Jalan-Jalan

Galengan Sawah Bercerita: Desa Mencari Makna

…. tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan? – a random thought

desaku_1

Tengah Sawah, Dusun Ringinpitu, Plampangrejo, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur

Jejak langkah.

Pernahkah merenung sudah seberapa jauh kaki melangkah menapaki jalan kehidupan kita? Pernahkan bertanya kemana langkah kaki menuju dan apakah kita melangkah ke jalan yang benar? Ada ribuan tanya mengiringi setiap gerak langkah perjalanan, saat kita berusaha memaknai.

Jalan hidup defaultnya terasa lempeng-lempeng dan lurus-lurus saja. Hanya sesekali terasa mendaki atau tak sadar kita telah jauh melangkah menurun. Terkadang terjal dan berliku. Ada kalanya kita sampai pada persimpangan, banyak jalan yang tebentang di hadapan dan kita dituntut untuk membuat sebuah keputusan: memilih. Tanpa tahu dengan pasti, bagaimana dan dimana jalan yang kita pilih akan berujung.

Ada yang menapaki perjalanan sebagai langkah-langkah keniscayaan yang tak bisa ditawar. Ada yang menapaki perjalanan penuh dengan strategi dan perhitungan untuk sebuah kata kunci: menjadi pemenang kehidupan. Ada yang sekedar mengikuti kata hati, kemana nurani bicara disanalah dia akan pergi. Adapula yang berfikir bahwa setiap peristiwa kehidupan tak ubahnya bilangan random yang tak perlu disiati, karena itulah inti dari seninya perjalanan hidup. Tetapi apapun itu, pada hakikatnya sama saja. Kita hanya mengikuti garis kehidupan yang telah ditentukan, bukan?

Menyusur Jejak Langkah

Peristiwa mudik, pulang kampung kembali ke desa, ke dusun tempat kita lahir dan tumbuh, buatku adalah peristiwa sakral yang selalu istimewa. Disinilah, titik nol langkah perjalanan hidup kita dimulai. Dan menyusurinya kembali adalah peristiwa transendental yang mengingatkan kita untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita tempuh: are we on the right track?

Adalah jalan setapak, galengan sawah, jalanan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang diantara petak-petak sawah yang dahulu pernah, selama tak kurang dari enam tahun aku menyusurinya pulang pergi. Jalan terpendek dari rumah menuju SD ‘Inpres’ Negeri, yang terletak di pinggir sawah di dusun kami. Saat itu ada lima SD Negeri dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa kami, desa Plampangrejo. SD Negeri Plampangrejo 3 adalah satu-satunya sekolah di dusun kami, dusun Ringinpitu. Sebelum akhirnya kesuksesan program KB di era orde baru yang berakibat menurunya jumlah anak-anak membuat salah satu sekolah harus ditutup, kekurangan murid. Dan sekolah ku berubah nama menjadi SDN Plampangrejo 2. Dan hari itu, kami menyusuri galengan sawah itu kembali.

Galengan Sawah Bercerita

Bagiku, menapaki kembali jalan galengan sawah itu seperti membuka dan membaca kembali buku cerita lama. Bayangkan sedikitnya enam tahun aku menyusuri jalan yang sama, sepanjang hampir 2 km itu, setiap hari.

Secara fisik, meski puluhan tahun berlalu tak banyak yang berubah. Ceritanya yang berganti. Dahulu, di jalan itu, setiap pagi dan siang hari, ramai anak-anak berseragam merah putih, berjalan, meniti (jembatan papan kayu), dan melompat (kalen, saluran irigasi), menyusur setapak dan demi setapak dengan riang hati. Bila musim hujan tiba, daun pisang menjadi payung, tas dan sepatu harus dibungkus keresek. Seringkali kami harus menempuh jalur yang lebih panjang karena jembatan papan kayu hanyut oleh deras arus air kalen. Sepeda Ontel dan Payung adalah sebuah kemewahan buat kami saat itu.

Kini, yang ada hanyalah hening dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak berjalan kaki menuju sekolah. Yang bersepeda ontel pun nyaris tidak ada. Kemajuan zaman membuat manusia semakin merasa nyaman, anak-anak dusun pun diuntungkan, antar jemput pakai sepeda motor dan mobil menjadi kebiasaan. Hidup boleh di desa, tetapi gaya hidup tak boleh kalah dengan orang kota- imajinasi kesuksesan hidup yang selalu mereka bayangkan lewat tayangan sinetron di TV.

Di jalan itu banyak cerita. Di bawah rumpun pohon bambu, ada rumah Lek Man Gun dan Bek Saudah. Keduanya kini telah tiada, Allahu yarhamhum. Pasangan suami istri ini selalu terlihat bekerja keras sebagai pengrajin alat-alat dapur dan pertanian dari bahan dasar bambu yang melimpah ruah di dusun kami. Ada tampah, tompo, dan banyak lagi yang bahkan aku sudah tak mampu mengingat namanya. Sebelum akhirnya alat-alat dapur dari bambu itu tergantikan oleh peralatan plastik made in negeri tirai bambu yang serba murah. Peralatan plastik itu menggempur pasar desa, dan kehidupan Lek Man Gun dan Bek Saudah pun kian merana. Barang-barang hasil tanganya yang terampil itu tak lagi laku di pasar desa.

