Selamat belajar nak penuh semangat. Rajinlah selalu tentu kau dapat. Hormati gurumu sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman – Lirik lagu Pergi Belajar

ayah_dan_anak_lelakinya
ILustarasi : Father and His Son (Edinburgh, Skotlandia)

Di setiap pagi yang selalu kurindukan, aku melihat binar cahaya mata yang terang benderang. Di setiap pagi yang selalu ku nantikan, ku saksikan kecerian dan kebahagian yang melimpah ruah. Di setiap pagi yang ku tunggu, ku lihat derai semangat yang menggebu-gebu. Pagi yang selalu menjadi pagi terindah mu. Pagi, menjelang berangkat ke sekolah mu.

Argh, nang, anak lanang ku ! Aku tak pernah tahu pasti apa yang terjadi di sekolah mu. Tetapi semangat dan keceriaan mu itu telah melukiskan bahwa sekolah mu adalah adalah taman syurga terindah yang selalu kau rindukan. Syurga yang tak pernah sejenak pun rela kau lewatkan.

Argh, andai saja kau tularkan semangat mu itu. Kau pinjamkan keceriaan mu itu. Aku tak perlu menekuk muka, hatiku pun tak perlu menahan lara pada setiap langkah-langkah kaki ku ke kampus. Kampus yang kadang membuatku merasa setengah gila.

Tetapi, setidaknya ada semangat mu yang selalu mengingatkan ku. Semangatlah belajar selalu ! Jadikanlah sekolah menjadi syurga mu selamanya. Meski di sekolah tanpa jendela. Oh dear, just shed your own light !

Advertisements

… salah satu momentum paling berarti sepanjang kehidupan seorang laki-laki adalah ketika ada ‘malaikat’ kecil yang memanggilnya: ” AYAH !!!” – A Random Thought

ilyas_sekolah_1
Get Ready: Bike to School

Bumi tak pernah lelah dan tak pernah terlambat, menuruti hukum Tuhan, mengelilingi Matahari. Dan bulan September pun kembali datang. Menandai berakhirnya liburan musim panas yang panjang dan kembalinya anak-anak ke sekolah. Back to School.

September ini, berarti saya sudah tiga tahun di UK. Dan ternyata saya belum lulus. Berarti target yang saya buat waktu baru memulai tiga tahun yang lalu dulu meleset. Hahaha. Waktunya menertawakan diri sendiri. Yah, jalan yang saya pikir halus mulus, ternyata terjal, banyak tanjakan, dan berliku. Tapi merutuki hidup tidak ada artinya, lebih baik, meminjam istilah Prof. Komaruddin Hidayat, merayakan festival kehidupan ini. Dan terus bergerak, menuju tujuan.

September ini, Ilyas, diusianya yang 4 tahun, memasuki sekolah yang baru. Setelah selama setahun kemaren sekolah di Nursery School, tahun ini Ilyas masuk di kelas Reception di Primary School. Sekolah yang membuat setiap anak di negara ini merasa sangat senang dan excited di dalamnya.

Kalau sebelumnya, sekolah nursery berada di belakang rumah dan hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki dari rumah. Untuk sekolah baru ini, berada cukup jauh dari rumah. Hampir 30 menit kalau ditempuh jalan kaki. Nama sekolah baru tersebut adalah Berridge Primary School.

ilyas_sekolah_3
Seragam Sekolah Baru

Sebenarnya, ada Primary School di belakang rumah, tetapi entah kenapa hasil registrasi online kemaren, dapat sekolah pilihan yang ke 4. Padahal saya memilih berdasarkan, jarak terdekat dari rumah. Pengalaman dari teman, agar dapat sekolah yang diinginkan sebaiknya diisi dua pilihan sekolah saja dari lima pilihan yang disediakan. Yah, sayang tahunya baru setelah ada pengumuman diterima.

Karena jarak dari rumah jauh, kali ini Ilyas harus dibonceng ayah naik sepeda. Sepeda ayah terpaksa harus dipasang baby seat di belakangnya. Hehe, Ilyas ternyata sangat menikmati dibonceng naik sepeda. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia menyanyi girang. Apalagi kalau jalanya menanjak atau menurun ekstrim. Faster, faster, Ayah ! Alhamdulilah, saya pun juga sangat menikmatinya. Kebersamaan dengan si kecil diatas sepeda seperti ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidup saya.

ilyas_sekolah_2
Fasten the seat belt and Go !

Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di gerbang sekolah. Hari ini, karena hari pertama masuk sekolah, para staf sekolah terlihat lebih sibuk dari biasanya. Untuk melayani orang tua seperti saya yang belum tahu dimana kelas anaknya. Dan juga melayani pembelian seragam sekolah.

Sekolah hanya menyediakan jumper, seharga £ 6.5 itu pun tidak wajib sebenarnya. Untuk seragamnya bisa di beli di super market terdekat. Di Asda, 2 buah seragam atasan harganya hanya £2.5 . Sementara bawahanya hanya £3. Harga yang sangat murah untuk ukuran di UK ini. Lebih murah dari harga kentang dan ayam goreng di warung-warung Pakistan.

Seorang Ibu guru British, yang cantik dan funky (bibirnya ditindik, dan anting2nya tidak konvensional), mengantarkan kami sampai di depan kelas. Ilyas ditempatkan di Kelas Holy. Di depan kelas, seorang ibu guru yang lain sudah menunggu menyambut kami. What’s your name? tanyanya ke Ilyas dengan ramah. Ilyas jawab Ilyas dengan malu-malu. Kemudian sebuah stiker bertuliskan Ilyas ditempelkan di jumper Ilyas sambil mempersilahkan kami masuk kelas.

ilyas_sekolah_4
Feedback from his Teachers in the first Week

Di dalam kelas ada tempat gantungan jaket yang ada gambar dan nama masing-masing murid. Untuk ilyas dapat gambar pelangi, yang mungkin waktu otak saya lagi error, saya sebut it is umbrella. Yang kemudian dikoreksi sama Ilyas, No Ayah, it is a rainbow !

Setelah menggantungkan jaket, setiap murid yang datang harus memindahkan batu-batu kecil ke dalam kantong kain. Di batu-batu kecil itu, terlukis nama masing-masing surid. Dan setiap murid harus bisa menemukan namanya, dan memindahkan ke kantong kain. Eits, meskipun Ilyas belum bisa membaca, ternyata dia bisa mengenali namanya.

Di dalam kelas, murid-murid duduk mengelilingi seorang Ibu guru yang duduk di sebuah kursi dan sedang berusaha menangkan seorang muridnya yang sedang menangis tersedu-sedu. Saya pun meninggalkan ruang kelas itu dan kembali di rumah.

Mulai usia 4 tahun ini, sistem pendidikan di Inggris mewajibkan murid berada di sekolah dari jam 9 pagi hingga jam setengah 4 sore. Entah mata pelajaran apa yang diajarkan untuk bocah-bocah kecil yang masih suka menangis itu, sehingga mereka harus belajar selama itu. Yang jelas, setiap murid mendapatkan makan siang gratis di sekolah. Sekolahnya pun 100% gratis tis. Dan tidak pakai ribet. Pendaftaran hanya mengisi formulir online yang tidak banyak isianya, dan tidak pakai upload dokumen apa pun. Sudah habis itu, langsung masuk sekolah. Indeed, menyenangkan sekali pelayanan publik di Trust Society di negara maju seperti Inggris ini.

***

Di hari yang sama, seorang kawan yang baru saja pulang dari Inggris dan kembali ke Indonesia, curhat tentang ribetnya ngurusi sekolah anak-anaknya kembali di Indonesia. Apalagi, hampir 5 tahun sudah terbiasa dengan pelayanan serba mudah di Inggris.

Sudah lama jadi tren di kalangan kelas ekonomi menengah ke atas di perkotaan bahkan di daerah, bahwa sekolah dasar negeri tidak lagi diminati. Sudah distempel tidak maju dan ketinggalan jaman oleh para orang tua yang berada. Sebagai pengganti adalah SD full day yang ada labelnya Islam Terpadu, atau nama-nama yang kemarab. Konon sistem pendidikanya lebih maju, lebih islami, lebih mengedepankan pendidikan karakter dan sebagainya. Sehingga para orang tua pun tak keberatan meskipun harus membayar puluhan juta untuk biaya pendaftaran dan tentu saja biaya bulanan yang juga pastinya sangat mahal.

Sang Kawan pun, karena juga dari kelas ‘islam borjuis’ tak mau setengah-setengah dalam hal pendidikan anak-anaknya. Sekolah sejenis yang katanya salah satu yang terbaik di kotanya pun menjadi pilihan. Tetapi, ternyata kata sang kawan sekolah tersebut tak sebagus yang dibayangkan. Selain ribet administrasinya, anak-anaknya yang terbiasa sekolah di Inggris merasa tidak nyaman di sekolah dan mengatakan sekolahnya tidak bagus.

” Ibu, the school is not good. The students are uncontrolled. They are fighting and shouting”. Begitu kira-kira curhatan anak-anak kepada emboknya. Yang membuat anak-anak menjadi takut pergi ke sekolah. Hal sangat berkebalikan ketika mereka sekolah di Inggris.

Yah, hidup di Indonesia memang selalu lebih Challenging ! mudah-mudahan kita terus mau berbenah.

….. kuingin satu, satu ceria. Pengantarku tidur biarku terlelap. Mimpikan hal yang indah. Lelah hati tertutupi. Dongeng sebelum tidur. Ceritakan yang indah biarku terlelap. Dongeng sebelum tidur. Mimpikan diriku mimpikan yang indah – Wayang

Dongeng_Sebelum_Tidur
Ilyas, Anak Lanang ku, Sedang Mendongeng

Salah satu anugerah Gusti Allah yang paling saya syukuri dalam hidup saya saat ini adalah takdir menjadi seorang ayah dan memiliki sedikit waktu untuk menghayati peran tersebut. Saya tahu, banyak saudara saya disana yang ditakdirkan menjadi suami, tetepi Allah belum menakdirkan menjadi seorang Ayah. Saya sadar, banyak saudara saya disana yang ditakdirkan menjadi seorang ayah, tetapi tidak banyak yang memiliki sedikit waktu untuk menghayati peran menjadi seorang ayah. Maklum, umumnya orang-orang pada usia saat ini, sedang semangat-semangatnya meniti karir, dan menumpuk-numpuk kekayaan sebanyak-banyak nya. Sebelum akhirnya tergapai sebuah ‘kemapanan’ semu pada usia 40 tahun. Angka usia, dimana katanya hidup yang sebenarnya dimulai. Argh, entahlah persetan dengan ‘kemapanan’ itu. Bukankah setiap orang berhak mendefinisikan dengan definisi  yang berbeda pada ‘kemapanan’ itu?

Saya merasa bukanlah seorang Ayah yang baik, tetapi saya sungguh beruntung memiliki seorang ‘ Anak Lanang’ yang baik. Hari-hari bukan di akhir pekan, nyaris saya dan anak lanang ku hanya bisa meluangkan waktu bersama saat kami melepas lelah di tempat tidur, ketika malam telah teramat larut, dan ruh kami berada di alam yang berbeda. Saya harus sudah terbangun ketika dia masih terlelap dalam tidur, bertemu sebentar beberapa menit sebelum saya pergi ke kampus dan anak lanang ku pergi ke sekolah. Dan kami bertemu kembali ketika hari sudah gelap.

Tetapi, ada saat yang paling sangat saya nikmati, yaitu saat diantara saya tiba di rumah dari kampus dan saat kami terlelap dalam tidur. Saya biasanya sampai di rumah hampir jam 10 malam. Lelah pikiran seharian berkutat dengan riset di kampus, pegal kaki mengayuh sepeda,  dan dingin nya udara malam rasanya hilang ketika saya membuka pintu rumah, dan terdengar suara penuh gairah:

” Ayah … !!  Ayah … !! Ayah … !!!” Dak dak dak dak Dak …

Suara langkah kaki anak lanang ku berlari menuruni anak tangga dari lantai dua menuju ruang tamu menyambut ku dengan kegembiraan yang berlimpah ruah. Seperti peretemuan sepasang kekasih setelah sekian lama berpisah. Saya memeluk nya erat, dan menghujani kedua pipi dan keningnya dengan ciuman-ciuman. Anak lanang saya minta digendong lalu diayun-ayunkan dalam posisi tengkurap, sambil mengepak-ngepak kan kedua tanganya layaknya seekor burung yang sedang terbang di langit.

Ayah.. ! I want to fly high like a bird .

