Budaya Hidup orang UK

Seorang Lelaki Dan Anak Lelakinya

… karena setiap orang yang melintas berpapasan atau beriringan dalam perjalanan hidup kita dihadirkan untuk sebuah alasan – a random thought

di_perlintasan_jalan

Ilustrasi: Di Perlintasan Jalan, Cambridge

Seperti lazimnya dalam sebuah perjalanan, dalam perjalanan hidup pun kita ditakdirkan bertemu dengan banyak orang. Kadang berpapasan, kadang berjalan beriringan. Kadang bersua sebentar saja, kadang bersama cukup lama. Kadang bertemu sekali lalu menghilang selamanya, kadang kita dipertemukan berkali-kali.

Mungkin, kebanyakan dari kita berfikir ah semua itu hanya rangkaian peristiwa-peristiwa kebetulan saja, titik. Aku pun juga pernah berfikir demikian. Tetapi belakangan, aku lebih percaya bahwa mereka hadir di dalam perjalanan hidup kita ini untuk sebuah alasan. Sebagaimana sesungguhnya tidak yang kebetulan dalam kehidupan ini bukan? Ndilalah itu bukanlah kebetulan, tetapi atas kersane Gusti Allah. Bukankah setiap daun yang jatuh, dan setitik embun yang menetes pun atas kehendaknya?

Berangkat dari keyakinan itu, setiap ditakdirkan berada di tempat mana pun, dan bertemu dengan siapa pun, alam fikiran ku selalu bertanya-tanya untuk apa Tuhan menempatku di tempat ini? untuk apa Tuhan mempertemukan ku dengan orang ini? Karenanya, aku juga percaya bahwa setiap tempat bisa menjadi sekolah, setiap orang bisa menjadi guru, dan setiap peristiwa adalah materi pembelajaran dalam universitas kehidupan ini.

Ada kalanya, kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang hanya sebentar saja, lalu menghilang selamanya dari kehidupan kita, tetapi kehadiranya yang sebentar itu menjadi inspirasi sepanjang hayat. Begitupun dengan tempat yang kita singgahi sebentar dan peristiwa yang terjadi sekali saja dalam perjalanan hidup ini.

Ada seorang Lelaki dan anak lelakinya, yang hampir setiap hari aku dan anak lanang berpapasan di jalan yang sama, sang lelaki dan anak lelakinya berjalan kaki aku dan anak lanang bersepeda, hanya bertukar seulas senyum dan sapa “hallo….”, tanpa kita sempat saling mengenal. Hari ini, sang lelaki itu menghentikan sepedaku, memberi sebungkus gula-gula pada si anak lanang. Kebahagian anak lanang pun berlimpah ruah.

Sang lelaki dan anak lelakinya itu telah mengajari ku bagaimana seorang bapak begitu wigati pada anak lanangnya. Setiap pagi, dengan setia, berjalan kaki cukup jauh, menghantar anak lanangnya, menunggu di depan gerbang sekolah cukup lama, hingga gerbang sekolah dibuka. Setiap sore, dengan setia, menunggu didepan gerbang sekolah, menunggu cukup lama, sambil menikmati setiap hisapan rokoknya, hingga si anak lanang keluar dari gerbang sekolah.

Di jaman, dimana orang-orang modern selalu dikejar-kejar oleh kesibukanya, hidupnya diatur-atur oleh jam, sungguh ini adalah peristiwa istimewa. Seorang lelaki yang begitu wigati antar-jemput anak lelakinya, dengan sepenuh hati, meski harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya dengan berjalan kaki.

Pasar: Ketika Belanja Tidak Sekedar Belanja

“ …. yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen durung oleh pituduh (hidayah) saka gusti Allah” – Sunan Kalijogo

 

festival_sungai_trent_5

Jajanan Pasar ala Inggris, Nottingham

Roda kehidupan terus saja cepat berputar, melukis kenangan dalam alam pikiran, menggoreskan kesan dalam kedalaman jiwa, menepis sejumlah keraguan, menjawab segenap tanda tanya, untuk kembali menggantungkan sejumlah tanda tanya yang baru. Musim bergilir, panggung kehidupan pun berganti pelakon  dan cerita. Ada yang datang, ada yang pergi, silih berganti.

