Jalan-Jalan

Hingga Senja di Kota Leed

… kota ini adalah tempat sempurna untuk melihat dimana nuansa klasik dan modern kawin secara menakjubkan – catatan perjalanan biasa

leed_18

Salah Satu Arsitektur Bangunan Futuristik di Kota Leed, Inggris

Ini sekedar catatan perjalanan yang telah lalu, perjalanan yang biasa-biasa saja. Daripada terlupakan begitu saja, bukankah lebih baik dicatat saja. Siapa tahu, catatan ini menemukan pembacanya sendiri. Ya, betul kamu!

leed_1

Bangunan Kantor Pos

Ini perjalanan yang tidak direncanakan sama sekali. Hanya semata-mata, karena ada promo tiket super murah, dari perusahaan bus National Express, hanya seharga £2, Nottingham-Leed PP. Sayang, jika tidak dimanfaatkan. Itu harga iket sekali jalan dari rumah ke city centre saja, dengan promo ini, utility function nya ter extended untuk perjalanan keluar kota, sejauh 2.5 jam perjalanan.

leed_2

Sepeda Ontel

Begitu sampai di kota ini, alam pikiran ku langsung teringat sebuah maqolah yang sering diulang-ulang oleh para kyai di pesantren dulu. Sebuah filosofi yang dipegangteguh pesantren dalam menghadapi gelombang perubahan jaman yang begitu menderu.

Al-muhafadzatu ‘alal qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

leed_3

Shop, Cafe, Gallery, and Library

Yah, di kota Leed inilah, nuansa klasik dan modern bisa kawin, berdiri sejajar, saling menguatkan, saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Sebuah pasar tradisional, dengan nuansa klasik yang menyejarah beratusan tahun yang ada tukang sol sepatu di dalamnya, i.e. Kirkgate Market, begitu mereka menyebutnya, masih lestari, berjajar dengan mall-mall bergedung megah dengan arsitektur futuristic tempat jualan barang-barang branded milik korporasi multi-national dalam sistem ekonomi kapitalis.

leed_4

Leed City Museum

Pun demikian, gedung-gedung yang menjubeli kota. Gedung-gedung berarsitektur klasik nan gothic, berusia ratusan tahun, berjejeran dengan gedung-gedung modern futuristic. Kota ini membawa suasana hati ke tempo dulu, kekinian, dan masa depan sekaligus.

leed_5

Bnagunan Klasik di Kota Leed

Aku jalan sendirian menyusuri kota ini. Tanpa survey, apalagi menyiapkan itenary sebelumnya. Hanya menuruti krentek hati, kubawa langkah kaki ini menyusuri jalan. Dengan bantuan penunjuk arah di sudut-sudut jalan.

leed_6

Gedung Klasik Berdampingan Dengan Gedung Modern

Pertama, aku menyusuri pusat kota, dari coach station, train station, sudut-sudut jalan di tengah-tengah kota, menyinggahi bangunan-bangunan yang nampak menarik, blusukan ke dalam kampus Universitas Leed, dan kembali lagi ke coach station, saat senja datang, memanggil untuk segera pulang kembali ke kota Nottingham. Aku selalu merasa jatuh cinta untuk merasai nuansa khas yang ditawarkan setiap kota. Termasuk kota Leed ini.

leed_7

Arsitektur Bangunan yang Futuristik

Salah satu tempat yang cukup lama saya singgahi adalah Leed City Museum. Setiap mengunjungi kota, museum adalah tempat yang wajib aku kunjungi. Dari museum inilah, aku bisa melihat apa yang kulihat lebih well-rounded dan komperehensif. Tidak ahistoris. Setiap kelaur dari museum, muncul kesadaran yang mendalam bahwa, apa yang kulihat saat ini, saling terkait dan berkelindan dengan sejarah panjang di masa lampau, pun demikian dengan masa depan.

leed_8

Universitas Leed

Ada satu hal yang unik menurut ku. Hampir dipastikan di setiap kota di Inggris, sekecil apapun kota itu, disitu ada museum. Dan disetiap museum itu bisa dipastikan menyimpan mumi asli dari Mesir. Dalam hati aku mbatin,  berapa banyak mumi yang telah dicuri Inggris dari mesir?

leed_10

Gedung Di Dalam Kampus Universitas Leed

Selain museum, aku juga cukup lama blusukan ke gedung-gedung Universitas Leed. Entahlah, aku sangat senang melihat suasana akademik seperti ini. Melihat, gedung-gedung laboratorium yang gagah, mahasiswa-mahasiswi yang sibuk berlalu lalang, perpustakaan yang megah, dan suasana kampus yang adem, seolah-seolah membawa alam pikiranku ke masa depan. Di kampus-kampus inilah, masa depan peradaban manusia sedang dibentuk.

leed_11

Salah Satu Gedung Kuliah di Universitas Leed

Aku duduk-duduk di salah satu bangku kosong yang cukup banyak tersedia di dalam kampus. Sambil mataku menyapu setiap sudut, memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Banyak terlihat mahasiswa dari Malaysia, tapi sayang aku belum menemukan mahasiswa Indonesia yang kebetulan lewat di depan ku.

dsc_0643

Salah satu sudut kota

Dari blusukan kampus, aku kembali menyusuri jalan-jalan pedistrian menuju tengah-tengah kota kembali. Merasakan suasana kota saat menjelang senja. Para mahasiswa terlihat menuju kembali ke rumahnya masing-masing. Suasana senja kota pun ramai orang-orang menikmati hidup, menghabiskan sisa-sisa hari.

leed_15

Sudut Kota Leed

Saat matahari tenggelam, menjemput malam aku kembali ke kota ku, Nottingham. Kota ini mengajarkan kepada ku dalam memahami pembangunan. Bahwa pembangunan itu tidak mesti memberangus yang lalu.

leed_14

Landmark Universitas Leed, Inggris

Bisa jadi yang kita anggap kemajuan, jangan-jangan malah kemunduran. Masa lalu dan masa depan, mestinya menjadi dialektika abadi, untuk membangun yang ada saat ini. Tepat, seperti kearifan para kyai pesantren itu.

Sampai jumpa di catatan perjalanku selanjutnya!

