Tag Archives: arti perjalanan hidup

Tutup Buku 2015, Buka Buku 2016

… masa lalu telah menjadi ‘Buku Tertutup’, merupakan sebuah garis ungkul (solid line) yang tidak lagi mungkin diubah. Masa depan adalah bagaikan buku yang masih terbuka, merupakan sebuah garis terputus-putus (broken line) yang menunggu dan menuntut tanggung jawab para pelaku sejarah untuk mengisi dan  membangunnya – Alm. Prof. Nurcholis Madjid

2013-11-05_1383689471

Ilustrasi Tumpukan Buku di Lab.

Ketika menulis tulisan ini,  saya masih berada sendirian di kampus, di tempat biasa, di lab., tempat dimana saya paling banyak menghabiskan waktu saya selama tiga tahun belakangan ini. Dan waktu akan segera beringsut, meninggalkan detik-detik terakhir, di penghujung tahun 2015, menuju tahun baru 2016.

Setiap pergantian tahun, batin saya selalu berbisik: Time flies, Duh Gusti, cepat sekali waktu berlalu.  Seolah-olah ingin menahan waktu agar berhenti sejenak, karena terbayang betapa banyak hal yang belum berhasil saya lakukan sesuai rencana dan harapan saya di tahun ini. Tetapi, menahan waktu untuk bergerak adalah satu hal yang paling mustahil untuk dilakukan di dunia ini.

Setiap pergantian tahun, fikiran saya selalu terusik, untuk memikirkan sejenak apalah arti perjalanan hidup ini? Perjalanan hidup yang selalu menciptakan masa lalu, menghadapkan kita pada kenyataan masa kini dan misteri kehidupan di masa depan. Meminjam bahasa Cak Nur, masa lalu, masa sekarang, dan masa depan adalah kontinum ruang dan waktu yang tidak mengenal keterputusan. Ketiganya saling terkait satu sama lain.

Menurut kanjeng nabi, orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemaren. Jika demikian, dengan menengok perjalanan sepanjang tahun ini, dan tahun sebelumnya, termasuk orang beruntungkah diri saya? jangan-jangan saya malah termasuk orang yang merugi?

Tetapi, ukuran kualitatif ‘lebih baik’ itu memang selalu sulit untuk diukur. Tergantung juga, lebih baik menurut siapa? Jika ukuran lebih baik itu diukur dari jumlah target dan rencana yang saya buat sendiri di awal tahun kemaren, harus jujur saya akui bahwa  I am the loser.  Diantaranya, kegagalan mencapai target untuk lulus PhD tahun ini adalah hal yang sebenarnya sangat menyakitkan hati saya.

Tetapi, akhirnya saya sadar bahwa banyak hal di dunia ini yang tidak bisa saya kendalikan. Jangankan mengendalikan orang lain, terkadang mengendalikan diri sendiri justru terkadang lebih susah dari pada mengendalikan orang di sekitar kita. Banyak juga peristiwa yang terjadi di sekitar saya tahun ini yang mengajarkan saya bahwa kita tak sepenuhnya bisa mengendalikan kehidupan ini.

Di kampus saya  sedang dibangun sebuah bangunan baru sangat futuristik, yang dibangga-banggakan sebagai bangunan paling ramah lingkungan, dan sudah digembor-gemborkan akan diresmikan dalam waktu dekat. Eh, ternyata, bangunan itu lenyap terbakar luluh lantak menjadi abu begitu saja dalam waktu semalam. Sebuah ironi, dari  standard procedure safety  di UK yang terkenal sangat-sangat ketat. Badan meteorologi UK, tahun ini juga gagal total memprediksi cuaca, yang  memprediksi akhir tahun ini sebagai musim dingin terburuk dengan suhu yang terlampau dingin. Eh ternyata, musim dingin tahun ini malah menjadi musim dingin paling hangat. Demikian juga, banjir bandang yang menerpa banyak kota di UK akhir tahun ini, adalah kejadian amat langka dan ironi di negara yang katanya sudah memiliki early warning system yang paling canggih itu.

Pendek kata, tahun ini mengajarkan saya untuk lebih banyak merunduk, diam, dan tersenyum. Mengajarkan saya untuk lebih Tawadu’ kepada Allah swt dan lebih rendah hati terhadap sesama. Karenanya, saya tak punya baris-baris resolusi untuk tahun depan. Saya hanya memiliki baris-baris do’a semoga Allah memberi kebaikan dan kebaikan yang lebih baik dalam kehidupan saya di masa yang akan datang.  Karena saya yakin, bahwa Allah lebih tahu ukuran kebaikan buat kehidupan saya dari pada saya sendiri yang pekok ini. Ya Allah, maafkan jika saya selama ini telah mendekte Mu untuk memenuhi keinginan ku yang ini dan yang itu.

Masa lalu selalu menyisakan ruang buat kita untuk belajar jika kita mau merenunginya. Masa kini mengajarkan kita untuk ikhtiar sekuat tenaga dan di saat yang sama untuk berpasrah sepenuh hati kepada Sang Pemberi Kehidupan. Dan masa depan, selalu memberikan harapan dan keoptimisan menjalani kehidupan. Jika masa lalu adalah buku yang sudah tertutup, tak ada guna menyesali apa yang telah berlalu. Percayalah, jika kita sudah memasrahkan total kehidupan kita  kepada Yang Maha Merencanakan, kita pasti memenangkan ‘peperangan’ kehidupan ini, meskipun kadang kita harus kalah dalam beberapa ‘pertempuran’. Selamat membuka lembaran baru di Buku baru kehidupan kita di Tahun 2016, kawan!. Semoga bisa kita tulis kebaikan demi kebaikan yang senantiasa bertambah dan bertambah, serta menyejarah.


Guyub nya Orang Indonesia yang Bikin Orang Bule Nggumun

Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu yang akan membuat sebuah rumah indah.” – Iwan Styawan

sb_mascot

Landmark Kota Scarborough (Dok. Pribadi)

Ngelencer ke Scarborough

Salah satu hal yang paling saya sukai dalam hidup ini adalah mengadakan perjalanan, traveling , alias ngelencer. Buat saya, perjalanan bukan sekedar aktivitas penghilang kejenuhan dan kejumudan hidup. Tetapi juga tentang bagaimana melihat dunia dengan cara yang berbeda. Buat saya, perjalanan bukan sekedar melihat tempat-tempat yang indah, dan mengabadikanya dalam jepretan foto, untuk kemudian dipamerkan. Tetapi juga tentang merasakan. Buat saya, perjalanan bukan sekedar menciptakan kenangan, tetapi juga tentang belajar kehidupan. (halah, PRETT!!)

sb_signboard

Salah satu Sign Board di Scarborough (Dok. Pribadi)

 

Kali ini, saya mengunjungi  salah satu kota pesisir di Inggris, namanya Scarborough (cara bacanya: Skar BRA). Dengan bus, kurang lebih 4 jam perjalan ke arah timur laut dari kota Nottingham. Saya datang kesini bersama rombongan keluaraga besar saya di Nottingham, yaitu teman-teman pengajian PeDLN, tepatnya pada bulan September kemaren. Kami punya program rihlah (eits, kemarab yo?) atau jalan-jalan setiap tahunya.

pantai_layangan

Bermain Layangan (Dok. Pribadi)

 

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari kota pesisir Scarborough ini. Yah, kalau dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali dan Lombok, masih kalah jauh. Satu saja yang saya suka, pantainya bersih sekali. Suara deru ombak, kicauan ribuan burung camar, layar perahu nelayan yang terkembang  terombang-ambing di tengah laut, kecerian anak-anak bermain di tepi pantai, serta garis batas pantai yang seolah tanpa batas adalah sesuatu yang lebih dari sekedar indah untuk dirasakan.

pantai_sb

Anak-anak bermain Jaring (Dok. Pribadi)

 

Sayang, cuaca hari itu sedikit kurang bersahabat. Rinai rintik-rintik hujan tak juga reda sepanjang hari. Kami terpaksa, mendirikan tenda darurat untuk menaruh bekal makanan kami. Kemudian kami makan bersama, duduk berjejer, berderet-deret di tepi pantai, meski harus bercampur dengan sedikit air hujan. Tetapi, tak sedikit pun mengurangi indahnya rasa kebersamaan kami. Rupanya, pemandangan ratusan orang Indonesia yang terlihat guyub itu mengundang perhatian para bule di sekitar pantai. Wajah-wajah mereka terlihat so amazed , nggumun, melihat keberadaan kami. Mungkin dalam hati mereka mbatin kok ya ada ya orang sebanyak ini terlihat begitu guyup rukun, penuh canda tawa. Yah, sangat dimaklumi tentunya, mengingat gaya hidup orang Inggris dan orang Eropa pada umumnya yang sangat-sangat  individualis.

tenda_darurat

Gotong Royong Membuat Tenda Darurat (Dok. Pribadi)

 

Di pantai Scarborough ini kami juga berjumpa dengan masyarakat Indonesia lainya dari kota lain, yaitu kota Hull dan Essex. Jadi, bertambah melimpah ruahlah kebahagiaan kami. Selain keindahan pantai, di kota Scarborough kita juga bisa mengunjungi Kastil, Gereja tua, dan Museum. Tiga tempat tujuan wisata yang sangat tipikal yang hampir bisa dipastikan selalu ada di setiap kota di Inggris.

scarborough_di_pantai

Nampang Dulu dengan Spanduk Majelis Taklim nya 😀 (Dok. Pribadi)

 

Yang istimewa adalah perkampungan nelayan yang terletak tidak jauh dari pantai. Anda bisa menyaksikan puluhan perahu nelayan yang sedang bersandar, dan berbagai tempat penjual oleh-oleh khas masyarakat pesisir. Saya jadi ingat kota Muncar, kota pesisir di timur kabupaten Banyuwangi, kota kelahiran saya. Bedanya, kalau disini bersih, di Muncar terkesan kumuh dan baunya itu lo, membuat perut langsung muneg-muneg (mau muntah).

Setiap kota memiliki keunikan tersendiri, dan setiap kota menyimpan kenangan tersendiri. Semoga perjalanan kali ini menjadi kenangan kebersamaan kami, yang suatu saat nanti pasti akan kami rindukan kembali.