English

Kyai Besari

….. setidaknya tentang kesementaraan, tentang ketidakabadian. Sebesar-besarnya kejayaan masa lalu, senja kala itu sudah pasti akan datang.

kyai_besari_2

Makam Kyai Besari

Kita memang hidup ‘disini dan sekarang’. Tetapi, adakah seorang manusia yang bisa melepaskan diri sepenuhnya dari rantai kait masa lalu? dan juga rantai kait berikutnya: masa depan, tentunya. Sejauh-jauh kaki telah melangkah, melepaskan diri, pada akhirnya hati akan tetap memanggil untuk mencari tempat kita berasal.
Bukankah gerak alamiah belaka, jika kita mencari-cari rantai masa lalu kita yang telah terlepas.

kyai_besari_4

Bersama Saudara Embah di Depan Rumah Mbah Buyut

Buat ku, pencarian masa lalu itu mengantarkanku pada sosok kyai Besari. Kyai besar pada masanya. Meski tidak banyak buku atau apapa pun sumber sejarah yang menulis tentangnya. Karena leluhur kita yang tak terbiasa, atau mungkin lebih tepatnya tidak bisa, menulis. Bahkan saat menulis bukanlah laku monopoli kasta tertentu saja. Tetapi, dari tutur tinular, rasanya tidak mungkin menafikan kebenaran sang kyai.

kyai_besari_1

Leluhur dan Generasi Penerusnya

Perjalanan pencarian itu berawal dari dusun kecil, Garongan kalau tidak salah namanya. Dari pasar Mlilir, Dalopo di perbatasan Madiun-Ponorogo, kami menyusuri jalan aspal desa yang mulus ke arah barat. Pemandangan sepanjang perjalanan selama kurang dari setengah jam itu, didominasi oleh hamparan padi yang ijo royo-royo, dengan lukisan alam gunung-gunung yang membiru di kejauhan.

kyai_besari_3

Masjid Jamik Tegalsari

Di dusun inilah, kabarnya buyutku dari jalur emak berasal. Dusun yang tenang, damai, dan bersahaja, dengan penduduknya yang sepertinya menyelenggarakan hidup dengan sederhana saja. Toh, hidup hanya sejenak, selama mampir ngombe saja. Tetapi, sorot-sorot mata itu memberi pertanda, kekutan hati yang luar biasa.

Dusun ini bak antitesa deru kehidupan kota yang selalu riuh. Yang tak pernah lelah mengejar kemajuan katanya. Kemajuan yang diukur oleh gedung-gedung tinggi, gaya hidup yang gemerlap, dan pusat-pusat pemuas nafsu para penghuninya. Penuh gelak tawa bahagia seolah segala kenikmatan hidup dapat direguk kabarnya. Uang menjadi penggerak utama gerak langkahnya. Menumpuk, melipatgandakan uang adalah filosofinya. Entah untuk apa? Hidup selama-lamanya? Tetapi, diam-diam rapuh hati para penduduknya. Tetapi, ada satu benang merah yang sama. Tak di dusun tak di kota. Anak-anak terjerat oleh candu bermain gadget. Tetapi, apapun ituSenang rasanya, di dusun ini aku bertemu dengan saudara sekandung mbah saya yang semuanya telah memasuki senja kalanya usia.

Dari dusun Garongan, perjalanan kami berlanjut ke Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Kami berziarah ke makam kyai besari, kyai hasan besari lebih tepatnya. Kabarnya, kami masih mambu-mambu keturunan kyai besar ini. Tetapi entah turunan yang keberapa.

Suasana desa santri begitu terasa saat memasuki desa ini. Walaupun tidak ada pesantren lagi di desa ini. Tetapi, kabarnya di tahun 1700an. Jauh sebelum ada negara bernama Indonesia. Di desa ini, ada sebuah pesantren besar, yang lebih dikenal dengan Pondok Gebang Tinatar dengan jumlah santri berjumlah ribuan. Ronggo Warsito dan HOS Cokroaminoto pun kabarnya pernah berguru di pesantren ini.

Meski tinggal kenangan, keturunan Kyai Besari masih memiliki pesantren besar: Pondok Modern Gontor yang masih terkenal hingga sekarang.

