Tag Archives: cerita mahasiswa indonesia di Inggris

Berislam Secara ‘Kaffah’, Memahami Islam Secara Paripurna

Catatan Pinggir Pengajian PeDLN, Nottingham,24/01/2015

muslimat_pedln

Jamaah Muslimat PeDLN

Pengajian perdana di Tahun 2015 ini bertempat di ruang kapel, amenities building, Jubilee  Campus, Universitas Nottingham. Tempat ini akan menjadi tempat default untuk pelaksanaan pengajian bulanan rutin berikutnya. Menggantikan tempat sebelumnya di Prayer Room, Sutton Bonington Campus.

Pemateri pengajian kali ini adalah Mas Fifik (Mahasiswa PhD Geospatial engineering). Yang  mengajak kita semua merenungi kondisi umat Islam saat ini. Carut marutnya suasana politik di negara-negara timur tengah, gerakan Islam radikal seperti ISIS dan Boko Haram, serta kondisi sebagian sangat kecil yang mengatasnamakan Islam di dunia barat yang semakin memperkeruhIslamophobia seperti aksi teror di Sydney Australia dan Charlie Hebdo di Paris, Perancis belakangan ini.

Hal ini menyisakan tanda tanya pada diri kita sebagai seoang Muslim, Apa Sebenarnya yang tejadi? Ini karena orang di luar Islam atau karena kita orang Islam sendiri atau kedua-duanya?

Kita bisa saja berperasangka ini semua konspirasi orang-orang yang tidak senang Islam menjadi agama besar. Di tengah-tengah budaya barat yang meninggalkan agama mereka, Agama Islam tumbuh pesat di dunia barat sebagai agama yang perkembanganya paling pesat di dunia.

Tetapi, bukankah pelakunya umat Islam sendiri? Bukankah umat islam sendiri yang memperburuk citra Islam sendiri? Kita bisa saja masih ‘excuse’ argh itu kan orang Islam jadi-jadian. Bagaimanapun juga, tidak bijak rasanya mengait-ngaitkan terorisme dengan agama tertentu. Jelas, jika kita melihat fakta sejarah radikalisme dan terorisme bisa darimana saja.

Oleh karenanya, Mas Fifik mengajak kita untuk melihat pada diri kita seniri. Sebagai seorang muslim, sudahkah kita berislam secara kaffah, secara sempurna? Sudahkan kita memahami Islam kita secara paripurna? Bisa jadi kita sangat ahli dalam bidang ilmu keduniawian kita, tetapi sebaliknya sangat awam terhadap Islam. Karenanya kita harus terus mau belajar agar bisa berislam secara penuh, sebagaimana perintah Allah SWT:

“Wahai orang-orang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu
ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyatabagimu”. [QS. AlBaqarah: 208].

bapak2_pedln

Jamaah Muslimiin PeDLN

Ataukah kita hanya berislam sebatas kewajiban menjalankan ritual keberagamaan saja? Sebagai bahan renungan, penelitian Rehman Scheherazade, How Islamic are Islamic Countries? yang diterbitkan padaGlobal Economy Journal pada tahun 2010, menempatkan negara-negara Islam pada posisi bawah. Dari 208 negara yang diteliti, posisi tebaik diraih oleh Malaysia pada posisi 38, sementara Arab Saudi dan Indonesia pada posisi 131 dan 140. Tiga negara paling Islami menurut penelitian tersebut adalah: New Zealand, Luxembourg, dan Irlandia. Penelitian ini mengukur kesesuaian praktik di negara yang diteliti dengan prinsip-pinsip Islam dalam bidangeconomics, legal and governance, human and political rights, and international relations.

Tentu saja pada penelitian ini masih ada ruang kritik, tapi kalau kita refleksikan dengan kondisi negara kita, sebagai negara Islam terbesar di dunia, kita bisa melihat sendiri bagaimana korupsi, ketidakadilan dalam ekonomi, ketidakjujuran, fakir miskin yang masih terlantarkan nasibnya oleh negara, rasanya Penelitian tesebut sangat masuk akal. Apalagi kalau kita pernah hidup di negara-negara yang masuk peringkat 10 besar pada penelitian tersebut (Inggris salah satunya), kita bisa merasakan sendiri bagaimana pendidikan dan kesehatan dasar gratis buat semua orang, bahkan pengangguran pun digaji negara. Serta bagaimana kesantunan dan kejujuran mereka. Rasanya, hasil penelitian itu sangat masuk akal. Kecuali kalau yang dijadikan ukuran adalah berapa banyak orang yang sholat, puasa, dan haji, sepertinya Indonesia sangat berpeluang menempati posisi nomer wahid.

