku bayangkan: alangkah susahnya, hidup menjadi anak-anak orang-orang ‘pinggiran’ Jakarta ini. Sejengkal tanah kosong di kota ini, amatlah mahal harganya. Bahkan mencari ruang sekedar untuk selonjor saja susah sekali.

Diam-diam aku merasa bersyukur sekali, kuhabiskan masa kecilku di dusun yang hamparan tanahnya melimpah ruah, udaranya segar alamiah, pemandanganya hijau royo-royo sejauh mata memandang. Airnya bersih dan segar. Suasananya tenang menenangkan. Dan yang paling penting aku bisa bermain berlarian, gulung-gulung di tanah, bermain lumpur di sawah, berlarian bermain layang-layang, renang di sungai, tanpa sedikit pun rasa takut. Makanan dan buah-buahan disediakan gratis oleh alam.

Aku mampir sejenak di Warteg, di Gang sempit itu. Ada beberapa alasan, warteg menjadi warung pilihan ketika di Jakarta. Pertama, sudah dapat dipastikan penjualnya adalah orang Jawa, cita rasa masakanya cocok, dan yang paling penting harganya sangat ramah dengan kantong. Tetapi, yang paling membahagiakan diantara semuanya adalah bisa merasakan sensasi hidup sebagai orang pinggiran di Jakarta.

Teh anget, sayur lodeh, tempe goreng, dan ikan kembung goreng ditemani kerupuk gembreng adalah menu andalan. Sayang size nasinya sering tidak bersahabat. Mungkin terlihat wajahku terlihat wajah susah, si penjual ngasih nasinya ukuran jumbo. Jadilah, aku tak sanggup menghabiskanya kawan.

Keluar dari gang-gang sempit, kami keluar menyusuri pinggiran jalan besar. Melewati jalur pedistrian di depan kantor-kantor besar yang kurang bersahabat. Idih, tampang satpamnya seram-seram, pagar tamannya dilengkapi dengan kawat berduri pula, atau dibuat lancip. Duh, padahal sekedar ingin menyandarkan bokong, kok ya ndak boleh.

Setelah ratusan meter berjalan merasakan sensasi susahnya jadi pejalan kaki di kota ini. Akhirnya sampai juga di Halte Busway terdekat. Naik JPO, yang alamak ekstrim juga tanjakanya. Tidak kebayang, betapa repotnya saudara kami yang berkursi roda mengakses JPO ini. Atau bahkan tidak bisa mengakses sama sekali.

Meski lumayan sering bolak-balik ke Jakarta, sudah lama rasanya aku tidak naik busway. Sejak ada layanan ojek dan taksi online, naik bus way rasanya sangat merepotkan. Dari pakai tiket yang dimasukkan ke mesin, pakai tiket kertas sobek, hingga kini sudah paper-less menggunakan e-money. Jauh lebih praktis. Menariknya kita bisa berbagi satu kartu e-money.

Di halte pun ada kemajuan cukup significant, sudah ada sistem informasi yang cukup reliable menginformasikan waktu kedatangan bus secara real time. Hal yang sangat lumrah di negara-negara maju. Argh, aku jadi tertarik menganalisa ‘big data’ waktu kedatangan bus way di kota ini. Apalagi jika data passenger keluar masuk halte dan bus ter-record dengan baik, tentunya banyak ‘knowledge’ menarik yang bisa digali. Kemudian, knowledge itu bisa digunakan untuk improve rute bus way agar semakin tidak semrawut.

Kondisi bus pun masih nyaman seperti dulu, mungkin karena akhir pekan, tidak ada penumpang yang berdesak-desakan. Hanya saja informasi suara mesin yang menginformasikan halte berikutnya sudah tidak berfungsi atau sengaja tidak difungsikan. Fungsinya digantikan oleh mas-mas berbaju batik penjaga pintu bus yang terlihat sangat kelelahan. Sesekali tertangkap mataku, matanya tertidur dalam posisi berdiri.

Di bus yang sama, tanpa janjian kami tak sengaja bertemu dengan teman SMP ku yang sudah lebih satu dasa warsa mengadu keberuntungan hidup di Jakarta. Kami turun di halte Monumen Nasional. Landmark kebanggaan kota Jakarta. Jika London punya Bigben, Kuala Lumpur punya Twin Tower, Jakarta punya Monas. Landmark yang sangat bersahaja. Kami duduk-duduk di bangku di pinggir jalanan monas. Sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali kulihat beberapa turis berjalan sendirian sambil menenteng kamera dan khusuk membaca kitab sucinya para turis dunia, the lonely planet.

Sejenak, pikiranku teringat suasana kota kelahiran shakesphere. Duduk-duduk menikmati suasana kota yang tenang dan nyaman, sambil mendengarkan alunan musik musisi jalanan yang suaranya melelehkan perasaan. Tetapi Jakarta adalah Jakarta. Hawa yang sumuk, deru kota yang berisiak dan hari yang mulai terik, membuatku tak betah berlama-lama duduk di bangku itu.

Kami beranjak dari bangku dan menuju ke bangunan seberang monas, museum nasional. Ada zebra cross, dilengkapi dengan tombol pedistrian layaknya di Eropa. Tetapi di kota ini lain cerita. Lampu sudah merah, dan banyak pedistrian ancang-ancang mau menyeberang, tetapi ajaibnya para pengendara kendaraan tak ada yang mau berhenti, aliah-alih mengurangi kecepatan, eh malah kencang-kencang. Kecuali jika para pedistrian, memaksa menyeberang, dengan terpaksa para pengendara kendaraan pun berhenti. Dan kami pun menyeberang setengah berlari penuh ketakutan. Bahkan lampu indikator menyeberang jalan pun, berupa orang berlari, bukan berjalan. Betapa menakutkanya bukan peristiwa menyeberang jalan di kota ini? Entah kapan, hak pejalan kaki yang budiman diperhatikan di kota ini.

Hanya perlu bayar Rp. 5000 untuk masuk Munas. Di lantai dasar terlihat seperangkat gamelan. Dan sedang berlangsung latihan menari yang sebagian besar diikuti anak-anak perempuan. Layaknya museum pada umumnya, museum ini bercerita tentang perjalanan kebudayaan manusia Indonesia. Mulai dari jaman pra-sejarah, manusia Indonesi di Jaman batu, jaman kerajaan-kerajaan, hingga menjadi manusia Indonesia modern.

Sejarah selalu mengajarkan kesementaraan. Tak ada kejayaan yang terlalu lama. Semua ada waktunya. Semua akan sirna dan terlupakan pada waktunya. Semua yang bisa terlihat oleh kasat mata adalah fana. Menuju kefanaan hanyalah fungsi waktu belaka, tak terlalu lama kita akan terlupakan untuk selama-lamanya. Dan sejarah hanyalah milik yang pernah berkuasa. Yang jelata? yah terlupakan begitu saja.

Aku cuman bisa membayangkan, saat semua serba digital seperti jaman ini, jika Tuhan meruntuhkan peradaban kita satu waktu, apa kira-kira yang bisa dipelajari oleh manusia generasi berikutnya?

Jika sampean pernah berkunjung ke British Museum di London, museum nasional ini rasanya tidak ada apa-apanya. Bisa jadi bahkan sejarah kebudayaan Indonesia lebih lengkap bisa kita lihat disana atau di Leiden, Belanda.

Dari Munas, kami naik bus double decker gratis yang sudah ready di halte depan museum. Di bus double decker itu uniknya sopir dan kondektur yang membagikan tiket gratis adalah emak-emak semua. The power of emak-emak. Busnya cukup nyaman, tak kalah deh dengan bus merah double decker London sight seeing yang cukup mahal tiketnya itu. Tidak kalah juga dengan Busnya kota Surabaya yang pakai bayar dengan 6 botol bekas air minum kemasan.

Dari Munas, kami turun di Jakarta Kota Tua. Bus berhenti di halte yang tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota. Yang baru dari Jakarta kota tua adalah pusat oleh-oleh Krisna. Yes, pusat oleh-oleh di kota Denpasar Bali itu buka cabang di Kota Jakarta. Selain oleh-oleh khas Bali, di Krisna Jakarta ini, ada oleh-oleh khas Jakarta. Emang ada? Yah, setidaknya ada oleh-oleh yang ada tulisanya Jakarta, dalam wujud kaos, gantungan kunci, atau sandal jepit.

Yang aku suka, di Krisna Jakarta kota tua ini ada mushola yang cukup luas dan nyaman di Lantai dua, lengkap dengan tempat wudlu yang bersih. Lalu, di lantai dasar juga ada restoran padang yang tempatnya cukup luas, confy dan cozy. Pelayanya asyik-asyik yang kostumnya tematik. Harganya pun untuk ukuran kota Jakarta masih lumayan bersahabat. Ada menu andalan kesukaan: eseng-eseng pare dicampur dengan petai dan cabe hijau yang aroma, rasa, dan pedasnya sangat sensasional. Lengkap sudah, tempat beli oleh-oleh, tempat sholat, istirahat, dan makan ada di tempat ini.

Dari Krisna, kami memesan taksi online, cukup murah, hanya enampuluh ribuan saja kami sudah sampai bandara dengan nyaman dan aman. Good Bye Jakarta! Sampai bersambung dengan cerita berikutnya.

Mbah Kakung dan Majalah Jadoelnya

… sungguh semangat baca mbah kakung yang luar biasa itu adalah sesuatu yang patut diteladani – a random thought

majalan_pembela_islam

Majalah Pembela Islam (wikipedia)

Di kereta memang banyak cerita. Cerita-cerita kehidupan yang kadang seperti drama. Seperti pagi ini, di kereta api ekonomi penataran jurusan Malang-Surabaya aku ketemu sama seorang yang langka.

