blokagung banyuwangi

Kyai Mad dan Tafsir Jalalain

“… beliau-beliau adalah teladan hidup dalam kesederhanaan, keikhlasan, kebersahajaan, kerendahhatian, dan ‘wirai’ dalam menjalani hidup.” – a random thought

kyai_mad_banyuwangi

Kyai Ahmad Qusairy Syafaat (alm.) – Instagram

Jumat, 31 Agustus 2018

Hidup dan Mati, Suka dan Duka, Bahagia dan Sengsara adalah gerak alamiah biasa dari peristiwa kehidupan. Tetapi, akankah setiap peristiwa itu akan pergi begitu saja, atau meninggalkan satu makna?

trio_syafaat

Kyai Kami

Hari ini, berita duka itu menyita alam fikiran ku. Salah satu kyai kami yang bersahaja, Kyai Ahmad Qusairy Syafaat, berpulang untuk selama-lamanya. Beliau adalah salah satu pengasuh pondok pesantren Darussalam, Blokagung, Karangndoro, Tegalsari, Banyuwangi. Tempat kami pernah ngalap barokah ilmu.

Karena kehidupan dan kematian adalah semata takdir Tuhan, bukanlah sesuatu yang pantas untuk meratapi kepergian sang kyai. Catatan kecil ini sekedar untuk menuliskan kembali, kenang-kenangan ingatan ku, yang pernah menjadi salah satu dari ribuan santrinya.

Sebentar memang aku ngalap barokah ilmu di pesantren Blokagung. Bahkan satu tahun saja belum genap. Tetapi, perjalanan takdir yang singkat itu begitu mengendap dalam hati dan fikiran ku, kini dan mungkin sampai kapan pun jua. Hingga saat setiap ingatan satu per satu akan meluruh di penghujung usia nanti tiba.

Perjumpaan ku dengan para kyai, bu nyai, para ustadz, para guru, dan juga teman-teman di pesantren ini adalah sesuatu yang sangat saya syukuri hingga detik ini. A stage that really shapes my horizon of life, and I really appreciate it.

Saat aku di Pesantren, selain kepada para ustad, guru, dan sesama santri, aku belajar kehidupan dari tiga sosok kyai. Ketiganya adalah tiga bersaudara, kakak beradik, putra dari Kyai Mukhtar Syafaat, Allahu yarhamhu, pendiri pondok Blokagung ini. Mbah yai Syafaat adalah kyai kharismatik yang kekyaianya begitu melegenda di tanah blambangan. Sayang aku tak sempat menjadi santrinya.

Yai Hisyam, Yai Hasyim, dan Yai Mad begitulah trio putra mbah yai syafaat ini biasa kami sapa. Ketiganya saling melengkapi, bersama-sama melanjutkan perjuangan sang ayahanda. Yai Hisyam dan Yai Hasyim bergantian ngaji kitab Ihya Ulumuddiin, setiap pagi dan sore hari di masjid induk pondok. Sementara Yai mad, ngaji kitab tafsir jalalain, setiap habis maghrib.

Pada Yai Mad lah, aku pertama kali ikut mengaji kitab tafsir Jalalain. Kitab kuning yang cukup tebal, buat ukuran santri anyaran kayak aku. Masih teringat, kitab ku banyak yang ‘bolong-bolong’ belum dimaknai dan diberi catatan pinggir dengan huruf pegon menggunkan pena besi dan tinta gosok dari cina itu. Bolong, bukan karena sering bolos, tetapi semata-mata karena aku sering tertidur ketika mengaji. Biar tidak ketahuan Yai, aku biasanya ambil duduk yang paling belakang, di serambi masjid paling luar. Walaupun tidak sampai khatam, aku sempat melanjutkan mengaji kitab yang sama dengan Kyai Hannan Maksum (alm.), Gus Sobih Hannan, dan Kyai Holil Dahlan di pondok rejoso Jombang. Dan sekali lagi, lagi-lagi sayangnya belum khatam juga.

Masih teringat sekali dalam ingatanku, betapa adem, begitu lembut, begitu menenangkan, suara yai mad ketika mengaji. Seolah suaranya menggetarkan firman-firman Tuhan yang begitu welas asih pada hambanya. Jauh sekali dari kesan menakut-nakuti, meledak-ledak seperti kebanyakan ustad ‘karbitan’ di media, yang rasanya Tuhan itu begitu menakutkan. Mungkin karena suara yai mad yang begitu menentramkan pulalah, yang membuat aku mudah berpindah ke alam mimpi.

Aku senang sekali mengaji tafsir quran yang kebanyakan adalah cerita-cerita penuh hikmah dari umat-umat terdahulu. Yang sampai sekarang masih saya ingat dari cerita Yai Mad adalah tentang cerita Samiri, patung sapi yang bisa bicara dan bani Israil yang pintar tapi keras kepala. Selebihnya, aku sudah banyak yang lupa.

