Advertisements

Category Archives: PhD Life

MIKIR, Idiot !

Think 8 hours x Work 2 hours #darikaosoblongseorangteman

 

mikir_idiot

Ilustrasi: Pesan ndoro dosen, MIKIR!

Saat memulai studi PhD dulu, saat masih berkutat dengan yang namanya studi literature, saya sangat terkesan dengan setiap artikel ilmiah yang ditulis oleh orang British. Jelas terasa sekali bedanya antara artikel tulisan orang British dan non-British, apalagi dibandingkan tulisan orang Indonesia. Sangat enak dibaca, seperti membaca sebuh dongeng yang alurnya runut, sekaligus sangat mudah dipahami, bahkan oleh orang yang sangat new bie di bidang nya seperti saya pada saat itu.

Sekarang, tiga tahun kemudian, di penghujung studi PhD saya, saat saya harus menulis tulisan ilmiah ala orang British. Betapa, ternyata membuat tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami itu sangat-sangat tidak enak dan sangat-sangat sulit sekali. So painful, indeed. Bahkan diakui oleh ndoro dosen pembimbing riset saya sendiri, yang asli orang British dan sudah senior di bidangnya. Beliau bilang: “saya butuh diskusi dengan kolega berbulan-bulan hanya untuk memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan data hasil penelitian saya”.

Di setiap draft tulisan saya, selalu dikomentari:

Kamu ini hanya menuliskan bahwa kamu telah melakukan eksperimen ini dan itu dan hasilnya begini, titik ! Kamu tidak pernah MIKIR untuk menjelaskan WHY ekperimen “ini dan itu” itu kamu lakukan, dan menjelaskan SO WHAT dengan data hasil eksperimen itu. Tidak sopanya lagi, kamu tidak pernah MIKIR pembaca yang akan membaca tulisan kamu ini. Ingat, kamu menulis itu bukan untuk diri kamu sendiri tapi untuk pembaca, jadi pastikan setiap kalimat yang kamu tulis, tanyakan pada dirimu sendiri: apakah pembaca kira-kira ngerti apa tidak?

Dan tolol nya, saya masih saja melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Ampun, Ndoro! Sungguh tidak mudah seorang penulis di saat yang sama harus menempatkan diri sebagai seorang pembaca yang kritis.

Tapi terlepas dari tulis-menulis, dibanding orang Barat, ada satu hal yang fundamental yang menurut saya luput dari budaya orang Indonesia pada umumnya, yaitu budaya MIKIR JERU. Saya jadi teringat salah satu guyonan tentang otak orang Indonesia versi Gus Dur:

Akisah, ada pameran otak orang-orang sedunia. Ada otak orang Jepang, US, Jerman, termasuk otak Indonesia. Saat pelelangan, ternyata otak Indonesia lah yang paling mahal. Lowh kok bisa? usut punya usut karena kondisi otak Indonesia masih mulus, karena jarang dipakai, sedangkan otak negara-negara maju lainya kondisinya sudah aus.

Hahaha :D. Harus kita akui memang sejak kecil dari TK, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, otak kita dididik hanya untuk menghafalkan kumpulan fakta. Sekarang lebih parah lagi, ketika fakta-fakta itu sudah dapat dengan mudah ditanyakan ke mbah Google. Informasi begitu mudah direproduksi dan disebarkan, dengan ‘copy paste’ dan media sosial. Otak kita dipakai untuk apalagi?

Tidak heran, jika pada akhirnya ketika negara-negara maju punya budaya  membaca dan menulis, dan riset yang sangat kuat, kita bangsa Indonesia masih berkutat pada budaya menonton. Yah, karena dibanding membaca dan menulis, menonton adalah kegiatan yang paling tidak pakai otak. Apalagi menonton acara-acara tidak mutu di TV itu.

Budaya malas MIKIR JERU ini, menurut saya dampak negatifnya banyak sekali dalam kehidupan kita. Kenapa sampai sekarang sekarang sistem pendidikan kita masih berkutat di hafalan saja? ya karena metode hafalan lah metode pembelajaran paling mudah untuk diterapkan, tanpa banyak MIKIR. Apa susahnya menyuruh siswa untuk menghafal?