Satu Hari di Kota Trieste, Italia

… Trieste adalah kota bahari yang cantik dan menyimpan sejarah kejayaan yang sangat panjang – catatan perjalanan

trieste_1

Bersepeda di Pantai Trieste, Italia

Kota ini adalah kota terakhir yang aku kunjungi selama lawatan ku di Italia pada musim panas kemaren. Aku datang ke kota ini, ikut rombongan gratis, yang difasilitasi panitia konferensi internasional, di kota udine (lihat catatan perjalanan saya sebelumnya disini). Dari kota Udine, kami berangkat dengan satu bus besar dan satu bus kecil, tepat setelah makan siang.

trieste_2

Numpang Pamer Batik

Selama perjalanan dalam bus, kurang lebih satu setengah jam, dari Udine ke Trieste, aku menikmati suasana alam pedesaan negara Italia ini. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, tidak jauh beda dengan Indonesia. Jalan-jalan raya pun sempit, tidak selapang di Inggris. Sepertinya, dalam hal infrastruktur, Italia ini jauh dibawah Inggris.

trieste_3

Pusat Kota Trieste

Dari balik jendela kaca bus, aku bisa menyaksikan sebagian besar sawah di negara ini ditanami jagung dan anggur. Tentu tak semenakjubkan hamparan padi di tanah jawa. Hanya saja penggunaan teknologi pertanian terlihat lebih maju disini. Tak terlihat irigasi memang, tetapi tananman disirami air yang bisa dikendalikan secara otomatis dengan teknologi.

trieste_4

Sebuah Gereja di Trieste

Pemandangan pertama dari kota ini adalah pantai yang dikelilingi bukit-bukit. Air lautnya biru kehijau-hijauan. Tidak terlihat pasir pantai disana-sini. Tetapi banyak sekali terlihat pengunjung yang berjemur di bibir pantai, mereka terlihat nyaris telanjang memamerkan auratnya yang subhanallah, indah sekali. Padahal, cuacanya sangat puanas sekali.

trieste_5

Brondong Itali, Cakep ndak mbak? :p

Kami berkeliling kota Trieste dengan bus. Sang tour guide, menjelaskan secara detail setiap sudut dari kota ini. Dan aku malas sekali mendengarkanya. Karena apa yang diucapkanya pasti akan menguap begitu saja dari memori ingatanku. Intinya, kota Trieste ini adalah kota bahari, kampung nelayan, yang dulu sumber ekonomi utama dari kota ini adalah sumber daya laut.

trieste_7

Kanal di Kota Trieste

Banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah, castle, gereja-gereja yang menyimpan kenangan kejayaan kota ini di masa lalu yang sangat panjang. Setelah tour kliling kota dalam bus. Tour guide mengajak kami menyusuri pantai dan kota Trieste dengan berjalan kaki.

trieste_6

Gereja Ortodox Serbia yang Mirip Masjid

Sebenarnya aku kurang menikmati perjalanan seperti ini. Sudah rombongan dalam jumlah besar, pakai tour guide lagi. Kesanya seperti dikejar-kejar waktu, agar sampai pada tempat-tempat sebanyak mungkin. Tetapi lupa menikmati perjalanan itu sendiri. Aku lebih menikmati perjalanan casual sendiri atau berdua saja.

trieste_8

Jalanan di kota Trieste, Italia

Kami diajak keliling menyusuri sudut-sudut kota Trieste. Yang didominasi bangunan-bangunan kuno yang megah serta gereja-gereja megah yang banyak sekali jumlahnya di kota ini. Konon banyak aliran gereja di kota ini. Ada sebuah gereja yang sekilas bentuknya seperti masjid. Katanya, ini adalah gereja ortodox Serbia. Saat masuk kedalamnya, terdengar nyanyian puji-pujian berbahasa Arab, yang mirip sholawatan di kampung-kampung di Jawa Timur.

trieste_9

Bangunan di Kota Trieste

Bangunan yang padat, nyaris tanpa ada tumbuhan, dan suasana pantai yang sangat panas, membuat jalan-jalan di kota ini pada siang hari terasa kurang nyaman. Sepertinya, waktu ideal jalan-jalan di kota ini adalah saat senja di musim panas yang panjang. Selain tidak panas, nuansanya pun pastinya menjadi lebih romantis. Dan pemandangan dan nuansa yang akan menjadi paling istimewa di kota ini adalah duduk-duduk di kanal, melihat perahu-perahu bersandar sambil menunggu senja ditelan malam.

trieste_10

Para perahu wisata memenuhi pantai Trieste

Begitulah sedikit cerita perjalanan ku di Kota Trieste. Kota ini mengajarkan kepada ku bahwa kota yang pernah berjaya dengan sumber daya baharinya itu pernah ada dan itu nyata. Ada sebuah negeri di timur sana, yang dianugerahi sumber daya bahari yang sangat luar biasa melimpahnya, tetapi tempat terdekat dengan lautnya menjadi kantung-kantung kemiskinan yang terpampang begitu nyata. Tempat para nelayan, menyambung hidup dibawah bayang-bayang kemiskinan. Padahal kekayaan laut yang begitu melimpah, tetapi sayang kemakmuran dari hasil laut itu bukan mereka yang punya.

Di kota Trieste ini kulihat, wilayah terdekat dengan laut, menjadi pusat peradaban yang menakjubkan. Tidak hanya bangunan megah, istana pun dibangun di wilayah terdekat dengan laut. Mungkin kita perlu belajar dari kota ini, untuk mengobati kepekoan berjamaah cara berfikir kita.

 

Denyut Kota Udine, Italia

… suasana paling berkesan dari kota ini adalah ketika dua perempuan ngontel sepeda beriring bersama, lalu berpisah di persimpangan jangan, menempuh jalan yang berbeda sambil kompak mengucap salam pisah: ” Ciao… “ – sebuah catatan perjalanan biasa

udine_17

Udine Castle

Sebenarnya dari stasiun kere api St Luzia-Venice aku bisa naik kereta api langsung ke kota Udine. Namun, karena saat merencanakan perjalanan saya pikir harus turun di stasiun kereta api Maestre-Venice, jadilah saya membeli tiket kereta api dari stasiun kere api St Luzia-Venice ke Maestre-Venice dan tiket kereta api dari Maestre-Venice ke Udine secara terpisah. Dengan kereta api ini, jarak antara stasiun St Luzia-Venice dan Maestre-Venice, rupanya bisa ditempuh hanya dalam perjalanan 10 menit saja. Berangkat 19:31 sampai tepat pukul 19:41.

udine_02

Stasiun Venizia-Mestre

Aku hanya duduk-duduk di stasiun Maestre, sambil menunggu kedatangan kereta yang akan membawa ku kota Udine pukul 20.16. Sinar matahari sore masih terlihat cukup terang dari salah satu kaki langit menerobos ke dalam stasiun, menerangi rel kereta api yang usang. Stasiun sudah sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang terlehat sedang menunggu kereta. Seorang pengemis, lelaki tua, berjas lusuh datang menghampiriku, dengan bahasa Italia yang tidak aku pahami, meminta uang recehan. Tak lama berselang, perempuan tua juga menghampiri ku dengan maksud yang sama.

Stasiun Venizia-Mestre ini jauh dari bayanganku, di kota wisata modern yang sangat terkenal, sudah sewajarnya jika stasiunya megah dan mewah. Rupanya, tak jauh beda dengan stasiun Gubeng Surabaya. Banyak rumput-rumput tumbuh liar di antara rel-rel kereta api yang berjajar-jajar dan terhubung dengan kota-kota besar di daratan benua Eropa itu.

