Advertisements

Category Archives: Keluarga

Mengintip Peradaban Sebuah Kota dari Sungainya

… bengawan Solo, riwayat mu ini. Sedari dulu jadi perhatian insani. Di musim kemarau, tak seberapa air mu. Di musim hujan … -Gesang.

Jembatan Sungai Trent, Nottingam

Jembatan, Bebek di Sungai Trent, Nottingam, UK (Dok. Pribadi)

Tidak berlebihan rasanya jika sungai atau kali (bahasa jawa) dikatakan banyak menyimpan sejarah peradaban manusia dari jaman ke jaman. Ibarat pembuluh darah dalam tubuh manusia, sungai memiliki peran penting dalam menyokong kehidupan umat manusia. Mengalirkan air kehidupan, membawa kesuburan, menawarkan sumber penghidupan dan keberkahan yang melimpah ruah, tetapi terkadang juga menjadi sumber petaka.

Ketika masyarakat masih hidup sederhana, daerah sekitar aliran sungai selalu menjadi daerah padat penduduk. Kerajaan-kerajaan dan pesantren-pesantren di tanah Jawa misalnya, biasanya mereka berada  di pinggir aliran sungai.

Rasanya, lagu mbah Gesang, Bengawan Solo, yang legendaris dan saya yakin akan selalu hidup itu, cukup indah melukis betapa pentingnya sungai di tengah-tengah peradaban umat manusia. Setiap sungai menyimpan riwayat cerita sendiri bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Kali Setail, Riwayat mu Dulu dan Sekarang

kali_setail_jemb_gantung_updated

Kiri: Sungai (Kali) Setail, Desa Plampangrejo. Kanan: Jembatan Bambu (Sesek Pring) Sungai setail (source: http://www.awedionline.com)

Buat saya pribadi, satu-satu nya sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat hidup saya adalah sungai setail, di dusun ringin pitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Sumber air sungai ini berasal dari gunung Raung, mengalir ke wilayah selatan kemudian ke wilayah timur kabupaten banyuwangi, dan bermuara di selat bali atau samudera hindia. Di pinggir sungai inilah mbah saya, mbah H. Abdul Fatah, memulai cerita kehidupan di tanah rantau, tanah osing Banyuwangi, setelah meninggalkan kampung halamanya di kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dan bertekad untuk tidak kembali lagi hingga akhir hayatnya. Bahkan, anak cucu nya pun tidak pernah diperkenankan tahu menahu dimana tepatnya kampung halaman beliau. Hanya karena sebuah alasan harga diri, tidak mau pulang kampung karena tidak mau dianggap meminta bagian harta warisan jika pulang ke kampung halaman.

Masa kecil saya menyaksikan sendiri bagaimana kali setail menjadi bagian kehidupan orang-orang di kampung kami. Kali setail yang airnya yang jernih dan segar, dengan pasir dan batu kerikil dari gunung raung yang melimpah, yang menjadi tempat mandi, cuci dan toilet terbuka untuk semua warga. Lelaki, perempuan, anak-anak, dewasa menjadi satu. Bahkan juga untuk sapi dan kerbau. Kali setail juga menjadi kolam renang gratis untuk anak-anak kampung. Lumban adalah istilah untuk berlama-lama berenang dan menyelam dalam air sungai. Argh, sungguh kenangan masa kecil yang teramat indah. Dan kenangan itu sekarang sudah benar-benar mati.

Saat itu, kali setail juga sumber kehidupan yang barokah. Ada puluhan jenis ikan sungai yang melimpah. Ada ikan tombro, tawes, wader, uceng, udang, empet, remis, lele, sepat, kocolan, dan ikan-ikan yang saya tak mampu lagi saya mengingatnya. Ikan-ikan itu begitu mudahnya didapat dengan dijala, dijaring, diseser, atau dijebak dengan besangan alias jebakan ikan yang dibuat dari lidi kayu bambu. Atau ketika kaline dilontor, yaitu ketika pintu air Dam/bendungan air untuk irigasi dibuka 3 bulan sekali, mengalirkan air warna kecoklatan. Ratusan warga desa berbondong-bondong pergi ke sungai, beramai-ramai, bersorak riang, menangkapi ikan-ikan sungai yang semaput minggir di bibir sungai dengan seser dan jaring. Duh, saya jadi kangen menikmati renyah dan nikmatnya rempeyek udang kali setail.

