Tag Archives: cerita mahasiswa PhD

Nikmatnya Sejumput Kuasa

… kekuasaan itu teramat sangat nikmat, lalu melenakan – katanya

castle

Ilustrasi: Kastil Penguasa, Ghent, Belgia

Banyak sekali orang berebut kuasa. Dari jaman purbakala, hingga jaman jagat maya seperti saat ini. Tak peduli, seluas apa lingkupnya, banyak orang ingin tampil sebagai penguasa. Sayangnya, meski terlalu banyak para penguasa, dunia sedikit sekali melahirkan pemimpin. Apa bedanya? yang pasti para pemimpin selalu dirindukan dan dicintai oleh yang dipimpinya. Dan hal sebaliknya, untuk para penguasa. Dibenci diam-diam oleh orang-orang yang dikuasainya.

Kadang aku bertanya-tanya, apa nikmatnya berkuasa. Aku baru paham setelah merenungi hal-hal sederhana. Seorang supir angkot yang berkuasa pada para penumpangnya. Guru kepada murid-muridnya. Dosen kepada mahasiswanya. Dokter kepada pasienya. Bahkan seorang kakak kepada adiknya.

Intinya, kuasa itu, meski sejumput begitu nikmat rasanya. Tak heran, di banyak tempat, orang saling sikut, untuk tampil sebagai penguasa. Sayangnya, sebagaimana lazimnya, sesuatu yang nikmat itu cenderung melenakan. Tak heran jika banyak penguasa yang jumawah. Sopir yang jumawa kepada para penumpangnya, dokter yang suka menakut-nakuti pasien nya, atau dosen yang kemaki kepada mahasiswanya. Banyak bukan?

Sebenarnya aku hanya ingin bercerita, curhat lebih tepatnya. Beban batin berada di bawah belenggu kuasa ndoro dosen ku selama empat tahun lebih di kota ini. Duh menyebalkan dan menguras emosi. Punya penguasa yang pelit respect kepada karya orang lain, dan ahli mencaci maki ketidaksempurnaan orang lain, itu benar-benar melelahkan jiwa.

Meski aku sudah lulus, semalam beliau berulah lagi. Kirim lebih sepuluh email ‘caci makian’ dalam hitungan beberapa menit. Ceritanya, artikel jurnal kita sudah pada tahap akhir publishing. Editor mengirimkan ‘proof’, untuk kita periksa terakhir kali sebelum dicetak, beberapa minggu yang lalu. Dan aku tak berani submit ‘semua ok’ tanpa acc ndoro dosen. Seperti biasa, tidak ada respon dari ndoro dosen. Sampai dapat outstanding reminder dari editor, jika dalam waktu tiga hari belum ada respon, maka dianggap tidak ada revisi lagi, dan jurnal langsung naik cetak.

Dan seperti biasa, ndoro dosen baru muncul dengan sejuta komplain, beberapa jam sebelum deadline berakhir. Seperti biasanya, beliau datang dengan sejuta permasalahan tanpa solusi, kenapa kok jadi begini begitu, kurang ini kurang itu, dan aku yang harus pontang panting menyelesaikan permasalahan dan pertanyaan beliau sendiri.

Untungnya, semalam aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tetapi bukanya terima kasih, beliau masih nggerundel kok bisa ya sebelum aku benerin, ‘proof’ nya begitu horrible? Dan beliau belum acc untuk submit juga, malah saya disuruh ngemail editor untuk minta perpanjangan waktu lagi. Preketek! 

Dalam hati pun aku nggerundel , HALLO elu ini nyari masalah apa solusi? HALLO elu ini udah dikasih waktu berminggu-minggu, kenapa baru mulai kerja hanya beberapa jam sebelum deadline? HALLO kalau dirimu sibuk, apakah kau pikir orang lain tidak punya kesibukan? HALLO apakah dirimu tidak pernah berfikir bahwa kata-kata mu itu begitu mengintimidasi dan melukai? HALLO ketika diriku selalu berusaha memberi respect kenapa dirimu tak pernah membeli respect balik sedikitpun? Padahal, dalam hal publikasi jurnal ini, akulah yang seharusnya paling berkuasa, sebenarnya aku bisa saja submit tanpa memberi tahu dia, aku hanya ingin memberi respect saja sama beliau.