Demikian juga dalam beragama, banyak yang memahami agama hanya sebagai kumpulan aturan hitam dan putih, kalau yang seperti ini benar berarti yang tidak seperti ini salah, kalau kelompok kita masuk syurga, kelompok lain pasti ke Neraka. Kenapa demikian? yah karena itulah cara memahami agama yang paling mudah, tidak perlu banyak mikir. Padahal, dalam islam misalnya, berapa banyak ayat Alquran yang berakhiran, “la’allakum ta’qiluun” – supaya kamu MIKIR. Banyak juga ayat-ayat Alquran, yang merangsang untuk riset, seperti:

Apakah kamu, tidak memperhatikan bagaiman Unta diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Ini kan pesan-pesan agama, untuk menggunakan karunia akal kita, untuk mikir, yang akhirnya melahirkan budaya riset, seperti di Barat, bukan?

Hal yang sama mungkin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kenapa anugerah Tuhan berupa negeri yang subur, gemah ripah lowh jinawi ini tidak kunjung membawa kemakmuran rakyatnya. Yah, mungkin karena para pemimpinya tidak pernah mikir jeru untuk menyejahterakan rakyatnya. Yang ada hanyalah kumpulan para pemimpin yang berpola pikir pragmatis, jangka pendek, dan kepentingan sesaat. Akibatnya?

Jangan heran, jika negeri yang 70% nya laut harus impor garam. Negeri yang punya gunung emas yang tidak habis dikeruk berpuluh-puluh tahun, tapi rakyatnya masih hidup sangat terbelakang. Negeri yang tanahnya katanya tanah syurga, tongkat dilempar jadi tanaman, tapi harus impor beras, kedelai, dan hampir semua produk pertanian lainya. Negeri yang dikarunia padang rumput yang luas, tapi harus impor daging sapi dan susu. Negeri yang dianugerahi sebagai penghasil kakao terbesar di dunia, tapi harus impor coklat.

Masya Allah. Ini ya tidak lain karena pemimpin-pemimpinya yang males mikir jeru, bagaimana mengubar sumber alam yang melimpah itu menjadi keberkahan, menghasilkan kemakmuran. Cara yang paling mudah, dan tidak perlu mikir banyak ya dengan menggadaikanya ke negara lain. Dapet uang cepat yang tidak seberapa, tapi sumber daya alam yang melimpah itu buat bancaan negara lain. Mereka orang asing itu menjadi tuan, rakyat disuruh kerja, kerja, dan kerja jadi tukang dan buruh mereka, pemimpin-pemimpinya hanya menjadi penonton nunggu setoran.

Jika, pas ulang tahun kemerdekaan ke-70 kemaren pemerintah meminta rakyat Ayo Kerja! padahal sedang musim PHK masal. Boleh dong rakyat meminta pemimpin-pemimpinya untuk Ayo Mikir Mikir Mikir Mikir dan kerja! kapan kita jadi tuan di rumah sendiri, pak? bosan pak, kita hanya jadi tukang, buruh dan babu di negeri kami sendiri.

Argh memang, setiap yang membutuhkan otak untuk berfikir keras tidak pernah menyenangkan, so painful. Tetapi, akibat jangka panjang males mikir itu lebih menyakitkan. Jadi, sampai kapan kita tetap menjadi bangsa yang malas mikir?

Advertisements

Roti Pentung dan Kenangan Bersamanya

… air laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh – Pepatah Colongan dari Tetangga

roti_pentung

Roti Pentung

Jika sampean ingin tahu artinya waktu satu detik, bertanyalah kepada mahasiswa semester akhir yang sedang dikejar-kejar deadline. Hosh, haihata-haihata, seandainya waktu bisa diperlambat sejenak, pasti akan diminta lebih para mahasiswa setengah gila seperti saya sekarang. Maksud hati ingin berlari kencang, tapi apa daya kadang otak dan badan tak bisa diajak kompromi. Otak kalau kelamaan dipakai mikir juga mumet, hehe dan harus diistirahatkan. Badan juga sering ikutan protes, hidung mbeler, batuk, badan pegal-pegal, meriang, kesemutan, ngentutan. Mood apalagi, kadang juga seperti anak nakal yang susah diatur. Jiaah, terus kudu piye? keep on floating, Man !

Saat begadang, godaan paling menyebalkan di musim dingin seperti ini adalah perut gampang lapar. Entahlah, apa hubunganya musim dingin dengan rasa lapar ini. Makanya, meskipun siang di musim dingin juah lebih pendek daripada ketika musim panas, puasa di musim dingin itu rasanya berat sekali. Nah, karena saya tidak biasa membawa pekerjaan di rumah, kadang serangan lapar ini begitu menyiksa saat bekerja di kampus. Dan selalu menjadi alasan ingin cepat-cepat pulang ke rumah yang ujung-ujungnya banyak kerjaan yang tertunda.

