Pendidikan

Sains dan Bocah-bocah Itu

Lalu, apa kabar nanti dengan bangsa yang tidak begitu peduli dengan bocah-bocah, para calon generasi penerus bangsa itu? – a random thought

sains_day_2

Anak Lanang dan Mobil Bertenaga Air Garam

Sore itu jarum jam dinding di dalam gedung sekolah hampir merapat sempurna menunjuk pukul 3.30. Para orangtua berbaris rapi di depan pintu keluar masing-masing kelas anaknya masing-masing. Aku salah satu diantara para orang tua itu, berdiri mengantri di urutan nomor dua di depan pintu keluar kelas Holy yang catnya berwarna jingga. Di depan ku ada seorang perempuan Pakistan berkerudung panjang berwarna putih. Perempuan berkulit kuning agak gelap, berhidung mancung itu membiarkan rambut bagian depanya yang sudah banyak beruban itu terbuai oleh angin yang bertiup agak kencang dan membelitkan sekenanya kedua ujung kerudung yang panjangnya bisa sampai menyentuh tanah itu dilehernya. Tepat di belakang ku, seorang lelaki berkulit hitam legam, tinggi kurus, rambutnya keriting keribo, yang terlihat sangat sibuk.

Satu, dua, tiga jenak kemudian, seorang Ibu guru muda keturunan India yang wajahnya manis sekali, keluar membuka pintu kelas, mengumbar senyumnya lalu berdiri di depan pintu kelas yang telah terbuka. Ibu guru itu, memandangi satu-persatu wajah kami para orang tua yang tertib mengantri, lalu memanggil anak kami satu-persatu. Bocah-bocah berumur 4-5 tahun itu keluar satu demi satu dari kelas berdasarkan urutan antrian kami para orang tua yang berbaris rapi di depan kelas. Bu guru itu sudah hapal betul siapa orang tua dari setiap anak didiknya.

Anak lanang keluar dari kelas dengan wajah super `excited’, tangan kirinya menenteng tas dan jaket, sementara tangan kananya memegang selembar kertas berwarna kuning. Sebuah kertas lagi juga berwarna kuning tergantung dilehernya dengan pita yang juga berwarna kuning. Di kertas yang menggantung di leher itu ada gambar Albert Enstein, tulisan ‘ I am Scientist …‘, dan tulisan nama anak lanang. Sementar selembar kertas di tangan kananya itu sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa hari anak lanang telah berhasil membuat buble.

Di dalam perjalanan pulang ke rumah dengan sepeda ontel, anak lanang dengan penuh semangat bercerita bahwa hari ini di kelasnya ada ‘Science Fair’. Bocah-bocah itu diperkenalkan dengan sains dengan melakukan eksperimen dengan hal-hal yang dekat dalam kehidupan sehari-hari. Mulai belajar listrik statis dengan mengosok-gosokkan balon dengan rambut, lalu ternyata balon itu bisa menembel di tembok atu dengan membuat Buble dengan sabun. Sederhana memang, tapi yang membuat saya takjub adalah bagaimana bisa membuat bocah-bocah itu begitu takjub luar biasa dengan ‘keajaiban’ sains itu. Sesampai di rumah, anak lanang tak henti-hentinya menceritakan ekperimenya di sekolah kepada emaknya.

Keesokan harinya, anak lanang ndilalah kok ya mendapatkan hadiah mobil mainan bertenaga air garam dari Bude Didin, istri Pakde Dani yang dosen Teknik Mesin di Universitas Derby itu. Di akhir pekan, bersama sang Bapak, anak lanang begitu excited merakit mobil-mobilan itu, satu komponen demi komponen, dari memasang roda hingga memasang mesin penggerak roda. Kemudian juga membuat bahan bakarnya dari air dicampur dengan garam dapur. Dan viola, hanya dengan tiga tetes air garam mobil-mobilan itu bisa berlari kencang sendiri. Karuan saja, si Anak lanang tertawa kegirangan dengan mainan barunya itu. Sampai dikelonin ketika tidur, bahkan mungkin sampai terbawa ke alam mimpinya.