Karenanya, Mas Fifik mengajak kita semua untuk lebih instropeksi dan menempa diri kita sendiri. Mengimbangi keimanan dengan ilmu yang cukup, dengan terus menerus mau belajar. Kegagalan memahami jihad yang benar  misalnya, bisa berakibat fatal. Seperti kasus Charlie Hebdo, alih-alih mau membela Islam, yang ada justru mencoreng Islam. Tidak hanya menempa akal kita, sebagai pribadi muslim yang ideal kita juga perlu menempa jasad (dengan olah raga misalnya) dan hati kita. Mengutip Aa Gym, agar berhasil semuanya itu harus 3M: 1.Mulaidaridirisendiri, 2.Mulaidari yang terkecil, 3.Mulaidarisekarang.

farewell_masfifik

Pak Peni, Mas Fifik, Mbak Noorida

Tidak ketinggalan, seperti biasa pada pengajian kali ini juga ada pengajian khusus muslimah dengan Ustadzah Shanti Fitriani, dan TPA untuk anak-anak bersama ustadzah Ade.

brithday_raras

HBD Raras!

Pengajian kali ini juga menjadi pengajian terakhir Buat Mas Fifik Sekeluarga yang akan segera kembali Indonesia ‘for good’. Dan salah satu jamaah, Raras (Mahasiswa PhD IT), sedang berulang tahun. Semoga Barokah buat semuanya ! Barokah buat kita semuanya. Allahumma Ammiin. Terima kasih untuk kehadiran semuanya yang membawa kehangatan kebersamaan buat semua.


The Hilditch Way dan Harapan-Harapan Sederhana Itu

… karena saban manusia pasti punya harapan. Dan saban insan pasti punya keraguan terhadap tahun yang akan ditapaki.” – Djoko Suud.

welcome2015

Selamat Datang 2015, Wollaton Park, Nottingham, 26 Desember 2014

Hari ini, pagi pertama di tahun 2015. Aku berjalan perlahan, setapak demi setapak, menyusuri jalan pedistrian dari depan pintu rumah ku menuju gerbang kampus. Entah sudah berapa ratus kali aku menyusuri jalan yang sama ini. Seolah setiap aspal yang aku pijak, sudah akrab dengan injakan sepatu ku. Masih musim dingin, dan langit terlihat begitu kelabu, tetapi tidak hujan. Pohon-pohon masih kerontang meinggalkan dahan-dahan kering tanpa daun, air sungai masih segemericik seperti biasa. Suara riuh kawanan bebek, dan kicauan gerombolan burung-burung camar masih menyambut ku seperti biasa di jembatan sungai kecil itu. Penghubung jalan itu, The Hilditch Way. Jalan paling indah, teman diskusi penuh inspirasi, yang hanya bisa dilalui pejalan kaki seperti diriku.

hilditchWay

The Hilditch Way

Gemericik air sungai kecil itu, pepohonon khas pinggir sungai, bebek, burung camar, dan rerumputan hijau yang terbentang luas itu adalah teman setia menemani pejalanan pagi dan malam ku. Saksi-saksi bisu tentang perjalanan panjang ini. Hanya saja, bongkahan-bongkahan es yang membeku dari hujan salju seminggu yang lalu, pagi ini menghilang begitu saja tak berbekas. Seolah menafikan apa saja yang telah terjadi. Dan angin berhembus cukup kencang, menghempas dan meliuk-liukkan tubuhku, yang tiap hari terasa semakin ringan. Padahal semalam, aku masih harus merayap merambat karena takut tergelincir di antara bongkahan es yang sangat licin itu, dan  jatuh ke sungai di samping nya. Yah, terkadang layar kehidupan harus beganti begitu cepatnya.

theHilditchWay

The Hilditch Way: Sehari Sebelum Pergantian Tahun

Tentang Harapan-Harapan Itu

Bilangan tahun baru ini adalah 2015. Yea, angka ganjil, angka yang dicintai Tuhan, angka (mudah-mudahan) pembawa keberuntungan. Setiap pergantian tahun, saya selalu mengurangi angka tahun baru itu dengan angka tahun kelahiran ku. Haha, mungkin saya bukan satu-satunya di dunia ini yang merasa semakin tua. Semakin mendekat ke batas waktu hidup kita yang selalu menjadi misteri di dunia ini. Gerbang menuju misteri kehidupan selanjutnya, yang selalu meninggalkan setumpuk tanda tanya.

Aku tak mau  menengok kembali tahun lalu. Karena, terkadang aku lebih cenderung ke madzab yang menganggap masa lalu telah mati. Kemaren, masa lalu itu sudah terkubur di hari kematianya yang abadi. Yang tak perlu disesali, karena tidak mungkin akan hidup kembali.

Hanya ada setumpuk harapan untuk hari-hari yang akan datang. All in All, harapan ku adalah hanya bisa menguasai diriku. Untuk fokus menyelesaikan studi ku tahun ini. Sungguh benar kanjeng nabi Muhammad. Setelah kemenangan perang badar (perang terbesar melawan kaum kafir quraish, dalam sejarah islam. mungkin bisa dibandingkan dengan perang Bratayudha dalam epic Mahabarata), kanjeng nabi mengingatkan ada perang yang lebih besar dari itu, yaitu perang melawan nafs, perang melawan diri sendiri. Aku pun merasakanya, betapa sulitnya mengatur diriku sendiri.

dariAtasJembatanHilditchWay

Dari Atas Jembatan The Hilditch Way, Sehari Sebelum Pergantian Tahun 2015

Lebih spesifiknya, harapan ku tidak muluk-muluk. Harapan wajar, yang most likely, pernah diharapkan orang-orang dalam episode hidup seperti diriku. Selain sehat, bahagia dan sejahtera untuk semuanya, di tahun ketiga studiku ini, aku hanya ingin publish dua paper untuk Journal Information Sciences (yang impact factornya 5), selesai menulis thesis, dan tentunya lulus PhD sebelum akhir tahun ini. Dan saya ingin sekali berkunjung ke baitullah, mencium hajar aswad, sholat jamaah di masjidil haram, bersujud di masjid nabawi, dan berziarah di makam kanjeng nabi Muhammad SAW. Aku sungguh rindu kepada mu Ya Rosul. Sebuah rindu yang sungguh tak terperi.  Ya habib, salam ‘alaik… (Wahai kekasih, salam sejahtera untuk mu)

Walaupun untuk harapan yang terakhir ini, the money really does matter. Tetapi, sebagai orang yang percaya akan kehadiran kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, aku percaya adanya keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.

Itulah harapan-harapan sederhana ku. Harapan-harapan yang membuat ku keep on going. Harapan-harapan yang membuat hidup kita lebih hidup. Semoga Tuhan mengabulkan harapan-harapan kita, atau menggantinya dengan yang lebih baik, Yarabibil musthofa, balligh maqaasidana. Semoga tidak pernah ada penyesalan untuk hari kemaren, penuh percaya diri untuk menjalani hari ini, dan menatap hari-hari esok tanpa rasa takut, ibtasama lil hayat ! Selamat Tahun Baru 2015, kawan ! Semoha Membawa, kebahagiaan, kesuksesan dan keberkahan buat kita semua ! Allahumma Ammiin !


Catatan Pinggir Pengajian : Tumpengan dan Kampung Akhirat

… kalau mau piknik saja kita butuh persiapan, apalagi untuk perjalanan menuju kampung akhirat? – Mas H. Hasto W.

ceramah_pak_peni

Pembukaan Pengajian Oleh Ketua PeDLN ,Pak Peni Indrayuda, (Foto: @cakshon)

Hidup di luar negeri jauh dari keluarga terkadang membuat saya merasa kesendirian, dan terisolasi. Budaya, dan nilai kehidupan yang berbeda juga terkadang membuat hidup di luar negeri terkadang tidak mudah. Gaya hidup masyarakat barat yang sangat individualistis, tidak lagi menganggap penting ritual keagamaan, cenderung hidup bebas asal tidak mengganggu, sring kali membuat kita mudah tergoda. Jika tidak hati-hati, kita yang dari budaya timur dengan basis keagamaan yang pas-pasan, bisa terjerumus ikut-ikutan budaya party, seks bebas, minum minuman berakohol, naudzubillah min dzalik. Beruntung, saya di Nottingham ini memiliki majelis pengajian yang bisa saya sebut sebagai keluarga saya disini. Tempat yang membuat rasa kesendirian itu sirna, tempat dimana kita saling mengingatkan untuk tetap lurus di jalan Allah. Seperti oase di tengah-tengah padang pasir.

Pengajian Bulanan November 2014 kali ini terlaksana pada hari Sabtu, 22 November, 2014, bertempat di mushola Prayer Room, Kampus Suton Bonington, Universitas Nottingham. Alhamdulilah, mushola terasa penuh saking banyaknya peserta yang hadir. Acara dimulai pukul 1.00 pm dengan sholat duhur berjamaah.

Usai sholat Dhuhur, sambil menunggu ibu-ibu muslimat mempersiapkan hidangan makan siang, Pak Peni Indrayuda, ketua majelis PeDLN yang baru membuka acara dengan memanjatkan rasa syukur berkali-kali (eit, syukur kok disuruh manjat ya?). Kemudian, dilanjutkan dengan beberapa anggota pengajian yang baru. Alhamdulilah, luar biasa, bulan ini kita kedatangan 9 anggota baru.

Tumpeng PeDLN

Nasi Tumpeng

Tumpeng PeDLN By Mbak Bety (Foto: @cakshon)

Seperti pengajian sebelum-sebelumnya, acara yang paling ditunggu-tunggu adalah acara makan siang. Bagi orang-orang Indonesia di perantauan, masakan cita rasa asli Indonesia adalah menu yang selalu dirindukan. Kok ndilalah, pada bulan ini kok tema masakan ibu-ibu muslimah adalah masakan Ndeso. Ada nasi tumpeng, bubur ketan ireng, kelepon, ketan krawu, sego tiwul, kerupuk dan konco-konco nya. Ada juga bakso, empek-empek dan gado-gado. Wes pokoenggarai ngiler ! 

klepon_sego_tiwul

Masakan Ndeso : Klepon, Sego Tiwul, Bakso, Gado-Gado, Bakso, Dkk. (Foto: @cakshon)

 

Ohiyo,  asbaabun nuzul tumpeng kali ini adalah sebagai rasa syukur atas dua hal. Yang pertama, karena selesainya masa pengabdian ketua pengajian sebelumnya (Pak Irwan T) yang dilanjutkan oleh ketua pengajian yang baru (Pak Peni Indrayuda). Yang kedua, karena waktu KIBAR Autumn Gathering tanggal 24-25 Oktober lalu, pengajian lokaliti kita berhasil menjuarai beberapa kompetisi antar kelompok pengajian se UK. Di antaranya adalah juara pertama lomba video dokumentasi kegiatanHuebat yo Rek !

sertijab_tumpeng_rs

Pak Peni Menyerahkan Potongan Tumpeng Pertama Kepada Pak Irwan (Foto : @cakshon)

Saking nikmatnya menu makan siang pada pengajian bulan ini, sebagian peserta ada yang berandai-andai. Andai saja acara makan-makan gratis ini diadakan tiap minggu, pasti dunia terasa lebih indah.

ayok_makan_rsz

Antri, Jangan Rebutan Ya ! (Foto @cakshon)

 

Tausyiah : Perjalanan Menuju Kampung Akhirat

Ketika perut sudah terasa kenyang, barulah acara tausiah dimulai. Kali ini, yang ketiban sampur untuk memberi tausiah adalah Mas H. Hasto W. Topiknya cukup berat sebenarnya, tapi kebanyakan dari kita sering kali lupa dan sering kali mengabaikanya, yaitu tentang Perjalanan menuju ke kampung Akhirat.

mas_hasto_ceramah_rsz

Mas Hasto dan Jenggot nya, eh Ceramahnya ( Foto: @cakshon)

 

Yah, hidup memang tak lebih dari sebuah perjalanan kawan! Berawal dari alam kandungan yang sempit kita keluar menuju alam raya yang  luas indah terbentang ini. Kemudian, tujuan perjalanan kita selanjutnya tak lebih dari tempat yang sangat sempit, sepi sendiri,  lagi gelap kembali kawan, yaitu alam barzah. Setampan Cristian Sugiono, atau secantik Dian Sastro Wardoyo pun rasanya, tak ada seorang pun yang mau menemani di alam barzah. Kecuali belatung-belatung yang siap memakan jasad kita.

Dari alam barzah, tujuan perjalanan selanjutnya adalah Padang Mahsyar. Dimana seluruh makhluk dikumpulkan jadi satu untuk dimintai pertanggungjawabanya ketika hidup di dunia. Sebelum pada akhirnya kita memasuki rumah persinggahan terakhir kita sesunggunya, yaitu Syurga atau Neraka.

Mas Hasto mengingatkan pada kita semua, bahwasanya tidak hanya perbuatan dan ucapan kita saja yang akan dimintai pertanggung jawaban, tetapi juga krenteg hati kita juga akan dimintai pertanggungjawabanya. Karenanya, dalam menapaki setiap langkah perjalanan hidup di dunia ini kita perlu kehati-hatian, menjaga sikap, kata, dan hati kita. Pun, kita harus mempersiapkan dengan baik, untuk bekal perjalanan kita selanjutnya yaitu Alam barzah, alam kubur. Lahwong, mau piknik beberapa sajam saja, kita butuh berhari-hari mempersiapkanya. Apalagi untuk mempersiapkan piknik ke kampung akhirat, yang abadan abadin , selawas-lawase, binti selama-lamanya.

Kawan, kesibukan kita di dunia sering kali melupakan kita akan kampung akhirat. Indah dan lezatnya pesona kenikmatan dunia, rumah besar yang magrong-magrong, mobil mewah yang super nyaman, makanan yang super lezat, tempat hiburan yang fantastis bin amazing, gadis cantik rupawan, pemuda gagah tampan, sering kali melenakan ingatan kita dimana tujuan perjalanan kita selanjutnya setelah kehidupan dunia ini. Ingatlah, kuburan sempit adalah rumah kita selanjutnya, Sepi adalah teman kita selanjutnya, Amal kebaikan adalah kekayaan kita sebenarnya.

Saya jadi teringat, lirik pujian yang sering disenandungkan dari TOA masjid di kampung saya menjelang jamaah sholat Maghrib.

Ojo siro banget-banget, yen mu bungah ono dunyo ! Malaikat juru pati, lirak-lirik marang siro ! (baca: kamu jangan terlalu merasa bahagia di dunia, karena malaikat maut selalu mengintai kita)

Kawan, cukuplah mengingat kematian menjadi nasihat terbaik untuk kita. Semoga kita selalu ingat untuk mempersiapkan baik-baik bekal perjalanan kita selanjutnya. Semoga Syurga adalah tempat pemberhentian terakhir buat kita semua, tanpa melalui neraka. Allahumma Ammiin.

Siapa yang tidur itu hayo ? (Foto: @cakshon)

 

Pengajian yang semula senyap, karena banyak yang tertidur, tiba-tiba menjadi hidup kembali ketika Mas Hasto menyinggung masalah kenaikan BBM (Tuhkan, kalau ngomongin akhirat pada tidur tapi kalau ngomongin dunia langsung bangun lagi) dan tentang pemimpin. Menurut mas Hasto, selama pemimpin kita Muslim dan tidak mengajak kita berbuat kedzaliman, kita sebagai rakyat wajib hukumnya, sami’na wa ato’na dengan pemimpin kita. Kita harus, patuh dan taat dengan apapun kebijakan pemimpin kita, tidak boleh membangkang. Karuan saja, topik ini menjadi arguable di antara para peserta pengajian. Dan itulah indahnya perbedaan pendapat dan pandangan.