Seorang kakek, sebut saja mbah kakung. Sedang dalam perjalanan ke Surabaya sendirian. Sepatunya Pantofel tinggi berwarna putih, celana dan bajunya juga putih. Bedanya ada motif garis-garis putih bold. Serasi dengan yangan kumis, jenggot, alis dan rambut tebalnya yang sudah memutih sempurna.

Bawaanya satu tas tangan berwarna coklat yang lazim  dibawa ibu-ibu muda, dan satu buah kardus bekas air mineral kemasan Queen yang terikat dengan tali rafia warna hitam.

Sungguh dia seorang penumpang yang istimewa. Pasalnya, saat hampir semua penumpang melakukan aktivitas seragam: tidur-tidur ayam atau khusuk bermain dengan handphoneya. Si Mbah kakung sedang khusuk membaca buku. Yah di negara ini, membaca buku di dalam kereta adalah aktivitas langka.

Yang hebat, Di usia senjanya, si Mbah kakung membaca tanpa bantuan kaca mata. Hanya sebuah handpone nokia jadul dengan feature lampu senter di ujungnya yang membantunya mengeja huruf, kata-demi kata.

Yang dibacanya pun istimewa, majalah jadoel dengan warna kertas coklat ke kuning-kuningan. Kuintip judulnya: Pembela Islam. Berdasarkan penulusuran dari wikipedia:

Pembela Islam adalah media cetak yang pernah terbit dalam khasanah media massa dan persuratkabaran Indonesia di awal abad ke-20, sekitar tahun 1933, di Lengkong Besar No. 90, Bandoeng, Tanah Pasundan.

Waw, majalah sebelum Indonesia merdeka kawan! Tidak ada yang istimewa sebenarnya, hanya saja aku begitu tersepona dengan semangat budaya bacanya yang terlihat sangat luar biasa itu.  Maklum di negeri ini tidak seperti trajektori negara-negara maju yang pernah mengalami budaya baca tulis yang begitu matang, eh sudah  terjebak pada budaya menonton. Kecuali budaya membaca pesan singkat dari media sosial.

Tak heran, jika cara berfikir orang-orang di negara ini aneh-aneh. Harap maklum, kami tak terbiasa membaca tulisan buah hasil olah fikir yang mendalam. Apalagi, hasil olah rasa yang halus? Kami hanya mampu menangkap bungkus yang remeh-temeh dan sering menipu. Kami tak mampu menangkap isi yang lebih bermakna.

Sayang, kami harus berpisah di Stasiun Gubeng, sebelum sempat bertukar sapa. Mungkin itu pertemuan kami yang pertama dan terakhir untuk selama-lamanya.  Terima kasih mbah kakung atas pertemuan kita pagi ini. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan di sisa-sisa hidup mu.

Senja di Trafalgar Square

… sekedar cerita perjalanan biasa saja – a random thouhgt

 

trafalgal_square

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Trafalgar Square

Setelah jenuh berdiskusi dengan pikiranku sendiri di pinggir sungai Thames, aku pun beranjak pergi. Menyusuri sudut lain kota London yang sudah pernah beberapa kali aku kunjungi, namanya Trafalgar Square.

Buat ku, tempat ini tak ubahnya sebuah alun-alun kota. Tempat dimana banyak orang berkumpul, sekedar untuk bersantai atau sekedar untuk bersenang-senang. Tidak seperti saat pertama berada di tempat ini, sore itu Trafalgar Square nampak biasa-biasa saja.

Kerumunan orang, yang kebanyakan turis memadati setiap sudut alun-alun. Sekedar duduk-duduk sambil melihat air mancur, patung, dan kawanan burung merpati. Atau sekedar foto-foto dengan latar belakang beberapa bangunan berasitektur gothic, khas bangunan romawi. Di salah satu sisi, alun-alun berdiri sebuah bangunan megah The National Gallery, tempat pameran lukisan.

Aku berjalan menyusuri alun-alun, berada di antara kerumunan orang-orang. Sekedar ingin ketularan aura kebahagian yang terpancar oleh wajah-wajah para pengunjung tempat ini. Lalu, ikutan duduk-duduk diantara mereka di salah satu sisi alun-alun di depan The National Gallery yang berundak-undak itu. Menjadi penonton kerumunan orang-orang, berdiskusi dengan isi kepala sendiri.

Lama-lama tidak betah juga, rupanya menjadi solo traveller begitu menyiksa bagi ku. Tidak ada teman diskusi, selain dengan pikiran sendiri. Aku pun beranjak ke arah pintu masuk The National Gallery, melihat orang mengantre untuk masuk satu persatu. Aku duduk di bibir taman di depan gallery, tepat disamping beberapa orang yang dari pakainya seperti gelandangan. Mereka tidur-tiduran disitu.

