Advertisements

Category Archives: Tentang Hidup

Mampir ke Padepokan Puri Tri Agung

… tempat ini mengingatkan ku untuk sesekali merenungi sekaligus menertawakan kehidupan yang tabiatnya telah menjebak kita dalam jeratan rutinitas kesibukan – a random thought

padepokan_1

Padepokan Puri Tri Agung

Cerita ini masih sekitar memoir perjalanan ku ke Pulau Bangka awal bulan Oktober 2018 silam. A random moment in life bring me to this place. Sungguh, perjalanan yang tidak direncanakan. Tetapi, kejutan dalam hiduplah yang membuat hidup terasa lebih hidup. Pak sopir yang baru kami kenal mengantar kami ke tempat ini, another a stunningly beautiful place. Nama tempat yang mungkin hanya akan aku kunjungi once in a lifetime ini adalah Padepokan Puri Tri Agung.

padepokan_4

Pemandangan dari Pedepokan

Yang membuat aku paling senang dari Pulau Bangka ini adalah karena Pulau ini belum banyak dikenal orang. Pulau ini masih kalah populer dengan Pulau kecil tatangganya, Pulau Belitung. Harus diakui, popularitas novel dan film ‘laskar pelangi’ berhasil mengangkat nama Belitung setidaknya ke sorot panggung nasional. Tetapi tidak sama halnya dengan Pulau Bangka.

Kurang populernya Pulau Bangka, buatku justru sesuatu yang harus disyukuri. Keindahan alamnya dapat kita nikmati secara lebih intim. Terbayang kan, betapa amat menyebalkanya mengunjungi sebuah tempat yang penuh berjubel orang-orang, yang sebagian besar datang hanya untuk berfoto, bukan untuk menikmati dan merenungi keindahanya. Apalagi mencoba berbahasa dengan alam semesta.

Padepokan ini terletak di atas sebuah bukit yang langsung berhadapan dengan pantai. Jangan ditanya lagi, pantainya yang indah dan bersih dengan warna turquoise (pirus, biru-kehijauan) yang memesona. Suasana di Padepokan yang adem berkolaborasi dengan pemandangan pantai yang indah. What a stunningly beautiful place, isn’t it? Sejenak tempat ini mengingatkanku suatu perjalanan menyusuri daratan Italy beberapa waktu silam.

Bentuk bangunan padepokan ini berbentuk kerucut bersusun tiga. Mirip dengan masjid Jawa yang biasanya atapnya juga bersusun tiga. Kenapa harus tiga? Ada filosofi tentunya, bukan sekedar purely a random number. Setelah melewati tangga berundak panjang lebar, dengan sisinya yang berwarna putih, di depan Padepokan kita akan disambut oleh sebuah patung (kalau tidak salah) Budha dengan perut gendut, santai dan sedang tertawa. Melihat patung ini, membuat kita jadi ikut-ikutan tertawa. Jadi, kalau sampean lagi setres dengan segala keruwetan hidup, melihat patung ini bisa jadi terapi mujarab penghilang setres. Eh, atau malah jadi kebablasan setresnya hahaha….

Entah mengapa melihat patung ini, jangkar fikiranku langsung terbawa pada sosok Gus Dur. Sosok Gus Dur yang cerdas dalam meningkahi hidup, yang menjadikan permasalahan hidup yang rumit jadi penuh canda. “Gitu saja kok repot”. Bukan untuk menggampangkan permasalahan, tetapi sebuah ajakan untuk menghadapi setiap persoalan hidup dengan gembira. Dengan perasaan gembira, permasalahan hidup akan terasa menjadi lebih mudah bukan? Bahkan pada akhirnya, jadi lelucon belaka.

