Keluarga

Anak Lanang Memahami Tuhan

… jika kehidupan itu sendiri adalah misteri, maka misteri terbesar dalam kehidupan adalah keberadaan Tuhan – a random thought

anak_lanang

Ilustrasi: Anak Lanang di Halaman Sekolah

Kalau bicara kualitas sistem pendidikan dasar secara umum, bolehlah dibilang sistem pendidikan di Inggris menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Tetapi, bagaimana halnya dengan pendidikan agama? khususon, pendidikan Islam.

Maklum, lazimnya negara-negara maju lainya, agama di Inggris menjadi urusan sangat pribadi yang harus sangat-sangat dihormati. Sekolah pun tidak mengajarkan pendidikan agama, melainkan sekedar menanamkan British values. Nilai-nilai mulia yang harus dijungjung tinggi dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mutual respect for and tolerance of those with different faiths and beliefs and for those without faith.

Inilah yang menjadi kekhawatiran saya, dibalik kebanggaan saya atas bagusnya sistem pendidikan di negeri ini. Pernah berfikir mengajarkan agama pada anak lanang, tetapi ndak kebayang bagaimana caranya mengajarkan pemahaman agama yang kompatibel dengan alam pikiran bocah umur 3-5 tahun itu? Akhirnya, saya hanya sekedar mengajarkan mengaji, membaca huruf-huruf Arab, abatasa; membiasakan membaca doa-doa, dan kadang-kadang mengajaknya sholat jamaah, baik di rumah maupun di masjid. Itu saja, tidak lebih dari itu.

Tapi, sungguh diluar dugaan, meski guru-gurunya tidak ada yang muslim. Si anak lanang begitu luar biasa pengenalan identitas dirinya sebagai seorang muslim. Meskipun saya sama sekali tidak pernah mengajarkan identitas dirinya sebagai seorang muslim. Pernah pada suatu kesempatan si anak lanang bilang seperti ini:  I don’t eat pork becauase I am Muslim; I don’t celebrate chrismast because I am Muslim. Saya pikir itu sesuatu yang luar biasa.

Mungkin inilah maksud British value: mutual respect for and tolerance of those with different faiths and beliefs and for those without faith. Sehingga si anak lanang pun tidak kehilangan identitas dirinya. Di sekolah pun ada Eid Party, setiap idul fitri dan idul adha, yang dirayakan semua siswa di sekolah, sama meriahnya dengan perayaan Diwali, natal, dan paskah. Alangkah damainya memang jika kita bisa saling menghormati dan toleran dengan orang lain yang berbeda iman dan kepercayaan, termasuk dengan yang tidak beriman sekalipun.

Kemaren ada satu hal lagi dari anak lanang yang membuat saya cukup tercengang. Kebetulan si Anak lanang sedang menjelaskan secara detail  tentang tata surya, nama-nama planet, beserta cirinya masing-masing. Darinya pula, saya baru tahu kalau pluto itu tidak termasuk dalam 9 planet yang dulu saya kenal pas jaman SD. It is one of dwarf planets katanya. Nah, ada satu kalimat yang membuat otak saya langsung on, yaitu ketika si anak lanang bilang: God spins the earth…

Terus saya pun mencoba meyakinkan dengan bertanya: Whats, a God, what is God? Anak lanang pun menjawab: Hemm… , God is the one who can create any thing, God can create me, ayah, bunda, my sister, toys, car, airplane, planets, sun, star, …… Saya pun terharu mendengar jawaban itu. Rupanya, dalam alam pikiran bocah umur lima tahun pun sudah ada kesadaran bahwa ada dzat yang maha kuasa atas segala-galanya. Padahal saya tak pernah mengajarkanya.

Malah kita yang dewasa, kadang tidak sadar, berkali-kali telah menyekutukanya. Lebih takut tidak punya duit, dari pada takut sama Tuhan. Ibadah pun dikapitalisasi, sholat yang rajin biar hidupnya penuh berkah. Sedekah, biar rejekinya kian bertambah-tambah. Gambaran keberkahan hidup pun tak jauh-jauh dari melimpahnya kekayaan dunia. Bahkan syurga pun dibayangkan sebagai puncak kekayaan dan kenikmatan yang materialistis, bidadari yang cantik, istana dari emas. Tetapi jauh dari kesadaran sejati akan kehadiran Tuhan yang begitu dekat. Keindahan cinta sang pemberi kehidupan pun kalah menarik dari bayangan keberlimpahan yang serba materi.

