Banyuwangi

Setangkup Cerita Dari Banyuwangi

…  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali. – a random thought

banyuwangi_1

Pantai Cemara Banyuwangi

Banyuwangi. Nama kota kecil di ujung tenggara pulau Jawa ini begitu istimewa di hatiku. Bukan saja sebagai hometown, tempat aku lahir, tumbuh mendewasa dan selalu ingin kembali pulang kepadanya, kemanapun aku pergi.  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali.

banyuwangi_p_merah

Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Masih seperti dulu, kota ku ini tetap bersahaja. Bahkan jalan di depan rumahku, sejak aku lahir hingga sekarang yang sudah separuh usia menuju senja pun, masih istiqomah seperti dahulu. Jalan makadam yang bergelombang dan bergeronjal. Kalau sampean naik mobil, siap-siaplah begoyang-goyang sepanjang perjalanan. Orang-orangnya pun masih peramah dan pemurah seperti dulu. Dan sawah dan ladang masih sepermai dahulu.

banyuwangi_sawah

Sawah, Banyuwangi

Hanya saja, kampungku tentu saja tak luput dari gempuran konsumerisme. Orang-orang kampung yang sukses bekerja di luar negeri, rumahnya menjadi magrong-magrong, tak kalah dengan rumah-rumah yang sering dipamerkan di sinetron-sinetron. Jumlah toko pun meningkat luar biasa jumlahnya, meskipun jumlah rumah kayaknya tak jauh berbeda. Katanya, orang-orang yang pada mulai malas bertani berebut alih profesi menjadi pedagang dan penoko. Tinggal duduk-duduk manis di rumah, uang datang sendiri.

banyuwangi_kambing

Kambing di Kampung

Para generasi tua masih setia bertani, hanya saja yang ditanam tidak lagi sama. Dulu sawah-sawah di Banyuwangi hanya digilir dengan tanaman padi, kedelai, dan jagung atau palawija lainya. Sekarang sebagian besar sawah ditanami dengan buah jeruk dan buah naga. Lebih menguntungkan katanya. Sejak pemerintah rajin impor beras, kedelai, dan jagung. Bertanam tiga tanaman itu, bukan saja untung sedikit, tapi malah tekor. Bahkan pengusaha tahu dan tempe di kampung saja tidak mau pakai kedelai lokal, kedelai impor lebih menguntungkan katanya.

banyuwangi_p_cemara

Pantai Cemara

Yang selalu aku rindukan dari desa adalah orang-orang dan alamnya. Berbeda dengan manusia-manusia modern di kota yang semakin mekanistis, di desa aku masih menemukan sebenar-benarnya manusia. Ketulusan, kepolosoan, dan kebersahajaan dalam tata pergaulan dengan orang-orang desa adalah sebuah kemewahan. Kemewahan diantara jamak tata pergaulan orang-orang modern yang penuh gimmick, politis, beragenda, dan atas dasar kepentingan. Kepentingan duit, di ujung-ujungnya.

banyuwangi_sawah_2

Alam Desa

Alam desa yang alamiah adalah penglipur syurgawi dari suasana kota yang sumpek. Peradaban gedung-gedung tinggi dan pendingin buatan, keramaian dan kesemrawutan kota sering kali teramat melelahkan jiwa.

Industri pariwisata sedang bergeliat di Banyuwangi. Entah berapa anggaran telah dikucurkan untuk media, sehingga membuat Banyuwangi naik daun. Walaupun sebagai orang Banyuwangi asli, sebenarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja, banyak tempat wisata yang dulu menyimpan keindahan alamiah, sekarang banyak yang di dandani. Buatku itu malah seperti gadis desa yang di dandani menor. Bukanya tambah cantik, tapi malah norak. Aku lebih jatuh cinta dengan kecantikan alamiah gadis-gadis desa, eh maksudku tempat wisata desa itu.

banyuwangi_desa

Sudut Desa

Diantara yang paling istimewa adalah pantai pulau merah di garis pantai selatan Banyuwangi. Tidak ada pulau merah nya sebenarnya. Hanya seonggok pulau kecil yang di kala senja terlihat kemerah-merahan. Pantainya bersih, pasirnya coklat, dan yang paling memesona adalah airnya yang jernih berwarna biru, kehijau-hijauan alamiah (baca: turquoise).

