berjalan kaki sambil membaca buku

Sebelum Fajar : Tiga Lelaki, Senter, dan Buku

… banyak diantara kita merasa tak punya waktu untuk sekedar membaca satu dua halaman buku saja. Padahal berjam-jam waktu terbuang percuma untuk membaca lini masa media sosial di telepon genggam – a random thought

20160609_220045

Ilustrasi: Temaram Malam Menjelang Pagi

Kehidupan modern di kota ini rasa-rasanya hampir seperti robot saja, yang bisa diprogram seperti keinginan kita. Bus, kereta api, di hari dan jam yang sama selalu berada di tempat yang sama. Pun manusia-manusianya dengan segenap aktivitasnya. Semua serba teratur dan terkendali. Memudahkan memang, tetapi terkadang kehidupan seperti itu terasa sangat membosankan.

Aku pun bukan pengecualian, sama seperti orang-orang setengah robot di kota ini. Bangun pagi-pagi di jam yang sama, lalu pergi jalan kaki menapaki jalan yang sama, menuju tempat yang sama. Orang-orang yang kutemui di sepanjang perjalanan pun, orang-orang yang sama.

Dalam perjalan jalan kaki sebelum fajar itu, aku selalu bertemu dengan tiga orang lelaki di tempat yang nyaris sama. Yang pertama orang kulit hitam keturunan Afrika berjaket hitam. Yang dibalik temaram hari yang masih mengandung malam itu, dari agak kejahuan aku sama sekali tak bisa melihat rupa wajahnya. Kami selalu bertukar salam “morning” setiap kali berpapasan. Ya, hanya satu kata itu, tanpa sempat kita saling berkenalan.

Yang kedua seorang lelaki bertubuh tambun, orang British asli sepertinya. Yang selalu kulihat sedang duduk di halte bus. Dan beberapa saat kemudian, bus warna merah jambu bernomor 28, pun datang mengangkutnya. Entahlah, aku tak pernah tahu di halte mana lelaki itu akan turun dari bus.

Yang ketiga, ini yang paling mengesankan bagi ku. Seorang lelaki berkaca mata, paruh baya yang rambutnya hampir memutih seluruhnya, dengan tas ransel di punggungnya. Berjalan sangat cepat, berpapasan dengan ku, tanpa saling menyapa, hanya saling memandang sekerjap saja. Dalam malam yang masih gelap itu, lelaki terlihat sambil membaca buku novel tebal. Tangan kirinya memegangi buku, tangan kananya memegang senter mungil sebagai lampu baca.

Alamak, aku benar-benar nggumun dibuatnya. Kalau orang membaca buku di bus dan kereta, pun sambil berdiri, di negeri ini itu mah hal yang biasa-biasa saja. Tapi ini sungguh istimewa. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam alam fikiranku, untuk melakukanya. Berjalan kaki sangat cepat, di hari yang masih gelap, dingin menusuk di bawah nol derajat, membaca buku ya apa enaknya? menarik selimut tebal kembali menutupi seluruh badan di tempat tidur sambil malas-malasan tidur kembali, alangkah lebih jauh nikmatnya.

Tapi sungguh orang ini mempermalukan ku setiap hari. Aku yang selalu berkilah tak punya waktu lagi untuk membaca buku. Meski tak pernah absen berjam-jam waktu terbuang percuma untuk membaca lini masa berbagai media sosial di telepon genggam. Haha ! Argh….

Kalau di negara yang berperadaban sudah maju saja mereka rajin membaca, kalau kita yang sudah ketinggalan masih malas membaca apa jadinya? Atau apakah karena mereka rajin belajar dan membaca musabab mereka berperadaban maju?

Advertisements