Category Archives: English

Drama Kehidupan Mahasiswa PhD

… in academia we never use the word ‘problem’ call them challenges, issues, never problems – phdcomic/movie

phdcomics_movie

A Random Scene From PhDcomic: the movie

Beberapa hari belakangan ini sering mendengar cerita dari teman Indonesia tentang perjalanan study PhD. Mereka pada akhirnya sudah lulus, sehingga tanpa beban hati menceritakanya kepada saya. Hanya satu kata komentar saya perjalanan panjang selama 4-5 tahun atau bahkan lebih yang penuh drama. Iya drama yang menegangkan. Mereka semuanya mengaku pernah nyaris berputus asa di tengah jalan, merasa sudah setengah gila, dan memiliki hubungan dengan supervisor yang penuh lika-liku. Sekilas terkesan berlebihan, tetapi benar apa adanya. Tidak usah jauh-jauh saya pun pernah merasakanya, walau saya belum lulus, hehe.

Memang ada beberapa mahasiswa yang perjalanan PhD nya kayak kelas artis. Lancar jaya, tanpa hambatan dan pada akhirnya selesai tepat waktu sebelum tiga tahun, dan berakhir dengan anugerah gelar Doktor di depan namanya. Tetapi tidak sedikit yang perjalananya penuh drama, penuh cobaan dan ujian, tidak hanya yang berkaitan dengan hal akademik, tetapi dengan kehidupan pribadinya. Ada yang tidak cocok dengan supervisornya sampai ada yang supervisornya mendadak kabur dari kampus. Ada juga yang harus bekerja sebagai pembersih toilet untuk berthan hidup, karena beasiswanya sudah habis. Seru dan mendebarkan. Seandainya didokumentasikan dalam sebuah film, akan menjadi film drama yang menguras hati para penonton. Yah cerita mahasiswa PhD memang unik, tidak bisa dibanding-bandingkan. Karena soal ujian akhir mahasiswa PhD tidak pernah ada yang sama. Semuanya menjawab pertanyaan yang memang harus berbeda, dan belum pernah ada sebelumnya.

Mengenai drama perjalanan PhD ini, ada serial komik yang mendeskripsikan kehidupan mahasiswa PhD.  Bisa dilihat disini: PhDcomic . Indeed, it really describes what PhD Life is. Nah, serial komik ini juga sudah difilmkan. Bisa dilihat trailernya: disini atau disini. Di kampus saya sendiri, film ini akan ditonton bareng pada tanggal 12 November 2015. Buat teman-teman yang akan melanjutkan PhD, film ini layak untuk ditonton. Buat kita yang sedang atau sudah selesai PhD, menonton film ini akan menjadi seperti melihat kehidupan kita sendiri, dan tentunya seperti menertawakan kehidupan kita sendiri.

Yah, perjalanan sekolah PhD memang unik. Absolutely different, dengan level pendidikan sebelumnya. Saya yakin, perjalanan PhD adalah bab kehidupan yang sangat berkesan bahkan mungkin sangat menentukan untuk bab-bab kehidupan selanjutnya. PhD life memang tidak mudah dan penuh dengan masalah. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi sejauh ini, untuk menghadapi masalah itu kadang kita hanya cukup bersabar dan terus berjalan, karena pada akhirnya, di saat yang tepat permasalahan itu akan terurai dengan sendirinya. Dan semoga, dengan kesabaran itu, akan berbuah manis pada akhirnya.


Tips Mahasiswa Semester Tua : Software Pemacu Efektivitas Kerja

… memang kita tidak benar-benar bisa merencanakan hidup kita, karena ada Yang Maha Merencanakan. Tetapi, setidaknya kita jadi tahu apa yang akan kita lakukan dalam setiap penggalan-penggalan waktu kita yang sangat terbatas. Kita boleh punya waktu sehari yang sama, tetapi ‘kemanfaatanya’ bisa jadi sangat jauh berbeda – A Random Thought.

weekplan

Week Plan

Mengejar mimpi. Sering kali tak semudah memilikinya. Jalan panjang, terjal, naik turun, dan berliku menuju titik impian kita membutuhkan energi semangat besar dan terus-menerus untuk menyusurinya. Beruntunglah, jika kita selalu memiliki semangat besar itu, sehingga kita bisa terus berlari kencang mencapai titik tujuan. Tetapi, terkadang semangat itu bisa menghilang, ‘nggelembosi‘ seperti ban sepeda yang bocor tertusuk paku di jalanan. Sehingga kadang kita hanya bisa berjalan, merangkak, bahkan terhenti mengejar mimpi.

Saya sendiri sering mengalaminya. Karena ban bocor itu tidak hanya karena ban kita yang sudah tipis, tetapi juga karena paku-paku tajam di sepanjang perjalanan. Segera perlu ditambal dan dipompa kembali, itu kuncinya.

Bersyukurlah, jika ada orang lain yang yang siap menambal dan memompa ban sepeda kita. Dukungan keluarga dan teman. Dosen pembimbing yang selalu menyemangati dan mendorong kita. Berbahagialah, jika kita memilikinya. Tetapi, tak perlu berkecil hati jika kita tak memilikinya. Karena pada akhirnya hidup kita adalah hidup kita sendiri, orang lain tak selamanya ada di sekitar kita. Kita pun bisa belajar bagaimana menambal dan memompa ban bocor kita kembali.

Salah satu cara saya menambal dan memompa ban bocor itu adalah dengan flash back melihat kembali awal perjalanan kita. Melihat foto-foto di Instagram setahun, dua tahun, tiga tahun yang lalu, bisa mengingatkan saya akan mimpi manis yang ingin terwujudkan itu. Menyadarkan saya, bahwa sudah panjang dan banyak energi yang telah dipertaruhkan. Mengingatkan saya, betapa teramat sayang, jika itu semua hanya tersia-siakan.

Bersyukur, karena jalan itu belum buntu. Banyak teman perjalanan yang harus terhenti langkahnya, karena telah menemui jalan buntu. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus kembali ke titik nol besar kembali. Bersyukur, karena kesempatan itu masih ada dengan tidak menyia-nyiakanya.

***

Kawan, melengkapi tips saya sebelumnya: Tips Menulis untuk Mahasiswa Semester Tuek. Berikut adalah tips saya, agar kita tetap semangat meraih mimpi kita, dengan dorongan dari kita sendiri. Menambal dan memompa ban bocor kita sendiri, tanpa bantuan orang lain. Tips saya adalah dengan menggunakan software untuk membantu memacu kerja kita menjadi lebih aktif. Mendorong kita untuk tetap berjalan, bahkan berlari mengejar titik impian kita.

Berikut adalah software, yang saya rekomendasikan itu.

Week Plan

Aplikasi online ini membantu kita membuat perencanaan mingguan, yang bisa di breakdown menjadi rencana harian. Pengalaman saya, aplikasi ini cukup efektif memacu produktivitas saya. Meski rencana-rencana itu saya buat sendiri, ada kepuasan batin sendiri, jika saya mampu mencapai target harian dan mingguan saya. Sebaliknya, ada kekecewaan jika saya gagal mencapainya, dan mendorong untuk memperbaikinya. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan Analitik. Yang bisa memberi Insight performa kinerja kita. Ingin mencoba? Monggo, langsung ke TKP disini.

stayfocusd

Aplikasi ini membantu kita mengurangi kebiasaan buruk: menunda pekerjaan, atau yang populer dikenal dengan procrastination. Apalagi buat kita yang bekerja dengan komputer yang terkoneksi dengan internet. Tanpa kita sadar, sebagian besar waktu kita terbuang sia-sia, hanya untuk membuka email, social media, browsing, nonton video, situs berita, yang tidak ada hubunganya dengan pekerjaan utama kita. Parahnya, ini bisa menjadi kebiasaan, yang susah untuk dihindarkan. Nah, aplikasi ini membantu kita untuk memblokir atau membatasi waktu akses alamat-alamat website pengganggu itu. Kita bisa membatasi berapa menit sehari membuka facebook, ngecek email misalnya. Aplikasi ini, harus di install sebagai add in di browser kesayangan sampean. Untuk pengguna chrome misalnya, bisa di download disini. Untuk browser yang lain bisa ditanyakan sendiri ke mbah Google.

Pomodoro Timer

Penyakit parah lain selain kebiasaan menunda pekerjaan adalah tidak fokus. Menurut penelitian, sebenarnya manusia itu pada dasarnya tidak bisa multi-tasking. Sering kali kita mengerjakan pekerjaan A, sambil mengerjakan pekerjaan B, C, D, dan E. Misal menulis sambil mendengarkan musik, sambil menyicil bikin laporan, sambil membaca berita gosip. Maksud hati, biar efektif sekali mendayuh dayung dua tiga pulau terlampau. Eh, malah tak satu pun pekerjaan yang terselesaikan dengan baik.

Karena itu aplikasi Pomodoro timer ini membantu kita untuk fokus, 100 persen konsentrasi pada satu pekerjaan saja. Memang otak kita tidak bisa fokus 100% sepanjang hari. Karenanya, Promodoro Timer ini, membantu kita membagi waktu, kapan harus fokus 100%, kapan untuk istirahat. Misalnya, dari 1 jam, 50 menit kita alokasikan untuk fokus pada satu pekerjaan, yang 10 menit untuk mendengar musik, buka email, baca berita, dan sejenisnya. Ini lebih efektif jika dibandingkan menggunakan waktu satu jam untuk mengerjakan pekerjaan utama disambi pekerjaan-pekerjaan mindless yang  lain.

Ada banyak software Podomoro Timer gratis, salah satu yang saya gunakan adalah Tomato Timer. Aplikasi ini bisa didownload disini.

Demikian tips dari pengalaman saya, semoga bermanfaat! Semoga bisa membantu sampean menjadi orang yang lebih efektif. Terus berjalan, bahkan berlari mengerjar mimpi-mimpi sampean! Mampu menambal dan memompa sendiri, ketika ban sepeda sampean bocor di tengah perjalanan.


Tips Sukses Menjalani PhD Life Ala Mbak Maryati, PhD

…. support keluarga dan doa orang tua adalah hal terpenting selama perjalanan PhD saya. – Mbak Maryati, PhD

tips_phd_7

Ilustrasi : Diskusi (Jubilee Campus, Nottingam, 2013)

Setiap orang memiliki definisi sendiri tentang arti kesuksesan. Begitu juga setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencapai kesuksesanya sendiri. Banyak jalan menuju Roma, begitu juga banyak cara untuk mencapai sukses. Cara orang lain belum tentu cocok untuk kita ‘copy paste’ menjadi cara kita. Karena pada dasarnya setiap dari kita memang diciptakan istimewa. Tetapi tak pernah salah jika kita mau belajar dari pengalaman orang lain. Jika semut punya kearifan untuk mengikuti jejak jalan yang paling optimal menuju sumber makanan. Kita pun, sebagai manusia, bisa menjejaki jejak kesuksesan orang lain. Meskipun tidak seharusnya, seutuhnya sama. Yang jelas, jangan pernah terperosok ke jurang yang sama dengan orang lain.

Hampir semua orang setuju, kuliah ditingkat PhD itu tidaklah mudah. PhD is different education level. Ini sekolah, bukan sekedar duduk di bangku kuliah, mendengarkan dosen bicara, ikut ujian, kemudian lulus. Bahkan, di Eropa PhD itu tidak perlu duduk di bangku kuliah sama sekali. Banyak yang berhasil, tetapi juga tidak sedikit yang gagal di tengah jalan.

Nah, beberapa hari yang lalu, saya berhasil mewawancarai seorang Mahasiswa Indonesia yang baru saja menyelesaikan studi PhD nya dari School of Pharmacy, The University of Nottingham dengan beasiswa dari Islamic Development Bank (IDB). Namanya, Mbak Maryati. Beliau adalah dosen di Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo. Setelah menempuh studi penuh dengan perjuangan berat selama lebih dari 4 tahun, alhamdulilah, akhirnya beliau bisa menyelesaikan dengan sangat baik. Memang tidak pernah ada perjuangan yang sia-sia.

wisuda_2

Celebrating Success. Mbak Maryati, PhD

Apa saja kita sukses PhD ala mbak Maryati, PhD. Berikut wawancara saya dengan beliau:

Semoga bermanfaat ! Semoga kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman mbak Maryati dan menjejaki jejak kesuksesan beliau. Semoga kita yang sedang berjuang menyelesaikan PhD diberikan selalu semangat, kepercayaan diri, dan kesuksesan. Insya Allah kesuksesan itu sudah sangat dekat. Selamat berjuang teman ! Matur nuwun Mbak Mar sudah berbagi pengalamanya ! Semoga semakin sukses kedepanya.


The PhD Journey : A Flashback

“Winners are losers who got up and gave it one more try.” —Dennis DeYoung

kebersamaan_kawan

A Friendship

Again, today I got another regretful news from one of my best friends from the same batch and scholarship sponsor that got his studies terminated. Indeed, I am so sorry to hear that. I still remember, how we start this long and painful journey together. Supporting each other in very frequently not easy stages. Offering a helping hand when one of us in need. Sharing foods and joys just to kill the loneliness of being apart from our beloved ones. Till the day when we could live a life with our beloved ones came and we kept supporting each other though in a little bit distant.

