Tentang Hidup

Bid’ah dan Inovasi

… pendidikan disini menjadikan anak-anak kreatif sementara di tempat kita menjadikan anak-anak ensiklopedik. – a random thought

inovasi_ilyas

Anak Lanang dengan Inovasi Pesawatnya

Kemaren, yang telah lama berlalu, selepas sholat subuh jamaah di masjid. Ada seseorang yang menegurku. ” you have made an innovation, and it is not allowed in islam”  begitu, kira-kira pesan yang ingin disampaikan. Dia menggunakan kata “innovation” untuk menerjemahkan kata Bid’ah.

Rupanya tidak hanya di Indonesia, dimana teman-teman kelompok salafi, begitu gencar menyerang perilaku bid’ah, dimana NU, ormas Islam terbesar dengan jamaahnya yang ratusan juta itu (aku salah satunya), menjadi sasaran tembaknya; disini pun aku juga sudah berkali-kali divonis ahli bid’ah. Haha.

Ceritanya, setelah sholat, sebagai orang yang punya sentimental brain, aku sering sujud syukur. Intinya curhat kepada Allah, dan tentunya bersyukur atas segala apa yang telah Tuhan beri dalam kehidupan ini. Eh, malah divonis haram.

Aku pun enteng-enteng saja menanggapinya, meskipun dalam hati sambil ngomel: “Bid`ah endas mu, ngising mari sholat wae oleh, opo maneh sujud syukur“. Saya hanya bilang “thank you for your concern, but probably, we have different understanding“. Yah namanya orang, meskipun rambut sama hitamnya, tetapi isinya beda. Termasuk cara memahami agama. Mungkin mereka yang suka memvonis bid’ah itu, memahami agama dengan sangat textual. Jadi, apa-apa yang tidak secara explisit tertulis di buku-buku teks agama, yang sebenarnya buku-buku itu juga bikinan manusia, ya hukumnya haram. Sementara diriku, lebih senang memahami agama secara kontekstual. Latar belakang pendidikan yang berbeda pun menjadikan pemahaman kita yang berbeda.

Seingatku, selama ngaji fiqih di pesantren dulu, sholat itu dimulai takbir dan ditutup dengan salam. Jadi sependek pemahaman ku, setelah salam ya bebas kita mau ngapain saja boleh. Mau langsung ngising saja boleh, apalagi bersalaman atau bersujud syukur.

Tetapi saya sangat maklum dengan perbedaan pemahaman itu. Dan bukan kapasitas ku, menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Sungguh, wallahu a’lam bissowab. Hanya Allah yang maha mengetahui kebenaranya.

***

Tetapi aku sedang ingin menceritakan tentang Inovasi yang lain. Inovasi dalam membangun peradaban manusia di dunia, bukan peradaban di akhirat. Tentang bagaimana di Inggris ini rupanya semangat menciptakan inovasi sudah dibiasakan sejak bayek. Tak heran, jika banyak inovasi berdatangan dari negeri Inggris ini.

Inovasi inilah pemicu pertumbuhan ekonomi utama di negara maju, bukan konsumsi seperti di negara berkembang seperti di Indonesia. Boleh-boleh saja di media, pemerintah membangga-banggakan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik di dunia nomor tiga di dunia (padahal sebenarnya kurang tepat, lebih tepatnya nomor 3 diantara negara G20, dan banyak negara lain di luar G20 yang pertumbuhan ekonominya lebih tinggi daripada Indonesia, lihat disini), mengalahkan Inggris. Tetapi apalah artinya pertumbuhan ekonomi ranking segitu, jika pendapatan perkapita (yang menunjukan tingkat kesejahteraan) kita masih nomor 158 (yang jarang diekspos media).

Ceritanya kemaren pas liburan musim dingin, karena aku benar-benar nganggur jadi bisa mengamati perkembangan dan tingkah polah anak lanang dari bangun tidur hingga tidur lagi. Rupanya banyak hal-hal yang mengagumkan yang baru aku tahu dari anak lanang yang masih umur 5 tahun, yang aku yakin karena sistem pendidikan dasar yang sangat bagus disini.

