Cerita Sedih di Pondok ku Bila Tanggal Mulai Menua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

…. ini kisah tanggal tua ku. Ini bukan Budi !- Cak Shon

jaman_mondok_jadul

Ilustrasi: Teman dari Satu Bilik Pesantren

Cerita tanggal tua? Wah, saya jadi teringat cerita-cerita ngenes binti menyedihkan saat masih jadi santri pondok pesantren Darul Ulum Jombang, sekitar 17 tahun silam. Umumnya, di sebuah pesantren, dalam satu bilik asrama, kami tinggal bersama dengan sekitar 15 santri yang semuanya berasal dari luar Jombang. Kami ada yang berasal dari Medan, Jambi, Bandung, Cianjur, Majalengka, Tuban, Banyuwangi, Lombok, hingga Papua.

Karena hidup di perantauan, kami memiliki nasib yang sama, yaitu bertahan hidup hanya dengan mengandalkan kiriman bulanan dari orang tua.Tentu saja uang bulanan orang tua kami pas-pasan. Karena di pondok, kita memang dilatih untuk hidup prihatin, ditempa untuk belajar hidup dalam kesederhanaan dan kebersahajaan.

Argh, tapi dasar namanya darah muda, sering kali kami tidak bijak dalam pemakaian uang. Senang sedikit berhura-hura, suka membeli yang tidak perlu, di awal bulan. Akibatnya, ketika tanggal tua tiba, kami selalu akrab dengan kesusahan dan penderitaan.

Nuansa tanggal tua itu selalu terpancar dari aura wajah dan gaya hidup para penghuni di bilik asrama kami. Menjelang akhir bulan, wajah-wajah ceria kami di awal bulan, berangsur-angsur berubah jadi sendu. Do’a-do’a dan sujud kami setelah sholat jamaah di masjid perlahan menjadi lebih panjang, bahkan sangat panjang sambil berurai air mata. Padahal kalau tanggal muda do’anya super kilat, cukup do’a sapu jagat saja.

Makan yang biasanya lauknya ayam goreng, atau telur ceplok, berubah hanya dengan tempe dan tahu saja. Minum yang biasnya Es buah berubah jadi air es saja, itu lho, es batu yang dicampur air putih. Atau kadang cukup ‘ngedrop‘, makan bareng, nasi satu bungkus dimakan rame-rame. Hehe.

Perubahan tidak hanya pada pola makan, tapi juga pada tingkat kesolehan. Yang biasanya malas puasa sunah, mendadak pada rajin puasa senin dan kamis. Yang biasanya tak pernah ziarah di makam pendiri pondok, tiba-tiba jadi rajin ziarah.

Untuk tingkat yang lebih ekstrim, tak jarang untuk urusan makan kami harus pakai kode 007 nya  James Bond alias ngebon alias ngutang sama Emak kantin. Si Emak di kantin, sudah nyiapin buku bon panjang dan tebal sekali. Habis makan, kalau pas tidak ada duit, tinggal nyengir sambil bilang: “nyatet ya mak? belum kiriman ” Yang dijawab suara medok berat dan ekspresi datar, mata setengah melotot si emak: “ Iyyo ! “.

Tak jarang, bila kiriaman terlambat,  kami pun harus ngutang ke teman. Beruntung, kami sudah seperti saudara sendiri, jadi tak perlu sungkan ngutang duit ke teman.

Harapan dan do’a kami setiap tanggal tua adalah kiriman bulanan segera datang dan tidak terlambat. Saya ingat betul bagaimana ngenesnya suasana hati kami yang penuh harap-harap cemas di hari-hari tanggal tua hingga awal bulan.

Waktu itu di pondok kami belum ada ATM. Satu-satunya bank di dalam pondok yang menjadi satu-satunya bank pilihan orang tua untuk mengirim uang bulanan kami waktu itu adalah Bank BR* yang saat itu belum online, masih manual. Masih ditulis tangan.

Untuk mengecek kiriman bulanan, kami harus antri berdesak-desakan panjang sekali, maklum pondok kami santrinya 7000-an dan hanya ada bank itu satu-satunya. Setelah dapat giliran, kami harus memeriksa sendiri, tumpukan kertas putih berstaples dalam sebuah kotak, berisi berita transfer uang yang masih ditulis dengan mesin ketik itu. Saat memeriksa satu persatu tumpukan kertas itu, biyuh ‘dag-dig-dug-der’ jantung rasanya mau copot.

Kalau ketemu kertas dengan nama kita, duh rasanya langsung bahagia setengah mati. Rona wajah langsung berubah berseri-seri bak mendapatkan durian merah banyuwangi jatuh, yang nikmatnya mak gelender itu.