Kemudian anak lanangku dengan sabar menungguiku duduk di sofa menikmati makan malam lezat yang telah disiapkan istriku tersayang sambil mendengarkan anak lanangku ‘ngoceh’ random stories. Hingga saya selesai makan, sikat gigi, wudlu, dan sholat. Dan tibalah saat yang dia tunggu-tunggu: STORY TIME. Dalam posisi ‘mapan’ tidur, di antara dekapan ayah dan bundanya, anak lanangku bersiap mendengarkankan saya membacakan dongeng baru dari tumpukan buku-buku cerita yang dia pinjam bersama bundanya dari perpustakaan komunitas terdekat.

Dongeng_Sebelum_Tidur_2
Buku Dongeng Untuk Anak Lanang ku

Saya berusaha membacanya, kata demi kata, dengan aksen British yang saya coba paksa-paksa kan, tetapi tidak pernah bisa, karena logat bahasa Jawa yang sudah begitu kuat membentuk lidah dan pita suara ini. Ilyas, anak lanangku terlihat begitu menghayati setiap halaman dari buku cerita penuh gambar yang sedang saya baca. Seolah, alam pikiranya dalam sekejap sudah terlarut dalam dunia imajinasi cerita yang  saya bacakan. Saya selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan spontanitas untuk memastikan bahwa dia paham dengan alur cerita pada dongeng sekaligus mengetes daya ingat nya. Luar biasa, dia hampir selalu mampu menjawab pertanyaan saya dengan sempurna.

Selanjutnya setelah saya selesai membaca dongeng, giliran anak lanangku yang mendongeng a random story yang ada di pikiranya. Dongeng yang selalu dimulai dengan kata: One Day …. dan diakhiri dengan kata …. The End. Dan saya tidak pernah paham alur cerita dongeng diantara dua kata itu.

One Day. Butterflies. &&&&  Birds. $$$$ !!!. ***&&&&&. Fly High. ***&&&!! Splash. Splash. Splash. Splash. !$$%% Up. **&&&& . The End”.

Selesai sudah ritual menjelang tidur itu, yang diakhiri dengan tawa kita bersama. Sebelum akhirnya berganti dengan kesunyian, ketika kami terhanyut dalam lelap ketika malam sudah semakin larut. Aku selalu berdoa untuk kebaikan kita semua dalam lelap ku dan lelap mu.

Maafkan ayah mu nak ! tak banyak waktu yang bisa kuhabiskan berdua dengan mu ! Tetapi aku ingin kau tahu suatu saat nanti. Betapa bahagianya diri ku menghabiskan setiap detik waktu bersama mu. Aku ingin kau tahu, betapa aku sangat bersyukur kepada Gusti Allah, atas kehadiran mu mengisi hari-hari ku. Dalam setiap dongeng sebelum lelap ku dan lelap mu.  Kuselipkan rapalan doa-doa kebaikan untuk mu. Dalam setiap dongeng sebelum lelap ku dan lelap mu. Ingin aku katakan:  I love You, Anak Lanang ku !

… biarlah cerita hidup mengalir begitu saja, mengikuti alur yang tak pernah kita tahu dengan pasti ujung dan pangkalnya. Penuh misteri, penuh dengan kejutan-kejutan. Ada tangis pilu menggores perih luka di hati. Ada tawa yang meledak-ledak. Ada keindahan simfoni cinta lembut membelai jiwa.  Ada kerinduan menyayat  batin. Ada amarah dan dendam menyesakkan dada. Rasanya, kita tak perlu menerka-nerka jawaban untuk setiap teka-teki kehidupan. Tak perlu terlalu mengatur setiap inchi detail hidup kita. Buat apa? Jika ada Dia yang Maha Tahu dan Maha Mengatur kehidupan kita.

Satu Senja di York
Ayah dan Anak Lelakinya: Satu Senja di York

Rasanya, waktu berlari begitu cepat. Seolah, tak pernah memberi kesempatan kepada mereka yang menunggu. Terkadang, aku hanya bisa mengumpat, dan mengutuk diri sendiri yang tak pernah tersadar untuk berlari cepat mengejar angan dan mimpi yang bergelut dengan sang waktu. Tapi, terkadang akal sehat ku bertanya: buat apa aku terlalu ngoyo mengejar capaian hidup, jika aku tak pernah tahu bagaimana menikmatinya?

