Banyuwangi

Galengan Sawah Bercerita: Desa Mencari Makna

…. tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan? – a random thought

desaku_1

Tengah Sawah, Dusun Ringinpitu, Plampangrejo, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur

Jejak langkah.

Pernahkah merenung sudah seberapa jauh kaki melangkah menapaki jalan kehidupan kita? Pernahkan bertanya kemana langkah kaki menuju dan apakah kita melangkah ke jalan yang benar? Ada ribuan tanya mengiringi setiap gerak langkah perjalanan, saat kita berusaha memaknai.

Jalan hidup defaultnya terasa lempeng-lempeng dan lurus-lurus saja. Hanya sesekali terasa mendaki atau tak sadar kita telah jauh melangkah menurun. Terkadang terjal dan berliku. Ada kalanya kita sampai pada persimpangan, banyak jalan yang tebentang di hadapan dan kita dituntut untuk membuat sebuah keputusan: memilih. Tanpa tahu dengan pasti, bagaimana dan dimana jalan yang kita pilih akan berujung.

Ada yang menapaki perjalanan sebagai langkah-langkah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Ada yang menapaki perjalanan penuh dengan strategi dan perhitungan untuk sebuah kata kunci: menjadi pemenang kehidupan. Ada yang sekedar mengikuti kata hati, kemana nurani bicara disanalah dia akan pergi. Adapula yang berfikir bahwa setiap peristiwa kehidupan tak ubahnya bilangan random yang tak perlu disiati, karena itulah inti dari seninya perjalanan hidup. Tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan?

Menyusur Jejak Langkah

Peristiwa mudik, pulang kampung kembali ke desa, ke dusun tempat kita lahir dan tumbuh, buatku adalah peristiwa sakral yang selalu istimewa. Disinilah, titik nol langkah perjalanan hidup kita dimulai. Dan menyusurinya kembali adalah peristiwa transendental yang mengingatkan kita untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita tempuh: are we on the right track?

Adalah jalan setapak, galengan sawah, jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang diantara petak-petak sawah yang dahulu pernah, selama tak kurang dari enam tahun aku menyusurinya pulang pergi. Jalan terpendek dari rumah menuju SD ‘Inpres’ Negeri, yang terletak di pinggir sawah di dusun kami. Saat itu ada lima SD Negeri dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa kami, desa Plampangrejo. SD Negeri Plampangrejo 3 adalah satu-satunya sekolah di dusun kami, dusun Ringinpitu. Sebelum akhirnya kesuksesan program KB di era orde baru yang berakibat menurunya jumlah anak-anak membuat salah satu sekolah harus ditutup, kekurangan murid. Dan sekolah ku berubah nama menjadi SDN Plampangrejo 2. Dan hari itu, kami menyusuri galengan sawah itu kembali.

Galengan Sawah Bercerita

Bagiku, menapaki kembali jalan galengan sawah itu seperti membuka dan membaca kembali buku cerita lama. Bayangkan sedikitnya enam tahun aku menyusuri jalan yang sama, sepanjang hampir 2 km itu, setiap hari.

Secara fisik, meski puluhan tahun berlalu tak banyak yang berubah. Ceritanya yang berganti. Dahulu, di jalan itu, setiap pagi dan siang hari, ramai anak-anak berseragam merah putih, berjalan, meniti (jembatan papan kayu), dan melompat (kalen, saluran irigasi), menyusur setapak dan demi setapak dengan riang hati. Bila musim hujan tiba, daun pisang menjadi payung, tas dan sepatu harus dibungkus keresek. Seringkali kami harus menempuh jalur yang lebih panjang karena jembatan papan kayu hanyut oleh deras arus air kalen. Sepeda Ontel dan Payung adalah sebuah kemewahan buat kami saat itu.

Kini, yang ada hanyalah hening dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak berjalan kaki menuju sekolah. Yang bersepeda ontel pun nyaris tidak ada. Kemajuan zaman membuat manusia semakin merasa nyaman, anak-anak dusun pun diuntungkan, antar jemput pakai sepeda motor dan mobil menjadi kebiasaan. Hidup boleh di desa, tetapi gaya hidup tak boleh kalah dengan orang kota- imajinasi kesuksesan hidup yang selalu mereka bayangkan lewat tayangan sinetron di TV.

