Advertisements

Tag Archives: birmingham

Secangkir Kopi Pahit di Bandara Birmingham

…. sepahit-pahit kenyataan hidup, bisa menjadi sebuah kenikmatan, jika kita tahu cara menikmatinya, seperti secangkir kopi pahit – A Random Thought

 

kopi_pahit

Ilustrasi: Kopi Pahit

 

Menjelang tengah hari di hari itu, takdir menemukan ku sedang berada di sebuah warung kopi di terminal kedatangan, bandara internasional Birmingham. Aku memesan secangkir cappucino berukuran sedang, lalu duduk di kursi di pojokan warung kopi itu ditemani oleh kesendirian ku.

Dari pojokan warung kopi itu, kedua mataku menyapu setiap wajah orang-orang yang baru saja turun dari pesawat  dari berbagai belahan dunia itu. Otak ku bekerja dengan algoritma paling canggih, mencocokkan gambar wajah yang tertangkap oleh mata ku dengan gambar wajah yang tersimpan di memori otak ku. Kalau-kalau orang yang aku tunggu itu sudah datang.

Aku bukanlah penikmat kopi, tetapi belakangan aku cukup sering menyeruput kopi. Uniknya, aku selalu sengaja memilih belajar menikmatinya tanpa gula. Oh bukan, aku tidak sedang diet gula atau takut gula darah ku meningkat tajam. Selama ini aku tidak bermasalah dengan penyakit gula itu, lebih tepatnya aku tidak peduli.

Tetapi, aku sedang belajar menikmati kopi itu apa adanya. Pahit memang, tapi aromanya asli, cita rasanya apa adanya, kopi seutuhnya. Tidak mudah ternyata, mengajari lidah ku untuk merubah kepahitan itu menjadi sebuah kenikmatan ala para penikmat kopi sejati.

Sama tidak mudahnya menjalani hari-hari ku belakangan ini, yang rasanya pahit sekali. Belajar menerima kritikan-kritikan sepedas sambel balado itu alamak pahit rasanya. Berjuang, bekerja keras siang malam itu juga pahit. Bersabar, menahan ego belajar rendah hati pun tak kalah pahitnya. Apalagi, belajar menerima kenyata yang tidak sesuai harapan, itu sungguh pahit sekali kawan.

Jadi, aku belajar menjadi penikmat sejati kopi pahit seiring dengan belajar menjadi penikmat kepahitan hidup. Perlahan lidah ku mulai terbiasa dengan kopi pahit. Sangat perlahan, aku pun sudah mulai akrab dengan kepahitan hidup.

 

bandara_birmingham

Terminal Kedatangan, Bandara Internasional Birmingham

 

Kuseruput kopi pahit di depan ku itu perlahan, mata dan hati ku dengan khusuk membaca lembar demi lembar cerita pendek karya Kang Seno, yang aku print out  dengan fasilitas printer gratis di kampus itu.  Awalnya, kebiasaan membaca karya sastra itu, hanya tempat pelarian, sebagai tombo mumet dari menulis disertasi PhD ku yang sudah terlalu lama membusuk, ndak kelar-kelar itu. Tetapi, sekarang menjadi candu.

Awalnya, aku tidak mengerti sama sekali bagaimana menikmati sebuah karya sastra. Mengerti apalah aku ini dengan yang namanya sastra. Aku yang hanya lulusan STM, dan perguruan tinggi teknik. Susunan kata yang kata nya indah itu tak ubahnya susunan kata yang membingungkan di otak ku, terasa absurd.

Tetapi, belakangan, rasanya aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin susunan kata-kata itu bisa menyihir ku. Kalimat demi kalimat itu terasa sangat indah dan nikmat luar biasa, menggeleparkan hati ku. Kata-kata itu, seolah kata-kata indah yang dihembuskan oleh angin syurga. Aku baru mengerti, kalau membaca karya sastra itu harus dengan sepenuh hati, harus dengan segenap rasa.

Seperti halnya aku telah berhasil menjadi penikmat sastra, aku bercita-cita dalam waktu dekat bisa menjadi penikmat kopi pahit sejati, menjadi penikmat setiap kepahitan hidup.