Lek Man Gun adalah leleki gagah, tinggi besar, dan kulitnya kuning langsat. Begitun Bek Saudah, kulitnya kuning langsat tak seperti kebanyakan orang-orang desa kebanyakan yang kulitnya buluk kusam. Sayang kesempurnaan fisik mereka tak seindah cerita hidup yang menyertainya, setidaknya menurut ukuran kesuksesan hidup orang modern jaman sekarang. Kami masih ingat betul senyum tulus khas keduanya. Meski tengah sibuk berkarya, sapaan hangatnya tak pernah alpa menyapa kami yang melintas di depanya. Merekalah saksi hidup kami, yang mengamati kami tumbuh dari anak-anak hingga tumbuh menjadi remaja hari demi hari. Kini, di tempat yang sama yang ada hanyalah sunyi.

Selain rimbunan pohon bambu, tegalan pekarangan rumah Lek Man Gun juga dikelilingi oleh pagar hidup dari tanaman waribang, alias bunga sepatu. Bunga yang belakangan kutahu adalah bunga kebangsaan negara Malaysia. Bunganya indah berwarna merah, meski tidak pernah berubah jadi buah, yang sering diminta bawa oleh Guru kami di kelas untuk menerangkan alat reproduksi tumbuhan: Benang sari dan Putik. Ada juga bunga sejenis, berwarna merah lebih muda, tetapi tidak pernah mekar, dan jika dipetik dan dihisap pangkalnya, ada cairan yang manis sekali, semanis madu. Jika dulu tegalan itu hanya ditanami pohon pisang, kini tegalan itu jadi perkebunan buah naga.

Beberapa puluh langkah kemudian, pemandangan berikutnya adalah rimbunan pohon kelapa. Dahulu, di antara pohon kelapa itu adalah tanaman singkong. Yang merupakan bahan pokok industri panganan getuk lindri. Zaman berubah, selera cita rasa makanan orang-orang desa pun ikut berubah. Getuk warna-warni dengan taburan parutan kelapa diatasnya telah tergantikan cake warna-warni berbahan terigu dengan parutan keju di atasnya. Wajarlah, jika orang-orang desa mulai malas menanam singkong yang tidak ada harganya. Tegalan singkong pun kini berubah jadi hamparan tanaman padi, dengan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya.

Jejak langkah kami terhenti, ketika kami sampai pada tempat jembatan papan kayu dulu itu berada. Jembatan itu benar-benar telah tiada, dan kalen saluran irigasi itu terlalu lebar buat kami untuk dapat meloncatinya. Dari kejauhan kulihat galengan-galengan sawah lebakan dengan tanaman mendong yang legendaris itu benar-benar telah raib. Tergantikan oleh rerimbunan pohon kelapa berpagar yang tak bisa lagi terlewati oleh pejalan kaki.

Tanaman mendong atau mensiang, bahan baku tikar kini pun telah tiada. Dahulu saat masih banyak ibu-ibu rumah tangga menganyam tikar mendong, tanaman ini adalah komoditas yang menjanjikan. Lagi-lagi, kondisi pasar desa tak lagi bersahabat saat tikar berbahan plastik sintesis dari pabrik menyerbu pasar desa. Lagian, sudah tak jaman, hari gini tidur di atas dipan beralaskan tikar. Spring Bed sudah terbeli oleh orang-orang desa.

Karena langkah terhenti, pagi itu, kami hanya bisa duduk-duduk di galengan-pematang sawah. Merenung, menyatu dengan alam. Pemandangan yang hijau, udara yang segar, hawa yang sejuk, suasana yang hening, hanya terdengar orkestra nyanyian kodok, jangkrik dan burung truwok yang hendak bertelur. Bukankah itu kemewahan bagi orang-orang kota?

Di pematang sawah, jangkar alam fikiranku terbawa pada cerita-cerita masa lalu. Tentang ikan kutuk alias gabus besar-besar dan belut yang dulu begitu melimpah di tempat ini, tentang burung gemak alias puyuh dan burung pitik-pitikan yang wujudnya mirip dengan ayam. Dulu kami, sering mengejar dan memburunya. Sarang dan telurnya mudah kami temukan di antara rimbun tanaman mendong. Belum lagi tentang burung emprit, kutilang, prenjak, srikatan, waakhowatuha. Entah dimana mereka kini rimbanya. Hilang tanpa meninggalkan pesan. Belakangan aku tahu, burung yang kami sebut burung pitik-pitikan itu hidup bebas berdampingan dengan manusia di kampusku, Universitas Nottingham, Inggris. Tak seorang pun berani menangkapnya. Terbesit rasa sesal, kenapa dulu kami begitu kejam memburunya.

