Sego Berkat

…. tidak sekedar bumbu-bumbu desa yang alami yang menjadikan istimewa, tetapi bumbu kesabaran, ketulusan dan keikhlasan yang  yang menjadikanya lezat tak terkira – a random thought

blog_sego_berkat

Sego Berkat

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan selalu menjadi hari-hari istimewa di kampung halaman istriku di Madiun. Bukan saja karena wasiat langit yang mengistimewakan hari-hari iu untuk khusuk khusuk mendekatkan diri ke sang pemberi kehidupan, tetapi kearifan sosial orang-orang di kampung itu.

Di hari-hari inilah, orang-orang di kampung ku sejak dahulu kala saling berbagi makanan. Weweh dan gendurean namanya. Weweh itu mengantarkan serantang makanan ke tetangga atau saudara, yang kemudian dibalas dengan memberikan selembar dua lembar uang di rantang yang telah kosong. Gendurenan itu mengundang beberapa tetangga terdekat dan pak modin, berdoa bersama untuk kebaikan yang dipimpin pak modin, lalu ditutup dengan membagi makanan, setelah dibagi, nasi bagian kita dibungkus dengan daun pisang untuk dibawa pulang. Sebungkus nasi itulah sego berkat namanya.

Buatku sego berkat inilah makanan paling enak sedunia.  Sego gureh atau nasi kuning yang punel, sayurnya urap-urap, serondeng, rempeyek, dan ayam kampung panggung, subhanallah rasanya begitu istimewa dan melegenda. Sebenarnya, makanan ala-ala ndeso seperti ini sudah gampang dipesan secara instan di kota-kota, seperti Surabaya. Tapi entahlah, meski serupa tapi tak pernah sama. Rasanya ada yang lain.

Aku pikir karena di sego berkat dikampung ini ada proses panjang yang mengiringinya. Ada kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan yang menyertainya. Bayangkan, sego berkat itu dimasak sendiri oleh sohibul hajat, dari pagi hingga petang hari. Nasinya dari padi yang ditanam, dirawat, dan dipanen dengan tangan mereka sendiri, berbulan-bulan lamanya dari mulai menyemai benih, menuai hingga diselep jadi beras. Sayurnya, dari sayur-sayuran yang ditanam, dirawat, dan dipetik dari sawah-ladang sendiri. Pun demikian dengankelapa dan bumbu-bumbunya, hampir semuanya dari sawah-ladang sendiri. Ayamnya pun disembelih sendiri dari ayam super bahagia, yang dipelihara sendiri, hidup bebas berkeliaran di kebun, memakan apa saja dari cacing, jagung, serangga, padi, bungkil kelapa, dan sebagainya. Bukan ayam-ayam terpenjara dalam kerangkeng kawat di industri ternak ayam.

Jadi amat maklum jika sego berkat ini nikmatnya luar biasa. Apalagi sego berkat ini habis dirapal dengan bacaan doa-doa dan nasi bungkus daun pisang itu dimakan keroyokan bersama-sama. Dan yang paling penting, gratis lagi. Ada bumbu keikhlasan dan ketulusan dari sohibul hajat yang membuat nya teramat istimewa. Sementara, di kota, sego ala ndeso, meski serupa tapi tak pernah sama. Karena sudah nyampur dengan proses industri dan ada transaksi bisnis yang meliputinya. Dan apalagi harganya cukup mahal.

Semoga kearifan sosial di kampung halaman ini akan terus bertahan di tengah arus ekspansi dajjal globalisasi, dimana semunya ada ukuran uangnya. Bahkan harga diri pun sudah dititipkan pada materi dan uang. Salam dari kampung!

Advertisements

Dari Sancaka Lebaran: Festival Pulang Kampung

Hidup kadang seperti sebuah festival, menghentikan kesibukan beberapa jenak untuk merayakan kehidupan – a random thought

mudik_lebaran

Suasana Mudik Lebaran 2017 di St. Gubeng Surabaya

Kembali, lagi-lagi aku menulis catatan ini dari dalam gerbong kereta api. Kali ini dari gerbong eksekutif 2, nomor tempat duduk 1C, kereta api Sancaka Lebaran jurusan Surabaya-Yogyakarta. Seperti namanya, mungkin ini kereta api tambahan khusus menjelang lebaran. Kereta berangkat dari stasiun Gubeng Surabaya pukul 09.40 dan akan tiba di stasiun tugu Yogyakarta 5 jam kemudian.

