Advertisements

Tag Archives: cerita perjalanan

Pacitan: Gemelintir Air Kalimu

” … setiap perjalanan ke tempat baru memberikan perspektif baru dalam memandang hidup. Semakin banyak perjalanan, semakin banyak perspektif. Semakin banyak perspektif, semakin bijak? ” – a random thought

pacitan_01

Pintu Gerbang Masuk Kota Pacitan

Buatku, tidak ada aktivitas santai di dunia ini yang lebih menyenangkan dari pada mengunjungi tempat baru. Tempat yang sebelumnya hanya mampir sejenak berlalu di perlintasan alam fikiran, kemudian kita benar-benar menginjakkan kaki di tempat itu.

Sekedar memberi jeda dari ritual kesibukan hidup yang terus berulang, kami mengadakan perjalanan Madiun-Pacitan lewat Ponorogo. Dalam bayanganku, kami akan menelusuri desa-desa, dengan hamparan padi yang menghijau dan pemandangan pegunungan di kejauhan. Lalu kami mampir di warung pinggir sawah, minum kopi, menikmati jajanan pasar desa sambil ngobrol dengan warga lokal desa dengan bahasa Jawa logat khas kabupaten diujung barat daya Jawa Timur ini.

pacitan_02

Suasana Pinggiran Kota Pacitan

Tetapi, seorang teman kuliah di Surabaya, yang kecil hingga lulus SMA di kota ini, dan sekarang menetap di kota pinggiran Jakarta, menertawakanku. “haha, you will never find it in Pacitan Bro!” katanya lewat layananan pesan singkat Whatsapp.

Tidak apa-apa, perjalanan Madiun-Pacitan lewat Ponorogo cukup menenangkan Jiwa. Jalanan yang tidak macet, udara yang tidak penuh polutan, dan pemandangan gunung-gunung di kejauhan cukup menghibur fikiran. Perjalanan Ponorogo-Pacitan lebih menantang dari perjalanan Madiun-Ponorogo, kami menyusuri jalanan yang membelah pegunungan. Tidak hanya tidak macet, jalanan rasanya terasa sepi.

Jalanan naik, turun, berkelok-kelok, bagai jejak ular raksasa. Kiri kanan adalah hutan dengan dominasi pohon jati. Kadang-kadang saja terlihat tanaman jagung dan singkong. Tak banyak rumah penduduk di sepanjang perjalanan. Yang lumayan banyak adalah pemandangan spanduk dan baliho besar-besar para politisi di senayan dan lengkap dengan bendera partai. Lebaran rupanya dipilih para politisi yang di fotonya terlihat sangat bahagia itu, menjadi momen yang pas untuk menyapa konstituenya, meski hanya lewat media spanduk dan baliho. Spanduk dan Baliho milik para calon gubernur dan wakilnya pun tak kalah ramai, berebut simpati rakyat kecil di tataran akar rumput. Cerdas, merakyat, dan religius begitu seolah-olah kesan yang ingin disampaikan dari spanduk dan baliho besar-besar itu.

Foto-foto politisi yang para priyayi itu terlihat begitu kontras dengan wajah desa perbatasan Ponorogo-Pacitan yang muram. Kabarnya, di wilayah inilah kantong-kantong kemiskinan wilayah Jawa Timur berada. Sampai-sampai ada sebuah kampung yang dijuluki kampung idiot. Kemiskinan telah membawa penduduk kampung bernasib kekurangan gizi dan pada giliranya kekurangan kecerdasan.

pacitan_03

Sungai di Desa Tambakrejo, Pacitan

Yang paling menarik perhatianku adalah kali-kali di sepanjang perjalanan. Airnya jernih dan bergemelintir, dengan lembah sungai yang lebar yang dipenuhi batu-batu kali yang bersih. Suasananya hening, suara gemelintir air satu-satunya irama, lengkap dengan pemandangan hijau bebukitan sejauh mata mengedarkan pandangan. Sungguh inikah imajinasi syurga manusia-manusia di tengah peradaban  padang pasir yang tandus bukan? Tak heran, orang-orang jawa pada awalnya tak tertarik dengan iming-iming metafora syurga di kitab suci. Karena metafora syurga itu sudah ada di tanah Jawa. Ingin sekali rasanya turun dan menjeburkan diri ke sungai itu.