Nah, baru-baru ini saya nemu pengganjal perut yang efektif. Roti seperti gambar di atas. Saya menyebutnya Roti pentung. Karena bentuknya seperti pentungan. Gede bener. Biasanya saya paling ogah makan roti ala bule-bule itu, tapi belakangan saya menyukainya. Rasanya plain sih, ndak ada manis-manis nya. Tapi lama-lama rasanya menjadi gurih. Harganya murah lagi, satu biji hanya 15 pence (0.15 poundsterling, setara 3000 rupiah).

Setiap makan roti ini, memori ingatan saya terbawa pada suasana lebaran di kampung tempo doeloe. Saat lebaran menjadi hari-hari yang paling membahagiakan sepanjang tahun. Orang kampung jaman dulu berbeda dengan orang kampung jaman sekarang. Kalau sekarang mah, tidak ada bedanya dengan orang kota, kue lebaranya beli di toko semua, akibatnya kue lebaran orang sekampung ya itu lagi, itu lagi.

Kalau jaman dulu, sejak puasa hari pertama, ibu-ibu di kampung sudah repot membuat kue lebaran. Rengginan, kerupuk, tape, keripik, madu mongso, jenang, hampir semuanya home made. Karenanya, setiap rumah, kue nya memiliki cita rasa sendiri-sendiri. Tidak seragam seperti jaman seragam. Nah, satu-satunya roti bikinan pabrik jaman dulu adalah roti entung. Bentuknya sama seperti gambar di atas tapi ukuran mini, seukuran kepompong. Wah, jaman dulu, roti itu begitu ajaib rasanya. Sekarang? Betapa ya, kenikmatan dan kebahagiaan itu sangat relativ. Dulu memang katanya jaman susah, tetapi kebahagian itu begitu sederhana definisinya dan melimpah ruah. Sekarang, yang katannya jaman serba mudah, tetapi kebahagiaan itu rasanya begitu rumit definisinya dan susah dicari. Padahal, bukankah hidup hanya kebahagiaan tujuanya?

Buat teman-teman mahasiswa semester akhir, yang sedang berjuang untuk lulus seperti saya, tetap semangat ya ! Meskipun, pasti banyak sekali cobaan dan ujianya. Semoga diberi kekuatan raga dan kebesaran jiwa untuk tetap bisa menikmati setiap detik dalam proses perjuangan ini, seberat apa pun jalan nya. Di waktu yang tepat, insya Allah kita akan sampai jua, di pelabuhan tujuan. Kadang air laut memang harus ganas, karena air laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh.


Lagu-lagu Perjuangan Kita

… lagu terkadang bukan sekedar penghibur di kala senggang, lagu bisa menjadi perekam kenangan yang sewaktu-waktu bisa kita hadirkan kembali setiap lagu itu kita dengarkan kembali – a random thought

nglokro_01

Merenungi Nasib

Kesendirian, kesepian, keheningan malam, dan  secangkir kopi adalah teman akrab mahasiswa yang sedang berjuang di tahun terakhir studinya. Demikian juga, kekhawatiran, kecemasan, frustasi, begitu akrab menemani hari-hari dimana kita merasa kurang tidur itu. Bekejaran dengan moster menakutkan bernama deadline.

Kebetulan, saya bukan penikmat kopi, dan peminum teh atau sejenisnya. Satu-satunya pain-relief di hari-hari penuh penderitaan itu adalah mendengarkan lagu. Dan selalu saya ingat lagu-lagu itu, mungkin sampai kapan pun hingga ingatan ini benar-benar telah merapuh. Saya menyebutnya lagu perjuangan kita. Lagu yang begitu kuat merekam kenangan perjuangan yang mendebarkan itu.

Tahun 2006, di saat semester 8 S1, di malam-malam yang panjang menjelang sidang tugas akhir/skripsi, di ruangan lab tugas akhir yang sempit itu, di depan monitor 14 inchi, telingaku tak pernah jeda mendengarkan lagu-lagu soundtrack film My Heart dan lagu-lagu nya MLTR yang selalu saya ulang-ulang. Setiap kali mendengar lagu-lagu itu kembali, jiwa saya rasanya terbang kembali ke hari-hari itu.

Tahun 2008, di saat semester 4 studi S2 saya, saya pun menghabiskan malam-malam yang panjang di kamar hostel di depan laptop, dengan beberapa lagu-lagu perjuangan. Bedanya, di tahun itu lagu perjuangan saya adalah lagu-lagunya letto. Lagu-lagu yang liriknya menurut saya sangat dalam itu seolah memberi kekuatan batin sendiri.