Sebenarnya tadi aku ingin naik kereta ekonomi saja, seperti biasanya, agar lebih berasa suasananya. Tetapi sayang semua tiket kereta ekonomi sudah habis terjual. Dan tiketku ini adalah benar-benar tiket terakhir yang tersisa. Yah, bagaimana tidak aku membeli tiket go show, hanya beberapa jenak sebelum kereta berangkat, di hari minus tiga sebelum lebaran. Saat orang-orang normal sudah merencanakan perjalanan mudik jauh-jauh hari bahkan bulan sebelumnya, aku yang tidak suka merencanakan dan suka spontanitas dalam hidup, tentu tidak merencanakan sama sekali. Beruntung, kok nya ndelalah masih dapat tiket kereta api.

Begitulah, perjalanan hidupku mengajari ku. Meski nyaris tidak pernah merencanakan, sering kepepet, tetapi alhamdulilah aku selalu merasa beruntung. Buat apa terlalu merencanakan hidup, jika hidup kita bukan sebenar-benar milik kita. Bukankah ada Dia disana Yang Maha merencanakan. Bukankah rencanaNya selalu yang terbaik dan terindah.

Di dalam gerbong kereta, aku duduk sendirian di kursi paling depan berhadapan langsung dengan sebuah layar LCD. Dibanding kereta ekonomi, tempat duduknya lebih empuk ditambah ada bantal mungil yang aku gunakan untuk mengganjal MacBook ku. Kereta berjalan sangat kencang sehingga dari balik jendela pemandangan luar hanya terlihat seperti bayang-bayang. Tak seperti hari-hari biasanya, hari ini hari terasa sangat sendu. Dari semalam hujan turun sangat deras dan lama. Langit masih saja terlihat kelabu, menyembunyikan matahari yang entah dimana letaknya.

Sepanjang perjalanan pun demikian, langit masih saja kelabu kehitam-hitaman. Sesekali rintik hujan membasahi kaca jendela kereta. Benar-benar mengingatkan suasana typical di kota Nottingham dulu. Gloomy sepanjang hari-hari. Saat yang tepat untuk menidurkan sejenak hati dan fikiran yang lelah.

Di stasiun Gubeng tadi suasana riuh mudik lebaran sudah sangat terasa. Suasana yang sudah lama tidak kunikmati sejak empat tahun belakangan. Semua tempat duduk di ruang tunggu terisi penuh oleh calon penumpang. Bahkan beberapa diantara mereka rela ndelosor di lantai dengan tas-tas besar yang mengiringi. Antrian memasuki ruang boarding dan gerbong pun terlihat mengular. Di Jalan raya yang terlihat sepanjang perjalanan kereta pun demikian, mobil-mobil pribadi terlihat berderet-deret mengantri ruas jalan, tak ketinggalan barisan sepeda motor. Di facebook dan instagram apalagi, banyak sudah yang memamerkan peristiwa yang sama: mudik lebaran.

Aku tertegun sejenak dengan peristiwa budaya mudik lebaran ini. Bagaimana kita semua pada hakikatnya merindukan jalan pulang ke kampung halaman. Menengok kembali, tempat kita lahir dan tumbuh, sebelum akhirnya mendewasa dan memutuskan untuk meninggalkanya. Menengok kembali, bapak, ibu, dan saudara-saudara tempat bermuara segala kebahagiaan hidup, namun sering terlupan diantara kesibukan-kesibukan. Berjumpa kembali dengan teman sepermainan di masa kecil kita yang sudah tak terdengar kabar beritanya, dengan suasana yang jelas berbeda. Dulu masih anak-kanak, kini sudah pada punya anak-anak. Yang dulu dekil dan miskin, kini cantik dan berkelimpahan harta benda. Yang dulu muda dan gagah, kini sudah tua dan renta. Yang dulu ada dan berada, kini tinggal teringat nama dan telah tiada untuk selamanya. Yang semunya membuat kita tersadar, betapa cepat waktu terbang berlalu, mengganti peran dan peristiwa. Betapa perjalanan hidup kita hanya sementara dan sebentar saja. Sebelum akhirnya kita semua kembali pulang ke tempat asal muasal kita. Kepada siapa lagi, kalau bukan ke Tuhan Sang Maha Pencipta.

Di kampung halaman, kita kembali berjumpa dan bermaaf-maafan. Melepas rindu dan saling memberi kebaikan. Di kampung halaman kita menebar cinta kasih yang tak pernah memilih. Di kampung halaman, kita melebur-redam segala iri hati dan dendam. Di kampun halaman, kita belajar berhenti membanding-bandingkan. Di kampung halaman, kita kembali bukan untuk saling pamer kesuksesan. Bukankah, setiap kita adalah pemenang di jalan hidup kita masing-masing. Di kampung halaman, kita belajar kefanaan. Di kampung halaman, kita belajar merindukan jalan pulang. Pulang kembali kehadapan Tuhan. Selamat mudik di kampung halaman kawan! Mari saling memaafkan.

Kereta Sancaka Lebaran, Antara Surabaya-Yogyakarta
Kamis, 22 Juni 2017, 27 Ramadlan 1438 H.

Dalam Antrian Loket Penjualan Tiket Kereta Api

…Jangan pernah lelah mencintai negeri ini -SMI

antrian

Antrian Loket Tiket Kereta Api

Hari itu aku masih di masa ‘bulan madu’ tinggal kembali di tanah air, setelah bertahun-tahun tinggal di Inggris. Duh, rasaya ‘shock culture’ dan ‘stresfull’ beneran. Rupanya, aku mengalami keterkejutan budaya justru setelah kembali ke tanah air sendiri. Rasanya, dulu waktu pertama kali tinggal di Inggris, semuanya terlihat dan terasa indah. Saat kembali, sepertinya semua tidak ada yang bener di negeri ini.

Seperti peristiwa hari itu, saat aku ke stasiun kereta api untuk membeli tiket kereta api. Bukanya aku tidak tahu PT Kereta Api Indonesia sudah memiliki pemesanan tiket online. Sudah aku coba, dan rupanya tidak semua tiket kereta api bisa dibeli online. Ada beberapa jenis kereta api yang tiketnya hanya bisa di pesan di stasiun kereta api hanya pada jam kerja 09.00-16.00 saja. Sungguh aneh Bin Ajaib.

Implementasi teknologi informasi untuk efisiensi dan efektifitas proses bisnis tak bisa sepenuhnya terjadi di negeri ini. Mengapa? Gampangnya saja, untuk kasus PT KAI, jika semua bisa online, berapa banyak para petugas penjual tiket kereta api di stasiun-stasiun yang kehilangan pekerjaanya? Hal yang hampir sama terjadi di pemerintahan, implementasi e-government tidak serta merta membawa kemudahan bagi masyarakat. Masih atau bahkan semakin ruwet saja. Itulah, keberhasilan implementasi sebuah teknologi bukan sekedar karena seberapa canggih teknologinya, tetapi kadang orang-orangnya dan kebijakan yang berlaku lebih menentukan.

Sesampai di stasiun, aku langsung mengantri di loket penjualan, lumayan panjang. Sampai pada akhirnya tiba giliranku dilayani, betapa terkejutnya diriku ketika si penjual tiket bilang bahwa tiket tidak bisa dibeli di loket ini, hanya bisa dibeli di loket stasiun lama yang tempatnya hanya dipisahkan oleh rel kereta api. Tambah mangkel sekali, ketika saya hendak menuju stasiun baru dengan menyebrang rel kereta dalam stasiun tidak diperbolehkan. Duh Gusti, aku harus jalan kaki muter keluar stasiun lewat jalan raya yang jaraknya lebih dari satu kilometer.

