Jalan-Jalan

Telaga Spiritual di Belantara Hutan Beton Jakarta

…. kita tidak pernah tahu pasti kapan dan dengan siapa kita akan bertemu – a random thought

habib_kwitang

Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi

Kita tidak pernah tahu pasti kapan dan dengan siapa kita akan bertemu. Tidak ada yang kebetulan, pertemuan itu pastinya untuk sebuah alasan. Sebuah alasan yang akan kita tahu kemudian, kita sadari atau tidak sama sekali.

Beberapa bulan yang lalu, di sebuah acara pelatihan seminggu di Jakarta pusat. Aku bertemu dengan seorang teman, yang meski satu group whatsapp alumni pesantren kami di Jombang belum pernah sama sekali bertemu sebelumnya. Kami sama-sama jadi peserta. Senang sekali rasanya, rasanya it is small world, dunia seluas daun kelor. Apalagi, aku kebetulan sendirian dari Surabaya waktu itu.

habib_kwitang_3

Penanda Makam

Mungkin karena kami pernah satu perguruan, alam fikiran kamipun sepertinya berada dalam satu gelombang. Nyaman sekali rasanya bertemu dengan seseorang yang alam fikiranya satu gelombang. Meski baru pertama kali bertemu, kami seperti dua sahabat lama yang baru dipertemukan kembali. Satu kesamaan kami yang paling ekstrim adalah bahwa kami sama-sama hobi ziarah ke makam para wali. Dengan catatan sang kawan jam terbangnya jauh lebih tinggi dari diriku.

habib_kwitang_2

Pesan Habib Kwitang

Sore itu, sang kawan ingin menunjukkan ku sebuah makam seorang wali di bilangan Cikini, Jakarta pusat. Tidak jauh dari jalan raden saleh tempat pelatihan kami, kami menyusuri jalan kecil pinggir sungai besar yang warna airnya coklat kehitam-hitaman, penuh sampah, dan bau busuknya masya allah, menyengat sekali. Di antara gedung-gedung tinggi, di belantara hutan beton Jakarta yang sumpek.

habib_kwitang_4

Interior Design Masjid Makam

Rasanya mustahil, ada makam seorang wali di tengah-tengah keramaian kota ini. Rasanya tidak percaya, masih ada orang yang aware dengan keberadaan makam wali, diantara kerumunan orang-orang modern Jakarta yang semakin materialistis. Dimana segala kesibukan mereka, pagi, siang, sore dan malam yang tak mengenal lelah berpusar pada satu titik, yaitu modal binti uang. Berhala baru orang-orang modern, entah mereka sadar atau tidak sama sekali.

Sang kawan bercerita, bahwa wali yang satu ini istimewa. Seiring dengan derap pembangunan belantara hutan-hutan beton pencakar langit di ibu kota yang semakin menderu. Makam wali satu ini sudah berkali-kali akan digusur, di relokasi ke tempat lain. Tetapi, ajaibnya tak satu pun alat-alat berat penghancur beton yang perkasa itu mampu membongkar makam sang wali.

Sampean boleh percaya atau tidak. Jika sampean pemuja rasio, tentu hal ini tidak masuk diakal, tidak ilmiah, atau bahkan hoax. Tetapi yang jelas, makam itu sampai kini masih ada disana. Menjadi anomali di tengah rimbunya tata bangunan gedung tinggi menjulang di pusat kota ini. Kata sohibul hikayat, sejak terbukti tak satupun ada alat berat yang mampu membongkar makam tersebut, pada komplek makam itu dibangunlah sebuah masjid kecil. Dan makam wali itu berada di dalamnya. Masjid itu terhimpit diantara gedung-gedung tinggi.

Wali sohibul maqbarat tersebut adalah Alhabib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi. Atau mungkin lebih dikenal dengan Habib Cikini. Sore itu kami sejenak sholat ashar di dalam masjid, lalu berziarah, membaca tahlil dan yasin di makam sang wali yang juga berada di dalam masjid yang wangi semerbak bunga-bunga itu.  Sepertinya, makam ini tidak pernah sepi dari peziarah, walaupun tentu tidak sepektakuler peziarah makam Gus Dur di Jombang atau makam-makam para wali songo. Selalu ada satu dua orang yang berziarah di makam sang wali.