Di petilasan pondok gebang tinatar ini, selain makam kyai besari dan istrinya ada sebuah masjid tua yang menyejarah. Interior masjidnya didominasi pilar-pilar kayu jati yang besar-besar, yang kabarnya telah berusia ratusan tahun lamanya. Sejenak, masjid jami’ tegal sari ini, mengingatkanku pada masjid ampel surabaya yang juga dipenuhi pilar-pilar kayu jati besar berusia ratusan tahun.

Meski sudah tidak ada pesantren, di samping makam dan masjid ada beberapa madrasah. Dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah (setara SMA). Semuda madrasah di kompleks ini diberi nama Ronggo Warsito.

Siapa saja bisa berziarah di makam ini. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja makam ini ditutup. Jika kebetulan sedang ditutup, anda bisa bertanya ke kantor takmir masjid tidak jauh dari makam. Ohya, di dalam komplek makam, ada white board yang isinya silsilah kyai besari. Sampean bisa didownload disini.

Dari para leluhur, kita selalu bisa memetik pelajaran. Setidaknya tentang kesementaraan, tentang ketidakabadian. Sebesar-besarnya kejayaan masa lalu, senja kala itu sudah pasti akan datang. Yang ada akan tiada, yang tiada akan ada. Dan juga menyisakan tanya: apa yang dapat kita wariskan pada generasi berikutnya?

Advertisements

Hari-hari yang Mendefinisikan

… kadang kita hanya perlu bersabar, menuggu peristiwa kehidupan terjadi di saat yang paling tepat – a random thought

img_20161130_171350

Anak Lanang dan Anak Wedok

Sudah terlalu lama rasanya tidak menceritakan alam pikiran dan suasana hati dalam tulisan. Bukan sedang dalam kedukaan yang dalam. Hehe, alhamdulilah, wasyukurillah justru banyak peristiwa kehidupan belakangan yang layak untuk disyukuri, walau mungkin tak perlu dirayakan, apalagi secara berlebihan.

Daripada menulis keluhan, lewat tulisan saya kali ini, saya sekedar ingin tahaddus binni’mah menceritakan kenikamatan, anugerah kehidupan yang telah diberikan kepada saya. Indeed, beberapa belakangan ini ada hari-hari penting, hari-hari yang begitu mendefinisikan, yang pastinya tidak akan mudah terlupakan begitu saja di kemudian hari.

19-11-2016

Sabtu pagi hari yang dingin, pukul 10.22, di sebuah bilik rumah sakit Queen Medical Centre, rumah sakit sekolah kedokteran, Universitas Nottingham, telah lahir anak kedua kami. Seorang bayi perempuan yang begitu ayu wajahnya. What a lovely baby girl. Lewat persalinan normal yang alhamdulilah sangat lancar.

Bayi perempuan itu, saya beri nama Alisa Fadilahaya Wulandari. Kupilih nama Alisa untuk mengenang Bidan Alice, bidan cantik jelita, yang aduhai teramat baik sekali hatinya. Yang sepenuh jiwa mengawasi si jabang bayi dari umur beberapa bulan di dalam kandungan. Fadilahaya dari bahasa Arab artinya keutamaan kehidupan, dan wulandari itu bahasa Jawa yang artinya bulan purnama. Sengaja kuselipkan nama jawa biar selalu ingat, asal usulnya leluhurnya sebagai perempuan Jawa. Sebenarnya juga, nama ini sebenarnya nama gabungan dari putri-putri Gus Dur dan Cak Nun. Dua tokoh yang banyak mendefinisikan alam pikiran saya saat ini.

Sejak kehadiran nya, Masya Allah, getar-getar kebahagian melimpah ruah memenuhi rongga jiwa. Ku sangat senang memandangi dalam-dalam ayu wajahnya. Menatap binar matanya. Menggendongnya, menciumi aroma wangi khas tubuhnya. Rasanya semangat hidup ku bertambah berkali-kali lipat.

Thank God! Bimbing kami, semoga kami bisa menjaga dan mendidik titipan Mu ini dengan sebaik-baiknya.

12-12-2016

Hari Senin, tanggal 12 bulan 12 tahun 2016. Tanggal yang cantik. Bertepatan dengan 12 Robiul Awal 1437 H. Hari ulang tahun kanjeng nabi Muhammad SAW. Yang dulu kelahiran beliau juga tercatat pas hari Senin. Lebih tepatnya lagi, menurut penanggalan Jawa, 1212, ini adalah Senin legi. Neton ku, hari kelahiran saya, kata emak ku.

Alhamdulilah, di tanggal ini, akhirnya aku lulus ujian disertasi doktor ku. Tentu tidak semudah membalik halaman kertas ujianya, tetapi overall lancar sekali. Aku percaya ini karena barokah doa-doa teman-teman dan orang-orang yang turut mendoakan ku. Banyak pertanyaan berat, kritikan-kritikan pedas terhadap disertasi ku, tapi rasanya aku cukup puas bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pengujiku itu dan mereka pun kelihatanya cukup puas dengan jawabanku.

Sempat ngeri dan jengah di awal ujian, karena setiap paragrap yang aku tulis mulai dari bab pendahuluan mengundang banyak kritikan dan pertanyaan dari penguji. 2.5 jam berlalu baru selesai 5 bab dari 10 bab disertasiku. Aku pun minta istirahat sebentar, 15 menit untuk wudlu dan sholat Duhur. Alhamdulilah, setelah sholat duhur, ujian sisa 5 bab sangat lancar seperti air yang mengalir. Tidak banyak lagi pertanyaan. Dan akhirnya, kurang dari 1 jam ujian pun berakhir. Aku disuruh keluar sebentar. Aku gunakan untuk sholat ashar, baru dapat dua rakaat, penguji disertasi ku datang menemuiku. Terpaksa aku batalkan sholat ku.

Aku masuk kembali ke ruang ujian, untuk mendengar hasil ujian. Dag dig dug der, mau copot rasanya jantung ku. Takut kalau-kalau failed atau dapat major correction. Mimpi buruk setiap mahasiswa PhD. Alhamdulilah, kedua penguji ku bilang: Great Job, Well Done! aku dinyatakan lulus PhD dengan minor correction. Hati ku girang bukan kepalang. Aku langsung berlari ke ruang ndoro dosen pembimbingku, yang kebetulan pintunya sedang terbuka sedikit. Ku ceritakan bahwa aku lulus. Ndoro dosen pun mengucapkan Congratulation, sambil mengacungkan dua jari jempolnya kepada ku. Aku sekedar mengucapkan terima kasih.

Segera aku kembali ke office ku, menggelar sajadah, melanjutkan sholat ashar yang sempat terputus. Usai sholat ashar langsung ku telpon emak ku di kampung. Mengucapkan terima kasih atas doa-doa yang telah lama dan selalu beliau panjatkan untuk ku. Selepas itu, aku segera keluar gedung kuliah ku. Berjalan setengah berlari dibawah hujan gerimis sore yang tak ku hiraukan, sambil menggenggam erat binder jumbo berwarna merah. Kembali ke rumah ku. Kubawa kabar bahagia untuk istri, Alisa, dan Ilyas. Sungguh, sore itu adalah sore dengan hujan gerimis terindah dalam hidupku.

Alhamdulilah Ya Allah. Ketakutan-ketakutan ku selama ini hilang sudah. Perjalanan perjuangan panjang PhD life penuh luka dan liku, selama 4 tahun penuh di kampus ini terbayar sudah rasanya. Tidak ada prestasi yang membanggakan sebernanya dari perjalanan PhD ku ini sebenarnya. Jangan tanya kualitasi disertasi ku seperti apa. Tetapi setidaknya, kelak aku bisa bercerita ke anak cucuku, aku tidak pernah berhenti untuk menyerah seberat apa pun tantangan dan seperih apa pun luka dari perjuangan ini.

Dan pada akhirnya, aku pun bisa meraihnya. Akan segera kutinggalkan Sekolah Ilmu Komputer Universitas Nottingham ini dengan akhir yang baik, husnul khatimah! Terima kasih teman-teman atas doa-doa dan supportnya. Khususon buat Mas Udin, yang dengan tulus hati menemani ku berjalan dari rumah hingga masuk ruang ujian, menemani ku latihan sebentar sebelum penguji datang, dan menungguiku di luar ruang ujian selama aku ujian. Jazakallah mas!

Buat teman-teman yang masih sedang berjuang ! Sabar, sabar, dan sabar saja pesan ku! Terus berjalan, jangan mudah mutung di tengah jalan, seberat apa pun cobaanya! Bittaufiq wannajah, kawan!

