Category Archives: Budaya Hidup orang UK

‘A Gloomy Sunday’ dan Kesendirian Seorang Kakek Tua

… terkadang rasa kemanusiaan saya terusik, bagaimana mereka memilih merawat anak anjing dari pada merawat anak mereka sendiri. Bagaimana mereka lebih senang bersahabat dengan anjing daripada berkawan dengan manusia ? – A Random Thought

bangku_kosong

Bangku Kosong, Lenton, Nottingham, UK, 2015

Minggu pagi ini, cuaca di kota Nottingham begitu kelabu. Hujan tidak menitik, tetapi matahari pun tak berani menampakkan diri. Tertutup awan kelabu. What a gloomy Sunday. Jalanan sepi, suasana sunyi. Ribuan orang yang semalam berpesta, minum bir dan anggur, berdansa di bar-bar, menghabiskan malam minggu di akhir musim panas ini, pastinya sepagi ini masih terlelap dalam keteleranya. Menikmati, the lazy sunday  morning.

Saya yang Sabtu nya masih ngampus, minggu pagi ini harus ‘membayar hutang’ untuk jalan-jalan bersama si kecil dan bundanya. Berjalan berkunjung ke rumah seorang kawan yang semalaman tidak tidur mengejar deadline disertasi. Untuk kemudian, berjalan di lapangan rumput hijau di sebuah taman kota.

Si kecil langsung kegirangan bermain dengan plorotan di Play ground. Bundanya, bermain bandulan. Saya duduk termenung di bangku memandangi lapangan rumput hijau yang terbentang luas bak permadani di hadapan. Selain kami, hanya ada seorang kakek sepuh yang duduk sendirian di bangku di tengah-tengah lapangan rumput dan puluhan burung gagak hitam yang sedang sarapan ujung rumput-rumput hijau itu.

Perhatian ku tercuri oleh keberadaan si Kakek sepuh itu. Bertopi hijau, dengan sweater yang juga berwarna hijau, si kakek terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Saya intip ternyata dia sedang mengisi teka-teki silang (TTS). Aktivitas yang lazim dilakukan oleh para pembunuh waktu, pengusir kejenuhan.

Entah kenapa, tak lama mengetahui kedatangan kami, si kakek beranjak pergi. Mengemas buku TTS ke dalam tas hitam nya, dan tertatih berjalan dengan tongkatnya ke luar taman, berjalan entah saya tak tahu kemana rimbanya.

Sang kakek hanyalah satu dari ribuan para manula kesepian di negeri ini. Bukan kali ini saja, saya melihat manula dengan kesendirianya. Sudah lazim, banyak para manula yang hidup sendirian di rumahnya. Bahkan sering kali terdengar berita para manula itu, diketahui meninggal setelah membususk berhari-hari di kamarnya.

Kemajuan ternyata membawa permasalahan baru di negara-negara maju. Dengan angka harapan hidup yang lebih panjang, masa pensiun telah tiba, banyak orang manula yang hidup hanya untuk menunggu kematian. Hidup dalam kesendirian dan kesunyian.

Hidup di negara maju yang ultra-individualis, dimana sosialisasi hanya terjadi di meja bar. Masa tua seperti itu terlihat begitu mengerikan bagi saya. Ketika muda saja, banyak orang enggan bersosialisasi dengan kita. Apalagi ketika kita tua? Bahkan mereka lebih senang berkawan dengan anjing. Gaya hidup yang kadang susah saya mengerti. Mungkin karena anjing lebih setia dan tak pandai berpura-pura seperti manusia yang kadang suka munafik.

Sang kakek mengingatkan saya akan bayangan hari tua nanti. Bahwa anak dan istri yang menemani saya ini tak akan selalu ada bersama saya. Si kecil kelak jika dewasa, pasti akan meninggalkan saya. Begitu juga dengan sang istri, siapa yang bisa menjamin kami akan hidup berdua selama-lamanya, sehidup semati?

Sang kakek juga mengingatkan, bahwa menjadi muda dan kuat tidaklah lama. Akan tiba saat kita pun menjadi tua dan kembali tidak berdaya. Gunakan masa muda dan semasa masih kuat untuk berbuat baik sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan masa muda.

Argh, kelak semoga kita dikaruniai hari tua yang indah. Jauh dari kesunyian dan kesendirian. Sebaliknya, dikelilingi orang-orang yang mencitai dan menyayangi kita dengan tulus. Cucu dan cicit yang menyejukkan mata selalu. Tetap bisa mengabdi dan berbuat untuk mengabdi kepada Tuhan dan berbagi kebaikan untuk sesama hingga detik terakhir di penghujung usia kita.

Ammiiin.