***

Tak terasa, sudah lebih satu jam waktu berlalu, ketika sang teman yang aku tunggu datang menghampiriku. Ku pesankan secangkir kopi yang sama dengan ku untuk nya. Kami pun larut dalam cerita.

Kami beranjak dari warung kopi itu, ketika kedua cangkir itu menjadi cangkir-cangkir kosong tak bertuan. Menuju tempat khusus untuk berwudlu  di lantai 1, dan sembahyang di tempat khusus untuk bersembahyang di lantai yang sama , dekat counter over sized baggage. Setelah melipat sajadah, kutinggalkan sebaris tulisan di buku tamu di tempat sembahyang itu, sebagai ucapan terima kasih tiada terkira.

Setelah bertukar do’a. Kami pun kembali berpisah, menyusuri lika-liku jalanan takdir masing-masing. Good Luck, kawan !

 

 

 

Advertisements

Mengibarkan Islam di Kota Birmingham

…. salah satu kunci kesuksesan para Ilmuwan Islam di masa keemasan peradaban Islam adalah bahwa selain menguasai ilmu umum, mereka sangat paham terhadap syariat ilmu agama – Habiburrahman El.

birmingham_iconic_landmark_2

Salah Satu Bangunan Landmark Kota Birmingham

Akhirnya saya kembali lagi ke kota ini. Entah, sudah keempat atau kelima kalinya saya tidak begitu mengingatnya. Birmingham, salah satu kota terbesar di Inggris yang seolah tak pernah habis untuk ditelusuri jalan-jalan nya. Bedanya, kali ini saya ditemani anak istri, dan satu rombongan dari Nottingham. Kami berangkat dari setasiun kereta api Nottingham. Di stasiun kota Robin Hood ini, kami bertemu dengan Mas Novan sekeluarga dari Sheffield yang sedang menuju kota yang sama. Ternyata istri mas Novan yang dosen UIN Sukijo Yogya itu adalah senior saya di ITS, seangkatan dengan beberapa dosen saya. Entahlah, selalu ada kegembiraan dan kebanggaan yang menyelinap setiap kali bertemu dengan teman sealmamater di negeri perantauan ini. Ohya, niat kami datang ke kota ini adalah untuk ngaji bareng bersama-sama teman KIBAR, keluarga Islam Indonesia di Britania Raya, yang setahun dua kali mengadakan pul kumpul bareng di musim semi dan gugur. Kebetulan musim semi ini bertempat di kota Birmingham.

kibar_bekas_gereja

Tempat Pengajian, The Muad Trust, Birmingham

Hanya 1.5 jam perjalanan, kami serombongan sampai di stasiun kereta api Birmingham. Sebuah setasiun yang sangat besar dan crowded dan sejak pertama kali 2 tahun yang lalu berada di stasiun ini, proses renovasi stasiun ini tak kunjung usai. Dari stasiun, kami naik bus menuju lokasi acara, Muath Trust,The Bordesley Centre, Stratford Road. Melihat arsitektur bangunan ini, saya sangat yakin kalau bangunan ini adalah bekas sebuah gereja Katolik. Tidak hanya di Birmingham, hampir di setiap kota di Inggris dan negara di belahan Eropa lainya, banyak gereja yang beralih fungsi menjadi masjid, atau semacam Islamic Centre. Hal yang sangat wajar terjadi, ketika orang eropa mulai berpaling ‘menyembah’ sains dari menyembah Tuhan di gereja-gereja. Sementara di waktu yang sama, para Imigran muslim bekas jajahan negara-negara Bangsa kulit putih ini, sangat bersemangat dengan kegiatan ritual keagamaanya. Bangsa Imigran yang didominasi dari India, Pakistan, Bangladesh itu sangat gemar memiliki banyak anak dan pandai berwiraswasta dari usaha potong rambut, penjual kebab, hingga membuka supermarket besar. Sementara, bangsa kulit putih lebih suka memelihara anjing dari pada merawat bayi. Tak heran, jika Islam adalah agama dengan pertumbuhan sangat pesat di Barat, yang jika trend itu terus berlanjut, akan menjadi agama mayoritas setidaknya 10 dekade lagi.