Di pematang sawah itu rasa keprihatinanku menyergap. Cerita klasik ekonomi pedesaan yang bak lingkaran setan, sangat tidak menguntungkan dalam rantai sistem ekonomi. Terus berulang, entah dimana juntrungnya. Tentang harga benih, pupuk, dan obat hama yang mahal di masa tanam, kemudian harga jual yang tiba-tiba anjlok saat panen tiba. Panen raya saja merugi, apalagi jika gagal panen? Juga tentang komoditas pertanian lainya yang tak ada harganya di pasar. Aku sangat awam dengan ilmu ekonomi, kalaupun aku seorang Profesor di bidang ekonomi pun, aku tak yakin bisa mengatasi keadaan. Benar, keadaan sistemik yang tidak menguntungkan.

Masa depan ekonomi pertanian di pedesaan rasanya begitu suram. Lebih-lebih arah pembangunan pemerintah yang tidak pernah memihak. Ironi saat puncak kekuasaan dikuasai partai yang sloganya partainya wong cilik. Ironi di negeri agraris dan maritim yang arah pembangunan negerinya tak berpihak untuk bidang keduanya. Alangkah lucunya, masya alloh di negeri yang garis pantainya terluas di dunia, garam saja harus impor. Di hamparan tanah yang subur, tongkat dilempar jadi tanaman saja, bahan pangan masih harus impor.

Tak heran, jika tak seorang pun, dari pemuda-pemudi desa yang berminat jadi petani muda, harapan masa depan. Kecuali petani muda sloganistik, yang biasanya hanya abang-abang lambe. Hanya kamuflase, yang sebentar saja tak ada rimbanya. Buat muda-mudi desa, memilih menjadi petani itu tak ubahnya memperpanjang rantai kemiskinan yang turun temurun.

Untuk memutus rantai kemiskinan itu, yang beruntung, punya otak agak encer, menempuh pendidikan tinggi, untuk kemudian menjadi priyayi di kota. Yang kurang beruntung di bidang akademik, dan orang tua punya modal yang cukup memilih bekerja di luar negeri, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang agak kurang beruntung lagi, yah merantau di kota-kota dimana uang banyak beredar, Denpasar salah satu tujuan utamanya. Yang tidak punya pilihan, kerja serabutan di desa, dengan konsekuensi menerima apa pun yang diberikan oleh hidup di desa. Masih adakah anak muda yang menggenggam asa untuk membangun desanya?

Dari sudut pandang uang saja, apalah yang bisa diharapkan dari desa? Tetapi, dari sudut pandang kehidupan keseluruhanya, kita perlu belajar kembali dari desa. Tentang ketulusan, kepolosan, kesederhanaan, kepasrahan, dan mendefinisikan kembali: apa yang kita cari dalam hidup. Desa adalah tempat untuk meraba-meraba kembali kemanusian kita, yang secara tak sadar, kesibukan telah menjadikan kita tak ubahnya mur baut mesin industri pencipta uang. Desa kembali mengingatkan kita kembali bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang lebih penting dari sekedar uang.

Advertisements

Tet Li: Setangkup Cerita Perjalanan

… hidup tak seindah yang terlihat.  hanya sawang-sinawang. Karenanya, agar terasa indah, sesekali kita perlu menjadi penonton kehidupan – a random thought

tetli_tanjung_pinang

Danau Kaloin Tet Li, a random place in Bangka Island.

Acara seminar internasional yang sedianya diadakan tiga hari, rupa-rupanya berakhir di hari pertama. Acara city tour yang janjinya sudah include biaya pendaftaran pun dibatalkan tanpa penjelasan sepatah kata. Haha, aku pun ketawa saja. Mungkin panitia kehabisan uang fikirku.

Yang penting sudah menggugurkan kwajiban, mempresentasikan makalah ku di forum (literally) internasional, meskipun jujur 100% di forumku itu hanya ada orang Indonesia. Lalu, dapat sertifikat dan empat buah stempel basah dari panitia di atas dua lembar kertas dari kolegaku di bagian keuangan.

Di hari kedua, aku dan tiga orang yang baru ku kenal di tempat seminar menyusun sebuah rencana. Sopir taksi online, yang baru kenal dengan salah satu dari kami di Bandara, hari itu bersedia mengantar kami berpetualang menyusuri pulau Bangka.

Tujuan pertama kami adalah danau Tetli. Danau bekas tambang timah ini kabarnya keindahanya luar biasa. Dari atas pesawat sebelum mendapat di Bandara Depati Amir danau-danau itu terlihat  begitu cantik memesona, airnya jernih biru kehijau-hijauan.

Rupanya, Mas Sopir pun belum pernah ke tempat satu ini. Jadilah, google map menjadi penunjuk jalan kami. Awalnya kami baik-baik saja. Tetapi kami menjadi sedikit was-was ketika petunjuk google map membawa kami menyusuri jalan-jalan makadam tak beraspal di tengah-tengah hutan.

Di jalan sempit itu, kiri-kanan kami hanyalah pohon-pohon kelapa yang lebat. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya jarang-jarang di tengah-tengah hutan. Rumah yang halamanya terlalu luas, lengkap dengan kandang babi. Terlihat oleh kami seekor babi berlari-larian di pekarangan. Sesekali terlihat kelapa sawit, dan rerimbunan pohon pala yang merambat, atau rimbun pohon cocoa. Yang lebih sering kami jumpai adalah kuburan cina yang ukuranya besar-besar di sepanjang jalan itu.

Uniknya, hampir semua plang masuk ke desa bertuliskan huruf cina. Kami hampir saja berputus asa, merasa tersesat dan tak tahu jalan pulang. Beruntunglah, seorang warga yang kebetulan berpapasan dengan kami memberi kami petunjuk jalan.

Akhirnya yang kami cari kami temukan juga. Sebuah danau di tengah-tengah hutan yang terlihat tak bertuan. Kami adalah satu-satunya pengunjung danau itu. Oila, begitu instagramable betul danau itu. Sebuah danau yang jernih airnya, biru kehijau-hijauan (torquise) yang dikelilingi gundukan pasir putih.

Andai saja ada perahu sampan warna-warni, ingin rasanya berkeliling mendayung sampan mengitari danau itu. Tetapi yang ada hanyalah kesunyian dan desau suara angin.  Aku duduk di tepi danau, menatap, merenung, mengagumi dan diam menatap keindahan alam itu. Menenangkan, tetapi ketakutan akan kesunyian itu tiba-tiba saja datang menyergap.

Aku berlarian menuju mobil yang siap meninggalakan tempat, saat seekor serigala keluar dari balik gundukan batuan gamping putih yang tadi kududuki dan kuinjak-injak. Dan kami pun segera berlalu, melanjutkan perjalanan.

Pangkal Pinang, 04/10/2018

Related Links:

 

Jakarta Sabtu Pagi: Monas – Munas – Kota Tua

“… mungkin aku terlalu udik, aku tak tahu bagaimana cara menikmati hidup di Ibu kota – a random thought.

jakarta_munas

Lampu Pedistrian By Monumen dan Museum Nasional

Untuk menunggu penerbangan sore hari ke Surabaya, Sabtu pagi aku harus mencari cara untuk membunuh waktu. Dan cara yang aku pilih adalah ‘to feel being grass-root Jakartans’. Dari penginapan murah meriah, kelas melati di bilangan karet, kuningan (katanya sih kos-kosan wanita-wanita simpanan para esmud sukses tajir bergelimang harta di Jakarta), aku bersama seorang teman, keluar menyusuri gang-gang sempit padat penduduk.

Diantara himpitan gedung-gedung yang megah, gagah, menjulang, mencakar langit, Jakarta menyimpan banyak ironi. Kawasan padat penduduk, kumuh, pengap, berisik, bau, yang tak menyisakan tempat buat anak-anak untuk bermain. Aku bayangkan: alangkah susahnya, hidup menjadi anak-anak orang-orang ‘pinggiran’ Jakarta ini. Sejengkal tanah kosong di kota ini, amatlah mahal harganya. Bahkan mencari ruang sekedar untuk selonjor saja susah sekali.

Diam-diam aku merasa bersyukur sekali, kuhabiskan masa kecilku di dusun yang hamparan tanahnya melimpah ruah, udaranya segar alamiah, pemandanganya hijau royo-royo sejauh mata memandang. Airnya bersih dan segar. Suasananya tenang menenangkan. Dan yang paling penting aku bisa bermain berlarian, gulung-gulung di tanah, bermain lumpur di sawah, berlarian bermain layang-layang, renang di sungai, tanpa sedikit pun rasa takut. Makanan dan buah-buahan disediakan gratis oleh alam.

Aku mampir sejenak di Warteg, di Gang sempit itu. Ada beberapa alasan, warteg menjadi warung pilihan ketika di Jakarta. Pertama, sudah dapat dipastikan penjualnya adalah orang Jawa, cita rasa masakanya cocok, dan yang paling penting harganya sangat ramah dengan kantong. Tetapi, yang paling membahagiakan diantara semuanya adalah bisa merasakan sensasi hidup sebagai orang pinggiran di Jakarta.

Teh anget, sayur lodeh, tempe goreng, dan ikan kembung goreng ditemani kerupuk gembreng adalah menu andalan. Sayang size nasinya sering tidak bersahabat. Mungkin terlihat wajahku terlihat wajah susah, si penjual ngasih nasinya ukuran jumbo. Jadilah, aku tak sanggup menghabiskanya kawan.

Keluar dari gang-gang sempit, kami keluar menyusuri pinggiran jalan besar. Melewati jalur pedistrian di depan kantor-kantor besar yang kurang bersahabat. Idih, tampang satpamnya seram-seram, pagar tamannya dilengkapi dengan kawat berduri pula, atau dibuat lancip. Duh, padahal sekedar ingin menyandarkan bokong, kok ya ndak boleh.

Setelah ratusan meter berjalan merasakan sensasi susahnya jadi pejalan kaki di kota ini. Akhirnya sampai juga di Halte Busway terdekat. Naik JPO, yang alamak ekstrim juga tanjakanya. Tidak kebayang, betapa repotnya saudara kami yang berkursi roda mengakses JPO ini. Atau bahkan tidak bisa mengakses sama sekali.

Meski lumayan sering bolak-balik ke Jakarta, sudah lama rasanya aku tidak naik busway. Sejak ada layanan ojek dan taksi online, naik bus way rasanya sangat merepotkan. Dari pakai tiket yang dimasukkan ke mesin, pakai tiket kertas sobek, hingga kini sudah paper-less menggunakan e-money. Jauh lebih praktis. Menariknya kita bisa berbagi satu kartu e-money.

