Advertisements

Category Archives: English

Teman Ngontel

Hidup adalah tentang menggores kenangan-kenangan di halaman putih buku ingatan yang tersimpan di kepala dan terekam di hati. Yang akan kita buka kembali, di kala senja usia nanti. Yang karenanya, kita akan dihakimi di alam kehidupan berikutnya nanti. -a random thought

denhague_02

Ilustrasi: Teman Ngontel, Den Hag, Belanda

Belakangan ini, saya merasa kena gejala Permanent Head Damage (PhD). Konon itu adalah hal biasa terjadi pada mahasiwa PhD tingkat akhir seperti saya saat ini. Yang saya alami adalah suka ngomong sendiri di jalanan, baik saat jalan kaki maupun sedang naik sepeda. Seolah saya sedang berdiskusi dengan seorang invisible man di samping saya. Tetapi belum parah banget sih, masih sadar kalau sedang berpapasan dengan orang lain langsung mingkem, walaupun sering kebablasan juga. Mungkin sekali dari orang-orang yang berpapasan itu ada yang menganggap saya memang ora genep. Haha, maklum saya bertahun-tahun menghabiskan sebagian besar waktu saya di lab. dengan orang-orang nerd. Orang-orang yang lebih asyik dengan alam pikiranya sendiri-sendiri. Orang-orang yang lebih suka menggauli komputer, ketimbang bertegur sapa dengan orang-orang di sekitarnya. Kami biasa, selama 10-12 jam di tempat yang sama, secara fisik hanya berjarak beberapa centi, tetapi tidak saling bertegur sapa sama sekali. Yah, mungkin begitulah jalan hidup computer scientist sejati. Orang-orang yang rela kehilangan beberapa ketrerampilan sosialnya dari orang-orang normal pada umumnya.

Gejala ini, mengingatkan saya pada suatu siang hampir dua puluh tahun yang lalu. Saya berdebat sengit dengan seorang teman dekat yang hampir setiap hari ngontel –naik sepeda bareng pergi pulang sekolah dari ndeso kami yang berjarak lebih dari 10 km. Siang yang terik sepulang sekolah itu, kami berpapasan dengan seorang perempuan yang ngomong, ngomel sendiri sambil mengayuh sepedanya.

Saya bilang kalau perempuan itu sepertinya ora pati nggenah, alias setengah gila. Eh, si teman itu ngotot banget kalau kayak gitu itu normal-normal saja. Menurutnya, adalah sesuatu yang wajar, jika ada seseorang yang melakukan monolog seperti itu meskipun di tempat umum, yang dilihat oleh banyak orang. Sementara saya juga ngotot, bagaimana pun juga orang normal pasti malulah ngomong-ngomong sendiri tidak jelas seperti itu. Nahloh, sekarang itu terjadi pada diri saya sendiri. Haruskah saya memvonis diri saya sendiri sebagai orang setengah gila? Mudah-mudahan saja pendamat teman saya yang lebih sohih.

Saya jadi ingin mengenang teman ngontel saya ini. Seorang teman yang saya masih merasa dekat dengan nya hingga sekarang. Kebetulan, kami dari desa yang sama, yang tiap hari harus ngontel di SMP di kota kecamatan, yang konon, waktu itu adalah SMP terbaik se-Kabupaten Banyuwangi. Kebetulan sejak kelas dua, kami juga berada di kelas yang sama.

Meskipun teman karib, yang hampir tiap hari ngontel beriringan, tetapi kami sebenarnya hampir selalu berbeda pendapat. itu tercermin dari tulisan tangan kami yang kontras perbedaanya. Tulisan tangan saya ekstrim miring ke kanan, sementara tulisan dia ekstrim miring kekiri. Hikmahnya, eyel-eyelan sepanjang perjalanan naik sepeda itu membuat jarak total 20 km tiap hari itu tidak terasa.