Saat Panen Gandum dan Bunga Lavender Tiba

Bila bulir-bulir gandum telah menguning sempurna. dan hamparan bunga lavender menebarkan aroma wangi semerbak. Mengundang ribuan lebah madu mencari nafkah. Merah lembayung warnanya. Membuai ribuan pasang mata para putri remaja, menjumput, menghirup, menciumi, pesona sang bunga.

Pikiran ku hanya teringat pada pada senyum yang tersungging dari para lelaki perkasa, pada aura kegembiraan para perempuan desa, pada keceriaan anak-anak desa menyambut panen padi telah tiba, pada gerombolan ribuan burung pipit berdendang riang, di kampung para petani bertahan hidup, kampung tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Saat mereka terlupa beratnya beban hidup yang mendera. Walaupun untuk sejenak saja.

Di Desa Hitchin, Arlesey, Cambridgeshire, Inggris -25/07/2015

panen_gandum_lavender_1

Memanen Gandum, Hitchin Lavender, UK, 2015 (Model: Keluarga Sahabat Saya)

Panen. Menyebut nama ini, indera rasa dan pikir saya terbawa pada bayangan suasana kegembiraan. Teringat kegembiraan para petani, saat panen raya telah tiba, di kampung halaman. Walaupun, panen tidak selalu mengundang syukur dan senyum atas kebahagian yang bertumpah ruah. Terkadang saat panen malah mengundang nestapa. Saat keadaan diluar kendali menerpa, karena sering kali hama dan bencana alam memupus bayangan kegembiraan itu dengan cara tiba-tiba. Bagaimanapun juga, saat panen adalah konotasi dari saat menuai hasil dari benih asa yang kita tanam, dan kita pupuk saat asa itu mulai tumbuh. Karenanya, kita selalu menanti dan berdoa saat kedatangan panen itu akan tiba.

panen_gandum_lavender_2

The Full Team, di Pintu Gerbang Hitchin Lavender, UK, 2015

Bicara panen, kemaren saya sekeluarga diajak senior saya di Nottingham, bersama rombongan sekitar 20 orang, kembali merasai euforia saat panen tiba. Tentu saja bukan panen raya padi, tetapi panen gandum dan bunga lavender. Nama desanya adalah Hitchin, lebih tepatnya Hitchin Lavender, Arlesey, Cambridgeshire, Inggris. Untuk menuju desa ini dari Nottingham, bisa ditempuh dengan naik kereta api. Dari stasiun kereta api Nottinggham, turun di stasiun kereta api kota Peterborough. Kemudian dari Peterborough, naik kereta api lagi, turun di stasiun Arlesey. Terakhir, naik bus dari Arlesey ke Hitchin Lavender. Dengan rail card, pesan tiket tiga minggu sebelum hari H, dan teknik beli tiket kereta api terputus, harga tiket pp perorang sekitar 10 poundsterling. Sedangkan harga tiket per busnya (all day ticket) perorang sekitar 2.5 poundsterling. Layaknya angkutan pedesaan, bus hanya ada satu jam sekali.

panen_gandum_lavender_3

Hamparan Bunga Lavender, UK, 2015

Memasuki desa ini, aroma pedesaan langsung terasa. Tidak ada trotoar, aroma wangi dari kotoran kuda yang tercecer berderet-deret sepanjang jalan pinggiran sawah, tidak ada lampu merah, mobil yang melaju terlalu kencang, dan suasana yang tenang dan damai. Perlu kehati-hatian yang lebih berjalan di jalanan beraspal di pedesaan di Inggris ini. Terutama jika membawa anak kecil, jangan biarkan anak sampean berjalan sendirian.

panen_gandum_lavender_4

Gadis Jawa Menuai Bunga Lavender, UK, 2015

Sebelum memasuki area gandum dan bunga lavender, kita harus membeli tiket terlebih dahulu. Tiket bisa dibeli di kios yang merupakan tempat makan, dan pusat oleh-oleh ‘perlavenderan’, yang terletak tidak jauh dari sawah.Harga tiketnya, untuk satu orang dewasa adalah 4.5 poundsterling, dan untuk anak dibawah 5 tahun tiketnya gratis alias ora katek mbayar. Dari tiket itu, sampean akan diberi satu buah tas kertas berwarna coklat, dan dipinjami sebuah gunting. Untuk apa? untuk memanen bunga Lavender, dan hasil panenya bisa dibawa pulang, asal tidak boleh melebihi kapasitas tas yang diberikan.

panen_gandum_lavender_5

Ku bahagia ! diantara bunga Lavender, Uk, 2015

Hamparan pohon gandum yang menguning terhampar sejauh mata memandang. Begitu juga, hamparan bunga lavender, membentuk permadani berwarna merah lembayung. Semerbak harum aroma khas bunganya, terasa kuat menusuk hidung. Begitu wangi dan menyegarkan, tetapi tidak memabukkan.