Di halte pun ada kemajuan cukup significant, sudah ada sistem informasi yang cukup reliable menginformasikan waktu kedatangan bus secara real time. Hal yang sangat lumrah di negara-negara maju. Argh, aku jadi tertarik menganalisa ‘big data’ waktu kedatangan bus way di kota ini. Apalagi jika data passenger keluar masuk halte dan bus ter-record dengan baik, tentunya banyak ‘knowledge’ menarik yang bisa digali. Kemudian, knowledge itu bisa digunakan untuk improve rute bus way agar semakin tidak semrawut.

Kondisi bus pun masih nyaman seperti dulu, mungkin karena akhir pekan, tidak ada penumpang yang berdesak-desakan. Hanya saja informasi suara mesin yang menginformasikan halte berikutnya sudah tidak berfungsi atau sengaja tidak difungsikan. Fungsinya digantikan oleh mas-mas berbaju batik penjaga pintu bus yang terlihat sangat kelelahan. Sesekali tertangkap mataku, matanya tertidur dalam posisi berdiri.

Di bus yang sama, tanpa janjian kami tak sengaja bertemu dengan teman SMP ku yang sudah lebih satu dasa warsa mengadu keberuntungan hidup di Jakarta. Kami turun di halte Monumen Nasional. Landmark kebanggaan kota Jakarta. Jika London punya Bigben, Kuala Lumpur punya Twin Tower, Jakarta punya Monas. Landmark yang sangat bersahaja. Kami duduk-duduk di bangku di pinggir jalanan monas. Sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali kulihat beberapa turis berjalan sendirian sambil menenteng kamera dan khusuk membaca kitab sucinya para turis dunia, the lonely planet.

Sejenak, pikiranku teringat suasana kota kelahiran shakesphere. Duduk-duduk menikmati suasana kota yang tenang dan nyaman, sambil mendengarkan alunan musik musisi jalanan yang suaranya melelehkan perasaan. Tetapi Jakarta adalah Jakarta. Hawa yang sumuk, deru kota yang berisiak dan hari yang mulai terik, membuatku tak betah berlama-lama duduk di bangku itu.

Kami beranjak dari bangku dan menuju ke bangunan seberang monas, museum nasional. Ada zebra cross, dilengkapi dengan tombol pedistrian layaknya di Eropa. Tetapi di kota ini lain cerita. Lampu sudah merah, dan banyak pedistrian ancang-ancang mau menyeberang, tetapi ajaibnya para pengendara kendaraan tak ada yang mau berhenti, aliah-alih mengurangi kecepatan, eh malah kencang-kencang. Kecuali jika para pedistrian, memaksa menyeberang, dengan terpaksa para pengendara kendaraan pun berhenti. Dan kami pun menyeberang setengah berlari penuh ketakutan. Bahkan lampu indikator menyeberang jalan pun, berupa orang berlari, bukan berjalan. Betapa menakutkanya bukan peristiwa menyeberang jalan di kota ini? Entah kapan, hak pejalan kaki yang budiman diperhatikan di kota ini.

Hanya perlu bayar Rp. 5000 untuk masuk Munas. Di lantai dasar terlihat seperangkat gamelan. Dan sedang berlangsung latihan menari yang sebagian besar diikuti anak-anak perempuan. Layaknya museum pada umumnya, museum ini bercerita tentang perjalanan kebudayaan manusia Indonesia. Mulai dari jaman pra-sejarah, manusia Indonesi di Jaman batu, jaman kerajaan-kerajaan, hingga menjadi manusia Indonesia modern.

Sejarah selalu mengajarkan kesementaraan. Tak ada kejayaan yang terlalu lama. Semua ada waktunya. Semua akan sirna dan terlupakan pada waktunya. Semua yang bisa terlihat oleh kasat mata adalah fana. Menuju kefanaan hanyalah fungsi waktu belaka, tak terlalu lama kita akan terlupakan untuk selama-lamanya. Dan sejarah hanyalah milik yang pernah berkuasa. Yang jelata? yah terlupakan begitu saja.

Aku cuman bisa membayangkan, saat semua serba digital seperti jaman ini, jika Tuhan meruntuhkan peradaban kita satu waktu, apa kira-kira yang bisa dipelajari oleh manusia generasi berikutnya?

Jika sampean pernah berkunjung ke British Museum di London, museum nasional ini rasanya tidak ada apa-apanya. Bisa jadi bahkan sejarah kebudayaan Indonesia lebih lengkap bisa kita lihat disana atau di Leiden, Belanda.

Dari Munas, kami naik bus double decker gratis yang sudah ready di halte depan museum. Di bus double decker itu uniknya sopir dan kondektur yang membagikan tiket gratis adalah emak-emak semua. The power of emak-emak. Busnya cukup nyaman, tak kalah deh dengan bus merah double decker London sight seeing yang cukup mahal tiketnya itu. Tidak kalah juga dengan Busnya kota Surabaya yang pakai bayar dengan 6 botol bekas air minum kemasan.