Semoga Tuhan senantiasa menjadi punggawa di alam pikiran mu, cah bagus !

Weird Dream Anak Lanang

… setiap momentum hidup adalah peristiwa yang tidak akan pernah ada duanya – a random thought

anak_lanang_weird_dream_2

Ilustrasi: Under Cherry Blossom, University Park, Nottingham

ooo, so people in Indonesia called it Ikan, haha” kata anak lanang setengah tertawa setelah mengetahui bahasa indonesia dari fish. Anak lanang yang kosa kata bahasa Indonesia nya tidak banyak itu, sering bertanya how to called it in Indonesia. Seperti pagi itu, ketika anak lanang minta disuapi makan nasi, lauknya sambel goreng tahu dan ikan laut, di sofa dekat pintu masuk rumah.

Kata orang Jawa, makan sambil ngomong itu tidak elok, alias tidak baik. Bisa keseleg. Tapi tidak halnya dengan anak lanang. Bocah ini mulutnya ndak bisa diam, selalu ceriwis, ngoceh sana sini.

Tetapi diam-diam aku menikmati momentum seperti ini. Belajar menjadi pendengar yang baik buat anak lanang. Yang dari hari-kehari semakin pintar mengungkapkan alam pikiranya dalam dunia kata-kata. Aku begitu mengagumi logat Britishnya yang terdengar sangat alamiah, karena lidah ku yang sudah kebacut designated for bahasa Jawa ini tentu tidak bisa menirukanya dengan sempurna.

Setelah mengunyah sesuap nasi dan hening sejenak, tiba-tiba dengan air muka cukup serius, anak lanang mengajukan sebuah pertanyaan kepada ku: ” Ayah, have you ever got a weird dream?”  “What, a weird dream? ” tanya ku mengkonfirmasi. “W E  I R D DREAM” kata anak lanang pelan. “What about you?” aku balik bertanya.

Anak lanang pun dengan serius bercerita panjang lebar tentang sebuah mimpi yang dialaminya panjang lebar. Aku hanya diam menyimak, mencoba menjadi pendengar terbaik untuknya. Sesekali mengagumi kosakata yang dia gunakan, dan cara dia mengungkap ceritanya yang begitu ekpresif dan apik. Tentang dia yang terdampar di negeri antah berantah, sendirian, dan bla-bla. “… finally, I back home at the house number 46 and I found one ayah with two Bundas sholat in the living room“, begitu anak lanang mengakhiri cerita weird dream nya.

Aku pun hanya bengong sendiri apa maksud kalimat yang terakhir itu. Masak saya punya dua istri? hahaha, ada-ada saja anak lanang satu ini. Tetapi, apapun ceritanya, setiap momentum menjadi pendengar yang baik buat anak lanang adalah momentum yang selalu saya syukuri. Sebelum suatu saat nanti, dia lebih memilih orang lain sebagai pendengar terbaik dalam kehidupanya.

Semoga Barokah Umur Mu, Anak Lanang Ku !

….. Ayah ! I am a good boy, not a naughty boy ! –Ilyas

ilyas_birth_day

Ilyas is blowing his 4th birth day wishes

Anak lanang ku, belakangan ini kamu selalu protes keras:

Ayah ! I am a good boy, not a naughty boy !

setiap kali ayah dan bunda mengatai mu ‘a noughty boy’ jika kamu ngambek tidak mau mandi atau tidak mau sarapan pagi. Dan kamu tidak akan menurut sebelum ayah dan bundamu meng-endorse-mu, yes, Ilyas, you are a good boy !. Seperti yang kau inginkan. Semoga kamu seantiasa menjadi anak yang baik, anak yang soleh, dan good boy.

Anak lanang ku, hari ini adalah hari ulang tahun ke-empat mu. Ayah tidak pernah lupa hari ulang tahun mu. Hari dimana 4 tahun yang lalu, kamu lahir procot dari rahim bunda mu, saat ayah masih di dalam perjalanan kereta api Jakarta-Solo. Rupanya, kamu tidak sabar menunggu kedatangan ayah, yang sedang belajar bahasa Inggris di komplek kampus Salemba, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia untuk persiapan berangkat ke Inggris. Mungkin karena waktu kamu lahir ayah masih di dalam kereta itulah, kamu begitu sangat gandrung dengan mainan kereta api. Kamu tidak pernah melewatkan sehari pun tanpa melihat video kereta api, dan kamu tidak bisa tidur tanpa mengeloni mainan kereta api mu.

