Tentang Hidup

Telaga Spiritual di Belantara Hutan Beton Jakarta

…. kita tidak pernah tahu pasti kapan dan dengan siapa kita akan bertemu – a random thought

habib_kwitang

Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi

Kita tidak pernah tahu pasti kapan dan dengan siapa kita akan bertemu. Tidak ada yang kebetulan, pertemuan itu pastinya untuk sebuah alasan. Sebuah alasan yang akan kita tahu kemudian, kita sadari atau tidak sama sekali.

Beberapa bulan yang lalu, di sebuah acara pelatihan seminggu di Jakarta pusat. Aku bertemu dengan seorang teman, yang meski satu group whatsapp alumni pesantren kami di Jombang belum pernah sama sekali bertemu sebelumnya. Kami sama-sama jadi peserta. Senang sekali rasanya, rasanya it is small world, dunia seluas daun kelor. Apalagi, aku kebetulan sendirian dari Surabaya waktu itu.

habib_kwitang_3

Penanda Makam

Mungkin karena kami pernah satu perguruan, alam fikiran kamipun sepertinya berada dalam satu gelombang. Nyaman sekali rasanya bertemu dengan seseorang yang alam fikiranya satu gelombang. Meski baru pertama kali bertemu, kami seperti dua sahabat lama yang baru dipertemukan kembali. Satu kesamaan kami yang paling ekstrim adalah bahwa kami sama-sama hobi ziarah ke makam para wali. Dengan catatan sang kawan jam terbangnya jauh lebih tinggi dari diriku.

habib_kwitang_2

Pesan Habib Kwitang

Sore itu, sang kawan ingin menunjukkan ku sebuah makam seorang wali di bilangan Cikini, Jakarta pusat. Tidak jauh dari jalan raden saleh tempat pelatihan kami, kami menyusuri jalan kecil pinggir sungai besar yang warna airnya coklat kehitam-hitaman, penuh sampah, dan bau busuknya masya allah, menyengat sekali. Di antara gedung-gedung tinggi, di belantara hutan beton Jakarta yang sumpek.

habib_kwitang_4

Interior Design Masjid Makam

Rasanya mustahil, ada makam seorang wali di tengah-tengah keramaian kota ini. Rasanya tidak percaya, masih ada orang yang aware dengan keberadaan makam wali, diantara kerumunan orang-orang modern Jakarta yang semakin materialistis. Dimana segala kesibukan mereka, pagi, siang, sore dan malam yang tak mengenal lelah berpusar pada satu titik, yaitu modal binti uang. Berhala baru orang-orang modern, entah mereka sadar atau tidak sama sekali.

Sang kawan bercerita, bahwa wali yang satu ini istimewa. Seiring dengan derap pembangunan belantara hutan-hutan beton pencakar langit di ibu kota yang semakin menderu. Makam wali satu ini sudah berkali-kali akan digusur, di relokasi ke tempat lain. Tetapi, ajaibnya tak satu pun alat-alat berat penghancur beton yang perkasa itu mampu membongkar makam sang wali.

Sampean boleh percaya atau tidak. Jika sampean pemuja rasio, tentu hal ini tidak masuk diakal, tidak ilmiah, atau bahkan hoax. Tetapi yang jelas, makam itu sampai kini masih ada disana. Menjadi anomali di tengah rimbunya tata bangunan gedung tinggi menjulang di pusat kota ini. Kata sohibul hikayat, sejak terbukti tak satupun ada alat berat yang mampu membongkar makam tersebut, pada komplek makam itu dibangunlah sebuah masjid kecil. Dan makam wali itu berada di dalamnya. Masjid itu terhimpit diantara gedung-gedung tinggi.

Wali sohibul maqbarat tersebut adalah Alhabib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi. Atau mungkin lebih dikenal dengan Habib Cikini. Sore itu kami sejenak sholat ashar di dalam masjid, lalu berziarah, membaca tahlil dan yasin di makam sang wali yang juga berada di dalam masjid yang wangi semerbak bunga-bunga itu.  Sepertinya, makam ini tidak pernah sepi dari peziarah, walaupun tentu tidak sepektakuler peziarah makam Gus Dur di Jombang atau makam-makam para wali songo. Selalu ada satu dua orang yang berziarah di makam sang wali.

Mengagumkan, masih ada saja manusia-manusia spiritual di tengah-tengah jagad manusia materialistis ini. Makam itu laksana telaga spiritual di belantara hutan beton Jakarta. Bukankah kita semua sejatinya adalah spiritual. Bukankah yang abadi adalah spiritual kita, yang material termasuk jasad kita hanyalah kesementaraan yang cepat atau lambat akan hancur dalam kebinasaan.

Advertisements

Pasar Kwitang

… Rasanya, masa depan dunia literasi di Indonesia begitu gelap. – a random thought

buku_kwitang

Hasil Perburuan dari Pasar Kwitang

Entah sejak kapan tepatnya aku jadi pecandu sastra. Yang jelas, sejak aku kuliah doktor bidang ilmu komputer, sastra adalah tempat pelarianku yang paling indah. Sejak itulah, sastra menjadi candu akut bagiku. Dua dunia yang jauh berbeda sebenarnya, ilmu komputer menuntutku berfikir secara komputasional, dimana nalar logika yang jadi punggawanya.  Sementara dalam sastra, lelembut rasalah punggawanya.

Dulu, saat-saat buntu dengan tesisku, sering kali aku berfikir bahwa aku telah terjebak dalam bidang ilmu yang salah. What? sudah di level S3 baru sadar salah jurusan? But, live must go on. Daripada malu. Terkadang aku berandai-andai, seandainya aku lahir di Inggris atu Finlandia, sangat mungkin aku menjadi somebody yang totally different dengan diri ini. Sayang, aku ditakdirkan di Indonesia, dimana kecerdasan itu terdistorsi hanya sebagai kecerdasan otak kiri belaka.

Tetapi, sebagai penikmat sastra, aku agak pemilih. Entah, aku sama sekali tidak jatuh hati dengan novel-novel national best seller semacam ayat-ayat cinta dan sejenisnya. Yang tokoh-tokohnya begitu sempurna bak Malaikat. Satu-satunya novel kekinian yang berhasil merebut hatiku adalah serial supernovanya Dee Lestari. Selebihnya aku lebih jatuh hati pada novel-novel Indonesia klasik. Buatku, maha karya Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, atau Umar Kayam keindahan dan kekuatan sastranya belum ada yang menandingi.

Beberapa bulan yang lalu, aku berkesempatan pergi ke Pasar Kwitang.  Pasar buku bekas yang terkenal di kawasan senin, Jakarta pusat. Yang pernah nonton film legendaris A2DC pasti ngerti tampat ini. Dari kawasan cikini aku naik bajay, ongkosnya 20.000 rupiah. Lebih mahal dari ojek online sebenarnya. Tapi ini kali pertama aku naik bajay yang popularitasnya mulai tergeser oleh ojek lain. Luar biasa seru juga naik bajay, menyusuri gang-gang sempit, pinggiran sungai yang bau, tapi akhirnya selamat sampai tujuan.

Sampai di lokasi tujuan, aku sampai di salah satu toku buku bekas yang sepertinya sudah mau tutup. Waw… saya takjub luar biasa karena hampir semua buku-buku klasik ada disini. Sayang si penjual memintaku buru-buru karena toko akan segera tutup. Rupa-rupanya, hampir semua buku yang dijual itu bukan buku bekas. Tetapi ternyata kebanyakan buku bajakan. Buku-buku lawas yang sudah sangat sulit dicari di toko buku itu dicetak ulang dengan kualitas kertas dan cetak yang buruk sekali. Kertasnya buram, tipis, cetakanya banyak yang kabur, dan jilidanya sangat lemah. Harganyapun masih cukup mahal. Lebih murah sedikit dari harga di toko buku, tapi dengan kualitas yang jauh lebih jelek.

Tak apa-apalah, lahwong nyarik yang legal sudah sangat sulit ditemukan. Salah satu buku yang paling membuatku merasa beruntung adalah buku Para Priyayi Umar Kayam. Sudah lama aku mencari-cari buku ini. Google pun sudah aku ubek-ubek ndak nemu juga. Alhamdulilah ketemu dan tinggal satu-satunya. Meskipun kertasnya sudah belang-belang tapi masih readbale. Rasanya aku menjadi orang paling bahagia di dunia hari itu. Memang kalau sudah jodoh, tak akan lari kemana.

Sayang, toko segera tutup, karena hari sudah surup menjelang maghrib. Akhirnya aku beralih ke Toko Buku Gunung Agung yang bersebelahan dengan toko buku bekas itu. Aku menjadi pengunjung satu-satunya di toko buku sore itu. Memasuki toko buku di Indonesia itu sungguh sangat memprihatinkan. Sepi peminat. Koleksi bukunya sedikit. Dan harganya sangat mahal. Bahkan banyak toko buku yang jumlah barang dagangan non-buku nya lebih banyak daripada jumlah koleksi bukunya. Ditambah maraknya gadget yang sudah merebut hati orang Indonesia, dari yang masih bayi hingga nini-nini. Sepertinya akan segera tamat saja riwayat toko buku di Indonesia ini.

tokobuku_waterstone

Salah Satu Sudut di Toko Buku Watwerstone Nottingham (www.leftlion.co.uk)

Pengalaman kontras ketika aku masih tinggal di Inggris. Memasuki toko buku itu seperti memasuki alam syurga. Langsung waw saja rasanya. Melihat koleksi buku yang sangat-sangat masif jumlahnya. Di kota tempatku tinggal dulu ada toko buku namanya waterstone. Pertama kali memasuki toko buku itu langsung terpukau luar biasa. Bangunan luas empat lantai itu penuh dengan koleksi buku yang bejibun yang ditata dengan sangat apik. Bagi pecinta buku, memasuki lorong-lorong rak-rak buku itu rasanya seperti jalan-jalan di syurga.

Ada ribuan judul-judul buku yang semuanya menarik untuk dibaca. Di Inggris, sebagaimana kita sudah mafhum, banyak sekali penulis international best-selling author terkenal. Aku bangga pernah tinggal di kota Nottingham, yang merupakan salah satu kota yang ditetapkan sebagai kota literacy dunia. Di Nottingham ini banyak lahir penulis terkenal.

Berbeda dengan di toko buku di Indonesia yang pelit kayak demit, dimana setiap bukunya di bungkus plastik rapat-rapat, tidak boleh dibaca sebelum membeli. Di toko buku waterstone kita bebas baca buku sepuasnya sebelum membeli. Disediakan pula sofa yang sangat confy lengkap dengan warung kopi di dalam toko. Aku bisa kerasan seharian di dalam toko.

lewis-aged-two-looks-at-books-in-a-book-shop-waterstones-nottingham-ar1c8f

Ada juga zona khusus untuk anak-anak. Tempat dimana ribuan buku khusus untuk anak-anak. Duh bukunya bagus-bagus dan lucu-lucu. Ditambah tata ruang yang di desain khusus anak-anak dan dilengkapi area bermain. Anak-anak dijamin pasti betah berlama-lama disitu sambil membaca buku. Sungguh, Inggris adalah salah satu syurga literasi terbaik di dunia.

Tidak hanya jumlahnya yang banyak dan berkualitas, yang paling menyenangkan adalah harga buku yang sangat murah, sangat terjangkau. Untuk buku baru saja, banyak buku yang harganya hanya setengah harga nasi bungkus. Upah kerja part-time satu jam untuk pekerjaan paling rendahan di Inggris aku bisa mendapatkan sampai 6 buku novel. Banyak buku-buku novel yang 5 pound dapat tiga, sementara kalau kerja mengelap meja saja se jam bisa dapat 8-10  pound. Apalagi yang namanya buku lawas, atau buku bekas di charity shop atau carboot, banyak buku yang dijual seharga 2000 rupiah.

Itulah, begitu nyamperin toko buku di Indonesia, keprihatinan itu begitu menyeruak. Jumlah koleksinya yang semakin menyurut, tergerus oleh barang-barang lainya yang dijual di toko buku. Sedikit sekali buku berkualitas. Miskin penulis berbobot. Apalagi buku anak-anak yang bagus, nyaris tidak ada. Dan yang paling menyesakkan dada adalah harganya sangat tidak terjangkau. Harga satu buku novel lawas saja harganya berkisar Rp. 100.000. Itu upah pekerja kasar setelah bekerja sangat keras seharian.

Rasanya, masa depan dunia literasi di Indonesia begitu gelap. Sudah anak-anak mudanya nyaris tidak ada yang berminat baca buku, seiring semakin parahnya kecanduan mereka pada gadget. Miskin penulis berkualitas. Dan harga buku yang tidak terjangkau oleh masyarakat.  Lengkap sudah. Tak heran jika toko buku semakin sepi peminat. Dan gelaplah sudah dunia literasi Indonesia.

Pukul 6 sore toko buku gunung agung di pasar kwitang ini rupanya sudah tutup. Aku pengunjung terakhir dan satu-satunya sore itu. Bayangkan, di kota besar seramai Jakarta pusat, toko buku sudah tutup pukul enam sore.  Aku hanya mendapat dua buku klasik, the history of java dan babad tanah jawi, yang keduanya ditulis oleh orang Inggris dan orang Belanda. Alamak, pengetahuan tentang bangsa sendiripun rupanya sudah jadi milik orang asing. Hallaw Indonesia, masih tidurkah?

Setangkup Cerita Dari Banyuwangi

…  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali. – a random thought

banyuwangi_1

Pantai Cemara Banyuwangi

Banyuwangi. Nama kota kecil di ujung tenggara pulau Jawa ini begitu istimewa di hatiku. Bukan saja sebagai hometown, tempat aku lahir, tumbuh mendewasa dan selalu ingin kembali pulang kepadanya, kemanapun aku pergi.  Lebih daripada itu semua, setiap kembali ke kota ini aku merasa kembali menemukan hidup kembali.

banyuwangi_p_merah

Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Masih seperti dulu, kota ku ini tetap bersahaja. Bahkan jalan di depan rumahku, sejak aku lahir hingga sekarang yang sudah separuh usia menuju senja pun, masih istiqomah seperti dahulu. Jalan makadam yang bergelombang dan bergeronjal. Kalau sampean naik mobil, siap-siaplah begoyang-goyang sepanjang perjalanan. Orang-orangnya pun masih peramah dan pemurah seperti dulu. Dan sawah dan ladang masih sepermai dahulu.

banyuwangi_sawah

Sawah, Banyuwangi

Hanya saja, kampungku tentu saja tak luput dari gempuran konsumerisme. Orang-orang kampung yang sukses bekerja di luar negeri, rumahnya menjadi magrong-magrong, tak kalah dengan rumah-rumah yang sering dipamerkan di sinetron-sinetron. Jumlah toko pun meningkat luar biasa jumlahnya, meskipun jumlah rumah kayaknya tak jauh berbeda. Katanya, orang-orang yang pada mulai malas bertani berebut alih profesi menjadi pedagang dan penoko. Tinggal duduk-duduk manis di rumah, uang datang sendiri.

banyuwangi_kambing

Kambing di Kampung

Para generasi tua masih setia bertani, hanya saja yang ditanam tidak lagi sama. Dulu sawah-sawah di Banyuwangi hanya digilir dengan tanaman padi, kedelai, dan jagung atau palawija lainya. Sekarang sebagian besar sawah ditanami dengan buah jeruk dan buah naga. Lebih menguntungkan katanya. Sejak pemerintah rajin impor beras, kedelai, dan jagung. Bertanam tiga tanaman itu, bukan saja untung sedikit, tapi malah tekor. Bahkan pengusaha tahu dan tempe di kampung saja tidak mau pakai kedelai lokal, kedelai impor lebih menguntungkan katanya.

banyuwangi_p_cemara

Pantai Cemara

Yang selalu aku rindukan dari desa adalah orang-orang dan alamnya. Berbeda dengan manusia-manusia modern di kota yang semakin mekanistis, di desa aku masih menemukan sebenar-benarnya manusia. Ketulusan, kepolosoan, dan kebersahajaan dalam tata pergaulan dengan orang-orang desa adalah sebuah kemewahan. Kemewahan diantara jamak tata pergaulan orang-orang modern yang penuh gimmick, politis, beragenda, dan atas dasar kepentingan. Kepentingan duit, di ujung-ujungnya.

banyuwangi_sawah_2

Alam Desa

Alam desa yang alamiah adalah penglipur syurgawi dari suasana kota yang sumpek. Peradaban gedung-gedung tinggi dan pendingin buatan, keramaian dan kesemrawutan kota sering kali teramat melelahkan jiwa.

Industri pariwisata sedang bergeliat di Banyuwangi. Entah berapa anggaran telah dikucurkan untuk media, sehingga membuat Banyuwangi naik daun. Walaupun sebagai orang Banyuwangi asli, sebenarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja, banyak tempat wisata yang dulu menyimpan keindahan alamiah, sekarang banyak yang di dandani. Buatku itu malah seperti gadis desa yang di dandani menor. Bukanya tambah cantik, tapi malah norak. Aku lebih jatuh cinta dengan kecantikan alamiah gadis-gadis desa, eh maksudku tempat wisata desa itu.

banyuwangi_desa

Sudut Desa

Diantara yang paling istimewa adalah pantai pulau merah di garis pantai selatan Banyuwangi. Tidak ada pulau merah nya sebenarnya. Hanya seonggok pulau kecil yang di kala senja terlihat kemerah-merahan. Pantainya bersih, pasirnya coklat, dan yang paling memesona adalah airnya yang jernih berwarna biru, kehijau-hijauan alamiah (baca: turquoise).

Terlepas dari tempat-tempat wisata di Banyuwangi yang sedang naik daun. Di Banyuwangi yang paling istimewa adalah ibu.  Ibu yang selalu membawa kedamaian dan kesejukan. Ibu yang masakanya selalu istimewa. Ibu yang luar biasa. Aku bisa betah berlama-lama di rumah saja. Karena Ibu adalah rumah yang sebenarnya itu.

Pak Tani

… pada mu aku belajar tentang kepasrahan menjalani hidup – a random thought

pak_tani

Pak Tani (Lokasi: Wonoasri, Kab. Madiun)

Di pagi-pagi buta, pak tani tua berangkat kerja. Berjalan gagah penuh keyakinan dengan caping dan dua keranjang menggantung dipundaknya. Telapak kaki telanjang nya menapak pasti jalanan terjal berbatuan.

Pak Tani, berapa uang yang akan kau dapatkan sepagi ini? Berapa uang yang dapat kau kumpulkan hingga petang nanti? Berapa uang yang akan masuk di rekening di tanggal muda bulan depan nanti?

Jika itu aku tanyakan kepada mu, engkau pasti menjawab dengan senyum tulus mu: hehe, apa itu rekening mas? aku ora ngerti, aku ora nduwe.

Pak Tani, aku sudah tahu. Jiwa-jiwa mu adalah jiwa-jiwa merdeka. Bukan jiwa-jiwa yang terkangkangi oleh harta dan benda. Semangat kerjamu bukanlah berjuta-juta uang layaknya orang-orang kantoran. Semangat hidupmu bukanlah menumpuk-menumpuk, melipatgandakan kekayaan layaknya para businessman.

Buatmu, hidup mung sadermo ngelakoni. Kepasrahan total pada yang maha memberi kehidupan. Seperti burung-burung pipit yang keluar dari sarangnya di pagi hari, dan kembali pulang dengan perut penuh sewajarnya. Tak ada timbunan makanan di sarangnya.

Ku tahu, jiwamu merdeka. Tak ada ketakutan akan masa depan, karena engkau percaya sepenuhnya pada Tuhan. Mesti kesalehanmu tak pernah kau pamerkan.

Dan, jiwa-jiwa kami adalah jiwa-jiwa rapuh. Yang selalu mengkhawatirkan akan ketidakpastian masa depan. Kami sering lebih percaya pada jaminan pekerjaan, jabatan, dan tabungan untuk masa depan. Daripada bersandar sepenuhnya pada jaminan Tuhan. Meskipun kami sering memamerkan kesalihan kepada Tuhan kami kepada teman-teman.

Pak Tani, tahukah  kamu, Pak Jokowi, presiden kita yang kabarnya bersahaja seperti mu itu, hutang ke luar negeri dalam jumlah yang bahkan akan teramat sulit untuk hadir dalam imajinasimu, untuk membangun badan negeri ini. Akankah ini kabar bahagia bagimu?

Jangan-jangan kamu malah menasehati kami. Bukan badan bangsa ini yang perlu dibangun, tapi jiwa-jiwa bangsa ini yang sakit yang perlu dibangun.

 

Apa Kabar?

… sudah lama tak bersua, hanya ada satu kata: rindu. – a random thought

gudeg_yogya

Gudeng Yogya

Apa kabar? semoga kamu baik-baik saja ya. Terlalu lama aku tidak menulis, berbagi cerita-cerita hidup. Semua itu, akhirnya menyisipkan satu kata tanpa koma, rindu. Aku hanya ingin bercerita, beberapa hari yang lalu aku pergi ke Yogyakarta dan aku menikmati makanan penuh citarasa ini: Gudeng.

Bukan gudegnya Yu Djum yang melegenda itu. Hanya gudeng biasa yang disajikan waktu sarapan pagi di hotel bintang biasa saja. Yang kunikmati sambil mendengarkan gamelan jawa yang ditabuh seharian penuh di lobi hotel, dengan irama amat halus dan perlahan oleh seorang lelaki dan tiga perempuan tua, yang entah dibayar berapa. Itu saja cerita ku. Dan aku sudah tahu ini termat tidak penting tidak penting untuk diceritakan.

Kabarku? apakah itu penting buat mu? Aku sebenarnya ingin bercerita tentang cerita sedih ini. Tentang kehilangan yang teramat dalam, tentang kesedihan yang terberat sepanjang hidupku. Tetapi setiap aku ingin mulai bercerita, airmataku selalu deras mengalir dari kedua kelopak mataku ini. Biarlah kusimpan sendiri, hingga akhirnya aku kuat untuk menceritakanya.

Semoga kamu baik-baik saja.

Surabaya, 21.11.2017, Ditulis sambil menunggu hujan turun di penghujung senja.