Tentang Hidup

Lombok yang Cabe Rawit Itu

… ada orang yang ditakdirkan untuk mendapatkan uang sedikit saja, harus diiringi dengan susah payah, banting tulang, peras keringat. Tetapi, ada juga yang hanya dengan duduk manis di kursi empuk beberapa jenak, jutaan rupiah uang didapat setelah membubuhkan tanda tangan. Bahkan ada yang tidur ngorok pun, ajaib uangnya berlipat ganda sendiri – a random thought.

lombok_cabe_rawit

Lombok di Belakang Rumah

Minggu pagi kamu kemana? Aku, di rumah saja lah. Buatku, tidak ada tempat di dunia ini yang lebih nyaman di hati dari what we called Home. Enak sekali ya jadi anak rumahan seperti diriku, tidak perlu panik gegara kurang piknik.

Dari pada ke tempat hiburan buatan yang penuh sesak manusia-manusia pencari kebahagian semu, berjibaku dengan kemacetan dan kebisingan kota, buatku jauh lebih membahagiakan duduk manis di depan rumah di bawah pohon kelapa, sambil menikmati kelapa muda yang kupetik sendiri dari depan rumah; sambil membaca buku-buku sastra klasik yang baru saja aku beli dari pasar turi; sambil memandangi bunga-bunga beraneka warna yang sedang bermekaran ditingkahi kupu-kupu, lebah, dan capung. Diringi suara cici ruit burung kelangenan milik para tetangga dan burung-burung liar di ‘hutan belantara’ belakang rumah.

Pagi ini, si kakak dan bundanya sepulang dari sepedaan membawa sebungkus gorengan. Weci namanya kata orang Banyuwangi, Ote-ote kata orang Jombang, dan Bala-bala kata orang Bandung.

Aku ambil weci hangat sebuah, lalu kupetik sebiji lombok langsung dari pohonya, di belakang rumah, masih segar, masih putih belum memerah. Nyam, kumakan weci sepotong, kukunyah tiga kali. Lalu, kres ku kremus lombok langsung separuh. Ku kunyah-kunyah berkali-kali, sebelum kutelan perlahan.

Waw…., sensasi gurih-pedasnya luar biasa Broh! Sudah tak terhitung jumlahnya, berapa kali aku makan weci dan lombok, tapi tidak pernah senikmat ini. Pedasnya lombok segar yang masih muda berpadu dengan gurihnya gorengan campuran terigu, gubis, dan wortel itu sungguh menyuguhkan orkestra rasa yang luar biasa, yang bahkan kata-kata pun tak sanggup membahasakanya.

Alam fikiranku pun terbawa kenangan jaman SD, momentum aku terakhir merasakan sensasi weci paling nikmat di dunia. Beli weci di warung belakang sekolah, dimakan rame-rame di samping sekolah, yang ditutup dengan ritual mengelap tangan penuh minyak di tembok sekolah, mencipta lukisan abstrak terabsurd di dunia.

Aku pun jadi bertanya-tanya, ada apakah gerangan yang membuat sensasi makan weci terenak dunia itu terulang kembali? bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.

Aku pun menemukan jawabnya. Yang bikin enak adalah lomboknya. Aku yang membedeng sendiri dari lombok merah yang sudah membusuk. Lalu memindahkanya ke polibag, setelah tumbuh lumayan besar. Lalu, merawatnya, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Menyirami air, memberi pupuk organik, dan membersihkan hama yang sering menempel pada daun-daunya. Butuh ketelatenan dan kesabaran, tapi aku sangat menikmatinya. Melihatnya tumbuh satu milimeter demi milimeter adalah kebahagiaan yang mengagumkan.

Hingga akhirnya, pohon lombok itu tumbu subur, berbunga, lalu berbuah. Meski buahnya tidak banyak, tetapi buahnya sehat dan besar-besar. Dan pagi tadi aku memetiknya, mencipta sensasi makan weci terlezat di dunia. Kebahagiaan berbanding lurus dengan usaha/ikhtiar yang kita berikan.

