Tentang Hidup

Nikmatnya Sejumput Kuasa

… kekuasaan itu teramat sangat nikmat, lalu melenakan – katanya

castle

Ilustrasi: Kastil Penguasa, Ghent, Belgia

Banyak sekali orang berebut kuasa. Dari jaman purbakala, hingga jaman jagat maya seperti saat ini. Tak peduli, seluas apa lingkupnya, banyak orang ingin tampil sebagai penguasa. Sayangnya, meski terlalu banyak para penguasa, dunia sedikit sekali melahirkan pemimpin. Apa bedanya? yang pasti para pemimpin selalu dirindukan dan dicintai oleh yang dipimpinya. Dan hal sebaliknya, untuk para penguasa. Dibenci diam-diam oleh orang-orang yang dikuasainya.

Kadang aku bertanya-tanya, apa nikmatnya berkuasa. Aku baru paham setelah merenungi hal-hal sederhana. Seorang supir angkot yang berkuasa pada para penumpangnya. Guru kepada murid-muridnya. Dosen kepada mahasiswanya. Dokter kepada pasienya. Bahkan seorang kakak kepada adiknya.

Intinya, kuasa itu, meski sejumput begitu nikmat rasanya. Tak heran, di banyak tempat, orang saling sikut, untuk tampil sebagai penguasa. Sayangnya, sebagaimana lazimnya, sesuatu yang nikmat itu cenderung melenakan. Tak heran jika banyak penguasa yang jumawah. Sopir yang jumawa kepada para penumpangnya, dokter yang suka menakut-nakuti pasien nya, atau dosen yang kemaki kepada mahasiswanya. Banyak bukan?

Sebenarnya aku hanya ingin bercerita, curhat lebih tepatnya. Beban batin berada di bawah belenggu kuasa ndoro dosen ku selama empat tahun lebih di kota ini. Duh menyebalkan dan menguras emosi. Punya penguasa yang pelit respect kepada karya orang lain, dan ahli mencaci maki ketidaksempurnaan orang lain, itu benar-benar melelahkan jiwa.

Meski aku sudah lulus, semalam beliau berulah lagi. Kirim lebih sepuluh email ‘caci makian’ dalam hitungan beberapa menit. Ceritanya, artikel jurnal kita sudah pada tahap akhir publishing. Editor mengirimkan ‘proof’, untuk kita periksa terakhir kali sebelum dicetak, beberapa minggu yang lalu. Dan aku tak berani submit ‘semua ok’ tanpa acc ndoro dosen. Seperti biasa, tidak ada respon dari ndoro dosen. Sampai dapat outstanding reminder dari editor, jika dalam waktu tiga hari belum ada respon, maka dianggap tidak ada revisi lagi, dan jurnal langsung naik cetak.

Dan seperti biasa, ndoro dosen baru muncul dengan sejuta komplain, beberapa jam sebelum deadline berakhir. Seperti biasanya, beliau datang dengan sejuta permasalahan tanpa solusi, kenapa kok jadi begini begitu, kurang ini kurang itu, dan aku yang harus pontang panting menyelesaikan permasalahan dan pertanyaan beliau sendiri.

Untungnya, semalam aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tetapi bukanya terima kasih, beliau masih nggerundel kok bisa ya sebelum aku benerin, ‘proof’ nya begitu horrible? Dan beliau belum acc untuk submit juga, malah saya disuruh ngemail editor untuk minta perpanjangan waktu lagi. Preketek! 

Dalam hati pun aku nggerundel , HALLO elu ini nyari masalah apa solusi? HALLO elu ini udah dikasih waktu berminggu-minggu, kenapa baru mulai kerja hanya beberapa jam sebelum deadline? HALLO kalau dirimu sibuk, apakah kau pikir orang lain tidak punya kesibukan? HALLO apakah dirimu tidak pernah berfikir bahwa kata-kata mu itu begitu mengintimidasi dan melukai? HALLO ketika diriku selalu berusaha memberi respect kenapa dirimu tak pernah membeli respect balik sedikitpun? Padahal, dalam hal publikasi jurnal ini, akulah yang seharusnya paling berkuasa, sebenarnya aku bisa saja submit tanpa memberi tahu dia, aku hanya ingin memberi respect saja sama beliau.

Hehehe, dan taukah sampean peristiwa seperti ini bukan sekali, dua kali saja. Tetapi my tipical days selama empat tahun disini. Tetapi saya paham, dengan ‘menyiksa’ ku seperti itu beliau mendapatkan kenikmatan hidup. Nikmat sejumput kuasa. Untuk melupakan sejenak permasalahan-permasalahan hidup yang lain. Dan saya paham itu sudah watak dia, gawan bayi, bawaan orok.

Alhamdulilah, akhirnya minggu depan aku bebas dari belenggu kuasa itu. Meski dalam lisan kami berjanji untuk keep in touch dan tetap kerja sama kembali. Tetapi dalam hati, rasanya males banget. Buat apa sebuah hubungan dilanjutkan jika hanya menguras emosi, melelahkan jiwa. Aku jadi kangen sama ndoro dosen ku jaman kuliah master, yang begitu sangat baik dan pandai menghargai orang lain. Yang hingga sampai sampai sekarang pun, kami masih keep in touch dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa.

Wahai ndoro dosen, mohon maaf aku menggunjing mu lagi disini. Aku tahu ini tidak baik. Hanya saja, it is my way to self healing. Daripada aku gila tak tahan menahan tekanan batin yang terus mendera. Lagian hampir tak ada satupun yang tahu siapa dirimu bukan? Catatan ini juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri, untuk tidak jumawa ketika memiliki kuasa. Sekecil apapun, kuasa itu. Aku masih dan akan selalu ingat, bagaimana menderitanya batin, lelahnya jiwa ini dealing with you. Aku berjanji, tidak akan memperlakukan mahasiswa ku kelak seperti the way engkau memperlakukan diriku. Terima kasih dan Maafkan diriku.

 

 

Advertisements

Ku Pendam Sendiri

… sekedar puisi-puisian – a random feeling

Senja di Rotterdam

Ilustrasi : Sunyi

Sebuah bintang,
Kelap-kelip sendirian di sudut langit.
Dalam derit keheningan sisa-sisa malam.
Ingin kuceritakan kepadanya,
Semua tentang rasa ini.

Tetapi,
Aku tak tahu dengan bahasa dan pertanda apa.

Biarlah, rasa ini, kupendam sendiri.
Dalam kebisuan nyanyian sunyi,
Dalam nestapa duka yang perih mendera.

Meski, aku harus terkapar,
Terbakar bara api rasa ku sendiri.

Biarlah.
Kutanggung sendiri.

Nottingham, 31 Januari 2017

Di Pangkuan mu

… sekedar puisi-puisian – a random feeling

emak_dalam_foto

Emak

Emak,
Entah kenapa tiba-tiba hari ini,
Aku ingin kembali menjadi bocah,
Lelaki kecil mu kembali.

Ingin kurebahkan tubuh dan kuselonjorkan kaki di lantai,
Dan kusandarkan kepala ku di pangkuan mu.
Sambil kuciumi kain mu yang telah lusuh dan apek itu.

Lalu kau belai-belai rambut ku dengan telapak tangan mu yang kasar itu,
Kini kutahu mak, telapak tangan mu itu bercerita,
Bahwa kau telah bekerja sangat keras untuk menghidupi ku.

Lalu kau dongengkan kepada ku sebuah cerita,
Tokoh-tokoh wayang yang perkasa, yang luhur budinya itu.
Kini ku tahu mak,
Kau mengajariku tentang perjuangan, kejujuran, dan kebaikan.
Tentang pentingnya ketinggian ilmu, kesabaran, dan juga kewaspadaan.

Emak,
Aku ingin tertidur lelap dalam pangkuan mu, sekali lagi saja.
Ingin kudengarkan dongeng mu kembali.
Lalu ingin aku bertanya,
Kenapa di dunia nyata di negeriku tak ada tokoh-tokoh seperti itu.
Kenapa di negeri ku penuh dengan para kurawa mak?

Emak,
Semoga engkau sehat selalu ya mak !

Nottingham, 29 Januari 2017

Bilakah Tuhan Sedang Jatuh Cinta?

… tidak kah kau renungkan, bahwa segala cobaan dan masalah yang terjadi dalam hidup hingga memaksa kita meneteskan air mata adalah sebuah pertanda bahwa Tuhan sedang jatuh cinta – Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta, 2014

blog_badboy_edit

Melepas kepenatan hidup, Manchester, UK

Kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup itu sepertinya beda tipis sekali. Seperti ketika kita sedang tertawa lebar atau terharu bahagia tak terasa air mata kita pun basah membasahi sudut pelupuk mata. Begitulah watak kehidupan, tak ada kebahagiaan yang terus menerus tanpa jeda. Begitupun kesedihan.

Bukankah makanan terenak dan termahal seduniapun, jika perut sudah kenyang, rasanya kenikmatanyapun sirna begitu saja. Sebaliknya, sepiring nasi hangat dan sambel pun terasa sangat nikmat sekali, ketika dimakan saat perut lapar selepas lelah bekerja.

Kebahagiaan dan kesedihan, kemudahan dan kesulitan, keluasan dan kesempitan, tawa dan airmata, selama hayat masih dikandung badan, akan selamanya berdialektika mewarnai cerita kehidupan kita.

Hanya saja,  kebanyakan dari kita berfikir bahwa ketika hidup sedang dikelilingi kemudahan, dan kemurahan hidup itu artinya Tuhan sedang sayang kepada kita. Harta benda melimpah, bahkan bisa umroh dan haji berkali-kali, ketenaran, prestasi dan sebagainya adalah bukti Tuhan sedang bermurah hati kepada kita.

Sebaliknya, jika kita terus dirundung kesedihan, ketidakberuntungan, cobaan hidup datang bertubi-tubi, kebanyakan kita berfikir bahwa Tuhan sedang tidak sayang dalam hidup kita. Bahkan, banyak yang tak tahan hingga meninggalkan Tuhan.

Tetapi, benarkah demikian? Kemaren tidak sengaja nemu kata-kata bagus di film Ketika Tuhan Jatuh Cinta, seperti ini:

… tidak kah kau renungkan, bahwa segala cobaan dan masalah yang terjadi dalam hidup hingga memaksa kita meneteskan air mata adalah sebuah pertanda bahwa Tuhan sedang jatuh cinta.

Iyes, aku fikir ini benar sekali. Setidaknya menurut pengalaman hidupku. Justru ketika aku dalam kesusahan, rasanya hati ini lebih mudah mendekat kepada Tuhan. Perasaan butuh pada kekuatan yang diatas normal, membuatku merasa ingin selalu berdekatan dengan Nya. Ibadah sunah pun, rasanya menjadi sangat nikmat. Bukankah ini pertanda Tuhan sedang jatuh cinta?

Sebaliknya, jika kemudahan dan keberlimpahan hidup sedang membuai kita, seringnya mudah sekali membuat kita lupa dan terlena. Jangankan ibadah sunah, ibadah wajib pun sering kita lupakan. Karena kita merasa memiliki segalanya, dan tak butuh tempat bersandar dan memohonkan segala doa. Akibatnya, ibadah pun terasa sangat hambar.

Karenanya, sepatutnya kita bersyukur jika hidup kita penuh dengan ketidaksempurnaan. Kesulitan yang selalu membutuhkan perjuangan. Karenanya, kita bisa merasakan nikmatnya jatuh cinta dengan Sang Pencipta. Bukankah itulah kebahagiaan hidup yang sejati?

Tak perlu larut dalam kesedihan dan kedukaan yang mendalam ketika cobaan hidup datang silih berganti. Bukankah para nabi, orang-orang besar yang namanya harum menyejarah, tak seorang pun dari mereka yang hidupnya lempeng-lempeng dan enak-enakan saja. Hidup mereka penuh penderitaan dan perjuangan, lalu mati bahkan sebelum sempat menikmati hasil perjuanganya. Sebaliknya, bukankah kebanyakan orang-orang yang dikutuk dalam kitab suci adalah orang-orang yang diberi keberlimpahan kenikmatan duniawi, harta, tahta, dan wanita?

Kawan, pada hakikatnya senang susah adalah sama. Keduanya, sama-sama ujian. Seperti mengendarai mobil, dalam menjalani hidup kita harus senantiasa eleng tur waspodo, ada saatnya kita harus mengegas, ada saatnya harus mengerem, agar kita senantiasa berada di jalur yang benar dan selamat sampai tujuan.

Saat kesulitan datang, kita harus mengegas ikhtiar, sebaliknya kita kemudahan dan keberlimpahan menyapa, kita harus mengerem agar tidak terjebak dalam euforia yang melenakan. Semoga kita senantia diberi kekuatan dalam menghadapi kesulitan, dan berendah hati selalu ketika diberi kemudahan dan keberlimpahan kenikmatan hidup. Senang susah hakikatnya sama saja, hanyalah ujian kesetiaan cinta kita kepada Tuhan. Bukankah begitu?

Candu-candu Baru Orang Modern

… rasanya jaman sekarang percakapan gayeng bermuwajah langsung dengan seorang sahabat yang lebih menarik dari obrolan di jagat maya adalah sebuah kemewahan – a random thought 

candu_hp

Ilustrasi : Layar Gadget

Setiap pagi hari sekali di hari kerja, sepuluh menit sebelum jam enam pagi, dan sepuluh menit sebelum jam 9 pagi aku selalu menyaksikan pemandangan yang sangat menyenangkan. Di dalam sebuh ruangan yang sempit, perempuan-perumpuan baya British, berjumlah tak kurang dari 10 orang. Mereka larut dalam obrolan gayeng yang terlihat begitu mengasyikan. Penuh keceriaan, dan canda tawa. Sepertinya mereka sedang menertawakan peristiwa-peristiwa kehidupan yang kadang konyol.

Mereka memang tak muda lagi. Keriput di muka tak bisa menyembunyikan umur mereka yang semakin menua. Tetapi sisa-sisa kecantikan masih terlihat jelas dalam air muka yang ramah bersahabat. Jiwa dan raga mereka terlihat hadir sepenuhnya dalam obrolan itu, tak seorang pun sambil bermain handphone, atau berinisiatif mengabadikan momen itu dalam rekaman kamera. Layaknya gaya anak-anak muda jaman sekarang.

Aku hanya berdiri di luar pintu, sambil sesekali mengecek handphone di kantong, pura-pura ada hal penting yang harus selalu di pantau. Sejatinya, aku menikmati suasana itu. Mendengar obrolan mereka dalam logat British local Nottingham yang sangat kental. Telinga ini rasanya masih sangat susah untuk bisa menangkap sepenuhnya bahasa tutur mereka yang begitu khas.

Diam-diam aku pun merindukan suasana hangat seperti itu. Sudah lama rasanya tidak larut dalam obrolan santai yang begitu utuh seperti itu.

Kemarin, selepas sholat jumat di masjid kampus sambil menunggu datangnya waktu sholat ashar, kulihat beberapa orang duduk saling berdekatan. Kutahu mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Tetapi mereka tak saling bercakap-cakap. Mereka asyik dengan dunianya sendiri, begitu khusuk menatap layar handphone masing-masing. Sambil cengar-cengir sendiri.

Aneh memang orang-orang moderen jaman sekarang. Yang jauh katanya terasa dekat, yang di depan mata malah terasa jauh. Bahkan diabaikan. Orang-orang modern sedang mabuk dalam candu-candu baru. Bukan sekdar bir, anggur, dan rokok lagi. Tetapi candu sebagai konsumen teknologi informasi.

Orang-orang dibuat merasa begitu penting untuk hampir setiap saat mengecek layar handphone. Membuka notifikasi dari berbagai media sosial. Orang-orang dibuat begitu candu dengan like dan komentar dari orang lain. Orang-orang dibuat begitu candu untuk berbagi sisi kehidupanya yang seolah sangat penting untuk diketahui orang lain.

Padahal sesuai namanya, di jagat maya tak ada yang sejati. Penuh dengan kepura-puraan. Di jagat maya hanya boleh ada wajah-wajah menarik, tempat-tempat menarik, suasana dan peristiwa menyenangkan. Dari piknik di pantai, hingga makan mewah di sebuah restoran. Bahkan kegiatan beribadah kepada Tuhan pun turut dipamerkan. Benarkah kehidupan mereka sesempurna yang dipamerkan di media jejaring sosial?

Makanya terkadang aku kangen sekali mengobrol panjang dengan seorang kawan, tanpa gangguan telepon genggam. Tetapi nampaknya hal ini adalah sebuah kemewahan di jaman sekarang.