Setelah sehari sebelumnya hujan deras mengguyur kota ku, siang hingga malam. Hari ini, Minggu pagi, cuaca di kota ku cerah sekali. Langit membiru sempurna, tanpa segumpal awan pun menghalangi sinar mentari pagi yang menggantung di salah satu sudut cakrawala. Hanya saja, angin musim gugur yang berhembus kencang membuat udara terasa cukup dingin.

Di dalam double decker bus no. 44  yang mengantarkan ku, dari city centre-colwick carboot, aku larut dalam pikiran ku sendiri. Teringat beberapa teman bertukar seulas senyum, beradu tawa, yang dulu biasa bersama di bus ini, kini entah dimana mereka melanjutkan babak baru kehidupanya masing-masing. Sungguh, persinggungan ruang dan waktu yang sama di kota ini adalah kenangan yang tak mudah untuk terlupakan.

Di dalam bus, aku bertemu dengan beberapa wajah-wajah baru. Teman-teman dari Indonesia yang akan memulai studinya di kota ini. Berkat beasiswa LPDP, ada ratusan anak-anak muda Indonesia yang bisa melanjutkan sekolah kembali di kota ini. Bangga rasanya, melihat wajah-wajah pribumi itu tersenyum bahagia, berdiri tegak, sejajar dengan bangsa-bangsa Eropa lainya. Dulu saat pertama kali menginjakkan di kota ini, hanya ada beberapa segelintir wajah-wajah pribumi yang bisa dihitung dengan jari.

**

Selalu ada kebahagian tersendiri yang terselip di setiap berada di Carboot-pasar loak ini. Bukan sekedar mendapatkan barang-barang murah, tetapi sekedar bisa merasakan denyut kehidupan orang Inggris lah yang memantik kebahagiaan itu. Melihat mereka saling bertegur sapa dengan logat britishnya yang kental dan khas, proses tawar-menawar barang dagangan mereka,  meninggalkan kesan tersendiri.

Hari ini kami bertemu dengan sepasang kakek dan nenek, yang rambutnya sudah memutih. Awalnya mereka menawarkan buku anak-anak 30 pences (£0.3) per buku. Setelah beberapa jenak proses tawar-menawar, atas kebaikan mereka, satu set buku anak-anak berjumlah sekitar 50 buku itu diberikan hanya dengan harga £2. Mereka pun menawarkan box, serta menawarkan untuk menitipkan buku-bukut itu di mobil mereka, hingga kami selesai berbelanja. Satu lagi yang berkesan, nenek-nenek Inggris itu selalu memanggil kami dengan sapaan` Darling’. Seperti buah kelapa, semakin tua semakin banyak santanya. Kearifan hidup bertambah seiring bertambahnya usia. Karenanya, dekat dengan orang-orang sepuh itu selalu menyenangkan dan menentramkan jiwa.

Siang itu, setelah pasar hampir saja usai, kami duduk-duduk jagongan di bangku-bangku taman yang berjajar di pinggir lokasi pasar carboot. Karena kebetulan kami semua orang Jawa khususnya jalur sumber kencono, i.e. Surabaya-Solo-Yogya, jagongan itu terasa sangat gayeng karena bisa ngobrol dan guyonan dengan bahasa Jawa. Hwa haha….  haha. Rasanya aku sudah lama dan kangen suasana guyonan khas ala warung kopi, warung gresikan, angkringan itu.

**

Entahlah, buat ku berbelanja di Pasar Carboot ini selalu mengesankan,  di tengah peradaban manusia modern di benua Eropa ini. Saat gaya orang-orang berbelanja sudah berubah dari belanja di pasar tradisional ke mall-mall, super market, dan belakangan dengan gencarnya promosi belanja online beli sayur pun cukup hanya dengan beberapa klik di depan layar komputer, tablet, atau telepon pintar saja. Tak ada tawar-menawar, tatap muka pun tidak perlu. Kebudayaan manusia-manusia modern yang serba sibuk memang harus serba cepat, efektif, efisien, dan praktis. Time is money, begitu katanya.

Hanya saja hidup di tengah-tengah peradaban manusia modern seperti ini, terkadang membuat keresahan-keresahan kecil dalam jiwa kemanusian ku. Jika hidup terus seperti demikian, apa bedanya manusia dengan robot-robot dan hewan-hewan pintar itu?