Then, now, it is almost, three summers have gone by and one by one of us, eventually found what everyone really expects not to happen. But, it really happened. And we found no clue how to solve the ‘puzzle’. Since this life is so unique life experience. Finally, I do understand what people said that PhD is a different education level, a painful journey, the most requiring commitment endeavor in life after a marriage.

I am not sure whether it happens for each single PhD journey. But, I saw by my self that many people failed to complete successfully this journey. Even, I know in my cohort from the same research group, there have been 5 people did not complete their endeavor till the finish line. And I am still wondering whether I could finish this journey or not. But, indeed I do hope I will. I swear to my self to give one more try for each single effort to finish this journey safely and happily.

When I was trapped into doubt, the only thing I can do to conquer is believing. At this point, I do feel fortunate that I am destined to believe in God. Yeah, try, pray, pray and pray. I do understand that even understanding and managing ourselves is, more than sometimes, the most challenging one in life. It indicates that there is some one else, that actually manage and guide is. It is no other than God. I can’t imagine when I were an atheist, I don’t know the place where I can go to weasel and submit whatever that make me surrender.

To whom who have decided to quit or being terminated, hopefully, it is only a matter of defining different meaning of our success. To whom struggling to reach the finish line, never give up! May Allah ease our step to reach it. Hopefully, each of us deserve for a happy ending. Ammiin.


Sastra Akar Rumput dan Pitutur Bijak Kehidupan

… selalu eling dan nyebut, adalah peringatan yang tak bosan disampaikan kepada para penyadap selagi mereka bekerja di ketinggian pohon kelapa. Seperti semua penyadap, Darsa tahu apa akibat kelalaian yang dilakukan dalam pekerjaannya. Terjatuh dari ketinggian pohon kelapa adalah derita yang sangat niscaya dan dalam musibah demikian hanya sedikit penyadap yang bisa bertahan hidup – Bekisar Merah, Ahmad Tohari

penikmat_sastra_edit

Ilustrasi: Akar Rumput, Conventry, UK, 2013

Kata orang, tidak semua orang bisa menikmati sastra. Hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan rasa yang tinggi, yang mampu menikmatinya. Seperti secangkir kopi tanpa gula yang bagi semua orang itu rasanya pasti pahit, kecuali bagi orang yang tahu bagaimana cara menikmatinya.

Beruntungnya (atau sialanya), saya merasa salah satu yang dapat menikmati keindahan sastra literature itu. Tetapi, selera saya sedikit agak nyeleneh. Dahulu, ketika kebanyakan penikmat sastra bilang novel tulisan Andrea Hirata, Habiburrahman, Dewi Lestari, Agustinus Wibowo sangat bagus dan inspiratif, tetapi setelah saya membacanya, lah kok menurut saya biasa-biasa saja. Sama sekali tidak ada yang istimewa. Tidak banyak rasa yang tertinggal dalam hati, setelah membacanya.

Sampai suatu saat secara tidak sengaja saya mengenal karya Kang Ahmad Tohari. Saat itu, saya sedang terkena penyakit kronis, procrastination saat menulis tesis S2 saya sekitar pertengahan 2008. Penyakit itu membawa saya bertemu dengan salah satu maha karya Kang Tohari yang fenomenal Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Meskipun fenomenal dan sudah ditulis sejak tahun 1982, saya baru tahu itu ya pada saat itu. Saat itu saya benar-benar terhipnotis dengan novel itu. Seumur-umur, baru saat itu saya membacanya penuh dengan rasa sentimental, emosional, dan nostalgic bercampur aduk jadi satu. Ada keindahan rasa pada setiap kata dan baris yang saya baca. Walaupun pada akhirnya novel itu difilmkan, ternyata filmnya tak seindah novelnya. Benar kata teman saya: don’t judge a book by its film. Keindahan sastra literature, memang tak pernah bisa tergantikan oleh sastra audio visual. Karena sastra bukan sekedar alur cerita. Dan belakangan, ketika penyakit procrastination akut itu kembali menyerang saya saat menulis tesis S3 saya, penyakit itu kembali membawa saya bertemu dengan karya Kang Tohari yang lainya, Bekisar Merah (ditulis tahun 1993).