Ada saja yang kami perdebatkan. Tidak hanya saling berdebat, tetapi dia juga dia tidak sungkan-sungkan mengkritik. Pernah suatu hari saya sakit hati sama dia. Waktu saya membaca puisi di depan kelas pada saat pelajaran bahasa Indonesia. Dia bilang saya wagu, tidak pantes membaca puisi seperti itu. Padahal puisi yang saya baca itu mendapat nilai cukup bagus dari Bu Tutik, guru bahasa Indonesia kami.

Meskipun nyaris tidak pernah sependapat, tetapi anehnya, kami masih akrab-akrab saja. Saya sering mampir makan siang, sholat, dan nonton TV di rumahnya. Yang paling saya suka adalah minum air kendi yang hanya ada di rumahnya. Duh rasanya sueger alami sekali. Apalagi, direguk sepulang sekolah seperti itu, setalah ngontel sepuluh kilometer di tengah terik matahari, menyusuri jalan beraspal di antara hamparan sawah sejauh mata memandang dengan pemandangan lukisan alami gunung raung yang gagah itu.Biuh, rasanya, bagai air syurga segarnya.

Cerita di bangku SMP itu kami tutup dengan goresan kenangan yang sangat indah. Saat pelepasan kelas tiga SMP itu, kami bersama kedua orang tua kami, sama-sama dipanggil di atas panggung. Mendapat penghargaan berupa piala kecil dari kepala sekolah. Saya sebagai lulusan dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi pertama, sementara sang teman tertinggi ketiga. Bu Kutrik, guru bahasa Inggris kami, yang juga wakil kepala sekolah, berkomentar:  wah rupanya tahun ini prestasi terbaik diboyong anak-anak desa Plampangrejo, mengikuti jejak sukses wali kelasnya, Bu Mahmudah, yang juga sama-sama dari desa Plampangrejo.

Setamat SMP, kami berpisah mengikuti garis nasib sendiri-sendiri. Tetapi, sayangnya kami sama-sama gagal meraih impian kami masing-masing. Sang teman, yang dari awal kelas tiga bercita-cita ingin sekolah di SMA 3 Yogyakarta, ternyata ditolak mentah-mentah,  meskipun NEM nya waktu itu salah satu yang tertinggi se Kabupaten Banyuwangi. Dan harus puas hanya diterima di SMA 2 Bantul, setelah gagal masuk SMA 1 Bantul, di kota kelahiranya itu.

Saya lebih parah lagi. Saya bercita-cita ingin sekolah di STM Telkom Sandi Putra, Malang. Tapi harus gigit jari setelah gagal tes wawancara dan tes kesemaptaan. Kegagalan itu  mengantarkan saya masuk pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Sebelum akhirnya, setahun kemudian pindah ke pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Padahal, sangat mudah saja, saya dulu seperti teman-teman sekelas pada umumnya, masuk di SMA 1 Genteng, SMA terbaik di kabupaten Banyuwangi. Entahlah, saya waktu itu menolak mentah-mentah, saat bapak hendak mendaftarkan saya di SMA itu. Tetapi, mungkin itulah yang namanya hidup atau garis hidup.

Ketika kami menghidupi masa-masa SMA kami masing-masing, kami  masih keep in touch satu sama lain. Karena waktu liburan yang tidak sama antara sekolah umum dan di pesantren, sang teman pernah nyambangi saya di pesantren Blokagung. Begitu juga dengan saya, rela mbolos dari pondok pesantren, demi bermain ke rumahnya saat liburan sekolah.

Saat saya di Jombang, kami masih saja rajin berdebat. Bedanya, kalau di jaman SMP kami berdebat langsung saat ngontel beriringan. Waktu saya di Jombang, kami berdebat lewat surat-suratan. Layaknya, orang pacaran saja, hampir setiap seminggu kami saling berkirim surat. Hehehe

Waktu jaman kuliah, sang teman diterima di fakultas kedokteran hewan, UGM. Saya di fakultas teknologi informasi, ITS. Saat jaman kuliah ini, komunikasi sudah semakin jarang. Hanya sesekali kami saling berkirim email. Pernah juga suatu waktu, saat liburan kuliah, saya yang main ke Yogyakarta.