Terlepas dari tempat-tempat wisata di Banyuwangi yang sedang naik daun. Di Banyuwangi yang paling istimewa adalah ibu.  Ibu yang selalu membawa kedamaian dan kesejukan. Ibu yang masakanya selalu istimewa. Ibu yang luar biasa. Aku bisa betah berlama-lama di rumah saja. Karena Ibu adalah rumah yang sebenarnya itu.

Advertisements

Titip Rindu untuk Kampung Halaman ku, Penyemangat ku di Perantauan

Hamparan padi, Lambaian Pohon Kelapa, Gunung Raung, Banyuwangi

Hamparan padi, Lambaian Pohon Kelapa, Gunung Raung, Banyuwangi

Hidup, nun jauh di negeri perantauan , terkadang membuat ku rindu kampung halaman.
Apalagi, saat lelah di tengah letih perjuangan.

Indahnya arsitektur romawi gedung-gedung bersejarah di daratan eropa, tak mampu menghapus
kerinduan ku akan kepolosan wajah ayu kampung halaman ku.

Megahnya gedung-gedung modern pencakar langit, di kota pusat peradaban dunia ini,
Tak mampu mengobati kangen hatiku pada kebersahajaan dan keaslian pemandangan gunung dang sawah
di kampung halamanku.

Betapa pun cantik dan tampanya, manusia-manusia bergaya hidup tinggi di kota ini,
tak mampu meluruhkan rindu melihat keluguan dan kepolosan wajah-wajah para petani di kampung halaman ku.

Kampung halaman ku,
Kaulah penyuluh ku, di kala semangat ku mulai redup di perantauan.
Kampung halaman ku,
Doakanlah ku cepat kembali, setelah kutuntaskan semua pedih perjuangan ini.
Kepada mu, aku akan mengabdi, suatu saat di hari tua nanti.

Titip rindu ku, untuk hamparan padi, nyiur pohon kelapa, sawah, gunung, dan
gemercik air sungai di kampung halaman ku.

Nottingham, 15/08/2014

Pesantrenku dan Hingar Politik Banyuwangi 2014

“… akhirnya syahwat politik pesantren ku tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya”.

pkb_bwi01

Alhamdulilah, liburan natal tahun 2013 ini saya bisa pulang ke Tanah Air. Istirahat sebentar, sekedar melepas kejenuhan dan mengisi ulang gentong semangat untuk menyelesaikan ‘ngaji’ PhD saya di sekolah ilmu komputer, Universitas Nottingham, UK yang baru berada di pertengahan jalan ini.

Yah, kata orang bijak, dalam meraih sesuatu terkadang kita perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang dan bersyukur. Terkadang kita juga butuh mundur beberapa langkah, untuk ancang-ancang mengambil seribu langkah lebih cepat serta meloncat lebih tinggi ke depan. Semoga saja, ini bukan alasan untuk menyembunyikan kemalasan ku.

Lebih menyenangkan lagi, liburan kali ini saya bisa membawa anak istri saya pulang kembali ke desa halaman. Lebih tepatnya, sebuah dusun kecil bernama Wringinpitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Di dusun kecil di pinggiran kali setail inilah kehidupan saya di dunia ini dimulai, dan entah di belahan bumi yang mana hidup saya akan diakhiri. Mungkinkah akan berakhir jua di dusun kecil ini? Entahlah, kita tidak perlu bermain teka-teki dengan rahasia Tuhan.

Selain sowan ke emak bapak, dan sanak saudara. Yang paling membahagiakan buat saya adalah menciumi aroma kehidupan pedesaan yang masih ‘perawan’. Belum banyak ternoda penjahat konsumerisme yang menjadi gaya hidup di jaman ‘agama’ kapitalis ini. Di sinilah saya masih merasakan bahwa tidak setiap barang dan kebaikan jasa, bahkan setiap detik waktu ada label harganya.

Di sela beberapa hari di kampung halaman, saya menyempatkan ‘nyambangi’ adek bungsu saya yang masih ‘nyantri’ di pesantren Darussalam, di desa Blokagung, kecamatan Tegalsari (sebelum pemekaran masuk kecamatan Karangdoro), Banyuwangi. Pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi ini almamater saya juga. Di pesantren inilah saya belajar banyak tentang makna hidup, serta kesederhanaan dan kebersahajaan dalam menjalani hidup.