Hati kecil ku berbisik: yah, bule kok jadi gelandangan, padahal ini bule kalau di Indonesia, tinggal dimandiin saja kasih parfum dikit sudah bisa jadi artis. Kota besar selalu menyimpan ironi. Di antara gedung-gedung megah, diantara orang-orang yang bergaya hidup wah, masih menyisakan orang-orang yang terpinggirkan, seperti gelandangan dan pengemis ini. Bahkan di negara maju yang konon kesejahteraan sosial setiap warganya sungguh-sungguh serius diperhatikan oleh negara.

Capek duduk, aku pun ikutan antri masuk gallery. Meskipun aku sudah tahu isi di dalamnya, tapi rasanya lebih menguntungkan daripada duduk-duduk tidak jelas disamping gelandangan itu. Ada pemeriksaan ketak dipintu masuk. Setiap tas harus dibuka, untuk diperiksa isinya. Kalau-kalau ada pengunjung yang membawa bom.

Di dalam gallery bertingkat itu, aku menyusuri ruang demi ruang. Lantai demi lantai. Pura-pura menikmati keindahan lukisan yang berukuran besar-besar itu. Tapi, sungguh aku tidak pernah paham, bagaimana menikmati keindahan sebuah lukisan. Apalagi, hampir semua lukisan itu bercerita tentang kerajaan Tuhan. Dan banyak diantaranya adalah lukisan-lukisan manusia nyaris telanjang. Perempuan-perempuan dengan dua payudaranya yang indah menonjol, terpampang tanpa sehelai kain menutupi. Mungkin pada jaman itu, yang namanya BH belum ditemukan. Dan perempuan-perempuan pada jaman itu terbiasa bertelanjang dada, seperti gadis-gadis bali tempo dulu.

Tak sampai satu jam, aku pun keluar dari gallery. Mondar-mandir di halaman depan gallery yang ramai dengan orang-orang yang mengerumuni beberapa seniman jalanan. Ada yang berdandan ala patung badut, yang seolah-olah terlihat duduk mematung  di atas angin tanpa bergerak. Beberapa pengunjung tertarik berfoto bersama. Jepret! lalu melempar uang recehan di mangkok kecil di depan patung badut. Si patung badut membalas dengan seulas senyum.

Ada juga seniman lukis yang melukis bendera negara-negara peserta olimpiade 2016 di Brasil dengan kapur berwarna di lantai halaman gallery. Orang-orang berkerumun, mencari bendera negaranya masing-masing, lalu melempar uang recehan di atas lukisan bendera itu. Aku menunggu ada orang yang melempar recehan di atas bendera Indonesia, tapi sampai lebih sepuluh menit berlalu, tak seorang pun melakukanya. Emosi ku pun tak terpancing untuk melempar recehan di atas lukisan merah putih. Di sebelah pelukis bendera, ada pelukis kapur juga yang sedang melukis perempuan seksi yang memamerkan bongkahan payudaranya.

Di samping seniman lukis, ada seniman teater yang juga ramai dikerumuni orang.  Di tengah kerumunan orang-orang itu, seorang seniman terlihat memperagakan gerakan-gerakan akrobatik yang terlihat sangat mengerikan dan berbahaya jika dilakukan oleh orang-orang biasa. Penonton bersorak sorai tepuk tangan, setiap sang seniman berhasil unjuk kebolehan.

Terakhir, di paling ujung halaman depan gallery, ada seniman musik. Hanya ada dua orang anak muda. Yang satu sebagai drummer, satunya lagi sebagai gitaris merangkap vocalis. Menembangkan lagu-lagu yang sedang ngehits di pasaran. Suaranya bagus. Di antara para seniman jalanan ini, hanya seniman musik ini yang bisa saya nikmati.

Capek berdiri, aku segera menuju stasiun tube, kereta api cepat bawah tanah, terdekat di salah satu sudut Trafalgal Square. Kuhabiskan sisa waktu ku hari itu, di dalam tube yang mengelilingi kota London. Sambil duduk istirahat, membaca buku di dalam tube, aku memperhatikan kesibukan luar biasa para Londoner, saat pulang kerja hingga senja datang.

Buatku, memperhatikan tingkah polah orang-orang itu sangat mengasyikkan. Berjam-jam aku berada di bawah tanah kota London, di dalam perut cacing besi yang berlari super duper cepat, memecah kesunyian perut bumi di kota London. Hingga beberapa booklet tentang sejarah panjang pembangunan jaringan tube yang begitu rumit dan komplek, yang tidak saja mengaplikasikan sains dan ilmu rekayasa, tapi juga memadukanya dengan seni itu selesai aku baca. Menyisakan sebuah tanda tanya: jika di kota London, jaringan rel bawah tanah ini sudah mulai dibangun sejak tahun 1843, sementara di Jakarta baru mulai dibangun tahun 2016 ini; berapa jauh sudah negara ku tertinggal oleh negara ini? Tuhan, ajari kami cara mengejarnya!