Dengan keringat bercucuran ditambah hati yang dongkol aku kembali mengantri di loket penjualan tiket stasiun lama. Lumayan panjang juga, tapi hatiku tak sabar-sabarkan. Sampai ketika giliranku untuk dilayani, tiba-tiba seorang ibu berjilbab sangat lebar dan panjang hampir menyentuh tanah dan menggandeng seorang bocah kecil, dari luar antrian tiba-tiba menyerobot diriku, tanpa sepatah katapun. Dan ajaibnya dilayani juga sama si penjual tiket. Aku hanya bisa mengelus-ngelus dadaku yang di dalamnya sedang bergemuruh kata “JUANCOK!!!!!”

Tidak kah dia berfikir ada orang lain yang sudah mengantri berlama-lama yang telah didzolimi, diambil haknya olehnya. Apalagi, melihat bungkusnya yang seolah memamerkan kesalehan. Tetapi perbuatanya sungguh sangat memalukan. Ini bukanlah peristiwa sekali dua kali, tetapi banyak kali. Di jalan raya, di bank, di stasiun, di toilet, aku sering sekali didzolimi orang-orang yang suka menyerobot antrian, bahkan dilakukan oleh orang-orang yang katanya berpendidikan.

Tetapi aku maklum, bukankah pendidikan, termasuk pendidikan agama, di tempat kita hanya bertujuan agar siswa bisa memilih jawaban ujian dan mendapatkan nilai yang bagus? Sehingga, Tidak masalah jika produk dari sekolahan adalah orang-orang yang bersabar mengantri saja tidak bisa. Harap maklum juga di kantor-kantor, banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi tidak sabar dalam berproses, akhirnya sikut sana sikut sini, serobot sana serobot sini, berkorupsi, untuk meraih kekayaan dan jabatan. Mereka menempelkan harga diri dan kehormatan mereka pada seberapa banyak kekayaan dan seberapa tinggi jabatan itu. Bukan pada etos kerjanya.

Pun pemahaman agama, hanya dipahami dengan hal-hal yang bersifat bungkus materi yang harus bisa diukur. Seberapa lebar jilbabnya, Seberapa panjang jenggotnya, seberapa banyak hafalanya. Tetapi lupa subtansi esensi dari agama itu sendiri. Bukankah sang nabi menyatakan diri tidak diutus kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlak ‘kelakuan’ yang baik.

Argh sudahlah, meskipun sepertinya semua terlihat salah. Jangan lelah mencintai negeri ini, kata bu Sri Mulyani.

Cerita dari Gerbong Kereta APi Pasundan

… rumah-rumah sederhana di pinggiran desa, anak-anak yang bermain riang adalah sedikit dari pemandangan yang menakjubkan selama perjalanan. – a random thought

dalam_ka_pasundan

Ilustrasi: Pemandangan dari Dalam Kereta Api Pasundan

Aku menulis cerita ini sambil duduk diatas kursi nomor 14D, gerbong nomor 4, kereta api ekonomi Pasundan jurusan Surabaya-Bandung. Kereta berangkat tepat sesuai jadwal, pukul delapan lebih sepuluh menit pagi, dari stasiun Gubeng, dan dijadwalkan tiba di stasiun Kiara Condong, Bandung lima belas jam kemudian.

Hehe, lagi-lagi menulis di dalam gerbong kereta ekonomi. Ya, aku memang penikmat perjalanan dengan kereta ekonomi. Selain memang rasanya aku sempat menulis hal-hal yang tidak penting seperti catatan ini ketika berada di dalam gerbong kereta, sebagai pengusir kebosanan lebih tepatnya. Walaupun tak mampu mengusir rasa panas di pantat yang kelamaan beradu dengan kursi kereta yang kurang empuk dan tidak ergonomis.

Kereta melaju kencang, dengan suara deru bergumuruh yang ditimbulkan dari gesekan roda besi kereta dengan rel. Dua bola mataku menatap nanar pemandangan di luar jendela yang terlihat seperti sedang berlarian. Hijaunya padi yang baru ditanam beberapa pekan, rerimbunan pohon bambu, pohon pisang, hutan jati, aliran sungai yang jernih airnya, rumah-rumah sederhana di pinggiran desa, anak-anak yang bermain riang adalah sedikit dari pemandangan yang menakjubkan selama perjalanan.

