Sampah Pikiran

Dari Teater ke Facebooker

… mereka berfikir bahwa sastra indonesia hanya soal berbahasa Indonesia, kata-kata hanya soal urusan omong-omong, cakap-cakap, ndak pernah sadar bahwa dunia ini dibangun dari idea-idea yang muncul karena kata-kata. Saya maklum kenapa mereka tertawa, setiap kali saya bilang saya lulusan sastra indonesia. Karena saya berada di jaman dimana menteri kebudayaanya adalah produser-produser sinetron, karena mereka yang membimbing kemana kami anak-anak mudanya harus berfikir  -Inayah Wahid

inayah_wahid

Inayah Wahid, Memerankan Tokoh Wagiyem di Monolog 3 Perempuan (youtube)

Tadi sore, sambil menunggu waktu maghrib, yang dari hari-kehari semakin lama karena siangnya yang semakin panjang, saya membaca sebuah artikel di kenduri cinta. Dari artikel itu, ada kalimat yang membuat saya mendelik dan tercenung beberapa saat:

” … Pada Ramadlan pertengahan 1980-an, Jamaah Shalahudin UGM mengadakan pesantren seni yang melibatkan Emha Ainun Nadjib. Dari pesantren seni inilah lahir sanggar Shalahuddin yang pertama kali mementaskan syair karya Emha Ainun Nadjib ‘Lautan Jilbab’ di Yogyakarta yang mendapat sambutan luar biasa dari audiens.”

Entahlah, kalimat itu terasa indah sekali di hati. Terbayang bagaimana dulu, para jamaah masjid kampus UGM itu berdakwah dengan cara yang santun dan indah, melalui pagelaran teater. Kata sohibul hikayat, pada tahun-tahun segitu, memang pemerintah orde baru sangat tidak suka dengan penggunaan simbol-simbol agama, termasuk dengan yang namanya Jilbab.

Siswi atau mahasiswi di sekolah atau universitas negeri tidak diperkenankan menggunakan jilbab. Atau setidaknya pemerintah tidak suka. Hal yang sangat aneh, dan sulit dinalar juntrung logikanya, bagaimana mungkin presiden muslim di negara yang mayoritas muslim tidak suka dengan jilbab.

Karenanya, sebagai bentuk protes, Cak Nun, memprotes melalui puisi dan pagelaran teater ‘lautan jilbab’. Yang konon katanya diklaim sebagai teater yang pernah ditonton oleh penonton terbanyak sepanjang sejarah perteateran di Indonesia.

**

Dalam benak saya, terbayang indah betul jikalau model aktivis masjid kampus-kampus jaman sekarang seperti aktivis jaman tahun 80-an. Berdakwah dengan budaya, berdakwah dengan cara yang santun. Mengajak orang-orang di luar masjid, mengajak orang-orang yang belum baik menjadi baik. Tidak hanya berdakwah orang-orang dalam masjid saja, tidak hanya berdakwah dengan orang-orang yang sudah baik saja. Bukankah orang yang sudah rajin di masjid dan sudah baik itu malah tidak perlu didakwahi?

Dakwah, aktivis masjid tahun 80-an itu ala wali songo yang menyebarkan Islam di Jawa. Dengan pendekatan cultural, yang moderat, yang terbuka terhadap budaya lokal, yang lebih mementingkan esensi daripada bungkus. Sehingga sunan kalijogo pun, berdakwah lewat pagelaran wayang kulit, yang sangat digemari masyarakat pada jamanya.

Hal yang sebaliknya justru dilakukan para aktivis dakwah kampus-kampus jaman sekarang. Yang kalau menurut saya malah terjebak bungkus, lupa esensi. Teater, wayang kulit, musik, gamelan? apa itu? pasti sudah diharamkan, setidaknya di bidahkan, disesatkan, karena tidak ada tertulis dalam Alquran, dan hadis, Rosulullah berdakwah dengan cara itu.

gemar_2016_republika

Model Dakwah anak jaman sekarang (republika.co.id)

Model dakwah anak masjid kampus jaman sekarang, berawal dari bungkusnya dulu, harus hijab syar’i dulu, nggondrongi jenggot dulu, ngitemin jidad dulu. Masalah pemahaman  ilmu agama, malah boleh belakangan. Tak jarang, melakukan long march di jalan, pakai pakaian ala timur tengah, membentangkan bendera hitam bertuliskan tahlil, menyeru tegakkan syariat Islam, dirikan negara Islam ! seolah dengan itu, apa pun masalahnya, itulah solusinya. Malas menganalisa permasalahan sebenarnya, yang sebenarnya sangat-sangat kompleks, dan perlu kejernihan berfikir untuk memahaminya.

Tentang Teater

Ada satu keinginan sederhana saya yang dari dulu belum kesampean, yaitu nonton teater. Tahu sendiri, jaman sekarang susah sekali mencari pertunjukan teater. Pernah, berkali-kali pas di Jakarta, niat nonton di Taman Ismail Marzuki, eh pas datang selalu sudah sold out tiketnya.

Meskipun belum pernah nonton teater langsung, tapi saya pikir teater adalah media yang apik untuk mengajak orang berbuat kebaikan tanpa terkesan menggurui. Melakukan kritik sosial dengan cara yang santun, tanpa menyinggung perasaan yang dikritik. Begitulah seharusnya, peranan tontonan yang bisa dijadikan tuntunan.

Sayang kebanyakan tontonan di tivi kita tidak seperti itu. Rasanya, banyak orang yang setuju dengan saya bahwa acara tivi kita sekarang ini tidaklah bermutu, acara sampah. Lihat saja, acara seperti facebooker, apa coba manfaatnya buat masyarakat?

Tapi namanya juga industri kapitalis, baik atau tidak baik itu tidak penting. Yang penting adalah laku apa tidak laku. Menguntungkan apa tidak menguntungkan. Tentu saja acara sampah seperti itu murah sekali biaya produksinya. Cukup tampilkan artis yang ayu atau ganteng atau lucu secara live, meskipun  konsep yang jelas. Dan masyarakat dipaksa menonton, masyarkat dididik untuk menyukai acara-acara sampah itu. Acara TV kita adalah alat propaganda pembodohan, pelemahan masyarakat, tanpa masyarakatnya sadar bahwa mereka sedang dibodohi dan dilemahkan.

… saya maklum kenapa mereka berfikir seperti itu, karena saya berada di zaman dimana duta kebudayaanya adalah artis-artis yang selalu eksis di sosial media yang saya sendiri ndak tahu karyanya apa, tapi yang penting setiap hari posting foto di instagram sambil pose di depan mobil mewah atau di depan pesawat jet pribadi sambil menenteng tas hermes seharga 950 juta.

Sedangkan kalau bikin tontonan berbobot sekelas teater, berapa ‘biaya’ yang harus dikeluarkan?  Tentu tidak menguntungkan bukan? Rasanya, orasi budaya Mbak Inayah wahid ini, layak untuk kita renungkan bersama secara dalam-dalam.

inayah_okjek

Inayah Wahid Jadi Tukang Ojek (net.tv)

Tentu saja juga, tidak semua stasiun TV menampilkan acara sampah. Saya bersyukur, di tanah air ada Net TV, yang menurut saya, pelopor TV bermutu. Bukan sekedar media hiburan, tapi tv yang didirikan dengan idealisme. Idealisme untuk mengawal budaya bangsa. Tontonan bukan sekedar tonotonan, tapi ada pesan yang ingin disampaikan. Sampai-sampai, Mbak Inayah yang mengkritik acara-acara TV pun akhirnya mau juga masuk layar kaca, di tv ini. Penasaran? lihat disini.

Di Sitkom itu, Mbak Nay, memerankan peran sebagai anak orang kaya yang nyaru jadi tukang ojek. Tidak hanya, akting nya yang lucu alamiah, menurut saya pribadi, setidaknya ada point yang ingin disampaikan dari peranya itu. Pertama, berupa kritik sosial. Dalam peranya itu, seolah dia ingin menyampaikan pesan bahwa orang kaya itu harus egaliter, mau bergaul dengan siapa saja. Ibu-ibu, anak-anak  pejabat, pengusaha kaya  raya itu alangkah mulianya jika tidak membatasi pergaulanya dengan kaum sosialita dalam sebuah arisan, atau dalam sebuah pesta, untuk pamer atau mengumbar kekayaan semata. Alangkah indahnya, jika sekali-kali mereka tidak makan di restoran mahal, tetapi makan di Warteg misalnya. Dengan demikian akan tumbuh rasa empati, ngerti gimana susahnya kehidupan kebanyakan orang-orang indonesia, rakyat Indonesia mayoritas sebenarnya. Yang pada akhirnya, akan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, tanpa melihat status sosial yang saat ini diukur dengan jumlah kekayaan atau jabatan semata. Andai saja semua pejabat, orang-orang kaya itu, mau egaliter, berempati, berdermawan, dengan tulus, mungkin problem kemiskinan kita hanya tinggal kenangan. Mungkin, jurang pemisah orang-orang kaya dan miskin di bumi Indonesia ini akan semakin terkikis.

Kedua, pesan religius. Di peranya itu, Naya digambarkan tukang ojek yang rajin sholat,  tidak pernah lupa sholat, ditengah kesibukanya sebagai tukang ojek. Yah, ini penting banget menurut saya. Betapa banyak diantara kita, yang sok sibuk dengan pekerjaanya, terlalu mendewakan kekayaanya, sehingga lupa tujuan diciptakanya di dunia, menyembah kepada Tuhan.

Ketiga, pesan filosofis akan kehidupan. Bahwa hidup bukanlah all about making money. Kita bekerja, bukanlah semata-semata untuk mengejar materi. Rasanya, keikhlasan, ketulusan, kebaikan menjadi hal yang aneh di tengah arus jaman serba benda saat ini. Padahal itulah yang sebenarnya harta kita sesungguhnya, yang akan kita bawa di kehidupan selanjutnya. Padahal, itulah sumber kebahagian sesungguhnya. Bukan materi yang kita kumpulkan. Pesan ini disampaikan oleh tokoh Naya, yang memberi fasilitas plus-plus kepada pelangganya. Bahkan ikhlas tidak dibayar oleh pelangganya.

Ternyata pesan-pesan agama pun, tidak harus disampaikan dalam bungkus tontonan yang dibungkus label agama. Tapi bisa disampaikan dengan cara yang universal, halus, lebih alamiah, dan tidak menggurui. Tidak harus dengan sinetron ala hidayah ‘ mayat penjudi sukar dikebumikan’ . Alih-alih memberi pencerahan, eh malah menjadi pembodohan.