padepokan_5

Tangga Menuju Padepokan

Bukankah kehidupan dunia hanyalah  la’ib dan lahw, hanya permainan dan senda gurau belaka? Jika kita tidak bisa mempermainkan kehidupan, kitalah yang akan dipermainkan kehidupan. Pada intinya aku paling tidak suka dengan orang-orang yang terlalu metenteng  dalam menjalani kehidupan. Yang kaku dengan aturan yang dibuat-buat sendiri dan menambatkan capain kehidupanya dengan ukuran angka-angka yang  juga dibuat-buat sendiri. Dan buatku, patung ini menjadi semacam justifikasi bahwa urip iku ora usah terlalu serius-serius  rek! apalagi sampai petentengan karena sesuatu dan lain hal. haha 

padepokan_3

Tiga Patung Pemimpin Agama

Memasuki pedepokan kita akan disambut oleh tiga patung pemimpin agama, yang sedang khusuk bermunajat (baca: bermeditasi) dengan caranya masing-masing kepada Yang Maha Memberi hidup. Patung yang paling kiri adalah KONG ZI, tokoh sentral dalam agama Konghucu, yang tengah adalah Patung Sang BUDDHA SYAKAMUNI, dan yang paling kanan adalah patung LAO ZI, tokoh sentral dalam agama Taoisme. Di depan ketiga patung tersaji sesajen berupa tumpukan bunga dan buah-buahan. Wangi semerbak dari kemenyan atau hio atau dupa ataulah apanya yang dibakar memenuhi seluruh sudut ruangan. Rasanya wangi yang tercium masuk menyentuh memenuhi segenap rongga dada.

padepokan_2

Ornamen Atap Padepokan

Ketiga patung ini mengingatkan diriku, bahwa kita manusia, apapun rupa dan bahasnya, hanyalah jiwa-jiwa kering nan rapuh, yang sebenarnya sangat merindukan kehadiran Tuhanya. Karenanya, inti dari agama apapun, mengajarkan cara mendekatkan diri pada Tuhanya. Apakah dengan bermunajat dalam sujud dan dzikir-dzikir yang panjang di keheningan sepertiga malam yang terakhir, ataukah bermeditasi dalam kesunyian, ataukah dengan lagu puji-pujian, pada intinya adalah untuk merasakan peristiwa intim, transedental, menyatu dengan kehadiran Tuhan pada jiwa-jiwa kita yang kering. Jiwa yang tenang, yang dekat dengan Tuhanya, bukankah itu sejatinya sumber kebahagiaan dan ketenteraman dalam hidup?

Hal lain yang menarik perhatian adalah ornamen interior atap padepokan yang indah. Rasanya tak kalah indah dengan seni fresco yang jamak ditemui di gereja-gereja katolik di Eropa. Di Inggris, apalagi di Itali. Eh, tetapi rupanya seni fresco ini juga sudah di adopsi di masjid kampung ku lo. Aku cukup terperanjat kapan hari waktu pulang kampung, sholat di masjid dusun, di pelosok desa, kabupaten Banyuwangi sana, waktu menengadah ke atap kubah masjid. Wau, sebuah pemandangan seni yang mewah sekali untuk ukuran dusun kami. Setidaknya mewah untuk cita rasa seni perkampungan petani tulen di dusun kami. Sebuah ornamen yang didominsi warna biru langit dengan hiasan kelap-kelip lampu hias. Indah betul jika dilihat malam hari. Kabarnya, seni fresco di masjid dusun kami itu menghapuskan puluhan juta rupiah. Jumlah yang sangat besar di mata orang-orang dusun. Tetapi, kabarnya uang itu adalah sumbangan dari pemuda-pemuda dusun kami yang sukses jadi TKI di Korea Selatan dan Taiwan di tambah hasil penjualan kavling kuburan di depan masjid dusun.

Ohya, Padepokan ini terletak di Jalan Pantai Tikus, desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diresmikan oleh pak menteri agama bersama dengan pak menteri pariwisata pada Tahun 2015. Nama desa dan nama padepokan ini rasanya terlalu Jawa. Rebo, bukankah itu cara orang-orang Jawa desa mengucapkan hari Rabu? Begitupun padepokan puri tri agung. Bukankah itu juga terlalu jawa juga? Padepokan kurang lebih artinya pondok, Puri artinya kurang lebih rumah, Tri artinya Tiga dan Agung artinya Besar. Yang kalau aku boleh menerjemahkan secara bebas artinya tempat yang merupakan rumah tiga orang besar. Tiga tokoh agama yang aku ceritakan di atas. Entahlah?

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Advertisements

Soto Cak Har

… sampean penggemar soto? soto lamongan cak har yang satu ini layak to give a try! – a random thought

soto_cak_har_1

Soto Ayam Lamongan Cak Har

Di dekat kampus ITS, ada tempat wisata kuliner yang murah meriah tapi patut untuk dicoba, yaitu soto cak har. Meski kelas kaki lima, sudah banyak lo penggemar fanatiknya. Kapan hari saya tahu, ada salah seorang profesor dari UI saja, sebelum ke ITS, sudah berpesan untuk diantar makan di soto cak har. Apalagi kalau sampean pecinta soto, soto ayam khususnya. Tempat ini wajib dikunjungi.

Lokasinya di Jl. Arif Rahman Hakim, di sebelah kiri jalan antara kampus ITS dan kampus ITATS. Kalau pas jam makan siang, tempat ini sangat ramai pengunjung. Tapi no worries, para pelayan akan dengan sigap melayani sampean tidak perlu nunggu lama.

soto_cak_har_3

Soto Cak Har yang Menggugah Selera

Yang istimewa dari soto cak har ini adalah kuahnya yang gurih dan mlekoh. Irisan daging ayamnya yang banyak dicampur dengan taburan koya yang bisa diambil sebanyak-banyaknya membuat soto ini makin mantaps. Ada tiga varian soto disini. Pertama ayam daging saja tanpa kulit, kedua kulit ayam saja yang penuh dengan lemak termasuk sayap ayam, dan yang terakhir campuran keduanya. Yang bermasalah dengan kolesterol, please pilih yang nomor satu saja ya.

soto_cak_har_2

Es Jeruk dan Koya Soto Cak Har

Sebagi penetralisir lemak, sampean bisa memilih minuman Es Jeruk atau Jeruk Hangat yang akan disajikan dalam porsi gelas Jumbo. Wes pokoe, mampir disini, gairah nafsu makan siang sampean saya jamin bakal terpuaskan dengan sempurna. Setelah makan, jangan lupa ngasih sumbangan, infak sedekah, di kotak amal yang tersedia di tempat ya! Agar rejeki sampean semakin barokah!

 ***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube


Semanggi Suroboyo yang Legendaris Itu

… semanggi suroboyo, lontong balap wonokromo, di makan enak sekali, sayur semanggi krupuk puli. bung… mari…. -lirik lagu

semanggi_surabaya

Ibu-ibu Jualan Semanggi Suroboyo di Taman Bunggul

Di Kota Surabaya, ada makanan legendaris namanya: semanggi suroboyo. Bagaimana tidak legendaris, makanan yang satu ini bersama lontong balap diabadikan dalam sebuah lagu daerah (yang juga legendaris) Surabaya dengan judul yang sama: Semanggi Suroboyo. Lagu ini dipopulerkan oleh Mus Mulyadi yang terkenal sebagai Raja Keroncong di jamanya.

Seperti apakah ajaibnya makanan satu ini? aku yang hidup di Surabaya sejak 2002 pun belum pernah sekalipun mengincipinya. Sampai akhirnya pada tahun 2017 kemaren, untuk kali pertamanya aku mencicipi makanan ini. Waktu itu, pas sedang mlaku-mlaku di kawasan Taman Bunggul Surabaya. Ketika sedang asyik mengedarkan pandangan di segala penjuru, Voila, mak jenunuk, seorang embah-embah di bawah pohon menarik perhatianku. Satu gelangsing kerupuk puli berwarna kuning kecoklatan itu membangunkan nafsu makanku.

