Advertisements

Tag Archives: barokah

Tawadu’ dan Barokah Manfaatnya Ilmu

“Stay Hungry. Stay Foolish” – Albert Enstein

kitab_tua

Ilustrasi: Koleksi Kitab Tua

Di hari pahlawan ini, jika saya ditanya siapa pahlawan paling pertama dan berpengaruh langsung dalam hidup saya? Maka, tidak lain dan tidak bukan, Bapak adalah orangnya. Buat orang lain, mungkin tidak ada yang istimewa dari seorang Bapak. Tetapi buat saya, beliau teramat istimewa. Semoga Bapak dalam keadaan sehat walafiyat dan bahagia selalu dalam rahmat Gusti Allah SWT. Dan biarlah hari ini, saya menulis tentang nya.

Bapak, begitu saya dan dua adik perempuan saya memanggil beliau. Bukan Ayah, apalagi Abi, panggilan yang sok kemarab. Beliau typical pria jawa produk pesantren yang pendidikan formalnya hanya setingkat Sekolah Dasar. Sebagaimana kebanyakan pria Jawa pada umumnya, ditambah produk pesantren, membentuk beliau seorang yang sangat kaku dalam mengekspresikan suasana hatinya. Seingat saya, saya belum pernah dipanggil sayang: Si Tole. atau Cah Bagus. Apalagi, yang namanya memuji langsung kepada saya. Adalah sesuatu yang sepertinya mustahil bin mustahal terjadi. Sebaliknya, yang sering adalah bentakan keras, atau  sabetan ganas sandal jepit di kedua belahan bokong saya, ketika sedikit saja saya berbuat kesalahan. Sebegitu kerasnya sikap Bapak kepada saya, yang membuat saya pernah membeci cara beliau mendidik anak-anaknya. Tetapi, dibalik sifat kaku dan kerasnya itu, saya tahu beliau sering memuji dan membanggakan saya di depan orang lain. Tetapi, belakangan saya baru sadar bahwa cara mendidik Bapak ke anak-anaknya itu adalah yang terbaik buat saya. Karena memang ternyata hidup itu tidak selalu mudah dan menyenang, terkadang hidup terasa berat dan menyakitkan. Lebih sakit, dari sabetan ganas sandal jepit bapak. Begitulah dalam hidup, sering kali awalnya sesuatu itu kita benci, tapi kemudian justru kita sangat bersyukur terhadap sesuatu itu di kemudian hari.

Banyak kearifan hidup yang ditanamkan oleh bapak sejak kecil kepada saya. Diantaranya adalah dalam hal mencari Ilmu. Berulang-ulang kali bapak selalu bilang kepada saya, dalam menuntut ilmu menjadi paling pintar saja tidak cukup. Yang lebih penting daripada itu adalah ilmu yang bermanfaat dan barokah. Bapak selalu mencontohkan dua orang di kampung saya. Sebut saja namanya Pak Fulan dan Pak Fulun. Konon, kata bapak, dua orang ini dulu teman seangkatan di Pesantren. Si Fulun terkenal sebagai santri paling cerdas seantero pesantren. Apalagi, yang namanya ilmu Nahwu, Shorof, Ballagoh, Mantiq, waakhowatuha (baca: dan teman2 nya) tak ada santri lain yang mampu menandingi  kepintaran Si Fulun. Padahal, itu adalah bidang ilmu terkenal paling sulit dan rumit di antara para santri. Berbeda dengan Pak Fulun, sebaliknya Pak Fulan adalah santri yang sangat biasa-biasa saja, bukanlah sosok santri yang menonjol.

Tetapi, apa yang terjadi kemudian ketika keduanya terjun ke masyarakat? Hidup memang kadang sukar untuk ditebak. Ternyata, takdir membawa Si Fulun hanya menjadi seorang penderes legen. Itu lo, orang pekerjaanya memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira nya, kemudian mengolahnya menjadi gula jawa. Status sosialnya di tengah-tengah masyarakat pun sama dengan orang-orang biasa pada umumnya. Sebaliknya, Si Fulan justru menjadi orang yang sangat dihormati di masyarakat, menjadi kyai yang sangat disegani, dan pitutur nya menjadi panutan. Tidak hanya santri lokal, santri dari luar daerah bahkan luar pulau pun berdatangan mengaji di pesantren yang dia rintis.

Bapak selalu menggaris bawahi rahasia, mengapa Si Fulun, Sang Santri paling cerdas hidupnya memprihatinkan, sementara Si Fulan yang santri biasa-biasa saja, justru menjadi orang yang dihormati, disegani, dan berpengaruh di masyarakat. Kata bapak, rahasianya adalah meskipun Si Fulun itu sangat cerdas, tetapi dia sombong  kurang tawadu’ (baca: rendah hati)  kepada sesama teman, lebih-lebih kepada guru dan kyainya. Sementara, Si Fulan, meskipun tergolong santri yang biasa-biasa saja, tetapi Si Fulan adalah sosok santri yang sangat hormat dan tawadu’ terhadap guru dan kyainya. Ditambah, Si Fulan selama mondok suka melakukan laku tirakat. Diantarnya, puasa dalail yaitu puasa setiap hari selama 3 tahun berturut-turut  (kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa).

Buat bapak, Si Fulan adalah teladan seseorang yang berhasil dalam menuntut ilmu. Tidak hanya pintar saja, tetapi ilmunya juga bermanfaat dan barokah. Karenanya, Bapak selalu mewanti-wanti kepada saya jangan sampai menjadi seperti Si Fulun, kalau bisa jadilah seperti Si Fulan.

Belakangan, di tengah-tengah studi S3 saya ini, nasehat Bapak itu sering kali terngiang-ngiang di telinga saya. meskipun kami terpisah ribuan mil jauhnya. Di saat merasa down, seolah memberi semangat pada saya: nggak opo-opolah, sing penting ilmunya manfaat lan barokah. Di saat merasa up, seolah menasehati saya untuk rendah hati selalu, tidak cepat merasa puas, dan terus dan terus mau belajar. Di saat merenung, terkadang saya berfikir, memang benar sepintar-pintar nya seseorang, katakanlah kepintaranya sampek sundul langit, kalau seseorang itu sombong, pasti ujung-ujung nya dia akan menjadi orang kerdil. Sebaliknya, seseorang boleh merasa bodoh, sebodoh-bodohnya, sepanjang dia mau belajar, suatu saat dia menjadi besar. Orang sombong itu biasanya memang susah menjadi pendengar yang baik, akibatnya dia sedikit belajar, atau bahkan tidak mau belajar. Orang tawaduk itu biasanya pendengar yang baik, orang yang mau banyak mendengar biasanya belajar banyak. Orang yang tirakat itu biasanya lebih mudah merasa dekat dengan Tuhan. Yang dekat dengan Tuhan nya, pasti mudah terkabul doa-doanya.

Seorang super-genius, sekaliber albert enstein pernah berkata, “Stay Hungry. Stay Foolish”. Mengajak kita untuk tidak mudah berpuas diri, dan selalu merasa bodoh. Keduanya modal buat kita untuk terus dan terus mau belajar. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang tawadu’, mau mendengar, dan mau terus dan terus mau belajar. Semoga apa yang kita pelajari, menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah di kemudian hari. Untuk Bapak, semoga sehat walafiyat selalu dalam rahmatipun Gusti Allah ta’ala. Allahumma Ammiin.

Advertisements

Budi dan Zaidun Yang Melegenda: Do’a dibalik Nama ?

Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia.

ini_budi_nuh
(Courtesy: republika.co.id)

Diantara berita-berita politik menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2014, ada satu berita duka yang menggelitik hati saya ,yang biasanya cukup selektif memilah berita yang ‘bermutu’ di antara berita-berita ‘sampah’, untuk membacanya. Berita duka itu adalah perihal kepergian Budi dari dunia perbukuan pendidikan dasar di Indonesia. Pak Menteri Pendidikan akan ‘mematikan’ Si Budi, keluarga, dan kawan-kawanya yang sudah ‘hidup’ melegenda berpuluh-puluh tahun, menemani anak-anak Indonesia dari generasi ke generasi belajar membaca dan menulis. Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Rest in Peace Budi ! Budi ‘dituduh’ sebagai biang kemonotonan sistem pendidikan dasar di Indonesia, dan segera akan hadir tokoh-tokoh baru Edo, Siti, dkk. yang lebih ‘segar’ bersamaan dengan datangnya mahzab pendidikan baru, bernama Kurikulum 2013. Oh, benarkah tuduhan itu?

buku_ini_budi
(Courtesy: http://blogs.phys.unpad.ac.id/sahrul/ )

Kenangan Si Budi

Siapa sih yang tidak kenal Si Budi? Anak-anak yang mengalami sekolah dasar di era 70-90 an, saya haqul yakin kenal dengan Si Budi. ‘Ini Budi’ mungkin adalah kalimat pertama yang paling banyak diucapkan oleh jutaan anak-anak Indonesia ketika pertama kali belajar membaca. Sebelum pada akhirnya menjadi anak-anak cerdas dan pintar di berbagai bidang kehidupan yang saat ini menjadi aktor-aktor utama dalam panggung besar bersama negara Indonesia raya ini.

Buat saya pribadi, Si Budi membawa ingatan saya pada bangunan terkucil di tengah-tengah sawah di dusun kami. Yah, bangunan sederhana penuh kenangan itu tidak lain adalah SD (INPRES) Negeri PLAMPANGREJO 3. Tetapi, masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan SD Inpres. Ini adalah satu di antara lima sekolah dasar negeri di kampung kami, dan menjadi yang terdekat dari rumah saya,  serta menjadi satu-satunya sekolah dasar di dusun kami, dusun Ringinpitu. Selain 5 SD negeri ini, ada satu lagi sekolah swasta di kampung kami bernama Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum yang dikelola Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) anak ranting Desa Plampangrejo. Yang letaknya cukup jauh dari rumah saya.

Masya Allah. Tiba-tiba saja saya jadi teramat rindu dengan kenangan memakai seragam merah putih di saat jaman dunia anak-anak yang begitu indah saat itu. Riuhnya anak-anak dusun menyusuri jalan setapak, galengan sawah, melintasi uwot, jembatan kayu yang menhubungkan dua bibir parit irigasi sawah, di antara hamparan tanaman padi, mendong, singkong, pisang dan rerimbunan pohon kelapa yang hijau adalah pemandangan setiap pagi hari. Dan kami pun hanya berpayung daun pisang dikala hujan deras datang di musim hujan. Seolah tak pernah ada kesedihan, yang ada hanyalah keceriaan anak-anak dusun yang begitu  menikmati dunia mereka.

Si Budi juga membuka memori ingatan saya pada sosok Pak Suroto. Sosok Guru paling sabar di dunia, yang setiap hari menemani saya di kelas 1 di sekolah itu, kelas paling ujung di sekolah kami yang berbatasan langsung dengan hamparan sawah yang luas. Iya, Pak Suroto pripun kabar panjenengan pak? Bahkan saya tidak tahu apakah beliau masih hidup atau kah sudah meninggal dunia. Kebetulan rumah beliau cukup jauh dari rumah saya, dan saya pun belum pernah tahu dimana rumah beliau karena berada di desa yang berbeda. Saya mungkin salah satu murid durhaka, dari jutaan orang-orang yang melupakan guru SD nya. Guru yang pertama mengajari kita belajar mengenal huruf, mengeja, membaca, menulis dan berhitung. KUnci-kunci pembuka semua ilmu pengetahuan. Seorang guru yang sangat telaten dan sabar mengajari kami, anak-anak dusun dengan kecerdasan yang pas-pasan dan nakal pula.

