Advertisements

Category Archives: English

Cita-Cita Sederhana Si Anak Desa

Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil, tinggal di rumah desa dengan sawah di sekeliling ku. Luas kebunku sehalaman kutanami buah dan sayuran dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan. – Ebiet G. Ade

si_anak_desa_e

Ilustrasi: Senyum Si Anak Desa (Lokasi: Dusun Wringin Putih, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi, 2014)

Ada dua hal yang sangat saya takuti dalam hidup ini, kenyamanan dan kehilangan semangat. Walaupun tekanan kesulitan itu juga menakutkan, tetapi ada kekuatan dibalik ketakutan akan kesulitan itu. Sebaliknya, ada kelalaian dan kealpaan dibalik kenyamanan itu. Dan apalah artinya menjalani hidup, ketika lentera semangat menjalaninya itu semakin meredup.

Benar kata senior saya dulu, ujian mahasiswa PhD di akhir tahun ketiga itu adalah ketika kebosanan mulai mendera. Bayangkan, seribu satu hari bergelut dengan yang itu-itu saja. Wajar rasanya membuat kita eneg dan rasanya ingin putus hubungan dengan yang itu-itu saja itu. Sebuah ironi, ketika tekanan batas waktu study segera datang menghadang. Inilah, mungkin yang sedang membuat lentera semangat itu semakin meredup. Ketika cahaya lentera semangat mu semakin meredup, apa yang engkau lakukan, kawan?

Tadi siang, selepas sholat jumat, sambil makan siang di ruang logi Graduate Centre saya jagongan dengan senior saya yang lain. Dan pertanyaan itu saya ajukan ke beliau. Dan jawabanya I don’t know. Hahaha. Tetapi, kita sepakat bahwa  ternyata menyemangati diri sendiri jauh lebih rumit dari menyemangati orang lain. Pun, ketika segala daya upaya sudah dicoba, tetapi jika Tuhan belum bilang, Kun maka tak ada satu kekuatan pun yang mampu menyalakan lentera semangat itu kembali. Bahkan, senior saya bilang: “Sampai saya berhari-hari tidur di prayer room hanya untuk berdo’a dan membersihkan prayer room saja lo”. Begitupun, semangat itu tidak segera kembali datang.

Biasanya, seperti yang sudah-sudah. Ketika semangat saya sedang ngedrop. Untuk mengundang semangat itu kembali datang, ada tiga ‘ritual’ yang harus saya lakukan. Banyak berdo’a (khususnya do’a anti malas) untuk diri saya sendiri, baca biografi atau cerita sukses luar biasa orang lain, dan membayangkan indahnya rencana-rencana di masa depan (mbayang no dadi Profesor hebat yang disegani dunia :D).Tapi, sialan ritual itu tidak manjur lagi kawan! lah terus aku kudu piye? Akhirnya, sekarang saya melakukan tiga ritual yang bertolak belakang belakang dengan sebelumnya.

Kalau sebelumnya saya berdoa untuk diri saya sendiri. Saya sekarang justru mendoakan teman-teman saya secara diam-diam. Saya sebut nama teman saya yang melintas dikepala satu persatu, semoga diberi semangat yang menggebu-gebu selalu diberi kemudahan segala urusanya, dan tergapai cita-citanya. Dawuhe kanjeng nabi do’a seorang kawan yang diam-diam itu mustajab (cepat dikabulkan), dan ketika kita mendoakan secara diam-diam teman-teman, sahabat-sahabat kita, Malaikat berkata: ‘semoga untuk mu juga’.

Kalau sebelumnya saya membaca cerita sukses orang-orang hebat. Kali ini, saya mencoba mengingat teman-teman sepermainan dulu di desa. Ya Allah Gusti . Betapa seharusnya, saya ini harus banyak bersyukur atas takdir ini. Banyak teman-teman sepermainan dulu yang sekarang masih dalam kesulitan, macul nang sawah, kerja serabutan di Bali, dadi buruh dan babu di Malaysia. Bagaimana kalau saya ditakdirkan berada dalam posisi mereka?

Kalau sebelumnya saya suka membayangkan indahnya rencana di masa depan. Kali ini, saya mencoba mengenang masa lalu. Yaelah siapalah diri ini dulu. Hanya anak desa item kecil dekil lugu bodo yang tidak berani bermimpi menjadi orang lebih dari orang-orang di sekitarnya. Hanya berani bermimpi menjadi petani kecil sederhana, tinggal di rumah desa, hidup bergumul dengan cangkul dan lumpur sawah. Karena percaya penghuni syurga nanti kebanyakan dihuni orang-orang miskin yang hidup sederhana, yang tidak memakan makanan kecuali dari hasil peluh keringatnya sendiri. Dari tanaman yang ditanam sendiri dan peliharaan yang dipelihara sendiri.