Menjelang lulus kuliah, saya masih ingat sang teman lah yang memaksa saya untuk mengambil kesempatan kuliah negeri dengan beasiswa, yang saat itu sudah saya dapatkan saat masih mengerjakan Tugas Akhir aka skripsi. Padahal, saya kurang begitu berminat, karena saya sudah kebacut ingin cepat kaya, dengan kerja di perusahaan asing. “Kapan lagi lo, sampean bisa merasakan hidup di luar negeri? itu akan menjadi kenangan-kenangan tak terlupakan, dalam hidup sampean”. Begitulah, kata-katanya mencoba meyakinkan saya. Tetapi, akhirnya saya pun memilih bekerja di perusahaan Korea, menjadi orang Jakarta. Sebelum saya sadar bahwa dunia kerja dan keindahan Jakarta ternyata tak seindah yang saya bayangkan. Saya pun akhirnya menuruti saran sang kawan.

Dalam memilih karir setelah lulus kuliah, kami pun berbeda pendapat, bagi dia yang penting adalah menjadi PNS. Saya malah sebaliknya, asal bukan PNS. Walaupun, pada akhirnya, kita sama-sama berstatus PNS, hehe. Sang kawan menjadi PNS sebagi dokter hewan, di kota Cirebon. Saya jadi PNS, sebagai dosen di alamamater sendiri.

Latar belakang pendidikan agama yang berbeda membuat kamu memiliki cara pemahaman dan penghayatan agama yang sangat berbeda, walaupun theologically, for sure kami sepakat. Saya yang alumni pondok, sudah bisa ditebak sangat NU banget, dengan pemahaman Islam yang sangat moderat, Islam yang ramah dan lentur dengan budaya pribumi. Lebih mengutamakan esensi daripada bungkus-bungkus budaya. Dalam hal-hal yang tidak ushul (pokok-pokok) agama, buat saya ekspresi keberagamaan orang Indonesia tidak harus sama persis dengan Arab.

Sementara sang teman, yang belajar agama dari liqo’ dan halaqah di sela-sela kuliah di kampus. Pemahaman agamanya lebih cenderung ke salafy-wahaby yang agak rigid dalam memahami agama. So, banyak amalan-amalan agama saya yang ala NU seperti tahlilan(mendoakan orang yang sudah meninggal dunia), ziarah kubur, menurut pemahaman dia, itu dianggap sesat, dan tempatnya di Neraka. Saya ‘pemuja’ Gus Dur, sementara dia penghujat Gus Dur.

Puncaknya, beberapa waktu yang lalu, saat saya kampanye Islam Nusantara, Islam yang ramah, toleran, dan rahmat bagi alam, lewat jejaring facebook. Sang teman, kirim message yang isinya: “Kang, maaf yo, untuk sementara sampean saya unfriend dan saya block dari facebook”. Saya mung mbatin tertawa, mau unfriend dan nge block kok pakai ijin segala. Kebetulan saya juga sudah jarang facebookan lagi.  Sejak saat itu, kami tidak pernah komunikasi sama sekali. Tetapi, ada teman dia yang rajin ngabari kabar sang teman ke saya.

Saya berjanji, someday saya akan main ke rumah sang teman. Beda pandangan bukan berarti harus putus hubungan. Bukankah kita sudah terbiasa berdebat, dan berbeda pandangan. Belakangan, saya sadar susahnya di jaman sekarang nyarik seorang teman yang maun menjadi cermin buat diri kita sendiri seperti sang teman tadi. Teman yang mau mengkritik, mendebat, meluruskan, tapi di saat yang sama, diam-diam setulus hati mendoakan kebaikan kita. Serta persahabatan yang berkelanjutan, lintas ruang dan waktu. Kebanyakan teman model jaman sekarang adalah teman-teman yang selalu tampak manis di depan kita. Tetapi, kita tak pernah tahu apa yang terjadi ketika di belakang kita. Jangan-jangan malah menceritakan keburukan kita kepada orang lain. Jangan-jangan malah bersorak sorai, ketika kita terpuruk dan jatuh. Pun kita berteman sebatas kepentingan, saat kita masih saling membutuhkan, saat kita terjebak dalam ruang dan waktu takdir yang berdekatan, disitu kita berteman. Selanjutnya, ya wassalam!

Semoga kita dikaruniai teman-teman sejati yang baik, mau menjadi cermin diri kita. Dan terhindar dari teman-teman yang tampak baik di depan saja. Ammiin

Advertisements

MIKIR, Idiot !

Think 8 hours x Work 2 hours #darikaosoblongseorangteman

 

mikir_idiot

Ilustrasi: Pesan ndoro dosen, MIKIR!

Saat memulai studi PhD dulu, saat masih berkutat dengan yang namanya studi literature, saya sangat terkesan dengan setiap artikel ilmiah yang ditulis oleh orang British. Jelas terasa sekali bedanya antara artikel tulisan orang British dan non-British, apalagi dibandingkan tulisan orang Indonesia. Sangat enak dibaca, seperti membaca sebuh dongeng yang alurnya runut, sekaligus sangat mudah dipahami, bahkan oleh orang yang sangat new bie di bidang nya seperti saya pada saat itu.

Sekarang, tiga tahun kemudian, di penghujung studi PhD saya, saat saya harus menulis tulisan ilmiah ala orang British. Betapa, ternyata membuat tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami itu sangat-sangat tidak enak dan sangat-sangat sulit sekali. So painful, indeed. Bahkan diakui oleh ndoro dosen pembimbing riset saya sendiri, yang asli orang British dan sudah senior di bidangnya. Beliau bilang: “saya butuh diskusi dengan kolega berbulan-bulan hanya untuk memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan data hasil penelitian saya”.

Di setiap draft tulisan saya, selalu dikomentari:

Kamu ini hanya menuliskan bahwa kamu telah melakukan eksperimen ini dan itu dan hasilnya begini, titik ! Kamu tidak pernah MIKIR untuk menjelaskan WHY ekperimen “ini dan itu” itu kamu lakukan, dan menjelaskan SO WHAT dengan data hasil eksperimen itu. Tidak sopanya lagi, kamu tidak pernah MIKIR pembaca yang akan membaca tulisan kamu ini. Ingat, kamu menulis itu bukan untuk diri kamu sendiri tapi untuk pembaca, jadi pastikan setiap kalimat yang kamu tulis, tanyakan pada dirimu sendiri: apakah pembaca kira-kira ngerti apa tidak?

Dan tolol nya, saya masih saja melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Ampun, Ndoro! Sungguh tidak mudah seorang penulis di saat yang sama harus menempatkan diri sebagai seorang pembaca yang kritis.

Tapi terlepas dari tulis-menulis, dibanding orang Barat, ada satu hal yang fundamental yang menurut saya luput dari budaya orang Indonesia pada umumnya, yaitu budaya MIKIR JERU. Saya jadi teringat salah satu guyonan tentang otak orang Indonesia versi Gus Dur:

Akisah, ada pameran otak orang-orang sedunia. Ada otak orang Jepang, US, Jerman, termasuk otak Indonesia. Saat pelelangan, ternyata otak Indonesia lah yang paling mahal. Lowh kok bisa? usut punya usut karena kondisi otak Indonesia masih mulus, karena jarang dipakai, sedangkan otak negara-negara maju lainya kondisinya sudah aus.

Hahaha :D. Harus kita akui memang sejak kecil dari TK, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, otak kita dididik hanya untuk menghafalkan kumpulan fakta. Sekarang lebih parah lagi, ketika fakta-fakta itu sudah dapat dengan mudah ditanyakan ke mbah Google. Informasi begitu mudah direproduksi dan disebarkan, dengan ‘copy paste’ dan media sosial. Otak kita dipakai untuk apalagi?

Tidak heran, jika pada akhirnya ketika negara-negara maju punya budaya  membaca dan menulis, dan riset yang sangat kuat, kita bangsa Indonesia masih berkutat pada budaya menonton. Yah, karena dibanding membaca dan menulis, menonton adalah kegiatan yang paling tidak pakai otak. Apalagi menonton acara-acara tidak mutu di TV itu.

Budaya malas MIKIR JERU ini, menurut saya dampak negatifnya banyak sekali dalam kehidupan kita. Kenapa sampai sekarang sekarang sistem pendidikan kita masih berkutat di hafalan saja? ya karena metode hafalan lah metode pembelajaran paling mudah untuk diterapkan, tanpa banyak MIKIR. Apa susahnya menyuruh siswa untuk menghafal?

Demikian juga dalam beragama, banyak yang memahami agama hanya sebagai kumpulan aturan hitam dan putih, kalau yang seperti ini benar berarti yang tidak seperti ini salah, kalau kelompok kita masuk syurga, kelompok lain pasti ke Neraka. Kenapa demikian? yah karena itulah cara memahami agama yang paling mudah, tidak perlu banyak mikir. Padahal, dalam islam misalnya, berapa banyak ayat Alquran yang berakhiran, “la’allakum ta’qiluun” – supaya kamu MIKIR. Banyak juga ayat-ayat Alquran, yang merangsang untuk riset, seperti:

Apakah kamu, tidak memperhatikan bagaiman Unta diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Ini kan pesan-pesan agama, untuk menggunakan karunia akal kita, untuk mikir, yang akhirnya melahirkan budaya riset, seperti di Barat, bukan?

Hal yang sama mungkin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kenapa anugerah Tuhan berupa negeri yang subur, gemah ripah lowh jinawi ini tidak kunjung membawa kemakmuran rakyatnya. Yah, mungkin karena para pemimpinya tidak pernah mikir jeru untuk menyejahterakan rakyatnya. Yang ada hanyalah kumpulan para pemimpin yang berpola pikir pragmatis, jangka pendek, dan kepentingan sesaat. Akibatnya?

Jangan heran, jika negeri yang 70% nya laut harus impor garam. Negeri yang punya gunung emas yang tidak habis dikeruk berpuluh-puluh tahun, tapi rakyatnya masih hidup sangat terbelakang. Negeri yang tanahnya katanya tanah syurga, tongkat dilempar jadi tanaman, tapi harus impor beras, kedelai, dan hampir semua produk pertanian lainya. Negeri yang dikarunia padang rumput yang luas, tapi harus impor daging sapi dan susu. Negeri yang dianugerahi sebagai penghasil kakao terbesar di dunia, tapi harus impor coklat.

Masya Allah. Ini ya tidak lain karena pemimpin-pemimpinya yang males mikir jeru, bagaimana mengubar sumber alam yang melimpah itu menjadi keberkahan, menghasilkan kemakmuran. Cara yang paling mudah, dan tidak perlu mikir banyak ya dengan menggadaikanya ke negara lain. Dapet uang cepat yang tidak seberapa, tapi sumber daya alam yang melimpah itu buat bancaan negara lain. Mereka orang asing itu menjadi tuan, rakyat disuruh kerja, kerja, dan kerja jadi tukang dan buruh mereka, pemimpin-pemimpinya hanya menjadi penonton nunggu setoran.

Jika, pas ulang tahun kemerdekaan ke-70 kemaren pemerintah meminta rakyat Ayo Kerja! padahal sedang musim PHK masal. Boleh dong rakyat meminta pemimpin-pemimpinya untuk Ayo Mikir Mikir Mikir Mikir dan kerja! kapan kita jadi tuan di rumah sendiri, pak? bosan pak, kita hanya jadi tukang, buruh dan babu di negeri kami sendiri.

Argh memang, setiap yang membutuhkan otak untuk berfikir keras tidak pernah menyenangkan, so painful. Tetapi, akibat jangka panjang males mikir itu lebih menyakitkan. Jadi, sampai kapan kita tetap menjadi bangsa yang malas mikir?


Roti Pentung dan Kenangan Bersamanya

… air laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh – Pepatah Colongan dari Tetangga

roti_pentung

Roti Pentung

Jika sampean ingin tahu artinya waktu satu detik, bertanyalah kepada mahasiswa semester akhir yang sedang dikejar-kejar deadline. Hosh, haihata-haihata, seandainya waktu bisa diperlambat sejenak, pasti akan diminta lebih para mahasiswa setengah gila seperti saya sekarang. Maksud hati ingin berlari kencang, tapi apa daya kadang otak dan badan tak bisa diajak kompromi. Otak kalau kelamaan dipakai mikir juga mumet, hehe dan harus diistirahatkan. Badan juga sering ikutan protes, hidung mbeler, batuk, badan pegal-pegal, meriang, kesemutan, ngentutan. Mood apalagi, kadang juga seperti anak nakal yang susah diatur. Jiaah, terus kudu piye? keep on floating, Man !

Saat begadang, godaan paling menyebalkan di musim dingin seperti ini adalah perut gampang lapar. Entahlah, apa hubunganya musim dingin dengan rasa lapar ini. Makanya, meskipun siang di musim dingin juah lebih pendek daripada ketika musim panas, puasa di musim dingin itu rasanya berat sekali. Nah, karena saya tidak biasa membawa pekerjaan di rumah, kadang serangan lapar ini begitu menyiksa saat bekerja di kampus. Dan selalu menjadi alasan ingin cepat-cepat pulang ke rumah yang ujung-ujungnya banyak kerjaan yang tertunda.

Nah, baru-baru ini saya nemu pengganjal perut yang efektif. Roti seperti gambar di atas. Saya menyebutnya Roti pentung. Karena bentuknya seperti pentungan. Gede bener. Biasanya saya paling ogah makan roti ala bule-bule itu, tapi belakangan saya menyukainya. Rasanya plain sih, ndak ada manis-manis nya. Tapi lama-lama rasanya menjadi gurih. Harganya murah lagi, satu biji hanya 15 pence (0.15 poundsterling, setara 3000 rupiah).

Setiap makan roti ini, memori ingatan saya terbawa pada suasana lebaran di kampung tempo doeloe. Saat lebaran menjadi hari-hari yang paling membahagiakan sepanjang tahun. Orang kampung jaman dulu berbeda dengan orang kampung jaman sekarang. Kalau sekarang mah, tidak ada bedanya dengan orang kota, kue lebaranya beli di toko semua, akibatnya kue lebaran orang sekampung ya itu lagi, itu lagi.

Kalau jaman dulu, sejak puasa hari pertama, ibu-ibu di kampung sudah repot membuat kue lebaran. Rengginan, kerupuk, tape, keripik, madu mongso, jenang, hampir semuanya home made. Karenanya, setiap rumah, kue nya memiliki cita rasa sendiri-sendiri. Tidak seragam seperti jaman seragam. Nah, satu-satunya roti bikinan pabrik jaman dulu adalah roti entung. Bentuknya sama seperti gambar di atas tapi ukuran mini, seukuran kepompong. Wah, jaman dulu, roti itu begitu ajaib rasanya. Sekarang? Betapa ya, kenikmatan dan kebahagiaan itu sangat relativ. Dulu memang katanya jaman susah, tetapi kebahagian itu begitu sederhana definisinya dan melimpah ruah. Sekarang, yang katannya jaman serba mudah, tetapi kebahagiaan itu rasanya begitu rumit definisinya dan susah dicari. Padahal, bukankah hidup hanya kebahagiaan tujuanya?

Buat teman-teman mahasiswa semester akhir, yang sedang berjuang untuk lulus seperti saya, tetap semangat ya ! Meskipun, pasti banyak sekali cobaan dan ujianya. Semoga diberi kekuatan raga dan kebesaran jiwa untuk tetap bisa menikmati setiap detik dalam proses perjuangan ini, seberat apa pun jalan nya. Di waktu yang tepat, insya Allah kita akan sampai jua, di pelabuhan tujuan. Kadang air laut memang harus ganas, karena air laut yang tenang tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh.


Lagu-lagu Perjuangan Kita

… lagu terkadang bukan sekedar penghibur di kala senggang, lagu bisa menjadi perekam kenangan yang sewaktu-waktu bisa kita hadirkan kembali setiap lagu itu kita dengarkan kembali – a random thought

nglokro_01

Merenungi Nasib

Kesendirian, kesepian, keheningan malam, dan  secangkir kopi adalah teman akrab mahasiswa yang sedang berjuang di tahun terakhir studinya. Demikian juga, kekhawatiran, kecemasan, frustasi, begitu akrab menemani hari-hari dimana kita merasa kurang tidur itu. Bekejaran dengan moster menakutkan bernama deadline.

Kebetulan, saya bukan penikmat kopi, dan peminum teh atau sejenisnya. Satu-satunya pain-relief di hari-hari penuh penderitaan itu adalah mendengarkan lagu. Dan selalu saya ingat lagu-lagu itu, mungkin sampai kapan pun hingga ingatan ini benar-benar telah merapuh. Saya menyebutnya lagu perjuangan kita. Lagu yang begitu kuat merekam kenangan perjuangan yang mendebarkan itu.

Tahun 2006, di saat semester 8 S1, di malam-malam yang panjang menjelang sidang tugas akhir/skripsi, di ruangan lab tugas akhir yang sempit itu, di depan monitor 14 inchi, telingaku tak pernah jeda mendengarkan lagu-lagu soundtrack film My Heart dan lagu-lagu nya MLTR yang selalu saya ulang-ulang. Setiap kali mendengar lagu-lagu itu kembali, jiwa saya rasanya terbang kembali ke hari-hari itu.

Tahun 2008, di saat semester 4 studi S2 saya, saya pun menghabiskan malam-malam yang panjang di kamar hostel di depan laptop, dengan beberapa lagu-lagu perjuangan. Bedanya, di tahun itu lagu perjuangan saya adalah lagu-lagunya letto. Lagu-lagu yang liriknya menurut saya sangat dalam itu seolah memberi kekuatan batin sendiri.

Nah, dan tibalah akhirnya, saat ini saya di akhir studi S3 saya. Dan lagu-lagu perjuangan saya saat ini adalah lagu-lagu gamelan jawa, lagu-lagunya kyai kanjeng, lagu-lagu nasida ria, dan lagu-lagu  jadulnya bang haji rhoma irama. Argh, lagu-lagu jadul itu seolah menyemangati saya untuk segera kembali ke ndeso, pulang kembali ke kampung halaman. Dan satu-satunya lagu baru yang menyemangati saya adalah lagunya Afgan: Untuk mu Aku bertahan (soundstrack film my idiot brother).

Ini bagian lirik yang paling saya suka:

Tenanglah kekasihku. Ku tahu hatimu menangis. Beranilah tuk percaya. Semua ini pasti berlalu. Meski takkan mudah. Namun kau takkan sendiri. Ku ada di sini.

Setiap mendengar lagu ini, seolah ada istri saya di samping saya, yang menyanyikan lagu ini untuk saya.
***
Untuk diri saya sendiri yang lemah, saya menasehati. Argh, perjuangan mu ini tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan perjuangan arek-arek suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Tidak hanya sekedar mengorbankan waktu tidur dan bersenang-senang, tetapi darah merah. Ingatlah betapa banyak darah yang telah tumpah, nyawa yang meregang, yang telah ditumbalkan untuk kenyamanan yang engkau rasakan saat ini di kota mu. Penderitaan mu tidaklah seberapa, jika dibandingkan penderitaan nenek moyang mu, hidup beratus-ratus tahun, di bawah kejamnya penjajahan, ketika kewibaan bangsa sendiri dikangkangi londo, inggris, dan Jepang.

Untuk diri saya sendiri yang rapuh, saya menasehati. Argh, kekhawatiran mu itu belumlah seberapa, jika dibanding kekhawatiran si bocah-bocah desa menatap masa depan mereka, yang harus terhenti sekolahnya hanya di bangku sekolah dasar.

Untuk diri saya sendiri yang kadang malas, ingatlah jika kau gagal karena kemalasan mu, kau akan dikenang sebagai pecundang oleh anak cucu mu nanti. Ayah Pecundang ! Kakek pecundang. Malulah bapak mu pula, yang telah melahirkan anak pecundang.

Besok adalah hari pahlawan, ingatlah, perjuangan mu tak ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka itu Man! Duh Gusti, sampaikanlah do’a dan ucapan terima kasih kami kepada mereka. Duh Gusti, tularkanlah dan wariskanlah semangat perjuangan mereka kepada kami, dan anak cucu kami, sehingga mereka tak malu memiliki penerus-penerus seperti kami.

Kawan, sejenak mari kita menyanyikan salah satu perjuangan kita kembali:

Bangun pemudi pemuda Indonesia. Tangan bajumu singsingkan untuk negara. Masa yang akan datang kewajibanmu lah. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas. Tak usah banyak bicara trus kerja kerasHati teguh dan lurus pikir tetap jernih. Bertingkah laku halus hai putra negri. Bertingkah laku halus hai putra negri.

Selamat hari Pahlawan, 10 November 2015, Rek ! Mari berjuang dan segera kembali mengabdi negeri !


Tularkan Sedikit Semangat mu Nang !

Selamat belajar nak penuh semangat. Rajinlah selalu tentu kau dapat. Hormati gurumu sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman – Lirik lagu Pergi Belajar

ayah_dan_anak_lelakinya

ILustarasi : Father and His Son (Edinburgh, Skotlandia)

Di setiap pagi yang selalu kurindukan, aku melihat binar cahaya mata yang terang benderang. Di setiap pagi yang selalu ku nantikan, ku saksikan kecerian dan kebahagian yang melimpah ruah. Di setiap pagi yang ku tunggu, ku lihat derai semangat yang menggebu-gebu. Pagi yang selalu menjadi pagi terindah mu. Pagi, menjelang berangkat ke sekolah mu.

Argh, nang, anak lanang ku ! Aku tak pernah tahu pasti apa yang terjadi di sekolah mu. Tetapi semangat dan keceriaan mu itu telah melukiskan bahwa sekolah mu adalah adalah taman syurga terindah yang selalu kau rindukan. Syurga yang tak pernah sejenak pun rela kau lewatkan.

Argh, andai saja kau tularkan semangat mu itu. Kau pinjamkan keceriaan mu itu. Aku tak perlu menekuk muka, hatiku pun tak perlu menahan lara pada setiap langkah-langkah kaki ku ke kampus. Kampus yang kadang membuatku merasa setengah gila.

Tetapi, setidaknya ada semangat mu yang selalu mengingatkan ku. Semangatlah belajar selalu ! Jadikanlah sekolah menjadi syurga mu selamanya. Meski di sekolah tanpa jendela. Oh dear, just shed your own light !