Semoga dimanapun beliau berada, selalu dalam lindungan Allah Swt. Ketulusan, kesabaran, kesederhanaan, kebersahajaan, pengabdian, semangat, perjuangan, cinta dan ilmu beliau akan selalu hidup dalam hati kami para murid-muridnya. Khusus buat guru SD kelas 1 saya, Pak Suroto, Alfaaatihah ! Saya yakin ilmu dari beliau adalah ilmu yang bermanfaat, sekaligus menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus dan terus mengalir meskipun jasad telah meregang nyawa.

ini_budi2
(Courtesy: http://koleksibarangdjadoel.blogspot.co.uk/)

Ada apa dengan Budi?

Sudahlah, saya simpan kembali dulu kenangan Si Budi dalam memori ingatan saya untuk dikenang, diceritakan kembali suatu saat ini. Ohya, mungkin dulu kita pernah bertanya kenapa sih dipakai nama Budi? Kenapa ndak Ahmad seperti nama saya yang artinya sangat terpuji ini. Kenapa tidak menggunakan nama-nama lain? Kenapa pula, nama Budi begitu ‘eksis’ hingga berpuluh-puluh tahun bahkan lintas generasi?

Pastinya, semua karena sesuatu alasan. Bukanlah sesuatu yang kebetulan.  Menurut hemat saya, Ada filosofi dibalik nama Budi. Ada pesan atau doa di balik nama itu. Bisa jadi, penulis buku itu sebenarnya ingin berpesan betapa penting nya memiliki budi yang baik itu penting di atas segalanya. Diatas capaian ilmu dan keterampilan ada yang jauh lebih penting yaitu Budi pekerti yang baik. Menjadi pintar menjadi percuma, ketika seseorang tidak berbudi. Iya Budi pekerti yang baik, yang tidak lain adalah pendidikan karakter yang menjadi jargon yang digembar-gemborkan oleh pemerintah melalui Kurikulum 2013.

Ada pesaing Budi bernama Zaid di Pesantren 

Sebenarnya, fenomena penggunaan nama berulang-ulang dalam lierature dunia pendidikan tidak hanya terjadi di pendidikan dasar di SD saja. Buat sampeyan yang pernah mondok di pesantren pasti kenal dengan yang namanya Zaid. Nama ini sama fenomenalnya sama Budi. Kalau budi terkenal dengan kalimat ” Ini Budi”  dan “Ini bapak budi” nya. Zaid terkenal dengan kalimat: ” Jaa a Zaidun “ (dibaca: Jaa a, wes teko, SOPO, Zaidun, Zaid  : artinya, Zaid sudah datang) dan “Doroba Zaidun Amron” (dibaca: Doroba, wes mbalang, SOPO, Zaidun, Zaid, Amron, ING, Amr  : artinya, Zaid memukul Amr) .

Di pesantren, nama zaid ini dipakai berulang-ulang di kitab-kitab (baca: literature) ilmu Nahwu dan Shorof. Dua ilmu utama, yang sering disebut ilmu alat, yang menjadi kunci untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning. Kitab kuning adalah istilah yang digunakan untuk menyebut literatur berbahasa Arab yang ditulis dengan huruf Arab tanpa harokat. Jika anda menguasai dua ilmu ini anda dijamin bisa membaca dan memahami artinya, meskipun tertulis dalam tulisan Arab tanpa harokat. 

Nah, di kitab-kitab literature ilmu Nahwu dan Shorof  seperti kitab Jurumiyah, Imrithi, dan Alfiyah ibn malik, Nama Zaid sangatlah populer. Karena sering dipakai contoh berulang-ulang. Apakah ini juga potret kemonotonan sistem pendidikan di dunia pesantren, Pak Menteri? Bahkan, tidak saja puluhan tahun, kitab-kitab yang memuat nama Zaid ini sudah dipakai ratusan tahun yang sampai sekarang masih digunakan di pesantren-pesanten, bahkan mungkin akan terus dipakai hingga akhir dunia ini.

Lalu, apa filosofi dibalik nama Zaid?