Si anak desa dekil itu seolah menepuk-nepuk pundak ku, menampar-nampar kedua pipi ku. Seolah membangunkan ku dari tidur panjang ku. Menatap ku dalam-dalam. Lalu tersenyum tulus pada ku. Memamerkan gigi putih yang besar-besar itu. Senyum itu menggetarkan hati ku.

Kawan, semoga lentera hidup  itu selalu menyala membara, tak pernah padam, dalam hidup sampean-sampean semua. Meski kadang angin harus bertiup, dan hujan harus turun.

Advertisements

Senja, Emak, dan Kangen Segera Pulang

… ada rindu yang menyelinap di setiap penghujung senja. Rindu untuk segera pulang. Untuk mu. – A Random Feeling

Saat aku merasa tak kuasa menahan kencangnya waktu yang terus berlari. Yang hanya bisa aku lakukan adalah pasrah, menyerah pada keperkasaan waktu. Dan membiarkan apa yang terjadi, terjadilah. Waktu pula yang menggilir musim gugur, dingin, semi, dan panas di negeri perantauan ini. Rasanya, baru kemaren salju turun mengguyur atap rumah ku di malam-malam yang sangat panjang. Sekarang, malam itu semakin singkat berganti dengan siang yang semakin panjang.

Entahlah, aku tak pernah suka siang yang terlalu panjang. Karenanya, saya selalu menanti saat-saat itu datang. Saat-saat menunggu senja. Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, beradu dengan langit yang meronakan warna kuning keemasan. Pertanda siang telah berakhir dengan gemilang. Dan saatnya menikmati hening malam bersama paras ayu rembulan datang menjelang.

senja_di_southampton_beach

Ilustrasi: Suasana Senja Di Bibir Pantai Southampton, UK (2013)

Entahlah, suasana hati ku selalu terbawa pada keindahan senja. Buat ku senja adalah simbol kemenangan, akhir dari sebuah perjalanan panjang. Senja adalah pertanda pembuka segala kemudahan dan kebahagiaan, saat terik segala pelik ujian, rintangan dan kesusahan berhasil tersingkirkan. Senja adalah fase akhir sebuah perjuangan panjang. Senja adalah saat yang tepat untuk segera pulang. Membawa setumpuk rindu, untuk orang-orang tersayang.

Entahlah, senja selalu mengingatkan suara emak di ujung handphone, yang selalu terdengar sama di telinga ku, setiap kali aku menelponya:

Piye, Le kapan sekolah mu mari? riyoyo iki wes iso ngumpul nang omah to? Jian emak e wes kangen banget Le.

Dan aku selalu terdiam sejenak, lidah ku kelu, tak mampu berkata-kata setiap mendengar kata-kata rindu itu selalu diucapkan emak berulang-ulang kali. Dan selalu kujawab dengan permohonan do’a, agar semuanya dimudahkan dan dilancarkan semuanya dan segera aku, istri, dan anak ku akan pulang. Yang aku yakin do’a-do’a itu selalu dipanjatkan oleh nya. Emak mertua pun, senada, kata-kata rindu dan do’a-do’anya yang terdengar di ujung handphone itu hampir selalu sama:

Iyo nak tak dungakno sukses sekolah mu, pokoe kudu ranking siji anak ku. Gek ndang mulih. Aku wes ujar arep syukuran ngundang wong sak ndeso yen awak mu wes muleh.

Emak, aku pun sebenarnya juga memiliki kerinduan yang sama dan ingin segera untuk pulang.

**

Kawan, saat kita merasa lelah berjuang sendirian. Saat kita merasa diujung keputusasaan. Saat kita merasa tak seorang pun menginginkan keberhasilan kita. Saat kita merasa orang-orang lain bersorak sorai dengan kegagalan kita. Saat teman seperjuangan sudah meninggalkan dan melupakan kita. Percayalah, disana masih ada hati-hati yang tulus yang tak pernah lekang mengharapkan dan mendambakan keberhasilan kita. Masih ada doa-doa yang dipanjatkan tanpa kita minta hanya khusus untuk kesuksesan kita. Terus melangkahlah kawan ! Meskipun siang kadang terasa terlalu berkepanjangan, percayalah saat senja itu datang semakin dekat.