Itulah sebabnya mungkin aku senang berada di pasar carboot ini. Belanja tidak sekedar belanja, tetapi adanya interaksi sosial yang menjadi nilainya. Dan interaksi sosial itulah kebutuhan dasar jiwa-jiwa kemanusiaan itu.

Mungkin karena alasan itu pulalah, beberapa pasar tradisional yang telah berusia ratusan tahun masih dipertahankan hampir di setiap kota di Inggris ini. Di kota ku, Nottingham, masih ada pasar tradisional di lantai dua mall terbesar dan termegah tepat di tengah-tengah kota. Cukup terkenal di antara orang-orang Indonesia untuk membeli kepala ikan salmon murah meriah yang sedap sekali dibikin sup itu (maklum kalau beli dagingnya mahal bingit :p).

Beberapa pasar besar tradisional yang menyejarah yang pernah saya kunjungi di Inggris di antarnya adalah Bullring Market yang ada sejak 1154 di tengah-tengah kota Birmingham, Covered Market di tengah-tengah kota Oxford yang sudah ada sejak 1774, serta Kirkgate Market di pusat kota Leed yang sudah ada sejak 1822 dan konon saat ini adalah covered market terbesar di Eropa. Di pasar-pasar tradisional ini, sampean bisa merasakan suasana pasar dan kehangatan orang-orang Inggris klasik tempo dulu. Bahkan tukang sol sepatu, tukang service jam pun masih bisa ditemui di Kirkgate Market.

Rasanya adalah kesalahan besar, jika di kota-kota besar di Indonesia, pasar-pasar tradisional digusur,  digantikan mall-mall megah begitu saja. Nyatanya, di Inggris, pasar-pasar tradisional masih dipertahankan tepat di tengah-tengah kota. Di tengah-tengah peradaban manusia modern pun, pasar tradisional masih menemukan pelanggan nya sendiri. Khususnya buat mereka yang percaya bahwa pasar bukanlah sekedar tempat berbelanja, tapi tempat berinteraksi sosial yang menyenangkan. Khususnya buat mereka yang masih utuh jiwa-jiwa kemanusianya, belum menjadi manusia yang jiwanya separuh robot. Jika sampean berkunjung ke Inggris, agar bisa merasakan denyut kehidupan orang-orang British, datanglah ke pasar-pasar tradisional ini kawan. Jika tidak, mungkin tak jauh bedanya dengan berada diantara pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta atau Surabaya kawan.

Kacamata Matahari Yang Patah

… karena rupanya banyak orang yang dewasa tetapi belum mampu berempati dan berbagi – a random thought

anak_lanang

Ilustrasi: Anak Lanang

Pukul 8.30 pagi di Musim panas itu, matahari sudah merangkak cukup tinggi dari akar langit. Jika cuaca cerah sempurna seperti hari itu, sinarnya begitu mentereng menelanjangi setiap sudut-sudut kota.

Anak lanang siap berangkat ke sekolah. Siap nangkring di boncengan sepeda ku. Matanya dikernyit-kenyitkan, sambil bilang: ” Ayah, my eyes are hurting”. Itu artinya, anak lanang meminta diambilkan ‘Sun glasses’ kacamata matahari oleh emaknya. Anak lanang begitu menyukai mengenakan kaca mata hitam yang framenya berwarna biru dengan motif sang super hero kesayangan, Spider Man.

Tetapi, hari ini anak lanang tidak hanya membawa satu buah kaca mata, tetapi dua kacamata kembar. Dulu, salah satu dari kaca matahari itu ketlingsut entah sembunyi dimana. Akhirnya, dibelikan lagi kacamata yang persis sama. Jadilah, anak lanang memiliki dua kacamata hari kembar.

Saat ditanya kenapa kok membawa dua kacamata matahari hari ini, anak lanang bercerita tentang sebuah kejadian kemaren hari. Katanya, salah seorang teman sekelasnya, Burhan namanya, kacamata mataharinya patah. Anak lanang melihat si Burhan begitu sedih dengan patahnya kaca mata itu. Nah, oleh karena itu, hari ini dia mau memberikan satu dari dua kacamata mataharinya itu untuk Burhan.

Sesampai di sekolah, ketika bertemu dengan Si Burhan. Anak lanang langsung memberikan kacamata spiderman nya itu ke Burhan yang juga baru saja sampai di sekolah diantar ibunya. Burhan, nampak tersenyum sangat bahagia menerima kacamata itu. “Thank you Ilyas” katanya setelah dijawil sama ibunya. Anak lanang pun tersenyum sangat bahagia karena telah membuat sang teman tersenyum bahagia.

Mendengar cerita anak lanang itu, aku jadi tercenung beberapa jenak. Rasanya masih tidak percaya. Karena setahu ku, layaknya anak-anak kecil lainya, anak lanang begitu posesif dengan semua barang miliknya. Jangankan mau ngasih, dipinjam temanya saja biasanya tidak boleh. Nah ini, kok ndegaren, mau memberikan salah satu barang kesayanganya ke salah satu temanya begitu saja.

Mungkin karena pendewasaan usia yang membuatnya berubah begitu. Atau mungkin sistem pendidikan karakter di sekolahnya yang sedang bekerja? Atau mungkin karena kedua-duanya. Sepertinya, alasan kedua yang paling masuk akal. Karena rupanya banyak orang yang dewasa tetapi belum mampu berempati dan berbagi.

Dalam hati, aku sangat bersyukur. Kok ya alhamdulilah, Meskipun di sekolah anak lanang tidak ada pelajaran agama, tetapi si anak lanang sudah memiliki akhlak yang sungguh mulia. Bukankah, misi dari agama tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia?

Menurut ku, mampu berempati dan berbagi adalah inti sari dari sebuah hubungan sesama manusia yang harmoni. Tetapi lihatlah, kenyataan di sekitar kita. Betapa lebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Betapa banyak ketimpangan-ketimpangan sosial di sekitar kita.

Ada yang tinggal di rumah-rumah besar magrong-magrong bak istana raja diraja, bekerja di gedung-gedung tinggi nan megah pencakar langit. Tetapi, tak jauh dari situ ada yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh di dekat rel kereta api, mencoba bertahan hidup dari mengais-ngais sisa rejeki dari tempat pembuangan sampah. Ada yang setiap detik, harta kekayaanya bertambah berlipat-lipat, timbunan kekayaanya menumpuk-numpuk yang tak akan habis tujuh turunan. Tetapi, tidak sedikit yang buat dimakan esok hari saja, masih harus dicari.

Sebenarnya, selain melatih menahan diri, mampu berempati dan berbagilah inti pesan sosial dari berpuasa ini. Tetapi, umat beragama di negeri ku memang sungguh aneh. Di bulan yang seharusnya orang-orang berlatih menahan diri, di bulan itulah di negeriku terjadi puncak konsumsi.

Di bulan yang seharusnya mereka belajar berempati, mereka terlalu sibuk dengan memikirkan diri mereka sendiri. Parahnya lagi, di akhir bulan nanti, saat seharusnya mereka saling berbagi, disitulah mereka malah justru saling pamer diri. Jor-joran memamerkan kesuksesan hidup sampai ke pelosok-pelosok dusun. Berbagi? Argh, itu cukup dibayar dengan uang seharga beras 2.5 kg sebelum sholat Idul Fitri. Atau mengundang anak-anak yatim untuk disantuni ala kadarnya sesekali saja.

Andai saja, orang-orang kaya dari kota itu setiap pulang ke dusun tidak sekedar pamer kekayaan diri. Andai saja, orang-orang kaya itu menyisihkan sedikit saja dari tumpukan kekayaanya sedikit saja. Untuk membangun sekolah-sekolah gratis di dusun. Sekolah yang gedung, fasilitas, dan guru-gurunya sebagus sekolah-sekolah di kota. Mereka tak perlu dengan angkuh berkata: ” salah mereka sendiri, bodoh sih”.

Andai saja, setiap orang-orang kaya yang hidupnya berkelimphan harta itu, tidak menimbun harta kekayaanya. Tetapi, menggunakan seperlunya saja, sesuai kebutuhanya saja. Selebihnya, dibagikan kepada yang benar-benar membutuhkan. Mungkin keadaan dunia akan penuh dengan harmoni.

Tetapi, pemeluk agama di negeriku memang aneh. Meski agama mayoritas yang mereka anut mengajarkan: sesama saudara manusia itu bagaikan sebuh tubuh, jikalau ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain juga merasakan sakit; belum sempurna iman seseorang, jika belum bisa memberikan barang yang paling dicintainya kepada orang lain. Tetapi, kemampuan berempati dan berbagi masih menjadi barang yang aneh.

