blokagung

Kyai Mad dan Tafsir Jalalain

“… beliau-beliau adalah teladan hidup dalam kesederhanaan, keikhlasan, kebersahajaan, kerendahhatian, dan ‘wirai’ dalam menjalani hidup.” – a random thought

kyai_mad_banyuwangi

Kyai Ahmad Qusairy Syafaat (alm.) – Instagram

Jumat, 31 Agustus 2018

Hidup dan Mati, Suka dan Duka, Bahagia dan Sengsara adalah gerak alamiah biasa dari peristiwa kehidupan. Tetapi, akankah setiap peristiwa itu akan pergi begitu saja, atau meninggalkan satu makna?

trio_syafaat

Kyai Kami

Hari ini, berita duka itu menyita alam fikiran ku. Salah satu kyai kami yang bersahaja, Kyai Ahmad Qusairy Syafaat, berpulang untuk selama-lamanya. Beliau adalah salah satu pengasuh pondok pesantren Darussalam, Blokagung, Karangndoro, Tegalsari, Banyuwangi. Tempat kami pernah ngalap barokah ilmu.

Karena kehidupan dan kematian adalah semata takdir Tuhan, bukanlah sesuatu yang pantas untuk meratapi kepergian sang kyai. Catatan kecil ini sekedar untuk menuliskan kembali, kenang-kenangan ingatan ku, yang pernah menjadi salah satu dari ribuan santrinya.

Sebentar memang aku ngalap barokah ilmu di pesantren Blokagung. Bahkan satu tahun saja belum genap. Tetapi, perjalanan takdir yang singkat itu begitu mengendap dalam hati dan fikiran ku, kini dan mungkin sampai kapan pun jua. Hingga saat setiap ingatan satu per satu akan meluruh di penghujung usia nanti tiba.

Perjumpaan ku dengan para kyai, bu nyai, para ustadz, para guru, dan juga teman-teman di pesantren ini adalah sesuatu yang sangat saya syukuri hingga detik ini. A stage that really shapes my horizon of life, and I really appreciate it.

Saat aku di Pesantren, selain kepada para ustad, guru, dan sesama santri, aku belajar kehidupan dari tiga sosok kyai. Ketiganya adalah tiga bersaudara, kakak beradik, putra dari Kyai Mukhtar Syafaat, Allahu yarhamhu, pendiri pondok Blokagung ini. Mbah yai Syafaat adalah kyai kharismatik yang kekyaianya begitu melegenda di tanah blambangan. Sayang aku tak sempat menjadi santrinya.

Yai Hisyam, Yai Hasyim, dan Yai Mad begitulah trio putra mbah yai syafaat ini biasa kami sapa. Ketiganya saling melengkapi, bersama-sama melanjutkan perjuangan sang ayahanda. Yai Hisyam dan Yai Hasyim bergantian ngaji kitab Ihya Ulumuddiin, setiap pagi dan sore hari di masjid induk pondok. Sementara Yai mad, ngaji kitab tafsir jalalain, setiap habis maghrib.

Pada Yai Mad lah, aku pertama kali ikut mengaji kitab tafsir Jalalain. Kitab kuning yang cukup tebal, buat ukuran santri anyaran kayak aku. Masih teringat, kitab ku banyak yang ‘bolong-bolong’ belum dimaknai dan diberi catatan pinggir dengan huruf pegon menggunkan pena besi dan tinta gosok dari cina itu. Bolong, bukan karena sering bolos, tetapi semata-mata karena aku sering tertidur ketika mengaji. Biar tidak ketahuan Yai, aku biasanya ambil duduk yang paling belakang, di serambi masjid paling luar. Walaupun tidak sampai khatam, aku sempat melanjutkan mengaji kitab yang sama dengan Kyai Hannan Maksum (alm.), Gus Sobih Hannan, dan Kyai Holil Dahlan di pondok rejoso Jombang. Dan sekali lagi, lagi-lagi sayangnya belum khatam juga.

Masih teringat sekali dalam ingatanku, betapa adem, begitu lembut, begitu menenangkan, suara yai mad ketika mengaji. Seolah suaranya menggetarkan firman-firman Tuhan yang begitu welas asih pada hambanya. Jauh sekali dari kesan menakut-nakuti, meledak-ledak seperti kebanyakan ustad ‘karbitan’ di media, yang rasanya Tuhan itu begitu menakutkan. Mungkin karena suara yai mad yang begitu menentramkan pulalah, yang membuat aku mudah berpindah ke alam mimpi.

Aku senang sekali mengaji tafsir quran yang kebanyakan adalah cerita-cerita penuh hikmah dari umat-umat terdahulu. Yang sampai sekarang masih saya ingat dari cerita Yai Mad adalah tentang cerita Samiri, patung sapi yang bisa bicara dan bani Israil yang pintar tapi keras kepala. Selebihnya, aku sudah banyak yang lupa.

Seiring perjalanan waktu, tentu saja banyak pitutur, petuah, wejangan, nasehat, ilmu atau apapun itu, yang luntur dari ingatanku. Tetapi bahwa, sosok beliau yang sederhana, rendah hati, bersahaja, ikhlas, sabar, wirai, berilmu, yang lebih memilih kehidupan akhirat dibanding kehidupan dunia adalah ingatan yang tidak mudah terlupakan. Adalah inspirasi terus-menerus, yang tak lekang oleh perubahan zaman.