sains_day

Ilustrasi: I am Scientist Ilyas

***

Setiap bangsa memiliki kiat sendiri untuk mempersiapkan para generasi penerusnya, untuk melanjutkan estafet kejayaan dan kepemimpinan bangsanya di masa depan. Pada bocah-bocah itulah, maju mundur sebuah bangsa akan ditentukan. Di negara ini, selain budaya membaca, menulis, berhitung, berimajinasi, dan berkreasi yang sudah begitu tanamkan sejak umur 3 tahun, budaya mencintai sains pun diperkenalkan sejak dini. Tentu dengan cara-cara yang menarik sesuai perkembangan usia anak masing-masing. Lalu, apa kabar nanti dengan bangsa yang tidak begitu peduli dengan bocah-bocah, para calon generasi penerus bangsa itu? Wallau a’lam bisshowab.

Catatan Pinggir:
1. Eksperimen sains sederhana untuk anak-anak bisa dilihat disini.
2. Eksperimen Mobil-mobilan tenaga air garam bisa dilihat disini.

Advertisements

Mengenal Lebih Dekat S2 Sistem Informasi ITS

Informasi Ringkas Program Studi S2 Sistem Informasi –  Jurusan Sistem Informasi, FTIF ITS 

JSI_ITS

Ilustrasi: Plaza Jurusan SIstem Informasi ITS

Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi (FTIF), Institut Teknologi  Sepuluh Nopember (ITS) yang berdiri sejak 2001 dan merupakan Jurusan Sistem Informasi  pertama di perguruan tinggi negeri di Indonesia, selain membuka program studi S1 Sistem Informasi, sejak tahun 2009 telah membuka program studi S2 Sistem Informasi, dan saat ini sedang dalam persiapan pembukan program studi S3 Sistem Informasi.

Program studi S2 Sistem Informasi, Jurusan Sistem Informasi, FTIF, ITS ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli profesional di bidang manajemen teknologi informasi yang saat ini menjadi bagian vital dari perusahaan, dan kebutuhan tenaga dosen dan peneliti pada bidang Sistem Informasi.

Keunggulan S2 Sistem Informasi, FTIF ITS

Keunggulan S2 Sistem Informasi ITS adalah sebagai berikut:

  1. Diselenggarakan oleh Jurusan Sistem Informasi Perguruan Tinggi Negeri pertama di Indonesia.
  2. Tenaga pengajar berkualifikasi Profesor, dan Doktor dari berbagai kampus ternama di luar negeri (Inggris, Jepang, Taiwan, Australia, dll ) dan Perguruan tinggi ternama di Indonesia.
  3. Kesempatan beasiswa penuh S2 double degree dengan beberapa perguruan tinggi di luar negeri (1 tahun kuliah di ITS, 1 tahun kuliah di perguruan tinggi luar negeri), salah satunya adalah dengan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) Taiwan. Beasiswa meliputi tutition fee dan living cost allowance selama 1 tahun.
  4. Sistem pendidikan berbasis laboratorium riset.
  5. Program studi S2 sistem informasi ini adalah pilihan tepat bagi dosen atau calon dosen Jurusan Sistem Informasi dan Para profesional di bidang Manajemen Teknologi Informasi.

Kurikulum S2 Sistem Informasi, FTIF ITS

Total beban mata kuliah S2 Sistem informasi FTIF ITS adalah 36 SKS, yang dijadwalkan dapat diselesaikan dalam kurun waktu 3-4 semester. Mata kuliah S2 Sistem Informasi ITS adalah sebagai berikut, atau bisa didownload disini.