Seiring perjalanan waktu, tentu saja banyak pitutur, petuah, wejangan, nasehat, ilmu atau apapun itu, yang luntur dari ingatanku. Tetapi bahwa, sosok beliau yang sederhana, rendah hati, bersahaja, ikhlas, sabar, wirai, berilmu, yang lebih memilih kehidupan akhirat dibanding kehidupan dunia adalah ingatan yang tidak mudah terlupakan. Adalah inspirasi terus-menerus, yang tak lekang oleh perubahan zaman.

Mungkin sosok yai mad kalah populer dengan ustad-ustad di TV dan Medsos. Tetapi aku bersaksi, yai mad adalah yai yang dekat dengan konstituen di tataran akar rumput. Yai mad bukanlah yai yang asyik berkutat saja di kerajaan kecil bernama pesantren. Tetapi aktif menyapa orang-orang kampung, di desa-desa, di dusun-dusun, di pulau-pulau kecil, di daerah pedalaman. Menyapa dan menghibur, teman-teman TKI/TKW yang berjuang demi menyelenggarakan hidup yang layak. Mengobati luka hati rakyat kecil atas kebijakan penguasa yang tak pernah berpihak sepenuhnya kepada mereka. Menghibur duka hati rakyat yang terlemahkan oleh sistem ekonomi dan politik yang tak pernah adil terhadap mereka.

Menitipkan semangat optimisme menjalani hidup rakyat kecil, seberat apapun itu. Bahwa, kehidupan di dunia bukanlah tujuan. Kehidupan dunia bukanlah final destination. Urip sedilut mong mampir ngombe. Dunia memang tempatnya segala ujian dan cobaan. Dan akhiratlah, sebenar-benar kehidupan. Bahwa, bisa jadi mereka terlihat hina, kalah, sengsara dalam panggung kehidupan dunia yang semakin materialistis. Tetapi mereka mulia di hadapan Tuhan. Penuh kebahagiaan dan ketenangan di dalam hatinya, karena hati mereka begitu rido, terhadap apa-apa yang sudah digariskan oleh Tuhan.

Selamat Jalan, Yai! Sugeng Tindak! Allahu yarhamka. Ilmu-ilmu yang kau tularkan kepada kami. Insya Allah, akan abadi, menjadi getok tular, pada kami-kami santri panjenengan. Sampai berjumpa kembali, insya Allah di Taman Syurga.

Advertisements

Ketika Kangen Bernostalgia Ngaji Kitab Kuning di Pesantren Mendera

Allahu/utawi gusti Allah / iku / yaktumu / nentokno/ bainakumantarane siro kabeh / ayyuhal mu’minuuna / hai wong mukmin kabeh / walkafiruuna / lan wong kafir / yaumal qiyamati / ono ing dino kiamat / fiimaa / ing ndalem opo /  kuntum / ono siro kabeh / fiihi / ing ndalem ma, iku / takhtaliffuun / podo bertentangan siro kabeh- (Kitab Tafsir Jalalain)

ngaji_kitab_jalalain_edit

KH Cholil Dahlan Membaca Kitab Tafsir Jalalain di Masjid Pondok Induk, Darul Ulum Jombang

Belajar cukup lama di luar negeri, di kampus kelas dunia dengan fasilitas dan sistem pendidikan paling mutakhir binti kekinian, justru membuat saya kangen dengan latar belakang pendidikan tradisional saya. Yaitu, Ngaji kitab kuning di pondok pesantren bersama para kyai. Sistem pendidikan yang sudah berumur ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Indonesia mengenal yang namanya sekolah, dan hebatnya hingga sekarang masih bertahan di ribuan pesantren-pesantren di Indonesia.

Entahlah, saya merasa selalu masih ada yang kurang dari sistem pendidikan di barat. Kuliah, tutorial, praktikum, diskusi, seminar, course work, tak satu pun yang menurut saya lebih baik dari sistem ngaji kitab kuning di pesantren. Ada rasa yang sangat istimewa, ada kekuatan magis menyergap hati, ketika sang kyai membaca kitab berbahasa Arab itu, kata per kata, dan menerjemahkan setiap kata itu dalam bahasa Jawa, teriring tangan saya menulis kan terjemahan per kata itu dalam tulisan Arab Pego di bawah setiap kata pada kitab kuning di pangkuan saya. Lalu, sang kyai mengelaborasi makna dari teks kedalam values, nilai-nilai, kebajikan yang bisa dijadikan pegangan hidup sepanjang hayat. Tak jarang beliau memberi nasihat, petuah-petuah bijak, serta do’a dan harapan untuk kebaikan kami. Membuka wawasan kami, dengan wawasan baru yang mencerahkan.