Tetapi, pemeluk agama di negeriku memang aneh. Agama menjadi bak lipstik dan gincu saja. Agama menjadi alat pencitraan saja. Mereka merasa sudah sempurna agamanya, jika sudah pernah jalan-jalan di kota Mekah dan Madinah lalu menutup rambutnya dengan kain lebar saja.

Terima kasih anak lanang, untuk ilmu dari mu hari ini.

Pagi di Jalan Itu

Tidak ada yang kebetulan, semua terjadi karena sebuah alasan – a random thought

jalan_di_inggris

Ilustrasi: Jalan Setapak di Pinggir Sungai, Universitas Cambridge, UK

Morning ! sapaan itu selalu aku dengar bersama sejumput senyum dari orang-orang yang datang di kantor antara jam 5-8 pagi, saat aku sibuk mengelapkan handuk kecil basah di atas  meja-meja kantor yang kotor oleh bekas tangan dan noda kopi itu, dengan penuh penghayatan, sepenuh hati. Di pagi hari yang masih perawan. Kata orang barat pagi itu lebih arif bijaksana dari pada siang atau senja hari. Sobahunnur, pagi yang bercahaya kata orang Arab. Very good Morning, kata orang Malaysia. Kata orang tua di Jawa, ora ilok, tidak baik, tidur di pagi hari. Nanti rejekinya ditutul pitik, dimakan ayam.

Aku selalu menikmati pagi hari ku. Walaupun kadang terasa berat. Harus bangun antara jam 3-4 pagi, saat badan masih terasa pegal karena baru saja istirahat 3 jam sebelumnya. Tetapi, pagi hari memang penuh berkah. Rasa pegal dan kantuk hilang seketika, saat air wudlu yang dingin dan segar itu membasuhi muka ku. Sejenak berganti dengan keteduhan hati, ketentraman jiwa, dan kejernihan pikiran, saat kurapalkan do’a-do’a untuk memulai hari ku.

Aku selalu menikmati pagi hari ku. Alam dan orang-orang yang aku jumpai di jalan dan waktu yang sama itu selalu menggairahkan imajinasiku. Jalan setapak yang selalu aku susuri bersama sepeda ontel ku sebelum jam 5 dan setelah jam 8 pagi itu terlalu banyak menyimpan kenangan-kenangan dalam hidup ku. Aku selalu mengayuh sepedaku sangat perlahan di jalan itu. Sekedar untuk lebih khusuk mendengarkan cicit cuit-cuit nyanyian burung-burung  yang bertengger di atas ranting-ranting pepohonan yang berjejer-jejer rapat di kiri kanan jalan itu. Indah nian, suara orkestra alam ini.

Aku selalu menikmati pagi hari ku. Di jalan itu, setiap pagi hari aku nyaris selalu bertemu dengan orang-orang yang sama, di tempat dan waktu yang juga nyaris sama, tetapi kami tidak saling mengenal, tapi kami tidak saling bertegur sama. Hanya bertukar senyum, itupun hanya kadang-kadang saja. Orang-orang yang bertaburan dari rumahnya menjemput rejekinya masing-masing. Bagaikan segerombolan ayam yang keluar dari kombong nya, sobo kebon, mengais rejekinya masing-masing. Bagaikan sekawanan burung-burung yang terbang meninggalnya sarangnya, bertebaran kesana kemiri, dan kembali ke sarangnya dalam keadaan penuh temboloknya di senja hari.

Ada seorang pemuda yang selalu saya temui di jembatan kayu, nongkrong di atas sepeda ontelnya yang bersandar di jembatan sempit itu, sambil sedat sedut kebal-kebul menikmati setiap sedotan rokok di jarinya.  Saya hanya membatin, wah ini anak muda, kalau di negara saya, bisa jadi artis yang digandrungi  para remaja putri baru gede kemaren sore yang menjerit-jerit histeris berebut ingin menjadi rokoknya. Karena ketampanan dan ke’cool’anya tak kalah dengan yang namanya Aliando ataupun Algazali.

Ada cewek cantik berbibir tipis, berambut pirang, yang pipinya selalu terlihat kemerah-merahan. Terlihat jelas aura kecapekan di wajahnya. Sepertinya dia telah menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda ontelnya.

Ada seorang kakek tua, yang mengayuh sepedanya dengan sangat perlahan. Lampu sepedanya terlalu besar, kelap-kelip lampu merah itu menyilaukan mata ku yang selalu sabar menunggu di belakangnya,  tanpa pernah berani menyalipnya. Di boncengan sepedanya, ada tas ala Pak Pos tempo doeloe, yang membuat aku selalu penasaran apa isinya.

Ada seorang ibu, bersama dua bocah laki-laki, yang aku taksir berumur 4 dan 8 tahun. Si sulung bersepeda paling depan, disusul ibunya, yang terlalu sering menoleh ke belakang, memperhatikan si bungsu yang mengayuh sepeda mungilnya dengan gerak paling lambat dan sering terhenti. Si sulung kadang terlihat tidak sabar, dia menunggu diujung jalan, sambil khusuk membaca buku di atas sepedanya.

Ada seorang lelaki bertubuh kekar, berambut gondrong yang dikuncir di belakang, yang selalu berlari cepat dengan tas ransel berlawanan arah dengan ku. Di selalu memakai hoodie berwarna hijau muda.

Ada seorang gadis remaja bertato, berambut cepak yang selalu berjalan sangat cepat  sendirian berlawanan arah dengan ku. Menurutku, dia lebih cocok jadi model majalah fashion. Model pakaianya tidak lazim. Modelnya unik dan selalu berganti model setiap hari. Terlalu banyak aksessoris yang menempel ditubuh dan pakaianya itu. Dari ujung rambut yang sering berganti warna, hingga pergelangan kaki ada aksesorisnya. Aksesoris itu pun selalu berganti setiap hari.

Ada seorang lelaki hitam berambut gimbal ala mbah surip yang berjalan berlawanan arah dengan ku tepat di bawah jembatan rel kereta api. Model pakaianya kayak gelandangan, tetapi mengingatkan ku konsep pakaian Dicky adam, anak didik mbak Anggun diacara Xfactor Indonesia itu. Di kepalanya selalu melingkar headset berwarna putih bermotif bintang-bintang.

Ada mbak-mbak bertubuh tinggi sangat besar, bagian dadanya juga terlihat dua gundukan yang sangat besar sekali . Yang berjalan sangat berwibawa seolah jalanan yang dinjaknya bergetar karena hentakan langkah-langkah kakinya. Rambutnya yang sangat lebat dan panjang selalu dibiarkanya terurai bebas ke belakang. Dia selalu memakai kain tebal dan panjang, yang diikat ujung nya di lehernya, dan membentang menutupi bagian belakang tubuhnya, menjuntang ke bawah nyaris menyentuh tanah.

Ada juga seorang lelaki berwajah Arab yang menggandeng bocah kecil yang berjalan kecil di sampingnya. Wajahnya terlihat sangat teduh, senyumnya selalu tersungging menghias bibirnya. Dari auranya terbaca bahwa lelaki ini adalah orang yang sangat sabar dan sangat ikhlas menjalani kehidupanya.

Hai, orang-orang yang selalu saya temui di jalan itu. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita kehidupan ku. Sayang, kita tak pernah saling mengenal. Kuyakin, ini bukanlah sebuah kebetulan. Tetapi untuk sebuh alasan yang baru besok atau besoknya lagi terungkap oleh ku.

Bichester: Desa Wisata Penjual Gaya Hidup di Inggris

… gaya hidup mewah dan konsumtif kini pun bukan lagi godaan, melainkan sudah meningkat seakan menjadi teror. Pikiran dan selera masyarakat dihadang oleh iklan terutama melalui layar televisi. – Prof. Komaruddin Hidayat

” Dior, Prada, Fosil, Blueberry, Hermes, Gucci “,  apa yang terlintas di pikiran sampean ketika mendengar nama ini? Beruntunglah,  jika sampean tidak mengenal nama-nama itu. Karena, di jaman serba kebendaan seperti saat ini, lebih sering manusia dilihat dan dinilai dari apa-apa yang melekat pada dirinya, bukan lagi kemanusiaan manusia itu sendiri. Merek-merek diataslah, yang memberikan nilai tinggi pada jaman yang katanya jaman kemajuan seperti saat ini.