Mengagumkan, masih ada saja manusia-manusia spiritual di tengah-tengah jagad manusia materialistis ini. Makam itu laksana telaga spiritual di belantara hutan beton Jakarta. Bukankah kita semua sejatinya adalah spiritual. Bukankah yang abadi adalah spiritual kita, yang material termasuk jasad kita hanyalah kesementaraan yang cepat atau lambat akan hancur dalam kebinasaan.

Advertisements

Pasar Kwitang

… Rasanya, masa depan dunia literasi di Indonesia begitu gelap. – a random thought

buku_kwitang

Hasil Perburuan dari Pasar Kwitang

Entah sejak kapan tepatnya aku jadi pecandu sastra. Yang jelas, sejak aku kuliah doktor bidang ilmu komputer, sastra adalah tempat pelarianku yang paling indah. Sejak itulah, sastra menjadi candu akut bagiku. Dua dunia yang jauh berbeda sebenarnya, ilmu komputer menuntutku berfikir secara komputasional, dimana nalar logika yang jadi punggawanya.  Sementara dalam sastra, lelembut rasalah punggawanya.

Dulu, saat-saat buntu dengan tesisku, sering kali aku berfikir bahwa aku telah terjebak dalam bidang ilmu yang salah. What? sudah di level S3 baru sadar salah jurusan? But, live must go on. Daripada malu. Terkadang aku berandai-andai, seandainya aku lahir di Inggris atu Finlandia, sangat mungkin aku menjadi somebody yang totally different dengan diri ini. Sayang, aku ditakdirkan di Indonesia, dimana kecerdasan itu terdistorsi hanya sebagai kecerdasan otak kiri belaka.

Tetapi, sebagai penikmat sastra, aku agak pemilih. Entah, aku sama sekali tidak jatuh hati dengan novel-novel national best seller semacam ayat-ayat cinta dan sejenisnya. Yang tokoh-tokohnya begitu sempurna bak Malaikat. Satu-satunya novel kekinian yang berhasil merebut hatiku adalah serial supernovanya Dee Lestari. Selebihnya aku lebih jatuh hati pada novel-novel Indonesia klasik. Buatku, maha karya Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, atau Umar Kayam keindahan dan kekuatan sastranya belum ada yang menandingi.

Beberapa bulan yang lalu, aku berkesempatan pergi ke Pasar Kwitang.  Pasar buku bekas yang terkenal di kawasan senin, Jakarta pusat. Yang pernah nonton film legendaris A2DC pasti ngerti tampat ini. Dari kawasan cikini aku naik bajay, ongkosnya 20.000 rupiah. Lebih mahal dari ojek online sebenarnya. Tapi ini kali pertama aku naik bajay yang popularitasnya mulai tergeser oleh ojek lain. Luar biasa seru juga naik bajay, menyusuri gang-gang sempit, pinggiran sungai yang bau, tapi akhirnya selamat sampai tujuan.

Sampai di lokasi tujuan, aku sampai di salah satu toku buku bekas yang sepertinya sudah mau tutup. Waw… saya takjub luar biasa karena hampir semua buku-buku klasik ada disini. Sayang si penjual memintaku buru-buru karena toko akan segera tutup. Rupa-rupanya, hampir semua buku yang dijual itu bukan buku bekas. Tetapi ternyata kebanyakan buku bajakan. Buku-buku lawas yang sudah sangat sulit dicari di toko buku itu dicetak ulang dengan kualitas kertas dan cetak yang buruk sekali. Kertasnya buram, tipis, cetakanya banyak yang kabur, dan jilidanya sangat lemah. Harganyapun masih cukup mahal. Lebih murah sedikit dari harga di toko buku, tapi dengan kualitas yang jauh lebih jelek.

Tak apa-apalah, lahwong nyarik yang legal sudah sangat sulit ditemukan. Salah satu buku yang paling membuatku merasa beruntung adalah buku Para Priyayi Umar Kayam. Sudah lama aku mencari-cari buku ini. Google pun sudah aku ubek-ubek ndak nemu juga. Alhamdulilah ketemu dan tinggal satu-satunya. Meskipun kertasnya sudah belang-belang tapi masih readbale. Rasanya aku menjadi orang paling bahagia di dunia hari itu. Memang kalau sudah jodoh, tak akan lari kemana.