Tepat pukul 20.16 kereta api berangkat menuju kota Udine. Kereta jurusan akhir kota Treste itu berhenti hampir di setiap stasiun. Hanya ada beberapa penumpang saja di setiap gerbong bertingkat dua itu. Di gerbong ku, hanya ada dua orang. Aku memilih duduk di pinggir jendela, agar bisa melihat kereta sudah sampai di stasiun mana. Takut, kalau-kalau kebablasan. Setelah melewati beberapa stasiun, seorang petugas memeriksa tiket setiap penumpang.

Kereta api tiba di Stasiun Udine tepat pukul 21.53. Aku langsung keluar dari stasiun yang sudah sepi sunyi itu. Di luar stasiun jalanan pun sudah sepi. Aku berjalan kaki dari stasiun ke hotel tempat ku menginap mengikuti petunjuk google map yang sudah aku print out. Menyusuri trotoar jalan-jalan yang sudah sepi itu kadang-kadang ada perasaan takut, kalau-kalau ada orang jahat. Tapi aku yakinkan diriku sendiri ini Italia bukan Jakarta atau Surabaya.

Akhirnya, dengan kecerdasan sapsial ku yang rendah, aku pun tersesat juga. Cukup panik, karena tersesat di perempatan yang sunyi sepi. Sialan, tidak ada keterangan nama jalan di perempatan itu. Hanya insting menuntun ku untuk memilih salah satu jalan. Beruntung ada seorang pemuda sedang berjalan di jalan itu, aku pun bertanya jalan menuju hotel sambil menyodorkan print out google map. Duh Gusti, dia sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Dia memberi petunjuk pakai bahasa Italia yang tidak sedikit pun aku mengerti kecuali bahasa tubuhnya. Beruntungnya, dia sedang berjalan menuju tempat yang searah dengan lokasi hotel. Sehingga aku pun berjalan beriring denganya. Dari 15 menit yang diperkirakan google map, saya memerlukan waktu hampir 40 menit untuk sampai di hotel Friuli, tempat saya menginap selama 4 malam.

**

Seminar Internasional yang Biasa Saja

Lokasi seminar berjarak 15 menit perjalanan dengan jalan kaki dari hotel, tepatnya di Universita Degli Studi Di Udine atau University of Udine, universitas yang didirikan baru tahun 1978 sebagai bagian dari rekontruksi Friuli pasca gempa 1976. Seperti seminar internasional pada umumnya, disini aku betemu dengan orang-orang hebat di bidang riset ku. Para profesor, akademisi  senior dari kampus-kampus di Eropa, Amerika, dan Asia serta beberapa praktisi yang kebanyakan dari vendor software.

udine_18

Salah satu Papan Nama Universitas Udine

Beruntung, aku mendapat jadwal presentasi di hari pertama, sehingga aku bisa menikmati seminar selama tiga hari itu. Seperti biasa, presentasi ku selalu kacau, bahasa inggris ku belepotan, medok jowo ku ndak bisa hilang-hilang meskipun sudah empat tahun tinggal di Inggris. Cukup senang di seminar ini aku bisa ngobrol cukup intens dan berkesan dengan beberapa orang dari Spanyol, Irlandia, Jepang, Mexico, Cina, dan Israel.

Dengan orang spanyol, aku dapat cerita banyak tentang kota Granada, tempat kelahiranya. Dengan orang Irlandia, aku dapat update ilmu banyak dari IBM, serta terkesan dengan mas nya yang ramah dan humble sekali. Aku sampai berfikir, ilmuwan sejati itu seharusnya seperti mas ini. Dua teman dari Israel yang Yahudi pun ternyata tak seseram seperti yang aku bayangkan ketika membaca situs-situs islam garis keras itu. Aku malah jadi tahu banyak culture orang Yahudi.

Dengan orang Jepang, aku terkesan sekali dengan semangatnya. Seorang perempuan yang meskipun sepertinya sudah sepuh, dosen di sebuah universitas swasta di Tokyo, tetapi semangatnya sangat luar biasa. Datang ke Itali sendirian hanya untuk menghadiri seminar ini. Ohya, satu lagi, aku juga bertemu dengan orang Surabaya yang sudah beralih kwarganegaraan Singapore, dan saat ini jadi peneliti di Singapore Management University. Dengan mas ini, aku bisa ngobrol bebas menggunakan bahasa Jawa. Ngobrol dengan orang-orang seperti merekalah asyiknya di seminar internasional. Kalau materi seminarnya, sepertinya terlalu berat dan membosankan untuk diceritakan disini.

Suasana Kota Udine yang Klasik

Di antara jeda seminar, atau setelah seminar usai, aku mencuri waktu untuk merasakan denyut kehidupan kota Udine. Justru di kota kecil seperti Udine inilah, aku fikir kita bisa benar-benar merasakan denyut kehidupan orang lokal Itali sebenarnya. ” Kring Kring Kring Kring” suara bel sepeda ontel mendominasi suasana kota ini.

udine_03

Suasana Kota Udine di Siang hari

Aku selalu jatuh cinta dengan kota dimana jumlah sepeda jauh lebih banyak dari pada kendaraan bermotor. Sejenak kota ini mengingatkan ku pada kota Lueven di Belgia dan  kota Leiden di Belanda. Siang yang terik itu aku duduk di pinggir jalan, di samping sebuah empang yang airnya sangat jernih sekali. Di empang itu, terlihat olehku beberapa pasang capung berwarna biru-ungu sedang  berkejar-kejaran, lalu bercinta di atas ranting. Kuperhatikan capung-capung itu, sambil memperhatikan orang-orang yang lewat berlalu lalang di jalan.

udine_04

Boncengan Sepeda Ontel, Udine Italia

Pada hari pertama di kota ini, saat kembali dari kampus ke hotel, parah sekali, aku tersesat kembali. Terlalu yakin sudah hafal rute yang aku lalui waktu berangkat, eh ternyata tersesat di perempatan dekat sungai yang tak tahu harus lewat jalan yang mana. Handphone tidak ada koneksi internet, hanya berbekal print out google map dan city map. Setelah mutar-muter sampai bingung sendiri, akhirnya nyerah juga harus bertanya dengan orang lokal yang tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali itu. Pertama, ketemu sepasang muda-mudi yang berpapasan, eh bingung lagi. Sampai akhirnya, ketemu tiga mahasiswa, dua cowok satu cewek yang sangat serius membantu ku menemukan hotel. Si cewek yang cantik sekali itu mengambil stabilo dari dalam sebuah kafe, lalu dibantu dua teman coowoknya, memberi stabilo rute jalan yang harus saya tempuh sampai ke hotel.

udine_06

Parkir Sepeda Ontel di Udine, Italia

Informasi jalan di kota Udine ini memang tak sebagus informasi jalan di UK, sehingga sering kali membingungkan. Untungnya orang Italia jauh lebih hangat dan ramah dibanding orang UK yang terkenal dingin itu. Saya sangat terkesan dengan suasana tipikal di kota ini, dua orang atau lebih bersepeda beriringan, lalu ketika harus berpisah di persimpangan jalan, mereka mengucapkan salam pisah: “Ciao.. !” .