kibar_dangan_kang_abik

Sebagian Peserta Pengajian KIBAR Spring Gathering 2015

Tema pengajian kali ini adalah peran muslim dalam membangun peradaban, dengan keynote speaker Ustad Habiburrahman ‘Kang Abik’ Elshirazy. Kedatangan beliau ini disponsori oleh yayasan Dompet Duafa, harian Republika, yang berencana membuka kantor cabang di UK. Membaca tema pengajian kali ini sampean pasti menduga materinya tak jauh-jauh dengan nostalgia kejayaan peradaban Islam di masa lampau. Hehe, yang jelas tidak seperti biasanya, saya yang biasa ngantuk dan tertidur ketika diceramahi, kali ini ndilalah kok enggak. Saya baru tahu kalau referensi bacaan Kang Abik sama dengan bacaan santri pondok pesantren. Kitab tafsir Jalalain, Hikam, dan kitab-kitab Imam Nawawi yang berkali-kali disebut Kang Abik dalam ceramahnya.

kibar_materi

Materi Pengajian Kang Abik

Secara umum, dari materi yang disampaikan dalam tulisan arab gundul  ala kitab kuning pesantren (beruntung saya pernah sedikit belajar ilmu Nahwu dan Shorof , so bisa baca dan ngerti artinya dikit-dikit ) oleh kang Abik itu ada tujuh kekuatan yang harus dimiliki oleh umat Islam agar bisa kembali menguasai peradaban dunia. Ketujuh kunci itu, merupakan inti sari dari Surat Alfatihah. Pertama, kuatnya hubungan dengan Allah SWT. Kedua, kuatnya ilmu pengetahuan yang luas. Ketiga, kuatnya ruh cinta yang sampai ke negeri akhirat. Keempat, kuatnya pegangan kehidupan akhirat. Kelima, kuatnya ruh kegiatan/gerakan secara berjamaah. Keenam, kuatnya do’a dan istikomah. Dan yang ketujuh adalah kuatnya pemahaman terhadap sejarah. Kalau diringkas lagi intinya sebenarnya, bahwa ilmuwan jaman dulu itu sama-sama kuat antara intelektual dan spiritualnya. Tidak hanya pintar pengetahuan umumnya saja, tetapi juga tafaquh fiddin sangat paham agama dan sangat religius. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan ilmuwan islam jaman sekarang, yang seolah-seolah ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Yang paham agama biasanya pengetahuan umumnya kurang. Sebaliknya yang pengetahuan umumnya hebat, tapi pemahaman agamanya sangat minim. Selain pengajian kang Abik, pada acara ini duta besar RI untuk Inggris berkenan memberi sambutan, serta diskusi panel dengan beberapa kelompok islam Indonesia di Inggris dari NU, Muhammadiyah, PKS, PPI UK, dan Masyarakat Ekonomi Syariah UK mengenai pendidikan di Indonesia.

nginap_di_masjid

Diskusi Setelah Bangun Tidur di Masjid

Senang rasanya, di pengajian ini, saya bisa bertemu dengan saudara baru seiman. Bertemu dengan beberapa teman sesama blogger, teman facebook, yang baru kali ini ketemu langsung di darat. Bertemu beberapa orang tetangga desa di kota kelahiran saya, Banyuwangi. Bertemu juga, salah satu mantan mahasiswa dan yunior saya di ITS dan Pondok Pesantren Darul Ulum, yang saat ini sedang mengambil S2 di Universitas Manchester. Serta bertemu kembali dengan orang-orang yang saya kenal sebelumnya. Semuanya menghadirkan kebehagiaan yang bertumpah ruah di dalam dada.