Mungkin sosok yai mad kalah populer dengan ustad-ustad di TV dan Medsos. Tetapi aku bersaksi, yai mad adalah yai yang dekat dengan konstituen di tataran akar rumput. Yai mad bukanlah yai yang asyik berkutat saja di kerajaan kecil bernama pesantren. Tetapi aktif menyapa orang-orang kampung, di desa-desa, di dusun-dusun, di pulau-pulau kecil, di daerah pedalaman. Menyapa dan menghibur, teman-teman TKI/TKW yang berjuang demi menyelenggarakan hidup yang layak. Mengobati luka hati rakyat kecil atas kebijakan penguasa yang tak pernah berpihak sepenuhnya kepada mereka. Menghibur duka hati rakyat yang terlemahkan oleh sistem ekonomi dan politik yang tak pernah adil terhadap mereka.

Menitipkan semangat optimisme menjalani hidup rakyat kecil, seberat apapun itu. Bahwa, kehidupan di dunia bukanlah tujuan. Kehidupan dunia bukanlah final destination. Urip sedilut mong mampir ngombe. Dunia memang tempatnya segala ujian dan cobaan. Dan akhiratlah, sebenar-benar kehidupan. Bahwa, bisa jadi mereka terlihat hina, kalah, sengsara dalam panggung kehidupan dunia yang semakin materialistis. Tetapi mereka mulia di hadapan Tuhan. Penuh kebahagiaan dan ketenangan di dalam hatinya, karena hati mereka begitu rido, terhadap apa-apa yang sudah digariskan oleh Tuhan.

Selamat Jalan, Yai! Sugeng Tindak! Allahu yarhamka. Ilmu-ilmu yang kau tularkan kepada kami. Insya Allah, akan abadi, menjadi getok tular, pada kami-kami santri panjenengan. Sampai berjumpa kembali, insya Allah di Taman Syurga.

Advertisements

Blokagung : Sebuah Catatan Pinggir dari ‘gothakan’ Pondok?

menara_masjid
*) Menara Masjid Pondok (ctsy: elhibbahkpi.blogspot.com)

Blokagung,  kaifa haalukpiye kabar mu? Entahlah, tiba-tiba aku kangen dengan mu. Darussalam, ada kesejukan dan ketuduhan setiap menyebut nama mu. Seteduh, dusun kecil: blokagung, diujung selatan kabupaten Banyuwangi, tempat mu berada. Tempat yang penuh barokah, tujuan ribuan santri dari berbagai pelosok negeri mondok untuk mengaji pada para kyai.

Oh, Pondok ku ! Kuhitung, rupanya sudah 15 tahun yang lalu aku meninggalkan mu. Arghh, sudah lama ternyata. Atau aku yang pura-pura lupa dengan usia ku yang tak lagi muda? Dan, sungguh aku kangen pada kesederhanaan dan kebersahajaan mu.

kamar_tedjo
*) Gothakan Santri

Kangen pada gothakan sempit, tanpa jendela, tempat kami melukis kenangan, merajut cerita, menenun makna, memahat hati-hati kami yang penuh gamang. Tempat kami melepas penat dan lara, meski tanpa bantal, tanpa tikar, kami tak pernah mengeluh karena tak bisa memejamkan mata. Tempat kami berkeluarga tanpa mengenal sekat rupa, harta, usia, pendidikan, atau apa pun jua. Kami hidup sama sebagai manusia biasa, sederhana, dan bersahaja.

gothakan
*) Penghuni gothakan

Kangen pada selep terong yang kelezatanya tiada tandinganya. Apalagi, kalau ngedrop masakan kang santri dari pawon umum di belakang asrama. Argh, rasanya jadi masakan terlezat di dunia. Apalagi kalau lagi mayoran, argh rasanya menjadi pesta paling mewah di jagat raya.

ngedrop
*) Ngedrop selep terong

Ngomong-ngomong, apa kabar layah batu raksasa di Dapur umum itu ya? Tapi, aku tidak yakin, masih ada santri yang mau kerepotan masak sendiri di dapur pondok. Dan apa kabar Blumbang besar tempat kami mandi bersama? Tapi, aku tak mau mengingat-ngingat tempat eek dan pipis yang itu.

pawon
*) Dapur Umum Pondok

Blok Agung, aku kangen mencium telapak tangan para kyai. Ingin rasanya, aku menciumi nya kembali, setiap habis sholat jamaah usai. Masihkah, (alm) kyai Syafaat  selalu ‘hidup’ ditengah-tengah para santri? Masihkah, dawuh kyai Hisyam, kyai Hasyim, dan Kyai Mad bak sabda pandipta ratu bagi para santri?

blokagung_04
*) Kyai Mukhtar Syafaat, Pendiri Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi

Semoga, doa-doa para kyai Blokagung senantiasa membaluri untuk keberkahan hidup kita. Dan senantiasa, menjadi inspirasi hidup dalam menjalani kehidupan kita. Petuah-petuahnya menjadi wejangan-wejangan hidup yang senantiasa mengisi hati-hati kita.