Jujur, saya belum pernah bertanya hal ini ke kyai saya. Karena kekritisan itu sesuatu yang mungkin dianggap agak tabu di dunia pesantren. Tapi saya pernah bertanya kepada seorang Kang Santri yang lebih senior dari saya. Katanya sih, Zaid itu artinya bertambah. Jadi filosofinya, kenapa dipakai nama Zaid berulang-ulang, itu supaya ilmu kamu cepat bertambah. Haha, kedengaran tidak masuk akal memang. Tapi saya selalu memaknai sebagai Do’a dibalik sebuah nama. Biar ilmunya bertambah dan barokah. Ohya, di pesantren ada jargon yang sangat sakral di antara para santri, yaitu BAROKAH. Mungkin kalau diadakan studi analisa kata, kata barokah ini menjadi salah satu kata yang paling sering dibicarakan di pesantren. Ketika saya bertanya apa itu Barokah? belum ada seorang pun yang bisa menjelaskan dengan kata-kata dengan sangat baik. Tetapi, barokah sering diartikan “ziyadatul khoir” yaitu bertambahnya kebaikan. Tuhkan, masih ada kaitanya dengan Zaid. Hehe…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kitab Kuning (Courtesy: http://nahwusharaf.wordpress.com/)

Baiklah, Pak Menteri. Jika Si Budi harus di ‘mati’ kan, biarlah saya mengucapkan Rest In Peace buat Budi. Mungkin, Si Budi  akan tinggal cerita, akan tetapi budi baiknya akan dikenang oleh jutaan manusia Indonesia. Dan Zaid sepertinya bernasib lebih mujur dari si Budi. Tapi, siapa tahu suatu saat nanti ada yang berani ‘obrak abrik’ kurikulum pesantren dan mengkudeta Zaid dari dunia kepesantrenan. Entahlah.

Terlepas semuanya, saya ingin menghadiahkan Alfatihah buat seluruh guru, ustad, ustadzah, kyai, bu nyai, dosen saya di dunia ini, lahumul fatihah…….!


Prihatin, Tirakat, dan Barokahnya Ilmu

tirakat

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah” – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu

Sudah semacam candu, bagi saya Facebook adalah tempat hiburan yang sangat menyenangkan sekaligus melenakan. Selalu ada kenikmatan batin sendiri ketika secara diam-diam bisa  memantau kabar teman-teman lewat status dan foto-foto yang dengan kemurahan hati mereka bagi lewat media jejaring sosial ini. Dan selalu saja ada manfaat yang bisa dipetik dari pertemanan, termasuk pertemanan di facebook ini.

Seperti hari itu, ada sebuah status seorang kawan yang mampu mencuri perhatian hati saya:

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu ” (Artinya: kamu harus berani hidup susah kalau ingin ilmumu barokah)

Rupanya kata BAROKAH lah yang mengusik otak saya dan kembali membuka kenangan lama yang sudah lama tersimpan. Kenangan 15 tahun lalu di sebuah tempat dimana kata BAROKAH begitu sangat sering diucapkan. Dalam sehari, saya bisa mendengar kata sakral itu berkali-kali. Tempat itu adalah pesantren Darussalam, Blok Agung, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di kalangan santri blokagung, barokah tidak hanya sekedar kata tanpa makna, lebih dari itu Barokah adalah sesuatu yang paling dicari. Bukan sekedar ilmu itu sendiri yang dicari, tetapi barokah nya ilmu itu yang menjadi lebih utama.

Lalu, apa sebenarnya Barokah itu?

Dalam salah satu kitab kuning dituliskan bahwa “Albarakatu Ziyadatul Khoir” , barokah itu bertambahnya kebaikan. Bertambah kebaikan seperti apa? Barangkali, cerita (alm.) Mbah Kyai Syafaat pendiri pesantren blokagung ini bisa menjelaskan apa itu Barokah.