panen_gandum_lavender_6

Menuai Bunga Lavender, UK, 2015

Semua yang datang terlihat ceria dan gembira. Tapi tak ada yang melebihi ekspresi kebahagiaan rombongan kami. Bahkan, sepertinya keceriaan kami melebihi kehebohan sepasang pengantin yang sedang merayakan pesta pernikahan di pinggir sawah yang ditanani gandum dan bunga Lavender ini. Anak-anak, mbak-mbak, emak-emak, bapak-bapak, semuanya dari rombongan kami terlihat begitu bersuka cita. Senyum-senyum tersungging begitu murah, melimpah ruah, ketika kami berada di antara hamparan bunga lavender itu. Menggunting helai demi helai bunga, memasukkanya kedalam tas berwarna coklat. Dan kebahagian mengabadikan semua itu dalam ratusan jepretan-jepretan kamera digital. Yang sebentar lagi tersebar, mengundang ratusan jempol dan komentar, di jagat sosial media belantara maya.

panen_gandum_lavender_7

Peniltiti dan Bunga Lavender

Saya membayangkan keceriaan gadis-gadis, para perempuan desa menuai padi mereka ketika panen raya tiba. Tapi, jangan-jangan saya salah? Menuai padi adalah kesengsaran takdir hidup yang terpaksa harus mereka jalani. Nestapa, gadis desa yang membayangkan menjadi pekerja kantoran yang cantik dan pintar, seperti yang tiap hari mereka lihat di layar televisi mereka.

panen_gandum_lavender_8

Keceriaan Memanen Bunga Lavender

Diantara semua, anak-anak yang terlihat paling sempurna, tulus, dan jujur kebahagianya. Mereka tak menghiraukan jepretan kamera, yang sering dipaksakan oleh emak dan bapak mereka.

panen_gandum_lavender_12

Para Perempuan Pemetik Bunga Lavender, 2015

Mengguntingi setiap helai bunga, bermain bersama teman-teman sebaya, jungkir balik, guling-guling di atas hamparan permadani rumput sawah yang menghijau. Benar, saya iri dengan ketulusan kebahagiaan mereka.

panen_gandum_lavender_9

Anak-anak kami Bermain di Sawah, 2015

Tak terasa, matahari mulai condong ke arah barat. Sayang keceriaan harus segera disudahi. Menyisakan sedikit rasa keletihan di badan. Mengundang pikir di kepala: Keletihan kami tak sebanding dengan letih para petani yang menggarap sawah ladang mereka. Menyisakan rasa tanya di hati: kapan kamu akan memikirkan nasib mereka?

panen_gandum_lavender_10

Teman Perjlanan: Di bawah Awan Lavender

Setiap perjalanan selalu mengajarkan cara lain bagaimana melihat dunia secara berbeda. Hari ini, saya belajar banyak hal tentang hidup. Walau tak bisa saya tulis disini,saya akan selalu mengingatnya hingga saat nanti. Selamat melanjutkan perjalanan hidup kita kawan!

panen_gandum_lavender_11

Teman Perjalanan : The Gentlemen

Terima kasih kepada setiap teman perjalanan! Sampai jumpa di persentuhan perjalanan kita selanjutnya!


Berislam Secara ‘Kaffah’, Memahami Islam Secara Paripurna

Catatan Pinggir Pengajian PeDLN, Nottingham,24/01/2015

muslimat_pedln

Jamaah Muslimat PeDLN

Pengajian perdana di Tahun 2015 ini bertempat di ruang kapel, amenities building, Jubilee  Campus, Universitas Nottingham. Tempat ini akan menjadi tempat default untuk pelaksanaan pengajian bulanan rutin berikutnya. Menggantikan tempat sebelumnya di Prayer Room, Sutton Bonington Campus.

Pemateri pengajian kali ini adalah Mas Fifik (Mahasiswa PhD Geospatial engineering). Yang  mengajak kita semua merenungi kondisi umat Islam saat ini. Carut marutnya suasana politik di negara-negara timur tengah, gerakan Islam radikal seperti ISIS dan Boko Haram, serta kondisi sebagian sangat kecil yang mengatasnamakan Islam di dunia barat yang semakin memperkeruhIslamophobia seperti aksi teror di Sydney Australia dan Charlie Hebdo di Paris, Perancis belakangan ini.

Hal ini menyisakan tanda tanya pada diri kita sebagai seoang Muslim, Apa Sebenarnya yang tejadi? Ini karena orang di luar Islam atau karena kita orang Islam sendiri atau kedua-duanya?

Kita bisa saja berperasangka ini semua konspirasi orang-orang yang tidak senang Islam menjadi agama besar. Di tengah-tengah budaya barat yang meninggalkan agama mereka, Agama Islam tumbuh pesat di dunia barat sebagai agama yang perkembanganya paling pesat di dunia.