Memasuki kota, kami mampir di sebuah warung pinggir jalan. Selain selai pisang basah yang dibungkus plastik membulat kecil-kecil menyerupai anggur itu, sepertinya tidak ada makanan khas kota ini memang. Lalapan ayam kampung goreng pun jadi pilihan. Secangkir kopi sasetan (Rp. 1000)    yang masih panas menjadi pelepas lelah perjalanan, dan menjadi pembuka obrolan yang hangat. Sebelum, beberapa jenak kemudian, kami beranjak melanjutkan perjalanan.

Rasanya, hanya 5% saja dari wilayah kota Pacitan ini yang tanahnya datar, yaitu hanya di sekitar alun-alun saja. Selebihnya adalah bukit tandus dengan jalan bergelombang naik turun, berkelok-kelok dengan sudut kemiringan dari yang biasa-biasa saja sampai yang ektrim. Terbayang alangkah melelahkanya perjalanan dengan berjalan kaki dan sepeda ontel di kota. Yang belum mahir nyetir, jangan sekali-sekali deh coba-coba di kota ini.

Sepanjang perjalanan aura bahwa Pacitan adalah rumahnya SBY begitu terasa. Partai Pak Beye sepanduk dan benderanya bertebaran hampir di seluruh sudut-sudut kota. Tak ketinggalan wajah-wajah keluarga Pak Beye yang rupawan dan mriyayini itu pun terpampang bahagia di spanduk dan baliho besar-besar di pinggir jalan-jalan kota. Kontras dengan wajah lesu warganya yang tinggal di rumah-rumah teramat bersahaja di pinggiran kota. Terbayang betapa susahnya menyelenggarakan hidup yang mapan di kota yang didominasi bukit-bukit yang tandus bukan?

pacitan_04

Pantai Klayar

Pariwisata menjadi andalan baru sebagai penggerek ekonomi kota ini. Walaupun tentu kenyataan tak semudah kata-kata. Gua dan Pantai menjadi andalan Pariwisata kota ini. Salah satu pantai yang sempat kami kunjungi adalah Pantai Klayar, pantai andalan kota ini. Lazimnya, pantai berseiring dengan dataran rendah. Di Pacitan, pantai berseiring dengan bukit. Sungguh, pantai ini terlihat memesona dari atas bukit menuju pantai ini.

Suasana senja sore itu menambah indahnya pemandangan alam Pantai klayar. Orang-orang tumpah ruah, kegirangan. Berpose entah dengan gaya apa saja, yang terabadikan oleh jepretan kamera smartphone. Dan berikutnya, memamerkan kegembiraan itu ke jagat maya. Agar semua tahu bahwa kehidupan mereka amatlah bahagia. Bahwa kehidupan adalah sesuatu yang patut untuk dirayakan.

Anak-anak bermain kegirangan di pinggir pantai yang sedang surut airnya. Entah siapa yang mengajari pada mulanya, rasanya seluruh anak-anak di seluruh penjuru dunia memilih aktivitas yang sama di pasir pantai: membangun kastil pasir. Dengan susah payah mereka membangunya, tetapi justru tertawa bahagia saat ombak besar menggulungnya tak bersisa.

pacitan_05

Suasana Surup di Pantai Klayar

Begitupun hidup kita bukan? begitu susah payah kita belajar, bekerja, banting tulang, siang dan malam, berusaha dan berdoa untuk membangun ‘kastil’ kehidupan kita. Kastil pertanda kesuksesan kita dalam menyelenggarakan kehidupan dunia yang sementara ini. Tetapi, akankah kita akan tertawa bahagia saat ombak kehidupan, lewat pintu kematian atau musibah  bencana, tiba-tiba menyapu bersih kastil kehidupan kita yang juga rapuh ini?