Sayang, toko segera tutup, karena hari sudah surup menjelang maghrib. Akhirnya aku beralih ke Toko Buku Gunung Agung yang bersebelahan dengan toko buku bekas itu. Aku menjadi pengunjung satu-satunya di toko buku sore itu. Memasuki toko buku di Indonesia itu sungguh sangat memprihatinkan. Sepi peminat. Koleksi bukunya sedikit. Dan harganya sangat mahal. Bahkan banyak toko buku yang jumlah barang dagangan non-buku nya lebih banyak daripada jumlah koleksi bukunya. Ditambah maraknya gadget yang sudah merebut hati orang Indonesia, dari yang masih bayi hingga nini-nini. Sepertinya akan segera tamat saja riwayat toko buku di Indonesia ini.

tokobuku_waterstone

Salah Satu Sudut di Toko Buku Watwerstone Nottingham (www.leftlion.co.uk)

Pengalaman kontras ketika aku masih tinggal di Inggris. Memasuki toko buku itu seperti memasuki alam syurga. Langsung waw saja rasanya. Melihat koleksi buku yang sangat-sangat masif jumlahnya. Di kota tempatku tinggal dulu ada toko buku namanya waterstone. Pertama kali memasuki toko buku itu langsung terpukau luar biasa. Bangunan luas empat lantai itu penuh dengan koleksi buku yang bejibun yang ditata dengan sangat apik. Bagi pecinta buku, memasuki lorong-lorong rak-rak buku itu rasanya seperti jalan-jalan di syurga.

Ada ribuan judul-judul buku yang semuanya menarik untuk dibaca. Di Inggris, sebagaimana kita sudah mafhum, banyak sekali penulis international best-selling author terkenal. Aku bangga pernah tinggal di kota Nottingham, yang merupakan salah satu kota yang ditetapkan sebagai kota literacy dunia. Di Nottingham ini banyak lahir penulis terkenal.

Berbeda dengan di toko buku di Indonesia yang pelit kayak demit, dimana setiap bukunya di bungkus plastik rapat-rapat, tidak boleh dibaca sebelum membeli. Di toko buku waterstone kita bebas baca buku sepuasnya sebelum membeli. Disediakan pula sofa yang sangat confy lengkap dengan warung kopi di dalam toko. Aku bisa kerasan seharian di dalam toko.

lewis-aged-two-looks-at-books-in-a-book-shop-waterstones-nottingham-ar1c8f

Ada juga zona khusus untuk anak-anak. Tempat dimana ribuan buku khusus untuk anak-anak. Duh bukunya bagus-bagus dan lucu-lucu. Ditambah tata ruang yang di desain khusus anak-anak dan dilengkapi area bermain. Anak-anak dijamin pasti betah berlama-lama disitu sambil membaca buku. Sungguh, Inggris adalah salah satu syurga literasi terbaik di dunia.

Tidak hanya jumlahnya yang banyak dan berkualitas, yang paling menyenangkan adalah harga buku yang sangat murah, sangat terjangkau. Untuk buku baru saja, banyak buku yang harganya hanya setengah harga nasi bungkus. Upah kerja part-time satu jam untuk pekerjaan paling rendahan di Inggris aku bisa mendapatkan sampai 6 buku novel. Banyak buku-buku novel yang 5 pound dapat tiga, sementara kalau kerja mengelap meja saja se jam bisa dapat 8-10  pound. Apalagi yang namanya buku lawas, atau buku bekas di charity shop atau carboot, banyak buku yang dijual seharga 2000 rupiah.

Itulah, begitu nyamperin toko buku di Indonesia, keprihatinan itu begitu menyeruak. Jumlah koleksinya yang semakin menyurut, tergerus oleh barang-barang lainya yang dijual di toko buku. Sedikit sekali buku berkualitas. Miskin penulis berbobot. Apalagi buku anak-anak yang bagus, nyaris tidak ada. Dan yang paling menyesakkan dada adalah harganya sangat tidak terjangkau. Harga satu buku novel lawas saja harganya berkisar Rp. 100.000. Itu upah pekerja kasar setelah bekerja sangat keras seharian.

Rasanya, masa depan dunia literasi di Indonesia begitu gelap. Sudah anak-anak mudanya nyaris tidak ada yang berminat baca buku, seiring semakin parahnya kecanduan mereka pada gadget. Miskin penulis berkualitas. Dan harga buku yang tidak terjangkau oleh masyarakat.  Lengkap sudah. Tak heran jika toko buku semakin sepi peminat. Dan gelaplah sudah dunia literasi Indonesia.