Tetapi, bukankah pelakunya umat Islam sendiri? Bukankah umat islam sendiri yang memperburuk citra Islam sendiri? Kita bisa saja masih ‘excuse’ argh itu kan orang Islam jadi-jadian. Bagaimanapun juga, tidak bijak rasanya mengait-ngaitkan terorisme dengan agama tertentu. Jelas, jika kita melihat fakta sejarah radikalisme dan terorisme bisa darimana saja.

Oleh karenanya, Mas Fifik mengajak kita untuk melihat pada diri kita seniri. Sebagai seorang muslim, sudahkah kita berislam secara kaffah, secara sempurna? Sudahkan kita memahami Islam kita secara paripurna? Bisa jadi kita sangat ahli dalam bidang ilmu keduniawian kita, tetapi sebaliknya sangat awam terhadap Islam. Karenanya kita harus terus mau belajar agar bisa berislam secara penuh, sebagaimana perintah Allah SWT:

“Wahai orang-orang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu
ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyatabagimu”. [QS. AlBaqarah: 208].

bapak2_pedln

Jamaah Muslimiin PeDLN

Ataukah kita hanya berislam sebatas kewajiban menjalankan ritual keberagamaan saja? Sebagai bahan renungan, penelitian Rehman Scheherazade, How Islamic are Islamic Countries? yang diterbitkan padaGlobal Economy Journal pada tahun 2010, menempatkan negara-negara Islam pada posisi bawah. Dari 208 negara yang diteliti, posisi tebaik diraih oleh Malaysia pada posisi 38, sementara Arab Saudi dan Indonesia pada posisi 131 dan 140. Tiga negara paling Islami menurut penelitian tersebut adalah: New Zealand, Luxembourg, dan Irlandia. Penelitian ini mengukur kesesuaian praktik di negara yang diteliti dengan prinsip-pinsip Islam dalam bidangeconomics, legal and governance, human and political rights, and international relations.

Tentu saja pada penelitian ini masih ada ruang kritik, tapi kalau kita refleksikan dengan kondisi negara kita, sebagai negara Islam terbesar di dunia, kita bisa melihat sendiri bagaimana korupsi, ketidakadilan dalam ekonomi, ketidakjujuran, fakir miskin yang masih terlantarkan nasibnya oleh negara, rasanya Penelitian tesebut sangat masuk akal. Apalagi kalau kita pernah hidup di negara-negara yang masuk peringkat 10 besar pada penelitian tersebut (Inggris salah satunya), kita bisa merasakan sendiri bagaimana pendidikan dan kesehatan dasar gratis buat semua orang, bahkan pengangguran pun digaji negara. Serta bagaimana kesantunan dan kejujuran mereka. Rasanya, hasil penelitian itu sangat masuk akal. Kecuali kalau yang dijadikan ukuran adalah berapa banyak orang yang sholat, puasa, dan haji, sepertinya Indonesia sangat berpeluang menempati posisi nomer wahid.

Karenanya, Mas Fifik mengajak kita semua untuk lebih instropeksi dan menempa diri kita sendiri. Mengimbangi keimanan dengan ilmu yang cukup, dengan terus menerus mau belajar. Kegagalan memahami jihad yang benar  misalnya, bisa berakibat fatal. Seperti kasus Charlie Hebdo, alih-alih mau membela Islam, yang ada justru mencoreng Islam. Tidak hanya menempa akal kita, sebagai pribadi muslim yang ideal kita juga perlu menempa jasad (dengan olah raga misalnya) dan hati kita. Mengutip Aa Gym, agar berhasil semuanya itu harus 3M: 1.Mulaidaridirisendiri, 2.Mulaidari yang terkecil, 3.Mulaidarisekarang.

farewell_masfifik

Pak Peni, Mas Fifik, Mbak Noorida

Tidak ketinggalan, seperti biasa pada pengajian kali ini juga ada pengajian khusus muslimah dengan Ustadzah Shanti Fitriani, dan TPA untuk anak-anak bersama ustadzah Ade.

brithday_raras

HBD Raras!

Pengajian kali ini juga menjadi pengajian terakhir Buat Mas Fifik Sekeluarga yang akan segera kembali Indonesia ‘for good’. Dan salah satu jamaah, Raras (Mahasiswa PhD IT), sedang berulang tahun. Semoga Barokah buat semuanya ! Barokah buat kita semuanya. Allahumma Ammiin. Terima kasih untuk kehadiran semuanya yang membawa kehangatan kebersamaan buat semua.