Sayang, waktu senja pun segera usai. Waktu surup tiba saatnya menjemput malam yang akan segera datang. Orang-orang pun berangsur-angsur menjauh dari bibir pantai, menempuh jalan pulang. Meneruskan cerita kehidupan berikutnya. Entah bahagia, susah, atau biasa-biasa saja.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Advertisements

Tet Li: Setangkup Cerita Perjalanan

… hidup tak seindah yang terlihat.  hanya sawang-sinawang. Karenanya, agar terasa indah, sesekali kita perlu menjadi penonton kehidupan – a random thought

tetli_tanjung_pinang

Danau Kaloin Tet Li, a random place in Bangka Island.

Acara seminar internasional yang sedianya diadakan tiga hari, rupa-rupanya berakhir di hari pertama. Acara city tour yang janjinya sudah include biaya pendaftaran pun dibatalkan tanpa penjelasan sepatah kata. Haha, aku pun ketawa saja. Mungkin panitia kehabisan uang fikirku.

Yang penting sudah menggugurkan kwajiban, mempresentasikan makalah ku di forum (literally) internasional, meskipun jujur 100% di forumku itu hanya ada orang Indonesia. Lalu, dapat sertifikat dan empat buah stempel basah dari panitia di atas dua lembar kertas dari kolegaku di bagian keuangan.

Di hari kedua, aku dan tiga orang yang baru ku kenal di tempat seminar menyusun sebuah rencana. Sopir taksi online, yang baru kenal dengan salah satu dari kami di Bandara, hari itu bersedia mengantar kami berpetualang menyusuri pulau Bangka.

Tujuan pertama kami adalah danau Tetli. Danau bekas tambang timah ini kabarnya keindahanya luar biasa. Dari atas pesawat sebelum mendapat di Bandara Depati Amir danau-danau itu terlihat  begitu cantik memesona, airnya jernih biru kehijau-hijauan.

Rupanya, Mas Sopir pun belum pernah ke tempat satu ini. Jadilah, google map menjadi penunjuk jalan kami. Awalnya kami baik-baik saja. Tetapi kami menjadi sedikit was-was ketika petunjuk google map membawa kami menyusuri jalan-jalan makadam tak beraspal di tengah-tengah hutan.

Di jalan sempit itu, kiri-kanan kami hanyalah pohon-pohon kelapa yang lebat. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya jarang-jarang di tengah-tengah hutan. Rumah yang halamanya terlalu luas, lengkap dengan kandang babi. Terlihat oleh kami seekor babi berlari-larian di pekarangan. Sesekali terlihat kelapa sawit, dan rerimbunan pohon pala yang merambat, atau rimbun pohon cocoa. Yang lebih sering kami jumpai adalah kuburan cina yang ukuranya besar-besar di sepanjang jalan itu.

Uniknya, hampir semua plang masuk ke desa bertuliskan huruf cina. Kami hampir saja berputus asa, merasa tersesat dan tak tahu jalan pulang. Beruntunglah, seorang warga yang kebetulan berpapasan dengan kami memberi kami petunjuk jalan.

Akhirnya yang kami cari kami temukan juga. Sebuah danau di tengah-tengah hutan yang terlihat tak bertuan. Kami adalah satu-satunya pengunjung danau itu. Oila, begitu instagramable betul danau itu. Sebuah danau yang jernih airnya, biru kehijau-hijauan (torquise) yang dikelilingi gundukan pasir putih.

Andai saja ada perahu sampan warna-warni, ingin rasanya berkeliling mendayung sampan mengitari danau itu. Tetapi yang ada hanyalah kesunyian dan desau suara angin.  Aku duduk di tepi danau, menatap, merenung, mengagumi dan diam menatap keindahan alam itu. Menenangkan, tetapi ketakutan akan kesunyian itu tiba-tiba saja datang menyergap.

Aku berlarian menuju mobil yang siap meninggalakan tempat, saat seekor serigala keluar dari balik gundukan batuan gamping putih yang tadi kududuki dan kuinjak-injak. Dan kami pun segera berlalu, melanjutkan perjalanan.

