Category Archives: Tentang Hidup

Pangkal Pinang: One Fine Day

… seluruh sudut kota seolah bercerita – a random thought

pangkal_pinang_1

City Map: Kota Pangkal Pinang

Apa yang kamu rasakan saat mengunjungi tempat yang baru untuk pertama kali? nggumun, senang atau biasa-biasa saja? Dan apa yang akan kamu cari? makanan, tempat yang bagus?

Jalan kaki sendirian menyusuri gang-gang sempit, menjejaki sudut-sudut kota, pasar, trotoar untuk merasai suasana khas kota adalah ritual wajib yang akan aku lakukan ketika mengunjungi tempat yang baru. Meskipun, rasanya belum ada kota di negeri ini yang ramah pejalan kaki.

Trotoar yang banyak ranjaunya disamping got yang baunya na’udzubillah min dzalik, jika tidak hati-hati kaki kamu akan terperosok ke dalam got, adalah gambaran typical jalanan kota-kota kita. Jalan raya yang super crowded dengan pengendara yang tidak menghiraukan rambu zebra cross, yang saat kita mau menyeberang rasanya seperti mempertaruhkan separuh nyawa kita.

[bersambung]

 


Menjemput Senja di Kota Padang

… ada kenangan yang tertinggal di sudut ingatan setiap menunjungi tempat baru – a random thought.

padang_senja_1

Pantai Malin Kundang

Buatku, salah satu hal yang paling membahagiakan di dunia ini adalah mengunjungi tempat baru. Dan inilah cerita ku pertama kali berkunjung ke Kota Padang. Walaupun saat cerita ini ditulis, aku sudah dua kali mengunjungi bumi minang ini.

Setelah acaraku selesai, sore itu aku berniat menghabiskan hari hingga malam menjelang dengan jalan-jalan sendirian menyusuri sudut-sudut kota Padang. Menyusuri sudut-sudut kota dengan berjalan kaki adalah ritual wajib bagiku, setiap kali mengunjungi tempat baru.

padang_senja_2

Suasana di pinggir pantai arum manis

Aku googling sebentar, untuk mencari must see before die places di kota Padang. Dan, pilihan ku jatuh pada pantai arum manis atau pantai malin kundang di pinggiran kota melewati bukit. Gojek, selalu menjadi pilihan terbaik saat-saat seperti ini. Tidak pakai ribet, cuss langsung ke tempat tujuan.

Dari pusat kota padang menuju pantai arum manis harus melewati jembatan legendaris, jembatan siti nurbaya namanya, yang mengangkangi sungai terbesar di kota Padang yang sudah sangat dekat dengan muara sungai. Lepas dari jembatan, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki bukit. Cukup menanjak tetapi tak jadi persoalan, karena kebetulan armada motor gojek yang aku tumpangi adalah motor laki yamaha vixion.

Dari atas bukit, pantai pesisir kota padang terlihat begitu waw. Airnya jernih, biru kehijau-hijaun terlihat dari pohon-pohon yang rimbun. Sesekali terlihat kapal laut merapat di teluk bayur.

padang_senja_3

Kampung Nelayan

Setelah lebih kurang lima belas menit perjalanan, sampailah kami pada Pantai arum manis. Di sekitar pantai, dipenuhi lapak pedagang makanan. Tetapi rupanya banyak yang kosong. Sepi, tak banyak yang berkunjung di pantai sore itu.

Aku ngintik ke bibir pantai, dengan kamera siap membidik. Yah, penonton kecewa, pantai tak seindah yang terbayangkan. Kotor dan tak terawat itu kesanya. Air laut yang terlihat jernih indah biru kehijau-hijauan dari atas bukit, menjelma menjadi hitam dan keruh di Pantai ini. Pasir pantai juga tidak menarik untuk dilihat.

Satu-satunya daya tarik dari pantai ini adalah jejak Malin kundang dan kapalnya yang membatu di pinggir pantai. Sayang, lokasinya cukup jauh dari tempatku berdiri. Akupun enggan menuju kesana.

Hari semakin surup, pantai terlihat semakin sepi. Burung-burung terbang menuju bukit. Lalu hilang ditelan pepohonan. Aku khawatir akan kesulitan mencari driver gojek yang mau datang ke tempat ini. Beruntung masih ada yang bersedia menjemputku untuk kembali ke kota.