kh_hisyam
*) Kyai Hisyam Syafa’at, Pengasuh PPD, BB

Blokagung, aku kangen pada padatnya aktivitas mu. Dari sholat subuh jamaah, ngaji alquran, hafalan nadzaman awamil-tashrif-imrithi-alfiah di antara hijaunya hamparan tanaman padi di sekitar pondok. Aku juga kangen mendengar kang santri bersenandung pujian khas menjelang pengajian Kitab Ihya’ Ulumiddin dimulai, di setiap pagi dan petang hari. Mandi di blumbang, dan riuhnya aktivitas berangkat sekolah di sekolah umum milik pesantren. Walaupun, aku sering merasa kecewa. Bukan hanya karena teman-teman santri yang masuk hanya tak seberapa dan suka tidur di dalam kelas, guru-gurunya pun sering berhalangan masuk mengajar. Argh, sekolah yang ala kadarnya, tapi itu bagi kita tidak pernah jadi masalah, karena kita mengharapkan barokah.

tidur_dikelas
*) Santri tidur di Kelas

Dengan langkah gamang aku selalu pulang ke asrama lebih awal dari seharusnya. Aku lebih suka menghabiskan waktu menjelang siang ku di perpustakaan Al-Irfan, perpustakaan kecil milik pondok, yang nyempil di samping masjid. Kadang sambil tertidur,  hingga adzan duhur bergema memanggil sholat jamaah di masjid.

blokagung_02
*) Sholat Jamaah di Masjid

Blokagung, aku selalu rindu suara bacaan alquran bergema di gothak’an setiap habis sholat jamaah. Sebelum bergegas ke aktivitas lainya. Argh, aku sungguh merindukan aktivitas setelah sholat duhur, sekolah di Madrasah Diniyah. Aku selalu berkata dalam hati saat itu, aku pasti sangat merindukan momen-momen ini. Saat ribuan santri bersarung, penuh semangat , menenteng kitab kuning, pulang pergi pondok-madrasah setiap habis duhur dan Ashar. Habis duhur untuk belajar dibimbing para ustadz, dan habis ashar untuk Taqrar, mengulang pelajaran bersama teman.

blokagung_08
*) Santri berangkat ke Madrasah

Blokagung, aku tak pernah bisa melupakan gedung madrasah yang megah itu. Tempat, kami naik turun tangga tiga kali sehari. Pada senyum para ustadz ku yang penuh kesabaran dan keikhlasan mengabdi. Pada sahabat-sahat ku yang tulus dan baik hati.

gedung_induk
*) Gedung Madrasah, pusat pendidikan

Blokagung, aku akan selalu rindu pada gerbang pesantren mu, yang akan terkunci jika matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Saat adzan maghrib berkumandang, saat para santri yang tirakat puasa setiap hari, berbuka puasa, dan kembali ke pondok membawa rantang untuk sahur, dari emak kos makan mereka. Aku masih ingat, rantang warna hijau ku. Yang hampir tiap hari berisi nasi, jangan tewel (lodeh nangka muda), dan tempe goreng. Tapi, aku tidak boleh mengeluh karena bosan. Karena kami sidang menjalani laku ‘tirakat’ agar ilmu yang kita dapatkan barokah di kemudian hari.

blokagung_03
*) Ngaji kitab kuning di Masjid

Di setiap habis Maghrib adalah saat yang aku nantikan. Ngaji kitab Tafsir Alquran jalalain di masjid bersama Kyai Mad. Kitab paling tebal, yang pernah aku ngaji di pesantren ini. Memberi makna dengan tulisan pegon di bawah tulisan arab gundul pada kitab kuning, dengan pena kayu ‘ditutulkan’  pada kapas serabut pohon pisang bercampur tinta hitam batangan dari negeri cina yang telah digosok dalam tempat tinta kuningan. Argh, aku tak akan pernah bisa melupakan benda antik itu. Yang konon goresanya tak akan luntur terendam air.

VLUU L210  / Samsung L210
*) Wadah Tinta Kuningan (ctsy: http://loakanantik.blogspot.co.uk/)

Blokagung, aku juga rindu kehidupan malam mu yang seakan tak pernah berhenti berdenyut. Sorogan, ngaji kitab kuning : safinah, ta’lim, fathul qarib, secara perorangan dengan santri senior yang dengan sabar mengajariku membaca kitab gundul. Argh, aku jadi ingat Kang Munib, santri senior ku yang paling saya kagumi. Masih belia, cerdas, yang  paling pintar  dan gamblang menjelaskan kepada ku kaidah-kaidah ilmu nahwu dan sharaf yang sangat rumit. Kang Kafiludin yang bersahaja dan bijak, yang sering menyisipkan falsafah kearifan hidup dan sekaligus sering menanyaiku tentang fenomena alam, seperti kenapa terjadi siang dan malam? Dan santri-santri senior ku lainya yang baik sekali hatinya.

blokagung_05
*) Ngaji Bandongan

“Teng, teng, teng … ! ” Aku masih ingat suara lonceng malam yang  ‘ berdenteng ‘ setiap satu jam sekali. Ya, aku masih sangat ingat suara lonceng pergantingan jam dan kegiatan itu. Dari pengajian sorogan ke pengajian bandongan kitab satu, ke pengajian bandongan kitab yang lain, hingga larut tengah malam. Dan, jika tengah malam telah tiba, sejenak seluruh penjuru pesantren kembali riuh gaduh. Suara ‘timbo’  ember yang dibalik, yang dipukul2 kan, diatas sajadah di lantai, mengiringi lantunan sholawat nariyah, yang bergema di seluruh asrama di seluruh penjuru pondok pesantren. ” Allahumma Sholli Sholatan, Kamilataw wasalim salaman, tamman, ‘ala sayyidina…. “. Saya masih ingat betul nada alunan sholawat nariyah itu, yang diiringi gendang ember. Kang Amin, santri yang aku ingat paling rajin mendendangkan sholawat nariyah itu dengan suara emasnya.

ngaji_kitab
*) Ngaji Sorogan

Sejenak kemudian, pesantren menjadi sunyi senyap dan gelap, semua lampu dipadamkan. Semua terhanyut dalam sholat tahajut, hajat, dan do’a-do’a panjang di asrama. Tak jarang,  terdengar suara tangisan, dan kemudian berubah menjadi suara dengkuran. Lonceng malam, masih selalu berdentang setiap pergantian jam, memecah kesunyian malam. Hingga Subuh menjelang.

Blokagung, aku juga rindu pada kegiatan ‘lalaran’ setiap malam selasa. Pesantren menjadi riuh dengan alat musik sekenanya, mengiringi hafalan nadzom awamil, imrithi, tashrif, alfiah, yang nadanya digubah menjadi lagu-lagu melayu kontemporer.  Lagunya bang haji rhoma irama: “Sungguh aku masih penasaran” yang liriknya telah diganti dengan nadzom imrithi, alfiah menjadi hiburan mengsyikkan buat kami di tengah kepenatan jadwal pondok yang padat.

blokagung_01
*) Kegiatan lalaran

Blokagung, aku kangen dengan malam Jumat mu. Malam dimana kami, tibak’an membacaya kitab albarjanji, istigotsah, manakiban, tahlilan, yang berseling dari minggu ke minggu. Ada juga kegiatan khitobiah, latihan pidato yang mengurus emosi. Aku tak akan pernah lupa, dengan para audiens yang akan menggojlok, membuli, menghina ku secara berlebihan yang sedang latihan ceramah diatas podium. Walaupun itu cara kami, menguatkan mental-mental kami.

**

Blokagung, Apa kabar mu kini?
Masihkah kau sederhana dan bersahaja seperti yang dulu,
ataukah telah berubah menjadi gedung-gedung pendidikan megah dan angkuh?

Masihkah, kau terjangkau oleh rakyat jelata, para fakir miskin papa,
yang ingin menuntut ilmu kepada mu,
hanya berbekal sebuah semangat ngalap barokah?
ataukah kau telah berubah menjadi tempat pendidikan eksklusif, yang hanya terjangkau
oleh orang-orang yang membayar mu dengan uang berjuta-juta.

Blokagung, masihkah keikhlasan dan kebarokahan menjadi prinsip dan tujuan mu?
ataukah kejayaan fisik, materi telah menjadi ukuran mu.

Blokagung, masihkah para santri percaya pada barokah?
Ro’an, dan amalan-amalan hizib nashor, hizib bari, puasa dalail khoirot,
dalail quran, puasa ‘ngrowot’, puasa ‘mutih’, dan amalan tirakat lainya.
ataukah, mereka lebih percaya nalar logika ilmu sains dan teknologi modern?

Blokagung,
Masihkah, kali gesing, airnya segemercik yang dahulu,
terapi bagi santri yang sedang mengulang-ngulang hafalanya.
Masihkah, hamparan hijau padi membentang luas di antara pohon
kelapa yeng menjulang tinggi di persawahan sekitar pondok.
Tempat menyendiri para santri, untuk menambah hafalanya.
ataukah, sudah berganti dengan tanaman beton yang angkuh.

Blokagung,
Masihkah, para santri merasa bangga dengan pegangan kitab-kitab kuning
yang selalu dijadikan rujukan,
ataukah kitab biru dari barat sudah menggantikan minat mereka.
Masihkah, syawir, diskusi panjang membahas fiqih kontemporer,
dengan Kitab kuning tebal karya ulama-ulama klasik menjadi tradisi.
ataukah, seminar-seminar ilmiah, tentang kesetaraan gender, demokrasi, dan poltik islam
sudah mengalihkan dunia mereka?

Blokagung,
Apapun yang terjadi,
Aku akan selalu merindukan mu.
Bersamamu adalah kenangan abadi, yang telah menorehkan warna abadi dalam hidup ku.
Semoga, alamamater ku jaya abadi, hingga akhir jaman.
Melahirkan, manusia-manusia, khalifah alam.
Yang santun, yang bijak, yang senantiasa menghidupkan ilmu-ilmu agama,
hingga akhir dunia.

**) some pictures grabbed from : Tedjo Rifai Ahmad.

*) Catatan Kaki:
———————————————
– Gothak’an : bilik/kamar asrama
– Selep terong : Sambil terong pakai parutan kelapa
– Ngedrop : nimbrung ikutan makan bareng
– Pawon : dapur
– Blumbang : Kolam dari aliran sungai untuk mandi, cuci para santri
– Bandongan: ngaji sistem ceramah, 1 ustad diikuti banyak santri

Prihatin, Tirakat, dan Barokahnya Ilmu

tirakat

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah” – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu

Sudah semacam candu, bagi saya Facebook adalah tempat hiburan yang sangat menyenangkan sekaligus melenakan. Selalu ada kenikmatan batin sendiri ketika secara diam-diam bisa  memantau kabar teman-teman lewat status dan foto-foto yang dengan kemurahan hati mereka bagi lewat media jejaring sosial ini. Dan selalu saja ada manfaat yang bisa dipetik dari pertemanan, termasuk pertemanan di facebook ini.