Maaf kan ayah ya nak! Di bulan-bulan terakhir menjelang kelahiran mu, ayah justru meninggalkan mu dan bunda mu. Suatu hari nanti kamu akan tahu, arti sebuah pengorbanan dan kesabaran itu. Percayalah, setiap hari ayah memasuki kampus Salemba, dan melihat bangunan tua megah berasitektur kuno bertuliskan Fakultas Kedokteran itu ayah diam-diam membisikan do’a, semoga suatu saat nanti kamu bisa belajar di kampus ini dan namamu terpahat sebagai salah satu dokter lulusan terbaik di dinding tembok kampus ini. Allahumma ammiin

Di hari ulang tahun mu yang ke-empat ini, Ayah membelikan mu, kue kecil harga roll back, seharga 1.5 poundsterling dari supermarket terdekat. Sebuah lilin, beberapa balon warna warni yang salah pilih bertuliskan angka 21, dan beberapa kaca mata kertas. Maaf, bukan ayah tak mampu atau pelit untuk membelikan mu kue ulang tahun yang lebih besar. Tetapi ayah ingin mengajari mu arti kesederhanaan dan kebersahajaan hidup. Mengapa? Karena memilih hidup sederhana itu tidak sederhana, sayang ! Yang terpenting, tak sedikitpun mengurangi kebahagian dan kesyukuran kita pada Gusti Allah ta’ala.

Awek (baca:kakek dan nenek) kamu saja tidak pernah mengingat hari kelahiran ayah. Sebagai orang Jawa, Awek hanya ingat neton (nama hari kalender dan nama hari pasaran, misal: Jumat Kliwon) ayah. Dari lahir, ayah tidak pernah mengenal kue ulang tahun dan tradisi meniup lilin. Jangankan dirayakan, di hari neton ayah, Awek malah sering berpuasa dan menyuruh ayah berpuasa juga.

Anak lanangku, ulang tahun mu kali ini adalah kali kedua di negerinya Ratu Elisabeth ini. Terima kasih kamu dan bunda mu. telah menemani Ayah belajar di kota Nottingham ini. Kehadiran mu dan bunda mu disini sungguh sangat berarti. Kamu juga sudah hampir setahun sekolah di Nursery School. Ayah bangga sekali, kamu selalu terlihat aktif, ceria, bersemangat,cerdas, dan bahasa Inggris mu dengan aksen British yang sangat kental itu membuat ayah menjadi iri. Semoga kamu terus tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang hebat dan mulia. Semoga dalam hidup mu nanti, kamu tidak pernah merasa cukup dengan kehidupan sendiri, tanpa memikirkan kehidupan orang lain. Ulurkan tangan pada mereka yang membutuhkan bantuan, suarakan mereka yang tidak mampu bersuara, berdayakan mereka yang tidak berdaya.

Pilihlan menjadi sederhana dan bersaja selalu. Ingat dan waspadalah selalu. Bahwa hidup di dunia ini bukanlah tujuan. Ini hanyalah lintasan perjalan sebentar saja. Ladang kita untuk menabur benih kebaikan dan kebajikan, yang akan kita panen di kehidupan abadi di akhirat nanti.

Anak lanang ku, semoga di ulang tahun mu yang kelima nanti kita sudah kembali dengan kemenangan di tanah air. Doakan belajar ayah selesai secepatnya. Tetapi berjanjilah, suatu saat nanti kamu akan mengajak ayah melihat kota kenangan perjuangan kita bersama ini kembali. Tuntutlah ilmu sejauh mungkin dimana engkau akan mencari.

Selamat Ulang Tahun anak lanang ku, Semoga Barokah Umur mu! Allahumma Ammmiin.

Dalam Bayang-Bayang Keluarga Aktivis

‘… kita ingin mengajarkan nilai bahwa hidupnya (i.e. anak) tidak boleh hanya untuk dirinya sendiri tapi juga dipergunakan untuk bisa sebesar mungkin berguna orang lain.’ – Yenny Wahid

keluarga_gus_dur

Foto Keluarga KH Abdurahman Wahid / Gus Dur (Gusdur.Net)

Kawan, sebagai keluarga muda yang baru memulai membangun keluarga dalam hitungan tahun yang masih bisa dihitung dengan jari tangan, terkadang dari hati lubuk saya yang paling dalam sering muncul pertanyaan: seperti apa sih keluarga yang ideal itu?