Natal: Antara Agama, Budaya, dan Bisnis

… memang kalau kita mengucapkan natal, terus iman kita jadi luntur gitu  ya? kenyatanya kan endak. –Yenny Wahid.

christmast_cerah

Langit Nottingham 25 Desember 2014

Hari ini 25 Desember 2014. Ada apa? Yah, tenunya hampir semua orang tahu kalau hari ini adalah hari Natal. Hari yang barangkali membawa kebahagiaan bagi jutaan umat manusia di seluruh dunia. Tapi, tentunya tidak bagi saya. Tidak ada yang istimewa, hari ini, buat saya hanyalah seperti hari-hari yang biasa. Di pagi hari pun, saya masih berangkat ke kampus. Meskipun, sebenarnya saya tahu hari ini kampus pasti sunyi sepi, nyaris tiada orang.

Untungnya, hari ini cuaca sangat cerah. Langit tidak kelabu seperti lumrahnya hari-hari di musim dingin ini, tetapi terlihat begitu biru bersih. Matahari pun terlihat tersenyum begitu sumringah. Tak terkecuali, kawanan burung-burung camar pun terlihat bersuka ria. Sehingga, saya pun cukup bergairah. Berjalan kaki ke kampus sambil menenteng kamera DSLR kesayangan ku ini, si teman perjalanan paling setia.

Keluar dari rumah, jalanan terlihat begitu sepi. Di kota ini, setiap natal, semua bus dan kereta api tidak beroperasi. Orang-orang pun sepertinya enggan keluar dari rumah. Saya berharap akan ada keramaian di depan dua gereja yang akan saya lewati dalam perjalanan saya dari rumah ke kampus.

christmast_stpeterchurch

Gereja St. Peter, Radford Nottingham

Ternyata, dua gereja ini pun setali tiga uang. Yang ada hanyalah sunyi dan sepi. Tidak ada mobil satu pun yang terparkir di sekitar gereja. Apalagi yang namanya spanduk ucapan selamat natal dan tahun baru, juga tidak terlihat sama sekali. Saya jadi bertanya-tanya, jikalau di negara kami orang-orang beragama begitu ekspresif, kenapa di negeri ini mereka terlihat adem ayem?

Karena sepi, saya pun masuk ke dalam gerbang gereja yang selalu terbuka. Sekedar,untuk jeprat jepret mumpung cuacanya cerah. Setelah cukup lama jeprat jepret, ada dua orang jamaah yang masuk gereja. Satu perempuan muda berkulit hitam. Satu nya lagi seorang pemuda asia berkumis, yang berpakaian Salwar dan kameez yang biasa dipakai orang-orang Pakistan pada umumnya.

Kenapa gereja sepi, bahkan di hari natal pun? Yah, memang bukan rahasia lagi, jikalau sering semakin majunya sains orang-orang eropa banyak meninggalkan gereja. Agama tidak lagi tersimpan di gereja, tapi sudah menjelma menjadi nilai-nilai kebaikan dan kebajikan universal dalam kehidupan mereka sehari-sehari.

Setiba di lab., setelah buka email, selanjutnya buka facebook. Eyalah, ternyata masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Facebook masih penuh dengan bahasan pro kontra hukum mengucapkan selamat natal(dalam hati: hari gini? orang lain sudah bisa bikin teknologi ke planet Mars, kita masih ribut ….?).

Sekilas terjadi segregasi di antara teman-teman saya di facebook. Teman-teman yang afiliasinya PKS, HTI, Syalafi cenderung begitu keras mengharamkan. Sementara teman-teman dengan latar belakang NU cenderung ngece dengan ramai-ramai pasang status ucapan natal. Saya mung mbatin semoga saja kita semua semakin dewasa dalam beragama, bisa cerdas membedakan antara bungkus dan isi.

Hanya saja, melihat trend beberapa golongan yang semakin hari semakin getol memunculkan kembali isu-isu sensitif agama. Saya jadi suudzon jangan-jangan ada yang lagi-lagi, sengaja mencoba mengkerdilkan agama sebagai ideologi ‘politik’ sebagai alat untuk merebut kekuasaan. Padahal sebenarnya, saya teramat sangat yakin bahwasanya sejak jaman dahulu watak asli bangsa Indonesia itu ramah, toleran, dan sudah terbiasa hidup guyb rukun dalam perbedaan. Bhinika Tunggal Ika, yang terpampang nyata (weleh, kok jadi mbebek syahrini) di lambang negara kita itu.

christmast_santa

Robin Hood Jadi Santa

Sebenarnya, kalau kita tidak malas membaca sejarah dan antropologi sosial (saya termasuk golongan yang malas itu). Natal tak lebih dari warisan tradisi budaya. Kumpul keluarga, kado natal, sinter klas, pohon natal sebenarnya tak jauh beda dengan perayaan tahun baru imlek yang juga ada tradisi pulang kampung, barongsai, dan angpao. Pun, tak jauh beda dengan tradisi Lebaran, ada mudik, ada ketupat, dan sebagainya.