Di jalan itu banyak cerita. Di bawah rumpun pohon bambu, ada rumah Lek Man Gun dan Bek Saudah. Keduanya kini telah tiada, Allahu yarhamhum. Pasangan suami istri ini selalu terlihat bekerja keras sebagai pengrajin alat-alat dapur dan pertanian dari bahan dasar bambu yang melimpah ruah di dusun kami. Ada tampah, tompo, dan banyak lagi yang bahkan aku sudah tak mampu mengingat namanya. Sebelum akhirnya alat-alat dapur dari bambu itu tergantikan oleh peralatan plastik made in negeri tirai bambu yang serba murah. Peralatan plastik itu menggempur pasar desa, dan kehidupan Lek Man Gun dan Bek Saudah pun kian merana. Barang-barang hasil tanganya yang terampil itu tak lagi laku di pasar desa.

Lek Man Gun adalah leleki gagah, tinggi besar, dan kulitnya kuning langsat. Begitun Bek Saudah, kulitnya kuning langsat tak seperti kebanyakan orang-orang desa kebanyakan yang kulitnya buluk kusam. Sayang kesempurnaan fisik mereka tak seindah cerita hidup yang menyertainya, setidaknya menurut ukuran kesuksesan hidup orang modern jaman sekarang. Kami masih ingat betul senyum tulus khas keduanya. Meski tengah sibuk berkarya, sapaan hangatnya tak pernah alpa menyapa kami yang melintas di depanya. Merekalah saksi hidup kami, yang mengamati kami tumbuh dari anak-anak hingga tumbuh menjadi remaja hari demi hari. Kini, di tempat yang sama yang ada hanyalah sunyi.

Selain rimbunan pohon bambu, tegalan pekarangan rumah Lek Man Gun juga dikelilingi oleh pagar hidup dari tanaman waribang, alias bunga sepatu. Bunga yang belakangan kutahu adalah bunga kebangsaan negara Malaysia. Bunganya indah berwarna merah, meski tidak pernah berubah jadi buah, yang sering diminta bawa oleh Guru kami di kelas untuk menerangkan alat reproduksi tumbuhan: Benang sari dan Putik. Ada juga bunga sejenis, berwarna merah lebih muda, tetapi tidak pernah mekar, dan jika dipetik dan dihisap pangkalnya, ada cairan yang manis sekali, semanis madu. Jika dulu tegalan itu hanya ditanami pohon pisang, kini tegalan itu jadi perkebunan buah naga.

Beberapa puluh langkah kemudian, pemandangan berikutnya adalah rimbunan pohon kelapa. Dahulu, di antara pohon kelapa itu adalah tanaman singkong. Yang merupakan bahan pokok industri panganan getuk lindri. Zaman berubah, selera cita rasa makanan orang-orang desa pun ikut berubah. Getuk warna-warni dengan taburan parutan kelapa diatasnya telah tergantikan cake warna-warni berbahan terigu dengan parutan keju di atasnya. Wajarlah, jika orang-orang desa mulai malas menanam singkong yang tidak ada harganya. Tegalan singkong pun kini berubah jadi hamparan tanaman padi, dengan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya.

Jejak langkah kami terhenti, ketika kami sampai pada tempat jembatan papan kayu dulu itu berada. Jembatan itu benar-benar telah tiada, dan kalen saluran irigasi itu terlalu lebar buat kami untuk dapat meloncatinya. Dari kejauhan kulihat galengan-galengan sawah lebakan dengan tanaman mendong yang legendaris itu benar-benar telah raib. Tergantikan oleh rerimbunan pohon kelapa berpagar yang tak bisa lagi terlewati oleh pejalan kaki.