kibar_futsal

Tim Futsal Nottingham Vs Birmingham

Malam harinya, kami menginap di masjid yang terletak tidak begitu jauh dari lokasi acara. Argh, ini mengingatkan tidur tanpa bantar dan tikar ala ikan pindang di pesantren saja. Cara tidur, yang mengajarkan kedederhanaan, kebersahajaan, dan rasa egaliter dalam hidup. Paginya, kami ada pertandingan futsal dan Bazar makanan khas Indonesia. Untuk kali ini, pertandingan futsal dimenangkan oleh teman-teman dari kelompok pengajian lokaliti dari Manchester. Di bazar makanan, ada sate padang dan empek-empek Palembang yang terlihat begitu menggoda air liur.  Tetapi, makanan Indonesia yang dimasak di luar Indonesia, tidak pernah seenak makanan Indonesia yang dimasak di kandangnya sendiri. Badokan asli Indonesia memang tidak pernah bisa tergantikan. Keberagamanya, cita rasanya, penyajianya dan cerita dibalik makanan-makanan Indonesia itu, tidak ada sainganya dengan makanan bangsa kulit putih di benua biru Eropa ini. Argh, Indonesia memang syurganya untuk nggeplek ilat, syurganya jajan makanan.

kibar_sate_padang

Sate Padang KW 10 Made in Birmingham

Mlipir (Lagi) ke Kota Birmingham

Kami akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti penutupan acara. Kami pamit duluan untuk mlipir menghabiskan sore di musim gugur menjelang musim panas yang cukup panjang, karena matahari baru akan tenggelam sekitar jam delapan malam. Saya dan rombongan dari Nottingham menyusuri labirin-labirin kota Birmingham yang sangat luas itu. Sebenarnya, saya sudah bosan menyusuri kembali kota ini, tetapi dengan orang berbeda, selalu menghadirkan momen yang berbeda pula.

birmingham_bullring

Ini Bukan Ainun dan Habibi

Pertama kami makan siang bersama di pelataran gedung Bullring, kami duduk-duduk di undak-undakan dengan view menghadap sebuah gereja tua yang loncengnya mengeluarkan suara yang khas dan epic sekali setiap 15 menit sekali. Entahlah, saya sangat suka dengan suara lonceng gereja itu. Hangatnya sinar matahari sore yang suam-suam kuku itu terasa sangat nikmat sekali. Dari Bullring, kami berjalan menyusuri jalan ke arah Victoria Park. Alun-alunya kota Birmingham. Sepanjang perjalanan, Ibu-ibu tak pernah kehilangan kodrat jiwa keemakanya, mudah tergiur dengan barang-barang bagus. Meskipun hanya berani mampir di toko Charity, yang menjual baju-baju bekas. Sepertinya, mereka sadar suami mereka tak pernah punya uang lebih untuk sekedar membeli baju baru di toko-toko pakaian branded yang tampak begitu menggoda di kota ini. Untung ada kamera di tangan saya, untuk membunuh kebosanan yang selalu menyiksa setiap menunggu ibu-ibu melihat-lihat barang-barang yang enak dipandang itu.

birmingham_iconic_landmark

Salah Satu Landmark Di Tengah Kota Birmingham

Di alun-alun kota itu, saya selalu kagum dengan bangunan-bangunan berumur ratusan tahun yang lalu itu. Bangunan-bangunan dengan estetika arsitektur yang rumit itu seolah bercerita panjang tentang bagaimana orang-orang terdahulu pernah hidup di kota ini. Tentang kejayaan orang-orang terdahulu yang begitu perkasa dan digjaya, tetapi akhirnya mereka pun binasa. Ingin rasanya, jika ada, memasuki lorong waktu, untuk hadir dalam kehidupan 1000 tahun yang lalu.

brimingham_victoria_park

Victoria Park, Alun-Alun Kota Birmingham

Kokoh dan Indahnya bangunan-bangunan itu membuat pikiran saya tak pernah mau berhenti bertanya. Bagaimana orang-orang terdahulu membangun bangunan seindah dan semegah ini. Seperti halnya, saya selalu bertanya bagaimana nenek moyang saya membangun Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bangunan-bangunan itu adalah saksi-saksi bisu kejayaan dan kemajuan peradaban bangsa-bangsa terdahulu. Inikah sisa-saisa bukti kejayaan Bangsa Romawi yang ceritanya diabadikan dalam sebuah surah dalam Alquran itu?