Hehehe, dan taukah sampean peristiwa seperti ini bukan sekali, dua kali saja. Tetapi my tipical days selama empat tahun disini. Tetapi saya paham, dengan ‘menyiksa’ ku seperti itu beliau mendapatkan kenikmatan hidup. Nikmat sejumput kuasa. Untuk melupakan sejenak permasalahan-permasalahan hidup yang lain. Dan saya paham itu sudah watak dia, gawan bayi, bawaan orok.

Alhamdulilah, akhirnya minggu depan aku bebas dari belenggu kuasa itu. Meski dalam lisan kami berjanji untuk keep in touch dan tetap kerja sama kembali. Tetapi dalam hati, rasanya males banget. Buat apa sebuah hubungan dilanjutkan jika hanya menguras emosi, melelahkan jiwa. Aku jadi kangen sama ndoro dosen ku jaman kuliah master, yang begitu sangat baik dan pandai menghargai orang lain. Yang hingga sampai sampai sekarang pun, kami masih keep in touch dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa.

Wahai ndoro dosen, mohon maaf aku menggunjing mu lagi disini. Aku tahu ini tidak baik. Hanya saja, it is my way to self healing. Daripada aku gila tak tahan menahan tekanan batin yang terus mendera. Lagian hampir tak ada satupun yang tahu siapa dirimu bukan? Catatan ini juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri, untuk tidak jumawa ketika memiliki kuasa. Sekecil apapun, kuasa itu. Aku masih dan akan selalu ingat, bagaimana menderitanya batin, lelahnya jiwa ini dealing with you. Aku berjanji, tidak akan memperlakukan mahasiswa ku kelak seperti the way engkau memperlakukan diriku. Terima kasih dan Maafkan diriku.

 

 


Kapan Kita Ngopi Bareng Lagi?

… pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi – a random thought

20160825_074035

Ilustrasi : Secangkir Kopi

Duh Gusti!, waktu sudah bergulir hampir di penghujung tahun saja. November, sebentar lagi Desember dan berganti dengan tahun baru kembali, ada apa? Argh, biarlah, kehidupan senantiasa berdenyut dengan segenap simpanan rahasia-rahasianya. Tak perlu mengira-ngira, tak perlu menganalisa.

Menjelang akhir tahun begini, suhu di kota ku, semakin mendekati suhu nol derajat celcius saja. Kalau cerah, matahari muncul sebentar saja. Tetapi, lebih seringnya suasana mendung, langit tertutup mendung kelabu sepanjang hari. Terkadang hujan gerimis sepanjang hari. Dan malam pun semakin panjang dari hari kehari. Hari sudah gelap, saat pukul 16.00. Sungguh suasana yang sangat sendu, apalagi jika sampean sedang kesepian memendam rindu dendam pada orang-orang tersayang yang jauh disana. Malam-malam dingin, sunyi nan panjang, adalah waktu yang tepat untuk memperangkap diri dalam jebakan ratapan duka.

Biasanya, aku adalah penikmat kesunyian. Malam-malam panjang yang sunyi adalah waktu yang sempurna untuk asyik dengan dunia ku sendiri. Dunia mahasiswa PhD ilmu komputer, yang lebih asyik bercengkerama dengan baris-baris kode program komputer dan alam pikiranya sendiri ketimbang bercanda ria dengan anak-istri. Bahkan hingga dini hari. Tak berlebihan jika ada yang menyebut manusia nerd, yang nyaris kehilangan kemanusianya. Empat tahun sudah berlalu, masa-masa jahiliyah itu mestinya akan segera berlalu.

Belakangan, karena beban fikiran untuk menyelesiakan tesis selama bertahun-tahun itu sedikit berkurang. Aku mencoba, menghidupi hidup dengan sedikit berbeda. Diantaranya menghabiskan akhir pekan dengan keluarga di rumah, dari sebelum-sebelumnya yang lebih sering kuhabiskan di lab. juga. Dan salah satu yang kucoba untuk memulihkan rasa kemanusianku adalah minum kopi bareng teman.

Mungkin diantara sampean adalah salah satu pecandu warung kopi. Memesan, secangkir kopi, rokok, lalu larut dalam obrolan dan guyonan berjam-jam. Kebetulan aku sebaliknya, aku bukanlah penikmat obrolan di warung kopi. Sepertinya aku adalah teman ngobrol di warung kopi yang paling menyebalkan di dunia. Aku pernah berfikir bahwa ngopi bareng teman adalah kegiatan paling mubadzir di dunia, membuang-buang waktu saja. Kalau ingat itu, rasanya aku merasa paling bersalah dengan teman-teman yang dulu rajin mengajak ku ngopi bareng.

Tetapi, ceritanya sedikit berbeda dengan belakangan ini. Kebetulan di kampus ku ada sebuah tempat nongkrong paling asyik buat mahasiswa post-gradutae, namanya graduate centre. Nah, di tempat ini disediakn teh dan kopi gratis unlimited. Belakangan, aku cukup sering nongkrong di tempat ini, bahkan kadang hingga larut malam. Bukan kopi dan teh gratisnya yang bikin nikmat, tetapi obrolan dengan teman sambil menyeruput kopi panas lah yang membuat suasananya istimewa.

Rupanya, obrolan dengan bermuwajahah langsung itu tak tergantikan nuansanya dengan obrolan di whatsapp, facebook, twitter, instagram, atau aplikasi media sosial apa pun namanya. Rupanya, mendengar perspektif kehidupan dari orang lain itu begitu mengasyikkan. Ternyata, menyimak seorang kawan bertutur tentang pengalaman hidupnya itu begitu memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan. Berdiskusi, beradu argumentasi dengan kawan dari latar belakang keilmuwan yang berbeda itu jauh lebih menggairahkan dari diskusi di konferensi-konferensi internasional bidang keilmuwan yang pernah kuhadiri sebelumnya. Tak sadar, orang-orang sekolahan menganggap dunia ini bak rumah besar yang tersekat-sekat menjadi kamar-kamar, layaknya tembok-tembok fakultas di universitas. Padahal, sejatinya dunia nyata adalah rumah besar satu ruang yang dapat dimasuki dari banyak pintu, pintu pemahaman kita masing-masing terhadap dunia yang kompleks. Itulah sebabnya, mendengar perspektif orang lain itu sama pentingnya mematangkan perspektif diri terhadap dunia yang kompleks ini.

Diskusi organic sebagai manusia-manusia biasa tanpa kepentingan di `warung’ kopi memang tak ada tandingan. Sayang, seringnya kita terjebak pada kesibukan-kesibukan dan urusan-urusan sendiri-sendiri masing-masing. Bahkan jika kebetulan ada kesempatan, kadang kita lebih asyik bermain dengan gadget kita masing-masing. Kadang kita enggan bersinggungan jika tidak ada kepentingan. Pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi ini. Jadi, kapan kita ngopi bareng lagi? Kalau ada sumur di ladang, boleh kita numpang mandi. Kalau ada umur panjang, bolehlah kita ngopi bareng lagi.

 


Drama Kehidupan Mahasiswa PhD

… in academia we never use the word ‘problem’ call them challenges, issues, never problems – phdcomic/movie

phdcomics_movie

A Random Scene From PhDcomic: the movie

Beberapa hari belakangan ini sering mendengar cerita dari teman Indonesia tentang perjalanan study PhD. Mereka pada akhirnya sudah lulus, sehingga tanpa beban hati menceritakanya kepada saya. Hanya satu kata komentar saya perjalanan panjang selama 4-5 tahun atau bahkan lebih yang penuh drama. Iya drama yang menegangkan. Mereka semuanya mengaku pernah nyaris berputus asa di tengah jalan, merasa sudah setengah gila, dan memiliki hubungan dengan supervisor yang penuh lika-liku. Sekilas terkesan berlebihan, tetapi benar apa adanya. Tidak usah jauh-jauh saya pun pernah merasakanya, walau saya belum lulus, hehe.

Memang ada beberapa mahasiswa yang perjalanan PhD nya kayak kelas artis. Lancar jaya, tanpa hambatan dan pada akhirnya selesai tepat waktu sebelum tiga tahun, dan berakhir dengan anugerah gelar Doktor di depan namanya. Tetapi tidak sedikit yang perjalananya penuh drama, penuh cobaan dan ujian, tidak hanya yang berkaitan dengan hal akademik, tetapi dengan kehidupan pribadinya. Ada yang tidak cocok dengan supervisornya sampai ada yang supervisornya mendadak kabur dari kampus. Ada juga yang harus bekerja sebagai pembersih toilet untuk berthan hidup, karena beasiswanya sudah habis. Seru dan mendebarkan. Seandainya didokumentasikan dalam sebuah film, akan menjadi film drama yang menguras hati para penonton. Yah cerita mahasiswa PhD memang unik, tidak bisa dibanding-bandingkan. Karena soal ujian akhir mahasiswa PhD tidak pernah ada yang sama. Semuanya menjawab pertanyaan yang memang harus berbeda, dan belum pernah ada sebelumnya.

Mengenai drama perjalanan PhD ini, ada serial komik yang mendeskripsikan kehidupan mahasiswa PhD.  Bisa dilihat disini: PhDcomic . Indeed, it really describes what PhD Life is. Nah, serial komik ini juga sudah difilmkan. Bisa dilihat trailernya: disini atau disini. Di kampus saya sendiri, film ini akan ditonton bareng pada tanggal 12 November 2015. Buat teman-teman yang akan melanjutkan PhD, film ini layak untuk ditonton. Buat kita yang sedang atau sudah selesai PhD, menonton film ini akan menjadi seperti melihat kehidupan kita sendiri, dan tentunya seperti menertawakan kehidupan kita sendiri.

Yah, perjalanan sekolah PhD memang unik. Absolutely different, dengan level pendidikan sebelumnya. Saya yakin, perjalanan PhD adalah bab kehidupan yang sangat berkesan bahkan mungkin sangat menentukan untuk bab-bab kehidupan selanjutnya. PhD life memang tidak mudah dan penuh dengan masalah. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi sejauh ini, untuk menghadapi masalah itu kadang kita hanya cukup bersabar dan terus berjalan, karena pada akhirnya, di saat yang tepat permasalahan itu akan terurai dengan sendirinya. Dan semoga, dengan kesabaran itu, akan berbuah manis pada akhirnya.


Secangkir Beras Kencur Anget dan Segenap Kenangan Yang Meliputinya

Sabar dalam kehidupan itu seperti jamu, meskipun pahit tapi menyehatkan. -MutiaraBijaksana.Com

Secangkir Beras Kencur Anget

Ilustrasi : Secangkir Beras Kencur Anget

Pergantian dari musim panas ke musim gugur tahun ini rupanya kurang bersahabat dengan keberuntungan saya. Meskipun sudah tiga tahun hidup di negara empat musim, pergantian musim tahun ini berhasil mengagetkan tubuh saya dan merobohkan daya tahan tubuh saya. Akibatnya, badan meriang, batuk, pening, pilek, letih, lesu ber-‘konser ria’ menjajah tubuh saya berhari-hari. Tetapi semangat hidup mencoba tak menyerah hanya pada penyakit sejuta umat itu dengan beraktivitas seolah badan masih baik-baik saja.

Karenany, saya masih ke kampus juga seperti biasa, meskipun harus ditemani dengan seonggok tisu. Untuk menyeka ‘umbel’ sialan yang suka meleleh tanpa permisi dari hidung. ‘Sentrap – Sentrup’ si hidup jadi sering mampet. Berpadu dengan konser batuk yang juga susah dikontrol. Keduanya membuat saya merasa sangat berdosa dengan orang-orang di sekitar saya. Karena mereka pasti sangat jijik melihat saya.

Hari ini, ketika hari menjelang malam, penderitaan saya semakin sempurna, karena masih ditambah lagi si gusi yang tiba-tiba bengkat dan menimbulkan rasa sakit senat-senut sampai di kepala. Padahal sudah bertahun-tahun sudah tidak pernah merasakan yang namanya sakit gigi. Hati saya hanya bisa mbatin: ealah di saat belakangan saya semakin merasa sangat ‘sensi’ untuk menjawab pertanyaan yang makin sering ditanyakan orang-orang disekitar saya: ” Have you submitted your thesis? ” kenapa juga penyakit-penyakit ini muncul bersamaan. Tuhan, memang maha pandai membuat cerita hidup hambanya agar semakin dramatis, hehe.

Argh, pertanyaan itu sama menakutkanya dengan hantu di siang bolong. Saya sampai berani memarahi salah seorang teman, yang berkali-kali mengajukan pertanyaan yang sama. Mungkin begitu ya rasanya ketika seorang jomblo senior ditanya ” kapan nikah? “. Atau pasangan yang belum punya anak ditanya ” kapan nih punya momongan? “. Atau pasangan yang baru punya anak satu ditanya ” kapan nih punya adek?”. Haha, kadang memang susah membedakan antara sebuah perhatian dan sebuah sindiran.

Akhirnya hanya sampai jam 9 malam saya bertahan di kampus, 2 jam lebih awal dari hari-hari biasanya, saya pulang ke rumah. Berjalan menembuh angin malam yang sudah terasa sangat dingin menusuk tulang. Kedua lubang hidung langsung meleleh kembali.

Sesampai di rumah, melihat menu makan malam rasanya tidak berselera. Yaelah, hidung mampet. Tetapi ada yang istimewa di meja makan dari biasanya. Secangkir beras kencur anget. Kebetulan, kemaren Raras, adik angkatan saya waktu kuliah di ITS bersama dengan putri dan ibunya yang baru datang ‘sambang’ dari Indonesia, membawa oleh-oleh istimewa. Salah satunya kerupuk dan beras kencur.

Saya seduh secangkir beras kencur anget itu, dan saya sruput perlahan sambil duduk di sofa yang hangat. “Slurrrp”. Rasa manis, gurih, dan hangat secara perlahan menjalar dari mulut, tenggorokan, perut, dan menimbulkan sensasi hangat ke seluruh tubuh. Wah, jian rasanya, seperti dipeluk Malaikat Ridzuan. Kuulangi sruputan itu berkali-kali. Membuat saya sejenak terlupakan sensasi penyakit-penyakit yang sedang mendera badan.

Secangkir beras kencur hangat dari kota Solo Jawa Tengah itu pun, membawa alam pikiran saya terbang bersama kenangan-kenangan akan beras kencur yang kenikmatanya sudah bertahun-tahun tidak saya kecap itu. Beras kencur itu mengingatkan saya akan sosok Alm. Mbah Dok alias Nenek ketika saya masih kecil. Dulu, ada penjual jamu gendong yang berjalan bekilo-kilo meter keliling kampung, yang dua minggu sekali selalu mampir di emperan nenek saya.

Jangan bayangkan si penjual jamu yang masih muda dan seksi, penjual jamunya sudah tua dan tidak seksi. Tetapi tubuhnya masih terlihat segar dan subur. Ada beberapa jenis jamu yang ditawarkan, yang saya ingat hanya tiga: jamu beras kencur, jamu kunir asem, dan jamu cabe puyang. Jamu-jamu itu disimpan dalam botol plastik berwarna putih, seukuran botol bensin 1 literan. Si nenek biasanya memesan jamu cabe puyang yang warnanya hitam kecoklatan itu, dan pastinya pahit rasanya. Dan saya biasanya dibelikan jamu beras kencur yang berwarna putih agak kekuning-kuningan.

Jamunya masih hangat dan manis, biasanya dibungkus dalam kantong plastik gula pasir 1/4 kg, yang saya sedot dari salah satu ujung bawahnya. Baru kalau jamu beras kencurnya sudah habis, biasanya diganti dengan jamu kunir asem.

Yang saya kangeni dari kenangan itu adalah suasananya. Bagaimana suasana desa jaman nenek saya masih hidup itu masih sangat bersahabat. Hubungan antar sesama masih sangat hangat dan istimewa. Setiap rumah selalu terbuka lebar pintunya bagi siapa saja. Orang-orang juga biasa berunjung sana, dari rumah ke rumah seperti saudara sendiri. Orang-orang juga selalu punya banyak waktu untuk sekedar bercengkerama dengan sesama. Sekedar ngobrol ngalur ngidul, tentang kehidupan. Bahkan dengan orang asing, seperti penjual jamu tadi.

Suasana desa jaman sekarang tak ubahnya suasana di kota yang mulai angkuh dan kurang bersahabat. Perbaikan ekonomi membuat semakin banyak rumah yang bagus dan megah di desa, sayang rumah-rumah bagus itu dikelilingi beteng tembok yang tinggi, dan hampir selalu terlihat terkunci. Benteng-benteng rumah itu seolah menggambarkan bagaimana gaya hidup orang di dalamnya, yaitu keinginan hidup yang lebih individualistis, hidup nafsi-nafsi. Orang-orang desa pun terlihat lebih sibuk dengan urusanya sendiri-sendiri.

Entahlah, siapa yang mengajar mereka seperti itu? Mungkin Televisi, tontonan yang karena hampir setiap orang mampu membeli, sekarang menjadikan mereka semakin hidup sendiri-sendiri. Padahal, dahulu, ketika hanya satu dua orang yang mempu membeli, televisi menjadi media pemersatu dan pengakrab warga.

Untuk yang kesekian kali, hati kecil saya kembali bertanya: benarkah setiap kemajuan selalu menjadikan kehidupan yang lebih baik? Atau sebaliknya, harus ada sisi lain kehidupan yang harus dikorbankan untuk kemajuan itu?

Yang pasti, secangkir beras kencur hangat di malam itu, telah mengantarkan istirahat tidur saya dalam nyenyak yang meneduhkan. Terima kasih kawan, untuk secangkir beras kencur hangat nya! Terima kasih Tuhan atas setiap langkah perjalanan dalam titian takdir kehidupan mu yang begitu indah.


Para Suami Berhati Emas

meski pun cinta kadang menyakiti, hanya cinta yang bisa merundukkan ketinggian hati – a random thought.

suami_suami_hebat_satu

Ilustrasi : Punting di Sungai Cambridge, UK (2015)

Dari buku novel dan film Habibie dan Ainun, kita pernah membaca cerita cinta mbak Ainun menemani sang suami mas Habibie yang mencintainya, ketika berjuang menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman. Jutaan hati tersentuh oleh perjalanan cinta mereka yang penuh romantika dan ternyata tidak selalu mudah. Lewat buku novel 99 cahaya islam di langit Eropa, kita juga pernah disuguhi cerita perjalanan penuh makna nya mbak Hanum menemani sang suami tercinta, Mas Rangga, yang menjalani hari-hari penuh perjuanganya sebagai mahasiswa PhD di Austria. Jutaan mata pun dibuat terpesona oleh perjalanan mereka.

Tetapi, disini saya melihat cerita yang lebih dari pada itu. Para suami yang menemani istri-istri nya meraih impian untuk menuliskan gelar Doktor secara sah di samping namanya. Merekalah menurut saya suami-suami hebat luar biasa. Lelaki gentleman berhati emas.

Jika istri menemani suami, dalam relasi suami-istri pada konstruksi sosial masyarakat kita pada umumnya, adalah hal yang biasa bahkan sudah seharusnya sebagai guratan takdir mereka. Dalam filosofi Jawa, kodrat wanita, atau wanito adalah ‘wani ditoto’ , berani diatur, oleh siapa lagi kalau bukan suaminya. Jadi perempuan, harus bisa menjadi pakaian bagi laki-laki. Menghangatkan di musim hujan, meneduhkan saat kemarau. Istri harus bisa menjadi orang hebat di belakang layar para lelaki hebat.

Tetapi, diisni saya melihat para suami yang sangat setia menemani istri-istri mereka. Menemani sang istri meraih gelar akademik yang lebih tinggi dari mereka, mempersiapkan karir yang lebih cemerlang dari karir dirinya. Rela melepas banyak hal yang telah digenggamnya, hanya untuk menemani istri yang sering kali lebih sibuk sendiri dengan kehidupan dunia studinya. Disini, rela hanya sebagi sopir buat istri dan anak-anaknya pergi sekolah. Bahkan, tak segan mengisi kekosongan waktu menunggu dengan menjadi buruh pengosek WC.

Buat saya, sungguh mereka adalah para lelaki luar biasa. Yang tidak banyak lelaki termasuk diri saya mampu seperti mereka. Tidak banyak rasanya para lelaki yang bisa menundukkan egonya, merundukkan ketinggian hatinya untuk melihat istrinya lebih dari dirinya. Lebih sukses karirnya, lebih banyak penghasilanya, lebih pintar, lebih terkenal dan lebih besar pengaruhnya serta terlihat lebih hebat dari dirinya. Hanya sedikit suami yang berani mengalah untuk mendukung istrinya lebih sukses dari dirinya karena sadar kesuksesan istrinya adalah kesuksesan dirinya juga. Hanya para lelaki gentleman berhati emas yang bisa melakukanya. Cinta memang kadang menyakitkan, tetapi hanya cinta yang bisa merundukkan ketinggian hati-hati itu. Bersama cinta, mereka sungguh luar biasa.