Alhamdulilah ya Allah! Bimbing diriku, dengan sedikit tambahan ilmu yang kau titipkan kepada ku, bisa manfaat dan barokah untuk kebaikan.

 

 

Ruang Pesakitan Ini

… dengan sisa-sisa nafas semangatku yang kembang kempis, kepercayaan diriku yang kian menipis, dan langkah yang berat tersendat-sendat, kuatkan aku untuk bisa bertahan, hingga tercapai semua tujuan. – A Random Thought

20160621_171921

Ruang Pesakitan :p

Ini sudah pukul 10 pagi, tetapi coba lihatlah ruangan ini. Sunyi, sepi, dan berantakan sekali. Ada rak-rak buku di setiap sisi ruangan ini yang berdebu, karena nyaris tidak pernah dibersihkan.

Di atas nya ada beberapa tumpukan buku dan kertas yang juga sudah berdebu, beberapa diantarnya bahkan sudah ada jaring laba-labanya. Ada sembilan komputer terbagi tiga-tiga dalam tiga deret.

Setahun terakhir ini, lebih-lebih bulan-bulan terakhir ini, 9 komputer ini nyaris tak pernah disentuh para tuan-tuanya. Yang menghilang satu persatu, tanpa pamitan. Kecuali komputer yang paling pojokan ini.

Seorang mahasiswa PhD yang nyaris putus asa, nyaris stres, tapi selalu berusaha untuk bertahan, yang bertahun-tahun menghabiskan sebaian besar waktu dalam hidupnya di depan komputer ini. Terjebak dalam siklus lingkaran aktivitas: reading, thinking, coding, analysing, writing. Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, bahkan minggu, siang dan malam. Mahasiswa yang beberapa bulan lagi sudah ‘expired‘ masa studinya. Mahasiswa yang sudah habis jatah uang bulanan dari sponsor beasiswanya.

Itulah komputer ku, dan mahasiswa itu adalah aku. Betapa berantakanya meja ku, tapi lebih berantakan lagi isi otak ku. Ada tumpukan buku-buku perpustakaan, yang rasanya nyaris sudah tidak pernah aku baca. Ada tumpukan-tumpukan kertas, dengan coretan merah-merah, itu adalah draft disertasi dan paper jurnalku, yang entah sudah draft versi yang berapa puluh kali atau bahkan sudah ratusan kali, dan belum kelar-kelar juga. Ada bantal peninggalan teman sebelah, yang kubuat tidur-tiduran ala ayam, jika mumet di kepalaku sudah tak tertahan. Ada earphone untuk mendengarkan suara gamelan dari komputerku, buat ku suara gamelan itu adalah obat setres paling mujarab nomor wahid di dunia.

Hampir empat tahun yang lalu, saat hari-hari pertama kedatangan ku disini, di ruangan ini penuh dengan kebahagiaan yang melimpah. Wajah-wajah berseri dengan senyum-senyum yang ramah, terpancar dari setiap mahasiswa PhD baru penghuni ruangan ini. Kami begitu antusias dan penuh semangat bercerita dengan riset yang akan kami lakukan selama 3 tahun kedepan. Kami pun sering berdiskusi, saling membantu, makan siang bersama, ke bar bersama, bahkan kadang-kadang jalan-jalan di akhir pekan bersama-sama.

Tetapi, seiring dengan merambatnya sang waktu. Ruangan ini yang dulu penuh kebahagiaan dan kehangatan, sepertinya berangsur-angsur berubah menjadi penuh dengan pesakitan. Wajah-wajah berseri dengan senyum ramah itu seolah lenyap begitu saja. Berganti dengan wajah-wajah setres, dan tidak bersahabat. Tak ada lagi waktu berbasa-basi, semua larut dalam pikiran dan komputernya sendiri-sendiri.

Setahun berlalu, dua tahun berlalu, tiga tahun berlalu. Oh rupanya, banyak yang tak bisa bertahan. Satu demi satu, memutuskan give up, dan keluar dari ruang pesakitan ini, keluar dari Universitas ini. Ada yang karena tak lulus ujian tahun pertama, ada yang tak lulus tahun kedua, ada yang konflik dengan dosen pembimbingnya, ada juga yang menghilang begitu saja, tak tahu kabarnya. Yang jelas, belum pernah ada sekalipun woro-woro di milist yang mengumumkan kelululusan PhD dari penghuni ruangan ini.