Kurikulum_S2_Sistem_Informasi_FTIF_ITS

Kurikulum S2 Sistem Informasi, FTIF, ITS

Gelar S2 Sistem Informasi, FTIF ITS

Lulusan program studi S2 Sistem informasi memperoleh gelar Magister Komputer (M.Kom). Jika mengambil program double-degree akan memperoleh gelar ganda, M.Kom dari ITS dan gelar dari perguruan tinggi di luar negeri, e.g. Jika anda mengambil gelar double degree di departement Industrial Management NTUST, amaka anda juga akan memperoleh gelar: Master of Business Administration (M.BA).

Tenaga Pengajar Program Studi S2 Sistem Informasi, FTIF ITS

Berikut dosen pada program studi S2 Sistem Informasi, Jurusan Sistem Informasi, ITS:

  1. Prof. Ir. Arif Djunaidy, M.Sc., PhD.
  2. Tony Dwi Susanto, S.T., M.T, Ph.D
  3. Mahendrawati ER., S.T, M.Sc., PhD.
  4. Febriliyan Samopa, S.Kom, M.Kom, PhD
  5. Faisal Mahananto, S.Kom, M.Eng, Ph.D
  6. Erma Suryani, S.T, M.T, Ph.D
  7. Dr. Ir. Aris Tjahyanto, M.Kom
  8. Dr. Apol Pribadi, S.T, M.T

Fasilitas Penunjang S2 Sistem Informasi, FTIF ITS

Selain ruang perkuliahan yang representatif, fasilitas pendukung meliputi:

  1. Ruang baca jurusan sistem informasi dan Perpustakaan Pusat.
  2. Ruang diskusi S2 Sistem Informasi.
  3. Laboratorium riset, meliputi:
    • Laboratorium Akuisisi Data dan Diseminasi Informasi.
    • Laboratorium Manajemen Sistem Informasi.
    • Laboratorium Infrastruktur dan Keamanan Teknologi Informasi.
    • Laboratorium Sistem Enterprise.
    • Laboratorium Rakayasa Data dan Inteligensia Bisnis.

Pendaftaran S2 Sistem Informasi, FTIF ITS

Pendaftaran S2 Sistem Informasi ITS dilakukan secara terpusat melalui pasca sarjana ITS. Informasi lengkap pendafataran bisa dilihat di sini.

Ada beberapa jalur pendaftaran, yaitu:

  1. Jalur Biaya Sendiri : lihat disini.
  2. Jalur Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) – Dalam Negeri: lihat disini.
  3. Jalur Program Fresh Graduate – Bebas SPP 4 Semester  : lihat disini dan disini.
  4. Jalur Beasiswa Unggulan – Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri : lihat disini.
  5. Jalur Beasiswa LPDP : lihat disini .

Jadwal Pendaftaran S2 Sistem Informasi, FTIF ITS

Jadwal Pendaftaran untuk Tahun Akademik 2016/2017 adalah sebagai berikut:

jadwal-akademik-2016-2017_0011

Jadwal Pendaftaran Pasca Sarjana ITS

Informasi lebih lanjut mengenai S2 Sistem informasi bisa menghubungi, sekreatariat Jurusan Sistem Informasi ITS , di :  Jl. Raya ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya Jawa Timur, Indonesia 60111  (Bersebelahan dengan Graha ITS dan Jurusan Teknik Industri ITS)
No. Telp: +62 31 5999944, Fax: +62 31 5964965 , website: http://is.its.ac.id

Atau

Pasca Sarjana ITS: Gedung Program Pascasarjana ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111, No. Telp. (+62 31) 5992526, 5947213, Fax. 5947213, Email : ppsits@its.ac.id, website: http://pasca.its.ac.id

Menuju Universitas Kelas Dunia: Belajar Dari Tradisi Pesantren dan Oxford-Cambridge

Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik – Maqalah

mhs_cambridge_edit

Ilustrasi : Mahasiswi Oxford Dengan Seragam Akademik ‘Subfusc’

