Advertisements

Category Archives: Kata Hati

Hati yang Terbiasa Terluka

… sekedar sampah pikiran – a random thought

hati_yang_terluka

Ilustrasi: Broken Heart

Nasehat bukanlah sebuah nasehat,
Petuah bukanlah sebuah petuah,
Tetapi hanyalah luka lara,
Bagi hati yang selalu dimanja-manja,
Bagi hati yang selalu di sanjung-puja.

Hinaan bukanlahlah sebuah hinaan,
Cercaan bukanlah sebuah cercaan,
Makian bukanlah sebuah makian,
Luka bukanlah sebuah luka,
Tapi obat yang menguatkan,
Bagi hati yang terbiasa terluka.

Untuk hati yang terbiasa terluka,
Bersabarlah,
Ada kebahagiaan tak terkira,
Sedang menunggu mu, sedang merindukan mu.

Nottingham, 26/06/2016

Advertisements

Kembang Kempis

Ya rabba bil musthofa, balligh maqasidana, waghfirlana ma madzo ya wasingal karomi/Duh Gusti, dengan adanya yang terpilih (kanjeng nabi Muhammad), sampaikanlah kami pada apa yang kami cita-citakan, dan ampunilah dosa yang telah kami perbuat, duhai Engkau Tuhan yang maha luas karunianya – Syair Burdah

naik_sepeda_edited

Ilustasi: Mengayuh Sepeda, Leuven Belgium

Kata seorang sahabat saya, menjalani perjuangan panjang dalam hidup itu seperti mengayuh sepeda dalam rentang jarak yang jauh sekali. Harus terus dikayuh, biar tidak terjatuh. Sesulit apa pun, perjuangan harus terus dijalani, tidak boleh berhenti, agar semangatnya tidak mati.

Tapi sayang, seperti udara yang bersembunyi di dalam ban sepeda itu, semangat berjuang pun sering mengembang dan mengempis. Kayuhan sepeda terasa lebih ringan, kala udara itu mengembang, sebaliknya akan terasa semakin berat kala mengempis. Begitu pun ceritanya, berjuang dengan kembang kempis semangat yang mengiringinya.

Tapi sayang, membuat semangat yang kempes itu mengembang kembali, tak semudah meminjam atau membeli pompa angin untuk memompa ban sepeda kita yang kempes itu. Tapi, mengganti semangat yang bocor, tak semudah mengganti ban bocor dengan membeli ban yang baru.

Manusia memang tak pernah sesederhana ban sepeda. Terlalu rumit untuk diperbandingkan dengan benda-benda mekanis di sekitar kita. Terlalu banyak misteri diri, yang belum dapat kita selami sendiri.

Teramat beruntung, dan bersyukurlah kawan, jika semangat berjuang itu sedang bersemayam di dalam tubuh mu. Jagalah dia, sesulit apapun, pada akhirnya dialah yang akan mengantarkan mu merengkuh dan memeluk asa mu.

Semangat itu, tidak bisa dibeli. Seberapa banyak pun uang di dalam genggaman mu. Buat kamu yang sedang berjuang, teruskanlah dengan sepenuh kembang kempis semangat juang mu!  Angap saja, kembang kempis itu bagian dari dinamika perjuangan yang akan membuatnya lebih indah untuk diceritakan kembali, sauatu saat nanti.

Ya Rabba bilmusthofa, balligh maqasidana …


Kentut

Kentut, buat banyak orang, suara yang keluar dari belahan bokong itu tidak patut. Melanggar tata kesopanan dan kesantunan. Kentut, juga bisa menjadi sumber makian dan cercaaan, serta pemantik rasa kemaluan.

Tetapi,
Tidak halnya di tempat tidur kami. Kentut selalu jadi bahan guyonan dan inspirasi kejenakaan. Setiap menjelang tidur, kami berlomba-lomba, untuk kentut. Si sulung selalu tertawa puas, setiap berhasil mengeluarkan kentut besar yang bau. Kami pun tertawa berjamaah, bhahahaha

Tetapi,
Hari ini, ketika berada di antara orang-orang kantor yang sedang sibuk bekerja, aku tak sengaja kentut: TUTTTTTTTTTTT.
Mendadak mukaku jadi merah padam, ingin rasanya aku punya ajian lembu sekilan. Menghilang seketika. Hatiku menghardik: Cuk! dasar silit ndak pernah disekolahkan!

Tetapi,
Kentut telah mengingatkanku, bahwa disamping kita punya mulut yang bisa mengeluarkan kata-kata manis menghipnotis. Dari silit kita juga keluar kentut. Bahwa disamping muka yang selalu kita tunjuk pamerkan, kita juga punya bokong yang selalu kita sembunyikan.

Argh, Kentut!