Kalau kita lebih kritis lagi. Saat ini event-event agama dan budaya seperti ini sudah menjadi bagian dari strategi bisnis untuk memicu peningkatan penjualan dan ajang untuk mengeruk keuntungan. Buktinya, yang paling semangat menyambut event agama dan budaya ini ya siapa lagi kalau bukan pusat-pusat perbelanjaan.

christmast_wonderland

Christmas Wonderland, Nottingham

Di city centre Nottingham misalnya, sejak awal November pusat kota ini sudah disetting suasana natal. Di old market square yang merupakan jantung pusat perbelanjaan disulap menjadi Christmas Wonderland.

christmas_market

Christmas Market

Di dalamnya ada pohon natal besar, christmas market, arena mainan anak-anak, dan ice skating arena. Dan semuanya itu tentu saja tidak ada yang gratis, semua ada label harganya, Bero!

boneka_salju

The Snow Man

 

Tetapi ada juga yang gratis  ding, yaitu sekedar menjadi penonton atau sekedar foto-foto. Outlet merek-merek terkenal pun berlomba-lomba menawarkan produk mereka yang seolah menjanjikan akan menjadikan natal tahun ini menjadi natal yang paling spesial. Merekamembuat claim, produk merekalah yang paling sempurna untukdijadikan sebagai kado natal paling spesial untuk orang paling spesial dalam hidup anda. Tak ketinggalan produk coklat, wine, dan outfit. BIG SALE sih katanya, tapi masih saja tidak terjangkau oleh kantong saya (nasib jadi orang miskin kota, hiks).

christmast_wonderland_cheer

Jepretan Habis Pengajian

Toko online pun tak mau kalah bersaing. Iklan dan promo spesial natal marak menjubeli space website pemasang iklan dan email.

christmast_wonderland_tram

Iklan Tram

Saya pribadi, sebagai traveler penikmat suasana, selalu menyukai setiap suasana yang diciptakan. Jalan-jalan sambil mendengarkan tanpa tahu arti apalagi menghayati lonceng gereja, musik, dan lagu-lagu natal adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang mungkin tidak semua orang bisa menikmatinya.

christmast_wonderland_ice_scating_2

Arena Ice Skating

Melihat anak-anak bersuka ria bermain ice skating, menyaksikan warna-warni lampu penghias pohon natal, menyaksikan rusa di tengah kota adalah suasana khas yang memorable dan tak ternilai harganya buat saya. Entahlah, seolah di setiap suasana di setiap sudut kota itu ingin bercerita.

christmast_rusa

Ada Rusa dan Kandangnya di Tengah Kota

Saya yakin, sautu saat nanti ketika bulan desember di Indonesia,saya pasti merindukan suasana ini. Suasana khas setiap tempat yang tak bisa tergantikan dimanapun juga.

Jadi, natal buat setiap orang bisa memiliki arti yang berbeda. Tergantung, bagaimana kita memahaminya. Jika natal  dan segala atributnya adalah ajaran agama, logikanya, jaman nabi Isa tidak mungkinlah ada yang namanya Pohon Cemara. Dan orang-orang eropa pun, mereka termat sadar Natal hanyalah tradisi budaya leluhur yang menurut mereka perlu dilestarikan.

Semoga kita tidak terjebak dalam semangat keberagamaan yang menggebu-gebu tanpa dibarengi pemahaman ilmu agama yang cukup. Alih-alih menebarkan rahmat untuk sekalian alam, yang timbul malah keresahan dan kegelisahaan. Pertanda bahwa nafsu lawwamah masih menyertai diri kita. Pesan Gus Dur, kunci untuk memahami spiritualitas, esensi ajaran agama, dan menggapai jiwa yang tenang (nafsul mutmainnah) adalah dengan senantiasa menjadi pribadi yang rendah hati, mau terus belajar, dan open minded.


Mengintip Peradaban Sebuah Kota dari Sungainya

… bengawan Solo, riwayat mu ini. Sedari dulu jadi perhatian insani. Di musim kemarau, tak seberapa air mu. Di musim hujan … -Gesang.

Jembatan Sungai Trent, Nottingam

Jembatan, Bebek di Sungai Trent, Nottingam, UK (Dok. Pribadi)

Tidak berlebihan rasanya jika sungai atau kali (bahasa jawa) dikatakan banyak menyimpan sejarah peradaban manusia dari jaman ke jaman. Ibarat pembuluh darah dalam tubuh manusia, sungai memiliki peran penting dalam menyokong kehidupan umat manusia. Mengalirkan air kehidupan, membawa kesuburan, menawarkan sumber penghidupan dan keberkahan yang melimpah ruah, tetapi terkadang juga menjadi sumber petaka.