Ada yang menarik di sepanjang perjalanan dari desa saya ke pesantren selain pesona alamn yang hijau. Yaitu alat peraga kampanye para calon anggota legislatif dan partai politik berupa sepanduk dan baliho yang jumlahnya sangat banyak di sepanjang jalan. Seolah menjadi pertanda bahwa hingar bingar politik menjelang pemilu 2014 telah dimulai. Bahkan spanduk-spanduk itu ada juga di Gerbang bahkan di dalam pesantren.

Beberapa wajah di spanduk-spanduk itu nampak sangat familiar bagi saya. Bahkan dintaranya kawan ‘dekat’ saya di media jejaring sosial. Mereka tak bukan adalah pemilik darah biru trah ‘kerajaan’ pesantren terbesar di Banyuwangi tersebut. Sepanjang pengetahuan saya, baru kali ini keluarga pesantren ini pada akhirnya terjun ke politik praktis, setelah sebelumnya adem ayem tak kepincut rayuan politik.

Satu lagi yang menggelitik dari isi spanduk-spanduk itu. Ada partai yang pemimpin nya sekarang pernah melawan dan berseberangan dengan Gus Dur karena kepentingan pragmatis, sekarang kembali mendompleng nama besar Gus Dur. Padahal, kalau boleh meminjam bahasanya Mbak Yenny Wahid, partai itu dulu Ibarat kereta api dengan lokomotif Gus Dur yang gerbongnya diserobot oleh Pemimimpin partai itu sekarang. Terlalu kecilkah partai ini tanpa sosok Gus Dur?

**

Sebenarnya sama sekali tidak ada yang salah jika pada akhirnya keluarga pesantren terjun ke partai politik. Partai politik berkepentingan mengumpulkan suara rakyat dan pesantren diakui atau tidak faktanya memiliki pengaruh yang sangat besar pada masyarakat ‘grass root’ di pedesaan.

Saya (S) iseng bertanya sama Kang Anshori (A), adik sepupu saya, yang sedang duduk nyetir mobil di sebelah kanan saya.

S: “Kang, gek sampean ono sing kenal kambel caleg-caleg iku kang?”

A: “Ndak, mas …”

S: ”Lah terus, misale sesuk pemilu sampean pilih sing ngendi?”

A: “Wah mas, yen wong kene ki opo jare pak kyai. Misale kyai Plampang ngongkon milih A, yo kabeh milih A, hehe “.

S: “Oh ngunu, yo mas”.

Soal kualiatas caleg dari pesantren ini juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Satu diantaranya saya tahu bergelar bergelar master lulusan salah satu Universitas Islam di temur tengah. Satunya lagi aktivis perempuan, punya gelar master (MA), lulusan salah satu Universitas Terbaik di US dan sekarang sedang menyelesaikan double degree PhD nya di UGM dan kampus di US.

Tujuan politisnya pun juga sangat jelas. Kalau bukan para orang cerdas dan santun dari pesantren semacam ini, siapa lagi yang bisa dipercaya memperjuangkan nasib para konstituen pesantren yang kebanyakan para petani miskin tak berdaya di desa-desa. Merekalah calon perumus kebijakan, yang akan menentukan nasib bangsa ini, ya termasuk para petani miskin desa itu.

Akan tetapi ada hal yang perlu digaris bawahi dengan terjun nya orang Pesantren ke ranah Politik Praktis. Yaitu diperlukan kehati-hatian. Jika tidak hati-hati, alih-alih mau memperjuangkan nasib umat, bisa-bisa malah membuat umat tercerai berai dan kyai dan pesantren kehilangan karismanya.

Sudah banyak contohnya, pesantren-pesantren besar di Jombang contohnya. Gimana umat tidak bingung, jika dalam satu pesantren saja para kyainya tidak kompak. Para kyainya rebutan suara santrinya dengan afiliasi partai yang berbeda-beda.

Satu lagi contoh, tidak usah jauh-jauh, keterlibatan salah satu orang pesantren yang terletak beberapa kilometer dari pesantren ini di ujung timur kabupaten Banyuwangi ke politik praktis berakhir cukup tragis. Sang orang pesantren harus mendekam di balik jeruji penjara karena kasus korupsi. Kalau sudah begini, mau ditaruh dimana kehormatan Pesantren?

pkb_bwi02

Saya pribadi termasuk orang yang kurang sreg jika pesantren dibawa-bawa ke ranah politik praktis. Biarlah pesantren membangun umat secara kultural dengan caranya sendiri seperti NU yang terlepas dari partai politik. Jika personal terjun ke politik, boleh-boleh saja. Tetapi membawa gerbong pesantren ke politik praktis sangat berbahaya.

Memang selalu tidak ada keputusan yang sempurna dalam hidup ini. Walaupun akhirnya syahwat politik pesantren ku ini tak tertahan juga, semoga saja tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis seperti yang sudah-sudah hingga kehilangan kebarokahan dan kekaromahan nya. Semoga Tuhan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin amanah yang senantiasa diridloi Allah Swt. Semoga saja, Allahumma Ammiin.

 

Prihatin, Tirakat, dan Barokahnya Ilmu

tirakat

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah” – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu

Sudah semacam candu, bagi saya Facebook adalah tempat hiburan yang sangat menyenangkan sekaligus melenakan. Selalu ada kenikmatan batin sendiri ketika secara diam-diam bisa  memantau kabar teman-teman lewat status dan foto-foto yang dengan kemurahan hati mereka bagi lewat media jejaring sosial ini. Dan selalu saja ada manfaat yang bisa dipetik dari pertemanan, termasuk pertemanan di facebook ini.

Seperti hari itu, ada sebuah status seorang kawan yang mampu mencuri perhatian hati saya:

…. Awakmu kudu wani rekoso nak kepengen ilmumu barokah – KH. Dimyati Ro’is Kaliwungu ” (Artinya: kamu harus berani hidup susah kalau ingin ilmumu barokah)

Rupanya kata BAROKAH lah yang mengusik otak saya dan kembali membuka kenangan lama yang sudah lama tersimpan. Kenangan 15 tahun lalu di sebuah tempat dimana kata BAROKAH begitu sangat sering diucapkan. Dalam sehari, saya bisa mendengar kata sakral itu berkali-kali. Tempat itu adalah pesantren Darussalam, Blok Agung, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di kalangan santri blokagung, barokah tidak hanya sekedar kata tanpa makna, lebih dari itu Barokah adalah sesuatu yang paling dicari. Bukan sekedar ilmu itu sendiri yang dicari, tetapi barokah nya ilmu itu yang menjadi lebih utama.

Lalu, apa sebenarnya Barokah itu?

Dalam salah satu kitab kuning dituliskan bahwa “Albarakatu Ziyadatul Khoir” , barokah itu bertambahnya kebaikan. Bertambah kebaikan seperti apa? Barangkali, cerita (alm.) Mbah Kyai Syafaat pendiri pesantren blokagung ini bisa menjelaskan apa itu Barokah.

Konon, awalnya Syafaat muda adalah santri biasa di sebuah pesantren di Banyuwangi. Kecerdasanya mungkin tidak jauh berbeda dengan santri lainya. Namun kesabaran, keuletan, ketelatenan dan ketawaduan (rendah hati) Syafaat terhadap guru nya lah yang sangat menonjol. Hingga akhirnya menjadikan beliau menjadi kyai besar kharismatik yang sangat berpengaruh pada masa nya di Kabupaten Banyuwangi. Bahkan melebihi guru-guru nya sendiri.

Berawal dari tempat ngaji berupa mushola kecil di sebuah desa terpencil di dekat hutan belantara di selatan kabupaten Banyuwangi yang juga tempat mangkalnya para penyamun itu, kini pondok pesantren Blok Agung menjadi pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Jumlah santrinya ribuan berasal dari seluruh penjuru nusantara. Tidak hanya tempat mengaji kitab kuning, di pesantren ini sakarang berdiri bangunan-bangunan sekolah yang megah dari tingkat PAUD/TK hingga Perguruan Tinggi.

Mungkin inilah contoh barokahnya ilmu seorang Mbah Kyai Syafaat. Ilmu nya yang masih terus tumbuh berkembang bahkan setelah beliau tiada. Yang mungkin akan masih memberi manfaat hingga akhir dunia nanti.

Bagaimana cara mendapatkan barokah nya Ilmu?

Fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang berilmu, pintar dan pandai tetapi ilmunya tidak banyak bermanfaat buat orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, banyak orang yang sebenarnya tidak pintar-pintar amat tetapi justru ilmunya bermanfaat banyak baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Kata orang tua Jawa jaman dahulu, kalau pengen sukses dalam menuntut ilmu harus berani hidup prihatin, hidup susah, bersakit-sakit terlebih dahulu. Sedangkan di pesantren selain diajarkan untuk belajar yang tekun, juga dianjurkan untuk menjalankan laku tirakat (jalan mendekatkan diri kepada Tuhan) dengan memperbanyak amalan-amalan sunah seperti puasa, sholat malam, dzikir, mengurangi waktu tidur dan sebagainya.

Kembali ke cerita mbah kyai Syafaat, konon dulu ketika menjadi santri dilaluinya dengan penuh penderitaan. Hidup sangat pas-pasan bahkan rela nyambi sebagai buruh tani. Sering kena penyakit kudis selama menjadi santri. Bahkan konon katanya, beliau pernah berpuasa selama 8 tahun. Sebuah perjuangan dan penderitaan yang panjang.

Terdengar tidak masuk akal memang. Tetapi perihal tirakat, sudah menjadi hal biasa di kalangan santri BlokAgung. Di antara santri terdapat omongan begini, belum benar-benar jadi santri Blok Agung kalau belum puasa Dalail (puasa tiga tahun berturut-turut, setiap hari, kecuali hari-hari yang diharamkan puasa).  Saya sendiri adalah salah satu santri yang tidak melakukan tirakat se ekstrim itu, paling banter cukup puasa sunah hari Senin dan Kamis saja.

Hidup Prihatin menuntut ilmu di negeri Orang

Kenangan dan pengalaman masa lalu itu jelas membekas dalam hidup saya. Sekaligus menguatkan diri saya ketika saat ini sedang belajar di Luar Negeri jauh dari keluarga. Dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia (DIKTI) yang sangat pas-pasan dan tidak mengcover biaya hidup untuk keluarga. Ditambah lagi pencairan beasiswa yang selalu telat berbulan-bulan setiap semesternya. Selalu saya niati sebagai laku prihatin dan tirakat dalam menuntut ilmu. Dengan harapan dan doa, semoga ilmu yang saya peroleh di perantauan ini suatu saat nanti menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah seperti ilmunya mbah Kyai Syafaat. Allahumma Ammiin.

Buat teman-teman yang sedang menuntut ilmu dalam susana penuh keprihatinan, bersabarlah!  Karena memang masa menuntut ilmu adalah lakon hidup yang tidak penuh dengan bunga-bunga. Semoga lakon ini menjadikan ilmu kita manfaat dan barokah terus dan terus menerus di masa depan. Allahumma Ammiin.

Sepeda Ontel di Cambridge : yang tak lekang diterjang arus majunya teknologi transportasi

Menelusuri setiap sudut kota kecil ini membawa ingatan saya kembali pada tahun 90-an awal. Saya merasa bernostalgia dengan kehidupan dusun ku yang damai (Dusun Wringinpitu, Desa Plampangrejo), di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur; tempat dimana saya menghabiskan masa kecil ku yang penuh dengan kenangan. Kenanganan yang kini sudah tercerabut oleh keangkuhan perubahan Jaman yang entah saya tak tahu harus pergi kemana lagi jika saya ingin mengenangnya. Hingga akhirnya, kota kecil ini menghadirkan kenangan dan menghidupkan suasana masa lalu itu kembali. Di kota Cambridge, Inggris, kota pusat sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia di dunia saat ini, tempat dimana salah satu universitas terbaik di atas jagad raya itu berada, saya kembali terhanyut dalam buaian romantika kenangan masa lalu kembali. Dan tahukah anda, kenanganan apakah itu?

Sepeda Ontel, Desa ku dan Kenangan masa kecil ku

sepeda ontel di cambridge_26

Iya kenangan itu adalah kenangan tentang sepeda Ontel. Mode transportasi bersahaja yang menjadi bagian tak terpisahkan dari langkah  panjang peradaban umat manusia. Masih terekam kuat dalam ingatan saya ketika saya masih kecil, di era tahun 90an di kampung saya sepeda ontel pernah menjadi mode transportasi paling utama. Para petani desa hilir mudik pulang pergi dari sawah ladang mereka dengan sepeda ontel mereka, termasuk untuk mengangkut hasil panen sawah dan ladang mereka. Anak-anak sekolah pun ramai bersepeda pergi dan pulang dari sekolah mereka. Mereka pergi bergerombol dan berboncengan berarak-arakan seperti laskar prajurit yang sedang pergi berperang. Saya termasuk di antara mereka. Bahkan Waktu SMP, saya dan beberapa teman dari desa Plampangrejo, harus mengayuh sepeda di setiap pagi-pagi buta  sejauh lebih dari 10 KM untuk menuju ke SMP Negeri yang terletak di Kota Kecamatan.

Tidak hanya untuk transportasi dalam desa, sepeda ontel di kampung saya pada saat itu juga biasa digunakan untuk menempuh perjalanan jarak jauh antar desa bahkan antar kecamatan. Masih terekam kuat dalam memori ingatan saya, di setiap hari raya tiba, bapak selalu mengajak saya untuk bersilaturahim ke rumah saudara-saudara kami di luar desa dan kecamatan hanya dengan sepeda ontelnya. Saya dibonceng oleh Bapak, sementara adik saya yang perempuan di bonceng oleh emak  saya. Kami tidak sendiri, biasanya kami pergi bersama-sama dengan saudara yang lain. Pergi pagi-pagi buta dan kembali di rumah ketika malam mulai menjelang. Menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer, dari desa satu ke desa lainya, melintasi jembatan bambu,  bahkan seringkali harus menyebrangi sungai. Sungguh, sebuah kekuatan semangat silaturrahim yang sangat-sangat luar biasa pada saat itu, apalagi untuk ukuran masa sekarang.

Sepeda Ontel, Desaku, dan Riwayatmu kini

Lain ladang lain belalang, lain dulu lain sekarang. Sekarang, jika saya pulang kampung keadaan jauh berbeda. Sepeda ontel, yang dahulu di setiap keluarga setidaknya memiliki satu sepeda ontel, kini pun tinggal kenangan. Sepeda Bapak saya, yang dulu kokoh dan tangguh pun sudah lama dianggurin di dalam kandang ayam. Yang lambat laun karatan dan akhirnya rusak dimakan usia. Hanya sepeda-sepeda model BMX yang dipakai oleh mainan anak-anak kecil saja yang masih tersisa. Moda transportasi desa kini telah tergantikan oleh motor dan Mobil.

Jujur dari hati nurani yang paling dalam, setiap kali pulang kampung, saya merindukan suasana kedamaian dan ketentraman desa ku yang dulu. Di jalan kampung di depan rumah saya, yang hingga saat ini belum diaspal itu, kini penuh bising dengan suara berisik sepeda motor dan mobil. Apalagi, di hari lebaran. Jumlah volume mobil yang lewat di depan rumah saya meningkat sangat drastis. Hampir setiap menit ada saja mobil yang lewat. Menghadirkan suara bising dan menghembuskan debu-debu jalanan yang sangat menyiksa.

Desa saya yang dulu damai, di setiap lebaran berubah menjadi  tak ubahnya suasana di jalanan Ibu kota yang berisik. Mungkin, karena mobil adalah simbol kesuksesan pencapaian hidup manusia Indonesia. Sehingga kuda-kuda besi dari Jepang itu harus dipertontonkan ke seluruh penduduk kampung oleh anak-anak desa yang merasa sukses merantau di negeri seberang. Atau karena mereka merasa harga diri mereka ada pada benda bergerak penyebar polusi itu? dan seolah penduduk kampung pun mengamini bahwa merekalah yang mobilnya paling bagus yang paling sukses hidupnya.

Kalau sudah begini, kemana saya harus mencari kedamaian kampung saya yang dulu lagi?

08_sepeda ontel di cambridge_01

Para Mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontelnya.

Sepeda Ontel dan Cambridge.

Di Cambrige, sepeda ontel adalah moda transportasi mainstream. Di kampus Universitas Cambridge misalnya, mayoritas mahasiswa menggunakan sepeda ontel untuk mobilitas mereka di sekitar kampus yang sangat luas. Sebenarnya ada layanan Bus murah khusus mahasiswa cambridge yang mengelilingi kampus dan city center. Tetapi sepertinya layanan Bus ini kurang dinikmati. Mungkin karena tidak gratis dan kurang fleksibel, karena bus hanya lewat setiap 10 menit sekali. Waktu 10 menit menunggu mungkin sangat berharga bugi para mahasiswa Cambridge.

08_sepeda ontel di cambridge_02

Sepeda Ontel di salah satu gedung perkuliahan di Universitas Cambridge

Tidak hanya dalam lingkungan kampus dan mahasiswa, sepeda ontel juga sangat populer di antara masyarakat pada umumnya di Cambridge. Di pusat kota Cambridge misalnya, anda bisa menyaksikan pengguna sepeda Ontel yang sangat banyak. Demikian juga sepeda-sepeda ontel yang diparkir di sepanjang jalan. Di Cambridge, dan di Inggris pada umumnya, parkir untuk mobil sangat mahal, hampir £1 pound (Rp.15.000) per jam. Tetapi tidak halnya dengan parkir sepeda ontel, anda bisa parkir di tempat-tempat parkir sepeda yang disediakan dengan gratis.

Sepeda Ontel di Pusat Kota Cambridge

Selain di pusat kota, sepeda ontel juga banyak digunakan para pemakai mass public transport seperti kereta api. Umumnya, mereka menggunakan sepeda dari rumah ke stasiun kereta api. Tetapi, banyak juga yang membawa sepedanya masuk ke dalam kereta api dan ini sangat diperbolehkan di Inggris. Mereka biasanya menggunakan tipe sepeda lipat yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas dan dibawa masuk ke dalam kereta. Kalaupun tidak memiliki sepeda lipat, di dalam kereta api juga terdapat tempat khusus para penumpang dengan sepedanya, yang terletak di antara sambungan gerbong.

Sepeda Ontel di Salah satu stasiun kereta Api

Berbagai Rupa Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin anda berfikir bahwa sepeda Ontel di Cambridge adalah sepeda ontel modern mahal berharga puluhan juta rupiah seperti sepeda Ontel kalangan berada di kota-kota besar di Indonesia. Sepeda-sepeda  ontel di Cambridge adalah sepeda ontel bersahaja yang mengingatkan saya pada sepeda ontel -sepeda ontel di kampung saya pada era 90-an. Berikut beberapa foto yang berhasil saya abadikan.

Seorang mahasiswi Cambridge dengan sepeda Ontel bersahaja nya

Kira-kira masih ada ndak ya saat ini mahasiswa/i di salah satu kampus di Indonesia yang masih mau berangkat ke kampus dengan sepeda bututnya seperti mahasiswi Cambridge di atas? di kampus saya di surabaya, sebuah PTN yang dulu dikenal sangat merakyat saja saat ini mahasiswa/i nya sudah pada berlomba-lomba dengan mobil-mobil nya. Yang merubah parkiran sepeda ontel dan motor butut menjadi layaknya sebuah show room mobil. Ironis memang, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru saya temukan di kampus di Inggris, negara maju yang kemakmuran dan pendapatan perkapitanya berpuluh-puluh kali lipat dengan Indonesia. Sementara, kesederhanaan dan kebersahajaan hidup justru menjadi barang yang sangat langka di kampus di Indonesia yang katanya negara dunia ketiga yang ketinggalan secara ekonomi.

Sepeda Ontel lainya

Yang menjadi ciri khas sepeda ontel di Cambridge adalah sebuah keranjang berwarna coklat yang terbuat dari anyaman kayu serabut. Biasanya, keranjang ini digunakan untuk menaruh tas dan barang-barang bawaan lainya. Pemakai sepeda ontel di kota ini juga lintas profesi, lintas umur, dan lintas gender. Tidak hanya mahasiswa dan ibu rumah tangga, penyandang profesi lain pun ikut mengayuh sepeda.

Mahasiswi cambridge dan sepeda ontenya

Tidak hanya para remaja, anak-anak dan para lanjut usia pun bersepeda. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun bersuka ria dengan sepeda-sepeda nya.