Pukul 6 sore toko buku gunung agung di pasar kwitang ini rupanya sudah tutup. Aku pengunjung terakhir dan satu-satunya sore itu. Bayangkan, di kota besar seramai Jakarta pusat, toko buku sudah tutup pukul enam sore.  Aku hanya mendapat dua buku klasik, the history of java dan babad tanah jawi, yang keduanya ditulis oleh orang Inggris dan orang Belanda. Alamak, pengetahuan tentang bangsa sendiripun rupanya sudah jadi milik orang asing. Hallaw Indonesia, masih tidurkah?

Satu Hari di Kota Pekanbaru

… setiap kota yang baru pertama kali aku kunjungi selalu menyimpan kenangan sendiri, tak terkecuali kota Pekanbaru ini – a random thought

blog_rumah_panggung

Rumah Panggung Di Pinggir Sungai Siak, Pekanbaru Riau

Akhirnya sampai juga di kota ini. Kota Pekanbaru, salah satu pusat bangsa Melayu di bumi nusantara. Aku begitu ingin segera berkunjung di kota ini. Waktu di Inggris, banyak sekali teman-teman ku yang sedang mengambil program doktor di berbagai kota di Inggris berasal dari Universitas Riau Pekanbaru ini. Disamping teman-teman dari Universitas Muhammadiyah Solo.

Yang aku tahu rektor dari dua universitas ini begitu giat mengirimkam dosen-dosen nya untuk segera mengambil program doktor di luar negeri.  Karenanya, aku sangat yakin dua kampus ini akan menjadi salah satu kampus yang terbaik di Indonesia.

Aku datang ke kota ini niatnya jalan-jalan, yang dibalut presentasi makalah di seminar nasional teknologi informasi, komunikasi, dan industri yang diselenggarakan oleh fakultas sains dan teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru, Riau. Judul seminarnya sekilas seperti menarik: integrasi teknologi informasi  dan Islam. Realitanya? Ah sudahlah, orang-orang sekolahan ini suka ada-ada saja. Dan akupun tak pernah tertarik untuk membahasnya. Lebih baik kita bahas jalan-jalanya saja ya. Yang penting, dengan ikut seminar ini, aku bisa jalan-jalan gratis saja.

Aku berangkat dari bandara Juanda Surabaya pukul  enam pagi, dengan pesawat Garuda kelas ekonomi, transit ganti pesawat di Bandara Sukarno Hatta Jakarta, dan tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, sekitar pukul 10 pagi. Langsung menuju hotel Pangeran, tempat seminar dan tempat ku menginap. Seminar usai di sore hari, sehingga aku bisa menghabiskan sore itu untuk jalan-jalan keliling kota.

Sekilas, kota ini tak ada bedanya dengan kota-kota lain di Indonesia. Isinya kurang lebih hampir sama. Maklum di negeri ini, kemajuan di negeri disama artikan dengan kemajuan ala kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi perkantoran, pusat perbelanjaan, kemacetan, apalagi? tidak ada yang lebih menarik bukan?

blog_nasi_lemang

Pennjual Nasi Lemang, Menunggu Pembeli

Tetapi setidaknya ada suasana yang berbeda. Sore itu, aku berjalan menyusuri trotoar kota yang kondisinya sungguh memprihatinkan. Bukan saja tidak nyaman, tetapi penuh jebakan. Jika tidak awas, bisa terperosok ke dalam selokan lebar saluran air yang penutupnya telah hancur entah kemana tak pernah diganti. Di sepanjang jalan itu terlihat banyak sekali penjual nasi lemang. Itu lowh, nasi yang dimasak dengan cara dibakar di dalam ruas bambu. Sebatang nasi lemang hangat itu harganya Rp. 35.000.

Maksud hati, jalan-jalan sore keliling hati. Tapi rupanya sungguh sangat menyiksa. Aku lupa ini bukan kota-kota di Eropa Bung. Trotoar yang sempit dan mengundang bahaya belumlah seberapa. Yang lebih menyeramkan adalah ketika harus menyeberang jalan. Alamak, sungguh seperti mempertaruhkan nyawa saja rasanya.  Tidak ada jembatan penyeberangan, apalagi setopan penyebarangan jalan seperti kota-kota di Eropa. Sungguh, seperti kota-kota lain, kota ini sangat tidak manusiawi dengan pejalan kaki.

Akhirnya, aku menyerah saja, kembali ke hotel, setelah rasanya kehilangan separuh nyawa ketika terpaksa memberanikan menyeberang jalan di tengah-tengah padatnya kendaraan yang jalanya kencang-kencang. Sesampai di hotel, seorang teman yang asli pekanbaru, telah menunggu di lobi hotel. Membawakanku satu keresek besar oleh-oleh khas kota Pekanbaru, dan siap mengajak ku menghabiskan sore dan malam dengan mobilnya.

blog_masjid_agung_pkb

Masjid Agung, Pekanbaru

Jadilah aku akhirnya keliling kota, menikmati suasana kota dari atas mobil. Tujuan pertama adalah masjid Agung, untuk sholat maghrib jamaah. Luar biasa besar, luas, dan megah masjidnya. Kebetulan, sang teman yang seorang doktor dalam bidang struktur bangunan lulusan Universitas Birmingham, Inggris ini adalah salah satu insinyur pembangunan masjid ini.

Aku begitu terkesima dengan luas dan megahnya interior masjid ini. Tapi sayang, masjid ini jauh dari perkampungan sehingga jamaahnya hanya sedikit saja. Yang menarik lagi, rupanya ekspresi keberagamaan di masjid ini, seperti halnya masjid-masjid di tanah melayu di Malaysia, sama persis dengan ekspresi keberagamaan di masjid-masjid di Jawa Timur. Tradisi keberagamaan ala NU nya sangat kental. Setelah sholat ada wiridan berjamaah yang dibaca nyarinng. Kabarnya ini bidah lo, menurut  teman-teman yang mengklaim dirinya ahali sunah.

Setelah sholah, kami berkeliling, menyusuri sudut-sudut kota Pekanbaru. Kebetulan saat itu sepuluh hari menjelang puasa ramadlan. Ternyata di kota ini ada tradisi tahlilan giliran di rumah-rumah penduduk, yang dilanjutkan acara makan-makan bersama, selama sepuluh hari menjelang puasa. Di jalanan terlihat orang-orang pria, wanita, berduyun-duyun keluar masuk rumah habis tahlilan. Indah sekali melihatnya.

blog_sate_padang

Sate Padang Pekanbaru

Setelah puas menikmati suasana kota, kami beralih ke wisata kuliner. Aku diajak oleh sang teman ke warung martabak mesir lalu ke warung sate padang yang legendaris. Martabaknya sih biasa-biasa saja, tetapi sate padangnya yang benar-benar legendaris. Uenake rek tenanan. Apalagi disajikan dengan daun pisang dan teh anget manis. Bumbu dan dagingnya menyatu padu enak sekali.

Ada yang menarik dari deretan warung sate padang di kota Pekanbaru ini. Hampir semua penjualnya adalah orang padang atau orang Jawa, tetapi pemiliknya yang sekaligus kasirnya hampir bisa dipastikan adalah orang Cina. Tidak ada salahnya bukan? Tidak takut dagingnya tidak halal? Kalau aku sih haqul yakin saja pasti halal, kalau tidak halal pastilah warung ini tidak laku di tengah komunitas kota yang mayoritas muslim ini. Jalan-jalan malam itu ditutup dengan silaturahmi ke rumah sang kawan. Berjam-jam aku singgah hingga larut malam. Entahlah sedang ada setan apa yang menempel ditubuhku, si anak lanang sang teman begitu luengket dan akrab sekali denganku malam itu. Lalu sang teman mengantarkan ku kembali ke hotel.

blog_miesayur_pkb

Mie Sayur Pekanbaru

Ohya, ada lagi makanan super enak di Pekanbaru ini. Aku menemukanya saat sarapan pagi di hotel. Aku sampai sarapan dua kali. Ceritanya, waktu sarapan pertama vouchernya tidak diminta. Jadilah, dipakai lagi untuk sarapan kedua. Makanan itu hanya mie sayur sebenarnya. Tapi sayur dan kuahnya yang luar biasa lezat. Sayurnya adalah sayur pakis muda. Sudah lama sekali rasanya tidak makan sayur pakis muda ini. Kalau tidak salah ingat, aku terakhir kali makan sayur ini sekitar hampir 20 tahun yang lalu, waktu nyantri di pondok pesantren Blokagung, Banyuwangi. Pesantrenku dekat dengan hutan, jadi pakis muda ini dijual murah di pasar pesantren. Dulu aku memasaknya sendiri. Selain sayurnya yang istimewa, kuahnya juga istimewa. Gurihnya juara satu.

blog_teh_tarik

Teh Tarik Malaysia

Pagi, keesokan harinya aku jalan-jalan ke Pasar besar untuk membeli oleh-oleh dan jalan-jalan sebentar di Jembatan dan Pinggiran Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru. Berangkatnya dengan naik taksi bayar 30 ribuan. Ternyata pasar besar tidak seindah yang aku bayangkan dimana akan banyak kutemukan oleh-oleh khas Pekanbaru. Selain keripik Balado, sebagian besar oleh-oleh yang dijual adalah produk Cina dan Malaysia. Salah satu yang jadi andalan adalah Teh Tarik. Teh khas Malaysia ini adalah minuman favoritku waktu aku tinggal di negeri itu.

blog_jembatan_sungai_siak

Jembatan Sungai Siak, Pekanbaru

Kemudian aku keliling kota sebentar di sekitar salah satu jembatan sungai siak. Not bad lah. Sungainya sangat luas, meskipun tidak jernih, tetapi airnya tidak terlalu tercemar pula. Ada sebuah kapal tak bertuan bersandar di pinggir sungai. Dalam hati aku hanya bisa mbatin, sungai sebesar ini sepatutnya bisa dioptimalkan fungsinya menjadi something. Aku tiba-tiba jadi teringat kota Rotterdam, dimana sungai benar-benar dioptimalkan kemanfaatanya sebagi moda transportasi yang bisa dihandalkan. Atau kota Amsterdam, yang sungainya penuh dengan kapal wisata yang begitu diminati para turis.

Setelah beberapa jenak, aku memutuskan kembali ke hotel dengan naik Angkot. Niatnya seru-seruan naik angkot, eh ternyata dipalaki sama sopir angkot. Harganya dua kali lipat dari ongkos taksi. Haha!

 

Hingga Senja di Kota Leed

… kota ini adalah tempat sempurna untuk melihat dimana nuansa klasik dan modern kawin secara menakjubkan – catatan perjalanan biasa

leed_18

Salah Satu Arsitektur Bangunan Futuristik di Kota Leed, Inggris

Ini sekedar catatan perjalanan yang telah lalu, perjalanan yang biasa-biasa saja. Daripada terlupakan begitu saja, bukankah lebih baik dicatat saja. Siapa tahu, catatan ini menemukan pembacanya sendiri. Ya, betul kamu!

leed_1

Bangunan Kantor Pos

Ini perjalanan yang tidak direncanakan sama sekali. Hanya semata-mata, karena ada promo tiket super murah, dari perusahaan bus National Express, hanya seharga £2, Nottingham-Leed PP. Sayang, jika tidak dimanfaatkan. Itu harga iket sekali jalan dari rumah ke city centre saja, dengan promo ini, utility function nya ter extended untuk perjalanan keluar kota, sejauh 2.5 jam perjalanan.

leed_2

Sepeda Ontel

Begitu sampai di kota ini, alam pikiran ku langsung teringat sebuah maqolah yang sering diulang-ulang oleh para kyai di pesantren dulu. Sebuah filosofi yang dipegangteguh pesantren dalam menghadapi gelombang perubahan jaman yang begitu menderu.

Al-muhafadzatu ‘alal qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

leed_3

Shop, Cafe, Gallery, and Library

Yah, di kota Leed inilah, nuansa klasik dan modern bisa kawin, berdiri sejajar, saling menguatkan, saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Sebuah pasar tradisional, dengan nuansa klasik yang menyejarah beratusan tahun yang ada tukang sol sepatu di dalamnya, i.e. Kirkgate Market, begitu mereka menyebutnya, masih lestari, berjajar dengan mall-mall bergedung megah dengan arsitektur futuristic tempat jualan barang-barang branded milik korporasi multi-national dalam sistem ekonomi kapitalis.

leed_4

Leed City Museum

Pun demikian, gedung-gedung yang menjubeli kota. Gedung-gedung berarsitektur klasik nan gothic, berusia ratusan tahun, berjejeran dengan gedung-gedung modern futuristic. Kota ini membawa suasana hati ke tempo dulu, kekinian, dan masa depan sekaligus.

leed_5

Bnagunan Klasik di Kota Leed

Aku jalan sendirian menyusuri kota ini. Tanpa survey, apalagi menyiapkan itenary sebelumnya. Hanya menuruti krentek hati, kubawa langkah kaki ini menyusuri jalan. Dengan bantuan penunjuk arah di sudut-sudut jalan.