Nah, dan tibalah akhirnya, saat ini saya di akhir studi S3 saya. Dan lagu-lagu perjuangan saya saat ini adalah lagu-lagu gamelan jawa, lagu-lagunya kyai kanjeng, lagu-lagu nasida ria, dan lagu-lagu  jadulnya bang haji rhoma irama. Argh, lagu-lagu jadul itu seolah menyemangati saya untuk segera kembali ke ndeso, pulang kembali ke kampung halaman. Dan satu-satunya lagu baru yang menyemangati saya adalah lagunya Afgan: Untuk mu Aku bertahan (soundstrack film my idiot brother).

Ini bagian lirik yang paling saya suka:

Tenanglah kekasihku. Ku tahu hatimu menangis. Beranilah tuk percaya. Semua ini pasti berlalu. Meski takkan mudah. Namun kau takkan sendiri. Ku ada di sini.

Setiap mendengar lagu ini, seolah ada istri saya di samping saya, yang menyanyikan lagu ini untuk saya.
***
Untuk diri saya sendiri yang lemah, saya menasehati. Argh, perjuangan mu ini tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan perjuangan arek-arek suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Tidak hanya sekedar mengorbankan waktu tidur dan bersenang-senang, tetapi darah merah. Ingatlah betapa banyak darah yang telah tumpah, nyawa yang meregang, yang telah ditumbalkan untuk kenyamanan yang engkau rasakan saat ini di kota mu. Penderitaan mu tidaklah seberapa, jika dibandingkan penderitaan nenek moyang mu, hidup beratus-ratus tahun, di bawah kejamnya penjajahan, ketika kewibaan bangsa sendiri dikangkangi londo, inggris, dan Jepang.

Untuk diri saya sendiri yang rapuh, saya menasehati. Argh, kekhawatiran mu itu belumlah seberapa, jika dibanding kekhawatiran si bocah-bocah desa menatap masa depan mereka, yang harus terhenti sekolahnya hanya di bangku sekolah dasar.

Untuk diri saya sendiri yang kadang malas, ingatlah jika kau gagal karena kemalasan mu, kau akan dikenang sebagai pecundang oleh anak cucu mu nanti. Ayah Pecundang ! Kakek pecundang. Malulah bapak mu pula, yang telah melahirkan anak pecundang.

Besok adalah hari pahlawan, ingatlah, perjuangan mu tak ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka itu Man! Duh Gusti, sampaikanlah do’a dan ucapan terima kasih kami kepada mereka. Duh Gusti, tularkanlah dan wariskanlah semangat perjuangan mereka kepada kami, dan anak cucu kami, sehingga mereka tak malu memiliki penerus-penerus seperti kami.

Kawan, sejenak mari kita menyanyikan salah satu perjuangan kita kembali:

Bangun pemudi pemuda Indonesia. Tangan bajumu singsingkan untuk negara. Masa yang akan datang kewajibanmu lah. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas. Tak usah banyak bicara trus kerja kerasHati teguh dan lurus pikir tetap jernih. Bertingkah laku halus hai putra negri. Bertingkah laku halus hai putra negri.

Selamat hari Pahlawan, 10 November 2015, Rek ! Mari berjuang dan segera kembali mengabdi negeri !


Drama Kehidupan Mahasiswa PhD

… in academia we never use the word ‘problem’ call them challenges, issues, never problems – phdcomic/movie

phdcomics_movie

A Random Scene From PhDcomic: the movie

Beberapa hari belakangan ini sering mendengar cerita dari teman Indonesia tentang perjalanan study PhD. Mereka pada akhirnya sudah lulus, sehingga tanpa beban hati menceritakanya kepada saya. Hanya satu kata komentar saya perjalanan panjang selama 4-5 tahun atau bahkan lebih yang penuh drama. Iya drama yang menegangkan. Mereka semuanya mengaku pernah nyaris berputus asa di tengah jalan, merasa sudah setengah gila, dan memiliki hubungan dengan supervisor yang penuh lika-liku. Sekilas terkesan berlebihan, tetapi benar apa adanya. Tidak usah jauh-jauh saya pun pernah merasakanya, walau saya belum lulus, hehe.