birmingham_iconic_landmark_3

Bukan Tugu Yogyakarta di Tengah Kota Birmingham

Dari Victoria, kami berjalan menuju sebuah bangunan megah paling baru di kota ini. Bangunan itu adalah perpustakaan publik yang katanya adalah perpustakaan publik terbesar di benua Eropa. Sekilas, bangunan itu terlihat begitu futuristic dengan material bangunan modern dan saya yakin bangunan ini dibangun dengan konsep green sustainable building yang menjadi jargon dunia belakangan ini. Konon di dalamnya adalah sebuah taman untuk membaca buku yang sangat mewah dengan koleksi bacaan yang super lengkap. Indeed, ini benar-benar syurga level dewa bagi para pecinta buku yang hobi membaca.  Tapi sayang, sore itu perpustakaan sudah tutup. Kami terpaksa harus puas dengan sekedar foto-foto berlatar belakang bangunan megah itu.

birmingham_public_library

Perpustakaan Umum Di Kota Birmingham

Di taman depan perpustakaan ini, kami bertemu dengan rombongan orang Indonesia lainya dari kota Southampton. Sejenak, saya merasa seperti di antara kerumunan orang-orang di  Taman Bungkul Surabaya. Yah, ternyata orang Jawa semuanya. Dari gedung perpustakaan kami kembali berjalan menuju kanal yang tidak jauh dari lokasi perpustakaan. Kanal yang airnya bersih meskipun berada di tengah-tengah kota besar yang padat. Di kedua bibir sepanjang aliran kanal itu terdapat jalur pejalan kaki yang cukup lebar lengkap dengan bangku-bangku panjang di pinggir kanal. Tempat yang sangat nyaman untuk menghabiskan senja di kota ini. Jika berminat, sampean bisa naik perahu motor mengelilingi  kota Birmingham lewat kanal itu.

Sayang, hari terasa begitu cepat berubah menjadi semakin pekat. Dan kami pun harus segera pulang. Yah, terkadang kehidupan ini terasa tak ubahnya sebuah perjalanan. Ada perjuangan, kejutan-kejutan, ada kesenangan, ada kebahagiaan, kadang juga sedikit kesedihan di dalam perjalanan. Tetapi perjalanan tak pernah selamanya, karena pada akhirnya kita harus kembali pulang. Begitu pun hidup, hanya mampir ngguyu, dan kita pasti akan kembali pulang menuju rumah kita sesungguhnya. Terima kasih kepada semua teman perjalanan! Sampai jumpa di perjalanan yang lain.


Birmingham: Kampus Bata Merah, Kampung Gay, dan Makanan Halal ala Indonesia

… Perjalanan, berarti berbeda pada setiap orang. Buat saya, perjalanan adalah mengubah  kenggumunan menjadi hal biasa-biasa saja. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang Kota Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris.

birmie_01

Kampus Utama, Univ.  Birmingham

Beberapa hari yang lalu, diluar rencana saya akhirnya untuk kesekian kalinya pergi ke kota Birmingham. Hanya untuk menghadiri sebuah seminar gratis seharian yang sama sekali tidak berkaitan dengan penelitian PhD saya. Tapi, begitu merangsang intelektual saya untuk mengetahuinya: Computational Models of Social Interaction. Intinya bagaimana memahami pola interaksi manusia dalam dunia digital, seperti media jejaring sosial, e.g. facebook, twitter, foursquare dengan menggunakan pendekatan model komputasi (baca: rumus matematika dan algoritma pemrograman ). Boleh dibilang ini adalah genre ilmu:   Science (quantitative approach, baca: Jurusan IPA) nya e-sociology. Ada juga Social Science (qualitative approach, baca: Jurusan IPS) e-sociology, yang biasa dipelajari para peneliti bidang ilmu komunikasi.

Sangat menarik buat saya, karena sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-sehari, bukan? Tapi sebagaiamana ilmu sosial dan humaniora lainya, sangat kompleks untuk memahaminya. Tak heran, jika para profesor yang memberi seminar berasal dari berbagai universitas dengan latar belakang yang beragam: Matematika, Ilmu komputer, Psikologi, Ekonomi, Sosial dan Pemerintahan. Menarik lagi, dalam halnya penggunaan media jejaring sosial, Indonesia selalu muncul dalam hasil kajian mereka.