Pinggir kali setail juga tempat bermain yang indah. Gundukan pasir lembut bercampur debu adalah tempat yang sempurna untuk bermain perang-perangan. Dikelilingi rerimbunan tananman kerangkong yang bunganya berbentuk seperti terompet, berwarana putih keungu-unguan, dikerumuni seranga lady bug yang sayapnya indah berwarna-warni. Dan juga buah ceplukan yang rasa buahnya aduhai manis sekali. Serta pohon bendo, yang menjatuhkan biji-bijian yang kalau digoreng kereweng (penggorengan dari tanah liat, tanpa minyak) rasanya paling nikmat sedunia. Ada juga sasak gantung, jembatan gantung dari bambu di atas kali setail , penghubung desa lor kali dan kidul kali yang menjadi tempat bermain pemacu adrenalin paling menantang, yang tidak kalah dengan roller coaster.

Sekarang, setiap kali pulang kampung, aku biasa pergi duduk di pinggir sungai setail, sambil mengenang betapa indahnya masa kecil saya. Memandang aliran kali setail yang sedang sekarat dan kesepian. Mengenang ribuan kenangan-kenangan masa kecil yang telah mati. Air sungai yang dulu airnya jernih dan mengalir, kini tak ubahnya bak kubangan kerbau, tercemar dan kotor. Bebatuan dan pasir sungai yang dulu melimpah sudah habis dijual warga ditukar dengan lembaran rupiah-rupiah. Jangan tanya akan ikan, udang, empet dan remis ! Mereka semua sudah musnah, sejak sebagian warga ada yang serakah membunuh seluruh penghuni alami sungai dan bayi-bayi nya dengan obat kimia pembunuh serangga.

Jangan tanya pula gerombolan anak-anak yang dulu bermain riang di pinggir sungai. lumban berjam-jam di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Yang ada hanyalah sepi. Sungai yang sudah sekarat hampir mati, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Warga pun yang dulu selalu mandi bersama, sekarang sudah punya kamar mandi keluarga. Pun, anak-anak yang dulu selalau bermain bersama, sekarang mereka asyik di depan TV keluarga. Keluarga sudah menjadi penjara-penjara kecil bagi warga desa, yang dulu seolah-seolah mereka adalah satu keluarga.

Inikah yang namanya kemajuan jaman yang menjanjikan segala kemudahan dan perbaikan itu? Tapi, entahlah hati saya selalu seperti merasa kehilangan yang teramat dalam. Kehilangan suasana masa lalu yang selalu saya rindukan setiap pulang ke kampung halaman.

Pesona Sungai Trent, Nottingham

Di salah satu akhir pekan pada musim panas kemaren, untuk mengobati kangen akan kampung halaman, saya bersama keluarga bermain menyusuri Sungai Trent yang berada di pinggir kota Nottingham. Lokasinya, tidak jauh dari city centre, naik bus nomor 1-10, hanya butuh waktu sekitar 10 menit. Turun di Jembatan Trent, yang lokasinya berdekatan dengan stadion Nottingham Forest, klub sepak bola kebanggaan warga Nottingham. Entahlah, ketika menyusuri sungai ini, kenangan indah masa kecil saya terasa hidup kembali.

Sungainya sangat well-developed , sepertinya dibangun dengan penerepan hydrology yang mutakhir. Airnya jernih seperti kaca, airnya melimpah, mengalir mengelilingi kota Nottingham. Ada rerimbunan pohon dan rerumputan hijau yang terawat rapi menghadirkan suasana pedesaan , memanjakan mata memandang . Suasananya tenang, hawanya teduh, udaranya segar.

Main di Pinggir Sungai

Main di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Di sisi kiri dan kanan sepanjang aliran sungai ada jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang cukup lebar. Lengkap dengan kursi-kursi kenangan yang menghadap ke sungai. Di akhir pekan itu, saya melihat banyak orang, tua, muda, anak-anak, berlalu lalang menyusuri pinggiran sungai dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ada juga yang memancing ikan, atau sekedar duduk manis di kursi-kursi kenangan sambil membaca buku sendirian, menghadap aliran sungai.