Ada suasana khas berada di gerbong kereta Pasundan ini. Kebanyakan orang-orang bercakap-cakap dengan Bahasa Sunda. “Kang Asep, Aa, teteh, kumaha, eta” begitu sedikit kata yang berhasil aku curi dengar dari percakapan mereka yang sangat kental dengan logat sundanya. Tidak salah sama sekali rasanya jika kereta ini bernama Pasundan.

Duduk di samping kiriku, seorang lelaki paruh baya bertubuh gembil, sedang sangat lahap menyantap nasi bungkus daun pisang dilapisi kertas minyak. Sementara di depanku seorang remaja baru gede yang tubuhnya kurus seperti diriku, sedang asyik memencet-mencet handphone jadoel yang casingnya berwarna orange. Di samping kananku, di deret tempat duduk jendela seberang, ada enam orang yang semuanya laki-laki.

Satu diantaranya terlihat berbeda. Dari penampilanya, sepertinya berasal dari kelas ekonomi menengah keatas. Membawa koper besar berwarna hitam, bermerk Citibank, dipegangan koper itu masih melekat tag bagasi pesawat Citilink. Dia terlihat kebingungan meletakkan koper itu. Rak diatas kursi dan kolong di bawah kursi tak muat menampung koper itu. Anak muda itu juga menenteng tas laptop berwarna coklat, tas kertas bermerk luar negeri, dan satu kotak mainan. Sekilas terlihat seperti Thomas and Friends, mainan kesukaan nomor wahid anak lanang. Tetapi setelah ku perhatikan ternyata Tomis the Big Family. Sepertinya ini numpang popularitas saja sama Thomas and Friend.

Ah sayang, kereta sudah hampir sampai di stasiun Madiun, dan aku harus segera turun. Dan cerita ini harus berakhir disini.

Jumat, 14 Juni 2017, 21 Ramadlan 1438 H
Dari dalam Gerbong Kereta Api Pasundan

Diatas Gerbang Kereta Ekonomi Logawa

“…indahnya dunia berwarna cinta pelangi di langit senja, terlihat warna berbeda bersanding dengan mesra, tak bercela” – Pelangi di langit Senja, Noah-Letto

kereta_api

Ilustrasi: Kereta Ekonomi

Aku menulis cerita ini di atas gerbong nomor 7, kursi nomor 8 C kereta ekonomi Logawa jurusan Jember-Purwokerto, dengan MacBook hitam tua ku. Sambil menulis, kudengarkan sebuah lagu berjudul pelangi di atas senja, yang entah sudah berapa kali kuputar berulang-ulang.

Aku sangat percaya bahwa musik dan lagunya memiliki kekuatan, setidaknya kekuatan untuk menggerakkan rasa. Dan lagu ini adalah salah satunya. Sejak kali pertama mendengar lagu ini kemaren sore, setiap kali mendengar lagu gubahan anak sulung cak nun ini ada rasa keindahan bergemuruh menggetarkan rongga dada.

Indahnya takdir perbedaan. Begitulah pesan indah lagu ini. Betapa belakangan di negeri kami terlihat semakin banyak yang tidak toleran dengan perbedaan. Semakin menonjolkan militansi sektarianya. Seorang calon gubernur yang keren harus ikhlas menepi dan menyepi di balik jeruji penjara karena tuduhan penistaan agama. Miris sekali rasanya.

Sentimen agama dibawa-bawa ke ruang publik, untuk sebuah peruntungan politik. Yah, di negeri yang punggawanya politik ini, orang akan melakukan kelicikan apa saja demi meraih kekuasaan.

Aku tak habis fikir, di dalam group WA tempat orang-orang yang terdidik, yang jelas di dalamnya dari berbagai agama yang berbeda. Setiap pagi, secara ajeg menebarkan pesan sektarian. Tidakkah dia berfikir pastinya ada orang yang kurang berkenan di dalamnya. Sampai akhirnya, aku sendiri yang keluar dari group.