Tanaman mendong atau mensiang, bahan baku tikar kini pun telah tiada. Dahulu saat masih banyak ibu-ibu rumah tangga menganyam tikar mendong, tanaman ini adalah komoditas yang menjanjikan. Lagi-lagi, kondisi pasar desa tak lagi bersahabat saat tikar berbahan plastik sintesis dari pabrik menyerbu pasar desa. Lagian, sudah tak jaman, hari gini tidur di atas dipan beralaskan tikar. Spring Bed sudah terbeli oleh orang-orang desa.

Karena langkah terhenti, pagi itu, kami hanya bisa duduk-duduk di galengan-pematang sawah. Merenung, menyatu dengan alam. Pemandangan yang hijau, udara yang segar, hawa yang sejuk, suasana yang hening, hanya terdengar orkestra nyanyian kodok, jangkrik dan burung truwok yang hendak bertelur. Bukankah itu kemewahan bagi orang-orang kota?

Di pematang sawah, jangkar alam fikiranku terbawa pada cerita-cerita masa lalu. Tentang ikan kutuk alias gabus besar-besar dan belut yang dulu begitu melimpah di tempat ini, tentang burung gemak alias puyuh dan burung pitik-pitikan yang wujudnya mirip dengan ayam. Dulu kami, sering mengejar dan memburunya. Sarang dan telurnya mudah kami temukan di antara rimbun tanaman mendong. Belum lagi tentang burung emprit, kutilang, prenjak, srikatan, waakhowatuha. Entah dimana mereka kini rimbanya. Hilang tanpa meninggalkan pesan. Belakangan aku tahu, burung yang kami sebut burung pitik-pitikan itu hidup bebas berdampingan dengan manusia di kampusku, Universitas Nottingham, Inggris. Tak seorang pun berani menangkapnya. Terbesit rasa sesal, kenapa dulu kami begitu kejam memburunya.

Di pematang sawah itu rasa keprihatinanku menyergap. Cerita klasik ekonomi pedesaan yang bak lingkaran setan, sangat tidak menguntungkan dalam rantai sistem ekonomi. Terus berulang, entah dimana juntrungnya. Tentang harga benih, pupuk, dan obat hama yang mahal di masa tanam, kemudian harga jual yang tiba-tiba anjlok saat panen tiba. Panen raya saja merugi, apalagi jika gagal panen? Juga tentang komoditas pertanian lainya yang tak ada harganya di pasar. Aku sangat awam dengan ilmu ekonomi, kalaupun aku seorang Profesor di bidang ekonomi pun, aku tak yakin bisa mengatasi keadaan. Benar, keadaan sistemik yang tidak menguntungkan.

Masa depan ekonomi pertanian di pedesaan rasanya begitu suram. Lebih-lebih arah pembangunan pemerintah yang tidak pernah memihak. Ironi saat puncak kekuasaan dikuasai partai yang sloganya partainya wong cilik. Ironi di negeri agraris dan maritim yang arah pembangunan negerinya tak berpihak untuk bidang keduanya. Alangkah lucunya, masya alloh di negeri yang garis pantainya terluas di dunia, garam saja harus impor. Di hamparan tanah yang subur, tongkat dilempar jadi tanaman saja, bahan pangan masih harus impor.

Tak heran, jika tak seorang pun, dari pemuda-pemudi desa yang berminat jadi petani muda, harapan masa depan. Kecuali petani muda sloganistik, yang biasanya hanya abang-abang lambe. Hanya kamuflase, yang sebentar saja tak ada rimbanya. Buat muda-mudi desa, memilih menjadi petani itu tak ubahnya memperpanjang rantai kemiskinan yang turun temurun.

Untuk memutus rantai kemiskinan itu, yang beruntung, punya otak agak encer, menempuh pendidikan tinggi, untuk kemudian menjadi priyayi di kota. Yang kurang beruntung di bidang akademik, dan orang tua punya modal yang cukup memilih bekerja di luar negeri, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang agak kurang beruntung lagi, yah merantau di kota-kota dimana uang banyak beredar, Denpasar salah satu tujuan utamanya. Yang tidak punya pilihan, kerja serabutan di desa, dengan konsekuensi menerima apa pun yang diberikan oleh hidup di desa. Masih adakah anak muda yang menggenggam asa untuk membangun desanya?