Memasuki usia 30-an dan menjadi seorang ayah. Ini adalah fase kehidupan yang baru saja aku jalani. Di fase ini, mungkin setiap orang mengartikan nya berbeda-beda. Mungkin, buat sebagian besar orang adalah fase bekerja keras untuk menumpuk-menumpuk kekayaan, membangun titian emas untuk sebuah kursi empuk jabatan dan kedudukan, serta sejumput kekuasaan. Dan pada akhirnya untuk sebuah arti kemapanan di usia 40-an. Yah, kata orang hidup dimulai diusia 40 tahun.

ilyas_playground
Ilyas di Nottingham. Trent University

Lalu, buat aku? Argh entahlah. Yang jelas, ketakutan akan gelapnya masa depan ketika usia 20-an perlahan menghilang. Yah, ketakutan tidak mendapatkan kehidupan yang layak, ketakutan siapa jodoh ku, dan ketakutan-ketakutan lumrah diusia labil itu perlahan pergi. Tetapi, ternyata sekarang muncul lagi ketakutan-ketakutan yang lain. Argh, entahlah, haruskah hidup berlari dari ketakutan yang satu ke ketakutan yang lain?

ilyas_surban
Siap untuk Sholat

Terkadang terlalu memikirkan hidup ini, membuat saya lupa untuk menikmatinya. Karenanya, aku sedang berusaha menikmati menjadi seorang ayah. Seorang ayah dari seorang ‘malaikat’ kecil dari Tuhan yang ditipkan oleh Tuhan untuk ku. Walaupun, sering kali aku gagal menikmatinya.

Lebih dari sekedar sering, aku datang menjumpainya ketika dia sudah terlelap tidur melepas lelah di hari yang panjang tanpa kebersamaanku. Lebih dari sekedar sering, aku pun sudah pergi meninggalkan nya sebelum matanya sempat melihatku jika semalam aku tidur di samping nya. Aku pun selalu memiliki seribu satu alasan untuk segera menyudahi saat-saat aku dan dia memiliki kesempatan untuk bermain bersama. Sungguh aku bisa mendengar suara di hatimu:

” Ayah, aku ingin bermain lama bersamamu ! Bermain bersama dengan pesawat dan perahu kertas yang selalu kau buatkan untuk ku, agar aku terlena dan tak mengganggu kesibukan diri mu “

Iya, aku yang tak pernah hadir sepenuhnya untuk nya. Tuhan, maafkan jika aku belum bisa menjaga sebaik-sebaiknya titipan mu.  Tapi, sungguh, kehadirannya di tengah-tengah kehidupan ku tak pernah membawa yang lain kecuali kebahagiaan dan keceriaan. Dialah lentera, ketika semangat hidup mulai ridup. Dialah alasan, untuk bangkit ketika terjatuh.

ilyas_school
Siap Berangkat Sekolah

Alhamdulilah, Ya Allah. Terima kasih Tuhan, untuk semua berkah dan anugerah kehidupan.

Buat ku, melihat mu tumbuh dari waktu ke waktu, adalah anugerah terindah. Buat ku, hadir untuk mu, adalah momen hidup tak terharga. Buat ku, melihat manis senyum dan renyah tawa mu adalah obat termujarab segala penyakit kegelisahan hidup di dunia. Di usia emasmu, aku ingin hadir dan menjadi yang terbaik untuk mu, koe anak lanang ku. Menjadi kawan bermain paling setia dan guru belajar terpintar untuk mu.

Ini adalah jejak-jejak langkah kaki kecil mu, yang suatu saat pasti akan kau rindu. Jejak-jejak yang bercerita dalam diam, betapa lucu, aktif, cerdas, berani, dan menyenangkanya dirimu. Dan juga tentang sifat keras mu, saat ingin mendapatkan keinginan mu. Sama persis, seperti sifat bapak mu.

Aku sadar, waktu akan berlari mengejar takdirnya begitu saja. Dan kita pun berujar, oh terasa hanya sekejap mata. Karenanya, ku tak mau kehilangan nya.

Bermain di rumah

dengan_mainan
bermain dengan Bus London kesayangan mu
mainanmobil
Bermain dengan mobil amfibi mu
mainanbaru_ilyas
Dengan mainan mobil ambulan mu

Bermain di Alam

Berlari di Wollaton Park
Berlari di Wollaton Park
di_wollaton_park_lagi
Di bawah langit Wollaton Park
dijubileepark
di Jubilee Campus UoN

Waktu untuk Belajar

Belajar Serius
Belajar Serius

Pekerjaan Sekolah

dengan_school_work
Fantastic Work
dengan_schoolworks
Another School Work