Tag Archives: cerita mahasiswa indonesia di luar negeri

Bersepeda Ke Sekolah bersama Ayah

… salah satu momentum paling berarti sepanjang kehidupan seorang laki-laki adalah ketika ada ‘malaikat’ kecil yang memanggilnya: ” AYAH !!!” – A Random Thought

ilyas_sekolah_1

Get Ready: Bike to School

Bumi tak pernah lelah dan tak pernah terlambat, menuruti hukum Tuhan, mengelilingi Matahari. Dan bulan September pun kembali datang. Menandai berakhirnya liburan musim panas yang panjang dan kembalinya anak-anak ke sekolah. Back to School.

September ini, berarti saya sudah tiga tahun di UK. Dan ternyata saya belum lulus. Berarti target yang saya buat waktu baru memulai tiga tahun yang lalu dulu meleset. Hahaha. Waktunya menertawakan diri sendiri. Yah, jalan yang saya pikir halus mulus, ternyata terjal, banyak tanjakan, dan berliku. Tapi merutuki hidup tidak ada artinya, lebih baik, meminjam istilah Prof. Komaruddin Hidayat, merayakan festival kehidupan ini. Dan terus bergerak, menuju tujuan.

September ini, Ilyas, diusianya yang 4 tahun, memasuki sekolah yang baru. Setelah selama setahun kemaren sekolah di Nursery School, tahun ini Ilyas masuk di kelas Reception di Primary School. Sekolah yang membuat setiap anak di negara ini merasa sangat senang dan excited di dalamnya.

Kalau sebelumnya, sekolah nursery berada di belakang rumah dan hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki dari rumah. Untuk sekolah baru ini, berada cukup jauh dari rumah. Hampir 30 menit kalau ditempuh jalan kaki. Nama sekolah baru tersebut adalah Berridge Primary School.

ilyas_sekolah_3

Seragam Sekolah Baru

Sebenarnya, ada Primary School di belakang rumah, tetapi entah kenapa hasil registrasi online kemaren, dapat sekolah pilihan yang ke 4. Padahal saya memilih berdasarkan, jarak terdekat dari rumah. Pengalaman dari teman, agar dapat sekolah yang diinginkan sebaiknya diisi dua pilihan sekolah saja dari lima pilihan yang disediakan. Yah, sayang tahunya baru setelah ada pengumuman diterima.

Karena jarak dari rumah jauh, kali ini Ilyas harus dibonceng ayah naik sepeda. Sepeda ayah terpaksa harus dipasang baby seat di belakangnya. Hehe, Ilyas ternyata sangat menikmati dibonceng naik sepeda. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia menyanyi girang. Apalagi kalau jalanya menanjak atau menurun ekstrim. Faster, faster, Ayah ! Alhamdulilah, saya pun juga sangat menikmatinya. Kebersamaan dengan si kecil diatas sepeda seperti ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidup saya.

ilyas_sekolah_2

Fasten the seat belt and Go !

Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di gerbang sekolah. Hari ini, karena hari pertama masuk sekolah, para staf sekolah terlihat lebih sibuk dari biasanya. Untuk melayani orang tua seperti saya yang belum tahu dimana kelas anaknya. Dan juga melayani pembelian seragam sekolah.

Sekolah hanya menyediakan jumper, seharga £ 6.5 itu pun tidak wajib sebenarnya. Untuk seragamnya bisa di beli di super market terdekat. Di Asda, 2 buah seragam atasan harganya hanya £2.5 . Sementara bawahanya hanya £3. Harga yang sangat murah untuk ukuran di UK ini. Lebih murah dari harga kentang dan ayam goreng di warung-warung Pakistan.

Seorang Ibu guru British, yang cantik dan funky (bibirnya ditindik, dan anting2nya tidak konvensional), mengantarkan kami sampai di depan kelas. Ilyas ditempatkan di Kelas Holy. Di depan kelas, seorang ibu guru yang lain sudah menunggu menyambut kami. What’s your name? tanyanya ke Ilyas dengan ramah. Ilyas jawab Ilyas dengan malu-malu. Kemudian sebuah stiker bertuliskan Ilyas ditempelkan di jumper Ilyas sambil mempersilahkan kami masuk kelas.

ilyas_sekolah_4

Feedback from his Teachers in the first Week

Di dalam kelas ada tempat gantungan jaket yang ada gambar dan nama masing-masing murid. Untuk ilyas dapat gambar pelangi, yang mungkin waktu otak saya lagi error, saya sebut it is umbrella. Yang kemudian dikoreksi sama Ilyas, No Ayah, it is a rainbow !

Setelah menggantungkan jaket, setiap murid yang datang harus memindahkan batu-batu kecil ke dalam kantong kain. Di batu-batu kecil itu, terlukis nama masing-masing surid. Dan setiap murid harus bisa menemukan namanya, dan memindahkan ke kantong kain. Eits, meskipun Ilyas belum bisa membaca, ternyata dia bisa mengenali namanya.

Di dalam kelas, murid-murid duduk mengelilingi seorang Ibu guru yang duduk di sebuah kursi dan sedang berusaha menangkan seorang muridnya yang sedang menangis tersedu-sedu. Saya pun meninggalkan ruang kelas itu dan kembali di rumah.

Mulai usia 4 tahun ini, sistem pendidikan di Inggris mewajibkan murid berada di sekolah dari jam 9 pagi hingga jam setengah 4 sore. Entah mata pelajaran apa yang diajarkan untuk bocah-bocah kecil yang masih suka menangis itu, sehingga mereka harus belajar selama itu. Yang jelas, setiap murid mendapatkan makan siang gratis di sekolah. Sekolahnya pun 100% gratis tis. Dan tidak pakai ribet. Pendaftaran hanya mengisi formulir online yang tidak banyak isianya, dan tidak pakai upload dokumen apa pun. Sudah habis itu, langsung masuk sekolah. Indeed, menyenangkan sekali pelayanan publik di Trust Society di negara maju seperti Inggris ini.

***

Di hari yang sama, seorang kawan yang baru saja pulang dari Inggris dan kembali ke Indonesia, curhat tentang ribetnya ngurusi sekolah anak-anaknya kembali di Indonesia. Apalagi, hampir 5 tahun sudah terbiasa dengan pelayanan serba mudah di Inggris.

Sudah lama jadi tren di kalangan kelas ekonomi menengah ke atas di perkotaan bahkan di daerah, bahwa sekolah dasar negeri tidak lagi diminati. Sudah distempel tidak maju dan ketinggalan jaman oleh para orang tua yang berada. Sebagai pengganti adalah SD full day yang ada labelnya Islam Terpadu, atau nama-nama yang kemarab. Konon sistem pendidikanya lebih maju, lebih islami, lebih mengedepankan pendidikan karakter dan sebagainya. Sehingga para orang tua pun tak keberatan meskipun harus membayar puluhan juta untuk biaya pendaftaran dan tentu saja biaya bulanan yang juga pastinya sangat mahal.

Sang Kawan pun, karena juga dari kelas ‘islam borjuis’ tak mau setengah-setengah dalam hal pendidikan anak-anaknya. Sekolah sejenis yang katanya salah satu yang terbaik di kotanya pun menjadi pilihan. Tetapi, ternyata kata sang kawan sekolah tersebut tak sebagus yang dibayangkan. Selain ribet administrasinya, anak-anaknya yang terbiasa sekolah di Inggris merasa tidak nyaman di sekolah dan mengatakan sekolahnya tidak bagus.

” Ibu, the school is not good. The students are uncontrolled. They are fighting and shouting”. Begitu kira-kira curhatan anak-anak kepada emboknya. Yang membuat anak-anak menjadi takut pergi ke sekolah. Hal sangat berkebalikan ketika mereka sekolah di Inggris.

Yah, hidup di Indonesia memang selalu lebih Challenging ! mudah-mudahan kita terus mau berbenah.


Karena Selalu ada Alasan untuk Bersyukur

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Annahl:18)

syukur_edit

Ilustrasi: Mahasiswa Indonesia di Universitas Nottingham, Indonesian Festival 2013, Nottingham

Kawan, kapan sampean terakhir kali mendengar orang mengeluh? dan kapan sampean terakhir kali mendengar orang bersyukur? Setiap pagi buta saya selalu bertemu dengan dua perempuan di usia senjanya. Kerut-kerut diwajahnya, meyakinkan bila keduanya telah berusia lebih dari enam dasawarsa. Duh kasihan, batin saya, saat melihat keringat bercucuran dari keningnya. Diusia yang seharusnya mereka tinggal menikmati hasil jerih payah di usia muda bersama cucu-cucu tercinta, sepagi itu mereka harus memeras tenaga.

Yang pertama dari perempuan itu nyaris tidak mampu berbahasa Inggris sama sekali, perempuan yang kedua sangat lancar berbahasa Inggris, tetapi tak bisa membaca dan menulis sama sekali. Sungguh, sebuah ironi di negeri yang menjadi simbol kemajuan peradaban manusia saat ini. Lebih ironis lagi, karena perempuan kedua itu seorang muslimah berkerudung. Tetapi, rasa iba saya itu sering kali berubah menjadi kejengkelan. Hanya karena, tak pernah keluar kata-kata dari perempuan kedua itu kecuali keluh dan kesah. Selalu ada yang dia keluh kesahkan, bahkan diulang berulang-ulang.

Dahulu, selepas lulus sarjana. Saya sempat berpindah-pindah kerja. Di perusahaan swasta, BUMN, perusahaan asing, hingga di luar negeri. Saya heran, di setiap tempat tersebut selalu ada yang menjadi masalah, dan hampir setiap hari saya mendengar keluhan-keluhan. Sampai saya berkesimpulan, tidak ada tempat bekerja yang ideal di dunia ini. Dimana pun tempatnya, disitu pasti ada masalah. Dan dimana ada masalah, disanalah banyak orang berkeluh kesah.

Kawan, sering kali kita menyalahkan dan mengeluhkan hal-hal di sekitar kita. Padahal bisa jadi yang salah sebenarnya ada di dalam hati kita. Hati yang jauh dari syukur. Kapan hari, salah satu pembaca blog saya, meninggalkan komentar yang sangat dalam sekali. Saya terkesima, komentar itu saya baca berulang-ulang kali, karena berisi filsafat hidup yang begitu dalam buat saya.

Ternyata memang dengan bersyukur itu kita bisa mengembalikan semangat kita dalam hal apapun dalam kerjaan apapun. Karena syukur itu salah satu fondasi tauhid dan semangat itu hanya milik Allah. yang memberi semangat geh Gusti Allah, yang mencabut geh Gusti Allah juga yang mengembalikan kepada kita juga Gusti Allah.
Ketika kita melihat dan membandingkan yang dibawah kita dalam hal duniawi, pencapaian prestasi, kedudukan, nikmat dan harta, maka syukur itu akan datang dan semangat kembali merekah dan membuncah, insyaAllah. – R.N

Kawan, saat kita hendak mengeluh, cobalah tersenyum sejenak dan sebut-sebut nikmat Gusti Allah yang telah diberikan kepada sampean hari ini. Waamma bini’mati rabbika fahaddist (QS. Adduha:11 ). Karena yang Maha Memberi Hidup, senang jika hambanya menyebut-nyebut nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Asalkan tak ada niat untuk bersombong diri, tetapi sekedar tahaddus bini’mah, menceritakan nikmat dan mengekspresikan rasa senang dan syukur atas segera nikmat itu.

Betapa banyak engergi-energi positif yang akan membuncah, ketika disekitar kita dipenuhi oleh hati-hati, wajah-wajah, dan mulut-mulut yang penuh rasa syukur.


The Hilditch Way dan Harapan-Harapan Sederhana Itu

… karena saban manusia pasti punya harapan. Dan saban insan pasti punya keraguan terhadap tahun yang akan ditapaki.” – Djoko Suud.

welcome2015

Selamat Datang 2015, Wollaton Park, Nottingham, 26 Desember 2014

Hari ini, pagi pertama di tahun 2015. Aku berjalan perlahan, setapak demi setapak, menyusuri jalan pedistrian dari depan pintu rumah ku menuju gerbang kampus. Entah sudah berapa ratus kali aku menyusuri jalan yang sama ini. Seolah setiap aspal yang aku pijak, sudah akrab dengan injakan sepatu ku. Masih musim dingin, dan langit terlihat begitu kelabu, tetapi tidak hujan. Pohon-pohon masih kerontang meinggalkan dahan-dahan kering tanpa daun, air sungai masih segemericik seperti biasa. Suara riuh kawanan bebek, dan kicauan gerombolan burung-burung camar masih menyambut ku seperti biasa di jembatan sungai kecil itu. Penghubung jalan itu, The Hilditch Way. Jalan paling indah, teman diskusi penuh inspirasi, yang hanya bisa dilalui pejalan kaki seperti diriku.

hilditchWay

The Hilditch Way

Gemericik air sungai kecil itu, pepohonon khas pinggir sungai, bebek, burung camar, dan rerumputan hijau yang terbentang luas itu adalah teman setia menemani pejalanan pagi dan malam ku. Saksi-saksi bisu tentang perjalanan panjang ini. Hanya saja, bongkahan-bongkahan es yang membeku dari hujan salju seminggu yang lalu, pagi ini menghilang begitu saja tak berbekas. Seolah menafikan apa saja yang telah terjadi. Dan angin berhembus cukup kencang, menghempas dan meliuk-liukkan tubuhku, yang tiap hari terasa semakin ringan. Padahal semalam, aku masih harus merayap merambat karena takut tergelincir di antara bongkahan es yang sangat licin itu, dan  jatuh ke sungai di samping nya. Yah, terkadang layar kehidupan harus beganti begitu cepatnya.

theHilditchWay

The Hilditch Way: Sehari Sebelum Pergantian Tahun

Tentang Harapan-Harapan Itu

Bilangan tahun baru ini adalah 2015. Yea, angka ganjil, angka yang dicintai Tuhan, angka (mudah-mudahan) pembawa keberuntungan. Setiap pergantian tahun, saya selalu mengurangi angka tahun baru itu dengan angka tahun kelahiran ku. Haha, mungkin saya bukan satu-satunya di dunia ini yang merasa semakin tua. Semakin mendekat ke batas waktu hidup kita yang selalu menjadi misteri di dunia ini. Gerbang menuju misteri kehidupan selanjutnya, yang selalu meninggalkan setumpuk tanda tanya.

Aku tak mau  menengok kembali tahun lalu. Karena, terkadang aku lebih cenderung ke madzab yang menganggap masa lalu telah mati. Kemaren, masa lalu itu sudah terkubur di hari kematianya yang abadi. Yang tak perlu disesali, karena tidak mungkin akan hidup kembali.

Hanya ada setumpuk harapan untuk hari-hari yang akan datang. All in All, harapan ku adalah hanya bisa menguasai diriku. Untuk fokus menyelesaikan studi ku tahun ini. Sungguh benar kanjeng nabi Muhammad. Setelah kemenangan perang badar (perang terbesar melawan kaum kafir quraish, dalam sejarah islam. mungkin bisa dibandingkan dengan perang Bratayudha dalam epic Mahabarata), kanjeng nabi mengingatkan ada perang yang lebih besar dari itu, yaitu perang melawan nafs, perang melawan diri sendiri. Aku pun merasakanya, betapa sulitnya mengatur diriku sendiri.

dariAtasJembatanHilditchWay

Dari Atas Jembatan The Hilditch Way, Sehari Sebelum Pergantian Tahun 2015

Lebih spesifiknya, harapan ku tidak muluk-muluk. Harapan wajar, yang most likely, pernah diharapkan orang-orang dalam episode hidup seperti diriku. Selain sehat, bahagia dan sejahtera untuk semuanya, di tahun ketiga studiku ini, aku hanya ingin publish dua paper untuk Journal Information Sciences (yang impact factornya 5), selesai menulis thesis, dan tentunya lulus PhD sebelum akhir tahun ini. Dan saya ingin sekali berkunjung ke baitullah, mencium hajar aswad, sholat jamaah di masjidil haram, bersujud di masjid nabawi, dan berziarah di makam kanjeng nabi Muhammad SAW. Aku sungguh rindu kepada mu Ya Rosul. Sebuah rindu yang sungguh tak terperi.  Ya habib, salam ‘alaik… (Wahai kekasih, salam sejahtera untuk mu)

Walaupun untuk harapan yang terakhir ini, the money really does matter. Tetapi, sebagai orang yang percaya akan kehadiran kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, aku percaya adanya keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.

Itulah harapan-harapan sederhana ku. Harapan-harapan yang membuat ku keep on going. Harapan-harapan yang membuat hidup kita lebih hidup. Semoga Tuhan mengabulkan harapan-harapan kita, atau menggantinya dengan yang lebih baik, Yarabibil musthofa, balligh maqaasidana. Semoga tidak pernah ada penyesalan untuk hari kemaren, penuh percaya diri untuk menjalani hari ini, dan menatap hari-hari esok tanpa rasa takut, ibtasama lil hayat ! Selamat Tahun Baru 2015, kawan ! Semoha Membawa, kebahagiaan, kesuksesan dan keberkahan buat kita semua ! Allahumma Ammiin !


Catatan Pinggir Pengajian : Tumpengan dan Kampung Akhirat

… kalau mau piknik saja kita butuh persiapan, apalagi untuk perjalanan menuju kampung akhirat? – Mas H. Hasto W.

ceramah_pak_peni

Pembukaan Pengajian Oleh Ketua PeDLN ,Pak Peni Indrayuda, (Foto: @cakshon)

Hidup di luar negeri jauh dari keluarga terkadang membuat saya merasa kesendirian, dan terisolasi. Budaya, dan nilai kehidupan yang berbeda juga terkadang membuat hidup di luar negeri terkadang tidak mudah. Gaya hidup masyarakat barat yang sangat individualistis, tidak lagi menganggap penting ritual keagamaan, cenderung hidup bebas asal tidak mengganggu, sring kali membuat kita mudah tergoda. Jika tidak hati-hati, kita yang dari budaya timur dengan basis keagamaan yang pas-pasan, bisa terjerumus ikut-ikutan budaya party, seks bebas, minum minuman berakohol, naudzubillah min dzalik. Beruntung, saya di Nottingham ini memiliki majelis pengajian yang bisa saya sebut sebagai keluarga saya disini. Tempat yang membuat rasa kesendirian itu sirna, tempat dimana kita saling mengingatkan untuk tetap lurus di jalan Allah. Seperti oase di tengah-tengah padang pasir.

Pengajian Bulanan November 2014 kali ini terlaksana pada hari Sabtu, 22 November, 2014, bertempat di mushola Prayer Room, Kampus Suton Bonington, Universitas Nottingham. Alhamdulilah, mushola terasa penuh saking banyaknya peserta yang hadir. Acara dimulai pukul 1.00 pm dengan sholat duhur berjamaah.

Usai sholat Dhuhur, sambil menunggu ibu-ibu muslimat mempersiapkan hidangan makan siang, Pak Peni Indrayuda, ketua majelis PeDLN yang baru membuka acara dengan memanjatkan rasa syukur berkali-kali (eit, syukur kok disuruh manjat ya?). Kemudian, dilanjutkan dengan beberapa anggota pengajian yang baru. Alhamdulilah, luar biasa, bulan ini kita kedatangan 9 anggota baru.

Tumpeng PeDLN

Nasi Tumpeng

Tumpeng PeDLN By Mbak Bety (Foto: @cakshon)

Seperti pengajian sebelum-sebelumnya, acara yang paling ditunggu-tunggu adalah acara makan siang. Bagi orang-orang Indonesia di perantauan, masakan cita rasa asli Indonesia adalah menu yang selalu dirindukan. Kok ndilalah, pada bulan ini kok tema masakan ibu-ibu muslimah adalah masakan Ndeso. Ada nasi tumpeng, bubur ketan ireng, kelepon, ketan krawu, sego tiwul, kerupuk dan konco-konco nya. Ada juga bakso, empek-empek dan gado-gado. Wes pokoenggarai ngiler ! 

klepon_sego_tiwul

Masakan Ndeso : Klepon, Sego Tiwul, Bakso, Gado-Gado, Bakso, Dkk. (Foto: @cakshon)

 

Ohiyo,  asbaabun nuzul tumpeng kali ini adalah sebagai rasa syukur atas dua hal. Yang pertama, karena selesainya masa pengabdian ketua pengajian sebelumnya (Pak Irwan T) yang dilanjutkan oleh ketua pengajian yang baru (Pak Peni Indrayuda). Yang kedua, karena waktu KIBAR Autumn Gathering tanggal 24-25 Oktober lalu, pengajian lokaliti kita berhasil menjuarai beberapa kompetisi antar kelompok pengajian se UK. Di antaranya adalah juara pertama lomba video dokumentasi kegiatanHuebat yo Rek !