Tetapi, kali ini saya tidak sedang ingin membahas bahasan lebih serius. Sebagaimana, tulisan saya lainya di blog ini adalah hanya sebagian kecil sisi lain yang tidak penting dari kehidupan saya yang sebenarnya. Menulis hal tidak penting, untuk pelarian di akhir pekan dari kwajiban menulis jurnal dan tesis yang bikin kepala pening 😀

Universitas Birmingham

Kampus ini terkenal dengan sebutan kampus bata merah ( red brick ).  Karena bangunan utamanya, e.g. gedung rektorat, didominasi bangunan dengan tembok batu bata merah. Ada bangunan clock tower di tengah-tengah nya, yang katanya sih The tallest free-standing clock tower in the world. Bangunan lainya adalah standard kampus-kampus  di luar negeri. Di  kampus utama ini, terdapat  stasiun kereta api bernama University, yang terhubung dengan jaringan kereta api nasional dan hanya berjarak satu stasiun dari stasiun kota Birmingham. Untuk menuju kampus ini, dari kota birmingham, bisa ditempuh dengan kereta api dengan tiket hanya 2.1 GBP one-way, atau 2.2 GBP return (PP). Hanya beda 10 pence, antara tiket satu jalan dan tiket PP.

birmie_02

Menara Jam, Universitas Birmingham

Kota Birmingham

Sekilas kota Birmingham terlihat sangat ramai. Tapi tidak sesibuk kota Surabaya apalagi Jakarta. Pukul 21.00, kota ini sudah sangat sepi. Hampir semua pusat-pusat perbelanjaan, tempat makan sudah tutup. Yah, tipikal kehidupan orang British, yang sangat menjaga keseimbangan antara work and life. Mereka bukanlah bangsa yang gila kerja seperti Cina, Singapura, Korea, dan Jepang yang demi uang mereka siap bekerja 24 jam. Hal itu tidak terjadi dengan orang British. Mereka akan sangat fokus dalam bekerja di jam kerja, dan sangat santai di luar jam kerja. Di akhir pekan pun mereka menikmatinya untuk dihabiskan bersama keluarga atau teman untuk sekedar jalan-jalan, mengerjakan hobi, dan kegiatan fun (leisure activities ) lainya. Pun demikian, Inggris tetap diantara negara paling maju di dunia. Bahkan ketika krisis ekonomi melanda eropa, Inggris salah satu negara yang masih kuat ekonominya.

birmie_03

Bullring, Birmingham

Landmark kota Birmingham adalah bangunan Bullring, sekilas pusat perbelanjaan ini mirip dengan gedung durian di Singapura. Arsitektur bangunan yang unik, membuat bangunan ini sangat menonjol dibanding dengan bangunan lainya. Pusat perbelanjaan, museum, cathedral, taman kota adalah tourist main attraction standard kota-kota di eropa. Jika di Nottingham ada patung Robin Hood, di kota ini ada patung kebo giras (baca: kerbau), sebagai icon kota. Yang unik dari kota ini adalah public library yang katanya diklaim sebagai perpustakaan umum terbesar di Eropa.

Kampung Gay

Yang unik lagi dari kota Birmingham adalah adanya ‘kampung’ gay. Ada salah satu kompleks dalam kota Birmingham yang merupakan tempat komunitas manusia yang biasa dikenal LGBTQ ( Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer). Meskipun perkawinan sejenis masih menjadi kontroversi, tetapi di dunia barat, LGBTQ tidak lagi dianggap ketidaknormalan, apalagi dianggap penyakit kejiwaan. Di dunia barat, LGBTQ dianggap sesuatu yang alamiah meskipun mereka adalah anti-mainstream. Keputusan menjadi LGBTQ adalah kebebasan yang harus dihormati dan dihargai di dunia barat. Tak heran jika hampir di semua universitas di Inggris terdapat student union ( baca: unit kegiatan mahasiswa) yang menampung para LGBTQ ini. Sesuatu yang masih sangat tabu pastinya di dunia timur.

birmie_04

Salah Satu Sudut Jalan Kampung Gay, Birmingham

Di kampung Gay ini terdapat banyak sekali tempat hiburan dan tempat sosialisasi khusus kaum LGBT ini. Mungkin di tempat inilah mereka akan menemukan teman, dan akhirnya menemukan pasangan hidup mereka. Jargon yang ditempel di tempat-tempat hiburan itu adalah : Meet, Greet, and Married ! Sampean berniat mencari pasangan disini? hue heue….. Na’udzubillah Min Dzalik.

