Hidup di UK

Kang Hakim Yang Atheis

… kadang antara kebenaran dan keyakinan terlalu susah untuk dibedakan – a random thought

startford_17

Ilustrasi (yang tidak nyambung)

Kamis, pukul empat sore, aku setengah berlari turun dari kantor PhD ku, di lantai 3 gedung School of Computer Science menuju lantai 2 gedung Amenities Building yang berjarak hanya sekitar 5 menit jalan kaki. Jam segitu, di musim dingin hari sudah maghrib. Meskipun sedang berpuasa, aku biasanya sholat jamaah maghrib dulu di muslim prayer room, baru kemudian berbuka puasa di graduate centre room yang terletak di lantai yang sama.

Tetapi, hari itu rasa lapar ku rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Lapar tingkat kabupaten saudara-saudara. Gara-gara kalau musim dingin gini malas sekali makan sahur.

Aku langsung menuju graduate centre room, mengeluarkan lunch box dari tas dan memasukkan dalam microwave. Sambil menunggu bekal buka puasa ku menghangat, aku membuat secangkir teh manis hangat yang bahan-bahanya disediakan gratis di ruang itu.

Seorang lelaki muda, yang kurang lebih perawakan dan wajahnya mirip pengamen jalanan seperti foto di atas, dengan sangat agresif, sok kenal sok dekat, melempar seulas senyum kepada ku, dan memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan.

Hello, hai kamu. Kamu pasti muslim ya. Kamu pasti dari Indonesia, kan? Kamu tinggal di kota mana di Indonesia.

Begitu kira-kira sebagian pertanyaan yang aku ingat. Dalam alam batinku, aku bertanya-tanya. Nih orang asing kok tahu ya kalau aku muslim, rasanya tidak ada satu pun simbol agama yang aku pakai. Tebakan ini wajar andaikan saja aku perempuan dan memakai jilbab. Terus, kok dia bisa menebak aku langsung dari Indonesia. Rasanya baru kali ini, ada orang asing yang tebakan pertamanya benar 100%. Biasanya, paling banter mengira aku orang Malaysia.

Setelah micorowave berhenti berputar, aku membawa kotak makanan dan secangkir teh hangat di salah satu meja bundar di ruang itu. Menyeruput british tea dari skotlandia yang harum dan ginastel (baca: legi-manis, panas dan kentel) itu. Lalu, sesuap demi sesuap kunikmati nasi dengan ikan tempe bikinan emaknya anak-anak itu.

Eh, tanpa permisi, Si Mas yang sok akrab tadi, ikut duduk semeja dengan ku. Sambil lahap menikmati roti isi babi panggang, Si Mas kembali memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan kembali.

kamu sehari sholat berapa kali? sekali sholat berapa lama? memang apa yang kamu dapatkan dari sholat? ngapain sih kamu masih percaya sama agama? bukankah agama hanya menjadikan perpecahan, konflik, perang tak berkesudahan saja? Mau saja kamu dibodohi,  agama sengaja diciptakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan?

Begitu kira-kira, beberapa pertanyaan yang Si Mas  ajukan dengan agresif kepada ku. Rupanya Si Mas ini seorang atheis fundamental. Yang sangat gemes jika melihat masih ada orang yang taat beragama seperti diriku. Dia pun bercerita panjang lebar tentang perjalanan spiritualnya. Sebelum menjadi atheis fundamental, Si Mas mengaku pernah percaya adanya Tuhan, walaupun tidak menganut agama tertentu, scientology namanya kalau aku tidak salah. Kini Si Mas benar-benar tidak percaya adanya Tuhan dan dia berusaha meyakinkan ku bahwa keputusanya benar.

Memang kamu percaya ada kehidupan setelah mati? Memang ada orang mati yang datang hidup kembali?

Begitu dia meyakinkanku bahwa hidup itu ya di dunia saja yang harus kita nikmati. Dia seolah-olah kasihan kepada ku. Hidup di dunia sekali saja, kok tidak dinikmati untuk bersenang-senang saja.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, aku mah kalem-kalem saja. Sama sekali tidak emosional. Malah, aku sangat menikmati obrolan itu. Kutanggapi setiap pertanyaan itu dengan santai dan senyum-senyum saja. Aku hanya menegaskan, kalau aku justru menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup sejati dengan menjalani agama itu, tidak merasa terbebani sama sekali. Malah rasanya, aku tidak bisa hidup tanpa bimbingan agama. Aku juga tidak setuju kalau agama dituduh penyebab konflik, itu penganut agamanya saja yang salah dalam memahami agamanya.

Aku tercenung saat si Mas bilang:

apa ketenangan jiwa? kamu fikir dengan atheis tidak bisa menemukan ketenangan jiwa? Gampang saja, jika aku ingin mendapatkan ketenangan jiwa, aku tinggal ngajak my girl friend to have sex. As simple as that.

Haha koplak. Pada akhirnya, kita tidak berhasil sedikit pun mempengaruhi satu sama lain. Kita tetep kekeuh pada pendirian masing-masing. Tetapi setidaknya we have better understanding satu sama lain. Siapa yang benar siapa yang salah? Sayang diantara kita belum pernah ada yang merasakan kematian. Untuk membuktikan ada tidaknya kehidupan sesudah kematian. Kalaupun, ternyata tidak ada, aku pun sama sekali tidak akan pernah menyesal, karena justru agama bagiku adalah jalan cinta yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna.

Apalah artinya kehidupan bila hanya untuk bersenang-senang saja? Toh kenikmatan dunia ya begitu-begitu saja. Hanya sekejap saja. Keyakinan akan kebenaran agama yang aku yakini pun tak menghalangi untuk toleran terhadap orang yang berkeyakinan akan kebenaran yang berbeda. Sebaliknya, semakin aku yakin, semakin aku mudah untuk toleran.

Tak terasa hampir, satu setengah jam kami bercengkrama. Sampai-sampai aku lupa belum sholat Maghrib, padahal waktu hampir saja masuk waktu Isyak. Di akhir perbincangan, kami baru berkenalan. Namanya Kang Hakim dari Azerbaijan katanya. Sejak saat itu, kami jadi akrab. Dia selalu tersenyum ramah dan menyapa ku setiap kali bertemu. Semoga Tuhan memberi mu hidaya Kang Hakim!

Advertisements

Hari-hari yang Mendefinisikan

… kadang kita hanya perlu bersabar, menuggu peristiwa kehidupan terjadi di saat yang paling tepat – a random thought

img_20161130_171350

Anak Lanang dan Anak Wedok

Sudah terlalu lama rasanya tidak menceritakan alam pikiran dan suasana hati dalam tulisan. Bukan sedang dalam kedukaan yang dalam. Hehe, alhamdulilah, wasyukurillah justru banyak peristiwa kehidupan belakangan yang layak untuk disyukuri, walau mungkin tak perlu dirayakan, apalagi secara berlebihan.

Daripada menulis keluhan, lewat tulisan saya kali ini, saya sekedar ingin tahaddus binni’mah menceritakan kenikamatan, anugerah kehidupan yang telah diberikan kepada saya. Indeed, beberapa belakangan ini ada hari-hari penting, hari-hari yang begitu mendefinisikan, yang pastinya tidak akan mudah terlupakan begitu saja di kemudian hari.

19-11-2016

Sabtu pagi hari yang dingin, pukul 10.22, di sebuah bilik rumah sakit Queen Medical Centre, rumah sakit sekolah kedokteran, Universitas Nottingham, telah lahir anak kedua kami. Seorang bayi perempuan yang begitu ayu wajahnya. What a lovely baby girl. Lewat persalinan normal yang alhamdulilah sangat lancar.

Bayi perempuan itu, saya beri nama Alisa Fadilahaya Wulandari. Kupilih nama Alisa untuk mengenang Bidan Alice, bidan cantik jelita, yang aduhai teramat baik sekali hatinya. Yang sepenuh jiwa mengawasi si jabang bayi dari umur beberapa bulan di dalam kandungan. Fadilahaya dari bahasa Arab artinya keutamaan kehidupan, dan wulandari itu bahasa Jawa yang artinya bulan purnama. Sengaja kuselipkan nama jawa biar selalu ingat, asal usulnya leluhurnya sebagai perempuan Jawa. Sebenarnya juga, nama ini sebenarnya nama gabungan dari putri-putri Gus Dur dan Cak Nun. Dua tokoh yang banyak mendefinisikan alam pikiran saya saat ini.

Sejak kehadiran nya, Masya Allah, getar-getar kebahagian melimpah ruah memenuhi rongga jiwa. Ku sangat senang memandangi dalam-dalam ayu wajahnya. Menatap binar matanya. Menggendongnya, menciumi aroma wangi khas tubuhnya. Rasanya semangat hidup ku bertambah berkali-kali lipat.

Thank God! Bimbing kami, semoga kami bisa menjaga dan mendidik titipan Mu ini dengan sebaik-baiknya.

12-12-2016

Hari Senin, tanggal 12 bulan 12 tahun 2016. Tanggal yang cantik. Bertepatan dengan 12 Robiul Awal 1437 H. Hari ulang tahun kanjeng nabi Muhammad SAW. Yang dulu kelahiran beliau juga tercatat pas hari Senin. Lebih tepatnya lagi, menurut penanggalan Jawa, 1212, ini adalah Senin legi. Neton ku, hari kelahiran saya, kata emak ku.

Alhamdulilah, di tanggal ini, akhirnya aku lulus ujian disertasi doktor ku. Tentu tidak semudah membalik halaman kertas ujianya, tetapi overall lancar sekali. Aku percaya ini karena barokah doa-doa teman-teman dan orang-orang yang turut mendoakan ku. Banyak pertanyaan berat, kritikan-kritikan pedas terhadap disertasi ku, tapi rasanya aku cukup puas bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pengujiku itu dan mereka pun kelihatanya cukup puas dengan jawabanku.

Sempat ngeri dan jengah di awal ujian, karena setiap paragrap yang aku tulis mulai dari bab pendahuluan mengundang banyak kritikan dan pertanyaan dari penguji. 2.5 jam berlalu baru selesai 5 bab dari 10 bab disertasiku. Aku pun minta istirahat sebentar, 15 menit untuk wudlu dan sholat Duhur. Alhamdulilah, setelah sholat duhur, ujian sisa 5 bab sangat lancar seperti air yang mengalir. Tidak banyak lagi pertanyaan. Dan akhirnya, kurang dari 1 jam ujian pun berakhir. Aku disuruh keluar sebentar. Aku gunakan untuk sholat ashar, baru dapat dua rakaat, penguji disertasi ku datang menemuiku. Terpaksa aku batalkan sholat ku.

Aku masuk kembali ke ruang ujian, untuk mendengar hasil ujian. Dag dig dug der, mau copot rasanya jantung ku. Takut kalau-kalau failed atau dapat major correction. Mimpi buruk setiap mahasiswa PhD. Alhamdulilah, kedua penguji ku bilang: Great Job, Well Done! aku dinyatakan lulus PhD dengan minor correction. Hati ku girang bukan kepalang. Aku langsung berlari ke ruang ndoro dosen pembimbingku, yang kebetulan pintunya sedang terbuka sedikit. Ku ceritakan bahwa aku lulus. Ndoro dosen pun mengucapkan Congratulation, sambil mengacungkan dua jari jempolnya kepada ku. Aku sekedar mengucapkan terima kasih.

Segera aku kembali ke office ku, menggelar sajadah, melanjutkan sholat ashar yang sempat terputus. Usai sholat ashar langsung ku telpon emak ku di kampung. Mengucapkan terima kasih atas doa-doa yang telah lama dan selalu beliau panjatkan untuk ku. Selepas itu, aku segera keluar gedung kuliah ku. Berjalan setengah berlari dibawah hujan gerimis sore yang tak ku hiraukan, sambil menggenggam erat binder jumbo berwarna merah. Kembali ke rumah ku. Kubawa kabar bahagia untuk istri, Alisa, dan Ilyas. Sungguh, sore itu adalah sore dengan hujan gerimis terindah dalam hidupku.

Alhamdulilah Ya Allah. Ketakutan-ketakutan ku selama ini hilang sudah. Perjalanan perjuangan panjang PhD life penuh luka dan liku, selama 4 tahun penuh di kampus ini terbayar sudah rasanya. Tidak ada prestasi yang membanggakan sebernanya dari perjalanan PhD ku ini sebenarnya. Jangan tanya kualitasi disertasi ku seperti apa. Tetapi setidaknya, kelak aku bisa bercerita ke anak cucuku, aku tidak pernah berhenti untuk menyerah seberat apa pun tantangan dan seperih apa pun luka dari perjuangan ini.

Dan pada akhirnya, aku pun bisa meraihnya. Akan segera kutinggalkan Sekolah Ilmu Komputer Universitas Nottingham ini dengan akhir yang baik, husnul khatimah! Terima kasih teman-teman atas doa-doa dan supportnya. Khususon buat Mas Udin, yang dengan tulus hati menemani ku berjalan dari rumah hingga masuk ruang ujian, menemani ku latihan sebentar sebelum penguji datang, dan menungguiku di luar ruang ujian selama aku ujian. Jazakallah mas!

Buat teman-teman yang masih sedang berjuang ! Sabar, sabar, dan sabar saja pesan ku! Terus berjalan, jangan mudah mutung di tengah jalan, seberat apa pun cobaanya! Bittaufiq wannajah, kawan!

Alhamdulilah ya Allah! Bimbing diriku, dengan sedikit tambahan ilmu yang kau titipkan kepada ku, bisa manfaat dan barokah untuk kebaikan.

 

 

Hingga Senja di Kota Leed

… kota ini adalah tempat sempurna untuk melihat dimana nuansa klasik dan modern kawin secara menakjubkan – catatan perjalanan biasa

leed_18

Salah Satu Arsitektur Bangunan Futuristik di Kota Leed, Inggris

Ini sekedar catatan perjalanan yang telah lalu, perjalanan yang biasa-biasa saja. Daripada terlupakan begitu saja, bukankah lebih baik dicatat saja. Siapa tahu, catatan ini menemukan pembacanya sendiri. Ya, betul kamu!

leed_1

Bangunan Kantor Pos

Ini perjalanan yang tidak direncanakan sama sekali. Hanya semata-mata, karena ada promo tiket super murah, dari perusahaan bus National Express, hanya seharga £2, Nottingham-Leed PP. Sayang, jika tidak dimanfaatkan. Itu harga iket sekali jalan dari rumah ke city centre saja, dengan promo ini, utility function nya ter extended untuk perjalanan keluar kota, sejauh 2.5 jam perjalanan.

leed_2

Sepeda Ontel

Begitu sampai di kota ini, alam pikiran ku langsung teringat sebuah maqolah yang sering diulang-ulang oleh para kyai di pesantren dulu. Sebuah filosofi yang dipegangteguh pesantren dalam menghadapi gelombang perubahan jaman yang begitu menderu.

Al-muhafadzatu ‘alal qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

leed_3

Shop, Cafe, Gallery, and Library

Yah, di kota Leed inilah, nuansa klasik dan modern bisa kawin, berdiri sejajar, saling menguatkan, saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Sebuah pasar tradisional, dengan nuansa klasik yang menyejarah beratusan tahun yang ada tukang sol sepatu di dalamnya, i.e. Kirkgate Market, begitu mereka menyebutnya, masih lestari, berjajar dengan mall-mall bergedung megah dengan arsitektur futuristic tempat jualan barang-barang branded milik korporasi multi-national dalam sistem ekonomi kapitalis.

leed_4

Leed City Museum

Pun demikian, gedung-gedung yang menjubeli kota. Gedung-gedung berarsitektur klasik nan gothic, berusia ratusan tahun, berjejeran dengan gedung-gedung modern futuristic. Kota ini membawa suasana hati ke tempo dulu, kekinian, dan masa depan sekaligus.

leed_5

Bnagunan Klasik di Kota Leed

Aku jalan sendirian menyusuri kota ini. Tanpa survey, apalagi menyiapkan itenary sebelumnya. Hanya menuruti krentek hati, kubawa langkah kaki ini menyusuri jalan. Dengan bantuan penunjuk arah di sudut-sudut jalan.

leed_6

Gedung Klasik Berdampingan Dengan Gedung Modern

Pertama, aku menyusuri pusat kota, dari coach station, train station, sudut-sudut jalan di tengah-tengah kota, menyinggahi bangunan-bangunan yang nampak menarik, blusukan ke dalam kampus Universitas Leed, dan kembali lagi ke coach station, saat senja datang, memanggil untuk segera pulang kembali ke kota Nottingham. Aku selalu merasa jatuh cinta untuk merasai nuansa khas yang ditawarkan setiap kota. Termasuk kota Leed ini.

leed_7

Arsitektur Bangunan yang Futuristik

Salah satu tempat yang cukup lama saya singgahi adalah Leed City Museum. Setiap mengunjungi kota, museum adalah tempat yang wajib aku kunjungi. Dari museum inilah, aku bisa melihat apa yang kulihat lebih well-rounded dan komperehensif. Tidak ahistoris. Setiap kelaur dari museum, muncul kesadaran yang mendalam bahwa, apa yang kulihat saat ini, saling terkait dan berkelindan dengan sejarah panjang di masa lampau, pun demikian dengan masa depan.

leed_8

Universitas Leed

Ada satu hal yang unik menurut ku. Hampir dipastikan di setiap kota di Inggris, sekecil apapun kota itu, disitu ada museum. Dan disetiap museum itu bisa dipastikan menyimpan mumi asli dari Mesir. Dalam hati aku mbatin,  berapa banyak mumi yang telah dicuri Inggris dari mesir?

leed_10

Gedung Di Dalam Kampus Universitas Leed

Selain museum, aku juga cukup lama blusukan ke gedung-gedung Universitas Leed. Entahlah, aku sangat senang melihat suasana akademik seperti ini. Melihat, gedung-gedung laboratorium yang gagah, mahasiswa-mahasiswi yang sibuk berlalu lalang, perpustakaan yang megah, dan suasana kampus yang adem, seolah-seolah membawa alam pikiranku ke masa depan. Di kampus-kampus inilah, masa depan peradaban manusia sedang dibentuk.

leed_11

Salah Satu Gedung Kuliah di Universitas Leed

Aku duduk-duduk di salah satu bangku kosong yang cukup banyak tersedia di dalam kampus. Sambil mataku menyapu setiap sudut, memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Banyak terlihat mahasiswa dari Malaysia, tapi sayang aku belum menemukan mahasiswa Indonesia yang kebetulan lewat di depan ku.

dsc_0643

Salah satu sudut kota

Dari blusukan kampus, aku kembali menyusuri jalan-jalan pedistrian menuju tengah-tengah kota kembali. Merasakan suasana kota saat menjelang senja. Para mahasiswa terlihat menuju kembali ke rumahnya masing-masing. Suasana senja kota pun ramai orang-orang menikmati hidup, menghabiskan sisa-sisa hari.

leed_15

Sudut Kota Leed

Saat matahari tenggelam, menjemput malam aku kembali ke kota ku, Nottingham. Kota ini mengajarkan kepada ku dalam memahami pembangunan. Bahwa pembangunan itu tidak mesti memberangus yang lalu.

leed_14

Landmark Universitas Leed, Inggris

Bisa jadi yang kita anggap kemajuan, jangan-jangan malah kemunduran. Masa lalu dan masa depan, mestinya menjadi dialektika abadi, untuk membangun yang ada saat ini. Tepat, seperti kearifan para kyai pesantren itu.

Sampai jumpa di catatan perjalanku selanjutnya!

Kapan Kita Ngopi Bareng Lagi?

… pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi – a random thought

20160825_074035

Ilustrasi : Secangkir Kopi

Duh Gusti!, waktu sudah bergulir hampir di penghujung tahun saja. November, sebentar lagi Desember dan berganti dengan tahun baru kembali, ada apa? Argh, biarlah, kehidupan senantiasa berdenyut dengan segenap simpanan rahasia-rahasianya. Tak perlu mengira-ngira, tak perlu menganalisa.

Menjelang akhir tahun begini, suhu di kota ku, semakin mendekati suhu nol derajat celcius saja. Kalau cerah, matahari muncul sebentar saja. Tetapi, lebih seringnya suasana mendung, langit tertutup mendung kelabu sepanjang hari. Terkadang hujan gerimis sepanjang hari. Dan malam pun semakin panjang dari hari kehari. Hari sudah gelap, saat pukul 16.00. Sungguh suasana yang sangat sendu, apalagi jika sampean sedang kesepian memendam rindu dendam pada orang-orang tersayang yang jauh disana. Malam-malam dingin, sunyi nan panjang, adalah waktu yang tepat untuk memperangkap diri dalam jebakan ratapan duka.

Biasanya, aku adalah penikmat kesunyian. Malam-malam panjang yang sunyi adalah waktu yang sempurna untuk asyik dengan dunia ku sendiri. Dunia mahasiswa PhD ilmu komputer, yang lebih asyik bercengkerama dengan baris-baris kode program komputer dan alam pikiranya sendiri ketimbang bercanda ria dengan anak-istri. Bahkan hingga dini hari. Tak berlebihan jika ada yang menyebut manusia nerd, yang nyaris kehilangan kemanusianya. Empat tahun sudah berlalu, masa-masa jahiliyah itu mestinya akan segera berlalu.

Belakangan, karena beban fikiran untuk menyelesiakan tesis selama bertahun-tahun itu sedikit berkurang. Aku mencoba, menghidupi hidup dengan sedikit berbeda. Diantaranya menghabiskan akhir pekan dengan keluarga di rumah, dari sebelum-sebelumnya yang lebih sering kuhabiskan di lab. juga. Dan salah satu yang kucoba untuk memulihkan rasa kemanusianku adalah minum kopi bareng teman.

Mungkin diantara sampean adalah salah satu pecandu warung kopi. Memesan, secangkir kopi, rokok, lalu larut dalam obrolan dan guyonan berjam-jam. Kebetulan aku sebaliknya, aku bukanlah penikmat obrolan di warung kopi. Sepertinya aku adalah teman ngobrol di warung kopi yang paling menyebalkan di dunia. Aku pernah berfikir bahwa ngopi bareng teman adalah kegiatan paling mubadzir di dunia, membuang-buang waktu saja. Kalau ingat itu, rasanya aku merasa paling bersalah dengan teman-teman yang dulu rajin mengajak ku ngopi bareng.

Tetapi, ceritanya sedikit berbeda dengan belakangan ini. Kebetulan di kampus ku ada sebuah tempat nongkrong paling asyik buat mahasiswa post-gradutae, namanya graduate centre. Nah, di tempat ini disediakn teh dan kopi gratis unlimited. Belakangan, aku cukup sering nongkrong di tempat ini, bahkan kadang hingga larut malam. Bukan kopi dan teh gratisnya yang bikin nikmat, tetapi obrolan dengan teman sambil menyeruput kopi panas lah yang membuat suasananya istimewa.

Rupanya, obrolan dengan bermuwajahah langsung itu tak tergantikan nuansanya dengan obrolan di whatsapp, facebook, twitter, instagram, atau aplikasi media sosial apa pun namanya. Rupanya, mendengar perspektif kehidupan dari orang lain itu begitu mengasyikkan. Ternyata, menyimak seorang kawan bertutur tentang pengalaman hidupnya itu begitu memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan. Berdiskusi, beradu argumentasi dengan kawan dari latar belakang keilmuwan yang berbeda itu jauh lebih menggairahkan dari diskusi di konferensi-konferensi internasional bidang keilmuwan yang pernah kuhadiri sebelumnya. Tak sadar, orang-orang sekolahan menganggap dunia ini bak rumah besar yang tersekat-sekat menjadi kamar-kamar, layaknya tembok-tembok fakultas di universitas. Padahal, sejatinya dunia nyata adalah rumah besar satu ruang yang dapat dimasuki dari banyak pintu, pintu pemahaman kita masing-masing terhadap dunia yang kompleks. Itulah sebabnya, mendengar perspektif orang lain itu sama pentingnya mematangkan perspektif diri terhadap dunia yang kompleks ini.

Diskusi organic sebagai manusia-manusia biasa tanpa kepentingan di `warung’ kopi memang tak ada tandingan. Sayang, seringnya kita terjebak pada kesibukan-kesibukan dan urusan-urusan sendiri-sendiri masing-masing. Bahkan jika kebetulan ada kesempatan, kadang kita lebih asyik bermain dengan gadget kita masing-masing. Kadang kita enggan bersinggungan jika tidak ada kepentingan. Pada akhirnya candu aplikasi media sosial membuat kita merindukan bersosialiasi yang sebenarnya, salah satunya obrolan di warung kopi ini. Jadi, kapan kita ngopi bareng lagi? Kalau ada sumur di ladang, boleh kita numpang mandi. Kalau ada umur panjang, bolehlah kita ngopi bareng lagi.

 

Seorang Lelaki Dan Anak Lelakinya

… karena setiap orang yang melintas berpapasan atau beriringan dalam perjalanan hidup kita dihadirkan untuk sebuah alasan – a random thought

di_perlintasan_jalan

Ilustrasi: Di Perlintasan Jalan, Cambridge

Seperti lazimnya dalam sebuah perjalanan, dalam perjalanan hidup pun kita ditakdirkan bertemu dengan banyak orang. Kadang berpapasan, kadang berjalan beriringan. Kadang bersua sebentar saja, kadang bersama cukup lama. Kadang bertemu sekali lalu menghilang selamanya, kadang kita dipertemukan berkali-kali.

Mungkin, kebanyakan dari kita berfikir ah semua itu hanya rangkaian peristiwa-peristiwa kebetulan saja, titik. Aku pun juga pernah berfikir demikian. Tetapi belakangan, aku lebih percaya bahwa mereka hadir di dalam perjalanan hidup kita ini untuk sebuah alasan. Sebagaimana sesungguhnya tidak yang kebetulan dalam kehidupan ini bukan? Ndilalah itu bukanlah kebetulan, tetapi atas kersane Gusti Allah. Bukankah setiap daun yang jatuh, dan setitik embun yang menetes pun atas kehendaknya?

Berangkat dari keyakinan itu, setiap ditakdirkan berada di tempat mana pun, dan bertemu dengan siapa pun, alam fikiran ku selalu bertanya-tanya untuk apa Tuhan menempatku di tempat ini? untuk apa Tuhan mempertemukan ku dengan orang ini? Karenanya, aku juga percaya bahwa setiap tempat bisa menjadi sekolah, setiap orang bisa menjadi guru, dan setiap peristiwa adalah materi pembelajaran dalam universitas kehidupan ini.

Ada kalanya, kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang hanya sebentar saja, lalu menghilang selamanya dari kehidupan kita, tetapi kehadiranya yang sebentar itu menjadi inspirasi sepanjang hayat. Begitupun dengan tempat yang kita singgahi sebentar dan peristiwa yang terjadi sekali saja dalam perjalanan hidup ini.

Ada seorang Lelaki dan anak lelakinya, yang hampir setiap hari aku dan anak lanang berpapasan di jalan yang sama, sang lelaki dan anak lelakinya berjalan kaki aku dan anak lanang bersepeda, hanya bertukar seulas senyum dan sapa “hallo….”, tanpa kita sempat saling mengenal. Hari ini, sang lelaki itu menghentikan sepedaku, memberi sebungkus gula-gula pada si anak lanang. Kebahagian anak lanang pun berlimpah ruah.

Sang lelaki dan anak lelakinya itu telah mengajari ku bagaimana seorang bapak begitu wigati pada anak lanangnya. Setiap pagi, dengan setia, berjalan kaki cukup jauh, menghantar anak lanangnya, menunggu di depan gerbang sekolah cukup lama, hingga gerbang sekolah dibuka. Setiap sore, dengan setia, menunggu didepan gerbang sekolah, menunggu cukup lama, sambil menikmati setiap hisapan rokoknya, hingga si anak lanang keluar dari gerbang sekolah.

Di jaman, dimana orang-orang modern selalu dikejar-kejar oleh kesibukanya, hidupnya diatur-atur oleh jam, sungguh ini adalah peristiwa istimewa. Seorang lelaki yang begitu wigati antar-jemput anak lelakinya, dengan sepenuh hati, meski harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya dengan berjalan kaki.