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda Yang Luas (Dok. Pribadi)

Dalam airnya yang jernih, masih terlihat tanda-tanda kehidupan ikan. Gerombolan burung pelikan, camar, bebek, dan angsa pun ikut meramaikan suasana sungai yang indah dan hangat di musim panas itu. Mereka seolah hidup damai berdampingan menciptakan sebuah harmoni alam.

Sepedahan di Pinggir Sungai

Sepedahan, Mancing, di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Ada Jembatan cantik di atas sungai, yang menarik dijadikan latar belakang foto pre-wedding. Ada juga perahu-perahu bersandar di tepi sungai, dan boat trip mengelilingi kota nottingham via jalur sungai yang juga background foto-foto yang indah. Di sekitar pinggiran sungai itu juga terdapat lapangan olah raga yang luas, taman bermain anak-anak dengan berbagai jenis permainan lengkap dengan kolam renang gratis. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak-anak berkumpul, bermain gembira, betah berjam-jam disana. Sungguh, bak syurganya anak-anak.

Boat trip di Sungai

Boat trip di Sungai (Dok. Pribadi)

Di tempat ini, di pinggir sungai ini, kenangan masa kecil ku yang telah mati seolah hidup kembali dan hadir kembali. Sungai yang hidup, alam yang harmoni, dan tawa ceria anak-anak di pinggir sungai itu seolah menghadirkan masa kecil saya kembali. Ratusan bahkan ribuan supporter sepak bola yang berjalan berduyun-duyun sepanjang pinggir sungai menuju stadion Nottingham forest itu mengingatkan ku pada menjelang ritual sepei di kali setail.

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Argh ternyata, kemajuan jaman tak harus membunuh kenangan. Ternyata, kemajuan jaman tak harus membinasakan harmoni sang alam. Bahkan justru melestariakan. Tiba-tiba, saya bermimpi, suatu saat kali setail saya yang sekarat hampir mati, suatu saat akan hidup kembali seperti sungai Trent Nottingham ini. Tapi, entah kapan?

Advertisements

Dua Tangisan yang Ditunggu-tunggu

… pada setiap kelahiran juga menyisakan sejumput tanya. Akankah bulir-bulir padi di sawah, polo wijo, polo gumantung, dan polo kependem yang melimpah ruah di kampung kami, mampu memberi pangan si Jabang bayi hingga dewasa nanti? Masihkah udara yang segar, air yang jernih tetap lestari setidaknya satu abad lagi, untuk kehidupan sang jabang bayi di kemudian hari? Argh, kenapa pusing memikirkan, bukankan setiap jabang bayi merah yang lahir procot dari rahim ibu nya itu, sudah ditanggung rejekinya sama Tuhan Sang Maha Pemelihara kehidupan. – A Random Thought.

Nur Hafidz

Aditia Ahmad Nur Hafidz, Umur 1 hari (Fotografer: Bek Jizah)

Kawan, di dunia ini, ternyata tidak semua tangis adalah pertanda duka lara. Tidak semua tangis, harus disambut dengan hati pilu dan jiwa penuh nestapa. Sebaliknya, ada tangisan yang justru ditunggu-tunggu. Tangisan yang disambut dengan senyum penuh syukur kebahagiaan oleh orang-orang di sekitarnya. Itulah tangisan jabang bayi yang lahir procot dari rahim ibu nya.  Tangisan pertanda dimulainya sebuah awal kehidupan baru seorang anak manusia. Tangisan yang melahirkan sejuta harap dan ribuan doa-doa. Harapan dan doa akan sebuah perubahan kehidupan yang lebih baik.

Kawan, dalam sebulan ini betapa melimpah ruah kebahagiaan yang membaluri hati saya. Di bulan suro, bulan pertanda  tahun baru Islam ini saya mendapatkan kabar tangisan kebahagiaan itu, dua sekaligus. Pertama, seorang bayi laki-laki dari Paman saya, adik kandung ibu saya, Lek Iman dan Bek Tufi. Melengkapi anak lelaki pertama mereka yang sudah genap berumur satu dasawarsa. Bayi yang ganteng itu bernama Aditya Ahmad Nur Hafidz. Sebuah nama yang tentunya penuh harap dan do-doa.

baby boy

Ahmad Abdurrahman Albustomy, Umur 1 hari (Fotografer: Bek Jizah)

 

Kedua, seorang bayi laki-laki lagi, lahir dari rahim adik kandung saya. Dek Im dan dek Huda, di keluarga pasangan bahagia ini, si jabang bayi juga melengkapi anak sulung lelaki mereka yang juga hampir berumur satu dasa warsa. Si Jabang bayi bernama Ahmad Abdurrahman Albastomy itu adalah cucu ketiga dari orang tua saya, yang ketiganya laki-laki, termasuk anak saya. Rupanya, Tuhan sangat pemurah, mengaruniakan anak laki-laki dalam keluarga kami. Anak laki-laki, yang tentunya dalam budaya masyarakat Jawa yang patriarkhi, dipandang lebih dari anak perempuan. Jangkahe luweh dowo (baca: langkah nya lebih panjang), kata emak saya. Meskipun, pandangan itu kian memburam di tengah riuh arus kemajuan jaman dan pikiran.

Kebetulan pada keduanya terselip nama Ahmad. Nama, yang juga melekat pada diri saya.  Sebuah nama, untuk tabarrukan (baca: mengharap berkah) dengan nama kanjeng nabi Muhammad S.A.W. Tapi mungkin, tidak semua yang bernama Ahmad dipanggil Ahmad dalam keluarga mereka. Bahkan jarang sekali, yang memiliki nama Ahmad dipanggil Ahmad, karena biasanya hanya nama ‘pemanis’ atau nama tabarrukan saja. Dan saya mungkin salah satu yang sedikit itu, dipanggil Ahmad dalam keluarga kami.

Pada setiap kelahiran, selalu terselip do’a-do’a dan harapan. Begitu juga tak lupa do’a dan harapan ku untuk dua jabang bayi itu. Anak yang soleh, yang yang kenal dan takut pada Tuhanya. Berbakti pada kedua orang tua, bangsa dan negaranya, serta berbuat baik dan memberi manfaat selalu terhadap sesama. Berharap rejeki yang semakin melimpah dan penuh berokah, nasib, kehidupan, pendidikan, dan garis takdir yang jauh lebih baik dari kedua orang tuanya.

Pada setiap kelahiran juga menyisakan sejumput tanya. Akankah bulir-bulir padi di sawah, polo wijo, polo gumantung, dan polo kependem yang melimpah ruah di kampung kami, mampu memberi pangan si Jabang bayi hingga dewasa nanti? Masihkah udara yang segar, air yang jernih tetap lestari setidaknya satu abad lagi, untuk kehidupan sang jabang bayi di kemudian hari? Bagaimana juga dengan nasib pendidikanya nanti? Bagaimana juga dengan pekerjaanya nanti? Apakah pemerintah akan memikirkan nasib para jabang bayi ini? lahwong Yang sekarang saja, mereka begitu mengabaikanya. Lihat saja bagaimana nasib anak-anak di pedalaman Papua? Nasib anak-anak buruh yang mencari penghidupan di perkebunan kelapa sawit di pedalaman hutan di negeri tetangga?Argh, kenapa pusing memikirkan, bukankan setiap jabang bayi merah yang lahir procot dari rahim ibu nya itu, sudah ditanggung rejekinya,sudah diatur nasib dan takdirnya sama Tuhan Sang Maha Pemelihara kehidupan.

Yang jelas, Si jabang bayi itu sudah tak bisa mendengar merdunya suara dan melihat keindahan bulu burung prenjak, burung kutilang, manuk emprit, manuk trocok, manuk srikatan, manuk deres, dan manuk-manuk lainya. Yang dahulu selalu dengar dan saya saksikan di setiap pagi. Si Jabang bayi itu juga tidak akan pernah tahu bagaimana rupa ikan melem, ikan tawes, ikan wader, ikan uceng, udang, empet, sepat, kutuk dan ikan lainya yang dulu pernah hidup begitu melimpah ruah di sungai dan sawah kami. Si Jabang bayi juga tidak akan pernah tahu bagaimana tanaman kopi, melinjo, jambu wer, jambu mente, jambu klutuk, sukun, kluwih, nangka, kenitu, dan tanaman lainya yang dulu tumbuh subur di belakang rumah kami. Si Jabang bayi pun juga tidak akan pernah tahu bagaimana luwak, bajing, ampal, jentrung, jangkrik, garengpong, bunglon, dan hewan-hean liar lainya pernah hidup berdampingan mesra dengan kami.

Pada setiap kelahiran selalu mendera rasa kerinduan pada kanjeng nabi. Rindu yang disenandungkan dalam bait-bait syair berzanji di malam umur sepasar (5 hari) si jabang bayi. Ketika ritual mahalul qiyam dan sholawat: Ya nabii…  salam ‘alaika, Ya Rosoul salam ‘alaika,……Anta Syamsun anta Badrun … berkumandang.  Dan beberapa helai rambut si jabang bayi dipotong oleh pak modin, kyai kampung yang dituakan di kampung. Do’a-doa pun dipanjatkan, agar ssi jabang bayi meneladani akhlak kanjeng nabi.

Pada setiap kelahiran juga meninggalkan sebuah pesan, untuk menjauhi setiap keserakahan.  Betapa, alam warisan nenek moyang kita ini harus tetap lestari  tidak hanya untuk kehidupan kita saja. Tetapi, juga untuk kehidupan setiap bayi-bayi merah yang lahir setiap detik di atas alam ini. Alam ini bukan untuk generasi kita saja, tetapi juga untuk generasi-generasi sesudah kita. Anak, cucu, cicit, dan keturunan kita selanjutnya juga berhak atas alam ini. Daripada menebang sebuah pohon, lebih baik menanam sebuah pohon. Meskipun buah nya bukan kita yang menikmati. Tetapi, anak-cucu kita yang akan menikmati. Daripada mewariskan kemelaratan, alangkah indahnya bila kita mati mewariskan kemakmuran untuk anak, cucu, cicit kita.  Semoga kita bisa !


Tips Aplikasi Visa Untuk Keluarga di Inggris

…. keluarga adalah alasan kita untuk selalu ingin pulang. –Dian Sastro Wardoyo

Main di Pinggir Sungai

Family Days Out: Main di Pinggir Sungai

Kawan, memutuskan membawa keluarga untuk menemani anda sekolah di luar negeri adalah keputusan besar dalam hidup anda. Tak semudah yang dibayangkan, keputusan ini bisa menjadi rumit. Mulai dari masalah keuangan, pasangan anda yang berat meninggalkan pekerjaan nya, sekolah anak, dan berbagai masalah rumit lainya. Tak mudah memang, dan butuh waktu untuk memutuskanya. Tetapi, percayalah, kebersamaan anda di luar negeri bersama keluarga akan menjadi pengalaman perjalanan yang tak ternilai harganya dalam hidup anda. Percayalah, perjalanan anda bersama keluarga tercinta anda akan menjadi cerita indah dan inspirasi abadi untuk anak cucu kita, di hari tua nanti.

Dapat merasakan hidup bersama di luar negeri, anak-anak mendapatkan pendidikan berkualitas gratis, pelayanan kesehatan gratis, dan tentunya karena menjadi penyemangat perjalan studi anda adalah alasan utama mengapa anda harus membawa keluarga. Pun, menjalani long distance relationship bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi, untuk jenjang sekolah S3. Jenjang pendidikan yang menurut banyak orang adalah perjalanan panjang dan tidak mudah, so painful. Tuntutan semangat, kesabaran, konsistensi, kemandirian dan komitmen dalam bergelut dengan riset S3 terkadang membuat kita merasa kesendirian dan kesepian. Disinilah, peran keluarga dalam memberi kekuatan psikologis untuk keberhasilan studi anda. Masalah, keuangan? Insha Allah, Allah akan menunjukkan keajaiban rejeki nya untuk kita.

Saya sendiri, dengan beasiswa DIKTI yang sangat kecil, bayangkan hanya £800 per bulan dan bisa dipastikan selalu telat pengirimanya. Tapi, alhamdulilah diberi kecukupan hingga, detik ini. Sungguh, perjalanan ini telah mengajari saya banyak sekali tentang kehidupan. Benar kata orang, perjalanan adalah guru terbaik dalam hidup kita. Buat, kawan-kawan yang masih ragu, segera bulatkan tekad, dan bismillah saja insha Allah dimudahkan oleh Allah SWT dan segera apply Visa untuk pasangan dan anak-anak anda.

Berikut tata cara aplikasi VISA ke Inggris, untuk keluarga, berdasarkan Pengalaman saya:

Prosedur Pengurusan VISA

  1. Pastikan Anak dan Istri/Suami anda sudah memiliki paspor.
  2. Aplikasi Online Di: http://www.vfsglobal.co.uk/Indonesia/ dan https://www.visa4uk.fco.gov.uk/ (Catatan untuk anak pilih Visa jenis: STUDY – PBS TIER 4 STUDENT/TIER 4 (GENERAL) DEPENDANT CHILD, Untuk pasangan (suami atau istri) pilih jenis Visa: STUDY – PBS TIER 4 STUDENTTIER 4 (GENERAL) DEPENDANT PARTNER
  3. Mengisi Form Aplikasi Manual : Form
  4. Tes TBC
    1. Dewasa wajib tes TBC (pakai ronsen) di Rumah Sakit yang ditunjuk.
    2. Anak di bawah 11 tahun tidak perlu ronsen, tetapi harus dibawa ke rumah sakit yang ditunjuk bersama orang tua. Orangtua harus mengisi daftar pertanyaan untuk kemudian dikeluarkan sertifikat bebas TBC.
    3. Biaya Rp. 385.000 ,-
    4. Alamat Rumah Sakit di Jakarta :
      1. RS Premier Jatinegara Jl. Raya Jatinegara
        Timur No 85-87
        Jakarta 13310 – Indonesia
        Tel. +62 (21) 2800 888
        Email: rspremier.jatinegara@ramsayhealth.co.id
      2. RS Premier Jl. M.H. Thamrin Blok B3 No. 1
        Sektor 7 Kawasan Niaga – Bintaro Jaya, Tangerang 15224
        Tel . (62-21) 745 5500/600
        Email: marketing-rsib@ramsayhealth.co.id
    5. Sebelum datang ke rumah sakit, harus membuat perjanjian dengan rumah sakit (via telpon) untuk menentukan waktu tes TBC ( disarankan janjian hari Jumat, senin hasil tes bisa diambil). Bilang ke rumah sakit via telpon untuk janjian tes TBC untuk persyaratan aplikasi VISA Inggris.
    6. Yang harus dibawa pada saat ke rumah sakit : Identitas (paspor) dan uang biaya tes.
    7. Lama tes TBC : 4 jam
    8. Biaya tes orang Dewasa : Rp. 555,000 (Total : 940.000)
  5. Membuat Appointment Online untuk Pengambilan Biometrik, di : http://www.vfsglobal.co.uk/indonesia/book_appointment.html
  6. Pengambilan Biometrik
    1. Harus sudah mendapat sertifikat bebas TBC
    2. Harus sudah membuat perjanjian dengan pada pusat permohonan visa VFS Jakarta (Perjanjian Online), dibuktikan dengan print out appointment (lihat: contoh appointment).
    3. Alamat: JAKARTA: VFS Global visa application centre , Kuningan City Mall, 2nd Floor, Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 18 – Setiabudi, Kuningan
      Jakarta – 12940, Indonesia No. Telp. 00180 3020 8469 
      atau BALI : VFS Global visa application centre, Benoa Square, 3rd Floor No. 7-9.3/A, Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai No 21A, Kedonganan
      Kuta, Bali – 80361, Indonesia 
      ( ada biaya tambahan USD 59 jika mengurus di Bali)
    4. Mebawa semua berkas yang dipersyaratkan (lihat Checklist di bawah).
    5. Waktu penyerahan berkas dokumen: Senin – Jumat (07.00 – 14.00)
    6. Waktu pengambilan VISA: Senin – Jumat (07.00 – 15.00)
    7. Visa akan dikirimkan melalui Jasa Kurir ke alamat rumah anda, atau bisa diambil langsung.
  7. Menunggu visa jadi (biasanya 2 minggu hingga 1 bulan).

Document Checklist

Dokumen Anak Anda:

  1. Appointment Letter
  2. Application Form Manual
  3. Print Out Online Application
  4. Paspor Anak
  5. Paspor Anda
  6. FC Visa Anda
  7. FC Birth Certificate Anak /Diterjemah dalam Bahasa Inggris (Sworn Translator)
  8. FC Family Card /Diterjemah dalam Bahasa Inggris (Sworn Translator)
  9. Invitation Letter untuk Anak
  10. Scholarship Guarantee Letter (GL)
  11. Bank Statement / Rekening koran tabungan **)
  12. CAS
  13. Letter Support For Accommodation
  14. University letter giving course details and start, end and graduation dates of your course.

 

Dokumen Suami/Istri Anda:

  1. Appointment Letter
  2. Application Form Manual
  3. Print Out Online Application
  4. Paspor Istri
  5. Paspor Anda
  6. FC Visa Anda
  7. FC Married Certificate /Diterjemah dalam Bahasa Inggris (Sworn Translator)
  8. Invitation Letter untuk suami/Istri
  9. Scholarship GL
  10. Bank Statement/ Rekening koran tabungan **)
  11. CAS
  12. Letter Support For Accommodation
  13. University letter giving course details and start, end and graduation dates of your course.

Contoh Dokumen:

  1. Invitation Letter
  2. Letter Support for Accomodation

**) Berapa bukti uang yang harus ada di Tabungan anda?

  1. Jika istri dan anak anda akan berangkat sama-sama dengan anda, dan apply visa bersamaan dengan anda, maka uang yang harus ada di tabungan anda adalah £450 per bulan per dependent kali 9 bulan. Jadi, misal anda membawa 1 istri dan 1 anak, maka di Tabungan anda harus ada uang sebesar: 2 x 450 x 9 = £ 8100 .
  2. Tetapi, jika keluarga anda menyusul, anda berangkat duluan dan sudah tinggal di Inggris lebih dari 6 bulan, maka bukti keuangan cukup : £450 per bulan per dependent kali 2 bulan saja. Jadi misal, anda membawa 1 istri dan 1 anak, maka di Tabungan anda harus ada uang sebesar: 2 x 450 x 2 = £ 1800 .
  3. Bukti tabungan bisa berasal dari gabungan buku tabungan anda dan tabungan pasangan anda.
  4. Bukti uang tersebut harus sudah mengendap setidaknya 28 hari (sebelum tanggal aplikasi visa) di buku tabungan anda (dibuktikan dengan rekening koran/bank statement) .
  5. Tips : jika tidak punya uang sebanyak persyaratan, anda bisa pinjam uang dulu ke tempat kerja atau saudara dulu, untuk diendapkan selama 28 hari saja.
  6. Persyaratan di atas bisa sewaktu-waktu berubah.

Berapa Biaya Visa yang harus dibayar?

Besar biaya visa Per orang untuk tahun 2014 sebesar USD 530 atau sekitar Rp. 6.500.000, bisa berubah sewaktu-waktu, silahkan cek di: https://visa-fees.homeoffice.gov.uk/

 

Referensi:

  1. Bringing your Family Guideline (University of Nottingham).
  2. Point Based System (Dependence)  Policy Guideline.
  3. Panduan Visa Inggris di Indonesia

Demikian, semoga bermanfaat dan dimudahkan segala urusan anda, dan sukses selalu buat studi Anda.

 

 


Seorang Ayah dan Anak Lelakinya

… biarlah cerita hidup mengalir begitu saja, mengikuti alur yang tak pernah kita tahu dengan pasti ujung dan pangkalnya. Penuh misteri, penuh dengan kejutan-kejutan. Ada tangis pilu menggores perih luka di hati. Ada tawa yang meledak-ledak. Ada keindahan simfoni cinta lembut membelai jiwa.  Ada kerinduan menyayat  batin. Ada amarah dan dendam menyesakkan dada. Rasanya, kita tak perlu menerka-nerka jawaban untuk setiap teka-teki kehidupan. Tak perlu terlalu mengatur setiap inchi detail hidup kita. Buat apa? Jika ada Dia yang Maha Tahu dan Maha Mengatur kehidupan kita.

Satu Senja di York

Ayah dan Anak Lelakinya: Satu Senja di York

Rasanya, waktu berlari begitu cepat. Seolah, tak pernah memberi kesempatan kepada mereka yang menunggu. Terkadang, aku hanya bisa mengumpat, dan mengutuk diri sendiri yang tak pernah tersadar untuk berlari cepat mengejar angan dan mimpi yang bergelut dengan sang waktu. Tapi, terkadang akal sehat ku bertanya: buat apa aku terlalu ngoyo mengejar capaian hidup, jika aku tak pernah tahu bagaimana menikmatinya?

Memasuki usia 30-an dan menjadi seorang ayah. Ini adalah fase kehidupan yang baru saja aku jalani. Di fase ini, mungkin setiap orang mengartikan nya berbeda-beda. Mungkin, buat sebagian besar orang adalah fase bekerja keras untuk menumpuk-menumpuk kekayaan, membangun titian emas untuk sebuah kursi empuk jabatan dan kedudukan, serta sejumput kekuasaan. Dan pada akhirnya untuk sebuah arti kemapanan di usia 40-an. Yah, kata orang hidup dimulai diusia 40 tahun.

ilyas_playground

Ilyas di Nottingham. Trent University

Lalu, buat aku? Argh entahlah. Yang jelas, ketakutan akan gelapnya masa depan ketika usia 20-an perlahan menghilang. Yah, ketakutan tidak mendapatkan kehidupan yang layak, ketakutan siapa jodoh ku, dan ketakutan-ketakutan lumrah diusia labil itu perlahan pergi. Tetapi, ternyata sekarang muncul lagi ketakutan-ketakutan yang lain. Argh, entahlah, haruskah hidup berlari dari ketakutan yang satu ke ketakutan yang lain?

ilyas_surban

Siap untuk Sholat

Terkadang terlalu memikirkan hidup ini, membuat saya lupa untuk menikmatinya. Karenanya, aku sedang berusaha menikmati menjadi seorang ayah. Seorang ayah dari seorang ‘malaikat’ kecil dari Tuhan yang ditipkan oleh Tuhan untuk ku. Walaupun, sering kali aku gagal menikmatinya.

Lebih dari sekedar sering, aku datang menjumpainya ketika dia sudah terlelap tidur melepas lelah di hari yang panjang tanpa kebersamaanku. Lebih dari sekedar sering, aku pun sudah pergi meninggalkan nya sebelum matanya sempat melihatku jika semalam aku tidur di samping nya. Aku pun selalu memiliki seribu satu alasan untuk segera menyudahi saat-saat aku dan dia memiliki kesempatan untuk bermain bersama. Sungguh aku bisa mendengar suara di hatimu:

” Ayah, aku ingin bermain lama bersamamu ! Bermain bersama dengan pesawat dan perahu kertas yang selalu kau buatkan untuk ku, agar aku terlena dan tak mengganggu kesibukan diri mu “

Iya, aku yang tak pernah hadir sepenuhnya untuk nya. Tuhan, maafkan jika aku belum bisa menjaga sebaik-sebaiknya titipan mu.  Tapi, sungguh, kehadirannya di tengah-tengah kehidupan ku tak pernah membawa yang lain kecuali kebahagiaan dan keceriaan. Dialah lentera, ketika semangat hidup mulai ridup. Dialah alasan, untuk bangkit ketika terjatuh.

ilyas_school

Siap Berangkat Sekolah

Alhamdulilah, Ya Allah. Terima kasih Tuhan, untuk semua berkah dan anugerah kehidupan.


Jejak mu, yang akan kau rindu

Buat ku, melihat mu tumbuh dari waktu ke waktu, adalah anugerah terindah. Buat ku, hadir untuk mu, adalah momen hidup tak terharga. Buat ku, melihat manis senyum dan renyah tawa mu adalah obat termujarab segala penyakit kegelisahan hidup di dunia. Di usia emasmu, aku ingin hadir dan menjadi yang terbaik untuk mu, koe anak lanang ku. Menjadi kawan bermain paling setia dan guru belajar terpintar untuk mu.

Ini adalah jejak-jejak langkah kaki kecil mu, yang suatu saat pasti akan kau rindu. Jejak-jejak yang bercerita dalam diam, betapa lucu, aktif, cerdas, berani, dan menyenangkanya dirimu. Dan juga tentang sifat keras mu, saat ingin mendapatkan keinginan mu. Sama persis, seperti sifat bapak mu.

Aku sadar, waktu akan berlari mengejar takdirnya begitu saja. Dan kita pun berujar, oh terasa hanya sekejap mata. Karenanya, ku tak mau kehilangan nya.

Bermain di rumah

dengan_mainan

bermain dengan Bus London kesayangan mu

mainanmobil

Bermain dengan mobil amfibi mu

mainanbaru_ilyas

Dengan mainan mobil ambulan mu

Bermain di Alam

Berlari di Wollaton Park

Berlari di Wollaton Park

di_wollaton_park_lagi

Di bawah langit Wollaton Park

dijubileepark

di Jubilee Campus UoN

Waktu untuk Belajar

Belajar Serius

Belajar Serius

Pekerjaan Sekolah

dengan_school_work

Fantastic Work

dengan_schoolworks

Another School Work