Pesona Alam Desa ‘Country-side’ di East Midland, Inggris, UK

… kalau orang kelas ekonomi menengah ke bawah tempat hiburanya adalah tempat-tempat yang ramai, kalau rang kelas ekonomi atas tempat hiburanya adalah tempat-tempat yang sepi – Abdullah Azwar Anas (Bupati Kab. Banyuwangi)

matlock_country_side

Pemandangan Country-Side, sekitar Matlock, East Midland UK

Kawan, jika sampean masih memiliki waktu dan uang untuk sekedar menikmati liburan bersama keluarga atau teman bersyukurlah, dan ceritakanlah sebagai ucapan rasa syukur (tahaddus bini’mah). Karena Tuhan suka pada hambanya yang menyebut-nyebut nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya (lihat ayat terakhir: QS Adduha). Disana juga masih banyak saudara kita yang tak memiliki uang, tak memiliki waktu, sekedar untuk iburan. Liburan tidak ada salahnya,asal tidak berlebihan dan tujuanya untuk foya-foya. Walaupun, sering kali dalam hati kecil hati saya, merasa bersalah, feel guilty, saya ini kok hidupnya memikirkan kesenangan dirisendiri, paling banter mimikirkan kesenangandan kebahagiaan keluarga sendiri. Apalagi, kalau terbayang keluarga para aktivis, yang rela menghabiskan waktunya, mengorbankan waktu kebersamaan bersama keluarganya, untuk mengabdi dengan tulus, memperjuangkan hak-hak kaum yang dilemahkan (Saya tidak sedang menyebut politisi yang memakan ratusan juta uang rakyat itu lo ya). Jian, kalau ingat mereka, saya merasa saya ini seperti sampah kehidupan saja.

Sudah, lupakan sejenak rasa bersalah itu. Toh, meskipun kuliah saya di Inggris ini dibayari negara, yang tidak lain uang rakyat, tetapi saya membiayai sendiri biaya anak istri saya selama hidup di Inggris, termasuk untuk jalan-jalan seperti ini, dari hasil memeras keringat ngosek WC setiap pagi buta itu lo,bhahaha. Serius! Karena uang beasiswa saya itu anya untuk bayar SPP dan biaya hidup saya seorang sendiri. So, wajar dong, kalau sekali-sekali saya ngasih reward pada diri saya sendiri.

Pada liburan sekolah anak-anak bulan April kali ini, atau lebih dikenal liburan Easter, saya jalan-jalan bersama keluarga ke kota Hull, ke rumah salah seorang teman dan jalan-jalan berjamaah ke Matlock, sebuah kawasan desa kecil sekitar 1 jam perjalanan dengan kereta api. Untuk cerita perjalanan ke kota Hull, insha Allah akan saya ceritakan di kesempatan yang lain (eit, kayak banyak yang nunggu saja :p), kali ini saya sedang ingin berbagi cerita perjalan saya dan jamaah ke sebuah kawasan desa, atau country side bernama Matlock.

matlock_On_The_way

Jamaah Piknikiyah Nottinghamiyah Berjalan Menuju Desa Ashford

Buat sampean yang pernah baca sequel novel: Laskar Pelangi nya Andrea Hirata, pasti sudah mengenal nama desa Edensor (Baca: Ensor). Saya sih belum baca novelnya, tapi sudah dua kali ke Edensor. Nah, Edensor ini adalah salah satu desa cantik di sekitar Matlock ini. Sebenarnya, masih banyak desa lain yang lebih cantik di sekitar Matlock ini,salah satunya adalah tiga desa yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini. Namanya, desa Ashford, Backwell, dan Matlock Bath. Untuk mencapai desa-desa cantik ini (termasuk Edensor), dari Nottingham bisa menggunakan kereta api tujuan Matlock (Matlock tujuan terakhir). Kereta nya 1 jam sekali, dan harganya hanya sekitar 6 poundsterling PP, tiket off-peak return, artinya sampean bisa pergi dan pulang jam berapa saja, dalam rentang waktu 1 bulan. Dari stasiun kereta api Matlock, bisa jalan kaki, atau sambung naik Bus menuju desa-desa cantik ini.