Perpisahan For Good

Pada pengajian kali ini, selain kedatangan 9 anggota keluarga baru. Kita juga akan kehilangan anggota setia pengajian. Buat Mbak Menik dan ketiga putra-putrinya, pengajian kali ini tidak terasa adalah pengajian terakhir yang diikuti selama berada di Nottingham. Bulan depan, mbak Menik dan putra-putrinya akan pulang for good kembali ke tanah air di Lampung. Dalam waktu dekat, Pak Masdar, suami tercinta, akan segera menyelesaikan studi PhD nya pada bidang Teknik Sipil di Universitas Nottingham. Mbak Menik ini terkenal dengan masakan empek-empek dan sup kepala ikan nya yang super dahsyat kelezatanya. (Wah, bakalan ndak ada yang masak empek-empek lagi neh, beroo !)

mbak_bety_mbak_menik_rsz

Mbak Menik dan Mbak Bety: Perpisahan (Foto: @cakshon)

 

 

Terlihat jelas, gurat kesedihan pada wajah mbak Menik ketika harus berteletubis dengan rekan-rakan muslimah lainya. Saya yakin, keberadaan majelis PeDLN ini sudah seperti keluarga sendiri dan memberi warna sendiri selama beliau dan keluarga selama berada di Nottingham. Selamat kembali ke tanah air, semoga sukses dan barokah selalu hidupnya buat mbak Menik, Pak masdar, dan sekeluarga. Allahumma Ammiin. Semoga tetap bisa merajut silaturrahim kembali, dimana pun berada.

Sekian kawan, sampai jumpa di Pengajian Bulanan Berikutnya !


mengeja sisi lain ayat -ayat kehidupan mahasiswa PhD: Masak, Makan dan Kumpul Bareng


*)Tempe Krupuk Ikan Asin Sambel Terasi

Terkadang kebahagian itu sangat sederhana. Tidak perlu mahal, apalagi mewah. Seperti minggu pagi hari ini, kebahagian hadir bersama sepiring nasi hangat, kerupuk, ikan asin, tempe dan sambel terasi. Setahun lebih saya kangen-kangenan dengan makanan sederhana ini sampai akhirnya seorang kawan yang baru datang dari Indonesia memupuskan kangen itu.

Usai sarapan dengan housemate, saya beringsut niat pergi ke kampus. Tetapi, begitu membuka pintu keluar, wah ternyata ada dua orang teman saya datang ke rumah. Duh Gusti, saya ternyata sedang pura-pura lupa kalau hari ini kami rencana mau masak-masak bareng. Akhirnya, acara pusing-pusing di Lab. mendadak berubah jadi acara masak-masak di rumah.

Sate Ayam dan Rawon Setan

Sebenarnya, ini bukanlah acara masak-masak yang pertama. Minimal, setiap ada mahasiwa Indonesia baru di wilayah Dunkirk, kami akan menyambutnya dengan masak, makan, dan kumpul bareng. Tapi, hari ini bisa jadi menjadi kenangan yang tidak akan mudah dilupakan oleh si Arif, teman paling dekat saya selama di Nottingham, yang akan meninggalkan Nottingham 2 minggu lagi. Hari ini juga bisa jadi menjadi kenangan yang yang selalu kenang oleh Mas Iswanto dan Mas Peni, karena hari ini untuk pertama kalinya mereka merasa tidak sendiri dan menemukan keluarga barunya disini. Lalu buat saya? Syalalalala… adalah pelipur lara dari duka PhD. *agak lebai sedikit gak apa-apa kan*

Tema masak kita hari ini adalah Sate ayam dan Rawon Setan. Untuk sate ayam, si Arif ternyata sudah nyiapin bumbu sate dan lontongnya. So kita tinggal membakar sate ayamnya. Pak Sukirno dan Pak Abdurrahman siap beraksi dengan jurus cincangnya, yang dalam sekejap mampu merubah dua kilogram daging ayam menjadi potongan kecil-kecil. Sementara, Pak Iswanto, dan Pak Peni sudah siap berlaga dengan jurus tusuk satenya. Sementara Arif dan saya menyiapkan racikan bumbu-bumbu nya. Karena tidak ada arang, acara bakar-bakar satenya dirubah dengan acara memanggang di dalam Oven listrik.

Sementara untuk Rawon Setan, kami hanya menggunakan bumbu instant. Setelah daging sapi kurban pemberian orang Arab dua minggu yang lalu itu dicincang kecil-kecil oleh duo Abah Kirno dan Gus Dur. Saya meramunya dengan bumbu instant, ditambah bawang goreng, daun jeruk dan daun serai. Kemudian direbus sampai empuk. Terakhir, ditutup dengan ritual menabur taoge, kecambah kacang hijau, yang sudah saya ternak beberapa hari sebelumnya.