Memang ada beberapa mahasiswa yang perjalanan PhD nya kayak kelas artis. Lancar jaya, tanpa hambatan dan pada akhirnya selesai tepat waktu sebelum tiga tahun, dan berakhir dengan anugerah gelar Doktor di depan namanya. Tetapi tidak sedikit yang perjalananya penuh drama, penuh cobaan dan ujian, tidak hanya yang berkaitan dengan hal akademik, tetapi dengan kehidupan pribadinya. Ada yang tidak cocok dengan supervisornya sampai ada yang supervisornya mendadak kabur dari kampus. Ada juga yang harus bekerja sebagai pembersih toilet untuk berthan hidup, karena beasiswanya sudah habis. Seru dan mendebarkan. Seandainya didokumentasikan dalam sebuah film, akan menjadi film drama yang menguras hati para penonton. Yah cerita mahasiswa PhD memang unik, tidak bisa dibanding-bandingkan. Karena soal ujian akhir mahasiswa PhD tidak pernah ada yang sama. Semuanya menjawab pertanyaan yang memang harus berbeda, dan belum pernah ada sebelumnya.

Mengenai drama perjalanan PhD ini, ada serial komik yang mendeskripsikan kehidupan mahasiswa PhD.  Bisa dilihat disini: PhDcomic . Indeed, it really describes what PhD Life is. Nah, serial komik ini juga sudah difilmkan. Bisa dilihat trailernya: disini atau disini. Di kampus saya sendiri, film ini akan ditonton bareng pada tanggal 12 November 2015. Buat teman-teman yang akan melanjutkan PhD, film ini layak untuk ditonton. Buat kita yang sedang atau sudah selesai PhD, menonton film ini akan menjadi seperti melihat kehidupan kita sendiri, dan tentunya seperti menertawakan kehidupan kita sendiri.

Yah, perjalanan sekolah PhD memang unik. Absolutely different, dengan level pendidikan sebelumnya. Saya yakin, perjalanan PhD adalah bab kehidupan yang sangat berkesan bahkan mungkin sangat menentukan untuk bab-bab kehidupan selanjutnya. PhD life memang tidak mudah dan penuh dengan masalah. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi sejauh ini, untuk menghadapi masalah itu kadang kita hanya cukup bersabar dan terus berjalan, karena pada akhirnya, di saat yang tepat permasalahan itu akan terurai dengan sendirinya. Dan semoga, dengan kesabaran itu, akan berbuah manis pada akhirnya.


Tips Mahasiswa Semester Tua : Software Pemacu Efektivitas Kerja

… memang kita tidak benar-benar bisa merencanakan hidup kita, karena ada Yang Maha Merencanakan. Tetapi, setidaknya kita jadi tahu apa yang akan kita lakukan dalam setiap penggalan-penggalan waktu kita yang sangat terbatas. Kita boleh punya waktu sehari yang sama, tetapi ‘kemanfaatanya’ bisa jadi sangat jauh berbeda – A Random Thought.

weekplan

Week Plan

Mengejar mimpi. Sering kali tak semudah memilikinya. Jalan panjang, terjal, naik turun, dan berliku menuju titik impian kita membutuhkan energi semangat besar dan terus-menerus untuk menyusurinya. Beruntunglah, jika kita selalu memiliki semangat besar itu, sehingga kita bisa terus berlari kencang mencapai titik tujuan. Tetapi, terkadang semangat itu bisa menghilang, ‘nggelembosi‘ seperti ban sepeda yang bocor tertusuk paku di jalanan. Sehingga kadang kita hanya bisa berjalan, merangkak, bahkan terhenti mengejar mimpi.

Saya sendiri sering mengalaminya. Karena ban bocor itu tidak hanya karena ban kita yang sudah tipis, tetapi juga karena paku-paku tajam di sepanjang perjalanan. Segera perlu ditambal dan dipompa kembali, itu kuncinya.

Bersyukurlah, jika ada orang lain yang yang siap menambal dan memompa ban sepeda kita. Dukungan keluarga dan teman. Dosen pembimbing yang selalu menyemangati dan mendorong kita. Berbahagialah, jika kita memilikinya. Tetapi, tak perlu berkecil hati jika kita tak memilikinya. Karena pada akhirnya hidup kita adalah hidup kita sendiri, orang lain tak selamanya ada di sekitar kita. Kita pun bisa belajar bagaimana menambal dan memompa ban bocor kita kembali.

Salah satu cara saya menambal dan memompa ban bocor itu adalah dengan flash back melihat kembali awal perjalanan kita. Melihat foto-foto di Instagram setahun, dua tahun, tiga tahun yang lalu, bisa mengingatkan saya akan mimpi manis yang ingin terwujudkan itu. Menyadarkan saya, bahwa sudah panjang dan banyak energi yang telah dipertaruhkan. Mengingatkan saya, betapa teramat sayang, jika itu semua hanya tersia-siakan.