Dalam Menulis, Disitu Kadang Saya Merasa Ingin Menangis

Seperti kehidupan kita pada umumnya, dalam kehidupan mahasiswa PhD juga ada pasang surut nya. Ada jatuh bangun nya. Jika pasang-surut, dan jatuh-bangun adalah sesuatu yang wajar, tak perlu larut dalam kesedihan ketika kita merasa jatuh. Hanya satu yang perlu kita lakukan: Terus Berjalan – A Random Thought.

buku_tua

ILustrasi : Karya Ilmiah dalam Tulisan Tangan di Museum Of Science and Industry (MOSI), Manchester, UK, 2013

Kawan, Alhamdulilah, pelayaran panjang PhD yang penuh gempuran ombak dan badai ini semakin kian menepi. Kelap kelip lampu mercuar itu semakin jelas terlihat, pertanda dermaga pemberhentian semakin dekat di hadapan. Aku semakin yakin, biidznillah, dengan seijin Allah, bahwa aku akan mampu menggapai tempat bersandar perahu PhD ku ini, sebentar lagi.

Setelah jatuh bangun (eit, jadi ingat lagunya biduan dangdut, Tante Kristina) berjibaku dengan ‘the big problem’ riset, tibalah saya pada kursi pesakitan berikutnya, yaitu menulis. Aih, apa susahnya dengan menulis? Anak kelas 1 SD saja juga bisa nulis mas e !

Sayangnya ini bukan menulis biasa. Tetapi scientific writing yang bikin pening. Selain mulai menulis thesis, ndoro dosen pembimbing saya menyuruh saya menulis paper untuk dipublikasikan di Jurnal internasional, walaupun tidak menjadi persyaratan kelulusan PhD di UK. Kalau tahun pertama, dan tahun kedua cukup menulis paper untuk dipresentasikan di international conference, tahun ketiga ini tidak level lagi.

Dari rencana jurnal yang impact factornya cukup 1, sekarang menjadi jurnal yang impcat faktornya 4. Dari rencana satu paper jurnal, akhirnya beranak menjadi dua paper. Seumur hidup saya, baru kali ini saya mempunyai pengalaman menulis yang begitu lama, melelahkan, dan ‘menyakitkan’. Dulu waktu kuliah master, rasanya menulis itu tidak se ‘menyakitkan’ dan melelahkan seperti ini. Toh, saya bisa menulis 3 international conference paper, dan 1 international journal.

Mungkin, ini adalah resikonya kuliah di english-speaking country. Tetapi sepertinya, menulis ilmiah ini bukan sekedar masalah bahasa. Tetapi masalah bagaimana menuangkan ide dan mengkomunikasikan kontribusi keilmuan dengan baik yang bisa diterima sesuai dengan standard tinggi di dunia akademik.

Untuk menulis satu paper journal yang pertama ini saja, rasanya saya sudah mulai cegeh. Bayangkan, sudah lebih dari tiga bulan berjibaku dengan paper ini,  sudah revisi berkali-kali, dengan komentar-komentar pedes dari dua ndoro dosen pembimbing, dan satu external co-author yang kadang menyakitkan pun. Sampai detik saat ini pun belum kelar-kelar juga. Ketika hasil pekerjaan berminggu-minggu hingga larut malam itu hanya diganjar dengan kata-kata BAD dan RUBBISH dalam tulisan kapital besar-besar berwarna, biuh  rasanya sakitnya dijempol kaki (baca: pengen nginjak-nginjak). Disitu kadang-kadang saya rasanya pengen menangis (tapi tidak pernah bisa :p). Mungkin pengalaman kuliah S1 di kampus perjuangan yang lebih sadis kali ya, yang salah satu dosen terbaik saya suka membanting pintu dan menggebrak mejad di kelas. Sehingga, kalau cuman dikatain begitu ya ndak mempan. Thanks, Pak ! Sudah menyiapkan mental saya sejak saat itu.

bad_rubbish

Komentar Draft Paper saya : BAD dan RUBBISH

Padahal waktu tes IELTS dulu, writing score saya tidak jelek-jelek amat. Masih dapat score 7.0. Tapi sekali lagi menulis ini bukan sekedar masalah bahasa. Tetapi masalah standard yang sangat tinggi. Tahukah sampean sudah berapa kali saya revisi? ping suwidak jaran. Alias sudah berkali-kali yang sampai saya tidak bisa menghitung lagi. Bahkan SVN saya sudah menunjukkan revisi yang ke 394 kali.

update_svn

SVN Revision Yang Ke-394

Saya mungkin memang bukan mahasiswa PhD yang talented apalagi mahasiswa PhD yang briliant. Tetapi, pantang rasanya bagi saya untuk menyerah. Bagi saya, perahu yang mengantar saya datang sudah terbakar. Tidak ada pilihan lain selain harus terus maju kedepan. Saya selalu berusaha percaya bahwa  The most challenging ones, now is the most rewarding ones, later. Dan saya selalu berusaha menikmati semua proses yang kadang terasa menyakitkan dan melelahkan itu. Dan Alhamdulilah, setelah mendapat komentar yang menyakitkan, pada akhirnya, saya pun bisa mendapatkan komentar yang menyejukkan baik dari ndoro dosen pembimbing sendiri, maupun external co-author saya.