Pertama, kemampuan bacanya yang berkembang pesat, sudah book band level 9 (lihat: oxford-owl) . Tidak hanya bisa membaca, tetapi juga paham apa yang dia baca. Terbukti dari hanya sekali membaca, lalu tutup buku, di hampir nyaris sempurna bisa menjawab semua pertanyaan berdasarkan bacaan yang diberikan di akhir buku.

Kedua, kebiasaan berinovasi. Selain pintar menggambar untuk mendeskripsikan sesuatu. Anak lanang juga terampil berinovasi dengan menggunakan barang-barang bekas, e.g. karton, kertas, kaleng bekas, untuk menciptakan sesuatu yang menurut dia baru. Satu yang menjadi poinya, menciptakan sesuatu yang dia fikir belum ada orang yang menciptakan sebelumnya.

Seperti kemaren, tentang pesawat kertas. Mungkin pesawat dari kertas yang bisa terbang sudah terlalu mainstream. Tetapi dia berinovasi dengan memberi roda pada pesawat kertas itu, dan menggambar jendela serta nama pesawatnya. Lalu setelah itu, dia mengambil laptop, buka google, mengetik : “paper aeroplane with plane“, dan diklik tab images. Ketika dia tidak menemukan satu pun gambar yang sama. Dengan excited, anak lanang berteriak dengan bangga: “ Hore!…. I am the first one in the world, making paper aeroplane with wheel“.

Pesawat kertas sendiri sih biasa-biasa saja, tetapi spirit untuk membuat bid’ah, alias inovasi, menciptakan sesuatu yang baru sungguh sangat luar biasa. Tidak hanya pesawat, selama liburan, anak lanang juga berinovasi menciptakan hal-hal yang lainya seperti: kapal laut, sledge, rumah, ikan, dll. yang setiap kali ditanya darimana datang idenya. Dia hanya menjawab: ” it just comes from my head“. Haha!

Aku jadi teringat, jaman aku seumur segitu, di sekolah hanya diajari hafalan. Hafalan nyanyi, hafalan pancasila, hafalan surat pendek. Lalu beranjak mendewasa hafalan pasal-pasal UUD, hafalan perkalian, hafalan nama menteri, hafalan tahun-tahun sejarah, dan hafalan materi-materi pelajaran lainya. Hafalan pelajaran berlanjut hingga kuliah. Apa yang bisa kita harapkan dari otak yang hanya digunakan untuk menghapal itu? Apa bedanya dengan wikipedia?

Tak heran jika miskin inovasi di negeri kita. Tak heran jika kita hanya bisa puas sebagai negara konsumen produk-produk teknologi di dunia, bukan produsen teknologi. Bahkan, kita pun parahnya jadi konsumen ideologi dan jati diri. Hal-hal yang kebarat-baratan dan kearab-araban dianggap lebih bergaya. Tak heran jika agama pun dipahami tak lebih dari hafalan aturan halal/haram. Bukan dihayati sepenuh hati sebagai penghambaan kepada Tuhan, dan inspirasi menciptakan rahmat untuk sekalian alam, inspirasi untuk menciptakan peradaban dunia yang berkemajuan.

Tetapi mungkin aku salah, dunia pendidikan di negeriku mungkin sudah banyak berubah?

Perasaan Sentimentil di Setiap Pergantian Tahun

… apalah artinya pergantian tahun kecuali bertambahnya hitungan kita akan kesadaran dimensi waktu. Bukankah dalam hidup hanyalah ruang dan waktu yang berubah, sementara watak kehidupan selalu sama – a random thought

akhir_tahun_2016

Winter Wonderland 2016, Old Market Square, Nottingham

Yah, sudah akhir tahun lagi, Argh sudah tahun baru lagi. Liburan musim dingin akhir tahun 2016 ini, aku benar-benar merasakan liburan yang sebenarnya. Benar-benar melepas bebas sejenak segala beban fikiran, kerepotan hidup, yang biasanya terasa terus memburu. Menghabiskan hari-hari dan malam musim dingin yang panjang, untuk sekedar kruntelan dengan segenap anggota keluarga, di atas ranjang dan di balik selimut yang sama.

Hanya saja, di setiap pergantian tahun, selalu saja ada perasaan sentimentil yang melintas di hati. Rasanya tak ingin waktu berlalu begitu saja. Rasanya ingin gandoli waktu yang terus melesat bak anak panah yang telah terlepas dari busurnya. Tetapi, siapakah yang bisa melawan keperkasaan sang waktu?

Merambatnya waktu, berarti bertambahnya umur. Umur psikologis rasanya masih seperti anak-anak remaja, tetapi umur biologis rupanya sudah bapak-bapak yang semakin menua.Hahaha.

Merambatnya waktu, berarti pula bergantinya lakon dan peristiwa-peristiwa kehidupan. Aku kadang tak mudah lepas dari jebakan masa lalu dan kadang takut akan ketidakpastian masa depan.

Bersyukur, mungkin satu kata inilah yang paling pas melukiskan suasana hati ku sebagai catatan akhir tahun 2016 ini. Tugas belajar ku akhirnya selesai, Allah ngasih bonus dengan kelahiran anak kedua kami. Sungguh nikmat yang layak untuk disebutkan dan disyukuri.

Tetapi bukan itu sebenarnya yang membuatku begitu sentimentil. Kebaikan-kebaikan orang-orang di sekitar kamilah yang sungguh membuat ku terharu. Hidup di perantauan, juah dari keluarga, tentu bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Tetapi, di kelilingi orang-orang yang baik, rasanya aku sedang berada di tengah keluarga besar ku.

Haru rasanya, melihat teman-teman dengan suka hati, silih berganti berdatangan ke rumah. Bahkan jauh-jauh dari luar kota, dari ujung negeri ini. Membawa kehangatan, kedekatan, dan ketentraman. Memberikan ucapan selamat dan baris-baris doa. Membawa makanan, uang, hadiah. Sungguh membuat ku sangat terharu. Aku hanya bisa berterima kasih, dan untuk selamanya akan berhutang budi. Lemah teles, hanya Gusti Allah yang bisa mbales.

Masih berat rasanya, jika bulan depan kami harus beranjak meninggalkan tempat ini, (most probably) untuk selamanya. Berat rasanya untuk berucap: ” Selamat tinggal kenangan !”. Tetapi, hidup harus terus berjalan. Sudah saatnya, hidup harus berganti cerita.

Meski ada ketakutan akan ketidakpastian di masa depan, aku selalu menasehati diriku sendiri. Bukankah hidup hanyalah perubahan dimensi ruang dan waktu, sementara watak kehidupan ya begitu-begitu saja. Akan selalu ada naik-turun, pasang-surut, senang-susah dalam hidup. Tak ada kesenangan yang terus-menerus. Senang sebentar, habis itu susah lagi. Pun tak ada kesusahan yang terus-menerus. Habis susah-susah, pasti ada kesenangan yang menunggu. Argh, begitulah sifat kenikmatan dunia yang sesaat saja. Amatlah rugi, jika kita selalu mengejar dan memujanya.

Teori kehidupan pun tetaplah gampang dan sederhana. Tak perlu belajar bertahun-tahun seperti halnya studi doktoral untuk menemukan teori baru. Yang penting, gampang syukur, gampang sabar, dan gampang ikhlas. Dan selalu eleng lan waspada akan asal muasal kehidupan kita. Insya Allah, kehidupan akan baik-baik saja, bukan?

Selamat tahun baru kawan! Semoga semua dalam kehidupan kita menjadi lebih baik, dan kita ditakdirkan termasuk orang-orang yang beruntung, ammiin.

Sebelum Fajar : Tiga Lelaki, Senter, dan Buku

… banyak diantara kita merasa tak punya waktu untuk sekedar membaca satu dua halaman buku saja. Padahal berjam-jam waktu terbuang percuma untuk membaca lini masa media sosial di telepon genggam – a random thought

20160609_220045

Ilustrasi: Temaram Malam Menjelang Pagi

Kehidupan modern di kota ini rasa-rasanya hampir seperti robot saja, yang bisa diprogram seperti keinginan kita. Bus, kereta api, di hari dan jam yang sama selalu berada di tempat yang sama. Pun manusia-manusianya dengan segenap aktivitasnya. Semua serba teratur dan terkendali. Memudahkan memang, tetapi terkadang kehidupan seperti itu terasa sangat membosankan.

Aku pun bukan pengecualian, sama seperti orang-orang setengah robot di kota ini. Bangun pagi-pagi di jam yang sama, lalu pergi jalan kaki menapaki jalan yang sama, menuju tempat yang sama. Orang-orang yang kutemui di sepanjang perjalanan pun, orang-orang yang sama.

Dalam perjalan jalan kaki sebelum fajar itu, aku selalu bertemu dengan tiga orang lelaki di tempat yang nyaris sama. Yang pertama orang kulit hitam keturunan Afrika berjaket hitam. Yang dibalik temaram hari yang masih mengandung malam itu, dari agak kejahuan aku sama sekali tak bisa melihat rupa wajahnya. Kami selalu bertukar salam “morning” setiap kali berpapasan. Ya, hanya satu kata itu, tanpa sempat kita saling berkenalan.

Yang kedua seorang lelaki bertubuh tambun, orang British asli sepertinya. Yang selalu kulihat sedang duduk di halte bus. Dan beberapa saat kemudian, bus warna merah jambu bernomor 28, pun datang mengangkutnya. Entahlah, aku tak pernah tahu di halte mana lelaki itu akan turun dari bus.

Yang ketiga, ini yang paling mengesankan bagi ku. Seorang lelaki berkaca mata, paruh baya yang rambutnya hampir memutih seluruhnya, dengan tas ransel di punggungnya. Berjalan sangat cepat, berpapasan dengan ku, tanpa saling menyapa, hanya saling memandang sekerjap saja. Dalam malam yang masih gelap itu, lelaki terlihat sambil membaca buku novel tebal. Tangan kirinya memegangi buku, tangan kananya memegang senter mungil sebagai lampu baca.

Alamak, aku benar-benar nggumun dibuatnya. Kalau orang membaca buku di bus dan kereta, pun sambil berdiri, di negeri ini itu mah hal yang biasa-biasa saja. Tapi ini sungguh istimewa. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam alam fikiranku, untuk melakukanya. Berjalan kaki sangat cepat, di hari yang masih gelap, dingin menusuk di bawah nol derajat, membaca buku ya apa enaknya? menarik selimut tebal kembali menutupi seluruh badan di tempat tidur sambil malas-malasan tidur kembali, alangkah lebih jauh nikmatnya.

Tapi sungguh orang ini mempermalukan ku setiap hari. Aku yang selalu berkilah tak punya waktu lagi untuk membaca buku. Meski tak pernah absen berjam-jam waktu terbuang percuma untuk membaca lini masa berbagai media sosial di telepon genggam. Haha ! Argh….

Kalau di negara yang berperadaban sudah maju saja mereka rajin membaca, kalau kita yang sudah ketinggalan masih malas membaca apa jadinya? Atau apakah karena mereka rajin belajar dan membaca musabab mereka berperadaban maju?

Kang Hakim Yang Atheis

… kadang antara kebenaran dan keyakinan terlalu susah untuk dibedakan – a random thought

startford_17

Ilustrasi (yang tidak nyambung)

Kamis, pukul empat sore, aku setengah berlari turun dari kantor PhD ku, di lantai 3 gedung School of Computer Science menuju lantai 2 gedung Amenities Building yang berjarak hanya sekitar 5 menit jalan kaki. Jam segitu, di musim dingin hari sudah maghrib. Meskipun sedang berpuasa, aku biasanya sholat jamaah maghrib dulu di muslim prayer room, baru kemudian berbuka puasa di graduate centre room yang terletak di lantai yang sama.

Tetapi, hari itu rasa lapar ku rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Lapar tingkat kabupaten saudara-saudara. Gara-gara kalau musim dingin gini malas sekali makan sahur.

Aku langsung menuju graduate centre room, mengeluarkan lunch box dari tas dan memasukkan dalam microwave. Sambil menunggu bekal buka puasa ku menghangat, aku membuat secangkir teh manis hangat yang bahan-bahanya disediakan gratis di ruang itu.

Seorang lelaki muda, yang kurang lebih perawakan dan wajahnya mirip pengamen jalanan seperti foto di atas, dengan sangat agresif, sok kenal sok dekat, melempar seulas senyum kepada ku, dan memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan.