Ketika masyarakat masih hidup sederhana, daerah sekitar aliran sungai selalu menjadi daerah padat penduduk. Kerajaan-kerajaan dan pesantren-pesantren di tanah Jawa misalnya, biasanya mereka berada  di pinggir aliran sungai.

Rasanya, lagu mbah Gesang, Bengawan Solo, yang legendaris dan saya yakin akan selalu hidup itu, cukup indah melukis betapa pentingnya sungai di tengah-tengah peradaban umat manusia. Setiap sungai menyimpan riwayat cerita sendiri bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Kali Setail, Riwayat mu Dulu dan Sekarang

kali_setail_jemb_gantung_updated

Kiri: Sungai (Kali) Setail, Desa Plampangrejo. Kanan: Jembatan Bambu (Sesek Pring) Sungai setail (source: http://www.awedionline.com)

Buat saya pribadi, satu-satu nya sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat hidup saya adalah sungai setail, di dusun ringin pitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Sumber air sungai ini berasal dari gunung Raung, mengalir ke wilayah selatan kemudian ke wilayah timur kabupaten banyuwangi, dan bermuara di selat bali atau samudera hindia. Di pinggir sungai inilah mbah saya, mbah H. Abdul Fatah, memulai cerita kehidupan di tanah rantau, tanah osing Banyuwangi, setelah meninggalkan kampung halamanya di kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dan bertekad untuk tidak kembali lagi hingga akhir hayatnya. Bahkan, anak cucu nya pun tidak pernah diperkenankan tahu menahu dimana tepatnya kampung halaman beliau. Hanya karena sebuah alasan harga diri, tidak mau pulang kampung karena tidak mau dianggap meminta bagian harta warisan jika pulang ke kampung halaman.

Masa kecil saya menyaksikan sendiri bagaimana kali setail menjadi bagian kehidupan orang-orang di kampung kami. Kali setail yang airnya yang jernih dan segar, dengan pasir dan batu kerikil dari gunung raung yang melimpah, yang menjadi tempat mandi, cuci dan toilet terbuka untuk semua warga. Lelaki, perempuan, anak-anak, dewasa menjadi satu. Bahkan juga untuk sapi dan kerbau. Kali setail juga menjadi kolam renang gratis untuk anak-anak kampung. Lumban adalah istilah untuk berlama-lama berenang dan menyelam dalam air sungai. Argh, sungguh kenangan masa kecil yang teramat indah. Dan kenangan itu sekarang sudah benar-benar mati.

Saat itu, kali setail juga sumber kehidupan yang barokah. Ada puluhan jenis ikan sungai yang melimpah. Ada ikan tombro, tawes, wader, uceng, udang, empet, remis, lele, sepat, kocolan, dan ikan-ikan yang saya tak mampu lagi saya mengingatnya. Ikan-ikan itu begitu mudahnya didapat dengan dijala, dijaring, diseser, atau dijebak dengan besangan alias jebakan ikan yang dibuat dari lidi kayu bambu. Atau ketika kaline dilontor, yaitu ketika pintu air Dam/bendungan air untuk irigasi dibuka 3 bulan sekali, mengalirkan air warna kecoklatan. Ratusan warga desa berbondong-bondong pergi ke sungai, beramai-ramai, bersorak riang, menangkapi ikan-ikan sungai yang semaput minggir di bibir sungai dengan seser dan jaring. Duh, saya jadi kangen menikmati renyah dan nikmatnya rempeyek udang kali setail.

Pinggir kali setail juga tempat bermain yang indah. Gundukan pasir lembut bercampur debu adalah tempat yang sempurna untuk bermain perang-perangan. Dikelilingi rerimbunan tananman kerangkong yang bunganya berbentuk seperti terompet, berwarana putih keungu-unguan, dikerumuni seranga lady bug yang sayapnya indah berwarna-warni. Dan juga buah ceplukan yang rasa buahnya aduhai manis sekali. Serta pohon bendo, yang menjatuhkan biji-bijian yang kalau digoreng kereweng (penggorengan dari tanah liat, tanpa minyak) rasanya paling nikmat sedunia. Ada juga sasak gantung, jembatan gantung dari bambu di atas kali setail , penghubung desa lor kali dan kidul kali yang menjadi tempat bermain pemacu adrenalin paling menantang, yang tidak kalah dengan roller coaster.

Sekarang, setiap kali pulang kampung, aku biasa pergi duduk di pinggir sungai setail, sambil mengenang betapa indahnya masa kecil saya. Memandang aliran kali setail yang sedang sekarat dan kesepian. Mengenang ribuan kenangan-kenangan masa kecil yang telah mati. Air sungai yang dulu airnya jernih dan mengalir, kini tak ubahnya bak kubangan kerbau, tercemar dan kotor. Bebatuan dan pasir sungai yang dulu melimpah sudah habis dijual warga ditukar dengan lembaran rupiah-rupiah. Jangan tanya akan ikan, udang, empet dan remis ! Mereka semua sudah musnah, sejak sebagian warga ada yang serakah membunuh seluruh penghuni alami sungai dan bayi-bayi nya dengan obat kimia pembunuh serangga.