Aku minta turun di kawasan padat penduduk, di bawah Jembatan Siti Nurbaya. Kampung nelayan sepertinya, terlihat sejumlah perahu tertambat di pinggir sungai. Sayang, lagi-lagi sungainya kotor penuh dengan sampah plastik. Sangat merusak pemandangan sebenarnya. Tetapi begitulah, peradaban manusia Indonesia di pinggiran kota sepertinya melihat sampah plastik yang mengotori sungai sebagai hal yang biasa-biasa saja. Padahal aku haqqul yakin, jika bersih pemandanganya tak akan kalah indah dari kota Copenhagen atau kota-kota lainya di Eropa.

padang_senja_4

Anak-anak di Pinggiran Kota Padang

Aku berjalan di pinggir sungai, lalu duduk di pinggiran sungai. Menjadi penonton saat orang-orang sibuk beraktivitas adalah kenikmatan lainya dalam hidup ini. Dari pinggir sungai terlihat rumah-rumah penduduk yang sederhana dengan arsitektur ala kadarnya. Kata kumuh sebenarnya lebih tepat untuk mendeskripsikanya.

Rupanya, kesulitan ekonomi, susahnya perjuangan sekedar menyelenggarakan kehidupan cukup sandang pangan menjadikan estetika tidak begitu penting dalam kehidupan. Tetapi, mungkin tidak dengan kebahagiaan. Kebahagiaan tak enggan menyapa siapa saja yang hatinya tulus menjalani setiap detak nadi kehidupan.

padang_senja_5

Jembatan Siti Nurbaya

Lima orang bocah kegirangan di atas sepeda motor becak, saat aku mengarahkan lensa kamera DSLR ku ke arah mereka. Aku pun mengulas senyum. Aku terpesona dengan dengan tawa mereka yang begitu original. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Beberapa jepretan ku arahkan ke mereka. Tanpa perintah, mereka bereksen dengan senang sepenuh hati. Ada kehangatan memenuhi rongga dada, kebahagiaan mereka sore itu menular perlahan menjalar ke segenap jiwa.

Tak jauh dari pinggiran sungai, aku mampir di warung Mie ayam dan bakso yang laris manis. Penjualnya orang Jawa. Mendengar orang-orang lokal bercakap-cakap dengan bahasa daerah lokal mereka selalu menjadi suasana yang hangat dan menyenangkan. Bahasa membawa budaya katanya. Dan sore itu aku menyaksikan langsung budaya orang minang dalam tutur kata mereka.

Dari bawah Jembatan, aku menyusuri jalan naik ke atas Jembatan Siti Nurbaya. Hari semakin surup, tetapi di atas Jembatan semakin ramai. Para pedagang mulai menggelar dagangan mereka. Ada jagung bakar dan penganan lainya.

padang_senja_6

Sungai Padang

Lampu-lampu penerangan sudah menyala. Kelap-kelip lampu di atas bukit terlihat indah sekali. Pun sungai yang membelah kota padang ini, semakin indah untuk di pandang. Sungai yang kotor dan kumuh tak lagi terlihat. Berubah temaram dan kelap-kelip cahaya dari rumah penduduk dan pelahu nelayan yang bersandar. Cahanya berpendar dalam air sungai yang tenang.

padang_senja_7

Hari Menjelang Maghrib di Kota Padang

Suasana senja yang indah di Kota Indah. Hatiku menghangat tanda bahagia. Malampun perlahan datang menggulung senja. Sayup-sayup terdengar suara adzan dari TOA masjid terpung di pinggir sungai di bawah jembatan. Sahut-sahutan suara adzan menggema menyambut datangnya waktu maghrib di kota Padang. Menggetarkan jiwa, menuntun hati yang rindu untuk segera bersimpuh kehadapan sang pemberi kehidupan.

Seorang emak-emak tangguh, dengan senang hati memboncengku dengan motor scoopy nya ke masjid provinsi sumatera barat yang megah di tengah-tengah kota. Aku pun larut dalam pujian syukur dan doa-doa. Terima kasih ya Allah atas segala karunia mu dalam hidup hari ini, kemaren, dan hari-hari yang akan datang.