Masjid di Birmingham

Dari kampung gay, kita mencari masjid. Sebenarnya, sebagai traveler muslim, untuk sholat kita sebenarnya bisa sholat dimana saja. Tidak harus di masjid. Saya biasa sholat di pesawat, di bus, di stasiun, bahkan di antara rerumputan di sekitar castle. Tapi jika bisa menemukan masjid, alangkah menenangkanya. Di Birmingham, yang populasinya cukup banyak, terdapat beberapa masjid besar. Salah satu yang terbesar adalah Masjid Jami dan Islamic Centre Birmingham. Sebelumnya, masjid ini bernama Masjid Saddam Husein. Karena memang dibangun sebagai hadiah dari Saddam husein. Dan mungkin karena alasan politik, masjid itu pun berganti nama. Tentang masjid ini, silahkan merujuk ke sini.

Makanan Halal

Nah, satu lagi sebagai traveler muslim, hal yang biasanya sulit dicari adalah makanan halal. Tapi jangan khawatir, seperti di kota-kota lain di Inggris, di Birmingham, makanan halal cukup mudah untuk dicari. Kebab, Fish and Chips, Chicken and Chips, adalah makanan halal standard yang cukup mudah ditemukan di kota-kota di eropa. Bagaimana dengan nasi dan masakan Indonesia?

birmie_05

Buffet Hut: Restoran Prasmanan Halal Murah ala Indonesia

Untuk di kota  Birmingham ini, rekomendasi saya adalah Buffe Hut. Terletak di tengah-tengah kota, dekat dengan coach station dan train station, restoran ini memenuhi semua kriteria saya. Halal, Enak, Ada Nasi, Masakan Indonesia, Murah dan Banyak. Saya kasih bintang 5 deh. Memasuki restoran ini, sampean cukup membayar 5 GBP dan 50 pence untuk minum. Selanjutnya sampean akan diberi piring mungil, garpu, pisau dan selembar tisu. Selanjutnya, sampean bisa menyantap semua makanan yang ada disitu, bisa nambah sepuas nya. Tempat makanya pun cukup cozy dan nyaman.

birmie_06

Mi Goreng Jawa Birmingham

Melihat deretan menu yang disajikan, saya merasa seperti menghadiri kondangan mantenan. Sebab menu-menu yang ada khas makanan kondangan tersebut. Ada nasi goreng merah, nasi goreng putih, mie goreng jawa, kari ayam, gulai kambing, capcay, olahan ayam, olahan daging, olahan ikan, dsb. Ada juga makanan fast food disini pizza, kentang goreng, dan ayam goreng. Menariknya, dilengkapi juga dengan salad sayur-sayuran, dan buah-buahan segar. Semuanya bisa diambil sepuasnya.

Sayangnya, piringnya terlalu mungil dan tidak dikasih sendok. Membuat saya agak kesulitan makan nasi goreng pakek garpu dan pisau harus top up berkali-kali. Cita rasayanya khas Indonesia. Tidak seperti makanan eropa pada umumnya yang plain, disini masakanya berasa sekali bumbu-bumnya, so spicy.  Saya sampai nambah bolak-balik lima kali, sebelum akhirnya perut saya tak muat lagi. Sebelum makanan yang sebelumnya terasa enak sekali, menjadi tidak enak karena sudah kenyang. Yah, begitulah sifat kenikmatan dunia, yang sangat terbatas. Sebatas perut lapar sampai dengan perut kenyang. Rasanya, tidak ada kenikmatan dunia yang nikmatnya tiada batas. Yang pasti untuk kali ini, saya harus berterima kasih kepada teman perjalanan saya yang dengan sangat baik hati menjemput, meminjamkan tempat tidur, bantal dan selimutnya, menjadi guide setia, mentraktir transport dalam kota dan makan saya, hingga menghantarkan saya ke coach station kembali ke tempat tujuan. Rasanya, memiliki teman baik itu seperti memiliki barang sangat berharga dalam hidup ini. Saya sering kali suka terharu dengan kebaikan yang begitu tulus orang-orang di sekitar saya, dan saya belum sempat membalas kebaikan tersebut.  Matur nuwun, Kawan ! Gusti Allah sing mbales.