Menyusuri_Pinggiran_Sawah

Menyusri Pinggiran Sawah Bertembok Batu

Sepanjang menuju desa-desa cantik ini, mata sampean akan dimanjakan oleh pemandangan yang menyejukkan mata. Padang rumput hijau nan tertata rapi terbentang sangat luas sejauh mata memandang, sungai-sungai yang airnya jernih dan bergemiricik, rumah-rumah desa yang arsitekturnya khas, kebun bunga beraneka warna warni, segerombolan kawanan domba dan kuda, serta suasana yang tenang dan menenangkan.

matlock_dari_atas_tebing

Pemandangan Dari Atas Tebing Ashford Dale

Bak Menyusuri Tembok Besar Cina di Ashford 

matlock_ashford_dale_signboard

Menyusuri Tebing Ashford Monsale Dale

Tujuan kami yang pertama adalah Asford Monsale Dale. Di desa ini, ada sebuah tebing yang cukup curam. Medanya, sekilas seperti tembok besar Cina (sok tahu banget ini, padahal saya belum pernah kesana). Dibawahnya ada sungai, jembatan kuno, dan sebuah terowongan tua. Kami menyusuri tebing itu, dari atas ke bawah, menuju bibir sungai yang terdapat padang rumput yang cukup luas.

matlock_ashford_dale_dari_atas

Jamaah Piknikiyah Nottinghamiyah Full Team dari atas tebing Ashford

Di pinggiran sungai ini, anak-anak bermain riang. Bapak-bapak bermain bola. Ibu-ibu menggelar tenda dan karpet piknik. Dan saya menghayati air sungai yang mengalir, airnya jernih, menenangkan. Mendengarkan suara burung yang bernyanyi di tengah kesunyian alam. Dan mendengar suara anak-anak yang tertawa riang, pecah bertumpah ruah di pinggir sungai itu.

matlock_terowongan_tua

Terowongan Tua di bawah Tebing

Bukan orang Indenesia namanya, kalau pas ngumpul-ngumpul tapi tidak makan-makan dan foto-foto. Hehe, di pinggir sungai itu juga kami membuka bekal, makan bareng. Beralas rumput, sambil mengamati pergerakan air sungai. Seperti biasa, acara pul kumpul, kan makan bareng ini selalu mengundang kenggumunan orang bule yang berlalu lalang.

Matlock_Piknik

Nikmatnya Piknik Berjamaah Di Pinggir Sungai

Setiap melewati kami, mereka melongok, tersenyum lebar, tertawa kecil, dan berkata : Enjoy! Maklumlah, dalam budaya mereka. Jarang nemu yang kayak ginian. Umumnya mereka pul kumpul dan num minum bir atau anggur dan mabuk berjamaah di Bar setiap malam minggu.

matlock_sungai_yang_jernih

Sungai Yang Airnya Super Jernih Itu

Dari Ashford Mansale Dale, kami naik bus menuju desa cantik lain namanya, desa Backwell. Karena sepi, satu bus itu isinya hanya orang Indonesia, kecuali supirnya. Sepanjang perjalanan kami dipinggir jalan kami bertemu kembali dengan gerombolan pria yang dress up dengan kostum berbagai jenis binatang dan berbagai putri dalam negeri dongeng (baca: macak bencong) yang kami temui di Ashford Dale. Kebetulan, bus kami pas berhenti. Mereka tertawai menyapa ha haai, dan melambaikan tangan-tangan mereka dengan ramah. Dan kami balas dengan lambaian tangan dan senyum tawa yang tak kalah meriah. Rupanya mereka akan num minum di sebuah bar di pinggir jalan desa. Memang dimana-dimana orang desa selalu lebih ramah dari orang kota.

jembatan_tua_dipinggir_sungai

Full Team di Bawah Jembatan

Gembok Cinta di Jembatan Sungai Backwell

matlock_blackwell_flowers

Bunga 7 Warna Di Taman Desa Back Well

Bus berhenti tepat di depan taman desa Bakwell dengan yang dipenuhi bunga-bunga yang mekar merekah sempurna berwarna wani di musim semi yang cerah di sore itu. Taman itu menawan hati setiap orang yang sekedar duduk-duduk di bangku-bangku kosong yang disediakan khusus untuk duduk-duduk di sekitar taman desa. Juga menjadi mood boaster anak-anak kecil yang bermain, bekejar-kejaran, berlarian di sekitar taman desa.

matlock_taman_kota_bunga

Taman Bunga Yang Mengundang Keceriaan

Tak jauh dari taman desa itu ada sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai yang begitu besar. Airnya bersih dan jernih, hingga terlihat jelas dasar sungai itu. Di sekitar jembatan itu ada ratusan burung camar, bebek, angsa, dan ikan sungai yang besar-besar.

matlock_sungai_burung_bebek_angsa

Burung-burung Bergembira di Tepi Sungai

Sementara, dipinggir sungai itu ada jalan khusus pejalan kaki yang lebar dan bersih. Berderet kursi-kursi panjang dipinggirnya, tempat kebanyakan mbah-mbah yang sudah sepuh duduk-duduk menikmati suasana sore yang cerah dan hangat sambil memperhatikan bocah-bocah kecil yang tertawa riang mengejar puluhan burung merpati dan camar di pinggir sungai itu. Cuaca yang cerah di sore yang panjang menjelang musim panas itu menambah sempurna pemandangan di pinggir sungai.