 

 


Rumah Suwong Mbokde

“… dari perjalanan  hidup mbok de yah, aku sedikit banyak belajar tentang runyam dan rumitnya melakoni bahtera rumah tangga yang tak semudah dan seindah yang kebanyakan dipamerkan di media sosial belakangan” – a random thought.

img_20190623_131841

Bahtera di Laut Selatan Pulau Jawa

Bulan lalu, paripurna sudah selamatan kepergian mbokde yah ke alam barzah. Seribu hari sudah mbok de yah meninggalkan alam dunia yang fana dan banyak kepalsuan ini untuk selama-lamanya. Semua anak-anak mbokde yah: Yu Siti, Kang Jon, Mbak Sur, Mbak Nurul semuanya datang berkumpul di rumah peninggalan almarhumah itu.  Satu-satu nya anak mbokde yang tidak hadir adalah Kang Malik, yang kebetulan satu-satunya anak ragil mbok de yang merantau di Larantuka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sepeninggal Pakde Sodir dan Mbokde yah, rumah yang tepat di sebelah rumah kanan rumah ku- rumah orang tua ku lebih tepatnya, itu menjadi suwung alias tidak berpenghuni. Sesekali digunakan untuk acara selamatan sekaligus reuni anak-anak mereka mulai selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, pendak 1, pendak 2, hingga 1000 hari dari kematian beliau berdua. Kini, setelah habisnya selamatan mbokde, rumah itu benar-benar suwung.

Sebenarnya, hak waris rumah ini jatuh ke tangan Kang Malik. Berhubung yang bersangkutan merantau, jadilah rumah itu suwung entah sampai kapan. Hari gini, semakin sedikit anak muda yang masih mau bertahan hidup di desa. Apalah yang bisa diandalkan dari ekonomi pedesaan selain bertani? menjadi petani? ah yang bener saja, mana ada anak muda jaman sekarang yang mau hidup sederhana?

Buat ku, rumah mbokde yah, yang tidak lain adalah kakak tertua bapak ku, menyimpan banyak kenangan. Aku ingat betul waktu rumah itu dibangun, aku masih kanak-kanak dan hampir tiap malam ketika rumah itu masih dalam proses pembangunan, kami jadikan untuk main jumpritan alias hide and seek.  Sebelum rumah itu dibangun, bentuknya melebar, dimana posisi dapur berada di samping kanan rumah. Sedangkan rumah yang baru bentuknya memanjang dengan dapur di belakang.

Karena rumah kami bersebelahan, banyak memori ingatan tentang pak de dan mbokde yang tertinggal di sudut kepala.

Seperti lazimnya orang-orang desa pada umumnya, mereka adalah pasangan petani. Yang sehari-hari, tanpa mengenal weekend dan hari libur, waktunya dihabiskan di sawah. Selain di sawah pakde juga memelihara kerbau yang gemuk-gemuk. Pakde terkenal berbakat memelihara hewan ternak. Meski tidak ada yang istimewa, tetapi entah mengapa ternaknya beranak pinak dengan cepatnya.

Jika musim bertanam padi tiba, kerbau itu digunakan untuk menyingkal dan menggaru tanah sebelum ditanami padai. Tidak hanya untuk sawahnya sendiri, pakde juga melayani jasa menyingkal dan menggaru milik orang lain. Memelihara kerbau pada saat itu lumayan menguntungkan, sebelum akhirnya tenaga kerbau itu tergantikan oleh mesin. Selain, berbakat beternak kerbau. Pak de juga berbakat menanam pisang. Tapi hanya untuk satu jenis pisang saja yaitu pisang hong.

Hal lain yang terkenang dari Pakde adalah keahlianya membuat wayang dari batang daun singkong. Di sela-sela ngarit, mencari rumput di ladang untuk ternaknya. Sambil leyeh-leyeh melepas lelah, di bawah pohon singkong yang rimbun di ladang, pakde lihai membuat berbagai wujud tokoh pewayangan lengkap dengan detailnya. Mulai dari tokoh janoko alias arjuno hingga tokoh semar. Andai saja waktu bisa diputar kembali, ingin sekali aku diajari.

Sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya, kehidupan rumah tangga pakde dan mbok de juga lumayan rumit. Beruntung aku bisa melihat kerumitan mengarungi bahtera rumah tangga itu secara langsung. Jaman sekarang, kita lebih sering melihat kepalsuan di media sosial.

Permasalahan umum kehidupan orang-orang desa. Mulai masalah ekonomi, kenakalan anak-anak, hingga masalah umum pasangan suami istri. Pertengkaran adalah hal lumrah yang terjadi, sebelum akhirnya rukun kembali. Sungguh perjalanan hidup yang runyam dan rumit tentunya.

Tetapi kini, pakde dan mbok de sudah melalui semua kerumitan dan kerunyaman hidup itu. Semoga tenang dan bahagia di alam keabadian di sana (allahu yarham huma, alfatihah..). Life is not always all about happiness like the sky that is not always bright. Hidup seperti permainan yang kadang tidak mudah untuk dimainkan. Karena dunia bukanlah surga, tetapi dunia adalah tempat ujian untuk menguji siapakah yang terbaik amalnya.

 


Cerita Sendu dari Bangku Kereta Senja

Life is like piano the white keys represent happiness and the black keys represent sadness. But, as you go through life journey remember that the black keys also make music – taken from random place

Jendela Kereta Senja

Kemaren, selepas sholat maghrib jamaah di mushola stasiun, aku seperti biasa, naik kereta senja. Kereta kelas ekonomi, jurusan terakhir lewat kota Malang. Pendingin ruangan yang dipasang di gerbong kereta api senja itu terasa sangat dingin sekali. Untung saya memakai hoodie.

Susunan kursi kereta ekonomi ini sama dengan bus ekonomi, susunan dua-tiga. Bangku sisi kanan gerbong untuk dua orang dan bangku sisi kiri untuk tiga orang, dengan penomoran kursi ABCDE, dimulai dari yang paling kiri.

Aku kebetulan dapat kursi dengan nomor D, yang artinya aku duduk dikursi yang untuk dua orang. Dari stasiun keberangkatan, sebelah kanan ku ada seorang mbak-mbak muda, sementara kursi di depan ku masing kosong.

Di pemberhentian stasiun berikutnya, kursi di depanku terisi oleh dua orang perempuan. Yang satu, usianya saya taksir lima puluh menjelang enam puluh tahun. Pakai baju kurung lengkap dengan jilbab sederhananya yang terlihat masih cantik di usia senjanya. Satunya lagi, embak-embak muda, cantik badanya montok, rambutnya digerai sebahu dicat warna pirang. Bila diperhatikan lebih dalam, dua wajah perempuan itu amatlah mirip.

Aku sangat yakin, hubungan keduanya adalah ibu dan anak. Yang menyita perhatianku adalah bayi perempuan yang menangis lirih di gendongan si perempuan muda. Dua perempuan itu sibuk menenangkan si bayi. Siapa pun yang melihat si bayi pasti berfikiran yang sama dengan ku. “There is something wrong” dengan si bayi. Usia bayi perempuan itu 15 bulan. Kepalanya mengecil sehingga terlihat agak aneh. Sementara tangan kiri dan kaki kirinya terlihat kaku seperti tidak bisa digerakkan. Dan kaki kirinya dalam kondisi diperban. Katanya baru saja di gips. Si genduk terus saja menangis lirih, aura wajahnya memancarkan rasa kesakitan yang amat dalam. Si ibu, berusaha menenangkan dengan memberi botol susu, tapi tangisnya tak juga reda.

“duh, kasihan banget sampean nduk”. Tak terasa, mata ini mbrebes mili. Untung aku lagi batuk dan membawa segepok tisu di tas.

Ini bukan kali pertama aku melihat bayi-bayi tak berdosa itu diuji dengan sakit. Kapan hari aku bertemu dengan seorang bayi perempuan yang menderita hidorsefalu, kepalanya membesar. Ada juga bocah laki-laki yang ada tumor di kepalanya. Ada juga bayi perempuan yang harus dipasang selang dihidungnya untuk selamanya.

Kemarenya lagi bertemu dengan seorang kakek yang sedang dalam perjalanan dengan cucunya lelaki yang sudah berumur 22 tahun, tapi tingkahnya seperti anak-anak. Konon sejak umur dua tahun, ayahnya meninggal dunia, dan sejak umur 12 tahun hingga saat ini mengalami sakit gangguan jiwa. Duh ya Allah, semoga segera kau sembuhkan hamba-hamba mu yang kau cintai.

Begitulah hidup, it is not all about happiness, but sometime about sadness. Jika sedang bahagia, janganlah banget-banget, jika sedang bersedih bersabarlah, kebahagiaan sedang menanti mu.


Lima Cerita, Hidup Sederhana

… mengapa hidup sederhana? karena kalau ada hal yang mampu kita lakukan dengan baik dalam hidup ini, itu tak lain adalah membuat segala sesuatu menjadi rumit! – hidup sederhana, desi anwar

Hidup Sederhana, Desi Anwar

Kemaren, dan kemaren nya lagi cukup lama, aku untuk ke sekian kalinya terdampar di belantara beton ibu kota. Sendirian tentunya. Killing time, sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang masih terlalu lama dengan menyusuri sudut-sudut kota saat sebagian besar penduduknya sedang sibuk di depan layar monitor di balik pohon-pohon beton yang tinggi besar, seolah ingin menyundul langit.

Ada kebahagian sendiri, ketika orang-orang terlalu sibuk dengan aktivitasnya, sementara aku do nothing, mbambung ndak jelas. Menjadi penonton kehidupan orang-orang yang larut dalam kesibukan hidupnya masing-masing.

Dari sudut-sudut gang sempit yang riuh dan kumuh, sampai pusat perbelanjaan elit, senayan city, thanks to Gojek. Pagi itu, aku menjadi salah satu pengunjung pertama mall yang baru buka. Sepi, mungkin karena hari kerja.

Sudah kuduga, di mall ini yang ada hanyalah lapak toko-toko brand luar negeri. Untung aku pernah tinggal di luar negeri, sehingga cukup familiar dengan nama brand-brand itu. Setelah muter-muter ndak jelas, pada akhirnya aku mampir ke lapak toko pakaian bayi. Sungguh ndak enak banget, diperhatikan mbak-mbak penjaga toko.

Gila, lo harganya mahal-mahal banget. Celana bayi doang, harganya paling murah 350 ribu rupiah. Sebenarnya ndak mahal, akunya saja yang miskin haha. Perasaan dulu, di Inggris tidak sulit nyarik celana bayi seharga 1-5 poundsterling (20-100 ribu rupiah). Nah, ketika dijual di negara ini, kenapa harganya jadi berlipat-lipat mahalnya haha.

Akhirnya saya urung membeli oleh-oleh sepotong celana bayi. Setelah naik turun lantai ndak jelas, akhirnya ketemu toko buku dengan jaringan terbesar di Indonesia. Dan di rak buku-buku baru, aku menemukan buku bagus: Lima Cerita karya Desi Anwar. Nah, sebenarnya, dalam tulisan ini aku sekedar ingin mereview buku ini, tapi kok ya ceritanya jadi muter-muter ndak jelas.

Yah, ini adalah buku kedua dari Desi Anwar yang pernah aku baca. Sebelumnya aku pernah membaca buku sang wartawan senior ini yang berjudul faces and places. Bagus sekali tulisanya. Sederhana tapi kata-katanya sangat berbobot. Aku betul-betul jatuh cinta dengan cara Desi Anwar bercerita.

Sesuai judulnya, buku ini terdiri dari lima cerita, yang aku sangat yakin, meski seolah tulisan fiksi, tapi dituliskan berdasarkan true story kehidupan Desi Anwar. Yang aku suka dari Desi Anwar adalah sudut pandang yang berbeda dari orang-orang kebanyakan terhadap kehidupan. Di buku ini, Desi Anwar juga bercerita tentang kehidupan masa kecil hingga masa remaja saat kuliah di London. Dari cerita sederhana mencari kos-kosan, Desi Anwar menyelipkan cerita rumah tangga yang tampak seolah sempurna, ternyata menyimpan permasalahan yang pelik. Kejujuran desi anwar dalam lima cerita ini sungguh, keberanian yang luar biasa. Yang tidak banyak dimiliki penulis pada umumnya, yang biasanya banyak pencitraanya.

Faces and places dan lima cerita adalah buku yang sangat berbobot, bahkan tidak berlebihan rasanya, adalah buku terbaik tulisan orang indonesia, setidaknya versi saya. Aku begitu ketagihan dengan tulisan Desi Anwar, yang pada akhirnya mengantarkan saya menemukan buku lama beliau: Hidup Sederhana. Beruntung, meskipun susah menemukan di toko buku, akhirnya menemukan buku bekasnya di toko online.

Hidup sederhana adalah kumpulan cerita-cerita singkat tentang hal-hal sederhana dalam hidup, seperti leyeh-leyeh, minum teh, berkebun. Meskipun cerita sederhana, tapi sangat menyentil pola fikir kita kebanyakan dalam memandang kehidupan. Setelah membaca buku ini, aku jadi lebih menghargai hal-hal sederhana dalam hidup, yang justru dari hal-hal sederhana dalam hidup inilah, kita justru akan lebih memahami kehidupan ini.

Cukup sekian saja ya tulisan ini, sebagi tombo kangen karena sudah lama tidak menulis. Silahkan baca tiga buku tadi ya, dijamin sangat bermakna! Selamat beraktivitas! Semoga kalian berbahagia hari ini, esok, dan hari-hari berikut nya!