Dari Munas, kami turun di Jakarta Kota Tua. Bus berhenti di halte yang tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota. Yang baru dari Jakarta kota tua adalah pusat oleh-oleh Krisna. Yes, pusat oleh-oleh di kota Denpasar Bali itu buka cabang di Kota Jakarta. Selain oleh-oleh khas Bali, di Krisna Jakarta ini, ada oleh-oleh khas Jakarta. Emang ada? Yah, setidaknya ada oleh-oleh yang ada tulisanya Jakarta, dalam wujud kaos, gantungan kunci, atau sandal jepit.

Yang aku suka, di Krisna Jakarta kota tua ini ada mushola yang cukup luas dan nyaman di Lantai dua, lengkap dengan tempat wudlu yang bersih. Lalu, di lantai dasar juga ada restoran padang yang tempatnya cukup luas, confy dan cozy. Pelayanya asyik-asyik yang kostumnya tematik. Harganya pun untuk ukuran kota Jakarta masih lumayan bersahabat. Ada menu andalan kesukaan: eseng-eseng pare dicampur dengan petai dan cabe hijau yang aroma, rasa, dan pedasnya sangat sensasional. Lengkap sudah, tempat beli oleh-oleh, tempat sholat, istirahat, dan makan ada di tempat ini.

Dari Krisna, kami memesan taksi online, cukup murah, hanya enampuluh ribuan saja kami sudah sampai bandara dengan nyaman dan aman. Good Bye Jakarta! Sampai bersambung dengan cerita berikutnya.

Tanjung Aan: Sepotong Cerita

… bukankah hidup hanya sekedar senda gurau dan sebuah permainan belaka? – a random thought

tanjung_aan_1

Tanjung Ann: Bandulan

Lombok, apa yang terlintas di benakmu kawan jika melafalkan satu kata ini? Pedas, syurga, duka, ataukah lainya?

Pedas bisa jadi terlintas jika sampean pecinta kuliner dengan bumbu lombok yang berkasta-kasta ituh. Syurga, jika sampean pernah menikmati keindahan alam pulau Lombok. Duka yang mendalam, jika kita mendengar kabar bencana gempa yang belakangan bertubi-tubi menimpa pulau ini. Allahu yarhamhum, Semoga Tuhan merahmati sauadara-saudara kita disana yang sedang dirundung duka.

tanjung_aan_2

Tanjung Ann: Perahu Nelayan

Kota seribu satu masjid begitu orang-orang sering menjulukinya. Mungkin orang-orang membandingkan dengan Pulau Sebelah, Bali. Pulau Dewata, Pulau seribu satu pura. Yang jelas kedua pulau ini sama-sama di anugerahi keindahan pantai yang luar biasa. Sama-sama pulau seribu satu pantai yang cantik.

Selama beberapa hari berkunjung di Pulau ini, ada dua masjid dan dua pantai yang aku kunjungi.

tanjung_aan_3

Anak-anak Pantai: Tukang Foto

Masjid pertama yang aku kunjungi adalah masjid kota Praya. Seorang alumni kampus tempat ku mengajar, yang berasal dari kota ini, mengantar kami jalan-jalan keliling kota Mataram dan sekitarnya. Di kota ini, ingatanku langsung tertuju pada sosok seniorku dulu di pesantren, yang terkenal paling pintar dan paling tekun belajar. Yah, sang senior yang kegigihanya ‘nggegiri’ dan sangat menginspirasi itu lahir di kota Praya ini. Kami terakhir ketemu di Kota Luven, Belgia, akhir Agustus 2013. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan hidup kepadanya dan sekeluarganya.

tanjung_aan_5

Anak-anak Penjual Manik-manik

Masjid yang kedua yang kami kunjungi adalah Masjid Islamic Centre di Pusat Kota Mataram. Masjid yang begitu buesar, megah dan indah itu berdiri gagah memesona di jantung kota. Seolah menjadi landmark, pertanda kejayaan islamnya masyarakat di kota ini. Jangkar ingatanku tiba-tiba tertambat pada masjid jamik Kota Pekanbaru, Riau, yang kemegahanya 11-12 dengan masjid ini.

tanjung_aan_4

Pantai Kuta Mandalika

Dari masjid dan pusat oleh-oleh, kami menyusur pantai-pantai di Pulau ini. Tanjung Aan, menjadi pantai pertama yang kami susuri. Sekilas namanya ke eropa-eropaan. Atau kejawa-jawaan, jika dua hurufnya dibaca dengan jeda: a-an.

Pasirnya putih bersih, airnya kehijau-hijauan, dengan panorama bukit-bukit di ujung-ujung penglihatan. Layaknya penikmat pantai pada umumnya, orang-orang berenang, bermain kejar-kejaran dengan ombak, atau sekedar membuat kastil pasir di pinggir pantai. Yang tak pernah luput: foto-foto untuk dipamerkan di media sosial. Biar seolah-olah terlihat bahagia hidupnya, tidak kurang piknik. Hehe, buat kita orang Indonesia, justru itu yang lebih penting daripada menikmati keindahan pantainya bukan?