leed_6

Gedung Klasik Berdampingan Dengan Gedung Modern

Pertama, aku menyusuri pusat kota, dari coach station, train station, sudut-sudut jalan di tengah-tengah kota, menyinggahi bangunan-bangunan yang nampak menarik, blusukan ke dalam kampus Universitas Leed, dan kembali lagi ke coach station, saat senja datang, memanggil untuk segera pulang kembali ke kota Nottingham. Aku selalu merasa jatuh cinta untuk merasai nuansa khas yang ditawarkan setiap kota. Termasuk kota Leed ini.

leed_7

Arsitektur Bangunan yang Futuristik

Salah satu tempat yang cukup lama saya singgahi adalah Leed City Museum. Setiap mengunjungi kota, museum adalah tempat yang wajib aku kunjungi. Dari museum inilah, aku bisa melihat apa yang kulihat lebih well-rounded dan komperehensif. Tidak ahistoris. Setiap kelaur dari museum, muncul kesadaran yang mendalam bahwa, apa yang kulihat saat ini, saling terkait dan berkelindan dengan sejarah panjang di masa lampau, pun demikian dengan masa depan.

leed_8

Universitas Leed

Ada satu hal yang unik menurut ku. Hampir dipastikan di setiap kota di Inggris, sekecil apapun kota itu, disitu ada museum. Dan disetiap museum itu bisa dipastikan menyimpan mumi asli dari Mesir. Dalam hati aku mbatin,  berapa banyak mumi yang telah dicuri Inggris dari mesir?

leed_10

Gedung Di Dalam Kampus Universitas Leed

Selain museum, aku juga cukup lama blusukan ke gedung-gedung Universitas Leed. Entahlah, aku sangat senang melihat suasana akademik seperti ini. Melihat, gedung-gedung laboratorium yang gagah, mahasiswa-mahasiswi yang sibuk berlalu lalang, perpustakaan yang megah, dan suasana kampus yang adem, seolah-seolah membawa alam pikiranku ke masa depan. Di kampus-kampus inilah, masa depan peradaban manusia sedang dibentuk.

leed_11

Salah Satu Gedung Kuliah di Universitas Leed

Aku duduk-duduk di salah satu bangku kosong yang cukup banyak tersedia di dalam kampus. Sambil mataku menyapu setiap sudut, memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Banyak terlihat mahasiswa dari Malaysia, tapi sayang aku belum menemukan mahasiswa Indonesia yang kebetulan lewat di depan ku.

dsc_0643

Salah satu sudut kota

Dari blusukan kampus, aku kembali menyusuri jalan-jalan pedistrian menuju tengah-tengah kota kembali. Merasakan suasana kota saat menjelang senja. Para mahasiswa terlihat menuju kembali ke rumahnya masing-masing. Suasana senja kota pun ramai orang-orang menikmati hidup, menghabiskan sisa-sisa hari.

leed_15

Sudut Kota Leed

Saat matahari tenggelam, menjemput malam aku kembali ke kota ku, Nottingham. Kota ini mengajarkan kepada ku dalam memahami pembangunan. Bahwa pembangunan itu tidak mesti memberangus yang lalu.

leed_14

Landmark Universitas Leed, Inggris

Bisa jadi yang kita anggap kemajuan, jangan-jangan malah kemunduran. Masa lalu dan masa depan, mestinya menjadi dialektika abadi, untuk membangun yang ada saat ini. Tepat, seperti kearifan para kyai pesantren itu.

Sampai jumpa di catatan perjalanku selanjutnya!

Satu Hari di Kota Trieste, Italia

… Trieste adalah kota bahari yang cantik dan menyimpan sejarah kejayaan yang sangat panjang – catatan perjalanan

trieste_1

Bersepeda di Pantai Trieste, Italia

Kota ini adalah kota terakhir yang aku kunjungi selama lawatan ku di Italia pada musim panas kemaren. Aku datang ke kota ini, ikut rombongan gratis, yang difasilitasi panitia konferensi internasional, di kota udine (lihat catatan perjalanan saya sebelumnya disini). Dari kota Udine, kami berangkat dengan satu bus besar dan satu bus kecil, tepat setelah makan siang.

trieste_2

Numpang Pamer Batik

Selama perjalanan dalam bus, kurang lebih satu setengah jam, dari Udine ke Trieste, aku menikmati suasana alam pedesaan negara Italia ini. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, tidak jauh beda dengan Indonesia. Jalan-jalan raya pun sempit, tidak selapang di Inggris. Sepertinya, dalam hal infrastruktur, Italia ini jauh dibawah Inggris.