The Hilditch Way dan Harapan-Harapan Sederhana Itu

… karena saban manusia pasti punya harapan. Dan saban insan pasti punya keraguan terhadap tahun yang akan ditapaki.” – Djoko Suud.

welcome2015

Selamat Datang 2015, Wollaton Park, Nottingham, 26 Desember 2014

Hari ini, pagi pertama di tahun 2015. Aku berjalan perlahan, setapak demi setapak, menyusuri jalan pedistrian dari depan pintu rumah ku menuju gerbang kampus. Entah sudah berapa ratus kali aku menyusuri jalan yang sama ini. Seolah setiap aspal yang aku pijak, sudah akrab dengan injakan sepatu ku. Masih musim dingin, dan langit terlihat begitu kelabu, tetapi tidak hujan. Pohon-pohon masih kerontang meinggalkan dahan-dahan kering tanpa daun, air sungai masih segemericik seperti biasa. Suara riuh kawanan bebek, dan kicauan gerombolan burung-burung camar masih menyambut ku seperti biasa di jembatan sungai kecil itu. Penghubung jalan itu, The Hilditch Way. Jalan paling indah, teman diskusi penuh inspirasi, yang hanya bisa dilalui pejalan kaki seperti diriku.

hilditchWay

The Hilditch Way

Gemericik air sungai kecil itu, pepohonon khas pinggir sungai, bebek, burung camar, dan rerumputan hijau yang terbentang luas itu adalah teman setia menemani pejalanan pagi dan malam ku. Saksi-saksi bisu tentang perjalanan panjang ini. Hanya saja, bongkahan-bongkahan es yang membeku dari hujan salju seminggu yang lalu, pagi ini menghilang begitu saja tak berbekas. Seolah menafikan apa saja yang telah terjadi. Dan angin berhembus cukup kencang, menghempas dan meliuk-liukkan tubuhku, yang tiap hari terasa semakin ringan. Padahal semalam, aku masih harus merayap merambat karena takut tergelincir di antara bongkahan es yang sangat licin itu, dan  jatuh ke sungai di samping nya. Yah, terkadang layar kehidupan harus beganti begitu cepatnya.

theHilditchWay

The Hilditch Way: Sehari Sebelum Pergantian Tahun

Tentang Harapan-Harapan Itu

Bilangan tahun baru ini adalah 2015. Yea, angka ganjil, angka yang dicintai Tuhan, angka (mudah-mudahan) pembawa keberuntungan. Setiap pergantian tahun, saya selalu mengurangi angka tahun baru itu dengan angka tahun kelahiran ku. Haha, mungkin saya bukan satu-satunya di dunia ini yang merasa semakin tua. Semakin mendekat ke batas waktu hidup kita yang selalu menjadi misteri di dunia ini. Gerbang menuju misteri kehidupan selanjutnya, yang selalu meninggalkan setumpuk tanda tanya.

Aku tak mau  menengok kembali tahun lalu. Karena, terkadang aku lebih cenderung ke madzab yang menganggap masa lalu telah mati. Kemaren, masa lalu itu sudah terkubur di hari kematianya yang abadi. Yang tak perlu disesali, karena tidak mungkin akan hidup kembali.

Hanya ada setumpuk harapan untuk hari-hari yang akan datang. All in All, harapan ku adalah hanya bisa menguasai diriku. Untuk fokus menyelesaikan studi ku tahun ini. Sungguh benar kanjeng nabi Muhammad. Setelah kemenangan perang badar (perang terbesar melawan kaum kafir quraish, dalam sejarah islam. mungkin bisa dibandingkan dengan perang Bratayudha dalam epic Mahabarata), kanjeng nabi mengingatkan ada perang yang lebih besar dari itu, yaitu perang melawan nafs, perang melawan diri sendiri. Aku pun merasakanya, betapa sulitnya mengatur diriku sendiri.

dariAtasJembatanHilditchWay

Dari Atas Jembatan The Hilditch Way, Sehari Sebelum Pergantian Tahun 2015

Lebih spesifiknya, harapan ku tidak muluk-muluk. Harapan wajar, yang most likely, pernah diharapkan orang-orang dalam episode hidup seperti diriku. Selain sehat, bahagia dan sejahtera untuk semuanya, di tahun ketiga studiku ini, aku hanya ingin publish dua paper untuk Journal Information Sciences (yang impact factornya 5), selesai menulis thesis, dan tentunya lulus PhD sebelum akhir tahun ini. Dan saya ingin sekali berkunjung ke baitullah, mencium hajar aswad, sholat jamaah di masjidil haram, bersujud di masjid nabawi, dan berziarah di makam kanjeng nabi Muhammad SAW. Aku sungguh rindu kepada mu Ya Rosul. Sebuah rindu yang sungguh tak terperi.  Ya habib, salam ‘alaik… (Wahai kekasih, salam sejahtera untuk mu)

Walaupun untuk harapan yang terakhir ini, the money really does matter. Tetapi, sebagai orang yang percaya akan kehadiran kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, aku percaya adanya keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.

Itulah harapan-harapan sederhana ku. Harapan-harapan yang membuat ku keep on going. Harapan-harapan yang membuat hidup kita lebih hidup. Semoga Tuhan mengabulkan harapan-harapan kita, atau menggantinya dengan yang lebih baik, Yarabibil musthofa, balligh maqaasidana. Semoga tidak pernah ada penyesalan untuk hari kemaren, penuh percaya diri untuk menjalani hari ini, dan menatap hari-hari esok tanpa rasa takut, ibtasama lil hayat ! Selamat Tahun Baru 2015, kawan ! Semoha Membawa, kebahagiaan, kesuksesan dan keberkahan buat kita semua ! Allahumma Ammiin !


Seorang Ayah dan Anak Lelakinya

… biarlah cerita hidup mengalir begitu saja, mengikuti alur yang tak pernah kita tahu dengan pasti ujung dan pangkalnya. Penuh misteri, penuh dengan kejutan-kejutan. Ada tangis pilu menggores perih luka di hati. Ada tawa yang meledak-ledak. Ada keindahan simfoni cinta lembut membelai jiwa.  Ada kerinduan menyayat  batin. Ada amarah dan dendam menyesakkan dada. Rasanya, kita tak perlu menerka-nerka jawaban untuk setiap teka-teki kehidupan. Tak perlu terlalu mengatur setiap inchi detail hidup kita. Buat apa? Jika ada Dia yang Maha Tahu dan Maha Mengatur kehidupan kita.

Satu Senja di York

Ayah dan Anak Lelakinya: Satu Senja di York

Rasanya, waktu berlari begitu cepat. Seolah, tak pernah memberi kesempatan kepada mereka yang menunggu. Terkadang, aku hanya bisa mengumpat, dan mengutuk diri sendiri yang tak pernah tersadar untuk berlari cepat mengejar angan dan mimpi yang bergelut dengan sang waktu. Tapi, terkadang akal sehat ku bertanya: buat apa aku terlalu ngoyo mengejar capaian hidup, jika aku tak pernah tahu bagaimana menikmatinya?

Memasuki usia 30-an dan menjadi seorang ayah. Ini adalah fase kehidupan yang baru saja aku jalani. Di fase ini, mungkin setiap orang mengartikan nya berbeda-beda. Mungkin, buat sebagian besar orang adalah fase bekerja keras untuk menumpuk-menumpuk kekayaan, membangun titian emas untuk sebuah kursi empuk jabatan dan kedudukan, serta sejumput kekuasaan. Dan pada akhirnya untuk sebuah arti kemapanan di usia 40-an. Yah, kata orang hidup dimulai diusia 40 tahun.

ilyas_playground

Ilyas di Nottingham. Trent University

Lalu, buat aku? Argh entahlah. Yang jelas, ketakutan akan gelapnya masa depan ketika usia 20-an perlahan menghilang. Yah, ketakutan tidak mendapatkan kehidupan yang layak, ketakutan siapa jodoh ku, dan ketakutan-ketakutan lumrah diusia labil itu perlahan pergi. Tetapi, ternyata sekarang muncul lagi ketakutan-ketakutan yang lain. Argh, entahlah, haruskah hidup berlari dari ketakutan yang satu ke ketakutan yang lain?

ilyas_surban

Siap untuk Sholat

Terkadang terlalu memikirkan hidup ini, membuat saya lupa untuk menikmatinya. Karenanya, aku sedang berusaha menikmati menjadi seorang ayah. Seorang ayah dari seorang ‘malaikat’ kecil dari Tuhan yang ditipkan oleh Tuhan untuk ku. Walaupun, sering kali aku gagal menikmatinya.

Lebih dari sekedar sering, aku datang menjumpainya ketika dia sudah terlelap tidur melepas lelah di hari yang panjang tanpa kebersamaanku. Lebih dari sekedar sering, aku pun sudah pergi meninggalkan nya sebelum matanya sempat melihatku jika semalam aku tidur di samping nya. Aku pun selalu memiliki seribu satu alasan untuk segera menyudahi saat-saat aku dan dia memiliki kesempatan untuk bermain bersama. Sungguh aku bisa mendengar suara di hatimu:

” Ayah, aku ingin bermain lama bersamamu ! Bermain bersama dengan pesawat dan perahu kertas yang selalu kau buatkan untuk ku, agar aku terlena dan tak mengganggu kesibukan diri mu “

Iya, aku yang tak pernah hadir sepenuhnya untuk nya. Tuhan, maafkan jika aku belum bisa menjaga sebaik-sebaiknya titipan mu.  Tapi, sungguh, kehadirannya di tengah-tengah kehidupan ku tak pernah membawa yang lain kecuali kebahagiaan dan keceriaan. Dialah lentera, ketika semangat hidup mulai ridup. Dialah alasan, untuk bangkit ketika terjatuh.

ilyas_school

Siap Berangkat Sekolah

Alhamdulilah, Ya Allah. Terima kasih Tuhan, untuk semua berkah dan anugerah kehidupan.