Dalam setiap acara pernikahan, titik awal dimulainya sebuah mahligai keluarga baru, selalu bertaburan doa-doa dan harapan-harapan. Salah satu do’a yang paling sering dimohonkan adalah keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Keluarga yang bisa membawa rasa penuh ketentraman dan ketenangan dalam hati, penuh cinta, dan penuh kasih sayang.

Tetapi, seperti apakah idealnya wujud keluarga yang membawa ketenangan, cinta, dan kasih sayang itu? tentu setiap dari kita memiliki gambaran yang berbeda-beda.

Untuk ukuran jaman dan gaya hidup kebanyakan orang sekarang, mungkin gambaran keluarga yang ideal adalah ketika kedua pasangan memiliki pekerjaan tetap dan karir yang moncer pada perusahaan mentereng atau memiliki usaha bisnis yang menggurita keuntunganya, mimiliki rumah dan mobil pribadi yang nyaman, mempunyai buah hati yang unyu-unyu, cerdas-cerdas, dan menggemaskan. Yang setiap akhir pekan bisa meluangkan waktu bersama, bersenang-senang bergembira bersama menghabiskan waktu bersama keluarga, beberapa bulan sekali jalan-jalan ke tempat wisata idaman dalam dan luar negeri, dan setiap tahun sekali bisa ‘pamer’ kesuksesan hidup pada orang tua dan keluarga di kampung. Syukur-syukur, kalau sudah berhijab syar’i dan memelihara jenggot sunah sedikit ‘terkenal’ lagi. Paripurna sudah, gambaran keluarga sakinah wawadah warahmah, fiddunya walakhiroh itu?

Jikalau, itu adalah gambaran keluarga ideal itu, rasanya tidak susah mencari sample nya di antara kita. Tetapi, terkadang hati kecil saya masih saja sering bertanya: cukupkah hidup ini adalah semuanya tentang kebahagiaan antara diri, kelurga, dan Tuhan kita?

**
Dahulu, waktu saya masih bujang, diawal menjalani karir setelah tamat kuliah, saya kebetulan dipertemukan dengan seseorang yang sangat istimewa dalam hidup saya. Seseorang, yang merubah cara pandang saya tentang arti kebersamaan dalam keluarga. Menurut pandangan saya, beliau termasuk salah seorang yang sangat dedicated dan menghayati karirnya pun paling moncer dalam karirnya, sagat religius, memiliki istri yang cantik, dan memiliki banyak anak yang unyu-unyu. Tetapi selalu meninggalkan tanda tanya besar dalam hati saya: Bagaimana ya beliau ini membagi waktu luangnya untuk keluarganya? Apakah istri dan anak-anak nya tidak menuntut waktu beliau?

Kenapa muncul pertanyaan demikian?

Karena saya tahu betul dengan jabatan beliau, beliaunya sudah sangat sibuk. Tetapi, setiap akhir pekan nya selalu didedikasikan untuk kegiatan sosial, kemanusian, dan keagamaan. Saya tahu betul jadwal akhir pekan beliau sudah over booked untuk beberapa minggu kedepan. Berangkat jumat malam kembali ke rumah hari minggu larut malam. Tidak jarang, waktu istirahatnya hanya ketika di dalam mobil dalam setiap perjalanan.

Saya pernah, sekali dua kali diajak beliau. Blusukan ke pesantren-pesantren di daerah-daerah. Bekerja dan mengamalkan ilmunya disitu. Alih-alih untuk mengumpulkan keuntungan, yang terjadi malah sebaliknya perlu banyak berkorban.

Saat itu saja, ketika saya masih bujang, sering kali beliau mengajak ‘berjuang’, lebih sering saya tidak bisa dengan berbagai alasan. Lebih-lebih setelah saya menikah dan memiliki momongan. Keluarga menjadi seperti penjara kecil buat saya. Sejak saat itu saya hanya bisa mbatin beliau ini pasti memiliki istri dan anak-anak yang luar biasa.

Itu baru potret aktivis lokal, belum lagi potret keluarga aktivis level nasional seperti keluarga Gus Dur misalnya. Dalam sebuah talkshwow, saya pernah mendengar dari putri-putrinya bahwa hidupnya Gus Dur benar-benar untuk orang lain. Bagaimana tidak, sejak jam 4 pagi sudah banyak orang mengantri di rumah untuk sowan. Dan hampir semua waktunya didedikasikan untuk umat. Bahkan sautu waktu, Mbak Yenni, putri keduanya, saat masih SMP pernah bersumpah, suatu saat kalau sudah dewasa tidak akan menikah dengan suami seorang aktivis, saking sedihnya karena merasa betapa sulitnya memiliki waktu bersama dengan bapaknya sendiri. Mbak Yenni juga pernah bilang, satu-satunya moment, once in life time, mereka merasakan yang namanya sebenar-benarnya liburan adalah saat mereka liburan satu keluarga pada satu waktu di negeri Belanda.

Sungguh, keluarga Gus Dur adalah potret keluarga aktivis yang luar biasa. Yang pastinya didukung oleh istri dan putri-putrinya yang luar biasa juga. Yang merelakan, waktunya bersenang-senang dengan keluarga dikorbankan untuk umat. Rasanya, tidak banyak keluarga lain yang berani memilih jalan hidup seperti itu. Rasanya, 1000: 1 saja belum tentu. Yang berani memilih lebih mementingkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, dan keluarganya sendiri.

Sampean sendiri berani mencoba?

Jangankan mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarga untuk umat, satu akhir pekan saja meluangkan waktu untuk macak memikirkan umat, istri sudah ngambek mengancam demo libur masak, kata seorang kawan. Hehehe, belum lagi anak-anak yang masih kecil dan unyu-unyu yang juga menuntut perhatian kita dan tentunya membuat hati kita sendiri berat meninggalkan kita.

Memang, saya tidak ditakdirkan sehebat Gus Dur. Seujung kukunya saja mungkin tidak ada. Tetapi rasanya hidup di dunia yang sebentar, dunia yang tak lain hanya sekedar ladang tempat kita bertanam untuk kita panen nanti di kampung akhirat, rasanya terlalu tidak bermakna jika kita hanya memikirkan kenikmatan dan kebahagiaan untuk diri dan keluarga kita sendiri. Bukankah, kanjeng nabi pernah dawuh:

Khoirun nas, Anfa’uhum Linnas – sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi manusia lainya (catat:  manusia, bukan muslim saja).

Hidup memang tentang keberanian membuat pilihan. Semoga kita tidak pernah merasa cukup dengan kebahagiaan diri dan keluarga kita sendiri, tanpa mau memikirkan orang lain. Semoga kita bisa !

Dongeng Sebelum Lelap Ku, Sebelum Lelap Mu

….. kuingin satu, satu ceria. Pengantarku tidur biarku terlelap. Mimpikan hal yang indah. Lelah hati tertutupi. Dongeng sebelum tidur. Ceritakan yang indah biarku terlelap. Dongeng sebelum tidur. Mimpikan diriku mimpikan yang indah – Wayang

Dongeng_Sebelum_Tidur

Ilyas, Anak Lanang ku, Sedang Mendongeng

Salah satu anugerah Gusti Allah yang paling saya syukuri dalam hidup saya saat ini adalah takdir menjadi seorang ayah dan memiliki sedikit waktu untuk menghayati peran tersebut. Saya tahu, banyak saudara saya disana yang ditakdirkan menjadi suami, tetepi Allah belum menakdirkan menjadi seorang Ayah. Saya sadar, banyak saudara saya disana yang ditakdirkan menjadi seorang ayah, tetapi tidak banyak yang memiliki sedikit waktu untuk menghayati peran menjadi seorang ayah. Maklum, umumnya orang-orang pada usia saat ini, sedang semangat-semangatnya meniti karir, dan menumpuk-numpuk kekayaan sebanyak-banyak nya. Sebelum akhirnya tergapai sebuah ‘kemapanan’ semu pada usia 40 tahun. Angka usia, dimana katanya hidup yang sebenarnya dimulai. Argh, entahlah persetan dengan ‘kemapanan’ itu. Bukankah setiap orang berhak mendefinisikan dengan definisi  yang berbeda pada ‘kemapanan’ itu?

Saya merasa bukanlah seorang Ayah yang baik, tetapi saya sungguh beruntung memiliki seorang ‘ Anak Lanang’ yang baik. Hari-hari bukan di akhir pekan, nyaris saya dan anak lanang ku hanya bisa meluangkan waktu bersama saat kami melepas lelah di tempat tidur, ketika malam telah teramat larut, dan ruh kami berada di alam yang berbeda. Saya harus sudah terbangun ketika dia masih terlelap dalam tidur, bertemu sebentar beberapa menit sebelum saya pergi ke kampus dan anak lanang ku pergi ke sekolah. Dan kami bertemu kembali ketika hari sudah gelap.

Tetapi, ada saat yang paling sangat saya nikmati, yaitu saat diantara saya tiba di rumah dari kampus dan saat kami terlelap dalam tidur. Saya biasanya sampai di rumah hampir jam 10 malam. Lelah pikiran seharian berkutat dengan riset di kampus, pegal kaki mengayuh sepeda,  dan dingin nya udara malam rasanya hilang ketika saya membuka pintu rumah, dan terdengar suara penuh gairah:

” Ayah … !!  Ayah … !! Ayah … !!!” Dak dak dak dak Dak …

Suara langkah kaki anak lanang ku berlari menuruni anak tangga dari lantai dua menuju ruang tamu menyambut ku dengan kegembiraan yang berlimpah ruah. Seperti peretemuan sepasang kekasih setelah sekian lama berpisah. Saya memeluk nya erat, dan menghujani kedua pipi dan keningnya dengan ciuman-ciuman. Anak lanang saya minta digendong lalu diayun-ayunkan dalam posisi tengkurap, sambil mengepak-ngepak kan kedua tanganya layaknya seekor burung yang sedang terbang di langit.

Ayah.. ! I want to fly high like a bird .

Kemudian anak lanangku dengan sabar menungguiku duduk di sofa menikmati makan malam lezat yang telah disiapkan istriku tersayang sambil mendengarkan anak lanangku ‘ngoceh’ random stories. Hingga saya selesai makan, sikat gigi, wudlu, dan sholat. Dan tibalah saat yang dia tunggu-tunggu: STORY TIME. Dalam posisi ‘mapan’ tidur, di antara dekapan ayah dan bundanya, anak lanangku bersiap mendengarkankan saya membacakan dongeng baru dari tumpukan buku-buku cerita yang dia pinjam bersama bundanya dari perpustakaan komunitas terdekat.

Dongeng_Sebelum_Tidur_2

Buku Dongeng Untuk Anak Lanang ku

Saya berusaha membacanya, kata demi kata, dengan aksen British yang saya coba paksa-paksa kan, tetapi tidak pernah bisa, karena logat bahasa Jawa yang sudah begitu kuat membentuk lidah dan pita suara ini. Ilyas, anak lanangku terlihat begitu menghayati setiap halaman dari buku cerita penuh gambar yang sedang saya baca. Seolah, alam pikiranya dalam sekejap sudah terlarut dalam dunia imajinasi cerita yang  saya bacakan. Saya selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan spontanitas untuk memastikan bahwa dia paham dengan alur cerita pada dongeng sekaligus mengetes daya ingat nya. Luar biasa, dia hampir selalu mampu menjawab pertanyaan saya dengan sempurna.

Selanjutnya setelah saya selesai membaca dongeng, giliran anak lanangku yang mendongeng a random story yang ada di pikiranya. Dongeng yang selalu dimulai dengan kata: One Day …. dan diakhiri dengan kata …. The End. Dan saya tidak pernah paham alur cerita dongeng diantara dua kata itu.

One Day. Butterflies. &&&&  Birds. $$$$ !!!. ***&&&&&. Fly High. ***&&&!! Splash. Splash. Splash. Splash. !$$%% Up. **&&&& . The End”.

Selesai sudah ritual menjelang tidur itu, yang diakhiri dengan tawa kita bersama. Sebelum akhirnya berganti dengan kesunyian, ketika kami terhanyut dalam lelap ketika malam sudah semakin larut. Aku selalu berdoa untuk kebaikan kita semua dalam lelap ku dan lelap mu.

Maafkan ayah mu nak ! tak banyak waktu yang bisa kuhabiskan berdua dengan mu ! Tetapi aku ingin kau tahu suatu saat nanti. Betapa bahagianya diri ku menghabiskan setiap detik waktu bersama mu. Aku ingin kau tahu, betapa aku sangat bersyukur kepada Gusti Allah, atas kehadiran mu mengisi hari-hari ku. Dalam setiap dongeng sebelum lelap ku dan lelap mu.  Kuselipkan rapalan doa-doa kebaikan untuk mu. Dalam setiap dongeng sebelum lelap ku dan lelap mu. Ingin aku katakan:  I love You, Anak Lanang ku !