Aku jadi tahu, kenapa para petani di dusun-dusun itu, meski kerja keras, literally banting tulang, peras keringat di bawah terik matahari yang menyengat, dan hanya menghasilkan uang yang tak seberapa itu. Tetapi mereka mudah sekali tersenyum, tertawa dan bahagia. Dan sebaliknya, di kantor-kantor gedung bergengsi, dimana peredaran uang berpusat, mudah sekali menemukan orang mengeluh, setres, dan tidak bahagia.

Aku pun jadi paham, mengapa makanan paling nikmat di dunia adalah makanan seadanya yang di makan di gubuk tengah sawah, yang dimakan bersama setelah lelah bekerja. Bukan makanan di restoran paling mahal di pusat keramaian kota.

Ada orang yang ditakdirkan untuk mendapatkan uang sedikit saja, harus diiringi dengan susah payah, banting tulang, peras keringat. Tetapi, ada juga yang hanya dengan duduk manis di kursi empuk beberapa jenak, jutaan rupiah uang didapat setelah membubuhkan tanda tangan. Bahkan ada yang tidur ngorok pun, uangnya secara ajaib berlipat ganda sendiri. Tetapi uang hanyalah uang, dan rejeki bukanlah sekedar uang. Dan sebaik-baiknya rejeki adalah kemudahan untuk tersenyum, tertawa, dan berbahagia. Dan semua kita tahu, kita punya jatah rejeki sendiri-sendiri, yang tak akan pernah tertukar.

 

Full-time Mother

… masihkah manusia modern bersedia menjadi full-time mother? – a random thought

inayah_wahid

a random illustration

Ada beberapa peristiwa dalam hidup yang tak mudah luntur dari ingatan, bahkan menjadi ingatan abadi sepanjang usia.  Seperti peristiwa pagi itu.

Aku pagi-pagi datang ke city centre, sesuai jam janjian datang ke city council, untuk mengambil akte kelahiran anak kedua saya.  Setelah menunggu beberapa jenak, seorang pria baya berpakaian sangat rapai lengkap dengan jas dan dasi, menjemput saya di ruang tunggu.

Dengan senyum yang bersahabat, bapak itu menjabat erat tangan saya, dan mengajaknya masuk kedalam ruang kerjanya. Sang Bapak memperkenalkan diri. Beliau mengaku sudah lama pensiun dari profesi sebelumnya sebagai guru komputer di sekolah, dan saat ini mengabdikan sisa hidupnya di city council sebagai pelayan masyarakat.

Di depan monitor komputernya, bapak itu mencoba mengkonfirmasi data-data kelahiran anak saya yang sebenarnya sudah terintegrasi dengan data di rumah sakit tempat anak saya lahir.  Saat Dia menanyakan apa pekerjaan istri saya. Aku pun menjawab housewife, ibu rumah tangga maksud ku.

Hemm, i don’t like that word, i think it should full-time mother.

Yeah, ibu penuh waktu, bukan ibu rumah tangga. Rasanya memang lebih mulia full-time mother ketimbang Ibu rumah tangga. Relasi suami-istri yang sangat sejajar di budaya barat, pekerjaan full-time mother sepertinya menjadi semakin langka. Tidak sedikit perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Dan mereka baik-baik saja. Tetapi kabarnya, negara maju mengalami permasalahan baru: aging population. Prosentase terbesar demografi penduduknya adalah generasi tua yang tak lagi produktif.

Nah loh, betapa mulianya kalian wahai para ibu penuh waktu! Manusia apa yang kamu cari?

Ritual PJKA

… hanya menulis pikiran yang sepintas lalu hadir di fikiran – a random thought

snow_nott

a random illustration

Sepasang lelaki dan perempuan memutuskan untuk menikah tanpa proses pacaran. Lewat ta’aruf saja, alias persengkokolan perjodohan, lebih syar’i katanya. Lagian, usia sudah tak lagi muda. Toh, ikhtiar penjajakan bernama ‘pacaran’ tak menjamin langgengnya usia pernikahan. Pun sebaliknya, banyak cinta tumbuh mewujud dalam pernikahan yang langgeng, meski lewat perjodohan semata.

Tetapi pernikahan memang tak melulu tentang cinta-cinta. Nyatanya tak pernah mudah menyatukan isi dua kepala yang berbeda, meski rambut boleh sama hitamnya. Imajinasi suami akan istri solehah yang selalu menurut apa kata suami, mengabdi sepenuh hati dengan merawat suami dan buah hati di rumah rasanya hanyalah ilusi. Suami dan istri pun kekeuh meniti karir sendiri-sendiri. Meski, berpisah kota adalah konsekuensinya.

Sang suamipun mengalah, ritual PJKA: Pulang Jumat Kembali Ahad, pun ditempuhinya. Sepanjang hari kerja hidup sendiri di ibu kota. Jumat malam pulang untuk kembali lagi hari minggu petang. Hidup bersama pun nyaris hanya sabtu-minggu saja.

Rupanya, berjauhan tidak selalu mudah. Terlebih, ketika Tuhan karuniakan malaikat kecil untuk keduanya. Rasanya cinta pada si kecil melebihi cinta pada ibunya. Jadilah hari-hari merajut rindu. Jadilah sabtu-minggu hari yang selalu ditunggu-tunggu. Hari pelampiasan rindu yang mengharu biru.

Apakah kamu sepasang lelaki dan perempuan itu? Argh, manusia modern apa yang engkau cari?

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Mengenal Lebih Dekat Manajemen Bisnis ITS

…. Manajemen Bisnis ITS, creating future business leader – motto

mb_its

mb_its_2

Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dikenal sebagai kampus teknik. Tetapi, jangan salah lo, ITS sudah berkembang pesat sehingga saat ini tidak hanya membuka program studi teknik saja, tetapi juga program studi non-teknik seperti: sains, desain/seni, dan yang terbaru adalah manajemen bisnis.

Di ITS, sekolah bisnis ini berada di bawah Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi (FBMT). FBMT ITS saat ini sudah memiliki tiga departemen, yaitu:

  1. Departemen Manajemen Bisnis, dengan program studi Sarjana (S1) Manajemen Bisnis.
  2. Departemen Manajemen Teknologi, dengan program studi Magister (S2) Manajemen Teknologi.
  3. Departemen Studi Pembangunan, dengan program studi Sarjana (S1) Studi Pembangunan.

Untuk postingan kali ini, yuk kita mengenal lebih dekat dengan Program Studi Sarjana (S1) Manajemen Bisnis ITS, yang sudah berdiri sejak tahun 2011:

#Q1: Apa sih prospek kerja lulusan MB ITS?

Tagline dari MB ITS adalah: creating business leader , mencetak para pemimpin bisnis di masa depan. Dikutip dari official site MB ITS, profil lulusan MB ITS adalah:

  • Wirausaha/ pebisnis/ entrepreneur terutama dibidang teknologi.
  • Manajer di berbagai indusri sektor: manufaktur, energi transportasi, kimia, retail, perusahaan jasa, multimedia, perbankan, dll baik di perusahaan nasional maupun multi nasional
  • Bekerja di berbagai bidang: HRD, Marketing, Accounting, Finance Staff
  • Konsultan bisnis

#Q2: Kompetensi lulusan MB ITS, bisa ngapain saja?

cpl_mb_its

#Q3: Apa saja yang dipelajari di  MB ITS?

mk_mb_1mk_mb_2mk_mb_3

#Q4: Apa gelar lulusan MB ITS?

Lulusan MB ITS akan memperoleh gelar Sarjana Manajemen (SM).

#Q5: Apa Keunggulan MB ITS?

MB ITS membuka kelas dual degree dengan The University of Queensland (UQ), Australia. Dengan program ini, sampean akan mendapatkan dua gelar: Sarjana Manajemen (SM) dari ITS dan gelar Bachelor of Business Management (BBusMan) ITS dengan hanya kuliah 3 semester di UQ dan sisanya di ITS.

#Q6: Bagaimana Cara Mendaftar MB ITS?

Ada tiga Jalur, yaitu:

  1. SNMPTN, menerima pendaftar dari kelas XII SMA Jurusan IPA, IPS, dan SMK yang relevan.
  2. SBMPTN, masuk rumpun sosial humaniora (soshum)
  3. Program Kemitraan dan Mandiri

#Q7: Seberapa favorit Program Studi MB ITS?

Dari data tahun 2018, perbandingan jumlah pendaftar: daya tampung untuk jalur SNMPTN dan SBMPTN secara berurutan adalah 982:36 (4,79%) dan 1887:48 (3,87 %)

Informasi Lebih Lanjut:

  1. Website resmi Manajemen Bisinis ITS, di: http://mb.its.ac.id
  2. Account Twitter MB ITS: @mb_its
  3. Subscribe channel youtube MB ITS, disini

Baca Juga:

  1. Informasi Kuliah di ITS
  2. Jurusan Sistem Informasi ITS

 

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Mampir ke Padepokan Puri Tri Agung

… tempat ini mengingatkan ku untuk sesekali merenungi sekaligus menertawakan kehidupan yang tabiatnya telah menjebak kita dalam jeratan rutinitas kesibukan – a random thought

padepokan_1

Padepokan Puri Tri Agung

Cerita ini masih sekitar memoir perjalanan ku ke Pulau Bangka awal bulan Oktober 2018 silam. A random moment in life bring me to this place. Sungguh, perjalanan yang tidak direncanakan. Tetapi, kejutan dalam hiduplah yang membuat hidup terasa lebih hidup. Pak sopir yang baru kami kenal mengantar kami ke tempat ini, another a stunningly beautiful place. Nama tempat yang mungkin hanya akan aku kunjungi once in a lifetime ini adalah Padepokan Puri Tri Agung.

padepokan_4

Pemandangan dari Pedepokan

Yang membuat aku paling senang dari Pulau Bangka ini adalah karena Pulau ini belum banyak dikenal orang. Pulau ini masih kalah populer dengan Pulau kecil tatangganya, Pulau Belitung. Harus diakui, popularitas novel dan film ‘laskar pelangi’ berhasil mengangkat nama Belitung setidaknya ke sorot panggung nasional. Tetapi tidak sama halnya dengan Pulau Bangka.

Kurang populernya Pulau Bangka, buatku justru sesuatu yang harus disyukuri. Keindahan alamnya dapat kita nikmati secara lebih intim. Terbayang kan, betapa amat menyebalkanya mengunjungi sebuah tempat yang penuh berjubel orang-orang, yang sebagian besar datang hanya untuk berfoto, bukan untuk menikmati dan merenungi keindahanya. Apalagi mencoba berbahasa dengan alam semesta.

Padepokan ini terletak di atas sebuah bukit yang langsung berhadapan dengan pantai. Jangan ditanya lagi, pantainya yang indah dan bersih dengan warna turquoise (pirus, biru-kehijauan) yang memesona. Suasana di Padepokan yang adem berkolaborasi dengan pemandangan pantai yang indah. What a stunningly beautiful place, isn’t it? Sejenak tempat ini mengingatkanku suatu perjalanan menyusuri daratan Italy beberapa waktu silam.

Bentuk bangunan padepokan ini berbentuk kerucut bersusun tiga. Mirip dengan masjid Jawa yang biasanya atapnya juga bersusun tiga. Kenapa harus tiga? Ada filosofi tentunya, bukan sekedar purely a random number. Setelah melewati tangga berundak panjang lebar, dengan sisinya yang berwarna putih, di depan Padepokan kita akan disambut oleh sebuah patung (kalau tidak salah) Budha dengan perut gendut, santai dan sedang tertawa. Melihat patung ini, membuat kita jadi ikut-ikutan tertawa. Jadi, kalau sampean lagi setres dengan segala keruwetan hidup, melihat patung ini bisa jadi terapi mujarab penghilang setres. Eh, atau malah jadi kebablasan setresnya hahaha….

Entah mengapa melihat patung ini, jangkar fikiranku langsung terbawa pada sosok Gus Dur. Sosok Gus Dur yang cerdas dalam meningkahi hidup, yang menjadikan permasalahan hidup yang rumit jadi penuh canda. “Gitu saja kok repot”. Bukan untuk menggampangkan permasalahan, tetapi sebuah ajakan untuk menghadapi setiap persoalan hidup dengan gembira. Dengan perasaan gembira, permasalahan hidup akan terasa menjadi lebih mudah bukan? Bahkan pada akhirnya, jadi lelucon belaka.

padepokan_5

Tangga Menuju Padepokan

Bukankah kehidupan dunia hanyalah  la’ib dan lahw, hanya permainan dan senda gurau belaka? Jika kita tidak bisa mempermainkan kehidupan, kitalah yang akan dipermainkan kehidupan. Pada intinya aku paling tidak suka dengan orang-orang yang terlalu metenteng  dalam menjalani kehidupan. Yang kaku dengan aturan yang dibuat-buat sendiri dan menambatkan capain kehidupanya dengan ukuran angka-angka yang  juga dibuat-buat sendiri. Dan buatku, patung ini menjadi semacam justifikasi bahwa urip iku ora usah terlalu serius-serius  rek! apalagi sampai petentengan karena sesuatu dan lain hal. haha 

padepokan_3

Tiga Patung Pemimpin Agama

Memasuki pedepokan kita akan disambut oleh tiga patung pemimpin agama, yang sedang khusuk bermunajat (baca: bermeditasi) dengan caranya masing-masing kepada Yang Maha Memberi hidup. Patung yang paling kiri adalah KONG ZI, tokoh sentral dalam agama Konghucu, yang tengah adalah Patung Sang BUDDHA SYAKAMUNI, dan yang paling kanan adalah patung LAO ZI, tokoh sentral dalam agama Taoisme. Di depan ketiga patung tersaji sesajen berupa tumpukan bunga dan buah-buahan. Wangi semerbak dari kemenyan atau hio atau dupa ataulah apanya yang dibakar memenuhi seluruh sudut ruangan. Rasanya wangi yang tercium masuk menyentuh memenuhi segenap rongga dada.

padepokan_2

Ornamen Atap Padepokan

Ketiga patung ini mengingatkan diriku, bahwa kita manusia, apapun rupa dan bahasnya, hanyalah jiwa-jiwa kering nan rapuh, yang sebenarnya sangat merindukan kehadiran Tuhanya. Karenanya, inti dari agama apapun, mengajarkan cara mendekatkan diri pada Tuhanya. Apakah dengan bermunajat dalam sujud dan dzikir-dzikir yang panjang di keheningan sepertiga malam yang terakhir, ataukah bermeditasi dalam kesunyian, ataukah dengan lagu puji-pujian, pada intinya adalah untuk merasakan peristiwa intim, transedental, menyatu dengan kehadiran Tuhan pada jiwa-jiwa kita yang kering. Jiwa yang tenang, yang dekat dengan Tuhanya, bukankah itu sejatinya sumber kebahagiaan dan ketenteraman dalam hidup?

Hal lain yang menarik perhatian adalah ornamen interior atap padepokan yang indah. Rasanya tak kalah indah dengan seni fresco yang jamak ditemui di gereja-gereja katolik di Eropa. Di Inggris, apalagi di Itali. Eh, tetapi rupanya seni fresco ini juga sudah di adopsi di masjid kampung ku lo. Aku cukup terperanjat kapan hari waktu pulang kampung, sholat di masjid dusun, di pelosok desa, kabupaten Banyuwangi sana, waktu menengadah ke atap kubah masjid. Wau, sebuah pemandangan seni yang mewah sekali untuk ukuran dusun kami. Setidaknya mewah untuk cita rasa seni perkampungan petani tulen di dusun kami. Sebuah ornamen yang didominsi warna biru langit dengan hiasan kelap-kelip lampu hias. Indah betul jika dilihat malam hari. Kabarnya, seni fresco di masjid dusun kami itu menghapuskan puluhan juta rupiah. Jumlah yang sangat besar di mata orang-orang dusun. Tetapi, kabarnya uang itu adalah sumbangan dari pemuda-pemuda dusun kami yang sukses jadi TKI di Korea Selatan dan Taiwan di tambah hasil penjualan kavling kuburan di depan masjid dusun.

Ohya, Padepokan ini terletak di Jalan Pantai Tikus, desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diresmikan oleh pak menteri agama bersama dengan pak menteri pariwisata pada Tahun 2015. Nama desa dan nama padepokan ini rasanya terlalu Jawa. Rebo, bukankah itu cara orang-orang Jawa desa mengucapkan hari Rabu? Begitupun padepokan puri tri agung. Bukankah itu juga terlalu jawa juga? Padepokan kurang lebih artinya pondok, Puri artinya kurang lebih rumah, Tri artinya Tiga dan Agung artinya Besar. Yang kalau aku boleh menerjemahkan secara bebas artinya tempat yang merupakan rumah tiga orang besar. Tiga tokoh agama yang aku ceritakan di atas. Entahlah?

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube