English

Hari-hari yang Mendefinisikan

… kadang kita hanya perlu bersabar, menuggu peristiwa kehidupan terjadi di saat yang paling tepat – a random thought

img_20161130_171350

Anak Lanang dan Anak Wedok

Sudah terlalu lama rasanya tidak menceritakan alam pikiran dan suasana hati dalam tulisan. Bukan sedang dalam kedukaan yang dalam. Hehe, alhamdulilah, wasyukurillah justru banyak peristiwa kehidupan belakangan yang layak untuk disyukuri, walau mungkin tak perlu dirayakan, apalagi secara berlebihan.

Daripada menulis keluhan, lewat tulisan saya kali ini, saya sekedar ingin tahaddus binni’mah menceritakan kenikamatan, anugerah kehidupan yang telah diberikan kepada saya. Indeed, beberapa belakangan ini ada hari-hari penting, hari-hari yang begitu mendefinisikan, yang pastinya tidak akan mudah terlupakan begitu saja di kemudian hari.

19-11-2016

Sabtu pagi hari yang dingin, pukul 10.22, di sebuah bilik rumah sakit Queen Medical Centre, rumah sakit sekolah kedokteran, Universitas Nottingham, telah lahir anak kedua kami. Seorang bayi perempuan yang begitu ayu wajahnya. What a lovely baby girl. Lewat persalinan normal yang alhamdulilah sangat lancar.

Bayi perempuan itu, saya beri nama Alisa Fadilahaya Wulandari. Kupilih nama Alisa untuk mengenang Bidan Alice, bidan cantik jelita, yang aduhai teramat baik sekali hatinya. Yang sepenuh jiwa mengawasi si jabang bayi dari umur beberapa bulan di dalam kandungan. Fadilahaya dari bahasa Arab artinya keutamaan kehidupan, dan wulandari itu bahasa Jawa yang artinya bulan purnama. Sengaja kuselipkan nama jawa biar selalu ingat, asal usulnya leluhurnya sebagai perempuan Jawa. Sebenarnya juga, nama ini sebenarnya nama gabungan dari putri-putri Gus Dur dan Cak Nun. Dua tokoh yang banyak mendefinisikan alam pikiran saya saat ini.

Sejak kehadiran nya, Masya Allah, getar-getar kebahagian melimpah ruah memenuhi rongga jiwa. Ku sangat senang memandangi dalam-dalam ayu wajahnya. Menatap binar matanya. Menggendongnya, menciumi aroma wangi khas tubuhnya. Rasanya semangat hidup ku bertambah berkali-kali lipat.

Thank God! Bimbing kami, semoga kami bisa menjaga dan mendidik titipan Mu ini dengan sebaik-baiknya.

12-12-2016

Hari Senin, tanggal 12 bulan 12 tahun 2016. Tanggal yang cantik. Bertepatan dengan 12 Robiul Awal 1437 H. Hari ulang tahun kanjeng nabi Muhammad SAW. Yang dulu kelahiran beliau juga tercatat pas hari Senin. Lebih tepatnya lagi, menurut penanggalan Jawa, 1212, ini adalah Senin legi. Neton ku, hari kelahiran saya, kata emak ku.

Alhamdulilah, di tanggal ini, akhirnya aku lulus ujian disertasi doktor ku. Tentu tidak semudah membalik halaman kertas ujianya, tetapi overall lancar sekali. Aku percaya ini karena barokah doa-doa teman-teman dan orang-orang yang turut mendoakan ku. Banyak pertanyaan berat, kritikan-kritikan pedas terhadap disertasi ku, tapi rasanya aku cukup puas bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pengujiku itu dan mereka pun kelihatanya cukup puas dengan jawabanku.

Sempat ngeri dan jengah di awal ujian, karena setiap paragrap yang aku tulis mulai dari bab pendahuluan mengundang banyak kritikan dan pertanyaan dari penguji. 2.5 jam berlalu baru selesai 5 bab dari 10 bab disertasiku. Aku pun minta istirahat sebentar, 15 menit untuk wudlu dan sholat Duhur. Alhamdulilah, setelah sholat duhur, ujian sisa 5 bab sangat lancar seperti air yang mengalir. Tidak banyak lagi pertanyaan. Dan akhirnya, kurang dari 1 jam ujian pun berakhir. Aku disuruh keluar sebentar. Aku gunakan untuk sholat ashar, baru dapat dua rakaat, penguji disertasi ku datang menemuiku. Terpaksa aku batalkan sholat ku.

Aku masuk kembali ke ruang ujian, untuk mendengar hasil ujian. Dag dig dug der, mau copot rasanya jantung ku. Takut kalau-kalau failed atau dapat major correction. Mimpi buruk setiap mahasiswa PhD. Alhamdulilah, kedua penguji ku bilang: Great Job, Well Done! aku dinyatakan lulus PhD dengan minor correction. Hati ku girang bukan kepalang. Aku langsung berlari ke ruang ndoro dosen pembimbingku, yang kebetulan pintunya sedang terbuka sedikit. Ku ceritakan bahwa aku lulus. Ndoro dosen pun mengucapkan Congratulation, sambil mengacungkan dua jari jempolnya kepada ku. Aku sekedar mengucapkan terima kasih.

Segera aku kembali ke office ku, menggelar sajadah, melanjutkan sholat ashar yang sempat terputus. Usai sholat ashar langsung ku telpon emak ku di kampung. Mengucapkan terima kasih atas doa-doa yang telah lama dan selalu beliau panjatkan untuk ku. Selepas itu, aku segera keluar gedung kuliah ku. Berjalan setengah berlari dibawah hujan gerimis sore yang tak ku hiraukan, sambil menggenggam erat binder jumbo berwarna merah. Kembali ke rumah ku. Kubawa kabar bahagia untuk istri, Alisa, dan Ilyas. Sungguh, sore itu adalah sore dengan hujan gerimis terindah dalam hidupku.

Alhamdulilah Ya Allah. Ketakutan-ketakutan ku selama ini hilang sudah. Perjalanan perjuangan panjang PhD life penuh luka dan liku, selama 4 tahun penuh di kampus ini terbayar sudah rasanya. Tidak ada prestasi yang membanggakan sebernanya dari perjalanan PhD ku ini sebenarnya. Jangan tanya kualitasi disertasi ku seperti apa. Tetapi setidaknya, kelak aku bisa bercerita ke anak cucuku, aku tidak pernah berhenti untuk menyerah seberat apa pun tantangan dan seperih apa pun luka dari perjuangan ini.

Dan pada akhirnya, aku pun bisa meraihnya. Akan segera kutinggalkan Sekolah Ilmu Komputer Universitas Nottingham ini dengan akhir yang baik, husnul khatimah! Terima kasih teman-teman atas doa-doa dan supportnya. Khususon buat Mas Udin, yang dengan tulus hati menemani ku berjalan dari rumah hingga masuk ruang ujian, menemani ku latihan sebentar sebelum penguji datang, dan menungguiku di luar ruang ujian selama aku ujian. Jazakallah mas!

Buat teman-teman yang masih sedang berjuang ! Sabar, sabar, dan sabar saja pesan ku! Terus berjalan, jangan mudah mutung di tengah jalan, seberat apa pun cobaanya! Bittaufiq wannajah, kawan!

Alhamdulilah ya Allah! Bimbing diriku, dengan sedikit tambahan ilmu yang kau titipkan kepada ku, bisa manfaat dan barokah untuk kebaikan.

 

 

Advertisements

Ruang Pesakitan Ini

… dengan sisa-sisa nafas semangatku yang kembang kempis, kepercayaan diriku yang kian menipis, dan langkah yang berat tersendat-sendat, kuatkan aku untuk bisa bertahan, hingga tercapai semua tujuan. – A Random Thought

20160621_171921

Ruang Pesakitan :p

Ini sudah pukul 10 pagi, tetapi coba lihatlah ruangan ini. Sunyi, sepi, dan berantakan sekali. Ada rak-rak buku di setiap sisi ruangan ini yang berdebu, karena nyaris tidak pernah dibersihkan.

Di atas nya ada beberapa tumpukan buku dan kertas yang juga sudah berdebu, beberapa diantarnya bahkan sudah ada jaring laba-labanya. Ada sembilan komputer terbagi tiga-tiga dalam tiga deret.

Setahun terakhir ini, lebih-lebih bulan-bulan terakhir ini, 9 komputer ini nyaris tak pernah disentuh para tuan-tuanya. Yang menghilang satu persatu, tanpa pamitan. Kecuali komputer yang paling pojokan ini.

Seorang mahasiswa PhD yang nyaris putus asa, nyaris stres, tapi selalu berusaha untuk bertahan, yang bertahun-tahun menghabiskan sebaian besar waktu dalam hidupnya di depan komputer ini. Terjebak dalam siklus lingkaran aktivitas: reading, thinking, coding, analysing, writing. Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, bahkan minggu, siang dan malam. Mahasiswa yang beberapa bulan lagi sudah ‘expired‘ masa studinya. Mahasiswa yang sudah habis jatah uang bulanan dari sponsor beasiswanya.

Itulah komputer ku, dan mahasiswa itu adalah aku. Betapa berantakanya meja ku, tapi lebih berantakan lagi isi otak ku. Ada tumpukan buku-buku perpustakaan, yang rasanya nyaris sudah tidak pernah aku baca. Ada tumpukan-tumpukan kertas, dengan coretan merah-merah, itu adalah draft disertasi dan paper jurnalku, yang entah sudah draft versi yang berapa puluh kali atau bahkan sudah ratusan kali, dan belum kelar-kelar juga. Ada bantal peninggalan teman sebelah, yang kubuat tidur-tiduran ala ayam, jika mumet di kepalaku sudah tak tertahan. Ada earphone untuk mendengarkan suara gamelan dari komputerku, buat ku suara gamelan itu adalah obat setres paling mujarab nomor wahid di dunia.

Hampir empat tahun yang lalu, saat hari-hari pertama kedatangan ku disini, di ruangan ini penuh dengan kebahagiaan yang melimpah. Wajah-wajah berseri dengan senyum-senyum yang ramah, terpancar dari setiap mahasiswa PhD baru penghuni ruangan ini. Kami begitu antusias dan penuh semangat bercerita dengan riset yang akan kami lakukan selama 3 tahun kedepan. Kami pun sering berdiskusi, saling membantu, makan siang bersama, ke bar bersama, bahkan kadang-kadang jalan-jalan di akhir pekan bersama-sama.

Tetapi, seiring dengan merambatnya sang waktu. Ruangan ini yang dulu penuh kebahagiaan dan kehangatan, sepertinya berangsur-angsur berubah menjadi penuh dengan pesakitan. Wajah-wajah berseri dengan senyum ramah itu seolah lenyap begitu saja. Berganti dengan wajah-wajah setres, dan tidak bersahabat. Tak ada lagi waktu berbasa-basi, semua larut dalam pikiran dan komputernya sendiri-sendiri.

Setahun berlalu, dua tahun berlalu, tiga tahun berlalu. Oh rupanya, banyak yang tak bisa bertahan. Satu demi satu, memutuskan give up, dan keluar dari ruang pesakitan ini, keluar dari Universitas ini. Ada yang karena tak lulus ujian tahun pertama, ada yang tak lulus tahun kedua, ada yang konflik dengan dosen pembimbingnya, ada juga yang menghilang begitu saja, tak tahu kabarnya. Yang jelas, belum pernah ada sekalipun woro-woro di milist yang mengumumkan kelululusan PhD dari penghuni ruangan ini.

Bulan-bulan ini, di ruangan ini, nyaris setiap hari aku sendirian dalam kesepian, kesedihan, kesakitan, kemumetan, keruwetan, kecemasan, keraguan, kebimbangan, dan ketakutan. Kawan, teman-teman ku seangkatan di ruangan ini, bagaimanakah kabar kalian? Semoga kebaikan selalu bersama kalian.

Ya Tuhan, walaupun hanya dengan sisa-sisa nafas semangatku yang kembang kempis, kepercayaan diriku yang kian menipis, dan langkah yang berat tersendat-sendat, kuatkan aku untuk bisa bertahan, hingga tercapai semua tujuan.

Igauan tidur yang tidak nasionalis

Bukankah, tak ada di dunia yang patut diperjuangkan mati-matian, kecuali mempertahankan akidah? – a random thought

ngokro_2

Macak stress akut

Hari-hari belakangan ini, saat malam telah larut, saat gelap telah pekat, saat semua orang telah terlelap, istri saya sering membangunkan tidur saya.

“yah… yah tangi” kata istri saya panik sambil mengoyang-goyang tubuh saya.” …hah, jam piro iki Bun?” saya pun terbangun kedandapan, langsung mencara handphone untuk melihat jam. ” ayah ngelindur” timpal sang istri, dan saya pun melanjutkan tidur kembali.

Kata istri saya, belakangan ini tiap malam suka mengigau. Mengigaunya, pakai bahasa Inggris, tetapi dia tidak paham. Haha, saya pun tertawa. Mosok, saya ngelindur pakek bahasa Inggris. Kok ndak nasionalis banget. Lahwong, biasanya di rumah kalau ngobrol sama istri pakek bahasa Jawa.

Rupanya, gejala stress akut gara-gara PhD ini telah terbawa juga sampai alam mimpi. Perdebatan, adu argumen, dengan ndoro dosen itu ternyata berlanjut, mengusik otak bahkan pada saat otak seharusnya sedang beristirahat sejenak.

Oalah, nasib-nasib! nasib mahasiswa PhD semester tuwek dengan kualitas otak ala kadarnya.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, kami mendengar ada kabar duka dari kawan seperjuangan yang sedang menempuh PhD di Sydney Australia. Lima tahun lebih berjuang dengan beasiswa dari pemerintah yang pas-pasan dan tersendat-sendat.

Tragisnya, sang kawan yang dosen di salah satu PTN di Jawa Timur itu harus  menghembuskan nafas terakhir saat perjuangan nyaris usai. Berakit-rakit kehulu berenang ketepian. Bukanya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tetapi, bersakit-sakit dahulu, malah mati kemudian.

Kata sohibul hikayat, istri sang kawan bercerita, bahkan sampai saat-saat kritis, menjelang sakaratul maut, sang kawan sering mengigau pakai bahasa Inggris. Apalagi kalau bukan, igauan tesis PhD nya. Ini adalah kali kedua saya mendengar berita dari kawan-kawan seperjuangan, yang berjuang untuk lulus PhD hingga hembusan nafas terakhir. Bahkan kata sohibul hikayat di group facebook kami, ini cerita sejenis yang ke-enam, lo. Wow !

Selamat Jalan, kawan! Semoga kau petik buah perjuangan mu di akhirat, di kehidupan keabadian nanti. Kata kyai saya di pesantren dulu, jika menuntut ilmunya diniatkan karena Allah semata, kematian orang sedang menuntut ilmu itu adalah kematian syahid. Sama halnya, kematian seorang ibu yang meninggal dunia karena perjuangan melahirkan anak yang kandungnya.
***
Ya, Allah. Jika boleh saya meminta, saya tak ingin bernasib stragis itu. Bukankah, tak ada di dunia yang patut diperjuangkan mati-matian, kecuali mempertahankan akidah. Bukankah, PhD bukanlah segala-segalanya. Apalah arti gelar PhD, jika hanya itu gagah-gagahan saja. Jikalaupun, takdir tak berpihak dan PhD tak berhasil diraih, tetapi cerita hidup harus terus dilanjutkan. Setidaknya saya telah mencoba. Setidaknya saya sudah berusaha sekuat tenaga. Setidaknya saya sudah berdoa sepenuh jiwa.

Bukankah, yang terpenting kita menikmati dan menghayati proses belajar ini? Bukankah yang lebih penting itu belajarnya, bukan selembar kertas tanda tamat belajar itu?

Istri saya mengingatkan, agar tidak terlalu menjadi beban, jangan lupa amalan dari pak kyai diistikomahkan. Seorang kawan saya juga mengingatkan, sholat jamaah di masjidnya cak, diistikomahkan lagi.

Obat Stres Itu

Urip iku ora gampang, nanging ojo tok gawe Angel -Anonym

Urip_Iki_Ora_Gampang

Dari Group WA

Teman sebelahku, baru saja ketemu ndoro dosen nya. Kembali duduk beberapa centi meter di sebelah kiriku tanpa sepatah kata. Dahinya mengernyit. Sesekali kepalanya dipegangi, terlihat sedang berfikir keras, sangat-sangat keras sekali.

Dihadapanya, secarik kertas putih penuh coret-coretan, dan rumus-rumus matematika yang kelihatanya sangat pelik dan rumit itu. Pada monitor di depanya nampak program Maple dan Eclipse, untuk menulis rumus dan menulis code program.

Beberapa jenak kemudian, sang teman beranjak dari duduknya, masih tanpa sepatah kata. Di kepalanya seolah terdapat beban berat, berat sekali. Dia berjalan ke arah pintu, sesampai di daun pintu berjalan balik kembali ke mejanya.Sesampainya di dekat mejanya yang berantakan itu, dia berjalan berputar kembali ke arah pintu. Begitu seterusnya berulang-ulang,  entah berapa kali putaran. Yang jelas lebih dari tujuh putaran. Sebelum akhirnya duduk kembali di  kursi sebelah ku itu, masih tanpa sepatah kata. Ku hanya meliriknya sejenak, juga senyap tanpa kata.

Beberapa jam kemudian, aku barusan kembali dari ruang ndoro dosen ku. Dengan pikiran kacau, kacau sekali. Campuran pusing, pening, dan keputusasaan yang coba ditahan-tahan sekuat asa. Ku hempaskan kertas beberapa lembar penuh dengan coretan-coretan bolpoin merah itu, di meja ku. Huhh….

Seorang Mahasiwa dari negerinya Firaun, yang lebih yunior dari kami, seperti biasa tiba-tiba muncul tak diundang di mulut pintu. Tertawa penuh riang, lalu mendekat ke arah kami. Tertawa itu tak lebih dari tertawa ledekan menurutku.

 have you finished? you are getting more and more senior in this school. Hihihihi

Pertanyaan itu selalu diulang-ulang lagi, entah sudah berapa ribu kali. Padahal kami sudah pernah menghardik nya, untuk jangan menanyakan pertanyaan itu lagi, lagi, dan lagi. Apalah artinya sebuah tanya, jika kau sudah menyimpan jawabanya. Pertanyaan mu itu sama menusuknya dengan pertanyaan “kapan menikah?” kepada seorang jomblo senior yang belum jua ketemu jodohnya. Atau “kapan neh punya momongan?” kepada pasangan yang sudah lebih sedasawarsa menikah, tapi belum jua dapat momongan.

Tertawanya, semakin pecah ketika kedua matanya menatap tumpukan kertas penuh oret-oretan merah di meja ku itu.

hhahahah, is it comments for you?

Dalam hati aku menghardik: ” anc******k,  ndas MU pecah!” Oh Men, aku bisa membedakan antara perhatian yang tulus dan ledekan mu itu.

Kepala ku rasanya masih keram, tak mau diajak mikir lagi. Kubuka-buka foto di Handphone, kutemukan gambar di atas. Gambar yang dikirim oleh salah satu teman di salah satu group Whatsapp.

Buat ku, tulisan pada gambar di atas terbaca: “PhD iku ora gampang, nanging ojo tok gawe angel -PhD itu tidak mudah, tetapi jangan kau bikin susah.  Terus, mendengarkan lagu kebangsaan, hingga perlahan otak mau diajak mikir kembali.

Oh, betapa pahit,  getir , dan melelahkanya titian takdir perjuangan ini, kawan !

Tuhan, karuniakan kepadaku kesabaran, keikhlasan, kesyukuran dan semangat yang berlipat-lipat,  dan bertumpuk-tumpuk, jauhkan dari hal yang paling aku takuti : Menyerah, Putus Asa, dan menjadi pecundang !

Teman Ngontel

Hidup adalah tentang menggores kenangan-kenangan di halaman putih buku ingatan yang tersimpan di kepala dan terekam di hati. Yang akan kita buka kembali, di kala senja usia nanti. Yang karenanya, kita akan dihakimi di alam kehidupan berikutnya nanti. -a random thought

denhague_02

Ilustrasi: Teman Ngontel, Den Hag, Belanda

Belakangan ini, saya merasa kena gejala Permanent Head Damage (PhD). Konon itu adalah hal biasa terjadi pada mahasiwa PhD tingkat akhir seperti saya saat ini. Yang saya alami adalah suka ngomong sendiri di jalanan, baik saat jalan kaki maupun sedang naik sepeda. Seolah saya sedang berdiskusi dengan seorang invisible man di samping saya. Tetapi belum parah banget sih, masih sadar kalau sedang berpapasan dengan orang lain langsung mingkem, walaupun sering kebablasan juga. Mungkin sekali dari orang-orang yang berpapasan itu ada yang menganggap saya memang ora genep. Haha, maklum saya bertahun-tahun menghabiskan sebagian besar waktu saya di lab. dengan orang-orang nerd. Orang-orang yang lebih asyik dengan alam pikiranya sendiri-sendiri. Orang-orang yang lebih suka menggauli komputer, ketimbang bertegur sapa dengan orang-orang di sekitarnya. Kami biasa, selama 10-12 jam di tempat yang sama, secara fisik hanya berjarak beberapa centi, tetapi tidak saling bertegur sapa sama sekali. Yah, mungkin begitulah jalan hidup computer scientist sejati. Orang-orang yang rela kehilangan beberapa ketrerampilan sosialnya dari orang-orang normal pada umumnya.

Gejala ini, mengingatkan saya pada suatu siang hampir dua puluh tahun yang lalu. Saya berdebat sengit dengan seorang teman dekat yang hampir setiap hari ngontel –naik sepeda bareng pergi pulang sekolah dari ndeso kami yang berjarak lebih dari 10 km. Siang yang terik sepulang sekolah itu, kami berpapasan dengan seorang perempuan yang ngomong, ngomel sendiri sambil mengayuh sepedanya.

Saya bilang kalau perempuan itu sepertinya ora pati nggenah, alias setengah gila. Eh, si teman itu ngotot banget kalau kayak gitu itu normal-normal saja. Menurutnya, adalah sesuatu yang wajar, jika ada seseorang yang melakukan monolog seperti itu meskipun di tempat umum, yang dilihat oleh banyak orang. Sementara saya juga ngotot, bagaimana pun juga orang normal pasti malulah ngomong-ngomong sendiri tidak jelas seperti itu. Nahloh, sekarang itu terjadi pada diri saya sendiri. Haruskah saya memvonis diri saya sendiri sebagai orang setengah gila? Mudah-mudahan saja pendamat teman saya yang lebih sohih.

Saya jadi ingin mengenang teman ngontel saya ini. Seorang teman yang saya masih merasa dekat dengan nya hingga sekarang. Kebetulan, kami dari desa yang sama, yang tiap hari harus ngontel di SMP di kota kecamatan, yang konon, waktu itu adalah SMP terbaik se-Kabupaten Banyuwangi. Kebetulan sejak kelas dua, kami juga berada di kelas yang sama.

Meskipun teman karib, yang hampir tiap hari ngontel beriringan, tetapi kami sebenarnya hampir selalu berbeda pendapat. itu tercermin dari tulisan tangan kami yang kontras perbedaanya. Tulisan tangan saya ekstrim miring ke kanan, sementara tulisan dia ekstrim miring kekiri. Hikmahnya, eyel-eyelan sepanjang perjalanan naik sepeda itu membuat jarak total 20 km tiap hari itu tidak terasa.

Ada saja yang kami perdebatkan. Tidak hanya saling berdebat, tetapi dia juga dia tidak sungkan-sungkan mengkritik. Pernah suatu hari saya sakit hati sama dia. Waktu saya membaca puisi di depan kelas pada saat pelajaran bahasa Indonesia. Dia bilang saya wagu, tidak pantes membaca puisi seperti itu. Padahal puisi yang saya baca itu mendapat nilai cukup bagus dari Bu Tutik, guru bahasa Indonesia kami.

Meskipun nyaris tidak pernah sependapat, tetapi anehnya, kami masih akrab-akrab saja. Saya sering mampir makan siang, sholat, dan nonton TV di rumahnya. Yang paling saya suka adalah minum air kendi yang hanya ada di rumahnya. Duh rasanya sueger alami sekali. Apalagi, direguk sepulang sekolah seperti itu, setalah ngontel sepuluh kilometer di tengah terik matahari, menyusuri jalan beraspal di antara hamparan sawah sejauh mata memandang dengan pemandangan lukisan alami gunung raung yang gagah itu.Biuh, rasanya, bagai air syurga segarnya.

Cerita di bangku SMP itu kami tutup dengan goresan kenangan yang sangat indah. Saat pelepasan kelas tiga SMP itu, kami bersama kedua orang tua kami, sama-sama dipanggil di atas panggung. Mendapat penghargaan berupa piala kecil dari kepala sekolah. Saya sebagai lulusan dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi pertama, sementara sang teman tertinggi ketiga. Bu Kutrik, guru bahasa Inggris kami, yang juga wakil kepala sekolah, berkomentar:  wah rupanya tahun ini prestasi terbaik diboyong anak-anak desa Plampangrejo, mengikuti jejak sukses wali kelasnya, Bu Mahmudah, yang juga sama-sama dari desa Plampangrejo.

Setamat SMP, kami berpisah mengikuti garis nasib sendiri-sendiri. Tetapi, sayangnya kami sama-sama gagal meraih impian kami masing-masing. Sang teman, yang dari awal kelas tiga bercita-cita ingin sekolah di SMA 3 Yogyakarta, ternyata ditolak mentah-mentah,  meskipun NEM nya waktu itu salah satu yang tertinggi se Kabupaten Banyuwangi. Dan harus puas hanya diterima di SMA 2 Bantul, setelah gagal masuk SMA 1 Bantul, di kota kelahiranya itu.

Saya lebih parah lagi. Saya bercita-cita ingin sekolah di STM Telkom Sandi Putra, Malang. Tapi harus gigit jari setelah gagal tes wawancara dan tes kesemaptaan. Kegagalan itu  mengantarkan saya masuk pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Sebelum akhirnya, setahun kemudian pindah ke pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Padahal, sangat mudah saja, saya dulu seperti teman-teman sekelas pada umumnya, masuk di SMA 1 Genteng, SMA terbaik di kabupaten Banyuwangi. Entahlah, saya waktu itu menolak mentah-mentah, saat bapak hendak mendaftarkan saya di SMA itu. Tetapi, mungkin itulah yang namanya hidup atau garis hidup.

Ketika kami menghidupi masa-masa SMA kami masing-masing, kami  masih keep in touch satu sama lain. Karena waktu liburan yang tidak sama antara sekolah umum dan di pesantren, sang teman pernah nyambangi saya di pesantren Blokagung. Begitu juga dengan saya, rela mbolos dari pondok pesantren, demi bermain ke rumahnya saat liburan sekolah.

Saat saya di Jombang, kami masih saja rajin berdebat. Bedanya, kalau di jaman SMP kami berdebat langsung saat ngontel beriringan. Waktu saya di Jombang, kami berdebat lewat surat-suratan. Layaknya, orang pacaran saja, hampir setiap seminggu kami saling berkirim surat. Hehehe

Waktu jaman kuliah, sang teman diterima di fakultas kedokteran hewan, UGM. Saya di fakultas teknologi informasi, ITS. Saat jaman kuliah ini, komunikasi sudah semakin jarang. Hanya sesekali kami saling berkirim email. Pernah juga suatu waktu, saat liburan kuliah, saya yang main ke Yogyakarta.

Menjelang lulus kuliah, saya masih ingat sang teman lah yang memaksa saya untuk mengambil kesempatan kuliah negeri dengan beasiswa, yang saat itu sudah saya dapatkan saat masih mengerjakan Tugas Akhir aka skripsi. Padahal, saya kurang begitu berminat, karena saya sudah kebacut ingin cepat kaya, dengan kerja di perusahaan asing. “Kapan lagi lo, sampean bisa merasakan hidup di luar negeri? itu akan menjadi kenangan-kenangan tak terlupakan, dalam hidup sampean”. Begitulah, kata-katanya mencoba meyakinkan saya. Tetapi, akhirnya saya pun memilih bekerja di perusahaan Korea, menjadi orang Jakarta. Sebelum saya sadar bahwa dunia kerja dan keindahan Jakarta ternyata tak seindah yang saya bayangkan. Saya pun akhirnya menuruti saran sang kawan.

Dalam memilih karir setelah lulus kuliah, kami pun berbeda pendapat, bagi dia yang penting adalah menjadi PNS. Saya malah sebaliknya, asal bukan PNS. Walaupun, pada akhirnya, kita sama-sama berstatus PNS, hehe. Sang kawan menjadi PNS sebagi dokter hewan, di kota Cirebon. Saya jadi PNS, sebagai dosen di alamamater sendiri.

Latar belakang pendidikan agama yang berbeda membuat kamu memiliki cara pemahaman dan penghayatan agama yang sangat berbeda, walaupun theologically, for sure kami sepakat. Saya yang alumni pondok, sudah bisa ditebak sangat NU banget, dengan pemahaman Islam yang sangat moderat, Islam yang ramah dan lentur dengan budaya pribumi. Lebih mengutamakan esensi daripada bungkus-bungkus budaya. Dalam hal-hal yang tidak ushul (pokok-pokok) agama, buat saya ekspresi keberagamaan orang Indonesia tidak harus sama persis dengan Arab.

Sementara sang teman, yang belajar agama dari liqo’ dan halaqah di sela-sela kuliah di kampus. Pemahaman agamanya lebih cenderung ke salafy-wahaby yang agak rigid dalam memahami agama. So, banyak amalan-amalan agama saya yang ala NU seperti tahlilan(mendoakan orang yang sudah meninggal dunia), ziarah kubur, menurut pemahaman dia, itu dianggap sesat, dan tempatnya di Neraka. Saya ‘pemuja’ Gus Dur, sementara dia penghujat Gus Dur.

Puncaknya, beberapa waktu yang lalu, saat saya kampanye Islam Nusantara, Islam yang ramah, toleran, dan rahmat bagi alam, lewat jejaring facebook. Sang teman, kirim message yang isinya: “Kang, maaf yo, untuk sementara sampean saya unfriend dan saya block dari facebook”. Saya mung mbatin tertawa, mau unfriend dan nge block kok pakai ijin segala. Kebetulan saya juga sudah jarang facebookan lagi.  Sejak saat itu, kami tidak pernah komunikasi sama sekali. Tetapi, ada teman dia yang rajin ngabari kabar sang teman ke saya.

Saya berjanji, someday saya akan main ke rumah sang teman. Beda pandangan bukan berarti harus putus hubungan. Bukankah kita sudah terbiasa berdebat, dan berbeda pandangan. Belakangan, saya sadar susahnya di jaman sekarang nyarik seorang teman yang maun menjadi cermin buat diri kita sendiri seperti sang teman tadi. Teman yang mau mengkritik, mendebat, meluruskan, tapi di saat yang sama, diam-diam setulus hati mendoakan kebaikan kita. Serta persahabatan yang berkelanjutan, lintas ruang dan waktu. Kebanyakan teman model jaman sekarang adalah teman-teman yang selalu tampak manis di depan kita. Tetapi, kita tak pernah tahu apa yang terjadi ketika di belakang kita. Jangan-jangan malah menceritakan keburukan kita kepada orang lain. Jangan-jangan malah bersorak sorai, ketika kita terpuruk dan jatuh. Pun kita berteman sebatas kepentingan, saat kita masih saling membutuhkan, saat kita terjebak dalam ruang dan waktu takdir yang berdekatan, disitu kita berteman. Selanjutnya, ya wassalam!

Semoga kita dikaruniai teman-teman sejati yang baik, mau menjadi cermin diri kita. Dan terhindar dari teman-teman yang tampak baik di depan saja. Ammiin