cerita mudik 2017

Dari Sancaka Lebaran: Festival Pulang Kampung

Hidup kadang seperti sebuah festival, menghentikan kesibukan beberapa jenak untuk merayakan kehidupan – a random thought

mudik_lebaran

Suasana Mudik Lebaran 2017 di St. Gubeng Surabaya

Kembali, lagi-lagi aku menulis catatan ini dari dalam gerbong kereta api. Kali ini dari gerbong eksekutif 2, nomor tempat duduk 1C, kereta api Sancaka Lebaran jurusan Surabaya-Yogyakarta. Seperti namanya, mungkin ini kereta api tambahan khusus menjelang lebaran. Kereta berangkat dari stasiun Gubeng Surabaya pukul 09.40 dan akan tiba di stasiun tugu Yogyakarta 5 jam kemudian.

Sebenarnya tadi aku ingin naik kereta ekonomi saja, seperti biasanya, agar lebih berasa suasananya. Tetapi sayang semua tiket kereta ekonomi sudah habis terjual. Dan tiketku ini adalah benar-benar tiket terakhir yang tersisa. Yah, bagaimana tidak aku membeli tiket go show, hanya beberapa jenak sebelum kereta berangkat, di hari minus tiga sebelum lebaran. Saat orang-orang normal sudah merencanakan perjalanan mudik jauh-jauh hari bahkan bulan sebelumnya, aku yang tidak suka merencanakan dan suka spontanitas dalam hidup, tentu tidak merencanakan sama sekali. Beruntung, kok nya ndelalah masih dapat tiket kereta api.

Begitulah, perjalanan hidupku mengajari ku. Meski nyaris tidak pernah merencanakan, sering kepepet, tetapi alhamdulilah aku selalu merasa beruntung. Buat apa terlalu merencanakan hidup, jika hidup kita bukan sebenar-benar milik kita. Bukankah ada Dia disana Yang Maha merencanakan. Bukankah rencanaNya selalu yang terbaik dan terindah.

Di dalam gerbong kereta, aku duduk sendirian di kursi paling depan berhadapan langsung dengan sebuah layar LCD. Dibanding kereta ekonomi, tempat duduknya lebih empuk ditambah ada bantal mungil yang aku gunakan untuk mengganjal MacBook ku. Kereta berjalan sangat kencang sehingga dari balik jendela pemandangan luar hanya terlihat seperti bayang-bayang. Tak seperti hari-hari biasanya, hari ini hari terasa sangat sendu. Dari semalam hujan turun sangat deras dan lama. Langit masih saja terlihat kelabu, menyembunyikan matahari yang entah dimana letaknya.

Sepanjang perjalanan pun demikian, langit masih saja kelabu kehitam-hitaman. Sesekali rintik hujan membasahi kaca jendela kereta. Benar-benar mengingatkan suasana typical di kota Nottingham dulu. Gloomy sepanjang hari-hari. Saat yang tepat untuk menidurkan sejenak hati dan fikiran yang lelah.

Di stasiun Gubeng tadi suasana riuh mudik lebaran sudah sangat terasa. Suasana yang sudah lama tidak kunikmati sejak empat tahun belakangan. Semua tempat duduk di ruang tunggu terisi penuh oleh calon penumpang. Bahkan beberapa diantara mereka rela ndelosor di lantai dengan tas-tas besar yang mengiringi. Antrian memasuki ruang boarding dan gerbong pun terlihat mengular. Di Jalan raya yang terlihat sepanjang perjalanan kereta pun demikian, mobil-mobil pribadi terlihat berderet-deret mengantri ruas jalan, tak ketinggalan barisan sepeda motor. Di facebook dan instagram apalagi, banyak sudah yang memamerkan peristiwa yang sama: mudik lebaran.

Aku tertegun sejenak dengan peristiwa budaya mudik lebaran ini. Bagaimana kita semua pada hakikatnya merindukan jalan pulang ke kampung halaman. Menengok kembali, tempat kita lahir dan tumbuh, sebelum akhirnya mendewasa dan memutuskan untuk meninggalkanya. Menengok kembali, bapak, ibu, dan saudara-saudara tempat bermuara segala kebahagiaan hidup, namun sering terlupan diantara kesibukan-kesibukan. Berjumpa kembali dengan teman sepermainan di masa kecil kita yang sudah tak terdengar kabar beritanya, dengan suasana yang jelas berbeda. Dulu masih anak-kanak, kini sudah pada punya anak-anak. Yang dulu dekil dan miskin, kini cantik dan berkelimpahan harta benda. Yang dulu muda dan gagah, kini sudah tua dan renta. Yang dulu ada dan berada, kini tinggal teringat nama dan telah tiada untuk selamanya. Yang semunya membuat kita tersadar, betapa cepat waktu terbang berlalu, mengganti peran dan peristiwa. Betapa perjalanan hidup kita hanya sementara dan sebentar saja. Sebelum akhirnya kita semua kembali pulang ke tempat asal muasal kita. Kepada siapa lagi, kalau bukan ke Tuhan Sang Maha Pencipta.

Di kampung halaman, kita kembali berjumpa dan bermaaf-maafan. Melepas rindu dan saling memberi kebaikan. Di kampung halaman kita menebar cinta kasih yang tak pernah memilih. Di kampung halaman, kita melebur-redam segala iri hati dan dendam. Di kampun halaman, kita belajar berhenti membanding-bandingkan. Di kampung halaman, kita kembali bukan untuk saling pamer kesuksesan. Bukankah, setiap kita adalah pemenang di jalan hidup kita masing-masing. Di kampung halaman, kita belajar kefanaan. Di kampung halaman, kita belajar merindukan jalan pulang. Pulang kembali kehadapan Tuhan. Selamat mudik di kampung halaman kawan! Mari saling memaafkan.

Kereta Sancaka Lebaran, Antara Surabaya-Yogyakarta
Kamis, 22 Juni 2017, 27 Ramadlan 1438 H.

Advertisements