Sepuluh tahun belakangan kampus-kampus di Indonesia, berlomba-lomba mengklaim dirinya sudah atau sedang menuju ‘World-class Research University’. Klaim ini bukan tanpa alasan, berdasarkan berbagai macam pemeringkatan kampus terbaik dunia, kampus-kampus terbaik kita di tanah air ternyata berada pada posisi buncit. Tidak usah jauh-jauh membandingkan kampus kita dengan kampus-kampus di US dan UK, di lingkungan regional saja kampus-kampus kita keok telak dengan kampus-kampus di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Karenanya, kampus-kampus kita merasa tertampar. Bagaimana tidak, lahwong, umur kampus-kampus kita itu lebih tua dari kampus-kampus di tiga negara tersebut. Sejarah pun mencatat, para founding fathers kampus-kampus di Malaysia adalah dosen-dosen dari kampus di Indonesia.

Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan kampus-kampus kita untuk merangkak mengejar ketertinggalan. Diantaranya adalah dengan mendorong para dosen untuk lebih rajin menulis publikasi ilmiah di Jurnal internasioanl. Karena, berdasarkan poin-poin pemeringkatan, yang paling kurang dari kampus-kampus kita adalah kuantitas dan kualitas publikasi jurnal internasional. Cara umum dan paling mudah yang dilakukan kampus-kampus kita untuk mendorong jumlah publikasi ini adalah dengan memberi intensif, uang tambahan, kepada dosen yang berhasil mempublikasikan karyanya di jurnal internasional. Sebagai ilustrasi, ada sebuah kampus yang memberi uang tunai Rp. 10.000.000 untuk setiap makalah yang berhasil diterbitkan. Tidak hanya itu, tunjangan khusus untuk guru besar pun fantastis (konon diatas 10 juta per bulan), belum lagi uang tunjangan sertifikasi dan renumerasi. Dana hibah penelitian pun lebih royal dikucurkan. Semuanya itu berdasarkan nalar bahwa dosen kita tidak produk karena dosen kita miskin.

Tetapi, berhasilkah cara iming-iming tambahan materi ini? berdasarkan pemeringkatan terbaru oleh QS University Rangking: Asia tahun 2015 (ref: disini), tak satupun kampus kita yang berhasil masuk 100 kampus terbaik di Asia. Sementara, Singapore berhasil menempatkan dua kampusnya pada peringkat 1 dan 4; Thailand menempatkan tiga kampusnya pada peringkat 44, 53, dan 99; Malaysia menempatkan 5 kampusnya pada peringkat 29, 49, 56, 61, 66; sementara Indonesia hanya diwakili oleh UI yang berada pada posisi ke 79.  Dengan fakta ini, kembali harus diakui kampus-kampus kita masih keok dengan kampus-kampus negara tetangga terdekat kita. Memalukan sekali, bahkan kampus terbaik di Indonesia pun peringkatnya masih dibawah 5 kampus di Malaysia.

Lalu, apa kira-kira yang salah?

Menurut hemat saya, upaya mendorong dosen rajin menulis di Jurnal internasional dengan iming-iming materi adalah strategi yang paling rendahan. Tak lebih dari memberi iming-iming ice cream kepada anak kecil. Seharusnya kita semua sudah tahu bahwa luaran yang bagus itu hanya karena proses yang bagus. Begitu juga dengan luaran berupa jumlah dan kualitas publikasi internasional yang bagus, tentunya pasti karena proses akademik yang bagus. Kita mungkin bertanya-tanya, bagaimana sebuah Universitas bisa melahirkan ilmuwan sekaliber Newton, Darwin, Stephen Hawkin, Enstein?

Karena itu, tidak ada salahnya, jika mengintip sistem akademik, atau lebih tepatnya tradisi akademik di dua universitas tertua dan terbaik di Inggris, yang telah banyak melahirkan para peraih nobel dunia, yaitu Universitas Oxford dan Cambridge. Yang ternyata, seperti pada tulisan saya sebelumnya (ref: disini), mirip sekali dengan tradisi keilmuwan di pondok pesantren. Bahkan, Dr Afifi Alkity, orang Melayu alumni pesantren di Indonesia yang menjadi dosen di Oxford Centre of Islamic Studies, mengatakan:

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok”

Seperti apa kemiripan pesantren dan sistem pendidikan di Universitas Oxford dan Cambridge (Oxbridge)? Menurut, Dr Afifi, ada 4 hal utama yang menjadi ciri khas Oxbridge yang juga tidak lain dan tidak bukan ciri khas pondok pesantren di Indonesia. Berikut penjelasanya:

(a) Respect for tradition and traditional ritual

Sebelum melihat langsung ke Oxbridge, saya pernah berimajinasi bahwa sebagai salah satu kampus terbaik didunia, pastinya Oxbridge memiliki gedung-gedung ultra-modern dengan arsitektur kekinian. Rupanya malah sebaliknya, bangunan kampus Oxbridge adalah bangunan-bangunan kuno yang dibangun sekitar abad 10, yang sampai sekarang masih dipertahankan keaslianya. Ini mengingatkan saya pada masjid-masjid kuno di pesantren yang sengaja dipertahankan keaslianya. Tidak hanya mempertahankan bangunan fisik, ritual tradisional pun masih dipertahankan sampai sekarang. Diantarnya adalah tradisi makan bersama di dining room, kwajiban memakai pakain khas Oxford (i.e. Subfusc) bagi mahasiswa ketika mengikuti ujian. Oxbridge ternyata sangat kuat mempertahankan tradisi yang berumur ribuan tahun ini. Hal ini sangat relevan sekali dengan jargon yang dijadikan pegangan pesantren-pesantren NU, yaitu:
Almuhafadzu ‘ala qadimissolih, wal akhdu biljadidil aslah – melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih baik
Menariknya, motto Universitas Oxford, “Dominus Illuminatio Mea” itu ternyata terjemahan dari bahasa Arab “Rabbi Zidni ‘Ilma” – Ya Tuhan ku, Beri aku tambahan ilmu. Yang merupakan do’a yang selalu diucapkan santri di pesantren sebelum memulai belajar.

(b) Academic Excelence

Yang membedakan Oxbridge dengan kampus-kampus lain di dunia adalah sistem College. Oxbridge ini adalah sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa College. Di Oxford sendiri, kurang lebih terdiri dari 31 College. College ini bukan sekedar asrama mahasiswa yang berfungsi sebagai tempat akomodasi. College juga bukan sekedar fakultas yang menaungi berbagai jurusan sebagaimana yang kita tahu seperti di kampus-kampus di Indonesia. College adalah tempat dimana terjadi tradisi pendidikan utama Oxbridge terjadi antara mahasiswa dan para tutor yang tak lain adalah para dosen dan professor dari hampir semua bidang ilmu di Oxbridge. pada setiap College umumnya terdapat, sebuah kapel/gereja sebagai tempat ibadah, student hall, sebagai tempat tidur mahasiswa, dining room tempat makan malam bersama, common room, dan lecture/tutorial room.

Tradisi pendidikan di masing-masing college ini terdiri dari:

Pertama adalah tradisi Tutorial System, dimana para Tutor memberikan tutorial kepada mahasiswa secara Individu, atau kelompok yang kecil (terdiri dari 2-5 orang). Sehingga masing-masing mahasiswa mendapat perhatian yang unik dan intensif dari tutornya masing-masing dalam menyerap kelimuwan yang diajarkan. Di pesantren salaf, sistem tutorial ini tak lain adalah apa yang disebut sistem sorogan (bahasa Arab: Talaki) dimana masing-masing santri mengkaji kitab kuning halaman demi halaman secara private , individual, dengan para ustad atau kyainya. Sistem tutorial ini, diakui oleh Oxford sebagai kunci keberhasilan sistem pendidikan di Oxford. Selain tutorial ini, mahasiswa juga mengikuti kuliah di departemen, layaknya kuliah di Indonesia. Di pesantren, kuliah dengan banyak mahasiswa ini dikenal dengan sistem bandongan.

Kedua adalah adanya Moral Tutor, yang bertugas mengawasi aspek non-akademis masing-masing mahasiswa. Sebagaimana namanya, moral tutor ini bertanggung jawab mengawasi moral mahasiswa. Moral Tutor ini biasanya adalah mahasiswa senior. Nah kalau di pesantren, peran ini biasanya dilakukan oleh lurah pondok, atau pembina asrama.

Ketiga adalah adanya tradisi debat. Di masing-masing college, biasnya seminggu sekali diadakan semacam seminar untuk membahas sebuah permasalahan atau isu yang telah ditentukan. Dalam seminar inilah terjadi debat antar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, mengutarakan pandanganya dari latar belakang keilmuanya yang berbeda-beda. Ini adalah ajang untuk melatih kemampuan analisis dan sintesis mahasiswa. Lagi-lagi tradisi ini juga sama dengan tradisi di pesantren yang disebut dengan syawir dan bahtsul matsail untuk memecahkan berbagai persoalan agama di Masyarakat.

(c) Completely Independence

Keberadaan Oxbridge ini sangat-sangat Independence dari campur tangan pemerintah. Pemerintah atau kerajaan tidak berhak ikut campur terhadap kebijakan maupun kurikulumnya. Bahkan konon katanya pada tahun 2002, naknya PM Tony Blaire nya saja tidak diterima di Oxford. Hal ini disebabkan karena keuangan Oxbridge tidak berasal dari kerajaan. Tetapi berasal dari dana Wakaf atau Endownment yang. jumlahnya sangat fantastis. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan PTN di Indonesia yang kebijakanya banyak diatur oleh pemerintah, termasuk masalah kurikulum, aturan pembentukan Jurusan baru, bahkan pemilihan Rektor. Ini juga tradisi pesantren, dimana dari dulu, sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, pesantren berdikari tanpa dibiayai pemerintah, pesantren pun memiliki kurikulum sendiri yang tidak mengikuti kurikulum pemerintah.

(d) Continuing Education.

Terakhir ciri khas Oxbride adalah adaya pendidikan berkelanjutan. Masyarakat tak pandang usia bisa mengakses pendidikan di Oxbridge, melalui kuliah seminggu sekali, short course, maupun sekolah musim panas. Intinya, pendidikan di Oxbridge tidak hanya bisa diakses oleh mahasiswa mereka sendiri tetapi juga bisa diakses oleh masyarakat. Continuing Education ini juga sudah menjadi tradisi pesantren di Indonesia. Di Pondok pesantren Darul Ulum Jombang misalnya, setiap kamis ada pengajian yang diperuntukkan untuk masyarakat dari berbagai usia (dikenal dengan pengajian kemisan), ada pengajian sewelasan, setiap 4 bulan sekali. Di pesantren lain, ada yang disebut tradisi pengajian wetonan (40 hari sekali), di Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi misalnya, ada pengajian setiap Ahad Legi yang terbuka untuk masyarakat umum. Termasuk pengajian khusus di bulan Ramadlan yang juga terbuka untuk masyarakat umum.

Ilustrasi : Santriwati PP Darul Ulum Jombang, Jawa Timur

 Saya merasa so amazed, bagaimana sistem pendidikan pesantren yang selama ini di Indonesia dianggap udik, ternyata memiliki filosofi pendidikan yang sama dengan Universitas terbaik di dunia, sekaliber Oxford dan Cambridge.
Mungkin sudah saatnya,  kampus-kampus kita hendaknya bisa belajar dari tradisi oxford dan cambridge yang tidak lain adalah tradisi pesantren. Jika pesantren sudah terbukti menghasilkan para Ulama bidang agama yang mumpuni, bukan tidak mungkin sistem pesantren menghasilkan ulama di bidang ilmu lain yang mumpuni dan hebat. Sebagaimana sudah dibuktikan di Oxbridge. Bukankah Oxbridge awalnya dulu juga kampus calon para ulama kristen/katolik?