sertijab_tumpeng_rs

Pak Peni Menyerahkan Potongan Tumpeng Pertama Kepada Pak Irwan (Foto : @cakshon)

Saking nikmatnya menu makan siang pada pengajian bulan ini, sebagian peserta ada yang berandai-andai. Andai saja acara makan-makan gratis ini diadakan tiap minggu, pasti dunia terasa lebih indah.

ayok_makan_rsz

Antri, Jangan Rebutan Ya ! (Foto @cakshon)

 

Tausyiah : Perjalanan Menuju Kampung Akhirat

Ketika perut sudah terasa kenyang, barulah acara tausiah dimulai. Kali ini, yang ketiban sampur untuk memberi tausiah adalah Mas H. Hasto W. Topiknya cukup berat sebenarnya, tapi kebanyakan dari kita sering kali lupa dan sering kali mengabaikanya, yaitu tentang Perjalanan menuju ke kampung Akhirat.

mas_hasto_ceramah_rsz

Mas Hasto dan Jenggot nya, eh Ceramahnya ( Foto: @cakshon)

 

Yah, hidup memang tak lebih dari sebuah perjalanan kawan! Berawal dari alam kandungan yang sempit kita keluar menuju alam raya yang  luas indah terbentang ini. Kemudian, tujuan perjalanan kita selanjutnya tak lebih dari tempat yang sangat sempit, sepi sendiri,  lagi gelap kembali kawan, yaitu alam barzah. Setampan Cristian Sugiono, atau secantik Dian Sastro Wardoyo pun rasanya, tak ada seorang pun yang mau menemani di alam barzah. Kecuali belatung-belatung yang siap memakan jasad kita.

Dari alam barzah, tujuan perjalanan selanjutnya adalah Padang Mahsyar. Dimana seluruh makhluk dikumpulkan jadi satu untuk dimintai pertanggungjawabanya ketika hidup di dunia. Sebelum pada akhirnya kita memasuki rumah persinggahan terakhir kita sesunggunya, yaitu Syurga atau Neraka.

Mas Hasto mengingatkan pada kita semua, bahwasanya tidak hanya perbuatan dan ucapan kita saja yang akan dimintai pertanggung jawaban, tetapi juga krenteg hati kita juga akan dimintai pertanggungjawabanya. Karenanya, dalam menapaki setiap langkah perjalanan hidup di dunia ini kita perlu kehati-hatian, menjaga sikap, kata, dan hati kita. Pun, kita harus mempersiapkan dengan baik, untuk bekal perjalanan kita selanjutnya yaitu Alam barzah, alam kubur. Lahwong, mau piknik beberapa sajam saja, kita butuh berhari-hari mempersiapkanya. Apalagi untuk mempersiapkan piknik ke kampung akhirat, yang abadan abadin , selawas-lawase, binti selama-lamanya.

Kawan, kesibukan kita di dunia sering kali melupakan kita akan kampung akhirat. Indah dan lezatnya pesona kenikmatan dunia, rumah besar yang magrong-magrong, mobil mewah yang super nyaman, makanan yang super lezat, tempat hiburan yang fantastis bin amazing, gadis cantik rupawan, pemuda gagah tampan, sering kali melenakan ingatan kita dimana tujuan perjalanan kita selanjutnya setelah kehidupan dunia ini. Ingatlah, kuburan sempit adalah rumah kita selanjutnya, Sepi adalah teman kita selanjutnya, Amal kebaikan adalah kekayaan kita sebenarnya.

Saya jadi teringat, lirik pujian yang sering disenandungkan dari TOA masjid di kampung saya menjelang jamaah sholat Maghrib.

Ojo siro banget-banget, yen mu bungah ono dunyo ! Malaikat juru pati, lirak-lirik marang siro ! (baca: kamu jangan terlalu merasa bahagia di dunia, karena malaikat maut selalu mengintai kita)

Kawan, cukuplah mengingat kematian menjadi nasihat terbaik untuk kita. Semoga kita selalu ingat untuk mempersiapkan baik-baik bekal perjalanan kita selanjutnya. Semoga Syurga adalah tempat pemberhentian terakhir buat kita semua, tanpa melalui neraka. Allahumma Ammiin.

Siapa yang tidur itu hayo ? (Foto: @cakshon)

 

Pengajian yang semula senyap, karena banyak yang tertidur, tiba-tiba menjadi hidup kembali ketika Mas Hasto menyinggung masalah kenaikan BBM (Tuhkan, kalau ngomongin akhirat pada tidur tapi kalau ngomongin dunia langsung bangun lagi) dan tentang pemimpin. Menurut mas Hasto, selama pemimpin kita Muslim dan tidak mengajak kita berbuat kedzaliman, kita sebagai rakyat wajib hukumnya, sami’na wa ato’na dengan pemimpin kita. Kita harus, patuh dan taat dengan apapun kebijakan pemimpin kita, tidak boleh membangkang. Karuan saja, topik ini menjadi arguable di antara para peserta pengajian. Dan itulah indahnya perbedaan pendapat dan pandangan.

Perpisahan For Good

Pada pengajian kali ini, selain kedatangan 9 anggota keluarga baru. Kita juga akan kehilangan anggota setia pengajian. Buat Mbak Menik dan ketiga putra-putrinya, pengajian kali ini tidak terasa adalah pengajian terakhir yang diikuti selama berada di Nottingham. Bulan depan, mbak Menik dan putra-putrinya akan pulang for good kembali ke tanah air di Lampung. Dalam waktu dekat, Pak Masdar, suami tercinta, akan segera menyelesaikan studi PhD nya pada bidang Teknik Sipil di Universitas Nottingham. Mbak Menik ini terkenal dengan masakan empek-empek dan sup kepala ikan nya yang super dahsyat kelezatanya. (Wah, bakalan ndak ada yang masak empek-empek lagi neh, beroo !)

mbak_bety_mbak_menik_rsz

Mbak Menik dan Mbak Bety: Perpisahan (Foto: @cakshon)

 

 

Terlihat jelas, gurat kesedihan pada wajah mbak Menik ketika harus berteletubis dengan rekan-rakan muslimah lainya. Saya yakin, keberadaan majelis PeDLN ini sudah seperti keluarga sendiri dan memberi warna sendiri selama beliau dan keluarga selama berada di Nottingham. Selamat kembali ke tanah air, semoga sukses dan barokah selalu hidupnya buat mbak Menik, Pak masdar, dan sekeluarga. Allahumma Ammiin. Semoga tetap bisa merajut silaturrahim kembali, dimana pun berada.

Sekian kawan, sampai jumpa di Pengajian Bulanan Berikutnya !


mengeja sisi lain ayat -ayat kehidupan mahasiswa PhD: Masak, Makan dan Kumpul Bareng


*)Tempe Krupuk Ikan Asin Sambel Terasi

Terkadang kebahagian itu sangat sederhana. Tidak perlu mahal, apalagi mewah. Seperti minggu pagi hari ini, kebahagian hadir bersama sepiring nasi hangat, kerupuk, ikan asin, tempe dan sambel terasi. Setahun lebih saya kangen-kangenan dengan makanan sederhana ini sampai akhirnya seorang kawan yang baru datang dari Indonesia memupuskan kangen itu.

Usai sarapan dengan housemate, saya beringsut niat pergi ke kampus. Tetapi, begitu membuka pintu keluar, wah ternyata ada dua orang teman saya datang ke rumah. Duh Gusti, saya ternyata sedang pura-pura lupa kalau hari ini kami rencana mau masak-masak bareng. Akhirnya, acara pusing-pusing di Lab. mendadak berubah jadi acara masak-masak di rumah.

Sate Ayam dan Rawon Setan

Sebenarnya, ini bukanlah acara masak-masak yang pertama. Minimal, setiap ada mahasiwa Indonesia baru di wilayah Dunkirk, kami akan menyambutnya dengan masak, makan, dan kumpul bareng. Tapi, hari ini bisa jadi menjadi kenangan yang tidak akan mudah dilupakan oleh si Arif, teman paling dekat saya selama di Nottingham, yang akan meninggalkan Nottingham 2 minggu lagi. Hari ini juga bisa jadi menjadi kenangan yang yang selalu kenang oleh Mas Iswanto dan Mas Peni, karena hari ini untuk pertama kalinya mereka merasa tidak sendiri dan menemukan keluarga barunya disini. Lalu buat saya? Syalalalala… adalah pelipur lara dari duka PhD. *agak lebai sedikit gak apa-apa kan*