Jangan tanya pula gerombolan anak-anak yang dulu bermain riang di pinggir sungai. lumban berjam-jam di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Yang ada hanyalah sepi. Sungai yang sudah sekarat hampir mati, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Warga pun yang dulu selalu mandi bersama, sekarang sudah punya kamar mandi keluarga. Pun, anak-anak yang dulu selalau bermain bersama, sekarang mereka asyik di depan TV keluarga. Keluarga sudah menjadi penjara-penjara kecil bagi warga desa, yang dulu seolah-seolah mereka adalah satu keluarga.

Inikah yang namanya kemajuan jaman yang menjanjikan segala kemudahan dan perbaikan itu? Tapi, entahlah hati saya selalu seperti merasa kehilangan yang teramat dalam. Kehilangan suasana masa lalu yang selalu saya rindukan setiap pulang ke kampung halaman.

Pesona Sungai Trent, Nottingham

Di salah satu akhir pekan pada musim panas kemaren, untuk mengobati kangen akan kampung halaman, saya bersama keluarga bermain menyusuri Sungai Trent yang berada di pinggir kota Nottingham. Lokasinya, tidak jauh dari city centre, naik bus nomor 1-10, hanya butuh waktu sekitar 10 menit. Turun di Jembatan Trent, yang lokasinya berdekatan dengan stadion Nottingham Forest, klub sepak bola kebanggaan warga Nottingham. Entahlah, ketika menyusuri sungai ini, kenangan indah masa kecil saya terasa hidup kembali.

Sungainya sangat well-developed , sepertinya dibangun dengan penerepan hydrology yang mutakhir. Airnya jernih seperti kaca, airnya melimpah, mengalir mengelilingi kota Nottingham. Ada rerimbunan pohon dan rerumputan hijau yang terawat rapi menghadirkan suasana pedesaan , memanjakan mata memandang . Suasananya tenang, hawanya teduh, udaranya segar.

Main di Pinggir Sungai

Main di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Di sisi kiri dan kanan sepanjang aliran sungai ada jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang cukup lebar. Lengkap dengan kursi-kursi kenangan yang menghadap ke sungai. Di akhir pekan itu, saya melihat banyak orang, tua, muda, anak-anak, berlalu lalang menyusuri pinggiran sungai dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ada juga yang memancing ikan, atau sekedar duduk manis di kursi-kursi kenangan sambil membaca buku sendirian, menghadap aliran sungai.

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda Yang Luas (Dok. Pribadi)

Dalam airnya yang jernih, masih terlihat tanda-tanda kehidupan ikan. Gerombolan burung pelikan, camar, bebek, dan angsa pun ikut meramaikan suasana sungai yang indah dan hangat di musim panas itu. Mereka seolah hidup damai berdampingan menciptakan sebuah harmoni alam.

Sepedahan di Pinggir Sungai

Sepedahan, Mancing, di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Ada Jembatan cantik di atas sungai, yang menarik dijadikan latar belakang foto pre-wedding. Ada juga perahu-perahu bersandar di tepi sungai, dan boat trip mengelilingi kota nottingham via jalur sungai yang juga background foto-foto yang indah. Di sekitar pinggiran sungai itu juga terdapat lapangan olah raga yang luas, taman bermain anak-anak dengan berbagai jenis permainan lengkap dengan kolam renang gratis. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak-anak berkumpul, bermain gembira, betah berjam-jam disana. Sungguh, bak syurganya anak-anak.

Boat trip di Sungai

Boat trip di Sungai (Dok. Pribadi)

Di tempat ini, di pinggir sungai ini, kenangan masa kecil ku yang telah mati seolah hidup kembali dan hadir kembali. Sungai yang hidup, alam yang harmoni, dan tawa ceria anak-anak di pinggir sungai itu seolah menghadirkan masa kecil saya kembali. Ratusan bahkan ribuan supporter sepak bola yang berjalan berduyun-duyun sepanjang pinggir sungai menuju stadion Nottingham forest itu mengingatkan ku pada menjelang ritual sepei di kali setail.

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Argh ternyata, kemajuan jaman tak harus membunuh kenangan. Ternyata, kemajuan jaman tak harus membinasakan harmoni sang alam. Bahkan justru melestariakan. Tiba-tiba, saya bermimpi, suatu saat kali setail saya yang sekarat hampir mati, suatu saat akan hidup kembali seperti sungai Trent Nottingham ini. Tapi, entah kapan?