good_comment

Komentar Yang Sedikit Menyejukkan

Sekarang ketika saya membaca sebuah paper journal, saya menjadi lebih aware bahwa ada behind the paper story yang tak diceritakan. Bahwa ada proses panjang untuk menghasilkan karya tulis yang berkualiatas. Seperti wine yang berkualitas tinggi membutuhkan waktu yang lama untuk pematangan, begitu juga paper yang berkualitas, butuh waktu untuk pematangan. Saya sekarang menjadi paham, kenapa bahkan di paper pada journal yang high-ranking pun, kadang kala, saya masih menemukan beberapa kesalahan. Bagaimapana pun juga:

Kemampuan untuk mampu menulis dan mengekpresikan pemikiran dengan cara yang jelas adalah langkah penting pada jalan menuju menjadi orang yang berwawasan  luas dan berpendidikan.

Walaupun sulit, intinya, selama kita masih mau berjalan meski harus merayap sekalipun, pasti akan ada terang setelah kegelapan. Tenan, cah luru ilmu sing temenan iku, memang haru wani soro.

Doakan, saya cepat lulus ya Kawan ! Jian tenan, aku wes kangen tenan kambek rujak cingur suroboyo. Kangen sarapan cenil gulo abang. Kangen camilan kerupuk black berry. Buat teman-teman yang sedang berjuang, salam semangat yo!


The Snow That Brings Happiness and Joy

…. see the pretty snowflakes. Falling from the sky; On the wall and housetops. Soft and thick they lie. -Falling Snow Nursery Rhyme

snow_belakangrumah

Snow On The Housetops

Snow could be severe problem for some people in particular area of the world. However, snow could bring genuine happiness and joy too. What happened on this Friday night, really reflected the latter.

It was on  boxing day 2014, a day after the Christmas day. The day where many outlets offered their BIG SALE. Since it was extremely cold and barely there were public transport services, we decided to stick at home. The sky was so grey and gloomy in the morning and turned to little shower in the afternoon. Luckily, the bed weather never could jeopardise my mood any more,  since I lived with my family in this city. Eventually, I do realise that family is always be the reason not to be sad in any conditions of sorrow.

snow_belakangrumah_samping

The Snow Flakes

 

It was in the evening, at around 7 pm, when we looked outside and realised that all housetops become so white. Yeah, the snow flakes were falling down from the sky. Ilyas and his mom were very excited. It was the first in their life-time to see the snow in person. We were so happy and joyful with the snow.

snow_depan

The Road and Car were covered by the snow

 

Ilyas sang along a ‘Falling Snow’ song while seeing the pretty snow flakes from the window. He laughed and cheered. For Ilyas it was like ‘imagination comes true’. He is a big fan of Pororo series where the background of the story is snowy places.  Indeed, he was eager to go outside to catch and hold tight the snow.

snow_keluar

Ilyas and The Snow Flakes

 

Finally, we went outside and played around with the snow. What a wonderful sight. The road and cars were covered by the snowflakes. We walked along the road and let the snowflakes fallen on our hair and jacket. Felt the sensation of treading the snow heap. Grabbed the snow and realised that they are so soft. What a simple happiness and joy, isn’t it?

The snow kept falling down, falling down until late of night. Even, till early morning in the next day. For those want to know how our excitement with the snow.Watch the above video !


Another Social Life Story in The end of The Year

… a family is where your heart find its place to dive into – A Random Thought

bapak2

The ‘Pengajian’ Men

In the end of this year, almost everyday is a gloomy day. The day, where you find the sky so gray. The day, when you feel the weather is so cold. The day, when you barely could enjoy the warmth of sunshine. And, you just want to talk to no body around you. Because  you find no one could understand you but yourself. The day when you miss your past so badly and eager to meet some people that are physically so far away  from where you are.

Luckily,  I got the boy and his mom to pacify me. I got so many friends to cheer up the day. Though, it is not in everyday. Thanks for the boy and his mom. Thanks friends for the day. Today, I got so many big lough and cheers just because of you.

(Video:  Social Activity called ‘Pengajian’ at Loughborough | Credit The Photos: Mbak Bety, Mbak Irra, Cak Shon)

Having a bunch of good friends is never  enough. Friends that build up our far-extended family. Though, sometime it is never easy, when the time to say ‘good bye’ is coming up. Today, as the year is fading out , some friends of mine are saying good bye again. Leaving a kind of feeling of brotherhood/sisterhood romance that always deserve to be cherished.

farewell_mbakMenik

Mbak Menik Farewell Gathering, Beeston, Nottingham

 

Friends,  I wish that the upcoming times always bring you and your loved ones success, happiness and joy and keep this  brotherhood/sisterhood-romance feeling’ tight to see you again in random time in the near future.