Lain cerita dengan bule-bule yang begitu khusuk menikmati alam. Seolah bule-bule itu ingin menyatu dengan alam. Membiarkan tubuhnya terlentang beralaskan pasir pantai, tersengat matahari, dan terhempas ombak di bibir pantai. Aku jadi paham mengapa pantai-pantai di Lombok belakangan kabarnya lebih menarik peminat daripada Bali. Pertama, mungkin sudah pada bosan dengan Bali. Kedua, pantai-pantai di Pulau ini, setidaknya Tanjung Ann, belum over-industrialised. Belum banyak di ‘make over’. Kecantikanya masih alami. Beberapa perahu nelayan, bersandar di bibir-bibir pantai. Belum ada hotel atau restoran di sekitar pantai.

Yang paling menarik perhatianku adalah anak-anak lokal yang mencoba peruntungan di pantai ini. Anak-anak usia sekolah itu mencoba berebut uang dari para pengunjung pantai. Ada banyak caranya. Ada yang berprofesi sebagai fotografer. Anak-anak itu menawarkan jasa memfotokan pengunjung dengan kamera smartphone pengunjung. Bukan sekedar asal jepret. Meski anak-anak itu tak memiliki smartphone, tetapi anak-anak itu sangat lihai membuat efek foto yang lebih epic dan dramatic. Jika sampean puas, anda cukup membayar mereka dengan imbalan uang seikhlasnya.

Ada juga anak-anak, khususnya anak-anak perempuan, yang jualan manik-manik. Manik-manik dalam bentuk gelang tangan, kalung, atau lainya. Mereka akan mengejar-ngejar pengunjung, hingga sang pengunjung pun mengalah untuk terpaksa membeli barang-barang mereka. Buatku, anak-anak itu luar biasa. Anak-anak pantai yang gosong eksotik kulitnya dan menguning rambutnya itu begitu gigih. Aku juga suka kepolosan dan senyum-senyum manis mereka yang alamiah. Dan mereka menjalani kegiatan jualanya itu tanpa beban, seolah tak lebih dari sekedar main-main saja. Bukankah hidup hanya sekedar senda gurau dan sebuah permainan belaka?

Di pantai Kuta Mandalika pun kurang lebih sama. Anak-anak pantai yang berjualan manik-manik, dan emak-emak yang berebut pengunjung untuk menawarkan kain sarungnya. Berbeda dengan anak-anak, pada emak-emak ini kulihat sendu di wajahnya. Guratan wajahnya seolah pertanda betapa beratnya ketidakpastian hidup yang harus mereka jalani. Bahkan ketidakpastian: sekdar besok makan apa tidak?

Sayang, Pantai Kuta Mandalika di petang hari yang sudah surut airnya, kurang dapat dinikmati keindahanya. Tetapi kenangan kecerian dealing with anak-anak dan emak-emak yang berburu rejeki di pantai itu, begitu melekat di dalam hati.

Kalibaru – Benculuk Lewat Glenmore

“… diam-diam aku telah merindukan percakapan sederhana itu.” – a random thought

kalibaru_cottage_02

Kalibaru Cottage

Singkat cerita, akhirnya aku berhasil melakukan konspirasi, membujuk para pemegang kuasa di departemenku untuk mengadakan rapat di Kota ini. Kalibaru, yah begitulah nama kota kecil di pojok Selatan kabupaten Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jember ini.

Sejak dua puluh tahun lalu, aku sering sekedar lewat kota ini. Tapi tak pernah singgah satu malam pun di kota ini. Dari dulu hanya bisa membayangkan alangkah indahnya, singgah sejenak di kota ini, satu atau dua malam saja sudah cukup. Sekedar untuk mengusir kejenuhan berjipaku tanpa jeda dengan riuh kehidupan yang semakin bising.

Tidak ada yang istimewa dari kota ini, selain lokasinya yang berada tepat di kaki gunung Gumitir. Gunung yang telah dibedah oleh jalan aspal berkelok-kelok yang menghubungkan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Kebayangkan kan sejuk dan segarnya setiap jumput udara yang kita hirup di tempat ini? Kamu bisa bernafas sebebas-bebasnya, tanpa terbesit sedikitpun ketakutan akan bahaya polutan yang sudah mengepung kita dari segala penjuru arah. Pun, kamu tak perlu keluar uang ribuan rupiah untuk membeli cadar kw, alias masker warna hijau itu.

Aku sedikit tercenung ketika memasuki Kalibaru Cottage, tempat kami akan menginap itu. Pasalnya sebagian besar penginap hotel ini adalah para bule. Serasa menjadi orang asing di kampung sendiri. Suasana perkebunan yang tenang, bersih, rapi nan asri dengan pemandangan pegunungan yang menghijau di tempat ini, sungguh memanjakan setiap bola mata yang memandang, menenangkan jiwa-jiwa yang tengah dirundung lelah.

Hanya saja, guratan wajah sendu para perempuan sepuh, para buruh sapu yang kelelearn di sudut-sudut taman di hotel ini sedikit mengusik benakku ku. Mereka datang  ketempat ini, bekerja keras untuk sekedar menyelenggarakan hidup. Sementara diriku, bersenang-senang untuk merayakan hidup? Jalan hidup memang kadang terasa tak adil bukan, tetapi siapakah yang benar-benar memahami kemahaadilan Sang Pemberi hidup?

