puisi

Ku Pendam Sendiri

… sekedar puisi-puisian – a random feeling

Senja di Rotterdam

Ilustrasi : Sunyi

Sebuah bintang,
Kelap-kelip sendirian di sudut langit.
Dalam derit keheningan sisa-sisa malam.
Ingin kuceritakan kepadanya,
Semua tentang rasa ini.

Tetapi,
Aku tak tahu dengan bahasa dan pertanda apa.

Biarlah, rasa ini, kupendam sendiri.
Dalam kebisuan nyanyian sunyi,
Dalam nestapa duka yang perih mendera.

Meski, aku harus terkapar,
Terbakar bara api rasa ku sendiri.

Biarlah.
Kutanggung sendiri.

Nottingham, 31 Januari 2017

Advertisements

Di Pangkuan mu

… sekedar puisi-puisian – a random feeling

emak_dalam_foto

Emak

Emak,
Entah kenapa tiba-tiba hari ini,
Aku ingin kembali menjadi bocah,
Lelaki kecil mu kembali.

Ingin kurebahkan tubuh dan kuselonjorkan kaki di lantai,
Dan kusandarkan kepala ku di pangkuan mu.
Sambil kuciumi kain mu yang telah lusuh dan apek itu.

Lalu kau belai-belai rambut ku dengan telapak tangan mu yang kasar itu,
Kini kutahu mak, telapak tangan mu itu bercerita,
Bahwa kau telah bekerja sangat keras untuk menghidupi ku.

Lalu kau dongengkan kepada ku sebuah cerita,
Tokoh-tokoh wayang yang perkasa, yang luhur budinya itu.
Kini ku tahu mak,
Kau mengajariku tentang perjuangan, kejujuran, dan kebaikan.
Tentang pentingnya ketinggian ilmu, kesabaran, dan juga kewaspadaan.

Emak,
Aku ingin tertidur lelap dalam pangkuan mu, sekali lagi saja.
Ingin kudengarkan dongeng mu kembali.
Lalu ingin aku bertanya,
Kenapa di dunia nyata di negeriku tak ada tokoh-tokoh seperti itu.
Kenapa di negeri ku penuh dengan para kurawa mak?

Emak,
Semoga engkau sehat selalu ya mak !

Nottingham, 29 Januari 2017

Penggembala Rasa

… sekedar puisi-puisian di musim dingin – a random feeling

penikmat_sastra_edit

Ilustrasi: Gembala Kambing

Tuhan,
Kau telah uji aku dengan segenap rasa,
Rasa-rasa kehidupan milik Mu.

Dari yang menyesakkan rongga dada,
Hingga yang melegakanya.
Atau di antara keduanya.

Dari yang membuat jiwa melayang,
dan seluruh urat senyum terkembang,
Hingga yang menundukkan muka,
dan mengalirkan air mata.
Atau di antara keduanya.

Dari yang begitu menggairahkan hidup,
Hingga kekosongan yang mendera jiwa.
Atau di antara keduanya.

Kadang kau uji aku dengan ketakutan,
dan bayang-bayang keputus-asaan.
Kadang kau sisipkan rasa penuh harap,
dan keberanian menjalani tantangan hidup.

Kadang ku dalam kobar api dendam dan kebencian,
Kadang ku dalam dendang cinta dan kerinduan.

Kadang aku pun terjebak dalam rasa,
Yang tak bisa kuucap maupun kutuliskan

Dan,
Aku hanyalah sang penggembala rasa,
Cah angon yang menggiring setiap rasa,
Tetap menuju Mu.

Kadang aku baik-baik saja,
Kadang aku lupa dan terlena,

Kadang aku di jalan yang benar,
Kadang aku tersesat,
Kadang aku kembali.

Tuhan, maafkan segala ketidaksempurnaan ini,
Apa pun rasa kehidupan ini,
manis, pahit, getar, asam, asin, hambar,
Dan rasa yang hanya dapat dirasa saja
dengan segenap misterinya

Bimbinglah aku agar dapat menggiringnya,
Menggembalakan semua hanya menuju Mu.
Kembali ke rumah Mu, sepenuh kerinduan
saat perjumpaan dengan Mu, nanti.

Nottingham, 07/11/2016

Pemilik Rasa Ini

…. sekedar puisi-puisian menjelang musim dingin – a random feeling

snow_nott

Ilustrasi: Musim Dingin

Ada berbagai warna di dunia,
Karenanya, jadilah indah alam jagat raya,
Dan,
Tentulah Dia pemiliknya.

Ada ribuan rupa di dunia,
Karenanya, jadilah menarik panggung kehidupan semesta,
Dan,
Tentulah Dia juga pemiliknya.

Ada milyaran peristiwa di dunia,
Karenanya, jadilah bermakna cerita perjalanan manusia,
Dan,
Tentulah Dia jua pemiliknya.

Kemaren, angin musim gugur berhembus sangat kencang,
Menghempaskan nyaris seluruh daun pepohonan
Di taman bermain samping rumah ku,
Meninggalkan jutaan rasa merubung di dalam jiwa.

Saat malam-malam telah memanjang,
Dengan segenap nyanyian sunyi dan hawa dingin yang mengiringinya,
Rasa ini tumpah ruah menghajar hati,

Ku tahu, tentang rasa ini,
Untuk siapa, dan siapakah pemiliknya.
Tetapi,
Aku tak pernah tahu, untuk apakah gerangan Dia menciptakanya?

Nottingham, 05/11/2016

Lelembut Jiwa

… sekedar puisi-puisian di musim gugur – a random feeling

lilin

Ilustrasi: Lilin Di Dalam Sebuah Gereja, Trieste Italia

Seandainya ada bahasa tutur yang bisa mewakili,
Akan kurapal seribu bait mantra,
Akan kubaca ribuan baris-baris doa,
Akan kunyanyikan seratus tembang,
Hanya untuk mengungkapkan semua tentang perasaan ini.

Seandainya ada bahasa tulis yang bisa mewakili,
Akan kutulis seribu rajah,
Akan kupahat ribuan prasasti,
Akan kuciptakan seratus kode rahasiasandi,
Hanya untuk menyampaikan semua tentang perasaan ini.

Seandainya ada bahasa isyarat yang bisa mewakili,
Akan kukirim seribu pertanda,
Hanya untuk menitipkan semua tentang perasaan ini.

Tetapi, tak satupun dapat kutemui.
Karena ini hanyalah lelembut jiwa.

Biarlah kusimpan sendiri,
Seperti malam-malam bernyanyi sunyi,
Menemani lelap tidur mu,
Wahai engkau kekasih jiwa.

Sebelum semuanya meluruh,
Seperti daun-daun yang berguguran,
Berserakan,
Di jalan-jalan yang pernah kita lalui bersama.

Nottingham, 21/10/2016