Memang sih, kebanyakan koki itu cowok. Tetapi pada dasarnya, kaum laki-laki itu tidak suka memasak dan menggantungkan urusan itu kepada kaum hawa. Tetapi, pada saat-saat kita tidak memiliki pilihan. Kegiatan masak seperti ini bisa menjadi hiburan, tapi hiburan yang tidak selalu menghibur dan menyenangkan.

ngaji_06
*) Sate ayam dan Rawon

Akhirnya, berkat kekompakan kami. Sate ayam dan Rawon setan pun berhasil kami hidangkan dengan sempurna.

Setalah acara masak-masak berakhir. Acara selanjutnya adalah makan sambil ngobrol bareng. Sebenarnya kenikmatan terbesar dari makan bareng ini adalah bukan pada makananya. Tetapi terletak pada kebersamaanya. Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa makan bersama bukanlah sekedar aktivitas mengisi perut lapar menjadi perut kenyang. Melalui makan bersama, kita bisa memupuk jiwa egaliter, saling menghargai dan menghormati, rukun dan persaudaraan, asah asih dan asuh, serta mampu menghapus segala dendam dan kebencian. Mungkin itulah sebabnya, beberapa bangsa besar di dunia sangat menekankan budaya makan bersama ini.

ngaji_07
*) Siap Makan bersama

Kebersamaan kami tidak terhenti sampai di meja makan. Selesai makan, kami lanjutkan sholat ashar dan maghrib berjamaah. Kami berdoa bersama-sama untuk terkabulnya hajat dan cita-cita kami di tanah perantauan ini. Doa kali ini khususnya buat Arif yang sudah menyelesaikan M.Sc. nya di bidang Matematika semoga ilmunya bermanfaat dan barokah. Dan juga buat Mas Peni, Mas Iswanto, dan Mas Yodi yang baru saja memulai studinya di Universitas Nottingham. Semoga sukses studinya. Allahumma Ammiin.

ngaji_08
*) Setelah jamaah sholat bareng: Pak {Peni, Sukino, Sidik, Abdur, Arif, Shon, Yodi, Iswanto}

Berbagi pengalaman, obrolan santai dan guyononan kami tetap berlanjut hingga gelapnya malam semakin pekat. Sekilas hanyalah obrolan tanpa makna. Tetapi, saya selalu percaya bahwa ide-ide, inspirasi, semangat, cita-cita, dan perubahan besar itu tidak selalu harus muncul dari tempat-tempat dan orang-orang terhormat seperti di gedung DPR atau Kampus. Yang besar itu bisa jadi hanya berasal dari obrolan sederhana di rumah kosan seperti kami malam ini.

Di atas semuanya itu, buat saya, kebersamaan seperti ini adalah seperti setetes embun pelepas dahaga kerinduan akan kehadiran kehangatan keluarga di antara kami. Seperti air hujan ditengah-tengah kehidupan sosial dunia yang semakin gersang.


mengeja sisi lain ayat -ayat kehidupan mahasiswa PhD: Pengajian

ngaji_01
*) Di dalam Masjid Umar, Hyson Green

Sekarang waktunya saya lupakan sejenak kehidupan akademik PhD saya. Hidup rasanya terlalu sempit jika hanya berkutat dengan makalah jurnal, penelitian, algoritma, struktur data, coding, laboratorium, seminar, tutorial, dan sanak keluarganya. Akhir pekan ini, tak seperti akhir pekan biasanya yang biasa saya habiskan di Lab, saya mangkir sejenak dari kehidupan kampus. Untuk mengeja ayat-ayat kehidupan sisi lain dari persinggahan hidup sementara saya di Nottingham.

Pengajian Bulanan PeDLN

ngaji_04
*)Perjalanan Menuju Lokasi Pengajian, via Jubilee Campus

Hari Sabtu saya menghadiri pengajian bulanan komunitas Muslim yang tinggal di Derby, Loughborough, dan Nottingham , yang kami singkat jadi PeDLN. Tidak seperti bulan-bulan biasanya yang diadakan di Mushola kampus Sutton Bonington, bulan ini pengajian diadakan di rumah keluarga Bapak Handaru, di kawasan Hyson Green. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang sudah bekerja dan menetap cukup lama di Inggris.