Alangkah eloknya, tenguk-tenguk sejenak di tempat ini. Melepas sebentar segenap beban kepala dan hati yang gusar. Di pangkal pagi hari yang perawan, bersama burung-burung yang berorkestra menyenandungkan puja puji untuk Tuhan, dengan secangkir teh wangi hangat yang menenangkan. Atau, di penghujung senja yang temaram, bersama tonggeret yang bernyanyi malu-malu di balik pohon-pohon hutan.

Selain susana dan pemandangan yang memanjakan mata dan jiwa, untuk urusan perut di tempat ini ada juga masakan yang istimewa.  Sayur pakis namanya. Rasa tetumbuhan paku khas pegunungan ini luar biasa nikmatnya. Apalagi disayur dengan kuah santan kental yang gurih. Sudah bertahun-tahun lamanya tak bersua makanan ini. Di tempat ini ku mendapatinya kembali. Menikmati sayur pakis ini, menerbangkan ingatanku pada masa perihatin, makan seadanya tapi nikmat luar biasa, waktu jadi santri di pondok pesantren Blokagung, banyuwangi.

Agenda hari ketiga persinggahan kami di kota ini adalah jalan-jalan. Kami menyewa sebuah bus yang akan mengantar kami jalan-jalan di wilayah Banyuwangi Selatan. Satu diantaranya adalah pantai pulau merah. Tetapi, aku harus berpisah dengan rombongan. Ada tempat wisata yang paling indah yang harus kutuju, emak. Adakah peristiwa yang lebih bermakna dari pertemuan anak dan biyung nya?

Hampir 30 menit aku menunggu bus antar kota, Jember-Banyuwangi, di pinggir, seberang jalan di depan hotel. Tetapi yang  ditunggu tak datang-datang. Kata Pak satpam, jumlah bus saat ini memang sangat jarang. Orang-orang lebih senang naik mobil atau sepeda motor.

Akhirnya, akupun ikut rombongan. Ku turun di Glenmore. Di sebuah pertigaan, di pinggir jalan, di depan sebuah kios bensin eceran, aku  kembali menunggu bus yang sama.  Rupanya menunggu bus benar-benar menguras kesabaran. Untungnya aku punya hobi memerhatikan orang. Ku amat-amati saja setiap orang yang berlalu lalang.

Hampir satu jam, akhirnya yang ditunggu pun datang. Bus lusuh yang penumpang nya lengang itu betapa beruntungnya mendapati penumpang satu-satunya dari Glenmore. Di dalam bus hanya ada beberapa orang saja, yang tentu saja masih dihitung dengan jari-jari tangan.

Dua diantaranya, sepasang muda-mudi, bule dengan ransel bakpacker besar. Keduanya terlihat sedang asyik mengobrol dengan seorang ibu berjilbab yang begitu percaya diri dengan kosalata bahasa Inggrisnya yang pas-pasan. Sang ibu bercerita kalau suaminya pernah bekerja di hotel tempat dua bule itu menginap di Kalibaru, sebelum akhirnya sang suami beralih profesi sebagai driver. Sang bule sedang dalam perjalanan ke Denpasar, Bali.

Aku senyum-senyum sendiri, saat topik pembicaraan beralih ke Gempa yang baru saja melanda Lombok dan sekitarnya. Si ibu sepertinya tidak paham earth quake yang dilafalkan si bule. Sampai bahasa tubuh ala tarsan yang lucu dari dua bule berhasil memahamkan si Ibu.

Selama perjalanan tak henti-hentinya pedagang asongan dan pengamen bergantian. Ada yang jualan minuman, kerupuk rambak, kopiah, sampai nasi bungkus. Tak ketinggalan, para penjual itu menawarkan dengan ramah barang daganganya ke si bule.

This is Rice Cat. Five thousands rupiah !

Tawar si penjual nasi bungkus ke si bule, dengan logat jawanya yang sangat kuat.  Aku ketawa dalam hati, karena terdengar lucu. Si bule entah pelit, entah kere, tak bergeming dengan tawaran para penjual itu. Aku saja dalam beberapa menit, sudah dapat satu keresek kerupuk rambak dan satu buah kopiah warna putih.

Masih seperti dulu, bus ekonomi satu-satunya moda transportasi umum yang masih begitu merakyat. Menjadi salah satu gigi roda penggerak ekonomi kawan-kawan kami di akar rumput. Penumpangnya pun sama: masih ramah, jujur, dan apa adanya.

Penumpang di sampingku pun sepanjang perjalan tak henti-hentinya bercerita. Keluh kesah susahnya hidup menjadi rakyat pinggiran, yang tak pernah mendapatkan sorot kamera media. Betapapun mereka menjerit. Kecuali jika bencana datang, dan para penguasa mencuri kesan.

Diam-diam aku telah merindukan percakapan sederhana apa adanya itu. Pun di kereta ekonomi yang dulu pernah merakyat itu. Betapa rasanya sekarang ruang sosial di perkotaan dipenuhi oleh suasana penuh gimmic, kepura-puraan, basa-basi, dan individualisme. Mudah-mudahan aku yang salah.