Bulan-bulan ini, di ruangan ini, nyaris setiap hari aku sendirian dalam kesepian, kesedihan, kesakitan, kemumetan, keruwetan, kecemasan, keraguan, kebimbangan, dan ketakutan. Kawan, teman-teman ku seangkatan di ruangan ini, bagaimanakah kabar kalian? Semoga kebaikan selalu bersama kalian.

Ya Tuhan, walaupun hanya dengan sisa-sisa nafas semangatku yang kembang kempis, kepercayaan diriku yang kian menipis, dan langkah yang berat tersendat-sendat, kuatkan aku untuk bisa bertahan, hingga tercapai semua tujuan.

Igauan tidur yang tidak nasionalis

Bukankah, tak ada di dunia yang patut diperjuangkan mati-matian, kecuali mempertahankan akidah? – a random thought

ngokro_2

Macak stress akut

Hari-hari belakangan ini, saat malam telah larut, saat gelap telah pekat, saat semua orang telah terlelap, istri saya sering membangunkan tidur saya.

“yah… yah tangi” kata istri saya panik sambil mengoyang-goyang tubuh saya.” …hah, jam piro iki Bun?” saya pun terbangun kedandapan, langsung mencara handphone untuk melihat jam. ” ayah ngelindur” timpal sang istri, dan saya pun melanjutkan tidur kembali.

Kata istri saya, belakangan ini tiap malam suka mengigau. Mengigaunya, pakai bahasa Inggris, tetapi dia tidak paham. Haha, saya pun tertawa. Mosok, saya ngelindur pakek bahasa Inggris. Kok ndak nasionalis banget. Lahwong, biasanya di rumah kalau ngobrol sama istri pakek bahasa Jawa.

Rupanya, gejala stress akut gara-gara PhD ini telah terbawa juga sampai alam mimpi. Perdebatan, adu argumen, dengan ndoro dosen itu ternyata berlanjut, mengusik otak bahkan pada saat otak seharusnya sedang beristirahat sejenak.

Oalah, nasib-nasib! nasib mahasiswa PhD semester tuwek dengan kualitas otak ala kadarnya.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, kami mendengar ada kabar duka dari kawan seperjuangan yang sedang menempuh PhD di Sydney Australia. Lima tahun lebih berjuang dengan beasiswa dari pemerintah yang pas-pasan dan tersendat-sendat.

Tragisnya, sang kawan yang dosen di salah satu PTN di Jawa Timur itu harus  menghembuskan nafas terakhir saat perjuangan nyaris usai. Berakit-rakit kehulu berenang ketepian. Bukanya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tetapi, bersakit-sakit dahulu, malah mati kemudian.

Kata sohibul hikayat, istri sang kawan bercerita, bahkan sampai saat-saat kritis, menjelang sakaratul maut, sang kawan sering mengigau pakai bahasa Inggris. Apalagi kalau bukan, igauan tesis PhD nya. Ini adalah kali kedua saya mendengar berita dari kawan-kawan seperjuangan, yang berjuang untuk lulus PhD hingga hembusan nafas terakhir. Bahkan kata sohibul hikayat di group facebook kami, ini cerita sejenis yang ke-enam, lo. Wow !

Selamat Jalan, kawan! Semoga kau petik buah perjuangan mu di akhirat, di kehidupan keabadian nanti. Kata kyai saya di pesantren dulu, jika menuntut ilmunya diniatkan karena Allah semata, kematian orang sedang menuntut ilmu itu adalah kematian syahid. Sama halnya, kematian seorang ibu yang meninggal dunia karena perjuangan melahirkan anak yang kandungnya.
***
Ya, Allah. Jika boleh saya meminta, saya tak ingin bernasib stragis itu. Bukankah, tak ada di dunia yang patut diperjuangkan mati-matian, kecuali mempertahankan akidah. Bukankah, PhD bukanlah segala-segalanya. Apalah arti gelar PhD, jika hanya itu gagah-gagahan saja. Jikalaupun, takdir tak berpihak dan PhD tak berhasil diraih, tetapi cerita hidup harus terus dilanjutkan. Setidaknya saya telah mencoba. Setidaknya saya sudah berusaha sekuat tenaga. Setidaknya saya sudah berdoa sepenuh jiwa.

Bukankah, yang terpenting kita menikmati dan menghayati proses belajar ini? Bukankah yang lebih penting itu belajarnya, bukan selembar kertas tanda tamat belajar itu?

Istri saya mengingatkan, agar tidak terlalu menjadi beban, jangan lupa amalan dari pak kyai diistikomahkan. Seorang kawan saya juga mengingatkan, sholat jamaah di masjidnya cak, diistikomahkan lagi.

Obat Stres Itu

Urip iku ora gampang, nanging ojo tok gawe Angel -Anonym

Urip_Iki_Ora_Gampang

Dari Group WA

Teman sebelahku, baru saja ketemu ndoro dosen nya. Kembali duduk beberapa centi meter di sebelah kiriku tanpa sepatah kata. Dahinya mengernyit. Sesekali kepalanya dipegangi, terlihat sedang berfikir keras, sangat-sangat keras sekali.

Dihadapanya, secarik kertas putih penuh coret-coretan, dan rumus-rumus matematika yang kelihatanya sangat pelik dan rumit itu. Pada monitor di depanya nampak program Maple dan Eclipse, untuk menulis rumus dan menulis code program.

Beberapa jenak kemudian, sang teman beranjak dari duduknya, masih tanpa sepatah kata. Di kepalanya seolah terdapat beban berat, berat sekali. Dia berjalan ke arah pintu, sesampai di daun pintu berjalan balik kembali ke mejanya.Sesampainya di dekat mejanya yang berantakan itu, dia berjalan berputar kembali ke arah pintu. Begitu seterusnya berulang-ulang,  entah berapa kali putaran. Yang jelas lebih dari tujuh putaran. Sebelum akhirnya duduk kembali di  kursi sebelah ku itu, masih tanpa sepatah kata. Ku hanya meliriknya sejenak, juga senyap tanpa kata.

Beberapa jam kemudian, aku barusan kembali dari ruang ndoro dosen ku. Dengan pikiran kacau, kacau sekali. Campuran pusing, pening, dan keputusasaan yang coba ditahan-tahan sekuat asa. Ku hempaskan kertas beberapa lembar penuh dengan coretan-coretan bolpoin merah itu, di meja ku. Huhh….

Seorang Mahasiwa dari negerinya Firaun, yang lebih yunior dari kami, seperti biasa tiba-tiba muncul tak diundang di mulut pintu. Tertawa penuh riang, lalu mendekat ke arah kami. Tertawa itu tak lebih dari tertawa ledekan menurutku.

 have you finished? you are getting more and more senior in this school. Hihihihi

Pertanyaan itu selalu diulang-ulang lagi, entah sudah berapa ribu kali. Padahal kami sudah pernah menghardik nya, untuk jangan menanyakan pertanyaan itu lagi, lagi, dan lagi. Apalah artinya sebuah tanya, jika kau sudah menyimpan jawabanya. Pertanyaan mu itu sama menusuknya dengan pertanyaan “kapan menikah?” kepada seorang jomblo senior yang belum jua ketemu jodohnya. Atau “kapan neh punya momongan?” kepada pasangan yang sudah lebih sedasawarsa menikah, tapi belum jua dapat momongan.

Tertawanya, semakin pecah ketika kedua matanya menatap tumpukan kertas penuh oret-oretan merah di meja ku itu.

hhahahah, is it comments for you?

Dalam hati aku menghardik: ” anc******k,  ndas MU pecah!” Oh Men, aku bisa membedakan antara perhatian yang tulus dan ledekan mu itu.

Kepala ku rasanya masih keram, tak mau diajak mikir lagi. Kubuka-buka foto di Handphone, kutemukan gambar di atas. Gambar yang dikirim oleh salah satu teman di salah satu group Whatsapp.

Buat ku, tulisan pada gambar di atas terbaca: “PhD iku ora gampang, nanging ojo tok gawe angel -PhD itu tidak mudah, tetapi jangan kau bikin susah.  Terus, mendengarkan lagu kebangsaan, hingga perlahan otak mau diajak mikir kembali.

Oh, betapa pahit,  getir , dan melelahkanya titian takdir perjuangan ini, kawan !

Tuhan, karuniakan kepadaku kesabaran, keikhlasan, kesyukuran dan semangat yang berlipat-lipat,  dan bertumpuk-tumpuk, jauhkan dari hal yang paling aku takuti : Menyerah, Putus Asa, dan menjadi pecundang !