gembok_cinta_e

Gembok Cinta di Tepi Jembatan

Saat saya sedang asyik jeprat-jepret keindahan sungai itu, seorang kakek yang sedang duduk berduan dengan istrinya di bangku pinggir sungai itu, tiba-tiba melambaikan tanganya ke arah saya. Saya pun mendekat, mak tratap saya tiba-tiba merasa seolah berada di depan almarhum dan almarhumah kakek dan nenek saya.

ikan_nya_banyak_e

Ikan di sungai iti banyak dan besar-besar

Ku tatap kedua matanya yang sudah rapuh itu, kulit wajahnya yang sudah sangat keriput, dan rambutnya yang sudah memutih. Dengan suaranya yang sudah berat, dan lemah dia mengajak ngobrol saya, saya berdiri merunduk di hadapanya.

kakek_nenek_e

Kakek dan Nenek Menghabiskan Waktu Sore

**

Kakek : Hai anak muda, kamu mahasiswa Universitas Sheffield ya?
Saya : Oh bukan, saya Mahasiswa Universitas Nottingham.
Kakek : Ooo, saya tahu. Pada bidang apa kamu belajar di Universitas Nottingham?
Saya : Ilmu Komputer.
Kakek :Wah luar biasa.Ngomong-ngomong kamu aslinya dari negara mana? Dari Hongkong ya?
Saya : *dalam hati saya mbatin, masak item gini dari Hongkong sih, tapi dia bukan orang pertama yang mengira saya dari Hongkong* Oh, bukan. Saya dari Indonesia.
Kakek: Saya tahu banyak sekali Mahasiswa Cina di Universitas Sheffield bagaimana dengan Nottingham.
Saya : Iya sama saja. Saya kira mahasiswa Cina mendominasi dimana-mana. Hampir semua mahasiswa internasional di kampus-kampus di Inggris, sebagian besar Orang Cina.
Kakek : Ada berapa orang Indonesia di Nottingham?
Saya : sekitar 100 orang kek.
Kakek : Lumayan banyak. Ngomong-ngomong, kamu seorang muslim ya?
Saya : Iya.
Kakek : *Mengulurkan tanganya, dan menyalami saya* Assalamu’alaikum!
Saya : Waalaikumsalam wr wbt. Lowh, emangnya kakek Muslim juga to?
Kakek : Oh bukan. Tapi saya sudah pernah tinggal di banyak negara, terakhir saya bekerja lama di Jerman, sebelum akhirnya pensiun, dan akhirnya menghabiskan masa tua saya kembali ke tanah kelahiran di Inggris ini.
Saya : Wah luar biasa !
Kakek : Anak saya lebih hebat lagi. Dia pernah tinggal di banyak negara di hampir semua benua, termasuk India, Khatmandu, dan Cina. Terakhir, sekarang dia sedang bekerja di Singapura.
Saya: Awesome.
Kakek : Mereka itu anak kamu ya? (sambil menunjuk anak saya dan anak teman saya yang sedang asyik memberi makan ikan dan bebek di pinggir sungai)
Saya : Iya, satu di antara mereka.
Kakek: Lovely. Baik, terima kasih banyak sudah mengobrol dengan saya. Silahkan dilanjutkan apa yang mau kamu lakukan.
Saya: (aku mbatin kakek ini pasti sangat merindukan kehadiran cucu) Iya kek, sama-sama. btw: Nama kakek siapa?
Kakek : Saya William, dan kamu?
Saya: Saya Ahmad kek.
Kakek: Senang bertemu dengan kamu, Ahmad!
Saya : Saya juga kek.

**

Si Nenek di sebelahnya, hanya senyum-senyum manis ketika kami berdua asyik mengobrol. Tak lama kemudian, saya perhatikan keduanya berjalan meninggalkan bangku itu, ke arah membelakangi saya menyusuri pinggiran. Terima kasih Kakek untuk momentum langka sore itu, sampean benar-benar mengobati kerinduan saya akan figur seorang kakek dan nenek, yang sudah lama sekali berpulang.

memberi_makan_ikan_e

Mengejar Burung Dan Bebek

Ohya, ada yang menarik pada jembatan di atas sungai itu. Mungkin jembatan itu namanya jembatan cinta. Kenapa? Karena di kedua sisi jembatan itu banyak sekali gembok cinta, lock of love. Ada ribuan mungkin jumlahnya, pada setiap gembok itu tertulis dua buah nama. Entahlah, apa tujuanya. Mungkin ada sebuah mitos, cinta keduanya akan langgeng abadi dengan gembok cinta itu. Sungguh, ini sebuah ironi di negara yang sangat ‘menuhankan’ ilmu pengetahuan.

gembok_cinta_detail_e

Mitos Gembok Cinta Itu

Jika ingin merasakan nikmatnya ikan sungai yang besar-besar dengan warna kulit seperti macan tutul dan kelihatanya gurih sekali jika digoreng itu. Tidak jauh dari sungai banyak sekali kedai makan yang menjual fish and chips alias kentang goreng dan ikan goreng tepung yang renyah. Walaupun saya kurang yakin, apakah ikan nya benar-benar diambil dari sungai itu atau dari tempat yang lain. Anggap saja, dan bayangkan saja itu ikan yang ditangkap dari sungai itu.Hehehe…