Dari sudut pandang uang saja, apalah yang bisa diharapkan dari desa? Tetapi, dari sudut pandang kehidupan keseluruhanya, kita perlu belajar kembali dari desa. Tentang ketulusan, kepolosan, kesederhanaan, kepasrahan, dan mendefinisikan kembali: apa yang kita cari dalam hidup. Desa adalah tempat untuk meraba-meraba kembali kemanusian kita, yang secara tak sadar, kesibukan telah menjadikan kita tak ubahnya mur baut mesin industri pencipta uang. Desa kembali mengingatkan kita kembali bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang lebih penting dari sekedar uang.

Advertisements

Setangkup Cerita Dari Banyuwangi

…  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali. – a random thought

banyuwangi_1

Pantai Cemara Banyuwangi

Banyuwangi. Nama kota kecil di ujung tenggara pulau Jawa ini begitu istimewa di hatiku. Bukan saja sebagai hometown, tempat aku lahir, tumbuh mendewasa dan selalu ingin kembali pulang kepadanya, kemanapun aku pergi.  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali.

banyuwangi_p_merah

Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Masih seperti dulu, kota ku ini tetap bersahaja. Bahkan jalan di depan rumahku, sejak aku lahir hingga sekarang yang sudah separuh usia menuju senja pun, masih istiqomah seperti dahulu. Jalan makadam yang bergelombang dan bergeronjal. Kalau sampean naik mobil, siap-siaplah begoyang-goyang sepanjang perjalanan. Orang-orangnya pun masih peramah dan pemurah seperti dulu. Dan sawah dan ladang masih sepermai dahulu.

banyuwangi_sawah

Sawah, Banyuwangi

Hanya saja, kampungku tentu saja tak luput dari gempuran konsumerisme. Orang-orang kampung yang sukses bekerja di luar negeri, rumahnya menjadi magrong-magrong, tak kalah dengan rumah-rumah yang sering dipamerkan di sinetron-sinetron. Jumlah toko pun meningkat luar biasa jumlahnya, meskipun jumlah rumah kayaknya tak jauh berbeda. Katanya, orang-orang yang pada mulai malas bertani berebut alih profesi menjadi pedagang dan penoko. Tinggal duduk-duduk manis di rumah, uang datang sendiri.

banyuwangi_kambing

Kambing di Kampung

Para generasi tua masih setia bertani, hanya saja yang ditanam tidak lagi sama. Dulu sawah-sawah di Banyuwangi hanya digilir dengan tanaman padi, kedelai, dan jagung atau palawija lainya. Sekarang sebagian besar sawah ditanami dengan buah jeruk dan buah naga. Lebih menguntungkan katanya. Sejak pemerintah rajin impor beras, kedelai, dan jagung. Bertanam tiga tanaman itu, bukan saja untung sedikit, tapi malah tekor. Bahkan pengusaha tahu dan tempe di kampung saja tidak mau pakai kedelai lokal, kedelai impor lebih menguntungkan katanya.

banyuwangi_p_cemara

Pantai Cemara

Yang selalu aku rindukan dari desa adalah orang-orang dan alamnya. Berbeda dengan manusia-manusia modern di kota yang semakin mekanistis, di desa aku masih menemukan sebenar-benarnya manusia. Ketulusan, kepolosoan, dan kebersahajaan dalam tata pergaulan dengan orang-orang desa adalah sebuah kemewahan. Kemewahan diantara jamak tata pergaulan orang-orang modern yang penuh gimmick, politis, beragenda, dan atas dasar kepentingan. Kepentingan duit, di ujung-ujungnya.

banyuwangi_sawah_2

Alam Desa

Alam desa yang alamiah adalah penglipur syurgawi dari suasana kota yang sumpek. Peradaban gedung-gedung tinggi dan pendingin buatan, keramaian dan kesemrawutan kota sering kali teramat melelahkan jiwa.

Industri pariwisata sedang bergeliat di Banyuwangi. Entah berapa anggaran telah dikucurkan untuk media, sehingga membuat Banyuwangi naik daun. Walaupun sebagai orang Banyuwangi asli, sebenarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja, banyak tempat wisata yang dulu menyimpan keindahan alamiah, sekarang banyak yang di dandani. Buatku itu malah seperti gadis desa yang di dandani menor. Bukanya tambah cantik, tapi malah norak. Aku lebih jatuh cinta dengan kecantikan alamiah gadis-gadis desa, eh maksudku tempat wisata desa itu.

banyuwangi_desa

Sudut Desa

Diantara yang paling istimewa adalah pantai pulau merah di garis pantai selatan Banyuwangi. Tidak ada pulau merah nya sebenarnya. Hanya seonggok pulau kecil yang di kala senja terlihat kemerah-merahan. Pantainya bersih, pasirnya coklat, dan yang paling memesona adalah airnya yang jernih berwarna biru, kehijau-hijauan alamiah (baca: turquoise).

Terlepas dari tempat-tempat wisata di Banyuwangi yang sedang naik daun. Di Banyuwangi yang paling istimewa adalah ibu.  Ibu yang selalu membawa kedamaian dan kesejukan. Ibu yang masakanya selalu istimewa. Ibu yang luar biasa. Aku bisa betah berlama-lama di rumah saja. Karena Ibu adalah rumah yang sebenarnya itu.

Titip Rindu untuk Kampung Halaman ku, Penyemangat ku di Perantauan

Hamparan padi, Lambaian Pohon Kelapa, Gunung Raung, Banyuwangi

Hamparan padi, Lambaian Pohon Kelapa, Gunung Raung, Banyuwangi

Hidup, nun jauh di negeri perantauan , terkadang membuat ku rindu kampung halaman.
Apalagi, saat lelah di tengah letih perjuangan.

Indahnya arsitektur romawi gedung-gedung bersejarah di daratan eropa, tak mampu menghapus
kerinduan ku akan kepolosan wajah ayu kampung halaman ku.

Megahnya gedung-gedung modern pencakar langit, di kota pusat peradaban dunia ini,
Tak mampu mengobati kangen hatiku pada kebersahajaan dan keaslian pemandangan gunung dang sawah
di kampung halamanku.

Betapa pun cantik dan tampanya, manusia-manusia bergaya hidup tinggi di kota ini,
tak mampu meluruhkan rindu melihat keluguan dan kepolosan wajah-wajah para petani di kampung halaman ku.

Kampung halaman ku,
Kaulah penyuluh ku, di kala semangat ku mulai redup di perantauan.
Kampung halaman ku,
Doakanlah ku cepat kembali, setelah kutuntaskan semua pedih perjuangan ini.
Kepada mu, aku akan mengabdi, suatu saat di hari tua nanti.

Titip rindu ku, untuk hamparan padi, nyiur pohon kelapa, sawah, gunung, dan
gemercik air sungai di kampung halaman ku.

Nottingham, 15/08/2014

Pesantrenku dan Hingar Politik Banyuwangi 2014

“… akhirnya syahwat politik pesantren ku tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya”.

pkb_bwi01

Alhamdulilah, liburan natal tahun 2013 ini saya bisa pulang ke Tanah Air. Istirahat sebentar, sekedar melepas kejenuhan dan mengisi ulang gentong semangat untuk menyelesaikan ‘ngaji’ PhD saya di sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, UK yang baru berada di pertengahan jalan ini.

Yah, kata orang bijak, dalam meraih sesuatu terkadang kita perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang dan bersyukur. Terkadang kita juga butuh mundur beberapa langkah, untuk ancang-ancang mengambil seribu langkah lebih cepat serta meloncat lebih tinggi ke depan. Semoga saja, ini bukan alasan untuk menyembunyikan kemalasan ku.

Lebih menyenangkan lagi, liburan kali ini saya bisa membawa anak istri saya pulang kembali ke desa halaman. Lebih tepatnya, sebuah dusun kecil bernama Wringinpitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Di dusun kecil di pinggiran kali setail inilah kehidupan saya di dunia ini dimulai, dan entah di belahan bumi yang mana hidup saya akan diakhiri. Mungkinkah akan berakhir jua di dusun kecil ini? Entahlah, kita tidak perlu bermain teka-teki dengan rahasia Tuhan.

Selain sowan ke emak bapak, dan sanak saudara. Yang paling membahagiakan buat saya adalah menciumi aroma kehidupan pedesaan yang masih ‘perawan’. Belum banyak ternoda penjahat konsumerisme yang menjadi gaya hidup di jaman ‘agama’ kapitalis ini. Di sinilah saya masih merasakan bahwa tidak setiap barang dan kebaikan jasa, bahkan setiap detik waktu ada label harganya.

Di sela beberapa hari di kampung halaman, saya menyempatkan ‘nyambangi’ adek bungsu saya yang masih ‘nyantri’ di pesantren Darussalam, di desa Blokagung, kecamatan Tegalsari (sebelum pemekaran masuk kecamatan Karangdoro), Banyuwangi. Pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi ini almamater saya juga. Di pesantren inilah saya belajar banyak tentang makna hidup, serta kesederhanaan dan kebersahajaan dalam menjalani hidup.

Ada yang menarik di sepanjang perjalanan dari desa saya ke pesantren selain pesona alamn yang hijau. Yaitu alat peraga kampanye para calon anggota legislatif dan partai politik berupa sepanduk dan baliho yang jumlahnya sangat banyak di sepanjang jalan. Seolah menjadi pertanda bahwa hingar bingar politik menjelang pemilu 2014 telah dimulai. Bahkan spanduk-spanduk itu ada juga di Gerbang bahkan di dalam pesantren.

Beberapa wajah di spanduk-spanduk itu nampak sangat familiar bagi saya. Bahkan dintaranya kawan ‘dekat’ saya di media jejaring sosial. Mereka tak bukan adalah pemilik darah biru trah ‘kerajaan’ pesantren terbesar di Banyuwangi tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, baru kali ini keluarga pesantren ini pada akhirnya terjun ke politik praktis, setelah sebelumnya adem ayem tak kepincut rayuan politik.

Satu lagi yang menggelitik dari isi spanduk-spanduk itu. Ada partai yang pemimpin nya sekarang pernah melawan dan berseberangan dengan Gus Dur karena kepentingan pragmatis, sekarang kembali mendompleng nama besar Gus Dur. Padahal, kalau boleh meminjam bahasanya Mbak Yenny Wahid, partai itu dulu Ibarat kereta api dengan lokomotif Gus Dur yang gerbongnya diserobot oleh Pemimimpin partai itu sekarang. Terlalu kecilkah partai ini tanpa sosok Gus Dur?

**

Sebenarnya sama sekali tidak ada yang salah jika pada akhirnya keluarga pesantren terjun ke partai politik. Partai politik berkepentingan mengumpulkan suara rakyat dan pesantren diakui atau tidak faktanya memiliki pengaruh yang sangat besar pada masyarakat ‘grass root’ di pedesaan.

Saya (S) iseng bertanya sama Kang Anshori (A), adik sepupu saya, yang sedang duduk nyetir mobil di sebelah kanan saya.

S: “Kang, gek sampean ono sing kenal kambel caleg-caleg iku kang?”

A: “Ndak, mas …”

S: ”Lah terus, misale sesuk pemilu sampean pilih sing ngendi?”

A: “Wah mas, yen wong kene ki opo jare pak kyai. Misale kyai Plampang ngongkon milih A, yo kabeh milih A, hehe “.

S: “Oh ngunu, yo mas”.

Soal kualiatas caleg dari pesantren ini juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Satu diantaranya saya tahu bergelar bergelar master lulusan salah satu Universitas Islam di temur tengah. Satunya lagi aktivis perempuan, punya gelar master (MA), lulusan salah satu Universitas Terbaik di US dan sekarang sedang menyelesaikan double degree PhD nya di UGM dan kampus di US.

Tujuan politisnya pun juga sangat jelas. Kalau bukan para orang cerdas dan santun dari pesantren semacam ini, siapa lagi yang bisa dipercaya memperjuangkan nasib para konstituen pesantren yang kebanyakan para petani miskin tak berdaya di desa-desa. Merekalah calon perumus kebijakan, yang akan menentukan nasib bangsa ini, ya termasuk para petani miskin desa itu.

Akan tetapi ada hal yang perlu digaris bawahi dengan terjun nya orang Pesantren ke ranah Politik Praktis. Yaitu diperlukan kehati-hatian. Jika tidak hati-hati, alih-alih mau memperjuangkan nasib umat, bisa-bisa malah membuat umat tercerai berai dan kyai dan pesantren kehilangan karismanya.

Sudah banyak contohnya, pesantren-pesantren besar di Jombang contohnya. Gimana umat tidak bingung, jika dalam satu pesantren saja para kyainya tidak kompak. Para kyainya rebutan suara santrinya dengan afiliasi partai yang berbeda-beda.

Satu lagi contoh, tidak usah jauh-jauh, keterlibatan salah satu orang pesantren yang terletak beberapa kilometer dari pesantren ini di ujung timur kabupaten Banyuwangi ke politik praktis berakhir cukup tragis. Sang orang pesantren harus mendekam di balik jeruji penjara karena kasus korupsi. Kalau sudah begini, mau ditaruh dimana kehormatan Pesantren?

pkb_bwi02

Saya pribadi termasuk orang yang kurang sreg jika pesantren dibawa-bawa ke ranah politik praktis. Biarlah pesantren membangun umat secara kultural dengan caranya sendiri seperti NU yang terlepas dari partai politik. Jika personal terjun ke politik, boleh-boleh saja. Tetapi membawa gerbong pesantren ke politik praktis sangat berbahaya.

Memang selalu tidak ada keputusan yang sempurna dalam hidup ini. Walaupun akhirnya syahwat politik pesantren ku ini tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya. Semoga Tuhan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin amanah yang senantiasa diridloi Allah Swt. Semoga saja, Allahumma Ammiin.

 

Prihatin, Tirakat, dan Barokahnya Ilmu

tirakat

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah” – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu

Sudah semacam candu, bagi saya Facebook adalah tempat hiburan yang sangat menyenangkan sekaligus melenakan. Selalu ada kenikmatan batin sendiri ketika secara diam-diam bisa  memantau kabar teman-teman lewat status dan foto-foto yang dengan kemurahan hati mereka bagi lewat media jejaring sosial ini. Dan selalu saja ada manfaat yang bisa dipetik dari pertemanan, termasuk pertemanan di facebook ini.

Seperti hari itu, ada sebuah status seorang kawan yang mampu mencuri perhatian hati saya:

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu ” (Artinya: kamu harus berani hidup susah kalau ingin ilmumu barokah)

Rupanya kata BAROKAH lah yang mengusik otak saya dan kembali membuka kenangan lama yang sudah lama tersimpan. Kenangan 15 tahun lalu di sebuah tempat dimana kata BAROKAH begitu sangat sering diucapkan. Dalam sehari, saya bisa mendengar kata sakral itu berkali-kali. Tempat itu adalah pesantren Darussalam, Blok Agung, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di kalangan santri blokagung, barokah tidak hanya sekedar kata tanpa makna, lebih dari itu Barokah adalah sesuatu yang paling dicari. Bukan sekedar ilmu itu sendiri yang dicari, tetapi barokah nya ilmu itu yang menjadi lebih utama.

Lalu, apa sebenarnya Barokah itu?

Dalam salah satu kitab kuning dituliskan bahwa “Albarakatu Ziyadatul Khoir” , barokah itu bertambahnya kebaikan. Bertambah kebaikan seperti apa? Barangkali, cerita (alm.) Mbah Kyai Syafaat pendiri pesantren blokagung ini bisa menjelaskan apa itu Barokah.

Konon, awalnya Syafaat muda adalah santri biasa di sebuah pesantren di Banyuwangi. Kecerdasanya mungkin tidak jauh berbeda dengan santri lainya. Namun kesabaran, keuletan, ketelatenan dan ketawaduan (rendah hati) Syafaat terhadap guru nya lah yang sangat menonjol. Hingga akhirnya menjadikan beliau menjadi kyai besar kharismatik yang sangat berpengaruh pada masa nya di Kabupaten Banyuwangi. Bahkan melebihi guru-guru nya sendiri.

Berawal dari tempat ngaji berupa mushola kecil di sebuah desa terpencil di dekat hutan belantara di selatan kabupaten Banyuwangi yang juga tempat mangkalnya para penyamun itu, kini pondok pesantren Blok Agung menjadi pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Jumlah santrinya ribuan berasal dari seluruh penjuru nusantara. Tidak hanya tempat mengaji kitab kuning, di pesantren ini sakarang berdiri bangunan-bangunan sekolah yang megah dari tingkat PAUD/TK hingga Perguruan Tinggi.

Mungkin inilah contoh barokahnya ilmu seorang Mbah Kyai Syafaat. Ilmu nya yang masih terus tumbuh berkembang bahkan setelah beliau tiada. Yang mungkin akan masih memberi manfaat hingga akhir dunia nanti.

Bagaimana cara mendapatkan barokah nya Ilmu?

Fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang berilmu, pintar dan pandai tetapi ilmunya tidak banyak bermanfaat buat orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, banyak orang yang sebenarnya tidak pintar-pintar amat tetapi justru ilmunya bermanfaat banyak baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Kata orang tua Jawa jaman dahulu, kalau pengen sukses dalam menuntut ilmu harus berani hidup prihatin, hidup susah, bersakit-sakit terlebih dahulu. Sedangkan di pesantren selain diajarkan untuk belajar yang tekun, juga dianjurkan untuk menjalankan laku tirakat (jalan mendekatkan diri kepada Tuhan) dengan memperbanyak amalan-amalan sunah seperti puasa, sholat malam, dzikir, mengurangi waktu tidur dan sebagainya.

Kembali ke cerita mbah kyai Syafaat, konon dulu ketika menjadi santri dilaluinya dengan penuh penderitaan. Hidup sangat pas-pasan bahkan rela nyambi sebagai buruh tani. Sering kena penyakit kudis selama menjadi santri. Bahkan konon katanya, beliau pernah berpuasa selama 8 tahun. Sebuah perjuangan dan penderitaan yang panjang.

Terdengar tidak masuk akal memang. Tetapi perihal tirakat, sudah menjadi hal biasa di kalangan santri BlokAgung. Di antara santri terdapat omongan begini, belum benar-benar jadi santri Blok Agung kalau belum puasa Dalail (puasa tiga tahun berturut-turut, setiap hari, kecuali hari-hari yang diharamkan puasa).  Saya sendiri adalah salah satu santri yang tidak melakukan tirakat se ekstrim itu, paling banter cukup puasa sunah hari Senin dan Kamis saja.

Hidup Prihatin menuntut ilmu di negeri Orang

Kenangan dan pengalaman masa lalu itu jelas membekas dalam hidup saya. Sekaligus menguatkan diri saya ketika saat ini sedang belajar di Luar Negeri jauh dari keluarga. Dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia (DIKTI) yang sangat pas-pasan dan tidak mengcover biaya hidup untuk keluarga. Ditambah lagi pencairan beasiswa yang selalu telat berbulan-bulan setiap semesternya. Selalu saya niati sebagai laku prihatin dan tirakat dalam menuntut ilmu. Dengan harapan dan doa, semoga ilmu yang saya peroleh di perantauan ini suatu saat nanti menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah seperti ilmunya mbah Kyai Syafaat. Allahumma Ammiin.

Buat teman-teman yang sedang menuntut ilmu dalam susana penuh keprihatinan, bersabarlah!  Karena memang masa menuntut ilmu adalah lakon hidup yang tidak penuh dengan bunga-bunga. Semoga lakon ini menjadikan ilmu kita manfaat dan barokah terus dan terus menerus di masa depan. Allahumma Ammiin.