“… Awak mu telung puluh tahun engkas, sedeng wes dadi Profesor wisan, wes Guru Besar awakmu engkok. Makanya jangan pernah berhenti menuntut ilmu, dimana saja kapan saja, masio engkok lek awakmu prei muleh, kitab mu gowonen, buku mu gowonen, karena menurut kanjeng nabi, orang belajar itu tidak pernah berhenti, minal lahmi ilal lahdi, mulai rahim ibu sampai liang lahad, kita harus belajar dan mencari ilmu.” – KH. Cholil Dahlan

Tidak banyak kitab kuning yang berhasil saya khatamkan di pesantren. Tetapi diantara kitab-kitab yang pernah saya kaji tersebut, ada satu kitab yang sangat istimewa bagi saya. Yaitu kitab tafsir (Alquran) jalalain, karya duo Jalal: Jalaludin Almahali dan Jalaludi Assuyuti. Buat saya, mengaji kitab ini, penuh dengan kenangan, dan meninggalkan nostalgia yang istimewa dalam hidup saya. Selain memang, kitab ini adalah kitab paling besar yang pernah saya pelajari selama nyantri di pesantren.

Saya mengaji kitab ini pada tiga kyai. Pertama pada Kyai Ahmad Qusiry Syafaat, waktu nyantri di pondok pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi. Kemudian pada kyai Hannan Ma’sum (alm.) dan Kyai Cholil Dahlan di pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.

Kebetulan waktu dan tempatnya selalu sama, yaitu waktu di antara maghrib dan isyak, bertempat di ruang utama masjid induk pesantren. Dan kebetulan juga, ketiga kyai ini memiliki sifat menonjol yang sama. Kyai paling kalem dan adem, kyai yang paling halus tutur katanya di pesantren. Menatap wajah para kyai ini, hati saya seolah luluh lantak, dan seketika berasa masuk dalam kulkas.

Kegiatan belajar seharian di sekolah dan madrasah, membuat pengajian habis Maghrib ini, penuh dengan perjuangan. Saya selalu melem merek, bahkan sering secara tidak sadar tertidur pulas dalam posisi duduk sampek ngiler di pojokan masjid, dan baru terbangun ketika terdengar suara Wallahu a’lam bis showab -Allah maha tahu kebenaranya dari sang kyai, pertanda pengajian telah usai. 

Masih teringat kuat dalam ingatan saya do’a-do’a panjang yang dipanjatkan para kyai sehabis mengaji. Saya yakin, do’a-do’a itulah yang membawa keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan saya hingga saat ini. Berebut, mencium telapak tangan beliau sehabis mengaji dan selepas jama’ah sholat isyak. Rasanya, bau wangi telapak tangan sang kyai masih tercium hingga saat ini.

Tak terasa, sudah lebih dari tiga belas tahun yang lalu saya terakhir mengaji kitab ini. Dan nyaris, sejak saat itu saya tidak pernah membukanya kembali. Semoga kitab saya yang penuh dengan coretan-coretan  kenangan itu, masih tersimpan rapi di rumah orang tua saya di kampung Banyuwangi. Sungguh, saya ingin membukanya kembali. Sering saya teramat kangen dan ingin mengulangi kembali setiap momentum mengaji kitab tafsir Jalalain tersebut. Mendengar kembali suara sang kyai. Menatap wajah teduh nya, menciumi telapak tanganya, dan mendengar rapalan do’a-do’a nya.

Pernah juga, berandai-andai, jika pengajian itu bisa dibuat live streaming, sehingga saya bisa mengikutinya kembali dari jauh. Atau dibuat MOOC khusus pengajian kitab kuning dari ribuan pesantren-pesantren NU se Indonesia. Membayangkang, lambang-lambang kampus disini, berganti dengan lambang-lambang pesantren NU. Ada pesantren Tebu Ireng, Tambak Beras, Darul Ulum, Blokagung, Krapyak, Denanyar, Langitan, Kajen, Lirboyo, Buntet, Cipasung, Genggong, Guluk-guluk. Dan saya bisa mengikuti pengajian kitab-kitab kuning, lewat rekaman video, yang bisa saya putar kapan saja saya mau.

Rupanya, Gusti Allah mendengar bisikan hati saya. Gusti Allah mengerti kerinduan yang tersimpan dalam hati ini. Hari ini, secara tidak sengaja saya menemukan video pengajian kyai saya, Kyai Cholil Dahlan sedang mengaji Kitab Tafsir Jalalain, di youtube, yang baru saja diupload sehari yang lalu. Pengajian itu ternyata masih di tempat yang sama, wajah sang kyai pun masih sama. Ya Allah, betapa senangnya hati ini bisa mendengar suara dan menatap wajah sang kyai kembali. Walaupun masih ada 3 video, mudah-mudahan yang upload istikomah, berkenan merekam setiap pengajian dan menguploadnya ke youtube.

Memang ngaji di pondok tidak pernah sama dengan Liqo’. Kyai pondok tak tergantikan oleh murabbi, murabbiyah, ustad, ustadzah, dari masjid kampus dan rohis sekolah umum. Coba lihat, dengar, dan rasakan, video pengajian di atas ! Bedakan dengan pengajian wahabi yang mendominasi di youtube. Matur nuwun Gusti ! Khususon ila Kyai Ahmad Qusairy, Kyai Hannan Ma’sum (Alm.), Kyai Cholil Dahlan, lahumul faatihah