Seperti hari itu, ada sebuah status seorang kawan yang mampu mencuri perhatian hati saya:

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu ” (Artinya: kamu harus berani hidup susah kalau ingin ilmumu barokah)

Rupanya kata BAROKAH lah yang mengusik otak saya dan kembali membuka kenangan lama yang sudah lama tersimpan. Kenangan 15 tahun lalu di sebuah tempat dimana kata BAROKAH begitu sangat sering diucapkan. Dalam sehari, saya bisa mendengar kata sakral itu berkali-kali. Tempat itu adalah pesantren Darussalam, Blok Agung, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di kalangan santri blokagung, barokah tidak hanya sekedar kata tanpa makna, lebih dari itu Barokah adalah sesuatu yang paling dicari. Bukan sekedar ilmu itu sendiri yang dicari, tetapi barokah nya ilmu itu yang menjadi lebih utama.

Lalu, apa sebenarnya Barokah itu?

Dalam salah satu kitab kuning dituliskan bahwa “Albarakatu Ziyadatul Khoir” , barokah itu bertambahnya kebaikan. Bertambah kebaikan seperti apa? Barangkali, cerita (alm.) Mbah Kyai Syafaat pendiri pesantren blokagung ini bisa menjelaskan apa itu Barokah.

Konon, awalnya Syafaat muda adalah santri biasa di sebuah pesantren di Banyuwangi. Kecerdasanya mungkin tidak jauh berbeda dengan santri lainya. Namun kesabaran, keuletan, ketelatenan dan ketawaduan (rendah hati) Syafaat terhadap guru nya lah yang sangat menonjol. Hingga akhirnya menjadikan beliau menjadi kyai besar kharismatik yang sangat berpengaruh pada masa nya di Kabupaten Banyuwangi. Bahkan melebihi guru-guru nya sendiri.

Berawal dari tempat ngaji berupa mushola kecil di sebuah desa terpencil di dekat hutan belantara di selatan kabupaten Banyuwangi yang juga tempat mangkalnya para penyamun itu, kini pondok pesantren Blok Agung menjadi pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Jumlah santrinya ribuan berasal dari seluruh penjuru nusantara. Tidak hanya tempat mengaji kitab kuning, di pesantren ini sakarang berdiri bangunan-bangunan sekolah yang megah dari tingkat PAUD/TK hingga Perguruan Tinggi.

Mungkin inilah contoh barokahnya ilmu seorang Mbah Kyai Syafaat. Ilmu nya yang masih terus tumbuh berkembang bahkan setelah beliau tiada. Yang mungkin akan masih memberi manfaat hingga akhir dunia nanti.

Bagaimana cara mendapatkan barokah nya Ilmu?

Fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang berilmu, pintar dan pandai tetapi ilmunya tidak banyak bermanfaat buat orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, banyak orang yang sebenarnya tidak pintar-pintar amat tetapi justru ilmunya bermanfaat banyak baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Kata orang tua Jawa jaman dahulu, kalau pengen sukses dalam menuntut ilmu harus berani hidup prihatin, hidup susah, bersakit-sakit terlebih dahulu. Sedangkan di pesantren selain diajarkan untuk belajar yang tekun, juga dianjurkan untuk menjalankan laku tirakat (jalan mendekatkan diri kepada Tuhan) dengan memperbanyak amalan-amalan sunah seperti puasa, sholat malam, dzikir, mengurangi waktu tidur dan sebagainya.

Kembali ke cerita mbah kyai Syafaat, konon dulu ketika menjadi santri dilaluinya dengan penuh penderitaan. Hidup sangat pas-pasan bahkan rela nyambi sebagai buruh tani. Sering kena penyakit kudis selama menjadi santri. Bahkan konon katanya, beliau pernah berpuasa selama 8 tahun. Sebuah perjuangan dan penderitaan yang panjang.

Terdengar tidak masuk akal memang. Tetapi perihal tirakat, sudah menjadi hal biasa di kalangan santri BlokAgung. Di antara santri terdapat omongan begini, belum benar-benar jadi santri Blok Agung kalau belum puasa Dalail (puasa tiga tahun berturut-turut, setiap hari, kecuali hari-hari yang diharamkan puasa).  Saya sendiri adalah salah satu santri yang tidak melakukan tirakat se ekstrim itu, paling banter cukup puasa sunah hari Senin dan Kamis saja.

Hidup Prihatin menuntut ilmu di negeri Orang

Kenangan dan pengalaman masa lalu itu jelas membekas dalam hidup saya. Sekaligus menguatkan diri saya ketika saat ini sedang belajar di Luar Negeri jauh dari keluarga. Dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia (DIKTI) yang sangat pas-pasan dan tidak mengcover biaya hidup untuk keluarga. Ditambah lagi pencairan beasiswa yang selalu telat berbulan-bulan setiap semesternya. Selalu saya niati sebagai laku prihatin dan tirakat dalam menuntut ilmu. Dengan harapan dan doa, semoga ilmu yang saya peroleh di perantauan ini suatu saat nanti menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah seperti ilmunya mbah Kyai Syafaat. Allahumma Ammiin.

Buat teman-teman yang sedang menuntut ilmu dalam susana penuh keprihatinan, bersabarlah!  Karena memang masa menuntut ilmu adalah lakon hidup yang tidak penuh dengan bunga-bunga. Semoga lakon ini menjadikan ilmu kita manfaat dan barokah terus dan terus menerus di masa depan. Allahumma Ammiin.

Warisan Budaya Leluhur, Jati Diri, dan Masa Depan Bangsa Kita

… Bangsa yang akan menjadi bangsa besar adalah bangsa yang mampu berdiri tegak di atas punggung warisan budaya leluhurnya.

Alkisah ada seorang pakar pendidikan di Indonesia diundang sebagai pembicara tamu dalam sebuah Seminar Kependidikan Internasional di Universitas Manchester Inggris. Dalam presentasinya beliau memaparkan tentang spiritualisasi dalam Pendidikan. Dengan bangganya beliau memaparkan paradigma-paradigma paling mutakhir  dalam dunia pendidikan dari berbagai profesor dan  pakar pendidikan di Dunia. Di antaranya beliau  memaparkan tentang paradigma Active Learning dan Mastery Learning.

Setelah memberikan presentasinya,  ada seorang Profesor dari Universitas Leed Inggris menyamperin beliau, dan terjadi perbincangan sebagai berikut:

Prof Leed : Pak, bapak tau mengenai Active Learning?

Pakar Indonesia : Iya saya tahu, emangnya kenapa Prof?

Prof Leed : Taukah anda, Bapak Ki Hajar Dewantoro sudah membicarakan tentang Active Learning sejak tahun 1941. Ki Hajar sudah memperkenalkan paradigma itu sejak 70 tahun lalu dengan Tut Wuri Handayani nya. Mengenai Mastery Learning, ki Hajar  juga sudah memperkenalkan dengan konsep Ing Ngarso Sung Tulodo nya.

Pakar Indonesia : Ohya *Malu setengah mati*.

**

Di atas adalah salah satu potret kecil bagaimana kita, orang Indonesia sudah lupa siapa diri kita sebenarnya sebagai sebuah bangsa. Bagaimana bangsa lain justru lebih tahu tentang bangsa kita dari pada kita sendiri.  Dan kita baru sadar setelah diingatkan oleh bangsa lain yang mempelajari budaya bangsa kita, atau ketika kearifan bangsa kita dipakai atau di klaim orang bangsa lain.

Dalam hal pendidikan misalnya, bagaimana kita sudah lupa siapa kita di pendidikan kita. Kita sudah kadung terkena virus rendah diri komplikasi akut, sehingga mentah-mentah mengadopsi sistem pendidikan dari luar untuk gagah-gagahan dengan cap standar internasionalnya, yang justru bisa jadi tidak sesuai dengan akar budaya bangsa kita. Kenapa tidak belajar dan mengembangkan dari warisan budaya leluhur kita sendiri. Kenapa dalam pendidikan kita tidak mewarisi dan mengembangkan konsep pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, Bapak pendidikan kita sendiri? Saya sangat yakin hal-hal yang telah dikembangkan oleh leluhur kita itu tidak dibuat dengan cara ngawur, tetapi dibuat dengan kajian filosofis yang sangat dalam.

Konon, justru konsep pendidikan yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro itu saat ini malah dikembangkan dan diterapkan di negara Jepang dan Singapura. Di Jepang, Filosofi tiga dinding yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro saat ini telah dijadikan standard kelas sekolah-sekolah di Jepang. Begitu juga dengan sistem pendidikan di Singapore yang membagi sekolah menjadi sekolah negeri, sekolah swasta, dan sekolah swasta yang disubsidi pemerintah diakui diadopsi dari sistem pendidikan yang diperkenalkan ala Ki Hajar. Bahkan salah seorang pakar pendidikan di Singapore pun pernah mengatakan Jika saja Indonesia memakai dan ingat filosopi pendidikanya Ki Hajar Dewantoro, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling maju ke depan.

tiga dinding

Ini baru satu contoh potret kecil dalam bidang pendidikan dari banyak aspek kehidupan yang dapat dipelajari dari warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang ternyata sangat luar biasa. Sebagai sebuah bangsa besar, yang terkenal kejayaanya sejak jaman Sriwijaya kemudian jaman Majapahit, Kerajaan Mataram, tentunya banyak sekali capaian-capaian mengagumkan dalam berbagai aspek kebudayaan manusia. Saya sangat yakin, leluhur kita memiliki capaian yang tinggi dalam Teknologi bangunan, teknologi maritim, teknologi pertanian, teknologi pertahanan, industri, bidang hukum dan kemasyarakatan dan sebagainya tentunya.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah kenapa kita tidak terwarisi capaian besar nenek moyang kita yang konon katanya luar biasa itu?dan jika pertanyaan itu boleh dilanjutkan, dimana kita bisa belajar capain-capain luar biasa nenek moyang kita itu?

***

Ketika saya berada di Inggris ada satu hal dari beberapa hal penting dari orang Inggris yang menurut saya patut untuk ditiru, yaitu budaya menghargai dan mempertahankan tradisi leluhurnya dan budaya dokumentasi atau knowledge management yang sangat luar biasa. Sebenarnya, saya mendapatkan teori ini justru ketika saya belajar di pesantren, lembaga pendidikan tertua di Indonesia sebelum mengenal adanya sekolah dan universitas. Di pesantren-pesantren NU  pada umumnya, setidaknya di dua pesantren tempat saya pernah ngaji  yaitu pondok pesantren darussalam blokagung banyuwangi dan pondok pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Ada satu maqalah yang dijadikan filosofi dalam pengembangan sistem pendidikan di  pesantren, yaitu:

“al-muhafadhatu alal qadimish Shalih wal akhdzu bil jadidil aslah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil pola baru yang lebih baik)

Maqalah ini mengajarkan kita untuk mempertahankan tradisi yang baik dan baru mengadopsi pola baru jika hanya pola baru itu dirasa lebih baik. Maqalah ini juga mengajarkan kita untuk mempertahankan jati diri kita sendiri, tetapi juga tidak menutup diri untuk perubahan yang lebih baik. Tidak untuk asal meniru budaya orang lain dan melupakan tradisi kita sendiri, bahkan merasa rendah diri dengan budaya kita sendiri.