trieste_3

Pusat Kota Trieste

Dari balik jendela kaca bus, aku bisa menyaksikan sebagian besar sawah di negara ini ditanami jagung dan anggur. Tentu tak semenakjubkan hamparan padi di tanah jawa. Hanya saja penggunaan teknologi pertanian terlihat lebih maju disini. Tak terlihat irigasi memang, tetapi tananman disirami air yang bisa dikendalikan secara otomatis dengan teknologi.

trieste_4

Sebuah Gereja di Trieste

Pemandangan pertama dari kota ini adalah pantai yang dikelilingi bukit-bukit. Air lautnya biru kehijau-hijauan. Tidak terlihat pasir pantai disana-sini. Tetapi banyak sekali terlihat pengunjung yang berjemur di bibir pantai, mereka terlihat nyaris telanjang memamerkan auratnya yang subhanallah, indah sekali. Padahal, cuacanya sangat puanas sekali.

trieste_5

Brondong Itali, Cakep ndak mbak? :p

Kami berkeliling kota Trieste dengan bus. Sang tour guide, menjelaskan secara detail setiap sudut dari kota ini. Dan aku malas sekali mendengarkanya. Karena apa yang diucapkanya pasti akan menguap begitu saja dari memori ingatanku. Intinya, kota Trieste ini adalah kota bahari, kampung nelayan, yang dulu sumber ekonomi utama dari kota ini adalah sumber daya laut.

trieste_7

Kanal di Kota Trieste

Banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah, castle, gereja-gereja yang menyimpan kenangan kejayaan kota ini di masa lalu yang sangat panjang. Setelah tour kliling kota dalam bus. Tour guide mengajak kami menyusuri pantai dan kota Trieste dengan berjalan kaki.

trieste_6

Gereja Ortodox Serbia yang Mirip Masjid

Sebenarnya aku kurang menikmati perjalanan seperti ini. Sudah rombongan dalam jumlah besar, pakai tour guide lagi. Kesanya seperti dikejar-kejar waktu, agar sampai pada tempat-tempat sebanyak mungkin. Tetapi lupa menikmati perjalanan itu sendiri. Aku lebih menikmati perjalanan casual sendiri atau berdua saja.

trieste_8

Jalanan di kota Trieste, Italia

Kami diajak keliling menyusuri sudut-sudut kota Trieste. Yang didominasi bangunan-bangunan kuno yang megah serta gereja-gereja megah yang banyak sekali jumlahnya di kota ini. Konon banyak aliran gereja di kota ini. Ada sebuah gereja yang sekilas bentuknya seperti masjid. Katanya, ini adalah gereja ortodox Serbia. Saat masuk kedalamnya, terdengar nyanyian puji-pujian berbahasa Arab, yang mirip sholawatan di kampung-kampung di Jawa Timur.

trieste_9

Bangunan di Kota Trieste

Bangunan yang padat, nyaris tanpa ada tumbuhan, dan suasana pantai yang sangat panas, membuat jalan-jalan di kota ini pada siang hari terasa kurang nyaman. Sepertinya, waktu ideal jalan-jalan di kota ini adalah saat senja di musim panas yang panjang. Selain tidak panas, nuansanya pun pastinya menjadi lebih romantis. Dan pemandangan dan nuansa yang akan menjadi paling istimewa di kota ini adalah duduk-duduk di kanal, melihat perahu-perahu bersandar sambil menunggu senja ditelan malam.

trieste_10

Para perahu wisata memenuhi pantai Trieste

Begitulah sedikit cerita perjalanan ku di Kota Trieste. Kota ini mengajarkan kepada ku bahwa kota yang pernah berjaya dengan sumber daya baharinya itu pernah ada dan itu nyata. Ada sebuah negeri di timur sana, yang dianugerahi sumber daya bahari yang sangat luar biasa melimpahnya, tetapi tempat terdekat dengan lautnya menjadi kantung-kantung kemiskinan yang terpampang begitu nyata. Tempat para nelayan, menyambung hidup dibawah bayang-bayang kemiskinan. Padahal kekayaan laut yang begitu melimpah, tetapi sayang kemakmuran dari hasil laut itu bukan mereka yang punya.

Di kota Trieste ini kulihat, wilayah terdekat dengan laut, menjadi pusat peradaban yang menakjubkan. Tidak hanya bangunan megah, istana pun dibangun di wilayah terdekat dengan laut. Mungkin kita perlu belajar dari kota ini, untuk mengobati kepekoan berjamaah cara berfikir kita.