Beberapa jenak kemudian, barulah aku sadar bahwa si Mbah ini berjualan makanan Semanggi Suroboyo yang legendaris itu. Sebenarnya makanan ini varian nasi pecel yang sangat jamak ditemui di seluruh penjuru Jawa Timur. Yang istimewa adalah sayurnya, yaitu sayur semanggi. Semanggi adalah sayuran sejenis gulma yang sepertinya sudah semakin sulit untuk dicari. Kemudian sambel pecelnya yang sepertinya dicampur dengan telo yang mengahasilkan aroma dan cita rasa yang khas. Dan yang terakhir keistimewaan dari makanan ini adalah kerupuk pulinya.

Bagiamana rasanya? menurut saya sih biasa-biasa saja malah cenderung tidak enak. Tetapi ini mungkin karena dua hal. Pertama, semanggi yang saya beli ini murahan. Murah kok njaluk wenak? maklum hanya beli dari si mbah, most likely janda, yang berikhtiar untuk bisa bertahan menyelenggarakan hidup di kota metropolis ini. Yang rela berpindah-pindah tempat dan seringkali harus uber-uberan sama satpol PP. Ada banyak lapak jualan di Taman Bungkul ini sebenarnya. Tapi ya tentunya tidak gratis. Buat Si Mbah, biaya sewa tentunya tidak nyucuk dengan keuntungan ala kadarnya dari jualan Semanggi Suroboyo ini. Kedua, barangkali memang seleraku yang beda. Jadi seenak apapun katanya, kalau ya memang tidak berselera ya tetap saja tidak enak.

Lain kali mungkin perlu makan Semanggi Suroboyo di tempat yang lebih mriyayini. Bukan di bawah pohon ala kadarnya begitu. Walaupun meski harganya pat gulipat jauh lebih mahal. Eh, atau coba di pasar dadakan tiap hari jumat di sekitar masjid kampus. Pak Dekan aku lihat sering mborong Semanggi Suroboyo disitu, lengkap dengan kerupuk pulinya yang buanyak.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube


Filosofi Hidup Sederhana dalam Sepiring Nasi Lemak

… ribet dan sibuk begitu rasanya tabiat manusia modern dalam menyelenggarakan kehidupanya. Untuk apa? untuk tujuan bahagia juga? – a random thought

nasi_lemak_1

Nasi Lemak

Di Jakarta, ada sebuah tempat makan favorit aku yang nomor satu. Warteg? Haha, jawab jujur ndak ya? Lupakan warteg untuk sejenak dulu lah. Tempat makan itu tepatnya adalah Bangi Kopitiam, di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.  Jika ada ruang dan waktu bertemu mewujud dalam sebuah momentum yang tepat, aku akan memilih nongkrong di tempat ini.

Awalnya, tahu tempat ini dari seorang teman lama. Jalan cerita hidup kami pernah bersinggungan di ruang dan waktu yang sama, satu sampai dua tahun saja. Waktu kami sama-sama sekolah program master by research, di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia. Sebuah kampus yang fully funded by Petronas, dan berlokasi di desa Tronoh, sebuah desa di atas bukit bekas lokasi penambangan timah yang tenang, di wilayah kerajaan Perak Darul Ridzuan. Sungguh, tempat yang penuh kenangan.

Dipertemukan kembali dengan teman lama setelah lama tak bersua adalah salah satu momentum paling membahagiakan dalam hidup. Menertawakan bersama cerita hidup yang sudah lewat. Cerita yang dulu kadang rasanya berat dan penuh dibayang-bayangi kekhawatiran oleh segala bentuk ketidakpastian  dalam hidup yang kini rasanya hanya menjelma bak lelucon hidup belaka.

Jadilah Bangi kopitiam ini serasa menjadi tempat paling tepat dalam momentum pertemuan kami kembali saat itu. Ada banyak menu makanan di tempat ini, yang tentu saja bukan hanya makanan Malaysia saja. Tetapi tentu nasi lemak menjadi menu pilihan. Ini adalah menu sarapan paling murah dan legendaris waktu di Malaysia.

Nasi lemak adalah makanan yang sederhana saja (walaupun disini harganya tidak sederhana ya :p ). Sekepal nasi gurih, ikan bilis (sebutan ikan teri di Malaysia), kacang goreng, separuh telur rebus yang dilengkapi dengan seiris mentimun dan seonggok sambal hijau. Lalu dimakan dengan tangan telanjang tanpa sendok, sebagaimana lazim orang-orang disana makan. Aromanya khas. Apalagi sambal hijaunya yang memiliki cita rasa klasik. Lalu ditutup dengan menyeruput secangkir kopitiam yang masih panas.

nasi_lemak_2_update

Desain Interior

Desain interior restoran yang klasik, membuat kami betah ngobrol berlama-lama di tempat ini. Kami berasa terbawa dalam lorong waktu yang membawa kami dalam kenangan beberapa tahun silam.

Rasanya, kesederhanaan nasi lemak ini merupakan anti-tesa kota Jakarta. Kota yang selalu sibuk, dipenuhi oleh orang-orang yang terburu-buru dikejar oleh entah apa. Waktu kah? Targetkah? Atau angka-angka lainya. Yang jelas semakin banyak orang yang menambatkan harga dirinya pada sejumlah angka-angka. Setidaknya angka-angka pada rekening tabungan mereka.

Di jaman yang kabarnya semakin sophisticated ini, semuanya harus bisa diukur dengan angka-angka. Bahkan hubungan transendental yang seharusnya sangat privat antara seorang hamba dengan Tuhanya pun harus terukur dengan angka-angka: seberapa lebar hijabnya, seberapa panjang jenggotnya, berapa juz hafalanya, dan sebagai-sebagainya.

Melihat riuhnya cara orang Jakarta menyelenggarakan hidup, diam-diam hatiku bertanya-tanya: bahagiakah mereka? jika sudah bahagia apalagi yang mereka kejar? atau jangan-jangan malah sebaliknya? Apakah bahagia sudah menjelma menjadi angka-angka yang terus harus dikejar. Bertambah dan terus bertambah, yang memang kita tidak akan pernah menemukan angka berapa yang terbesar.

Sepiring nasi lemak ini mengingatkan ku bahwa sebenarnya kunci kebahagian sesungguhnya adalah hidup sederhana saja. Gaya hidup para Nabi yang teorinya adalah panutan hampir seluruh milyaran manusia di dunia. Nyatanya ini bukan sekedar dogma. Sebuah riset akademik di bidang psikologi yang dipublikasikan Desember 2018 di bbc, menyimpulkan bahwa semakin keras kita berjuang untuk mencapai kebahagiaan, justru semakin kecil peluang kita untuk mencapai kebahagiaan itu. Jadi, the quickest way to happiness may be do nothing.

Jadi, mau hidup bahagia atau sekedar mengumpulkan angka-angka? Jika ingin pilihan yang pertama: hidup sederhana saja. Seperti falsafah hidup orang Jawa: hidup sing prasojo. Mangan ora mangan sing penting ngumpul. Barangkali itulah mengapa orang Jawa dahulu adalah salah satu bangsa yang paling bahagia di dunia, meskipun kalah dalam angka-angka.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube


Pacitan: Gemelintir Air Kalimu

” … setiap perjalanan ke tempat baru memberikan perspektif baru dalam memandang hidup. Semakin banyak perjalanan, semakin banyak perspektif. Semakin banyak perspektif, semakin bijak? ” – a random thought

pacitan_01

Pintu Gerbang Masuk Kota Pacitan

Buatku, tidak ada aktivitas santai di dunia ini yang lebih menyenangkan dari pada mengunjungi tempat baru. Tempat yang sebelumnya hanya mampir sejenak berlalu di perlintasan alam fikiran, kemudian kita benar-benar menginjakkan kaki di tempat itu.

Sekedar memberi jeda dari ritual kesibukan hidup yang terus berulang, kami mengadakan perjalanan Madiun-Pacitan lewat Ponorogo. Dalam bayanganku, kami akan menelusuri desa-desa, dengan hamparan padi yang menghijau dan pemandangan pegunungan di kejauhan. Lalu kami mampir di warung pinggir sawah, minum kopi, menikmati jajanan pasar desa sambil ngobrol dengan warga lokal desa dengan bahasa Jawa logat khas kabupaten diujung barat daya Jawa Timur ini.

pacitan_02

Suasana Pinggiran Kota Pacitan

Tetapi, seorang teman kuliah di Surabaya, yang kecil hingga lulus SMA di kota ini, dan sekarang menetap di kota pinggiran Jakarta, menertawakanku. “haha, you will never find it in Pacitan Bro!” katanya lewat layananan pesan singkat Whatsapp.

Tidak apa-apa, perjalanan Madiun-Pacitan lewat Ponorogo cukup menenangkan Jiwa. Jalanan yang tidak macet, udara yang tidak penuh polutan, dan pemandangan gunung-gunung di kejauhan cukup menghibur fikiran. Perjalanan Ponorogo-Pacitan lebih menantang dari perjalanan Madiun-Ponorogo, kami menyusuri jalanan yang membelah pegunungan. Tidak hanya tidak macet, jalanan rasanya terasa sepi.

Jalanan naik, turun, berkelok-kelok, bagai jejak ular raksasa. Kiri kanan adalah hutan dengan dominasi pohon jati. Kadang-kadang saja terlihat tanaman jagung dan singkong. Tak banyak rumah penduduk di sepanjang perjalanan. Yang lumayan banyak adalah pemandangan spanduk dan baliho besar-besar para politisi di senayan dan lengkap dengan bendera partai. Lebaran rupanya dipilih para politisi yang di fotonya terlihat sangat bahagia itu, menjadi momen yang pas untuk menyapa konstituenya, meski hanya lewat media spanduk dan baliho. Spanduk dan Baliho milik para calon gubernur dan wakilnya pun tak kalah ramai, berebut simpati rakyat kecil di tataran akar rumput. Cerdas, merakyat, dan religius begitu seolah-olah kesan yang ingin disampaikan dari spanduk dan baliho besar-besar itu.

Foto-foto politisi yang para priyayi itu terlihat begitu kontras dengan wajah desa perbatasan Ponorogo-Pacitan yang muram. Kabarnya, di wilayah inilah kantong-kantong kemiskinan wilayah Jawa Timur berada. Sampai-sampai ada sebuah kampung yang dijuluki kampung idiot. Kemiskinan telah membawa penduduk kampung bernasib kekurangan gizi dan pada giliranya kekurangan kecerdasan.

pacitan_03

Sungai di Desa Tambakrejo, Pacitan

Yang paling menarik perhatianku adalah kali-kali di sepanjang perjalanan. Airnya jernih dan bergemelintir, dengan lembah sungai yang lebar yang dipenuhi batu-batu kali yang bersih. Suasananya hening, suara gemelintir air satu-satunya irama, lengkap dengan pemandangan hijau bebukitan sejauh mata mengedarkan pandangan. Sungguh inikah imajinasi syurga manusia-manusia di tengah peradaban  padang pasir yang tandus bukan? Tak heran, orang-orang jawa pada awalnya tak tertarik dengan iming-iming metafora syurga di kitab suci. Karena metafora syurga itu sudah ada di tanah Jawa. Ingin sekali rasanya turun dan menjeburkan diri ke sungai itu.

Memasuki kota, kami mampir di sebuah warung pinggir jalan. Selain selai pisang basah yang dibungkus plastik membulat kecil-kecil menyerupai anggur itu, sepertinya tidak ada makanan khas kota ini memang. Lalapan ayam kampung goreng pun jadi pilihan. Secangkir kopi sasetan (Rp. 1000)    yang masih panas menjadi pelepas lelah perjalanan, dan menjadi pembuka obrolan yang hangat. Sebelum, beberapa jenak kemudian, kami beranjak melanjutkan perjalanan.

Rasanya, hanya 5% saja dari wilayah kota Pacitan ini yang tanahnya datar, yaitu hanya di sekitar alun-alun saja. Selebihnya adalah bukit tandus dengan jalan bergelombang naik turun, berkelok-kelok dengan sudut kemiringan dari yang biasa-biasa saja sampai yang ektrim. Terbayang alangkah melelahkanya perjalanan dengan berjalan kaki dan sepeda ontel di kota. Yang belum mahir nyetir, jangan sekali-sekali deh coba-coba di kota ini.

Sepanjang perjalanan aura bahwa Pacitan adalah rumahnya SBY begitu terasa. Partai Pak Beye sepanduk dan benderanya bertebaran hampir di seluruh sudut-sudut kota. Tak ketinggalan wajah-wajah keluarga Pak Beye yang rupawan dan mriyayini itu pun terpampang bahagia di spanduk dan baliho besar-besar di pinggir jalan-jalan kota. Kontras dengan wajah lesu warganya yang tinggal di rumah-rumah teramat bersahaja di pinggiran kota. Terbayang betapa susahnya menyelenggarakan hidup yang mapan di kota yang didominasi bukit-bukit yang tandus bukan?

pacitan_04

Pantai Klayar

Pariwisata menjadi andalan baru sebagai penggerek ekonomi kota ini. Walaupun tentu kenyataan tak semudah kata-kata. Gua dan Pantai menjadi andalan Pariwisata kota ini. Salah satu pantai yang sempat kami kunjungi adalah Pantai Klayar, pantai andalan kota ini. Lazimnya, pantai berseiring dengan dataran rendah. Di Pacitan, pantai berseiring dengan bukit. Sungguh, pantai ini terlihat memesona dari atas bukit menuju pantai ini.

Suasana senja sore itu menambah indahnya pemandangan alam Pantai klayar. Orang-orang tumpah ruah, kegirangan. Berpose entah dengan gaya apa saja, yang terabadikan oleh jepretan kamera smartphone. Dan berikutnya, memamerkan kegembiraan itu ke jagat maya. Agar semua tahu bahwa kehidupan mereka amatlah bahagia. Bahwa kehidupan adalah sesuatu yang patut untuk dirayakan.

Anak-anak bermain kegirangan di pinggir pantai yang sedang surut airnya. Entah siapa yang mengajari pada mulanya, rasanya seluruh anak-anak di seluruh penjuru dunia memilih aktivitas yang sama di pasir pantai: membangun kastil pasir. Dengan susah payah mereka membangunya, tetapi justru tertawa bahagia saat ombak besar menggulungnya tak bersisa.

pacitan_05

Suasana Surup di Pantai Klayar

Begitupun hidup kita bukan? begitu susah payah kita belajar, bekerja, banting tulang, siang dan malam, berusaha dan berdoa untuk membangun ‘kastil’ kehidupan kita. Kastil pertanda kesuksesan kita dalam menyelenggarakan kehidupan dunia yang sementara ini. Tetapi, akankah kita akan tertawa bahagia saat ombak kehidupan, lewat pintu kematian atau musibah  bencana, tiba-tiba menyapu bersih kastil kehidupan kita yang juga rapuh ini?

Sayang, waktu senja pun segera usai. Waktu surup tiba saatnya menjemput malam yang akan segera datang. Orang-orang pun berangsur-angsur menjauh dari bibir pantai, menempuh jalan pulang. Meneruskan cerita kehidupan berikutnya. Entah bahagia, susah, atau biasa-biasa saja.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube