Bahasa Indonesia

Pulang Kampung

… hidup kadang menghadapkan kita pada keharusan membuat sebuah keputusan, tetap tinggal disini atau pulang. Dan kampung halaman, tempat kita dilahirkan dan bertumbuh kembang, seburuk apapun rupanya selalu menjadi alasan untuk segera pulang – a random thought

ilyas_pulang_kampung

Tulisan Anak Lanang Untuk Teman Sekelasnya

Selasa, tanggal 28 Februari 2017 kemarin, menjadi hari yang menyejarah bagiku. Iya, aku dan segenap keluarga ku akhirnya sampai pada saat yang paling tepat dan terindah untuk pulang. Meninggalkan kota kecil, Nottingham, yang penuh kenangan for good, most likely untuk selama-lamanya. Empat tahun lebih, hari-hari telah kulalui penuh dengan segenap rasa di kota yang nyaman ini. Oh God, I missed this city already.

Hari itu perasaanku campur aduk jadi satu. Bercampur antara bahagia, sedih, dan haru. Selama perjalanan dalam taxi dari rumah kontrakan di Nottingham ke Bandara Heathrow, London. Hati ku, pikiran ku masih larut dalam keharuan yang dalam. Terbayang-bayang lambaian tangan teman-teman melepas kepergianku. Tak terasa, air mata merembes tak tertahankan dari setiap sudut kelopak mata. Bahkan saat cerita ini kutuliskan.

Ada sedikit terbesit rasa bahagia, lega, dan bangga. Karena aku pulang dengan membawa sejumput kesuksesan. Terlepas, ukuran apa yang patut untuk mengukur kesuksesan. Setidaknya, tugas utama ku untuk belajar di kota ini, meski dengan susah payah, pada akhirnya terselesaikan juga. Tidak terbayang, betapa menyesakkan dadanya, ketika harus pulang dengan sebuah kegagalan.

Ada keharuan dan kesedihan menyelimuti hati. Bagaimanapun kehidupan  yang menyertai tugas belajarku di kota ini jauh lebih berkesan. Ada persahabatan, kesetiakawanan, dan persaudaraan yang begitu tulus yang tertinggal. Yang rasanya, akan sulit kutemukan di kemudian hari kembali. Atau bahkan tidak akan sama sekali.

Kami pulang dengan pesawat Garuda Indonesia, nomor penerbangan GA087. Dalam penerbangan langsung selama 13, 5 jam London-Jakarta, berangkat pukul 20.15 malam. Awalnya, kami sangat cemas, karena harus membawa bayi 3 bulan dalam penerbangan jauh. Tapi alhamdulilah, rupanya tak seburuk yang terbayangkan. Si kecil menangis sebentar, ketika awal-awal naik pesawat. Tetapi pada akhirnya, lebih banyak tertidur pulas di dalam basinet yang disediakan oleh cabin crew, pesawat Garuda Indonesia.

Selama di dalam pesawat yang sudah berasa seperti Indonesia itu, pikiran ku penuh dengan bayangan betapa semakin sulitnya hidup di Indonesia. Pendidikan yang masih carut marut tidak jelas konsepnya, jalanan yang semakin macet parah, suasana kota yang pengap penuh sesak, dan semakin tidak manusiawi, gaya dan nilai hidup masyarakat yang semakin konsumtif dan materialistis akut, internet yang lelet, agama yang semakin bergeser menjadi komoditas dan simbol belaka, pelayanan publik yang masih saja korup, menyulitkan, dan tidak memanusiakan. Jangan tanyakan keadilan sosial, entahlah!

Hanya saja, seburuk apapun rupanya, kampung halaman selalu menjadi alasan untuk segera pulang. Bukankah tidak ada tempat yang sempurna untuk hidup di dunia ini? Bukankah hidup hanya tempat bertanam dan berjuang? Bukankah hidup bukan untuk menikmati hidup belaka? Bukankah hidup untuk mengabdi, lalu mati?

Entahlah!  biarlah air kehidupan terus mengalir apa adanya, dan akan membawa ku kemana? Wahai ibu pertiwi, aku berniat kembali untuk mengabdi. #prett

 

Advertisements

Hidup Sederhana (Saja)

… banyak orang yang menghidupi hidup yang sejatinya bukan seperti nurani kecil mereka inginkan, tetapi hidup yang seperti apa orang lain ingin memandang – a random thought

snow_nott

Ilustrasi: Hidup yang terlihat

Kala sedang melihat kehidupan orang-orang yang menurut orang modern adalah terbelakang, ketinggalan jaman, seperti orang baduy, tengger, atau suku di pedalaman nusa tenggara sana, ataupun orang-orang desa aku sering bertanya-tanya. Betapa hidup itu begitu sederhana saja sebenarnya. Betapa semua kebutuhan hidup tersedia oleh alam. Dan mereka mengambil dari alam sebutuhnya saja.

Bukankah hidup sebenarnya sederhana saja? kita makan pun tak lebih 3 piring saja bukan? Sayang orang modern begitu serakah. Ingin menumpuk-numpuk kekayaan sendiri sebanyak-banyaknya. Untuk hidup selama-lamanya di dunia? Nyatanya tak seorangpun mampu bertahan hidup lebih dari dua ratus tahun, bukan? Diatas 60 tahun saja, hidup mu sudah sakit-sakitan?

Pun kebahagiaan, begitu sederhana juga bukan? Sesederhana seorang bocah mengumbar seulas senyum selepas mencium sekuntum melati mekar di taman di depan rumah di sore hari.

Hanya saja, kehidupan dibuat-buat semakin kompleks. Kebutuhan pun dibuat-dibuat. Orang-orang menghidupi hidup yang sejatinya, tak seperti nurani kecil mereka inginkan. Tetapi menghidupi hidup yang orang lain ingin melihat.

Orang-orang ingin menghidupi hidup seperti yang diinginkan para penjual gaya hidup. Penjual mobil, penjual rumah, penjual gadget, penjual hiburan, penjual syahwat. Para penjual pemilik keserakahan hidup. Sungguh hidup yang begitu menyebalkan dan menyesakkan. Hidup yang penuh kebutuhan yang terus dan terus bertambah. Disaat yang sama kulihat ketimpangan hidup yang semakin menganga. Kulihat kerusakan alam yang semakin memiriskan dada.

Setiap hari, kulihat banyak orang-orang memamerkan kebahagian, tetapi diam-diam hatinya menyimpan duka kesedihan yang dalam. Kulihat banyak orang memamerkan kesempurnaan hidup, tetapi diam-diam hatinya menyembunyikan kemunafikan yang menjijikkan.

Haruskah hidup penuh kepura-puraan ini kita lanjutkan? Jika ia, entah seperti apa pada akhirnya jadinya? Kalau aku bisa memilih, akan kupilih hidup sederhana saja. Bahagia yang sederhana saja. Tetapi memilih hidup sederhana di jaman ini justru tidaklah sederhana.

Nikmatnya Sejumput Kuasa

… kekuasaan itu teramat sangat nikmat, lalu melenakan – katanya

castle

Ilustrasi: Kastil Penguasa, Ghent, Belgia

Banyak sekali orang berebut kuasa. Dari jaman purbakala, hingga jaman jagat maya seperti saat ini. Tak peduli, seluas apa lingkupnya, banyak orang ingin tampil sebagai penguasa. Sayangnya, meski terlalu banyak para penguasa, dunia sedikit sekali melahirkan pemimpin. Apa bedanya? yang pasti para pemimpin selalu dirindukan dan dicintai oleh yang dipimpinya. Dan hal sebaliknya, untuk para penguasa. Dibenci diam-diam oleh orang-orang yang dikuasainya.

Kadang aku bertanya-tanya, apa nikmatnya berkuasa. Aku baru paham setelah merenungi hal-hal sederhana. Seorang supir angkot yang berkuasa pada para penumpangnya. Guru kepada murid-muridnya. Dosen kepada mahasiswanya. Dokter kepada pasienya. Bahkan seorang kakak kepada adiknya.

Intinya, kuasa itu, meski sejumput begitu nikmat rasanya. Tak heran, di banyak tempat, orang saling sikut, untuk tampil sebagai penguasa. Sayangnya, sebagaimana lazimnya, sesuatu yang nikmat itu cenderung melenakan. Tak heran jika banyak penguasa yang jumawah. Sopir yang jumawa kepada para penumpangnya, dokter yang suka menakut-nakuti pasien nya, atau dosen yang kemaki kepada mahasiswanya. Banyak bukan?

Sebenarnya aku hanya ingin bercerita, curhat lebih tepatnya. Beban batin berada di bawah belenggu kuasa ndoro dosen ku selama empat tahun lebih di kota ini. Duh menyebalkan dan menguras emosi. Punya penguasa yang pelit respect kepada karya orang lain, dan ahli mencaci maki ketidaksempurnaan orang lain, itu benar-benar melelahkan jiwa.

Meski aku sudah lulus, semalam beliau berulah lagi. Kirim lebih sepuluh email ‘caci makian’ dalam hitungan beberapa menit. Ceritanya, artikel jurnal kita sudah pada tahap akhir publishing. Editor mengirimkan ‘proof’, untuk kita periksa terakhir kali sebelum dicetak, beberapa minggu yang lalu. Dan aku tak berani submit ‘semua ok’ tanpa acc ndoro dosen. Seperti biasa, tidak ada respon dari ndoro dosen. Sampai dapat outstanding reminder dari editor, jika dalam waktu tiga hari belum ada respon, maka dianggap tidak ada revisi lagi, dan jurnal langsung naik cetak.

Dan seperti biasa, ndoro dosen baru muncul dengan sejuta komplain, beberapa jam sebelum deadline berakhir. Seperti biasanya, beliau datang dengan sejuta permasalahan tanpa solusi, kenapa kok jadi begini begitu, kurang ini kurang itu, dan aku yang harus pontang panting menyelesaikan permasalahan dan pertanyaan beliau sendiri.

Untungnya, semalam aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tetapi bukanya terima kasih, beliau masih nggerundel kok bisa ya sebelum aku benerin, ‘proof’ nya begitu horrible? Dan beliau belum acc untuk submit juga, malah saya disuruh ngemail editor untuk minta perpanjangan waktu lagi. Preketek! 

Dalam hati pun aku nggerundel , HALLO elu ini nyari masalah apa solusi? HALLO elu ini udah dikasih waktu berminggu-minggu, kenapa baru mulai kerja hanya beberapa jam sebelum deadline? HALLO kalau dirimu sibuk, apakah kau pikir orang lain tidak punya kesibukan? HALLO apakah dirimu tidak pernah berfikir bahwa kata-kata mu itu begitu mengintimidasi dan melukai? HALLO ketika diriku selalu berusaha memberi respect kenapa dirimu tak pernah membeli respect balik sedikitpun? Padahal, dalam hal publikasi jurnal ini, akulah yang seharusnya paling berkuasa, sebenarnya aku bisa saja submit tanpa memberi tahu dia, aku hanya ingin memberi respect saja sama beliau.

Hehehe, dan taukah sampean peristiwa seperti ini bukan sekali, dua kali saja. Tetapi my tipical days selama empat tahun disini. Tetapi saya paham, dengan ‘menyiksa’ ku seperti itu beliau mendapatkan kenikmatan hidup. Nikmat sejumput kuasa. Untuk melupakan sejenak permasalahan-permasalahan hidup yang lain. Dan saya paham itu sudah watak dia, gawan bayi, bawaan orok.

Alhamdulilah, akhirnya minggu depan aku bebas dari belenggu kuasa itu. Meski dalam lisan kami berjanji untuk keep in touch dan tetap kerja sama kembali. Tetapi dalam hati, rasanya males banget. Buat apa sebuah hubungan dilanjutkan jika hanya menguras emosi, melelahkan jiwa. Aku jadi kangen sama ndoro dosen ku jaman kuliah master, yang begitu sangat baik dan pandai menghargai orang lain. Yang hingga sampai sampai sekarang pun, kami masih keep in touch dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa.

Wahai ndoro dosen, mohon maaf aku menggunjing mu lagi disini. Aku tahu ini tidak baik. Hanya saja, it is my way to self healing. Daripada aku gila tak tahan menahan tekanan batin yang terus mendera. Lagian hampir tak ada satupun yang tahu siapa dirimu bukan? Catatan ini juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri, untuk tidak jumawa ketika memiliki kuasa. Sekecil apapun, kuasa itu. Aku masih dan akan selalu ingat, bagaimana menderitanya batin, lelahnya jiwa ini dealing with you. Aku berjanji, tidak akan memperlakukan mahasiswa ku kelak seperti the way engkau memperlakukan diriku. Terima kasih dan Maafkan diriku.

 

 

Ku Pendam Sendiri

… sekedar puisi-puisian – a random feeling

Senja di Rotterdam

Ilustrasi : Sunyi

Sebuah bintang,
Kelap-kelip sendirian di sudut langit.
Dalam derit keheningan sisa-sisa malam.
Ingin kuceritakan kepadanya,
Semua tentang rasa ini.

Tetapi,
Aku tak tahu dengan bahasa dan pertanda apa.

Biarlah, rasa ini, kupendam sendiri.
Dalam kebisuan nyanyian sunyi,
Dalam nestapa duka yang perih mendera.

Meski, aku harus terkapar,
Terbakar bara api rasa ku sendiri.

Biarlah.
Kutanggung sendiri.

Nottingham, 31 Januari 2017

Di Pangkuan mu

… sekedar puisi-puisian – a random feeling

emak_dalam_foto

Emak

Emak,
Entah kenapa tiba-tiba hari ini,
Aku ingin kembali menjadi bocah,
Lelaki kecil mu kembali.

Ingin kurebahkan tubuh dan kuselonjorkan kaki di lantai,
Dan kusandarkan kepala ku di pangkuan mu.
Sambil kuciumi kain mu yang telah lusuh dan apek itu.

Lalu kau belai-belai rambut ku dengan telapak tangan mu yang kasar itu,
Kini kutahu mak, telapak tangan mu itu bercerita,
Bahwa kau telah bekerja sangat keras untuk menghidupi ku.

Lalu kau dongengkan kepada ku sebuah cerita,
Tokoh-tokoh wayang yang perkasa, yang luhur budinya itu.
Kini ku tahu mak,
Kau mengajariku tentang perjuangan, kejujuran, dan kebaikan.
Tentang pentingnya ketinggian ilmu, kesabaran, dan juga kewaspadaan.

Emak,
Aku ingin tertidur lelap dalam pangkuan mu, sekali lagi saja.
Ingin kudengarkan dongeng mu kembali.
Lalu ingin aku bertanya,
Kenapa di dunia nyata di negeriku tak ada tokoh-tokoh seperti itu.
Kenapa di negeri ku penuh dengan para kurawa mak?

Emak,
Semoga engkau sehat selalu ya mak !

Nottingham, 29 Januari 2017