Secara konsep saya mendapatkanya di pesantren, tapi justru saya melihat bagaimana konsep ini benar-benar diterapkan ketika saya berada di Inggris.

Antara Pesantren  dan Universitas OxBridge (Oxford & Cambridge)

Siapa sih yang tidak kenal Universitas Oxford, dan Universitas Cambridge? Dua kampus Inggris yang selalu konsisten berada dalam lima kampus terbaik di Dunia itu. Sebelumnya, saya membayangkan dua kampus ini memiliki bangunan-bangunan yang modern dan mutakhir dengan papan nama besar Universitas Oxford atau Universitas Cambridge, sehingga saya ingin sekali saya berfoto di depan papan nama dua kampus prestigious tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung di Universitas Oxford dan ternyata bayangan ku itu salah total. Saya berharap menemukan papan nama besar bertuliskan Universitas Oxford, ternyata tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah bangunan-bangunan tua berasitektur romawi kuno. Universitas Oxford dan cambridge terbagi menjadi beberapa college (setara fakultas kalau di Indonesia), yang seolah berdiri sendiri. Yang menarik adalah di setiap College ini pasti terdapat sebuah gereja katedral, yang merupakan jantung dari college, sebuah dining room (ruang makan), lecture hall (tempat kuliah), dan Asrama Mahasiswa. Jika anda pernah melihat film harry potter, begitulah suasana kampus Universitas Oxford karena memang film ini beberapa scenenya diambil di kampus ini.

oxfordsmall

Sebenarnya, konsep ini kurang lebih sama dengan sistem di Pesantren. Masjid adalah adalah jantung dari sistem pendidikan di pesantren. Disinilah santri sholat berjamaah, dan mengaji. Kemudian di sekitar masjid adalah asrama-asrama santri tempat para santri bermukim. Dan tentu saja sekolah yang biasnya terletak agak jauh dari masjid, tempat untuk  belajar secara formal. Kesamaan lainya adalah tradisi mempertahankan aristektur bangunan. Di Oxford, semua bangunan memang dipertahankan dengan arsitektur yang  sama sejak universitas tersebut didirikan sekitar abad 11 hingga sekarang.  Kalaupun ada renovasi, tidak akan merubah bentuk asli dari bangunan tersebut. Demikian juga di Pesantren, arsitektur masjid  biasanya juga dipertahankan sama dengan arsitektur masjid pada saat pesantren tersebut didirikan sampai dengan mungkin akhir jaman nanti.

Sebenarnya, tradisi melestarikan budaya leluhur itu tidak ada hanya terjadi di universitas sekaliber oxford dan cambridge saja tetapi dalam bidang kehidupan yang lain juga. Arsitektur rumah misalnya, di Inggris arsitektur rumahnya dari dulu hingga sekarang kurang lebih sama. Bangunan rumah orang inggris adalah rumah sederhana bertingkat dua dengan ciri khas batu bata dan cerobong asap nya.

Di Indonesia, mana ada ya kontraktor yang mengembangkan perumahan dengan konsep rumah Joglo? Kalau pun ada mungkin tidak laku jual, karena calon pembelinya takut dibilang udik, kuno dan ketinggalan jaman. Padahal bisa jadi rumah Joglo adalah rumah yang dikembangkan dengan kearifan lokal yang agung dan penuh nilai filosofis yang tinggi tidak dengan ngawur. Arsitekturnya disesuaikan dengan iklim dan cuaca di tanah jawa, demikian juga dengan desain interior nya yang disesuaikan dengan kondisi socio cultural  orang jawa yang ramah, guyup, rukun dan penuh kebersamaan serta cita rasa humor yang tinggi. Bahan bangunan dari kayu juga, bisa jadi adalah pilihan yang tepat untuk daerah tropis yang hemat energi dan .

Belakangan saya baru sadar, bahwa ternyata bangunan-bangunan modern di Universitas Nottingham , Jubilee campus yang merupakan salah salau proyek Taman Inovasi Universitas yang dikembangkan  dengan konsep sustainable energy and environtmental friendly ternyata juga berdinding kayu. Sama kayak bangunan khas Joglo orang Jawa jaman dahulu.

**

Jadi, kenapa kita masih harus merasa rendah diri dengan capaian bangsa kita sendiri? Sudah saatnya, kita kembali menjadi diri kita sendiri. Sudah saatnya kita kembali menemukan jati diri bangsa kita sendiri. Kita adalah bangsa yang besar yang memiliki warisan budaya yang luhur. Kita harus melestarikan budaya, dalam artian yang sangat luas, yang berakar dari budaya kita sendiri, dan mengembangkanya. Kita punya kearifan yang adiluhung di hampir semua aspek kehidupan kehidupan. Tidak hanya yang tampak secara fisik, tapi kita juga memiliki warisan budaya dalam bentuk filosofi hidup yang luhur. Kita sendiri yang seharusnya bangga, yang harus melestarikan, mengembangkan dan memperkenalkan jati diri bangsa kita dalam konteks pergulatan budaya yang semakin datar dan global ini. Jangan sampai kita baru sadar, setelah budaya kita dipelajari oleh orang lain, dan kita harus belajar ke bangsa lain untuk mempelajari budaya bangsa kita sendiri. Sungguh ironis, ketika anak cucu kita nanti ingin belajar sastra jawa, harus keluar uang banyak untuk mempelajari di sebuah Universitas di Belanda. Jangan sampai suatu saat anak cucu kita yang ingin belajar seni musik dangdut, harus belajar di sebuah Universitas di Amerika.