Hello, hai kamu. Kamu pasti muslim ya. Kamu pasti dari Indonesia, kan? Kamu tinggal di kota mana di Indonesia.

Begitu kira-kira sebagian pertanyaan yang aku ingat. Dalam alam batinku, aku bertanya-tanya. Nih orang asing kok tahu ya kalau aku muslim, rasanya tidak ada satu pun simbol agama yang aku pakai. Tebakan ini wajar andaikan saja aku perempuan dan memakai jilbab. Terus, kok dia bisa menebak aku langsung dari Indonesia. Rasanya baru kali ini, ada orang asing yang tebakan pertamanya benar 100%. Biasanya, paling banter mengira aku orang Malaysia.

Setelah micorowave berhenti berputar, aku membawa kotak makanan dan secangkir teh hangat di salah satu meja bundar di ruang itu. Menyeruput british tea dari skotlandia yang harum dan ginastel (baca: legi-manis, panas dan kentel) itu. Lalu, sesuap demi sesuap kunikmati nasi dengan ikan tempe bikinan emaknya anak-anak itu.

Eh, tanpa permisi, Si Mas yang sok akrab tadi, ikut duduk semeja dengan ku. Sambil lahap menikmati roti isi babi panggang, Si Mas kembali memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan kembali.

kamu sehari sholat berapa kali? sekali sholat berapa lama? memang apa yang kamu dapatkan dari sholat? ngapain sih kamu masih percaya sama agama? bukankah agama hanya menjadikan perpecahan, konflik, perang tak berkesudahan saja? Mau saja kamu dibodohi,  agama sengaja diciptakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan?

Begitu kira-kira, beberapa pertanyaan yang Si Mas  ajukan dengan agresif kepada ku. Rupanya Si Mas ini seorang atheis fundamental. Yang sangat gemes jika melihat masih ada orang yang taat beragama seperti diriku. Dia pun bercerita panjang lebar tentang perjalanan spiritualnya. Sebelum menjadi atheis fundamental, Si Mas mengaku pernah percaya adanya Tuhan, walaupun tidak menganut agama tertentu, scientology namanya kalau aku tidak salah. Kini Si Mas benar-benar tidak percaya adanya Tuhan dan dia berusaha meyakinkan ku bahwa keputusanya benar.

Memang kamu percaya ada kehidupan setelah mati? Memang ada orang mati yang datang hidup kembali?

Begitu dia meyakinkanku bahwa hidup itu ya di dunia saja yang harus kita nikmati. Dia seolah-olah kasihan kepada ku. Hidup di dunia sekali saja, kok tidak dinikmati untuk bersenang-senang saja.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, aku mah kalem-kalem saja. Sama sekali tidak emosional. Malah, aku sangat menikmati obrolan itu. Kutanggapi setiap pertanyaan itu dengan santai dan senyum-senyum saja. Aku hanya menegaskan, kalau aku justru menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup sejati dengan menjalani agama itu, tidak merasa terbebani sama sekali. Malah rasanya, aku tidak bisa hidup tanpa bimbingan agama. Aku juga tidak setuju kalau agama dituduh penyebab konflik, itu penganut agamanya saja yang salah dalam memahami agamanya.

Aku tercenung saat si Mas bilang:

apa ketenangan jiwa? kamu fikir dengan atheis tidak bisa menemukan ketenangan jiwa? Gampang saja, jika aku ingin mendapatkan ketenangan jiwa, aku tinggal ngajak my girl friend to have sex. As simple as that.

Haha koplak. Pada akhirnya, kita tidak berhasil sedikit pun mempengaruhi satu sama lain. Kita tetep kekeuh pada pendirian masing-masing. Tetapi setidaknya we have better understanding satu sama lain. Siapa yang benar siapa yang salah? Sayang diantara kita belum pernah ada yang merasakan kematian. Untuk membuktikan ada tidaknya kehidupan sesudah kematian. Kalaupun, ternyata tidak ada, aku pun sama sekali tidak akan pernah menyesal, karena justru agama bagiku adalah jalan cinta yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna.