Konon, awalnya Syafaat muda adalah santri biasa di sebuah pesantren di Banyuwangi. Kecerdasanya mungkin tidak jauh berbeda dengan santri lainya. Namun kesabaran, keuletan, ketelatenan dan ketawaduan (rendah hati) Syafaat terhadap guru nya lah yang sangat menonjol. Hingga akhirnya menjadikan beliau menjadi kyai besar kharismatik yang sangat berpengaruh pada masa nya di Kabupaten Banyuwangi. Bahkan melebihi guru-guru nya sendiri.

Berawal dari tempat ngaji berupa mushola kecil di sebuah desa terpencil di dekat hutan belantara di selatan kabupaten Banyuwangi yang juga tempat mangkalnya para penyamun itu, kini pondok pesantren Blok Agung menjadi pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Jumlah santrinya ribuan berasal dari seluruh penjuru nusantara. Tidak hanya tempat mengaji kitab kuning, di pesantren ini sakarang berdiri bangunan-bangunan sekolah yang megah dari tingkat PAUD/TK hingga Perguruan Tinggi.

Mungkin inilah contoh barokahnya ilmu seorang Mbah Kyai Syafaat. Ilmu nya yang masih terus tumbuh berkembang bahkan setelah beliau tiada. Yang mungkin akan masih memberi manfaat hingga akhir dunia nanti.

Bagaimana cara mendapatkan barokah nya Ilmu?

Fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang berilmu, pintar dan pandai tetapi ilmunya tidak banyak bermanfaat buat orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, banyak orang yang sebenarnya tidak pintar-pintar amat tetapi justru ilmunya bermanfaat banyak baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Kata orang tua Jawa jaman dahulu, kalau pengen sukses dalam menuntut ilmu harus berani hidup prihatin, hidup susah, bersakit-sakit terlebih dahulu. Sedangkan di pesantren selain diajarkan untuk belajar yang tekun, juga dianjurkan untuk menjalankan laku tirakat (jalan mendekatkan diri kepada Tuhan) dengan memperbanyak amalan-amalan sunah seperti puasa, sholat malam, dzikir, mengurangi waktu tidur dan sebagainya.

Kembali ke cerita mbah kyai Syafaat, konon dulu ketika menjadi santri dilaluinya dengan penuh penderitaan. Hidup sangat pas-pasan bahkan rela nyambi sebagai buruh tani. Sering kena penyakit kudis selama menjadi santri. Bahkan konon katanya, beliau pernah berpuasa selama 8 tahun. Sebuah perjuangan dan penderitaan yang panjang.

Terdengar tidak masuk akal memang. Tetapi perihal tirakat, sudah menjadi hal biasa di kalangan santri BlokAgung. Di antara santri terdapat omongan begini, belum benar-benar jadi santri Blok Agung kalau belum puasa Dalail (puasa tiga tahun berturut-turut, setiap hari, kecuali hari-hari yang diharamkan puasa).  Saya sendiri adalah salah satu santri yang tidak melakukan tirakat se ekstrim itu, paling banter cukup puasa sunah hari Senin dan Kamis saja.

Hidup Prihatin menuntut ilmu di negeri Orang

Kenangan dan pengalaman masa lalu itu jelas membekas dalam hidup saya. Sekaligus menguatkan diri saya ketika saat ini sedang belajar di Luar Negeri jauh dari keluarga. Dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia (DIKTI) yang sangat pas-pasan dan tidak mengcover biaya hidup untuk keluarga. Ditambah lagi pencairan beasiswa yang selalu telat berbulan-bulan setiap semesternya. Selalu saya niati sebagai laku prihatin dan tirakat dalam menuntut ilmu. Dengan harapan dan doa, semoga ilmu yang saya peroleh di perantauan ini suatu saat nanti menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah seperti ilmunya mbah Kyai Syafaat. Allahumma Ammiin.

Buat teman-teman yang sedang menuntut ilmu dalam susana penuh keprihatinan, bersabarlah!  Karena memang masa menuntut ilmu adalah lakon hidup yang tidak penuh dengan bunga-bunga. Semoga lakon ini menjadikan ilmu kita manfaat dan barokah terus dan terus menerus di masa depan. Allahumma Ammiin.