ngaji_02
*) Suasana Pengajian

Selain bisa bersosialisasi dengan sesama warga Indonesia dan menikmati makanan khas Indonesia, Pengajian kali ini cukup Istimewa. Karena, 7 orang diantara kami baru saja menunaikan ibadah haji berangkat dari Inggris yang ternyata sekali daftar bisa langsung berangkat tidak perlu menunggu bertahun-tahun seperti di Indonesia. Mereka adalah: Mbak Shanti dan Pak Irwan, Mbak Mar dan Mas Hasto, Pak Masdar dan Istri, dan Mbak Arif. Sungguh, betapa bahagianya mereka, selain pulang membawa gelar PhD nantinya, mereka juga pulang membawa gelar Haji dan Hajah. Semoga saja, tahun depan Gusti Allah menakdirkan saya dan istri bisa menyusul. Allahumma Ammiin.

Selain dapet cipratan ilmu dan pengalaman spiritual selama haji, kami dapet oleh-oleh berupa kopiah. Saya senangnya bukan main. Sebagai mantan santri hidup saya tidak bisa lepas dari yang namanya kopiah dan tasbih. Sayangnya, kopiah dan tasbih saya yang saya bawa dari Indonesia entah kemana tidak tau rimbanya sejak beberapa hari tinggal di Nottingham. Alhamdulilah, hari ini akhirnya saya mendapatkan yang baru asli dari Mekah pula.

Dalam ceramahnya, Bapak Dr. Hadi Susanto, kyai NU yang jadi dosen di Universitas Nottingham itu, membawa kita menyusuri lorong-lorong keteladanan salah satu manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi yaitu, Nabi Ibrahim A.S. Saking mulianya, kita selalu menyebut namanya di setiap sholat-sholat kita.

Setelah pengajian dan ber ramah-tamah santai dengan jamaah, saya bersama teman-teman yang tiggal di Dunkirk, berbelanja di Hyson Green yang merupakan pusat Muslim di kota Nottingham ini. Bersyukur sekali, kami bisa mendapatkan daging halal cukup banyak dan mudah di wilayah ini. Kami juga sempat sholat Ashar dan Maghrib jamaah di masjid Umar yang berada di kawasan Hyson Green juga.

ngaji_03
*) Usai Belanja di Depan Syarif and Son, Hyson Green (Fiqi, P. Peni, P. Iswanto, P. Sukirno, Arif, Cak Shon, Abdurrahman)

Ada cerita menarik dalam perjalanan kami pulang. Dari belakang, tiba-tiba ada orang bule, british, naik sepeda berteriak-teriak kemudian turun menghadiri kami:

“Assalamu alaikum ya Habibi… Where are you from?  I am English. are you from Philiphine”

Kami serempak menjawab: “From Indonesia”. Sambil menntun sepedanya, si Bule itu mengikuti perjalanan kami. Dia tanpa diminta tiba-tiba dengan logat british Dia melafalkan surat Alfatehah, walaupun dengan terbata-bata. Seolah-olah dia ingin menunjukkan kalau dia mengenal Islam dan bisa berbahasa Arab. Sayangnya, sepertinya dia kelihatan habis mabuk, sehingga kesan nya seperti orang gila. Mungkin karena kami semua memakai kopiah, Dia sangat yakin kalau kami adalah Muslim. Rupanya dia pernah tinggal di Mesir cukup lama, dan memuji Mesir sebagai negara terbaik di dunia. Setelah mengucapkan salam ya habibi…. si Bule itu ngacir meninggalkan kami dengan mengayuh sepedanya kembali.

ngaji_05
*)Mengabadikan Musim Gugur

Perjalanan hari ini adalah salah satu perjalanan kaki terpanjang selama saya di Nottingham. Sudah lama saya tidak berjalan kaki sejauh itu. Kami berangkat dan pulang ke rumah kembali hanya dengan berjalan kaki yang memakan waktu total lebih dari satu setengah jam. Bahkan dengan membawa belanjaan yang cukup berat. Untungnya, banyaknya teman dan suasana musim gugur yang romantis mampu mengikis rasa lelah kami. Hingga pukul 08.00 malam kami sampai

Buat saya pribadi, silaturrahim dalam pengajian bulanan  ini ibarat oase di tengah-tengah kegersangan kehidupan sosial di kota Nottingham, Inggris ini.