birmie_07

Menjelang Maghrib di Kota Birmingham

Sayang setiap perjalanan harus diakhiri, dibatasi oleh ruang dan waktu takdir Tuhan. Semoga jika ada diantara sampean yang menyimpan mimpi menyusuri kota ini, mimpi tersebut segara menjadi kenyataan. Dan cukup demikian kawan, cerita perjalanan dalam sela tidak penting saya kali ini. Perjalanan buat saya adalah tentang membuat perubahan. Merubah pola  dan cara berfikir untuk dapat melihat dunia secara berbeda. Merubah ketidaktahuan  menjadi pencerahan. Dan, merubah kenggumunan (baca: merasa takjub terhadap sesuatu) menja hal biasa-biasa saja. Selamat jalan-jalan ya !


Hari ini, setahun yang lalu

refleksi

Hari ini, setahun yang lalu.
Aku membuat langkah kecil pertama ku.
Di kota mu, Nottingham.
Dengan sebongkah harapan,
dan baris-baris do’a.
untuk sebuah level pendidikan bernama PhD.

Ada ketakutan dan keraguan,
Tapi keyakinanku membuat ku terus melangkah.
Hingga waktu pun berlalu,
Dan aku baru tersadar ini sudah setahun yang lalu.

Aku pernah hampir putus asa,
Aku pernah luruh dalam titik kepercayaan diri terendah,
Tapi rapalan doa-doa ku mampu menepis semuanya.
Hingga aku harus bersyukur aku lulus ujian tahun pertama ku.

Romantisnya daun-daun yang berguguran musim gugur,
Dinginya butiran salju di musim dingin,
Indahnya rupa warna bunga-bunga di musim semi,
Dan hangat nya mentari di musim panas,
Semua mengajarkan bahwa hidup akan terus berubah,
dan bahwa tidak ada keabadian.
Tak ada tawa yang abadi, pun tak ada tangis selamanya.

Aku pernah merasa kehilangan kehangatan keluarga ku,
dan juga keakraban teman dan sahabat-sahabat ku.
Namun, waktu mempertemukan ku dengan sahabat dan keluarga baru ku disini.

Terima kasih Tuhan, atas pengalaman berharga ini.
Yang telah kau langkahkan kaki ini, menyusuri kota-kota indah di bumi Mu ini.
Leicaster, Lincoln, Edensor, London, Liverpool, Birmingham, Whitby, Manchester,
Lancaster, Conventry, Oxford, Aberdeen, Edinburgh, Loughborough, Cambridge, Hull,
Ghent, Brussel, Leuven,Eindhoven, Enschede, Derby, Southampton

semua menorehkan pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berarti.

Maafkan untuk setiap detik waktu yang terbuang percuma,
Untuk segal hal perbuatan dan pikiran yang sia-sia.

Dua Pertiga perjalanan panjang masih terbentang di hadapan.
Keraguan itu pun muncul kembali,
Hanya keyakinan dan rapalan do’a-do’a ku kepada Mu Tuhan,
yang mampu menepis nya.

Ya Rabbi bil Mustofa, Baligh Maqasidana, Waghfirlana Ma Madzo
Ya Wasingal Karomi.

Duh Gusti, yang maha luas kemulian Mu.
Mugi Panjenengan ngijabahi cita-cita kami,
dan mengampuni dosa-dosa kami yang lalu.

Mudahkanlah segala urusan-urusan kami,
Bimbinglah selalu kemana langkah kaki ini melangkah,
Aku tunduk dan pasrah terhadap ketetapan takdir Mu.

Allahumma Ammiin.

Nottingham, 18 September 2012-18 September 2013