Aku tak habis fikir, sepanjang Ramadlan ini, di dalam sebuah masjid terdekat di seberang kampus, setiap malam, beberapa jenak sebelum sholat taraweh, seorang penceramah tak henti-hentinya menabur benih-benih kebencian. Tak hanya menghina agama lain, kawan seagama sendiri pun tak luput dari tuduhan, celaan, dan hinaan. Rasanya petir menyambar-nyambar memenuhi rongga dada, setiap kyai-kyai saya yang sangat hormati itu dicaci maki oleh anak-anak muda berjenggot bercelan cingkrang yang gaya bicaranya meledak-ledak itu. Bukanya menebar kesejukan hati di bulan suci ini, malah menyulut percikan api.

Tidak bisakah kita berfikir sedikit terbuka, sehingga tidak perlu menyalahkan dan menyudutkan orang lain yang kebetulan berbeda? Bukankah perbedaan itu hanyalah sebuah takdir keniscayaan. Tidakkah kita menebar cinta, sesama manusia, sesama ciptaan Tuhan yang sama.

***
Di gerbong kereta itu, duduk tepat di kursi yang berhadapan dengan ku, tiga anak muda, dua perempuan dan 1 pria. Seorang berjilbab jingga, dua orang bercelana pendek. Ketiganya sibuk dengan telepon genggam masing-masing.

Ada perubahan sangat signifikan pada penataan kereta api, kereta api ekonomi khususnya, dibanding empat tahun yang lalu sebelum aku berangkat ke Inggris.

Sekarang, rasanya naik kereta api serasa naik pesawat saja. Sebelum naik, kita harus mencetak boarding pass, lewat mesin cetak otomatis di stasiun. Lalu harus melakukan chek-in, dengan memindai boarding pass ke mesin pemindai di pintu masuk stasiun.

Kondisi gerbong kereta ekonomi pun naik kelas. Jika dahulu sesak, kotor, dan pengap. Sekarang bersih, nyaman dan dingin. Setiap penumpang harus duduk sesuai dengan tempat duduk yang tertera di tiket. Di setiap gerbong ada tiga buah pendingin ruangan yang cukup mendinginkan udara. Buat sampean yang sanagt menghargai waktu, jangan khawatir ada empat colokan listrik di setiap baris kursi, sehingga bias menyalakan laptop sepanjang perjalanan. Toilet di setiap gerbong yang dulu bau pesing dan tidak ada airnya, sekarang bersih dan wangi.

Tidak ada lagi penjual asongan, peminta sedekah yang berjubel memenuhi gerbong kereta api. Sebagai pengganti, akan ada pramugari-pramugari cantik yang mengedarkan jualan makanan dan minuman layaknya di kabin pesawat terbang. Suara mesin akan memberi tahu nama stasiun terdekat dimana kereta api akan berhenti dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Dan yang paling penting, nyaris tidak ada lagi yang namanya keterlambatan kereta. Kereta akan berangkat dan tiba sesuai yang dijadwalakan. Betapa keberanian sosok pemimpin membuat perubahan telah banyak membawa perbaikan yang sangat signifikan, bukan? Terlepas, apa pun warna agama sang pemimpin.

Tetapi, diam-diam aku merindukan suasana kereta eknomi jaman dahulu. Terutama dengan orang-orangnya. Dahulu, kereta ekonomi identik dengan kereta orang-orang desa. Orang-orang tua lugu yang menjalani hidup begitu apa adanya. Jika dahulu kereta ekonomi penuh dengan kardus bertali rafia merah warnanya, bahkan ada yang membawa ayam, sekarang lain cerita. Rak-rak barang penuh dengan tas dan koper-koper yang bagus.

Jika dahulu orang-orang bercakap dengan bahasa jawa, sekarang nyaris semuanya berbahasa Indonesia. Jika dulu penumpang sebagian besar orang tua, sekarang didominasi anak-anak muda.

10-Juni-2017, 15 Ramadlan 1438 H