Apalah artinya kehidupan bila hanya untuk bersenang-senang saja? Toh kenikmatan dunia ya begitu-begitu saja. Hanya sekejap saja. Keyakinan akan kebenaran agama yang aku yakini pun tak menghalangi untuk toleran terhadap orang yang berkeyakinan akan kebenaran yang berbeda. Sebaliknya, semakin aku yakin, semakin aku mudah untuk toleran.

Tak terasa hampir, satu setengah jam kami bercengkrama. Sampai-sampai aku lupa belum sholat Maghrib, padahal waktu hampir saja masuk waktu Isyak. Di akhir perbincangan, kami baru berkenalan. Namanya Kang Hakim dari Azerbaijan katanya. Sejak saat itu, kami jadi akrab. Dia selalu tersenyum ramah dan menyapa ku setiap kali bertemu. Semoga Tuhan memberi mu hidaya Kang Hakim!

Hari-hari yang Mendefinisikan

… kadang kita hanya perlu bersabar, menuggu peristiwa kehidupan terjadi di saat yang paling tepat – a random thought

img_20161130_171350

Anak Lanang dan Anak Wedok

Sudah terlalu lama rasanya tidak menceritakan alam pikiran dan suasana hati dalam tulisan. Bukan sedang dalam kedukaan yang dalam. Hehe, alhamdulilah, wasyukurillah justru banyak peristiwa kehidupan belakangan yang layak untuk disyukuri, walau mungkin tak perlu dirayakan, apalagi secara berlebihan.

Daripada menulis keluhan, lewat tulisan saya kali ini, saya sekedar ingin tahaddus binni’mah menceritakan kenikamatan, anugerah kehidupan yang telah diberikan kepada saya. Indeed, beberapa belakangan ini ada hari-hari penting, hari-hari yang begitu mendefinisikan, yang pastinya tidak akan mudah terlupakan begitu saja di kemudian hari.

19-11-2016

Sabtu pagi hari yang dingin, pukul 10.22, di sebuah bilik rumah sakit Queen Medical Centre, rumah sakit sekolah kedokteran, Universitas Nottingham, telah lahir anak kedua kami. Seorang bayi perempuan yang begitu ayu wajahnya. What a lovely baby girl. Lewat persalinan normal yang alhamdulilah sangat lancar.

Bayi perempuan itu, saya beri nama Alisa Fadilahaya Wulandari. Kupilih nama Alisa untuk mengenang Bidan Alice, bidan cantik jelita, yang aduhai teramat baik sekali hatinya. Yang sepenuh jiwa mengawasi si jabang bayi dari umur beberapa bulan di dalam kandungan. Fadilahaya dari bahasa Arab artinya keutamaan kehidupan, dan wulandari itu bahasa Jawa yang artinya bulan purnama. Sengaja kuselipkan nama jawa biar selalu ingat, asal usulnya leluhurnya sebagai perempuan Jawa. Sebenarnya juga, nama ini sebenarnya nama gabungan dari putri-putri Gus Dur dan Cak Nun. Dua tokoh yang banyak mendefinisikan alam pikiran saya saat ini.

Sejak kehadiran nya, Masya Allah, getar-getar kebahagian melimpah ruah memenuhi rongga jiwa. Ku sangat senang memandangi dalam-dalam ayu wajahnya. Menatap binar matanya. Menggendongnya, menciumi aroma wangi khas tubuhnya. Rasanya semangat hidup ku bertambah berkali-kali lipat.

Thank God! Bimbing kami, semoga kami bisa menjaga dan mendidik titipan Mu ini dengan sebaik-baiknya.

12-12-2016

Hari Senin, tanggal 12 bulan 12 tahun 2016. Tanggal yang cantik. Bertepatan dengan 12 Robiul Awal 1437 H. Hari ulang tahun kanjeng nabi Muhammad SAW. Yang dulu kelahiran beliau juga tercatat pas hari Senin. Lebih tepatnya lagi, menurut penanggalan Jawa, 1212, ini adalah Senin legi. Neton ku, hari kelahiran saya, kata emak ku.