Lelaki dan sepeda ontelnya

Bahkan tidak hanya yang bertubuh normal, yang mengalami cacat fisik pun banyak yang menggunakan sepeda. Berikut berbagai pose masyarakat Cambridge dengan sepeda-sepeda ontel mereka.

Sepeda Ontel Kaki tiga

Sang putri dengan sepeda ontelnya

Si Bapak dan sepeda Ontel feminin nya

Si Kecil dan sepeda Ontelnya

Si manis dan sepeda ontelnya

Mahasiswi cerdas dan sepeda ontelnya

Si seksi dan sepeda ontel bututnya

Pak Tua dan sepeda Ontelnya

Sang professional dan sepeda ontelnya

Si modis dan sepeda Ontelnya

Si Gaul dan Sepeda Ontelnya

Yang unik dari Sepeda Ontel di Cambridge

Mungkin kita berfikir sepeda ontel tidak praktis dan memiliki keterbatasan untuk ukuran keluarga. Mungkin kita berfikir mobil adalah moda transportasi paling sempurna untuk sebuah keluarga. Dimana pasangan dan anak-anak kita bisa diangkut bersama. Tetapi, yang menarik di Inggris, sepeda ontel tak menghalangi kebersamaan keluarga. Bahkan, sepeda ontel bisa digunakan untuk membawa seorang bayi. Ya Mereka  menarik baby box dengan sepeda ontelnya.

Sepeda ontel dan Baby Box

Untuk membawa anak-anak yang sudah agak besar. Sepeda ontel bisa dilengkapi dengan boncengan seperti foto-foto di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Boncengan Anak nya

Sepeda Ontel untuk dua orang

Ayah, Anak, dan Sepeda Ontelnya

Sepeda Ontel dan Kenyamanan Kota

Dengan masyarakatnya yang mayoritas adalah pengguna sepeda ontel, Cambridge menjadi salah satu kota di Inggris yang sangat nyaman untuk disinggahi. Udara yang bersih, tidak ada kemacetan, tidak ada polusi, dan yang pasti sangat nyaman untuk dinikmati. Ritme kehidupan terasa berjalan dengan penuh kedamaian yang menentramkan hati dan menenangkan pikiran.  Tidak seperti kota-kota besar yang bersisik dan penuh dengan kepenatan dan hiruk pikuk kesibukan hidup. Cambridge, tidak salah jika kota ini adalah sumber inspirasi kesempurnaan sebuah peradaban umat manusia. Di kota inilah, telah lahir ilmuwan-ilmuwan kenamaan yang telah banyak merubah dan mempengaruhi dunia, seperti  Isaac Newton, Darwin dan sebagainya.

Suasana di depan Stasiun Kereta Api Cambridge

Suasana dalam salah satu kampus Universitas Cambridge

Untuk mengintip nyamanya kota Cambridge, yuk kita intip dua video di bawah ini.

Sepeda Ontel dan Masa Depan nya di Indonesia

Melihat serunya bersepeda Ontel di Cambridge, dan Inggris pada umumnya. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa tidak di Indonesia ya? Bukankah sepeda Ontel itu moda transportasi yang murah? Mungkin banyak dari kita berfikir sangat nyaman bersepeda di Eropa karena udaranya yang sejuk dan nyaman, sementara di Indonesia sangat panas dan tidak nyaman untuk bersepeda.

Tetapi, menurut saya itu tidak sepenuhnya benar. Justru cuaca di Inggris jauh lebih complicated dengan cuaca di Indonesia. Di musim panas, Inggris suhunya bisa mencapai di atas 30 derajat dan tidak kalah sumuknya dengan kota Surabaya, toh mereka malah asyik berpanas-panasan dengan sepeda ontelnya. Di musim dingin suhu bisa di bawah 0 derajat celcius dan bersalju. Hujan bisa turun kapan saja  sepanjang tahun.

Jadi menurut saya, bersepeda ontel itu bukan karena keadaan dan ketidakberdayaan. Tetapi karena pilihan budaya hidup. Pilihan yang dipengaruhi oleh bagaimana pola pikir kita terhadap kehidupan dunia ini. Jika gaya hidup mewah dan pamer kakayaan hidup adalah pilihan mungkin sepeda ontel bukanlah pilihan yang tepat. Hal ini akan berbeda jika kesederhanaan dan keharmonian hidup dan alam menjadi pilihan.