Bersyukur, karena jalan itu belum buntu. Banyak teman perjalanan yang harus terhenti langkahnya, karena telah menemui jalan buntu. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus kembali ke titik nol besar kembali. Bersyukur, karena kesempatan itu masih ada dengan tidak menyia-nyiakanya.

***

Kawan, melengkapi tips saya sebelumnya: Tips Menulis untuk Mahasiswa Semester Tuek. Berikut adalah tips saya, agar kita tetap semangat meraih mimpi kita, dengan dorongan dari kita sendiri. Menambal dan memompa ban bocor kita sendiri, tanpa bantuan orang lain. Tips saya adalah dengan menggunakan software untuk membantu memacu kerja kita menjadi lebih aktif. Mendorong kita untuk tetap berjalan, bahkan berlari mengejar titik impian kita.

Berikut adalah software, yang saya rekomendasikan itu.

Week Plan

Aplikasi online ini membantu kita membuat perencanaan mingguan, yang bisa di breakdown menjadi rencana harian. Pengalaman saya, aplikasi ini cukup efektif memacu produktivitas saya. Meski rencana-rencana itu saya buat sendiri, ada kepuasan batin sendiri, jika saya mampu mencapai target harian dan mingguan saya. Sebaliknya, ada kekecewaan jika saya gagal mencapainya, dan mendorong untuk memperbaikinya. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan Analitik. Yang bisa memberi Insight performa kinerja kita. Ingin mencoba? Monggo, langsung ke TKP disini.

stayfocusd

Aplikasi ini membantu kita mengurangi kebiasaan buruk: menunda pekerjaan, atau yang populer dikenal dengan procrastination. Apalagi buat kita yang bekerja dengan komputer yang terkoneksi dengan internet. Tanpa kita sadar, sebagian besar waktu kita terbuang sia-sia, hanya untuk membuka email, social media, browsing, nonton video, situs berita, yang tidak ada hubunganya dengan pekerjaan utama kita. Parahnya, ini bisa menjadi kebiasaan, yang susah untuk dihindarkan. Nah, aplikasi ini membantu kita untuk memblokir atau membatasi waktu akses alamat-alamat website pengganggu itu. Kita bisa membatasi berapa menit sehari membuka facebook, ngecek email misalnya. Aplikasi ini, harus di install sebagai add in di browser kesayangan sampean. Untuk pengguna chrome misalnya, bisa di download disini. Untuk browser yang lain bisa ditanyakan sendiri ke mbah Google.

Pomodoro Timer

Penyakit parah lain selain kebiasaan menunda pekerjaan adalah tidak fokus. Menurut penelitian, sebenarnya manusia itu pada dasarnya tidak bisa multi-tasking. Sering kali kita mengerjakan pekerjaan A, sambil mengerjakan pekerjaan B, C, D, dan E. Misal menulis sambil mendengarkan musik, sambil menyicil bikin laporan, sambil membaca berita gosip. Maksud hati, biar efektif sekali mendayuh dayung dua tiga pulau terlampau. Eh, malah tak satu pun pekerjaan yang terselesaikan dengan baik.

Karena itu aplikasi Pomodoro timer ini membantu kita untuk fokus, 100 persen konsentrasi pada satu pekerjaan saja. Memang otak kita tidak bisa fokus 100% sepanjang hari. Karenanya, Promodoro Timer ini, membantu kita membagi waktu, kapan harus fokus 100%, kapan untuk istirahat. Misalnya, dari 1 jam, 50 menit kita alokasikan untuk fokus pada satu pekerjaan, yang 10 menit untuk mendengar musik, buka email, baca berita, dan sejenisnya. Ini lebih efektif jika dibandingkan menggunakan waktu satu jam untuk mengerjakan pekerjaan utama disambi pekerjaan-pekerjaan mindless yang  lain.

Ada banyak software Podomoro Timer gratis, salah satu yang saya gunakan adalah Tomato Timer. Aplikasi ini bisa didownload disini.

Demikian tips dari pengalaman saya, semoga bermanfaat! Semoga bisa membantu sampean menjadi orang yang lebih efektif. Terus berjalan, bahkan berlari mengerjar mimpi-mimpi sampean! Mampu menambal dan memompa sendiri, ketika ban sepeda sampean bocor di tengah perjalanan.