Alhamdulilah, di tanggal ini, akhirnya aku lulus ujian disertasi doktor ku. Tentu tidak semudah membalik halaman kertas ujianya, tetapi overall lancar sekali. Aku percaya ini karena barokah doa-doa teman-teman dan orang-orang yang turut mendoakan ku. Banyak pertanyaan berat, kritikan-kritikan pedas terhadap disertasi ku, tapi rasanya aku cukup puas bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pengujiku itu dan mereka pun kelihatanya cukup puas dengan jawabanku.

Sempat ngeri dan jengah di awal ujian, karena setiap paragrap yang aku tulis mulai dari bab pendahuluan mengundang banyak kritikan dan pertanyaan dari penguji. 2.5 jam berlalu baru selesai 5 bab dari 10 bab disertasiku. Aku pun minta istirahat sebentar, 15 menit untuk wudlu dan sholat Duhur. Alhamdulilah, setelah sholat duhur, ujian sisa 5 bab sangat lancar seperti air yang mengalir. Tidak banyak lagi pertanyaan. Dan akhirnya, kurang dari 1 jam ujian pun berakhir. Aku disuruh keluar sebentar. Aku gunakan untuk sholat ashar, baru dapat dua rakaat, penguji disertasi ku datang menemuiku. Terpaksa aku batalkan sholat ku.

Aku masuk kembali ke ruang ujian, untuk mendengar hasil ujian. Dag dig dug der, mau copot rasanya jantung ku. Takut kalau-kalau failed atau dapat major correction. Mimpi buruk setiap mahasiswa PhD. Alhamdulilah, kedua penguji ku bilang: Great Job, Well Done! aku dinyatakan lulus PhD dengan minor correction. Hati ku girang bukan kepalang. Aku langsung berlari ke ruang ndoro dosen pembimbingku, yang kebetulan pintunya sedang terbuka sedikit. Ku ceritakan bahwa aku lulus. Ndoro dosen pun mengucapkan Congratulation, sambil mengacungkan dua jari jempolnya kepada ku. Aku sekedar mengucapkan terima kasih.

Segera aku kembali ke office ku, menggelar sajadah, melanjutkan sholat ashar yang sempat terputus. Usai sholat ashar langsung ku telpon emak ku di kampung. Mengucapkan terima kasih atas doa-doa yang telah lama dan selalu beliau panjatkan untuk ku. Selepas itu, aku segera keluar gedung kuliah ku. Berjalan setengah berlari dibawah hujan gerimis sore yang tak ku hiraukan, sambil menggenggam erat binder jumbo berwarna merah. Kembali ke rumah ku. Kubawa kabar bahagia untuk istri, Alisa, dan Ilyas. Sungguh, sore itu adalah sore dengan hujan gerimis terindah dalam hidupku.

Alhamdulilah Ya Allah. Ketakutan-ketakutan ku selama ini hilang sudah. Perjalanan perjuangan panjang PhD life penuh luka dan liku, selama 4 tahun penuh di kampus ini terbayar sudah rasanya. Tidak ada prestasi yang membanggakan sebernanya dari perjalanan PhD ku ini sebenarnya. Jangan tanya kualitasi disertasi ku seperti apa. Tetapi setidaknya, kelak aku bisa bercerita ke anak cucuku, aku tidak pernah berhenti untuk menyerah seberat apa pun tantangan dan seperih apa pun luka dari perjuangan ini.

Dan pada akhirnya, aku pun bisa meraihnya. Akan segera kutinggalkan Sekolah Ilmu Komputer Universitas Nottingham ini dengan akhir yang baik, husnul khatimah! Terima kasih teman-teman atas doa-doa dan supportnya. Khususon buat Mas Udin, yang dengan tulus hati menemani ku berjalan dari rumah hingga masuk ruang ujian, menemani ku latihan sebentar sebelum penguji datang, dan menungguiku di luar ruang ujian selama aku ujian. Jazakallah mas!

Buat teman-teman yang masih sedang berjuang ! Sabar, sabar, dan sabar saja pesan ku! Terus berjalan, jangan mudah mutung di tengah jalan, seberat apa pun cobaanya! Bittaufiq wannajah, kawan!

Alhamdulilah ya Allah! Bimbing diriku, dengan sedikit tambahan ilmu yang kau titipkan kepada ku, bisa manfaat dan barokah untuk kebaikan.