udine_12

Sudut Kota Udine

Bila menyusuri sudut-sudut kota ini, kesan yang terasa dari kota ini adalah kota usang, saking banyaknya gedung-gedung tua yang sepertinya juga kurang terawat atau mungkin sengaja dibiarkan begitu, untuk menimbulkan kesan kota klasik. Penduduknya pun kesan nya kurang bergairah hidup, kecuali untuk menikmati hidup itu sendiri. Di Italia ini dan kabarnya di Spanyol juga, kantor-kantor dan pusat-pusat perbelanjaan setelah buka sekitar jam 9 pagi, akan tutup antara jam 12 sampai jam 4 sore. Buka kembali sebentar jam 4 sampai jam 5 atau jam 6 sore. Mirip sekali dengan orang Jawa tempoe doeloe, ada waktu untuk leyeh-leyeh antara duhur dan ashar. Alasanya, musim panas di negara-negara eropa selatan ini sangat panas. Padahal menurut ku, kalau dibanding panasnya Surabaya mah tidak ada apa-apanya. Jelas dibanding kota-kota sibuk di Asia seperti Singapore, kesanya orang gaya hidup orang Italia di Udine ini sangat pemalas sekali.

udine_10

Gedung-gedung tua yang masih difungsikan di Udine

Jika sampean pergi ke Singapore atau London, sampean akan melihat bagaimana orang-orang terlihat sangat sibuk, berjalan pun sambil setengah berlarian. Pemandangan di kota Udine ini kebalikanya. Orang-orang terlihat sangat santai, tidak ngoyo, tetapi sebaliknya mereka terlihat begitu menghayati dan menikmati kehidupan. Jika orang-orang US, Jepang, Korea, Cina, Singapore mengajarkan hidup itu harus kerja keras mati-matian, Orang Inggris mengajarkan  work-life balance,  orang-orang Italia di Udine ini seolah mengajarkan bagaimana menikmati kehidupan ini. Begitulah, setiap bangsa punya definisi sendiri-sendiri tentang kehidupan mereka.

udine_11

Sumur Tua di Kota Udine

Di pusat kota Udine, hampir setiap gedung adalah toko penjual gaya hidup, dari pakean, parfum, hingga warung kopi, beberapa diantaranya adalah kantor industri jasa seperti bank. Ketika sore menjelang malam, orang-orang sudah terlihat berkumpul di pusat kota untuk menikmati hidup. Di kafe-kafe, restauran, dan bar-bar. Di musim panas seperti saat ini, mereka lebih senang menikmati anggur dan bir out door.

udine_09

Orang-orang menikmati hidup di sore hari

Hal yang paling aku suka dari suasana kota ini adalah keheninganya dan berjalanya waktu yang seolah begitu melambat. Nyaris tidak terdengar suara kendaraan bermotor. Karena sebagian besar orang di kota ini naik sepeda atau berjalan kaki. Pada satu malam, setelah makan malam, aku sengaja datang sendirian di pusat kota. Aku duduk tepat di titik 0 kota Udine, di depan Castle.

udine_07

Suasana Malam Titik Nol, Kota Udine

Di malam yang tenang itu, ku lihat beberapa orang berkumpul hanya untuk duduk santai ngobrol. Tenguk-tenguk saja. Hal yang menurutku sangat langka untuk ukuran manusia modern pada umumnya yang sangat sibuk, hanya menghabiskan waktu untuk tenguk-tenguk saja. Aku jadi teringat orang-orang desa jaman dulu, ketika belum banyak orang desa yang memiliki TV seperti sekarang, setelah isyak mereka sering berkumpul, tenguk-tenguk ngobrol gayeng dengan beberapa tetangga di emperan rumah sampai malam telah larut.

Setelah berjam-jam duduk-duduk, aku pun beranjak ke sudut lain dari kota itu. Menyusuri jalan-jalan sempit. Rupanya di sebuah square, di sudut kota yang lain ramai orang-orang minum-minum di meja-meja kafe. Lalu di sebelahnya, ada sebuah konser musik jalanan yang penuh dikerumunin anak-anak muda. Mereka terlihat begitu bahagia, bernyanyi setengah berteriak, sambil tubuhnya menari-nari mengikuti dentuman suara musik. Begitulah mereka menikmati kehidupan mereka.

Prostitusi di Kota Udine

Ada satu lagi yang mengejutkan dari kota ini, yaitu keberadaan kupu-kupu malam. Waktu aku menyusuri jalan-jalan yang sudah sepi itu, ternyata banyak kupu-kupu malam berkeliaran. Mereka mangkal di pinggir-pinggir jalan itu, sambil tangan dan lirikan matanya memberi kode pada mobil atau orang yang lewat sama persis modusnya dengan kupu-kupu malam di Indonesia. Pantas saja, banyak aku temukan ATM kondom di beberapa sudut kota. Sepanjang malam itu, aku ketemu tiga jenis kupu-kupu malam. Cewek Italia beneran, Waria Italia, dan Cewek item seksi. Heran saja, diantara perempuan Italia yang cantik sempurna, masih ada juga PSK Waria dan cewek item. Tapi bisa jadi juga karena kebanyakan yang cantik, yang  aneh justru menjadi istimewa.

Makanan di Italia

Selama 4 hari Udine, aku mendapatkan sarapan gratis dari hotel, dengan menu standard british breakfast. Roti, Cake, dan Biscuit yang jumlahnya sangat melimpah ruah. Lengkap dengan buah-buahan, beraneka jus buah, teh dan kopi. Yang menarik, khusus untuk kopi dilayani secara khusus oleh pelayan. Tidak satu cangkir, tapi kita diberi satu teko kopi dan susu untuk seorang.

udine_13

Jalan Menuju Castle

Siang hari aku makan siang di tempat seminar dengan berbagai macam makanan khas Italia yang aneh menurut saya dan tak satupun yang aku ingat namanya. Yang jelas hampir semua rasanya asin dan tidak ada yang namanya nasi ataupun kentang. Tidak ada pula menu-menu seperti restoran Italia di Indonesia seperti Pizza, dkk. Satu-satunya yang mendekati makanan asia adalah, nasi yang dimasak setengah matang dimasukkan dalam botol.

udine_14

Pemandangan dari Atas Castle

Sementara untuk makan malam, kami ditraktir sama panitia makan malam di restoran. Makan malam di hari pertama, kami makan di restoran Pizza bakar. Rupanya pizza bakar ini wujudnya jauh dari pizza yang biasa kita temui di Indonesia. Sebaliknya, pizza bakar ini malah lebih mirip roti nan nya orang Arab.

udine_15

Makan Malam ala Venetian Banquet

Makan malam hari kedua yang paling berkesan yaitu Venetian Banquet di Udine Castle. Kami naik di atas Castle, dan begitu sampai diatas, kami langsung dilayani bagai tamu penting keluarga istana, dari sore hingga tengah malam. Begitu sampai kami langsung disambut dengan gelas kosong. Para pelayan kemudian sibuk menuangkan anggur merah dan anggur putih sebagai pembuka. Dan aku hanya bisa menikmati air putih saja sampai klempoken.

udine_16

Daftar semua menu yang dihidangkan untuk kami

Lalu ada makanan pembuka, berupa irisan melon yang dibungkus dengan irisan tipis daging babi, dan roti kering berbentuk lonjong yang juga dibalut dengan irisan tipis daging babi. Untung ada menu yang ketiga, udang kecil-kecil yang digoreng kering. Alamak, enak, gurih sekali, meskipun agak kasinan sedikit. Saya jadi ingat udang-udang dari kali setail di belakang rumah ku tempoe dulu.

Setelah hari menjadi gelap, kami masuk ke dalam ruangan, mengelilingi meja-meja bundar besar bertaplak putih. Mirip seperti formal dinner di Inggris, ada makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Aku mendapat menu istimewa, yaitu menu vegetarian. Sebagai menu pembuka, aku mendapatkan bubur dengan daun-daun hijau di atasnya. Sementara teman yang lain ada lobster di atasnya. Alamak, kalau lobster mah aku juga mau. Ndelalah, teman sebelahku yang orang singapore itu alergi udang. Berpindahlah lobster-lobster itu di piring ku. Haha, ini mah Vegetarian abal-abal namanaya.

Untuk menu utama, sudah aku duga, seperti sebelum-sebelumnya di tempat lain, menu untuk vegetarian itu bisa dipastikan olahan jamur. Ya bubur, dicampur dengan jamur, yang rasanya tidak enak banget Men. Sementara yang lain terlihat begitu lahap menikmati potongan-potongan daging babi yang besar-besar itu.

Setelah makanan utama, berbotol-botol anggur merah dan anggur putih di drop di masing-masing meja. Mereka minum dan terus minum sambil mengobrol sampai teller. Diiringi musik, yang mirip irama padang pasir. Rupanya musik Italia ini dipengaruhi musik Arab. Sementara diriku, hanya klempoken dengan air putih saja. Tak tahan dengan bau alkohol yang semakin menyengat, aku bersama teman ku yang orang Singapore yang ndelalah meskipun non-muslim tapi juga tidak minum undur diri, tanpa menunggu makanan penutup dihidangkan. Daripada menjadi penonton orang mabuk, rasanya lebih menguntungkan tidur nyenyak di hotel, hehe.

Yah, setiap orang berhak mendefinisikan kebahagianya sendiri-sendiri bukan?

Related Post:

Satu Hari di Kota Venezia

… sekedar catatan perjalanan biasa saja – a random thought

venice_01

Salah satu sudut canal terbesar di kota Venezia, Italia

Huff, apa pun jenjang pendidikanya, tahun terakhir, apalagi bulan-bulan terakhir selalu menjadi waktu yang terberat. Apalagi yang namanya jenjang pendidikan PhD, wuih bikin pusing pala barbie kata salah seorang teman seperjuangan. Perpaduan antara pusing, depresi, jenuh, bosan, tertekan, kekhawatiran dan sedikit harapan. Saya sebenarnya suka menulis apa saja, but I do hate writing my dissertation so badly. Terlalu lebay kedengaranya,  tetapi saya haqul yakin sampean akan mengamininya jika sudah benar-benar mengalaminya sendiri.

Alhamdulilah, di antara hari-hari yang sangat tidak menyenangkan itu,  ndoro dosen ku mengirim ku ke Italia untuk presentasi di sebuah seminar internasional bidang riset ku. Beliau juga menyarankan untuk singgah ke kota Venice (oops yang orang Sunda bacanya jangan kenceng-kenceng), atau Venizia. Konon katanya, kota ini indah sekali. Syukur, bisa menjadi hiburan kecil di antara pahitnya penulisan disertasi yang tak kunjung usai.

Aku sebenarnya, sudah memendam keinginan untuk berkunjung di kota yang konon katanya kota paling romantis di dunia ini. Tapi ku redamkan niat itu dalam-dalam, melihat saldo tabungan yang terus berkurang tanpa ada pemasukan sekali. Maklum jatah kiriman beasiswa yang jumlahnya tak seberapa  dari pemerintah itu sudah habis, sementara masih harus bertahan hidup dengan anak istri untuk beberapa bulan kedepan. Benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang, meski sudah bertahun-tahun aku ndak punya yang namanya dompet dan ikat pinggang. Tetapi, biidznillah,  malah bisa datang di kota ini gratis, dibayari ndoro dosen ku.

Menginap di Bandara Birmingham

Jadwal keberangkatan pesawat ku dari bandara Birmingham, UK ke bandara Marco Polo, Venice, Italy jam 07.15 pagi. Tidak ada bus atau kereta dari Nottingham yang sampai di Birmingham sebelum jam sepagi itu. Kecuali taxi, yang tentu harganya sangat mahal. Meskipun ongkosnya bisa aku reimburse, aku lebih memilih menginap di Bandara Birmingham saja.

Aku naik bus National Express dari coach station Nottingham pukul 19.00 dan baru sampai di coach station Birmingham pukul 22.30. Molor satu jam, dari jadwal karena ada insiden sopirnya nyasar di perkampungan. Hal sangat aneh dan langka terjadi di negara ini, dimana jadwal bus tak kalah tepat waktu dengan jadwal pesawat. Tapi, hal-hal yang tak terduga pun bisa saja terjadi. Manusia tak bisa sepenuhnya mengatur peristiwa kehidupan.

Di coach station Birmingham, mas Iwan, seorang teman satu pesawat dari Jakarta saat pertama kali berangkat ke UK dulu, sudah menunggu ku sejak lama. Kami langsung beranjak dari coach station, mencari warung kopi atau warung ayam goreng. Tetapi rupanya, jam segitu warung makanan sudah pada tutup kecuali Bar. Untungnya, kami masih menemukan warung kebab yang masih buka, tepat di seberang jalan coach station. Kami tidak memesan kebab, tapi memilih nasi briani. Harganya cukup terjangkau, bahkan cukup murah untuk ukuran kota sebesar Birmingham. Nasi briani, kari ayam, dan sebotol pepsi hanya £6.5. Apalagi, ciri khas warung timur tengah, porsinya tiga kali lipat porsi orang Indonesia.

Kami menikmati nasi briani ditambah kripik tempe bikinan istriku sambil ngobrol, curhat lebih tepatnya, tentang penderitaan kami sebagai mahasiswa PhD yang belum juga berkesudahan. Juga cerita teman-teman seperjuangan yang lain. Ada yang sudah berjuang mati-matian empat tahun lebih, eh berakahir dengan kegagalan. Huh, aku tidak suka mendengar cerita-cerita seperti itu seperti itu. Karena hanya membuat hati ku dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran. Kami menyudahi obrolan pukul 23.30, dan masih menyisakan sisa-sia makanan. Maksud hati tak ingin berbuat mubadzir,  tetapi apa daya perut rasanya sudah mau meledak. Alhamdulilah, mas Iwan menraktir ku malam itu. Mas Iwan kembali ke rumah, sementara aku kembali ke coach station menunggu bus yang berangkat ke Bandara Birmingham pukul 23.50.

Aku tiba di bandara pukul 00.10, saat bandara sudah terlihat lengang. Terlihat beberapa backpaker yang tidur-tiduran di ruang tunggu bandara. Masuk bandara terminal keberangkatan, aku langsung menuju tempat khusus wudlu, di lantai satu sebelah counter check in nomer 1 (pesawat Monarch), lalu menuju ke multi-faith prayer room yang terletak di belakang counter chek in nomer 28 (pesawat Ryan Air) sebelah counter over-sized bagage.

Sesuai namanya, prayer room ini sebenarnya untuk semua agama, tetapi sepertinya hanya sering digunakan untuk sholat, termasuk untuk sholat jumat. Di dalamnya, ada banyak sajadah dan Alquran. Setelah sholat jamak, maghrib dan insyak, tilawah sebentar, aku rencana langsung tidur di prayer room itu. Tapi sialan, ada stiker berisi larangan tidur di dalam prayer room. Meskipun aku sendirian, tetap tidak berani tidur. Akhirnya, aku hanya mojok di salah satu sudut ruangan, tas ransel ku kujadikan sandaran duduk, lalu mengambil buku dari tas, dan kubaca sebuah novel anak-anak karya Roald Dahl, penulis buku anak-anak yang legendaris itu.

Entah berapa halaman yang berhasil aku baca, sebelum akhirnya tak sadar aku tertidur, dan baru terbangun saat ada seorang laki-laki, sepertinya petugas bandara, yang hendak sholat Subuh. Aku pun segera beranjak mengambil air wudlu dan kembali ke prayer room untuk sholat Subuh. Alhamdulilah, setelah sholat subuh dan tilawah, badan rasanya sudah segar sekali, meskipun hanya tertidur beberapa jam dalam posisi duduk. Berhasil sudah, acara tidur di bandara ketiga ku kali ini. Sebelumnya, aku pernah tidur di bandara LCCT Kuala lumpur Malaysia dan bandara Abu Dhabi.

Karena sudah chek in online, saya langsung menuju terminal keberangkatan. Sempat ada sedikit hambatan di tempat pemeriksaan x-ray. Di ransel ku ditemukan benda mencurigakan. Aku pun disuruh mengeluarkan semua isi ransel. Benda yang dicurgai itu ternyata hanyalah lontong bikinan istri ku. Aku meyakinkan kalau benda bulat-bulat putih itu hanyalah nasi yang direbus di dalam kantong plastik.

Ketika mau masuk pesawat pun, aku pun sempat tertahan cukup lama. Entah apa alasanya, petugas yang ngecek paspor itu, membawa paspor ku ngacir entah kemana cukup lama. Sepertinya dibawa ke manajernya. Sebelum akhirnya petugas itu kembali lagi dan mempersilahkan ku menuju lorong masuk ke dalam pesawat. Jangan-jangan, Ahmad, nama ku, termasuk nama yang dicurigai sebagai teroris.

Kota Venezia yang Tak Seindah Dalam Foto

venice_02

Pemandangan Di Awal Masuk Kota Venice

Pemandangan Italia dan sekitarnya dari udara sungguh menakjubkan. Deretan pegunungan Alpen dengan puncak-puncaknya yang putih tertutup salaju,  terlihat sangat cantik dari udara. Demikian juga pantai sekitar kota venice, dari udara subhanallah juga terlihat begitu mengagumkan. Bandara Marco Polo sendiri, terletak di pinggir pantai, seperti bandara Ngurah Rai, Bali.

venice_03

Pemandangan dari Jembatan depan stasiun kereta St. Lucia Venice

Pesawat mendarat tepat sesuai jadwal. Perjalanan dari bandara Birmingham ke bandara Marco Polo, Venice hanya sekitar 2.5 jam. Ohya, ada perbedaan waktu satu jam antara di Inggris dan Italia, dimana waktu di Italia, satu jam lebih cepat dari waktu di Inggris. Bandara Marco Polo ini bandara kecil nan sederhana, turun dari pesawat harus naik shuttle bus untuk masuk ke dalam bandara. Dari shuttle bus inilah, aku pertama kali melihat kata Uscita, yang dulu sempat dipopulerkan di Indonesia oleh Princess Syahrini. Yang artinya pintu keluar dan Uscite yang artinya Gate.

venice_11

Gondola menyusuri kanal

Kondisi dalam bandara Marco Polo biasa-biasa saja. Tak semegah yang aku bayangkan. Ada pembangunan disana-sini, membuat bandara kecil ini kesanya semrawut. Urusan imigrasi lancar jaya. Semua sign board dwi bahasa: bahasa Italia dan Inggris, sehingga tidak membuat bingung. Aku langsung keluar dari bandara, menuju halte bus ATVO jurusan Marco Polo Airport – Venezia Piazzale Roma, yang tiketnya sudah saya beli online disini. Sejenak terasa linglung, karena semua orang berbahasa Italia, termasuk sopir dan kondektur yang memeriksa tiket ku.

venice_10

Gondola dengan air laut yang biru kehijau-hijauan

Perjalanan naik bus dari bandara ke Venezia Piazzale Roma yang merupakan pintu gerbang masuk kota air Venice hanya sekitar 20 menit. Sekilas, jalan raya di Italia ini jauh lebih sempit dibanding jalan raya di Inggris yang lebar-lebar dan mulus. Antara Venice daratan dan Venice kepulauan atau kota air ini dihubungkan oleh jembatan Ponte della Libertà atau Liberty Bridge sepanjang 3.8 km, yang juga dilalui rel kereta api. Di jembatan ini, tersedia jalur khusus sepeda dan pejalan kaki.

venice_04

Bangunan usang di kota Air Venice

Di kota Venice kepulauan inilah kota yang kaya dengan catatan sejarah masa lalunya yang panjang, yang banyak dipuja-puji keindahanya, yang dijuluki kota paling romantis didunia itu berada. Turun dari bus, menginjakkan kaki di kota impian banyak orang ini kesan ku adalah puanas. Kontras dengan cuaca di Inggris yang hari-harinya didominasi suasana mendung, di kota ini cuacanya sangat cerah. Matahari begitu mentereng di tengah-tengah langit luas yang membiru sempurna tanpa seonggok gumpalan awan pun.

venice_05

Clock Tower yang sudah renta

Ramai sekali jumlah pengunjung yang memadati kota ini. Entah dari belahan bumi mana saja mereka berduyun-duyun di kota salah satu syurga dunia ini. Padahal sebenarnya, kota ini tidak indah-indah amat. Memang kalau difoto terlihat sangat cantik. Tapi aslinya didominasi bangunan-bangunan tua yang sudah usang. Terus yang katanya suasananya paling romantis, aku juga gagal paham, romantisnya dimana? Apakah pemandangan gondola-gondola itu? ataukah karena banyak yang ciuman di pinggir jalan. Padahal kota yang penuh sesak dengan bangunan-bangunan tua yang tinggi-tinggi yang sudah usang dan nyaris tanpa ada tetumbuhan, ditambah cuaca musim panas yang terik, menurut ku malah membuat kota ini tidak begitu nyaman untuk dinikmati.

venice_09

Sudut Lain kota Venice

Tapi mungkin itu hanya perasaan ku saja, yang sudah hampir tahun di Eropa dan masih pusing dengan disertasi yang ndak kelar-kelar. Lain cerita, jika yang sohibul hikayat adalah orang yang pertama kali jalan-jalan ke luar negeri dan memang sedang niat sepenuh hati untuk menikmati hidup.

venice_06

Piazza San Marco

Dari halte bus, aku menyeberangi jembatan menuju stasiun kereta api Venizia St Luzia yang menyatu dengan pusat perbelanjaan tidak jauh dari halte bus. Dari stasiun kereta menyebrang jembatan lagi, ke pulau lain, menyeberangi jembatan lagi, ke pulau baru lagi, entah tak terhitung jumlahnya. Venice kota di atas air ini adalah kepulauan yang terdiri dari 177 pulau kecil-kecil yang dipisahkan oleh 177 kanal dan dihubungkan oleh 409 kanal.

venice_07

Sudut lain Piazza San Marco

Setiap pulau penuh sesak dengan gedung-gedung tua yang usang, di dalam pulau hanya ada jalanan sempit yang hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Banyak bangunan bersejarah di pulau-pulau ini. Jika malas berjalan kaki, sampean bisa naik gondola yang menyusuri kanal-kanal sempit itu. Tapi harganya mahal sekali, paling murah 80 euro hanya untuk 40 menit.

venice_08

Arsitektur unik di Piazza San Marco

Aku hanya menyusuri jalan-jalan sempit itu, menyebrangi banyak jembatan sekuat tenaga. Hanya berbekal peta usang yang aku print out dari sini, aku coba datangi tempat-tempat paling penting di kota ini. Peta usang itu lumayan membantu, tapi tetap saja lebih seru kalau tersesat di kota air ini.

Selain bantuan peta yang tidak bisa sepenuhnya diandalkan itu, algoritma heuristik koloni semut tetap paling jitu. Ikuti saja, jalan yang banyak dilalui orang, disitu most likely akan membawa sampean ke tempat-tempat yang paling banyak dikunjungi wisatawan, alias tempat paling wajib dikunjungi dari kota ini.

venice_12

Rialto Bridge, Venice

Tidak menyangka, aku yang hanya berjalan sendirian tidak ada temanya, berhasil sampai pada semua tempat yang paling direkomendasikan untuk dikunjungi. Lega rasanya. Diantara tempat-tempat di Venice, tempat yang wajib dikunjungi nomor wahid adalah Piazza San Marco. Ini adalah tempat paling bagus menurut ku di kota Venice.  Di tempat ini paling banyak orang berkumpul, paling banyak juga terdapat museum dan bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitekturnya yang khas. Sayang aku tak memiliki banyak waktu untuk menyusuri wisata sejarah di kota ini.

Ohya di antara jalanan sempit itu, biasanya dekat gereja, banyak terdapat banyak pengemis. Hampir semua pengemis ini perempuan berjilbab dengan membawa tasbih. Mirip para pengemis di makam-makam wali songo di Pulau Jawa. Awalnya, aku pikir mereka ini pasti muslim. Tapi ternyata, di gelas-gelas tempat menampung uang recehan itu terdapat foto-foto bunda maria yang membuat aku ragu apakah mereka itu muslim atau bukan.

Setelah berjam-jam menyusuri jalan dan jembatan sempit di tengah matahari yang sangat terik itu, aku gobyos kehausan. Untungnya, di samping salah satu jembatan ada yang jualan es serut dengan jus jeruk. Satu gelas kecil harganya 2 Euro. Masya Allah, rasanya nikmat sekali. Sudah lama sekali rasanya tidak merasakan nikmatnya es serut. Seperti di padang pasir lalu menemukan oase. Nikmatnya buka puasa di musim panas yang 20 jam lebih saja tidak ada apa-apanya.

Untuk ngadem aku akhirnya memutuskan masuk ke salah gereja katedral dari banyak sekali gereja di kota ini. Altar gereja yang begitu luas dan banyak bangku kosong di dalamnya, membuat nyaman dan adem untuk istirahat. Maklum di kota ini nyaris tidak ada bangku untuk tempat duduk-duduk dengan hamparan rerumputan yang menghijau dan bunga-bunga yang cantik. Jadi rasanya, menyusuri kota ini capek sekali rasanya.

Di dalam gereja, aku memotret beberapa sudut interior ruangan yang megah dan artistik itu. Konon pada zamanya, gereja-gereja ini pernah menjadi tempat sangat penting. Mendapat jatah anggaran dari negara, bahkan banyak orang menyerahkan hartanya begitu saja untuk gereja for the sake of God. Maklumlah, jika interior gereja-gereja ini begitu megah dan indah. Tapi sayang, bangunan megah itu kini tak ubahnya sebuah museum saja. Aku kadang berfikir, akankah masjid-masjid megah tapi sepi jamaah bernasib sama dengan gereja-gereja ini?

Setelah bosan dengan pesona kota Venezia yang ternyata seperti itu saja, aku kembali ke depan stasiun St Luzia. Hanya duduk-duduk berjam-jam di pelataran halaman berundak di depan stasiun yang sangat luas, dengan pemandangan Grand Canal. Sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di tepi sungai. Rasanya memperhatikan bentuk dan rupa makhluk Gusti Allah yang nyaris sempurna keindahanya itu lebih mengasyikkan daripada memperhatikan bangunan-bangunan tua usang yang hanya membisu itu. Benar kata orang, bule Italia itu secara fisik paling keren dibanding bule Eropa lainya. Subhanallah waastaghfirullahal adziim. 

Aku duduk di pelataran depan stasiun itu, hanya berdiskusi dengan diriku sendiri dalam alam pikiran ku sendiri, hingga waktu merapat pukul 19.31 saat kereta yang akan membawa ku ke stasiun Venizia Mestre tiba. Untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke kota Udine.  Selamat tinggal Venizia, rasanya cukup sekali saja datang ke kota mu ini. Sepertinya lebih banyak tempat di negeri ku yang lebih cantik dan menarik dari kota mu ini, meskipun tentu saja tak seterkenal dirimu.

Related Post

Senja di Trafalgar Square

… sekedar cerita perjalanan biasa saja – a random thouhgt

 

trafalgal_square

Ilustrasi: Salah Satu Sudut Trafalgar Square

Setelah jenuh berdiskusi dengan pikiranku sendiri di pinggir sungai Thames, aku pun beranjak pergi. Menyusuri sudut lain kota London yang sudah pernah beberapa kali aku kunjungi, namanya Trafalgar Square.

Buat ku, tempat ini tak ubahnya sebuah alun-alun kota. Tempat dimana banyak orang berkumpul, sekedar untuk bersantai atau sekedar untuk bersenang-senang. Tidak seperti saat pertama berada di tempat ini, sore itu Trafalgar Square nampak biasa-biasa saja.

Kerumunan orang, yang kebanyakan turis memadati setiap sudut alun-alun. Sekedar duduk-duduk sambil melihat air mancur, patung, dan kawanan burung merpati. Atau sekedar foto-foto dengan latar belakang beberapa bangunan berasitektur gothic, khas bangunan romawi. Di salah satu sisi, alun-alun berdiri sebuah bangunan megah The National Gallery, tempat pameran lukisan.

Aku berjalan menyusuri alun-alun, berada di antara kerumunan orang-orang. Sekedar ingin ketularan aura kebahagian yang terpancar oleh wajah-wajah para pengunjung tempat ini. Lalu, ikutan duduk-duduk diantara mereka di salah satu sisi alun-alun di depan The National Gallery yang berundak-undak itu. Menjadi penonton kerumunan orang-orang, berdiskusi dengan isi kepala sendiri.

Lama-lama tidak betah juga, rupanya menjadi solo traveller begitu menyiksa bagi ku. Tidak ada teman diskusi, selain dengan pikiran sendiri. Aku pun beranjak ke arah pintu masuk The National Gallery, melihat orang mengantre untuk masuk satu persatu. Aku duduk di bibir taman di depan gallery, tepat disamping beberapa orang yang dari pakainya seperti gelandangan. Mereka tidur-tiduran disitu.

Hati kecil ku berbisik: yah, bule kok jadi gelandangan, padahal ini bule kalau di Indonesia, tinggal dimandiin saja kasih parfum dikit sudah bisa jadi artis. Kota besar selalu menyimpan ironi. Di antara gedung-gedung megah, diantara orang-orang yang bergaya hidup wah, masih menyisakan orang-orang yang terpinggirkan, seperti gelandangan dan pengemis ini. Bahkan di negara maju yang konon kesejahteraan sosial setiap warganya sungguh-sungguh serius diperhatikan oleh negara.

Capek duduk, aku pun ikutan antri masuk gallery. Meskipun aku sudah tahu isi di dalamnya, tapi rasanya lebih menguntungkan daripada duduk-duduk tidak jelas disamping gelandangan itu. Ada pemeriksaan ketak dipintu masuk. Setiap tas harus dibuka, untuk diperiksa isinya. Kalau-kalau ada pengunjung yang membawa bom.

Di dalam gallery bertingkat itu, aku menyusuri ruang demi ruang. Lantai demi lantai. Pura-pura menikmati keindahan lukisan yang berukuran besar-besar itu. Tapi, sungguh aku tidak pernah paham, bagaimana menikmati keindahan sebuah lukisan. Apalagi, hampir semua lukisan itu bercerita tentang kerajaan Tuhan. Dan banyak diantaranya adalah lukisan-lukisan manusia nyaris telanjang. Perempuan-perempuan dengan dua payudaranya yang indah menonjol, terpampang tanpa sehelai kain menutupi. Mungkin pada jaman itu, yang namanya BH belum ditemukan. Dan perempuan-perempuan pada jaman itu terbiasa bertelanjang dada, seperti gadis-gadis bali tempo dulu.

Tak sampai satu jam, aku pun keluar dari gallery. Mondar-mandir di halaman depan gallery yang ramai dengan orang-orang yang mengerumuni beberapa seniman jalanan. Ada yang berdandan ala patung badut, yang seolah-olah terlihat duduk mematung  di atas angin tanpa bergerak. Beberapa pengunjung tertarik berfoto bersama. Jepret! lalu melempar uang recehan di mangkok kecil di depan patung badut. Si patung badut membalas dengan seulas senyum.

Ada juga seniman lukis yang melukis bendera negara-negara peserta olimpiade 2016 di Brasil dengan kapur berwarna di lantai halaman gallery. Orang-orang berkerumun, mencari bendera negaranya masing-masing, lalu melempar uang recehan di atas lukisan bendera itu. Aku menunggu ada orang yang melempar recehan di atas bendera Indonesia, tapi sampai lebih sepuluh menit berlalu, tak seorang pun melakukanya. Emosi ku pun tak terpancing untuk melempar recehan di atas lukisan merah putih. Di sebelah pelukis bendera, ada pelukis kapur juga yang sedang melukis perempuan seksi yang memamerkan bongkahan payudaranya.

Di samping seniman lukis, ada seniman teater yang juga ramai dikerumuni orang.  Di tengah kerumunan orang-orang itu, seorang seniman terlihat memperagakan gerakan-gerakan akrobatik yang terlihat sangat mengerikan dan berbahaya jika dilakukan oleh orang-orang biasa. Penonton bersorak sorai tepuk tangan, setiap sang seniman berhasil unjuk kebolehan.

Terakhir, di paling ujung halaman depan gallery, ada seniman musik. Hanya ada dua orang anak muda. Yang satu sebagai drummer, satunya lagi sebagai gitaris merangkap vocalis. Menembangkan lagu-lagu yang sedang ngehits di pasaran. Suaranya bagus. Di antara para seniman jalanan ini, hanya seniman musik ini yang bisa saya nikmati.

Capek berdiri, aku segera menuju stasiun tube, kereta api cepat bawah tanah, terdekat di salah satu sudut Trafalgal Square. Kuhabiskan sisa waktu ku hari itu, di dalam tube yang mengelilingi kota London. Sambil duduk istirahat, membaca buku di dalam tube, aku memperhatikan kesibukan luar biasa para Londoner, saat pulang kerja hingga senja datang.

Buatku, memperhatikan tingkah polah orang-orang itu sangat mengasyikkan. Berjam-jam aku berada di bawah tanah kota London, di dalam perut cacing besi yang berlari super duper cepat, memecah kesunyian perut bumi di kota London. Hingga beberapa booklet tentang sejarah panjang pembangunan jaringan tube yang begitu rumit dan komplek, yang tidak saja mengaplikasikan sains dan ilmu rekayasa, tapi juga memadukanya dengan seni itu selesai aku baca. Menyisakan sebuah tanda tanya: jika di kota London, jaringan rel bawah tanah ini sudah mulai dibangun sejak tahun 1843, sementara di Jakarta baru mulai dibangun tahun 2016 ini; berapa jauh sudah negara ku tertinggal oleh negara ini? Tuhan, ajari kami cara mengejarnya!