Pangkal Pinang, 04/10/2018

Related Links:

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube


Jakarta Sabtu Pagi: Monas – Munas – Kota Tua

“… mungkin aku terlalu udik, aku tak tahu bagaimana cara menikmati hidup di Ibu kota – a random thought.

jakarta_munas

Lampu Pedistrian By Monumen dan Museum Nasional

Untuk menunggu penerbangan sore hari ke Surabaya, Sabtu pagi aku harus mencari cara untuk membunuh waktu. Dan cara yang aku pilih adalah ‘to feel being grass-root Jakartans’. Dari penginapan murah meriah, kelas melati di bilangan karet, kuningan (katanya sih kos-kosan wanita-wanita simpanan para esmud sukses tajir bergelimang harta di Jakarta), aku bersama seorang teman, keluar menyusuri gang-gang sempit padat penduduk.

Diantara himpitan gedung-gedung yang megah, gagah, menjulang, mencakar langit, Jakarta menyimpan banyak ironi. Kawasan padat penduduk, kumuh, pengap, berisik, bau, yang tak menyisakan tempat buat anak-anak untuk bermain. Aku bayangkan: alangkah susahnya, hidup menjadi anak-anak orang-orang ‘pinggiran’ Jakarta ini. Sejengkal tanah kosong di kota ini, amatlah mahal harganya. Bahkan mencari ruang sekedar untuk selonjor saja susah sekali.

Diam-diam aku merasa bersyukur sekali, kuhabiskan masa kecilku di dusun yang hamparan tanahnya melimpah ruah, udaranya segar alamiah, pemandanganya hijau royo-royo sejauh mata memandang. Airnya bersih dan segar. Suasananya tenang menenangkan. Dan yang paling penting aku bisa bermain berlarian, gulung-gulung di tanah, bermain lumpur di sawah, berlarian bermain layang-layang, renang di sungai, tanpa sedikit pun rasa takut. Makanan dan buah-buahan disediakan gratis oleh alam.

Aku mampir sejenak di Warteg, di Gang sempit itu. Ada beberapa alasan, warteg menjadi warung pilihan ketika di Jakarta. Pertama, sudah dapat dipastikan penjualnya adalah orang Jawa, cita rasa masakanya cocok, dan yang paling penting harganya sangat ramah dengan kantong. Tetapi, yang paling membahagiakan diantara semuanya adalah bisa merasakan sensasi hidup sebagai orang pinggiran di Jakarta.

Teh anget, sayur lodeh, tempe goreng, dan ikan kembung goreng ditemani kerupuk gembreng adalah menu andalan. Sayang size nasinya sering tidak bersahabat. Mungkin terlihat wajahku terlihat wajah susah, si penjual ngasih nasinya ukuran jumbo. Jadilah, aku tak sanggup menghabiskanya kawan.

Keluar dari gang-gang sempit, kami keluar menyusuri pinggiran jalan besar. Melewati jalur pedistrian di depan kantor-kantor besar yang kurang bersahabat. Idih, tampang satpamnya seram-seram, pagar tamannya dilengkapi dengan kawat berduri pula, atau dibuat lancip. Duh, padahal sekedar ingin menyandarkan bokong, kok ya ndak boleh.

Setelah ratusan meter berjalan merasakan sensasi susahnya jadi pejalan kaki di kota ini. Akhirnya sampai juga di Halte Busway terdekat. Naik JPO, yang alamak ekstrim juga tanjakanya. Tidak kebayang, betapa repotnya saudara kami yang berkursi roda mengakses JPO ini. Atau bahkan tidak bisa mengakses sama sekali.

Meski lumayan sering bolak-balik ke Jakarta, sudah lama rasanya aku tidak naik busway. Sejak ada layanan ojek dan taksi online, naik bus way rasanya sangat merepotkan. Dari pakai tiket yang dimasukkan ke mesin, pakai tiket kertas sobek, hingga kini sudah paper-less menggunakan e-money. Jauh lebih praktis. Menariknya kita bisa berbagi satu kartu e-money.

Di halte pun ada kemajuan cukup significant, sudah ada sistem informasi yang cukup reliable menginformasikan waktu kedatangan bus secara real time. Hal yang sangat lumrah di negara-negara maju. Argh, aku jadi tertarik menganalisa ‘big data’ waktu kedatangan bus way di kota ini. Apalagi jika data passenger keluar masuk halte dan bus ter-record dengan baik, tentunya banyak ‘knowledge’ menarik yang bisa digali. Kemudian, knowledge itu bisa digunakan untuk improve rute bus way agar semakin tidak semrawut.

Kondisi bus pun masih nyaman seperti dulu, mungkin karena akhir pekan, tidak ada penumpang yang berdesak-desakan. Hanya saja informasi suara mesin yang menginformasikan halte berikutnya sudah tidak berfungsi atau sengaja tidak difungsikan. Fungsinya digantikan oleh mas-mas berbaju batik penjaga pintu bus yang terlihat sangat kelelahan. Sesekali tertangkap mataku, matanya tertidur dalam posisi berdiri.

Di bus yang sama, tanpa janjian kami tak sengaja bertemu dengan teman SMP ku yang sudah lebih satu dasa warsa mengadu keberuntungan hidup di Jakarta. Kami turun di halte Monumen Nasional. Landmark kebanggaan kota Jakarta. Jika London punya Bigben, Kuala Lumpur punya Twin Tower, Jakarta punya Monas. Landmark yang sangat bersahaja. Kami duduk-duduk di bangku di pinggir jalanan monas. Sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali kulihat beberapa turis berjalan sendirian sambil menenteng kamera dan khusuk membaca kitab sucinya para turis dunia, the lonely planet.

Sejenak, pikiranku teringat suasana kota kelahiran shakesphere. Duduk-duduk menikmati suasana kota yang tenang dan nyaman, sambil mendengarkan alunan musik musisi jalanan yang suaranya melelehkan perasaan. Tetapi Jakarta adalah Jakarta. Hawa yang sumuk, deru kota yang berisiak dan hari yang mulai terik, membuatku tak betah berlama-lama duduk di bangku itu.

Kami beranjak dari bangku dan menuju ke bangunan seberang monas, museum nasional. Ada zebra cross, dilengkapi dengan tombol pedistrian layaknya di Eropa. Tetapi di kota ini lain cerita. Lampu sudah merah, dan banyak pedistrian ancang-ancang mau menyeberang, tetapi ajaibnya para pengendara kendaraan tak ada yang mau berhenti, aliah-alih mengurangi kecepatan, eh malah kencang-kencang. Kecuali jika para pedistrian, memaksa menyeberang, dengan terpaksa para pengendara kendaraan pun berhenti. Dan kami pun menyeberang setengah berlari penuh ketakutan. Bahkan lampu indikator menyeberang jalan pun, berupa orang berlari, bukan berjalan. Betapa menakutkanya bukan peristiwa menyeberang jalan di kota ini? Entah kapan, hak pejalan kaki yang budiman diperhatikan di kota ini.

Hanya perlu bayar Rp. 5000 untuk masuk Munas. Di lantai dasar terlihat seperangkat gamelan. Dan sedang berlangsung latihan menari yang sebagian besar diikuti anak-anak perempuan. Layaknya museum pada umumnya, museum ini bercerita tentang perjalanan kebudayaan manusia Indonesia. Mulai dari jaman pra-sejarah, manusia Indonesi di Jaman batu, jaman kerajaan-kerajaan, hingga menjadi manusia Indonesia modern.

Sejarah selalu mengajarkan kesementaraan. Tak ada kejayaan yang terlalu lama. Semua ada waktunya. Semua akan sirna dan terlupakan pada waktunya. Semua yang bisa terlihat oleh kasat mata adalah fana. Menuju kefanaan hanyalah fungsi waktu belaka, tak terlalu lama kita akan terlupakan untuk selama-lamanya. Dan sejarah hanyalah milik yang pernah berkuasa. Yang jelata? yah terlupakan begitu saja.

Aku cuman bisa membayangkan, saat semua serba digital seperti jaman ini, jika Tuhan meruntuhkan peradaban kita satu waktu, apa kira-kira yang bisa dipelajari oleh manusia generasi berikutnya?

Jika sampean pernah berkunjung ke British Museum di London, museum nasional ini rasanya tidak ada apa-apanya. Bisa jadi bahkan sejarah kebudayaan Indonesia lebih lengkap bisa kita lihat disana atau di Leiden, Belanda.

Dari Munas, kami naik bus double decker gratis yang sudah ready di halte depan museum. Di bus double decker itu uniknya sopir dan kondektur yang membagikan tiket gratis adalah emak-emak semua. The power of emak-emak. Busnya cukup nyaman, tak kalah deh dengan bus merah double decker London sight seeing yang cukup mahal tiketnya itu. Tidak kalah juga dengan Busnya kota Surabaya yang pakai bayar dengan 6 botol bekas air minum kemasan.

Dari Munas, kami turun di Jakarta Kota Tua. Bus berhenti di halte yang tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota. Yang baru dari Jakarta kota tua adalah pusat oleh-oleh Krisna. Yes, pusat oleh-oleh di kota Denpasar Bali itu buka cabang di Kota Jakarta. Selain oleh-oleh khas Bali, di Krisna Jakarta ini, ada oleh-oleh khas Jakarta. Emang ada? Yah, setidaknya ada oleh-oleh yang ada tulisanya Jakarta, dalam wujud kaos, gantungan kunci, atau sandal jepit.

Yang aku suka, di Krisna Jakarta kota tua ini ada mushola yang cukup luas dan nyaman di Lantai dua, lengkap dengan tempat wudlu yang bersih. Lalu, di lantai dasar juga ada restoran padang yang tempatnya cukup luas, confy dan cozy. Pelayanya asyik-asyik yang kostumnya tematik. Harganya pun untuk ukuran kota Jakarta masih lumayan bersahabat. Ada menu andalan kesukaan: eseng-eseng pare dicampur dengan petai dan cabe hijau yang aroma, rasa, dan pedasnya sangat sensasional. Lengkap sudah, tempat beli oleh-oleh, tempat sholat, istirahat, dan makan ada di tempat ini.

Dari Krisna, kami memesan taksi online, cukup murah, hanya enampuluh ribuan saja kami sudah sampai bandara dengan nyaman dan aman. Good Bye Jakarta! Sampai bersambung dengan cerita berikutnya.


Mbah Kakung dan Majalah Jadoelnya

… sungguh semangat baca mbah kakung yang luar biasa itu adalah sesuatu yang patut diteladani – a random thought

majalan_pembela_islam

Majalah Pembela Islam (wikipedia)

Di kereta memang banyak cerita. Cerita-cerita kehidupan yang kadang seperti drama. Seperti pagi ini, di kereta api ekonomi penataran jurusan Malang-Surabaya aku ketemu sama seorang yang langka.

Seorang kakek, sebut saja mbah kakung. Sedang dalam perjalanan ke Surabaya sendirian. Sepatunya Pantofel tinggi berwarna putih, celana dan bajunya juga putih. Bedanya ada motif garis-garis putih bold. Serasi dengan yangan kumis, jenggot, alis dan rambut tebalnya yang sudah memutih sempurna.

Bawaanya satu tas tangan berwarna coklat yang lazim  dibawa ibu-ibu muda, dan satu buah kardus bekas air mineral kemasan Queen yang terikat dengan tali rafia warna hitam.

Sungguh dia seorang penumpang yang istimewa. Pasalnya, saat hampir semua penumpang melakukan aktivitas seragam: tidur-tidur ayam atau khusuk bermain dengan handphoneya. Si Mbah kakung sedang khusuk membaca buku. Yah di negara ini, membaca buku di dalam kereta adalah aktivitas langka.

Yang hebat, Di usia senjanya, si Mbah kakung membaca tanpa bantuan kaca mata. Hanya sebuah handpone nokia jadul dengan feature lampu senter di ujungnya yang membantunya mengeja huruf, kata-demi kata.

Yang dibacanya pun istimewa, majalah jadoel dengan warna kertas coklat ke kuning-kuningan. Kuintip judulnya: Pembela Islam. Berdasarkan penulusuran dari wikipedia:

Pembela Islam adalah media cetak yang pernah terbit dalam khasanah media massa dan persuratkabaran Indonesia di awal abad ke-20, sekitar tahun 1933, di Lengkong Besar No. 90, Bandoeng, Tanah Pasundan.

Waw, majalah sebelum Indonesia merdeka kawan! Tidak ada yang istimewa sebenarnya, hanya saja aku begitu tersepona dengan semangat budaya bacanya yang terlihat sangat luar biasa itu.  Maklum di negeri ini tidak seperti trajektori negara-negara maju yang pernah mengalami budaya baca tulis yang begitu matang, eh sudah  terjebak pada budaya menonton. Kecuali budaya membaca pesan singkat dari media sosial.

Tak heran, jika cara berfikir orang-orang di negara ini aneh-aneh. Harap maklum, kami tak terbiasa membaca tulisan buah hasil olah fikir yang mendalam. Apalagi, hasil olah rasa yang halus? Kami hanya mampu menangkap bungkus yang remeh-temeh dan sering menipu. Kami tak mampu menangkap isi yang lebih bermakna.

Sayang, kami harus berpisah di Stasiun Gubeng, sebelum sempat bertukar sapa. Mungkin itu pertemuan kami yang pertama dan terakhir untuk selama-lamanya.  Terima kasih mbah kakung atas pertemuan kita pagi ini. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan di sisa-sisa hidup mu.


Senja di Trafalgar Square

… sekedar cerita perjalanan biasa saja – a random thouhgt

 

trafalgal_square

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Trafalgar Square

Setelah jenuh berdiskusi dengan pikiranku sendiri di pinggir sungai Thames, aku pun beranjak pergi. Menyusuri sudut lain kota London yang sudah pernah beberapa kali aku kunjungi, namanya Trafalgar Square.

Buat ku, tempat ini tak ubahnya sebuah alun-alun kota. Tempat dimana banyak orang berkumpul, sekedar untuk bersantai atau sekedar untuk bersenang-senang. Tidak seperti saat pertama berada di tempat ini, sore itu Trafalgar Square nampak biasa-biasa saja.

Kerumunan orang, yang kebanyakan turis memadati setiap sudut alun-alun. Sekedar duduk-duduk sambil melihat air mancur, patung, dan kawanan burung merpati. Atau sekedar foto-foto dengan latar belakang beberapa bangunan berasitektur gothic, khas bangunan romawi. Di salah satu sisi, alun-alun berdiri sebuah bangunan megah The National Gallery, tempat pameran lukisan.

Aku berjalan menyusuri alun-alun, berada di antara kerumunan orang-orang. Sekedar ingin ketularan aura kebahagian yang terpancar oleh wajah-wajah para pengunjung tempat ini. Lalu, ikutan duduk-duduk diantara mereka di salah satu sisi alun-alun di depan The National Gallery yang berundak-undak itu. Menjadi penonton kerumunan orang-orang, berdiskusi dengan isi kepala sendiri.

Lama-lama tidak betah juga, rupanya menjadi solo traveller begitu menyiksa bagi ku. Tidak ada teman diskusi, selain dengan pikiran sendiri. Aku pun beranjak ke arah pintu masuk The National Gallery, melihat orang mengantre untuk masuk satu persatu. Aku duduk di bibir taman di depan gallery, tepat disamping beberapa orang yang dari pakainya seperti gelandangan. Mereka tidur-tiduran disitu.

Hati kecil ku berbisik: yah, bule kok jadi gelandangan, padahal ini bule kalau di Indonesia, tinggal dimandiin saja kasih parfum dikit sudah bisa jadi artis. Kota besar selalu menyimpan ironi. Di antara gedung-gedung megah, diantara orang-orang yang bergaya hidup wah, masih menyisakan orang-orang yang terpinggirkan, seperti gelandangan dan pengemis ini. Bahkan di negara maju yang konon kesejahteraan sosial setiap warganya sungguh-sungguh serius diperhatikan oleh negara.

Capek duduk, aku pun ikutan antri masuk gallery. Meskipun aku sudah tahu isi di dalamnya, tapi rasanya lebih menguntungkan daripada duduk-duduk tidak jelas disamping gelandangan itu. Ada pemeriksaan ketak dipintu masuk. Setiap tas harus dibuka, untuk diperiksa isinya. Kalau-kalau ada pengunjung yang membawa bom.

Di dalam gallery bertingkat itu, aku menyusuri ruang demi ruang. Lantai demi lantai. Pura-pura menikmati keindahan lukisan yang berukuran besar-besar itu. Tapi, sungguh aku tidak pernah paham, bagaimana menikmati keindahan sebuah lukisan. Apalagi, hampir semua lukisan itu bercerita tentang kerajaan Tuhan. Dan banyak diantaranya adalah lukisan-lukisan manusia nyaris telanjang. Perempuan-perempuan dengan dua payudaranya yang indah menonjol, terpampang tanpa sehelai kain menutupi. Mungkin pada jaman itu, yang namanya BH belum ditemukan. Dan perempuan-perempuan pada jaman itu terbiasa bertelanjang dada, seperti gadis-gadis bali tempo dulu.

Tak sampai satu jam, aku pun keluar dari gallery. Mondar-mandir di halaman depan gallery yang ramai dengan orang-orang yang mengerumuni beberapa seniman jalanan. Ada yang berdandan ala patung badut, yang seolah-olah terlihat duduk mematung  di atas angin tanpa bergerak. Beberapa pengunjung tertarik berfoto bersama. Jepret! lalu melempar uang recehan di mangkok kecil di depan patung badut. Si patung badut membalas dengan seulas senyum.

Ada juga seniman lukis yang melukis bendera negara-negara peserta olimpiade 2016 di Brasil dengan kapur berwarna di lantai halaman gallery. Orang-orang berkerumun, mencari bendera negaranya masing-masing, lalu melempar uang recehan di atas lukisan bendera itu. Aku menunggu ada orang yang melempar recehan di atas bendera Indonesia, tapi sampai lebih sepuluh menit berlalu, tak seorang pun melakukanya. Emosi ku pun tak terpancing untuk melempar recehan di atas lukisan merah putih. Di sebelah pelukis bendera, ada pelukis kapur juga yang sedang melukis perempuan seksi yang memamerkan bongkahan payudaranya.

Di samping seniman lukis, ada seniman teater yang juga ramai dikerumuni orang.  Di tengah kerumunan orang-orang itu, seorang seniman terlihat memperagakan gerakan-gerakan akrobatik yang terlihat sangat mengerikan dan berbahaya jika dilakukan oleh orang-orang biasa. Penonton bersorak sorai tepuk tangan, setiap sang seniman berhasil unjuk kebolehan.

Terakhir, di paling ujung halaman depan gallery, ada seniman musik. Hanya ada dua orang anak muda. Yang satu sebagai drummer, satunya lagi sebagai gitaris merangkap vocalis. Menembangkan lagu-lagu yang sedang ngehits di pasaran. Suaranya bagus. Di antara para seniman jalanan ini, hanya seniman musik ini yang bisa saya nikmati.

Capek berdiri, aku segera menuju stasiun tube, kereta api cepat bawah tanah, terdekat di salah satu sudut Trafalgal Square. Kuhabiskan sisa waktu ku hari itu, di dalam tube yang mengelilingi kota London. Sambil duduk istirahat, membaca buku di dalam tube, aku memperhatikan kesibukan luar biasa para Londoner, saat pulang kerja hingga senja datang.

Buatku, memperhatikan tingkah polah orang-orang itu sangat mengasyikkan. Berjam-jam aku berada di bawah tanah kota London, di dalam perut cacing besi yang berlari super duper cepat, memecah kesunyian perut bumi di kota London. Hingga beberapa booklet tentang sejarah panjang pembangunan jaringan tube yang begitu rumit dan komplek, yang tidak saja mengaplikasikan sains dan ilmu rekayasa, tapi juga memadukanya dengan seni itu selesai aku baca. Menyisakan sebuah tanda tanya: jika di kota London, jaringan rel bawah tanah ini sudah mulai dibangun sejak tahun 1843, sementara di Jakarta baru mulai dibangun tahun 2016 ini; berapa jauh sudah negara ku tertinggal oleh negara ini? Tuhan, ajari kami cara mengejarnya!