Tema masak kita hari ini adalah Sate ayam dan Rawon Setan. Untuk sate ayam, si Arif ternyata sudah nyiapin bumbu sate dan lontongnya. So kita tinggal membakar sate ayamnya. Pak Sukirno dan Pak Abdurrahman siap beraksi dengan jurus cincangnya, yang dalam sekejap mampu merubah dua kilogram daging ayam menjadi potongan kecil-kecil. Sementara, Pak Iswanto, dan Pak Peni sudah siap berlaga dengan jurus tusuk satenya. Sementara Arif dan saya menyiapkan racikan bumbu-bumbu nya. Karena tidak ada arang, acara bakar-bakar satenya dirubah dengan acara memanggang di dalam Oven listrik.

Sementara untuk Rawon Setan, kami hanya menggunakan bumbu instant. Setelah daging sapi kurban pemberian orang Arab dua minggu yang lalu itu dicincang kecil-kecil oleh duo Abah Kirno dan Gus Dur. Saya meramunya dengan bumbu instant, ditambah bawang goreng, daun jeruk dan daun serai. Kemudian direbus sampai empuk. Terakhir, ditutup dengan ritual menabur taoge, kecambah kacang hijau, yang sudah saya ternak beberapa hari sebelumnya.

Memang sih, kebanyakan koki itu cowok. Tetapi pada dasarnya, kaum laki-laki itu tidak suka memasak dan menggantungkan urusan itu kepada kaum hawa. Tetapi, pada saat-saat kita tidak memiliki pilihan. Kegiatan masak seperti ini bisa menjadi hiburan, tapi hiburan yang tidak selalu menghibur dan menyenangkan.

ngaji_06
*) Sate ayam dan Rawon

Akhirnya, berkat kekompakan kami. Sate ayam dan Rawon setan pun berhasil kami hidangkan dengan sempurna.

Setalah acara masak-masak berakhir. Acara selanjutnya adalah makan sambil ngobrol bareng. Sebenarnya kenikmatan terbesar dari makan bareng ini adalah bukan pada makananya. Tetapi terletak pada kebersamaanya. Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa makan bersama bukanlah sekedar aktivitas mengisi perut lapar menjadi perut kenyang. Melalui makan bersama, kita bisa memupuk jiwa egaliter, saling menghargai dan menghormati, rukun dan persaudaraan, asah asih dan asuh, serta mampu menghapus segala dendam dan kebencian. Mungkin itulah sebabnya, beberapa bangsa besar di dunia sangat menekankan budaya makan bersama ini.

ngaji_07
*) Siap Makan bersama

Kebersamaan kami tidak terhenti sampai di meja makan. Selesai makan, kami lanjutkan sholat ashar dan maghrib berjamaah. Kami berdoa bersama-sama untuk terkabulnya hajat dan cita-cita kami di tanah perantauan ini. Doa kali ini khususnya buat Arif yang sudah menyelesaikan M.Sc. nya di bidang Matematika semoga ilmunya bermanfaat dan barokah. Dan juga buat Mas Peni, Mas Iswanto, dan Mas Yodi yang baru saja memulai studinya di Universitas Nottingham. Semoga sukses studinya. Allahumma Ammiin.

ngaji_08
*) Setelah jamaah sholat bareng: Pak {Peni, Sukino, Sidik, Abdur, Arif, Shon, Yodi, Iswanto}

Berbagi pengalaman, obrolan santai dan guyononan kami tetap berlanjut hingga gelapnya malam semakin pekat. Sekilas hanyalah obrolan tanpa makna. Tetapi, saya selalu percaya bahwa ide-ide, inspirasi, semangat, cita-cita, dan perubahan besar itu tidak selalu harus muncul dari tempat-tempat dan orang-orang terhormat seperti di gedung DPR atau Kampus. Yang besar itu bisa jadi hanya berasal dari obrolan sederhana di rumah kosan seperti kami malam ini.

Di atas semuanya itu, buat saya, kebersamaan seperti ini adalah seperti setetes embun pelepas dahaga kerinduan akan kehadiran kehangatan keluarga di antara kami. Seperti air hujan ditengah-tengah kehidupan sosial dunia yang semakin gersang.