Tetapi, jika sampai tumpukan kertas terakhir, bahkan sampai diulang tiga kali pun tidak ada juga, bonus omelan dari santri yang sudah tidak sabar ngantri di belakang, dan sialnya nama kami tak muncul juga, rasanya super duper ngenes, pengen nangis darah. Keluar dari bank dengan wajah tertunduk, wajah pucat, bagai kehilangan gairah hidup.

Setahun kemudian, kami akhirnya pindah dari Bank BR* yang jadul itu ke Bank BC* yang sudah online. Tetapi, sama saja di dalam pondok tidak ada ATM. Untuk, ke ATM terdekat, kami harus naik angkot ke kota Jombang. Cara paling efektif untuk mengecek transferan adalah lewat telpon ke customer service kantor cabang bank, lewat wartel depan pondok.

CS: “ Halo dengan Cindy, ada yang bisa saya bantu pak ?” suara lembut itu terdengar di ujung telepon.
Santri: ” Mbak, bisa dilihatkan saldo terakahir no. rek. XXXXX atas nama XXXX “.
CS : ” Baik, ditunggu sebentar ya.
Santri : *dag-dig-dug , jantung mau copot.”
CS : ” Saldo terakhir bapak adalah 25.010 rupiah pak. Ada lainya yang bisa dibantu pak?
CS: *TUT TUT TUT TUT*

Itu kami lakukan setiap hari sampai kiriman bulanan kami benar-benar telah sampai di rekening kami. Dan sujud dan do’a-do’a kami sehabis sholat semakin panjang saja. Dari semula yang meminta kiriman segera tiba. Sekarang ada tambahan  lagi:

“Ya Allah, berilah kemurahan rejeki yang melimpah kepada orang tua kami, sehingga kiriman kami tidak telat ya Allah”.

Andai saja, waktu itu sudah ada MatahariMall, yang memberi “Tanggal Tua SURPRISE (TTS)” seperti pada kisah Budi #JadilahSepertiBudi pada video di bawah ini.

Mungkin, do’a kami akan bertambah panjang lagi dengan tambahan doa:

“…..  Ya, Allah, berilah kami rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka ya Allah. Takdirkan kami dapat kejutan TTS dari Matahari Mall Ya Allah. Ya Allah, sesunggunya Engkau maha berkuasa atas segala sesuatu”.

Alhamdulilah sekarang berkat barokah ilmu dari pondok, dan rahmat Allah yang maha kuasa semata, hidup kami berkecukupan. Tanggal muda maupun tanggal tua pun nyaris tidak ada bedanya.

Ketika Universitas Oxford dan Cambridge Pun ‘Meniru’ Sistem Pendidikan Pondok Pesantren?

“… pesantren itu selama ini disebut pendidikan tradisional, iku kurang ajar tenan. Terus sing tradisional ki dianggep luweh rendah timbangane sekolah modern. Aku kepengen ngomong, eh tak kandani yo, pesantren itu mulai ditiru wong sak donyo saiki. Besok sak donyo ki pesantren kabeh ” – Cak Nun

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok” Dr Afifi Al-Akiti (Dosen Studi Islam, Universitas Oxford, Inggris; Alumni Pondok Pesantren Kencong Jember Jawa Timur)

gerakan_ayo_mondok

Ilustrasi: Gerakan Ayo Mondok

Ketika banyak orang dengan bangga mengatakan ‘saya alumni ITB, ITS, UI, UGM, UB’ atau ‘saya alumni kampus luar negeri’, entah mengapa, meskipun saya alumni salah satu kampus tersebut, saya jauh lebih bangga mengatakan ‘saya alumni pondok pesantren’. Buat saya, pesantrenlah yang telah banyak mendefinisikan bagaimana saya memandang dan menjalani hidup dan kehidupan ini. Buat saya, pesantren bukanlah sekedar sekolah biasa. Buat saya, mondok di pesantren adalah masuk kawah candra dimuka sekolah kehidupan. Dari bilik-bilik sederhana di pesantren itulah, saya temukan nilai-nilai kebajikan hidup yang terus jadi pegangan hidup hingga saat ini. Dari wajah-wajah yang sejuk dipandang dari para kiai itulah, saya temukan inspirasi hidup bak lentera yang tak pernah padam di dalam jiwa. Dari do’a-do’a tulus para ustad, ustadzah, pak yai, dan bu nyai itulah, saya rasakan kebarokahan hidup hingga saat ini.

darul_ulum_jombang_edit

Salah Satu Sudut Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Di jaman ketika semua ada label harganya. Di jaman ketika rupa dan angka dipuja. Miris rasanya, merenungi sekolah dan universitas tak ubahnya seperti pabrik-pabrik yang memproduksi produk masal. Mencetak manusia-manusia setengah robot yang nyaris kehilangan sisi-sisi kemanusianya, yang nyaris mati sisi-sisi spiritual nya. Manusia-manusia yang dituntut seragam kompetensinya, dan sesuai standard kebutuhan industri-industri pengeruk keuntungan materialistis. Manusia-manusia yang pada akhirnya menuhankan makhluk bernama Uang. Sehingga rela menyerahkan apapun, termasuk kehormatan dan harga dirinya hanya untuk Uang. Argh, sungguh, pendidikan sudah kehilangan ruh pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia. Disitulah, saya merasa orang paling beruntung di dunia, karena pernah mondok di pesantren.

kampus_cambridge_edit

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Universitas Cambridge, UK

Kebanggan saya akan pesantren makin bertambah, justru ketika saya mengenyam pendidikan di Inggris. Betapa kagetnya saya ketika saya tahu ainul yaqin bahwa ternyata dua kampus terbaik di Inggris, dan terbaik di dunia, Universitas Oxford dan Universitas Cambridge ternyata sistem pendidikanya sama persis dengan sistem pendidikan di pesantren. Memasuki kompleks dua kampus ini tak ubahnya memasuki kompleks pesantren, kebetulan saya pernah berkesempatan nyantri kilat, sekolah musim panas selama seminggu di Universitas Cambridge dan pernah berkunjung di Universitas Oxford. Jangan kira, sampean akan menemukan tulisan besar University of Cambridge atau University of Oxford seperti kampus-kampus di Indonesia. Di komplek dua kampus ini, sampean akan menemukan kumpulan college-college yang tak ubahnya asrama-asrama di pesantren. Di setiap college, terdapat sebuah gereja, lecture hall, dining room, dan asrama yang diketuai seorang profesor yang paling berpengaruh di college tersebut. Yang tak jauh bedanya dengan asrama santri dengan masjid, tempat mengaji, pemondokan, kantin yang diasuh oleh kyai. Tak hanya penampakan fisik, sistem pendidikanya pun tak ubah sistem sorogan dan bandongan di pesantren.

santri_darul_ulum_edit

Ilustrasi: Senyum Santri Putri Darul Ulum Jombang

Semula saya pikir saya adalah satu-satunya yang mengklaim kesamaan antara sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan di OxBridge (Oxford dan Cambridge). Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan seorang teman, mahasiswa Malaysia di Universitas Korowin (Universitas Tertua di Dunia), Maroko, pada suatu kesempatan di Den Haag, Belanda. Saya terkejut ketika dia yang alumni pesantren di Kediri, Jawa timur dan sering berkunjung ke Oxford, dimana salah seorang pamanya mengajar islamic studies disana, berkata: ‘ yah sistem pendidikan Oxford dan Cambridge itu ya sama persis dengan sistem pendidikan pesantren’. Rupa-rupanya, tanpa janjian, we shared the same opinion.

Kadang kita memang sering merasa inferior melihat punya orang lain, padahal kita telah memiliki sesuatu yang lebih baik. Kata pepatah Jawa, golek uceng kelangan delek. Kejadian serupa, ketika berada di stasiun kereta Api Rotterdam Central, Belanda, saya tidak sengaja bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar seni musik di salah satu kampus di Rotterdam. Seorang kawan tadi bilang: ” Waduh mas, tahu ndak Gamelan itu diakui dunia sebagai alat musik paling intuitive di dunia, karenanya gamelan adalah ‘mainan’ baru yang sangat menarik bagi para ilmuwan seni musik, ketika mereka sudah mencapai titik jenuh, stagnansi dengan seni musik modern barat.

Argh, ternyata benar seperti yang dibilang Cak Nun, ternyata pesantren adalah sistem pendidikan asli Indonesia yang luar biasa. Sistem pendidikan terbaik yang bahkan Oxford dan Cambridge pun menirunya. Sayang, di negeri sendiri, pesantren malah dimarginalkan. Sama halnya, gamelan yang dianggap tradisional dan terpinggirkan di negeri sendiri. Padahal, di seluruh dunia orang-orang berbondong-bondong belajar musik gamelan. Entahlah. Terkadang saya susah untuk mengerti.

Sudah saatnya kita sadar dan bangga dengan milik kita sendiri, bangga mewarisi kearifan para leluhur kita. Sudah saatnya kita berhenti menjadi bebek yang selalu ikut kemana arus dunia berjalan. Karenanya, untuk adik-adik muda, dan para orang tua yang tak ingin sekedar pemuja rupa dan angka, cukup hanya dua kata: Ayo Mondok !

Catatan Pinggir:  ‘Meniru’ (judul) bahasa marketing saya untuk menunjukkan kemiripan. Bisa jadi jangan-jangan Oxford Cambridge meniru sistem pesantren, atau sebaliknya. Bisa jadi sekedar kebetulan. Bisa jadi keduanya meniru sistem yang sama dari model sebelumnya yang lain. Please refer to youtube video below for similar opinion.

Related Post:

Related Video: