about Life

Sastra Akar Rumput dan Pitutur Bijak Kehidupan

… selalu eling dan nyebut, adalah peringatan yang tak bosan disampaikan kepada para penyadap selagi mereka bekerja di ketinggian pohon kelapa. Seperti semua penyadap, Darsa tahu apa akibat kelalaian yang dilakukan dalam pekerjaannya. Terjatuh dari ketinggian pohon kelapa adalah derita yang sangat niscaya dan dalam musibah demikian hanya sedikit penyadap yang bisa bertahan hidup – Bekisar Merah, Ahmad Tohari

penikmat_sastra_edit

Ilustrasi: Akar Rumput, Conventry, UK, 2013

Kata orang, tidak semua orang bisa menikmati sastra. Hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan rasa yang tinggi, yang mampu menikmatinya. Seperti secangkir kopi tanpa gula yang bagi semua orang itu rasanya pasti pahit, kecuali bagi orang yang tahu bagaimana cara menikmatinya.

Beruntungnya (atau sialanya), saya merasa salah satu yang dapat menikmati keindahan sastra literature itu. Tetapi, selera saya sedikit agak nyeleneh. Dahulu, ketika kebanyakan penikmat sastra bilang novel tulisan Andrea Hirata, Habiburrahman, Dewi Lestari, Agustinus Wibowo sangat bagus dan inspiratif, tetapi setelah saya membacanya, lah kok menurut saya biasa-biasa saja. Sama sekali tidak ada yang istimewa. Tidak banyak rasa yang tertinggal dalam hati, setelah membacanya.

Sampai suatu saat secara tidak sengaja saya mengenal karya Kang Ahmad Tohari. Saat itu, saya sedang terkena penyakit kronis, procrastination saat menulis tesis S2 saya sekitar pertengahan 2008. Penyakit itu membawa saya bertemu dengan salah satu maha karya Kang Tohari yang fenomenal Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Meskipun fenomenal dan sudah ditulis sejak tahun 1982, saya baru tahu itu ya pada saat itu. Saat itu saya benar-benar terhipnotis dengan novel itu. Seumur-umur, baru saat itu saya membacanya penuh dengan rasa sentimental, emosional, dan nostalgic bercampur aduk jadi satu. Ada keindahan rasa pada setiap kata dan baris yang saya baca. Walaupun pada akhirnya novel itu difilmkan, ternyata filmnya tak seindah novelnya. Benar kata teman saya: don’t judge a book by its film. Keindahan sastra literature, memang tak pernah bisa tergantikan oleh sastra audio visual. Karena sastra bukan sekedar alur cerita. Dan belakangan, ketika penyakit procrastination akut itu kembali menyerang saya saat menulis tesis S3 saya, penyakit itu kembali membawa saya bertemu dengan karya Kang Tohari yang lainya, Bekisar Merah (ditulis tahun 1993).

Jatuh Cinta Dengan Karya Kang Tohari

Rupanya, saya telah terperangkap pada kisah cinta yang rumit. Jatuh cinta pada sesuatu yang salah pada saat yang tepat. Jatuh cinta pada novel kang Tohari pada saat seharusnya saya jatuh cinta pad tesis saya. Dan ini terjadi berulang lagi, sengaja menjatuhkan diri pada lubang yang sama karena keenakan.

Buat saya, karya Kang Tohari itu masih sangat relevan dengan kondisi kekinian, meskipun ditulis tahun 80-an dan berkisah tahun 60-an. Karya kang Tohari adalah anti-tesis sastra kekinian- sastra ‘sampah’ sebagaimana yang terlihat di acara-acara TV kita. Kang Tohari, dengan karyanya, selalu konsisten menyuarakan nasib rakyat kecil, rakyat akar rumput, yang dari dulu hingga sekarang, ya ngenes begitu-begitu saja. Mereka banyak, mayoritas jumlahnya di negeri ini, tapi tak pernah terdengar dan didengar suara keluhanya. The silent majority. Yang selalu tenggelam dan menjadi korban oleh kuasa segelintir orang yang menguasai modal di negeri ini, yang mengusai media, dan sak enak udele dewe ngatur-ngatur negeri ini. Paling-paling sesekali terdengar, lima tahun sekali, menjelang pemilu raya di negeri ini.

Karya Kang Tohari juga dokumentasi abadi keindahan alam desa jaman dulu. Ketika alam desa masih perawan. Keindahan alam yang bersimfoni dengan flora dan fauna yang masih melimpah ruah. Tak ketinggalan socio cultural khas orang-orang desa yang kini nyaris sudah tak ada bedanya dengan orang-orang kota. Karya Tohari mengingatkan memori saya akan pohon jambe, bunga randu, bunga bungur, yang entah sejak kapan mereka punah dari desa saya. Dan juga tentang burung srikatan, burung kutilang, ikan tawes, tokek, kadal, laron yang dulu akrab dengan kehidupan desa.

Meski sebuah karya sastra, apa yang ditulis Kang Tohari adalah kumpulan fakta. Yang nyata ada di sekitar kita, yang secara ainul yaqin saya saksikan sendiri mata kepala saya sendiri. Bukan sekedar cerita bodong dari negeri dongeng di atas awan belaka. Setiap bait tulisanya pun penuh filsafat hidup dan pitutur bagus, bijak bestari, mauidzoh khasanah, tentang bagaimana menjalani hidup ini. Yang menurut saya lebih tajam dari ucapan para ustad, ustadzah di kotak digital di rumah kita. Saya yakin, di setiap tulisan Kang Tohari, terilhami nilai-nilai dari teks-teks kitab kuci, secara beliau adalah mantan santri yang pernah ngangsu kaweruh pada para kyai di pesantren.

Seperti bait yang saya kutip di atas. Meski sekilas hanyalah cerita Darsa, seorang penderes, yang pekerjaanya memanjat pohon kelapa untuk menyadap air nira dari manggar, bunga pohon kelapa. Sebenarnya adalah nasehat hidup kita. Bahwa dalam menajalani hidup ini, kita seharusnya senantiasa eleng dan nyebut, ingat dan selalu menyebut Gusti Allah, sang Maha Pemberi kehidupan. Jika tidak, bisa celakalah kita. Seperti orang memanjat pohon kelapa untuk mengambil niranya, orang yang diberi amanah dalam hidup ini harus selalu eleng dan nyebut jika tidak kita akan terjatuh dan fatal akibatnya. Dari karya Kang Tohari saya jadi paham, sebenarnya permasalahan hidup itu ya berputar-putar ke masalah-masalah itu saja, yang dari dulu hingga sekarang tetap sama.

Semoga saya selalu eleng dan nyebut dalam menjalankan amanah negara untuk belajar, menuntut ilmu di kampus ini. Gusti, ngapunten jika saya sering lupa. Gusti, ngapunten jika saya terkadang lalai.Duh Gusti, ingatkan saya selalu dengan amanah ini. Duh Gusti, mudahkanlah segala urusan-urusan saya. Terima kasih Kang Tohari, atas pitutur-pitutur bijaknya. Semoga sehat, dan panjang dan barokah umur selalu. Semoga akan lahir para Kang Tohari lainya yang mewarisi jimat budaya mikir dan budaya nulis, di kemudian hari.

Advertisements

Senja, Emak, dan Kangen Segera Pulang

… ada rindu yang menyelinap di setiap penghujung senja. Rindu untuk segera pulang. Untuk mu. – A Random Feeling

Saat aku merasa tak kuasa menahan kencangnya waktu yang terus berlari. Yang hanya bisa aku lakukan adalah pasrah, menyerah pada keperkasaan waktu. Dan membiarkan apa yang terjadi, terjadilah. Waktu pula yang menggilir musim gugur, dingin, semi, dan panas di negeri perantauan ini. Rasanya, baru kemaren salju turun mengguyur atap rumah ku di malam-malam yang sangat panjang. Sekarang, malam itu semakin singkat berganti dengan siang yang semakin panjang.

Entahlah, aku tak pernah suka siang yang terlalu panjang. Karenanya, saya selalu menanti saat-saat itu datang. Saat-saat menunggu senja. Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, beradu dengan langit yang meronakan warna kuning keemasan. Pertanda siang telah berakhir dengan gemilang. Dan saatnya menikmati hening malam bersama paras ayu rembulan datang menjelang.

senja_di_southampton_beach

Ilustrasi: Suasana Senja Di Bibir Pantai Southampton, UK (2013)

Entahlah, suasana hati ku selalu terbawa pada keindahan senja. Buat ku senja adalah simbol kemenangan, akhir dari sebuah perjalanan panjang. Senja adalah pertanda pembuka segala kemudahan dan kebahagiaan, saat terik segala pelik ujian, rintangan dan kesusahan berhasil tersingkirkan. Senja adalah fase akhir sebuah perjuangan panjang. Senja adalah saat yang tepat untuk segera pulang. Membawa setumpuk rindu, untuk orang-orang tersayang.

Entahlah, senja selalu mengingatkan suara emak di ujung handphone, yang selalu terdengar sama di telinga ku, setiap kali aku menelponya:

Piye, Le kapan sekolah mu mari? riyoyo iki wes iso ngumpul nang omah to? Jian emak e wes kangen banget Le.

Dan aku selalu terdiam sejenak, lidah ku kelu, tak mampu berkata-kata setiap mendengar kata-kata rindu itu selalu diucapkan emak berulang-ulang kali. Dan selalu kujawab dengan permohonan do’a, agar semuanya dimudahkan dan dilancarkan semuanya dan segera aku, istri, dan anak ku akan pulang. Yang aku yakin do’a-do’a itu selalu dipanjatkan oleh nya. Emak mertua pun, senada, kata-kata rindu dan do’a-do’anya yang terdengar di ujung handphone itu hampir selalu sama:

Iyo nak tak dungakno sukses sekolah mu, pokoe kudu ranking siji anak ku. Gek ndang mulih. Aku wes ujar arep syukuran ngundang wong sak ndeso yen awak mu wes muleh.

Emak, aku pun sebenarnya juga memiliki kerinduan yang sama dan ingin segera untuk pulang.

**

Kawan, saat kita merasa lelah berjuang sendirian. Saat kita merasa diujung keputusasaan. Saat kita merasa tak seorang pun menginginkan keberhasilan kita. Saat kita merasa orang-orang lain bersorak sorai dengan kegagalan kita. Saat teman seperjuangan sudah meninggalkan dan melupakan kita. Percayalah, disana masih ada hati-hati yang tulus yang tak pernah lekang mengharapkan dan mendambakan keberhasilan kita. Masih ada doa-doa yang dipanjatkan tanpa kita minta hanya khusus untuk kesuksesan kita. Terus melangkahlah kawan ! Meskipun siang kadang terasa terlalu berkepanjangan, percayalah saat senja itu datang semakin dekat.

The Snow That Brings Happiness and Joy

…. see the pretty snowflakes. Falling from the sky; On the wall and housetops. Soft and thick they lie. -Falling Snow Nursery Rhyme

snow_belakangrumah

Snow On The Housetops

Snow could be severe problem for some people in particular area of the world. However, snow could bring genuine happiness and joy too. What happened on this Friday night, really reflected the latter.

It was on  boxing day 2014, a day after the Christmas day. The day where many outlets offered their BIG SALE. Since it was extremely cold and barely there were public transport services, we decided to stick at home. The sky was so grey and gloomy in the morning and turned to little shower in the afternoon. Luckily, the bed weather never could jeopardise my mood any more,  since I lived with my family in this city. Eventually, I do realise that family is always be the reason not to be sad in any conditions of sorrow.

snow_belakangrumah_samping

The Snow Flakes

 

It was in the evening, at around 7 pm, when we looked outside and realised that all housetops become so white. Yeah, the snow flakes were falling down from the sky. Ilyas and his mom were very excited. It was the first in their life-time to see the snow in person. We were so happy and joyful with the snow.

snow_depan

The Road and Car were covered by the snow

 

Ilyas sang along a ‘Falling Snow’ song while seeing the pretty snow flakes from the window. He laughed and cheered. For Ilyas it was like ‘imagination comes true’. He is a big fan of Pororo series where the background of the story is snowy places.  Indeed, he was eager to go outside to catch and hold tight the snow.

snow_keluar

Ilyas and The Snow Flakes

 

Finally, we went outside and played around with the snow. What a wonderful sight. The road and cars were covered by the snowflakes. We walked along the road and let the snowflakes fallen on our hair and jacket. Felt the sensation of treading the snow heap. Grabbed the snow and realised that they are so soft. What a simple happiness and joy, isn’t it?

The snow kept falling down, falling down until late of night. Even, till early morning in the next day. For those want to know how our excitement with the snow.Watch the above video !

Sepenggal Cerita di Hari Tua

tentang_hari_tua

Kawan, apa yang kau pikirkan tentang sebuah hari tua?
Dihari ketika raga kita semakin tak berdaya. Ketika kulit kita mulai kendur, wajah kita tak setampan dan secantik dikala muda lagi. Otak pun tak lagi tajam dalam berfikir. Perlahan, kita pun kehilangan memori ingatan kita. Hari-hari ketika kita semakin mendekati ketidakberdayaan. Hari-hari ketika tak ada lagi yang bisa kita sombongkan. Sebelum akhirnya, kita pun musnah, benar-benar tiada dari panggung kehidupan dunia yang sementara ini.

Sebagian dari kita mungkin membayangkan hari tua yang indah. Menikmati manis buah perjuangan ketika muda, bersama lucunya cucu cicit kita. Hari tua yang penuh kehangatan kasih sayang orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Hari-hari ketika kita semakin dekat dan mengenal Tuhan, yang ketika muda sering kita lupakan. Hari-hari ketika kita semakin bijak memaknai kehidupan. Yang coba kita abadikan dalam goresan tulisan sebagai warisan abadi untuk anak turun kita.

Kawan, kita pun tak ingin membayangkan, akan hari tua yang penuh sepi kesendirian. Tiada hari berlalu tanpa kesedihan. Hari-hari penuh rintihan penyesalan. Ketika orang-orang tiada lagi memperhatikan. Hari-hari menunggu penuh ketakutan akan datangnya misteri gelap sebuah kematian.

Kawan, pagi sekali hari ini hatiku menangis. Ketika aku menyaksikan seorang perempuan tua di hari tuanya. Dia yang tidak bisa baca tulis sejak lahir, diusianya yang semakin renta, dia masih harus bekerja sangat keras membanting tulang, hanya sekedar untuk bertahan hidup.

Kawan, malam tadi kembali hati ku menangis. Saat aku kembali dari kampus, aku saksikan lahi-lagi seorang perempuan tua, tertatih keluar dari rumahnya. Mencoba berjalan, tangan nya merayap tembok, kakinya tak mampu menyagga tubuhnya yang ringkih. Rupanya dia hanya ingin membeli kentang dan ikan goreng. Beruntung aku menemukanya, dan aku bisa membelikanya. Terlihat senyum dan wajahnya yang teramat dalam, ketika bibirnya bergetar berucap berkali-kali : “God Blesses You”.

Konon, cerita sedih di hari tua di negeri yang konon tingkat kemakmuranya tertinggi di atas bumi ini adalah cerita biasa. Semoga kita ditakdirkan memiliki hari tua yang indah. Allahumma aammiiin.

Jejak mu, yang akan kau rindu

Buat ku, melihat mu tumbuh dari waktu ke waktu, adalah anugerah terindah. Buat ku, hadir untuk mu, adalah momen hidup tak terharga. Buat ku, melihat manis senyum dan renyah tawa mu adalah obat termujarab segala penyakit kegelisahan hidup di dunia. Di usia emasmu, aku ingin hadir dan menjadi yang terbaik untuk mu, koe anak lanang ku. Menjadi kawan bermain paling setia dan guru belajar terpintar untuk mu.

Ini adalah jejak-jejak langkah kaki kecil mu, yang suatu saat pasti akan kau rindu. Jejak-jejak yang bercerita dalam diam, betapa lucu, aktif, cerdas, berani, dan menyenangkanya dirimu. Dan juga tentang sifat keras mu, saat ingin mendapatkan keinginan mu. Sama persis, seperti sifat bapak mu.

Aku sadar, waktu akan berlari mengejar takdirnya begitu saja. Dan kita pun berujar, oh terasa hanya sekejap mata. Karenanya, ku tak mau kehilangan nya.

Bermain di rumah

dengan_mainan

bermain dengan Bus London kesayangan mu

mainanmobil

Bermain dengan mobil amfibi mu

mainanbaru_ilyas

Dengan mainan mobil ambulan mu

Bermain di Alam

Berlari di Wollaton Park

Berlari di Wollaton Park

di_wollaton_park_lagi

Di bawah langit Wollaton Park

dijubileepark

di Jubilee Campus UoN

Waktu untuk Belajar

Belajar Serius

Belajar Serius

Pekerjaan Sekolah

dengan_school_work

Fantastic Work

dengan_schoolworks

Another School Work