bichester_sign_board

Desa Bichester, UK

Banyak sekali orang-orang yang merasa kehormatan dan kepercayaan dirinya meningkat drastis, hanya karena barang-barang dengan merek di atas melekat di badanya. Merek yang melambangkan status sosial. Bahkan mungkin status kemanusianya.

bichester_prada

Outlet-outlet Merek  Apparel termahal sejagad

Tak heran, jika banyak orang mengimpikan bisa berjalan-jalan di kota-kota paling glamour di dunia, seperti London, Paris, Milan, Newyork, Singapore, dengan kedua tanganya menentang tas belanjaan barang merek-merek di atas. Kemudian memamerkan fotonya di akun media jejaring sesosialnya. Wes, jian kalau sudah begitu, seolah mulia sekali hidupnya.

bichesther_the_fo

Mereka yang kalap Belanja

Pada liburan musim panas beberapa bulan yang lalu, saya bersama teman-teman Indonesia, rombongan satu bus mengadakan piknik berjamaah ke kota Oxford. Sepulang dari Oxford, dalam perjalanan pulang ke Nottingham, kami sengaja mampir di sebuah desa yang cukup terkenal di Inggris, namanya desa Bichester.

bichester_mushola

Mushola, di pojok Outlet Barang Mahal

Bayangan saya,  saya akan menikmati suasana desa yang hangat dan bersahabat dengan budaya British nya yang masih sangat kental. Rupanya, desa yang satu ini tidak lazim. Desa ini terkenal bukan karena pesona kendesoanya, tetapi anehnya terkenal karena menjual barang-barang yang lazimnya dijual di kota-kota besar sekelas London dan Paris. Yah, desa yang memiliki ‘pasar’ yang hanya menjual barang-barang merek termahal di dunia.

bichester_fotobareng

Bapak-bapak yang Nungguin Pasanganya window shopping

Layaknya sebuah desa, Bichester ini suasananya tenang. Tetapi begitu sampai di pusat desa, ada pemandangan sedikit berbeda. Ada Satu komplek perumahan yang bangunanya semuanya satu lantai. Ada mobil-mobil mewah terparkir berjajar di seberang jalan dari kompleks itu. Dan setiap dari rumah itu adalah outlet barang ‘apparel’ merek-merek paling  mahal sejagad ada disitu. Mulai dari parfum, jam tangan, tas, hingga celana dalam yang biasa dipakai artis-artis hollywood ada disitu semua.

Bagi yang terbiasa bergelimang harta, memasuki komplek ini mungkin terasa seperti memasuki syurga belanja. Tetapi bagi saya yang balungan kere sejak dalam kandungan ini, berada di kompleks ini terasa begitu menyiksa bahkan meneror.

bichester_kudajingkrak

Orang Kaya dengan Kuda Jingkraknya

Saya coba window shopping di salah satu outlet baju yang berjajar-jajar itu. Wau, baru saja masuk, rasanya sudah langsung diintimidasi. Pandangan pertama langsung disapa tulisan besar, “From £350 (setara Rp. 7.000.000)” . Jian, tulisan itu buat saya tak ada bedanya dengan tulisan ” orang miskin dilarang masuk”.  Haha, saya selama di Inggris, paling banter belanja pakaian ya di Primark, dimana harganya hanya 1/100 dari harga di outlet itu. Lebih seringnya belanja pakaian bekas di Carboot, yang banyak jualan baju seharga £1, hehe.

Karena terlanjur masuk, saya pura-pura saja megang-megang baju mahal itu. Saya nggumun sekali, kok ya ada baju seharga diatas £1000. Alamak. Saking penasaranya, tangan saya tak masukkan ke baju mahal itu, dan saya rasakan sensasinya perlahan. Haha, benar juga sih rasanya adem. Kata teman saya, itu baju kalau pas musim panas bisa mengademkan, kalau di musim dingin berubah bisa menghangatkan. Wah, cerdas sekali baju itu, pantesan semahal itu ya.

bichester_angkot

Eit, anomali: masih ada Angkot juga 😀

Meskipun, hampir semua barang-barang yang melekat di badan itu, dilabeli merek-merek asal kota mode dunia seperti London, Paris. dan Milan. Sudah rahasia umum, kalau sebenarnya barang-barang itu diproduksi di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Yah, barang-barang super mahal itu adalah hasil karya tangan-tangan manusia setengah robot, para buruh pabrik yang harus bekerja shift 24 jama sehari, 7 hari seminggu, di negara yang tanahnya subur, gemah ripah loh jinawi. Para buruh pabrik yang dibayar sangat murah, yang total upah buruh jutaan itu tidak ada satu persen dari keuntungan pemilik modal,  dan total upah jutaan buruh itu lebih murah dari bayaran seorang model iklan dari barang yang dijual itu.

Setiap melihat label barang bahal itu tertulis made in Indonesia, hati saya langsung merasa ngenes. Ini barang bahan bakunya dari negeri saya,  tempat pabrik dan buruhnya juga dari saya, yang semuanya dibeli dengan sangat-sangat murah. Kemudian setelah dilabeli, menjadilah barang yang sangat-sangat mahal, yang sebagian dibeli kembali orang-orang di negara saya ketika menghabiskan uangnya di luar negeri.

Eyalah, siapa untung siapa yang buntung? Siapa yang bodoh, siapa yang diakadali? Bagaimanapun juga, yang memiliki modal yang paling serakah menikmati keuntunganya. Dan saudara-saudari saya, para buruh pabrik yang ikhlas itu, sampai kapanpun ya tetap miskin. Mereka tak punya pilihan, selain menjeratkan dirinya pada sistem perbudakan modern yang sangat tidak adil itu.

Di komplek outlet barang mahal itu, orang-orang terlihat begitu kalap belanja. Menariknya, banyak sekali yang belanja luar biasa banyaknya itu banyak perempuan-perempuan Arab lengkap dengan pakaian serba hitam dan cadar yang membungkus nyaris sempurna tubuhnya.  Sampai-sampai, di komplek yang tidak sebegitu luas itu, disediakan tempat khusus untuk sholat. Dan mushola itu antrianya tidak pernah sepi. Artinya banyak dari yang belanja itu adalah orang-orang muslim.

Dalam hati saya heran, perempuan-perempuan Arab ini lowh, mau bergaya bagaimana dengan pakaian mahal-mahal itu? Toh apapun dalamanya yang terlihat hanya balutan kain hitam polos itu? Hehe, ternyata saya salah sangka. Kata seorang teman yang pernah masuk ke komunitas mereka. Para perempuan Arab itu mereka juga punya acara layaknya Arisan ibu-ibu sosialita di Jakarta. Dimana para perempuan Arab itu akan bertemu dengan sesamanya, disana mereka membuka jilbabnya dan memamerkan semua yang melekat di badan mereka. Dan nilai mereka juga dinilai dari merek barang-barang yang melekat di badan mereka itu. Itulah sebabnya, kenapa mereka banyak yang memburu barang-barang super branded itu. Oalah, ternyata, sama saja haha.

Berjam-jam, kami menghabiskan sore yang panjang di musim panas itu hanya untuk melihat-melihat orang belanja. Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal di hati saya, kenapa ya barang-barang mahal itu di Jual di Desa? bukanya lazimnya, orang-orang yang kaya itu belanjanya ya di kota besar? Mungkin untuk mengurangi biaya sewa tempat, kan di desa seharusnya jauh lebih murah. Tapi ya kalau jauh dari kota besar, siapa yang mau harus menuju desa untuk harga yang lebih murah. Benar, kata salah seorang teman saya, bahwa barang yang sama, tidak ada KW ya di negara ini, harga barang di desa penjual gaya hidup ini lebih murah cukup signifikan jika dibandingkan dengan harga di London. Yah pantesan, meskipun di desa, tempat belanja ini diserbu ribuan pembeli tiap harinya.

So, buat sampean yang ingin bergaya hidupnya, jika jalan-jalan ke London, mampirlah belanja di desa penjual gaya hidup ini ! Tetapi buat sampean yang sudah merasa cukup dengan kemanusiaan kalian, tak perlulah membeli nilai dengan barang-barang yang menempel di badan kita. Sampean mau dinilai orang karena kemanusian sampean sendiri, atau karena yang melekat di badan sampean hayo?

Masalahnya, jama sekarang masih ada ndak ya, yang tulus menghargai kita ya karena kemanusiaan kita? Bukan karena jabatan, pendidikan, kecantikan/ketampanan, dan kekayaan yang sebenarnya semuanya hanya menempel, yang kapan saja bisa terlepas dari kita.