Matlock Bath,Swisnya Inggris di East Midland

Dari Backwell, sebelum bertolak balik ke Nottingham, kami meluncur ke desa lainya namanya Matlock Bath. Konon, tempat ini dikenal sebagai Swissnya Inggris di kawasan East Midland. Kondisi geografisnya yang berbukit-bukit, dan hutan subtropis yang masih alami membuat kawasan ini sangat memesona jika dinikmati dari ketinggian. Sampean bisa naik cable car yang disewakan untuk menikmati keindahan alam itu. Sayang, hari itu sudah terlalu sore untuk naik cable car. Kami hanya menikmati jalan-jalan sore, lagi-lagi di pinggir sungai yang membelah desa Matlock Bath.

jubilee_bridge_e

The Jubilee Bridge

Ada jembatan tua yang dibangun pada tahun 1881 di atas sungai kecil itu. Di pinggiran sungai ada museum desa, tugu pahlawan dan play ground. Kami menyusuri jalan setapak sepanjang sungai yang disebut ‘lover walk’, dan duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap sungai sambil mengamati kecerian anak-anak yang bermain di Play ground.

lover_walks_e

The Lover Walk

Di sisi lain sungai, di samping luar pedestrian terdapat jalan untuk bus dan mobil. Di pinggir sebelah nya lagi terdapat deretan bangunan pusat ekonomi rakyat. Ada pasar indoor yang menjual berbagai kerjianan tangan, kedai makan, bar. dan tempat hiburan. Deretan bangunan itu seperti menempel di kaki bukit yang terlihat tinggi di belakangnya.

Khas suasana alam pedesaan, saya selalu jatuh cinta merasai suasana tenang dan damai nya itu.

Apa yang bisa kita pelajari?

Membandingkan kondisi sungai di desa ini dengan kondisi sungai di Indonesia yang sudah tercemar, saya jadi bertanya-tanya, apa iya ya orang British ini punya kesadaran yang tinggi menjaga habitat sungai seperti itu sejak mereka terlahir dan sungai itu ada. Atau mereka sebenarnya juga butuh proses panjang, dalam artian sungai-sungai itu dulunya juga pernah tercemar, penuh sampah, seperti kondisi sungai-sungai di pulau Jawa. Dan kemudian mereka belajar, sadar, pentingnya menjaga habitat sungai, sehingga sungai itu menjadi bersih bening alami seperti sedia kala. Mas Wisnu, teman ngobrol saya bilang sepertinya mereka juga butuh proses, lahwong untuk membuat mereka tertib di jalan saja butuh waktu yang sangat lama. Saya jadi ingat catatan sejarah di Nottingham castle yang menceritakan kondisi kota Nottingham sekitar abad 18, disitu tercatat bahwa kota Nottingham saat itu adalah kota paling kumuh di Inggris, sama kumuhnya dengan kota-kota kumuh di India.

Ya, memang manusia yang bijak adalah manusia yang mau belajar dari sejarah mereka. Saya sekarang jadi paham, kenapa pendidikan dasar di Inggris lebih menekankan pendidikan karakter. Saya jadi lebih paham kenapa filosofi pendidikan mereka adalah bahwa mereka merasa gagal jika anak didik mereka belum terbiasa antri, tidak terbiasa membuang sampah pada tempatnya, dan mereka tidak begitu khawatir jika anak didik mereka ada yang belum bisa membaca dan menulis, ataupun tidak bisa matematika. Yah, memang karakter yang mulia atau akhlaqul karimah butuh waktu dan proses yang panjang.

Dari Mas Wisnu, yang doktor di bidang planologi itu, saya juga jadi mengerti. Bahwa adanya taman kota, play ground, dan open public places lainya, dari kaca mata antropologi arsitektur itu ternyata memiliki lebih dari sekedar yang terlihat. Bukan sekedar buat mempercantik kota. Bahkan satu pohon bunga di pinggir kota itu pun memiliki makna sendiri. Ternya keberadaan taman bunga, taman kota, dan open public places itu memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Disanalah, si miskin dan si kaya bisa duduk dan berkomunikasi bersama. Yang pada akhirnya dapat menimbulkan rasa tentram, rasa aman dan nyaman di hati masyarakat. Yang pada akhirnya berdampak pada berkurangnya tingkat kriminalitas, dan yang lebih penting meningkatnya indek kebahagiaan masyarakat. Saya jadi paham, kenapa Bu Risma, walikota Surabaya itu begitu gila membangun taman-taman kota. Ternyata, setiap kelopak bunga yang mekar, dan air yang mancur di taman itu memiliki arti lebih dari yang terlihat.

Semoga, bangsa kita, terus dan terus mau belajar !