Mari kita menghargai sekecil apapun, setiap capain dari leluhur kita, para pendahulu kita. Bukan justru, memusnahkanya. Menurut hemat saya, … Bangsa yang akan menjadi bangsa besar adalah bangsa yang mampu berdiri tegak di atas punggung warisan budaya leluhurnya.

Referensi:

[1]  Tendy Naim, http://www.youtube.com/watch?v=bkgHuTK_ytQ

Balada anak kost [Bagian 1]: awal-awal yang menyesakkan dada

…………..nasib anak kost, ya nasib-nasib” .

Masih ingat penggalan lirik lagu yang pernah jadi hits di era khir 90an ini Kan? Waktu lagu ini lagi hit, saya cuman bisa membayangkan: “sebegitu.. Mengenaskankah jadi anak kost itu: tiap hari makan mie, badan bau terasi karena ndak pernah mandi”.

Sampai suatu saat saya benar-benar merasakan jadi anak kos-kosan, dalam artian terpisah jauh dari orang tua. Saya masih ingat, gimana rasanya pertama kali terpisah begitu jauh dari orang tua, orang tua yang yang biasanya selalu berada di sekitar kita. Begitu tamat SMP, saya langsung dikirim ke negeri antah berantah, sebuah tempat dengan lingkungan baru, yang belum pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya pada waktu itu. Saya tiap hari nangis, bahkan terkadang nangis berjamaah dengan teman-teman. Hue he…. Betapa menyedihkan ternyata berpisah dengan orang tua.  Hingga akhirnya saya pun terbiasa, bahkan lebih senang jauh dari orang tua, ketimbang bersama mereka.

Yah… begitulah hidup. Memberi kesulitan bukan karena hendak menghukum kita, tetapi hidup hendak mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang kuat, bukan orang yang cengeng, diatas lika-liku hidup yang memang terkadang terjal nan berliku.

Pertama kali kos adalah di daerah Sawojajar Malang. Tidak lama seh cuman 1 minggu, numpang tes sekolah saja waktu itu. Tapi ini adalah kos yang paling menyesakkan dada, sudah pertama kali ngekost, ditinggal sendirian lagi. Untungnya seisi rumah kosku pertama ini orangnya baik-baik semua. Ada mbak-mbak yang tiap hari bikinin ice cream buat saya. Apa kabar ya mbak itu sekarang?

Kemudian, kehidupan lebih memperihatinkan ketika saya harus nyantri di pesantren Darussalam, Blok Agung, Banyuwangi. Hidup di kamar dengan ukuran 3×3 m yang dihuni oleh 10 orang, nyaris maksimum hanya muat 4 orang untuk tidur. Jadi 6 orang lainya biasa tertidur di depan pintu kamar atau tidur di masjid. Tidurnya pun ndak pakek bantal dan alas tidur, langsung melantai, kayak rentengan pindang. Penderitaan tidak sampai disitu saja, kamar mandinya lowh.. pakek blumbang. Blumbang adalah kolam besar yang airnya dari air sungai yang dipakai mandi bersama. Ribuan santri tumplek blek jadi satu di blumbang itu, kalau pas mandi bareng begitu berasa kayak es cendol. Mandi di blumbang seperti itu bukan tanpa resiko, penyakit kulit yaitu kudis dan gatal-gatal adalah penyakit wajib buat yang pernah mandi disitu. Bagaimana tidak, sering kali air Blumbang itu berubah warna dan bau. Tetapi lambat laun, seiirng perjalanan waktu kulit kita akan kebal dengan sendirinya.

Awal-awal hidup di pesantren itu benar-benar menyesakkan dada. Hanya ada dua kata yang membuat hati ini tegar ketika itu. Dua kata itu adalah Tirakat dan Barokah. Kata senior saya, kalau kepengen ilmu saya bermanfaat di kemudian hari, selama belajar saya harus memperbanyak Tirakat: Kurangi makan (puasa) [Banyak lowh diantara teman2 yang puasa 3 tahun berturut2, kecualai di hari-hari yang diharamkan puasa], kurangi tidur (sholat malam), dan kurangi bersenang-senang (perbanyak memprihatinkan diri, makan nya ndak boleh enak2 [banyak lowh teman2 yang makanya cuman pakek nasi doang, nasi jagung, dll]). Kedua adalah barokah. Ketika saya bertanya apa itu Barakah, senior saya bilang Barokah adalah Ziyadatul khair (Bertambahnya kebaikan). Tetapi saya bingung, katanya senior saya kudisan itu adalah salah satu barakahnya pondok, disamping sholat jamaah dan roan (kerja bakti di pondok) . Sampek sekarang saya tidak paham betul apa itu barakah.

Susah dan menderita memang, tetapi saya bersyukur, sketsa hidup yang memprihatinkan itu membuat saya tahan uji dan tidak cengeng di kemudian hari.