Jatuh Cinta Dengan Karya Kang Tohari

Rupanya, saya telah terperangkap pada kisah cinta yang rumit. Jatuh cinta pada sesuatu yang salah pada saat yang tepat. Jatuh cinta pada novel kang Tohari pada saat seharusnya saya jatuh cinta pad tesis saya. Dan ini terjadi berulang lagi, sengaja menjatuhkan diri pada lubang yang sama karena keenakan.

Buat saya, karya Kang Tohari itu masih sangat relevan dengan kondisi kekinian, meskipun ditulis tahun 80-an dan berkisah tahun 60-an. Karya kang Tohari adalah anti-tesis sastra kekinian- sastra ‘sampah’ sebagaimana yang terlihat di acara-acara TV kita. Kang Tohari, dengan karyanya, selalu konsisten menyuarakan nasib rakyat kecil, rakyat akar rumput, yang dari dulu hingga sekarang, ya ngenes begitu-begitu saja. Mereka banyak, mayoritas jumlahnya di negeri ini, tapi tak pernah terdengar dan didengar suara keluhanya. The silent majority. Yang selalu tenggelam dan menjadi korban oleh kuasa segelintir orang yang menguasai modal di negeri ini, yang mengusai media, dan sak enak udele dewe ngatur-ngatur negeri ini. Paling-paling sesekali terdengar, lima tahun sekali, menjelang pemilu raya di negeri ini.

Karya Kang Tohari juga dokumentasi abadi keindahan alam desa jaman dulu. Ketika alam desa masih perawan. Keindahan alam yang bersimfoni dengan flora dan fauna yang masih melimpah ruah. Tak ketinggalan socio cultural khas orang-orang desa yang kini nyaris sudah tak ada bedanya dengan orang-orang kota. Karya Tohari mengingatkan memori saya akan pohon jambe, bunga randu, bunga bungur, yang entah sejak kapan mereka punah dari desa saya. Dan juga tentang burung srikatan, burung kutilang, ikan tawes, tokek, kadal, laron yang dulu akrab dengan kehidupan desa.

Meski sebuah karya sastra, apa yang ditulis Kang Tohari adalah kumpulan fakta. Yang nyata ada di sekitar kita, yang secara ainul yaqin saya saksikan sendiri mata kepala saya sendiri. Bukan sekedar cerita bodong dari negeri dongeng di atas awan belaka. Setiap bait tulisanya pun penuh filsafat hidup dan pitutur bagus, bijak bestari, mauidzoh khasanah, tentang bagaimana menjalani hidup ini. Yang menurut saya lebih tajam dari ucapan para ustad, ustadzah di kotak digital di rumah kita. Saya yakin, di setiap tulisan Kang Tohari, terilhami nilai-nilai dari teks-teks kitab kuci, secara beliau adalah mantan santri yang pernah ngangsu kaweruh pada para kyai di pesantren.

Seperti bait yang saya kutip di atas. Meski sekilas hanyalah cerita Darsa, seorang penderes, yang pekerjaanya memanjat pohon kelapa untuk menyadap air nira dari manggar, bunga pohon kelapa. Sebenarnya adalah nasehat hidup kita. Bahwa dalam menajalani hidup ini, kita seharusnya senantiasa eleng dan nyebut, ingat dan selalu menyebut Gusti Allah, sang Maha Pemberi kehidupan. Jika tidak, bisa celakalah kita. Seperti orang memanjat pohon kelapa untuk mengambil niranya, orang yang diberi amanah dalam hidup ini harus selalu eleng dan nyebut jika tidak kita akan terjatuh dan fatal akibatnya. Dari karya Kang Tohari saya jadi paham, sebenarnya permasalahan hidup itu ya berputar-putar ke masalah-masalah itu saja, yang dari dulu hingga sekarang tetap sama.

Semoga saya selalu eleng dan nyebut dalam menjalankan amanah negara untuk belajar, menuntut ilmu di kampus ini. Gusti, ngapunten jika saya sering lupa. Gusti, ngapunten jika saya terkadang lalai.Duh Gusti, ingatkan saya selalu dengan amanah ini. Duh Gusti, mudahkanlah segala urusan-urusan saya. Terima kasih Kang Tohari, atas pitutur-pitutur bijaknya. Semoga sehat, dan panjang dan barokah umur selalu. Semoga akan lahir para Kang Tohari lainya yang mewarisi jimat budaya mikir dan budaya nulis, di kemudian hari.