Advertisements

Category Archives: Bahasa Indonesia

Cerita Sendu dari Bangku Kereta Senja

Life is like piano the white keys represent happiness and the black keys represent sadness. But, as you go through life journey remember that the black keys also make music – taken from random place

Jendela Kereta Senja

Kemaren, selepas sholat maghrib jamaah di mushola stasiun, aku seperti biasa, naik kereta senja. Kereta kelas ekonomi, jurusan terakhir lewat kota Malang. Pendingin ruangan yang dipasang di gerbong kereta api senja itu terasa sangat dingin sekali. Untung saya memakai hoodie.

Susunan kursi kereta ekonomi ini sama dengan bus ekonomi, susunan dua-tiga. Bangku sisi kanan gerbong untuk dua orang dan bangku sisi kiri untuk tiga orang, dengan penomoran kursi ABCDE, dimulai dari yang paling kiri.

Aku kebetulan dapat kursi dengan nomor D, yang artinya aku duduk dikursi yang untuk dua orang. Dari stasiun keberangkatan, sebelah kanan ku ada seorang mbak-mbak muda, sementara kursi di depan ku masing kosong.

Di pemberhentian stasiun berikutnya, kursi di depanku terisi oleh dua orang perempuan. Yang satu, usianya saya taksir lima puluh menjelang enam puluh tahun. Pakai baju kurung lengkap dengan jilbab sederhananya yang terlihat masih cantik di usia senjanya. Satunya lagi, embak-embak muda, cantik badanya montok, rambutnya digerai sebahu dicat warna pirang. Bila diperhatikan lebih dalam, dua wajah perempuan itu amatlah mirip.

Aku sangat yakin, hubungan keduanya adalah ibu dan anak. Yang menyita perhatianku adalah bayi perempuan yang menangis lirih di gendongan si perempuan muda. Dua perempuan itu sibuk menenangkan si bayi. Siapa pun yang melihat si bayi pasti berfikiran yang sama dengan ku. “There is something wrong” dengan si bayi. Usia bayi perempuan itu 15 bulan. Kepalanya mengecil sehingga terlihat agak aneh. Sementara tangan kiri dan kaki kirinya terlihat kaku seperti tidak bisa digerakkan. Dan kaki kirinya dalam kondisi diperban. Katanya baru saja di gips. Si genduk terus saja menangis lirih, aura wajahnya memancarkan rasa kesakitan yang amat dalam. Si ibu, berusaha menenangkan dengan memberi botol susu, tapi tangisnya tak juga reda.

“duh, kasihan banget sampean nduk”. Tak terasa, mata ini mbrebes mili. Untung aku lagi batuk dan membawa segepok tisu di tas.

Ini bukan kali pertama aku melihat bayi-bayi tak berdosa itu diuji dengan sakit. Kapan hari aku bertemu dengan seorang bayi perempuan yang menderita hidorsefalu, kepalanya membesar. Ada juga bocah laki-laki yang ada tumor di kepalanya. Ada juga bayi perempuan yang harus dipasang selang dihidungnya untuk selamanya.

Kemarenya lagi bertemu dengan seorang kakek yang sedang dalam perjalanan dengan cucunya lelaki yang sudah berumur 22 tahun, tapi tingkahnya seperti anak-anak. Konon sejak umur dua tahun, ayahnya meninggal dunia, dan sejak umur 12 tahun hingga saat ini mengalami sakit gangguan jiwa. Duh ya Allah, semoga segera kau sembuhkan hamba-hamba mu yang kau cintai.

Begitulah hidup, it is not all about happiness, but sometime about sadness. Jika sedang bahagia, janganlah banget-banget, jika sedang bersedih bersabarlah, kebahagiaan sedang menanti mu.

Advertisements

Lima Cerita, Hidup Sederhana

… mengapa hidup sederhana? karena kalau ada hal yang mampu kita lakukan dengan baik dalam hidup ini, itu tak lain adalah membuat segala sesuatu menjadi rumit! – hidup sederhana, desi anwar

Hidup Sederhana, Desi Anwar

Kemaren, dan kemaren nya lagi cukup lama, aku untuk ke sekian kalinya terdampar di belantara beton ibu kota. Sendirian tentunya. Killing time, sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang masih terlalu lama dengan menyusuri sudut-sudut kota saat sebagian besar penduduknya sedang sibuk di depan layar monitor di balik pohon-pohon beton yang tinggi besar, seolah ingin menyundul langit.

Ada kebahagian sendiri, ketika orang-orang terlalu sibuk dengan aktivitasnya, sementara aku do nothing, mbambung ndak jelas. Menjadi penonton kehidupan orang-orang yang larut dalam kesibukan hidupnya masing-masing.

Dari sudut-sudut gang sempit yang riuh dan kumuh, sampai pusat perbelanjaan elit, senayan city, thanks to Gojek. Pagi itu, aku menjadi salah satu pengunjung pertama mall yang baru buka. Sepi, mungkin karena hari kerja.

Sudah kuduga, di mall ini yang ada hanyalah lapak toko-toko brand luar negeri. Untung aku pernah tinggal di luar negeri, sehingga cukup familiar dengan nama brand-brand itu. Setelah muter-muter ndak jelas, pada akhirnya aku mampir ke lapak toko pakaian bayi. Sungguh ndak enak banget, diperhatikan mbak-mbak penjaga toko.

Gila, lo harganya mahal-mahal banget. Celana bayi doang, harganya paling murah 350 ribu rupiah. Sebenarnya ndak mahal, akunya saja yang miskin haha. Perasaan dulu, di Inggris tidak sulit nyarik celana bayi seharga 1-5 poundsterling (20-100 ribu rupiah). Nah, ketika dijual di negara ini, kenapa harganya jadi berlipat-lipat mahalnya haha.

Akhirnya saya urung membeli oleh-oleh sepotong celana bayi. Setelah naik turun lantai ndak jelas, akhirnya ketemu toko buku dengan jaringan terbesar di Indonesia. Dan di rak buku-buku baru, aku menemukan buku bagus: Lima Cerita karya Desi Anwar. Nah, sebenarnya, dalam tulisan ini aku sekedar ingin mereview buku ini, tapi kok ya ceritanya jadi muter-muter ndak jelas.

Yah, ini adalah buku kedua dari Desi Anwar yang pernah aku baca. Sebelumnya aku pernah membaca buku sang wartawan senior ini yang berjudul faces and places. Bagus sekali tulisanya. Sederhana tapi kata-katanya sangat berbobot. Aku betul-betul jatuh cinta dengan cara Desi Anwar bercerita.

Sesuai judulnya, buku ini terdiri dari lima cerita, yang aku sangat yakin, meski seolah tulisan fiksi, tapi dituliskan berdasarkan true story kehidupan Desi Anwar. Yang aku suka dari Desi Anwar adalah sudut pandang yang berbeda dari orang-orang kebanyakan terhadap kehidupan. Di buku ini, Desi Anwar juga bercerita tentang kehidupan masa kecil hingga masa remaja saat kuliah di London. Dari cerita sederhana mencari kos-kosan, Desi Anwar menyelipkan cerita rumah tangga yang tampak seolah sempurna, ternyata menyimpan permasalahan yang pelik. Kejujuran desi anwar dalam lima cerita ini sungguh, keberanian yang luar biasa. Yang tidak banyak dimiliki penulis pada umumnya, yang biasanya banyak pencitraanya.

Faces and places dan lima cerita adalah buku yang sangat berbobot, bahkan tidak berlebihan rasanya, adalah buku terbaik tulisan orang indonesia, setidaknya versi saya. Aku begitu ketagihan dengan tulisan Desi Anwar, yang pada akhirnya mengantarkan saya menemukan buku lama beliau: Hidup Sederhana. Beruntung, meskipun susah menemukan di toko buku, akhirnya menemukan buku bekasnya di toko online.

Hidup sederhana adalah kumpulan cerita-cerita singkat tentang hal-hal sederhana dalam hidup, seperti leyeh-leyeh, minum teh, berkebun. Meskipun cerita sederhana, tapi sangat menyentil pola fikir kita kebanyakan dalam memandang kehidupan. Setelah membaca buku ini, aku jadi lebih menghargai hal-hal sederhana dalam hidup, yang justru dari hal-hal sederhana dalam hidup inilah, kita justru akan lebih memahami kehidupan ini.

Cukup sekian saja ya tulisan ini, sebagi tombo kangen karena sudah lama tidak menulis. Silahkan baca tiga buku tadi ya, dijamin sangat bermakna! Selamat beraktivitas! Semoga kalian berbahagia hari ini, esok, dan hari-hari berikut nya!


Masih Efektifkah Menggunakan Mesin Absensi Sidik Jari

Mungkin anda pernah bertanya di dalam benak anda masih efektikkah menggunakan absensi sidik jari? Bukan nya sekarang ini sudah ada teknologi aplikasi absensi android modern yang bisa dijadikan pengganti absensi sidik jari? Jawabannya memang tidak mudah untuk dijelaskan karena setiap sistem absensi ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing.

Tapi jika berbicara mengenai teknologi, perkembangan teknologi tentunya selaras dengan perkembangan fungsi yang bisa dibilang lebih baik, artinya kelebihan aplikasi absensi android memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh absensi sidik jari. Kita akan membahas mengenai kemungkinan absensi sidik jari, tidak seefektif aplikasi absensi android di jaman sekarang ini.

Baiklah kita akan membahas mengenai mengapa absensi sidik jari tidak seefektif aplikasi absensi mobile

1.    Penerapan Dan Installasi Fingerprint Tergolong Mahal

Jika dibandingkan dengan aplikasi absensi berbasis mobile, memasang sistem absensi fingerprint ini tergolong sangatlah mahal. Alat dan juga perangkat yang digunakan untuk memasang perlengkapan ini bisa memakan dana, budget yang tidak sedikit. Belum lagi proses pengambilan data yang kemungkinan tidak secara real-time, tidak seperti di aplikasi absensi android yang bisa diambil datanya secara real-time atau langsung.

Belum lagi permasalahan seperti mesin fingerprint sendiri yang belum tentu mampu untuk dipakai banyak orang, serta jika ingin mengintegrasikan dengan sistem yang lain akan menambah budget yang harus dikeluarkan. Sangat berbeda dengan menggunakan absensi berbasis mobile, Proses instalasi tidak rumit dan juga menawarkan banyak kelebihan serta fitur HR lainnya yang tentunya memudahkan pekerjaan anda.

Baca Juga : LinovHR Mobile Attendance: Teknologi Absensi Via Smartphone

2.    Terkadang Mesin Absensi Sidik Jari Tidak Bisa Diandalkan

Yang dimaksud dengan tidak dapat diandalkan adalah terkadang mesin absensi sidik jari membutuhkan waktu lama untuk membaca image sidik jari milik kita, atau dalam kasus tertentu sering gagal dalam membaca sidik jari. Tentunya anda tidak mau berdiri lama di depan mesin absensi sidik jari dan menunggu sampai akhirnya mesin sidik jari menerima absensi anda. Selain itu kita harus benar – benar memastikan sidik jari milik kita bersih sehingga bisa dibaca dengan baik oleh mesin sidik jari.

Berbeda dengan aplikasi absensi berbasis mobile yang bisa dengan mudah untuk check in dan check out jam kerja. Kekurangannya mungkin anda harus menghapal sedikit passcode, username atau kode yang sudah diberikan kepada admin kepada anda. Selain itu anda juga bisa langsung melihat jam kerja yang anda jalani secara langsung dan real-time.

3.    Mesin Sidik Jari Memiliki Biaya Maintenance dan Perawatan Yang Rumit dan Mahal

Sebelumnya kita mengetahui bahwa pemasangan dan juga instalasi mesin absensi sidik jari lebih mahal daripada aplikasi absensi android. Perawatan mesin ini juga memiliki tingkat kerumitan dan juga tergolong mahal. Sebagai contoh anda ingin memperbaiki mesin sidik jari yang rusak, tentunya memerlukan teknisi sendiri  dan membutuhkan tambahan pengeluaran.

Dibandingkan dengan aplikasi absensi android mesin absensi sidik jari juga tidak bisa digunakan dalam jangka yang melebihi aplikasi absensi android. Katakanlah kemungkinan anda harus mengganti mesin setiap 2, 3 atau 5 tahun sekali agar sistem bekerja dengan baik. Dengan menggunakan aplikasi absensi android ini perawatannya lebih mudah dan tidak akan menambah pengeluaran dana di perusahaan anda.

Kesimpulan

Mesin absensi sidik jari dan juga aplikasi absensi android memang berbeda dan memiliki kelebihan masing – masing. Dari segi pemasangan, penerapan, dan perawatan bisa jadi menjadi faktor perbedaan yang mencolok.

Jika perusahaan memiliki banyak kantor cabang dan karyawan yang sering bekerja di lapangan maka aplikasi absensi berbasis android dapat menjadi pilihan yang tepat, Tetapi jika sebaliknya maka absensi sidik jari masih menjadi pilihan yang cocok bagi perusahaan tersebut.


Menunggu Matahari Tenggelam di Alas Purwo

.. tak terasa gelap pun jatuh Di ujung malam menuju pagi yang dingin Hanya ada sedikit bintang malam ini. – Payung Teduh

Senja di Pantai Pancur, Alas Purwo

Banyak cerita yang belum sempat dituliskan. Semua menumpuk di sudut fikiran. Sayang semakin sedikit waktu dan momentum yang tepat untuk menuliskanya. Buat ku, tulisan hanya akan lahir dari momentum: perpaduan hati, fikir, dan suasana yang tepat. Baiklah, akan kutuliskan cerita teratas dari tumpukan cerita itu pada mu hari ini.

Akhir pekan lalu aku akhirnya sampai juga aku menginjakkan kaki di ujung selatan paling timur Pulau Jawa. Kalau lihat di peta, tempat itu adalah Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi. Salah satu hutan dari sangat sedikit hutan yang masih tersisa di Pulau Jawa, yang masih aman dari keserakahan manusia.  Meski dari lahir hingga remaja hidup di Banyuwangi, baru kali ini aku ke tempat ini. Sebelumnya, aku hanya tahu nama, alas purwo yang terkenal wingit itu.

The Team

Kami datang bersama rombongan 16 orang. Delapan orang dari ITS dan sisanya dari Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Berasan, Muncar, Banyuwangi. Berangkat dari desa wringin putih, kami menyusuri jalur darat terus ke arah selatan. Pemandangan sepanjang perjalanan, sungguh menyenangkan. Hiburan yang menarik hati orang-orang yang jenuh dengan keruwetan dan kebisingan kota.

Persawahan yang menghijau royo-royo. Didominasi tanaman jeruk, buah naga, jagung, dan padi. Lewat areal persawahan, pemandangan berubah jadi pemandangan hutan pohon jati yang rimbun, sebelum akhirnya pemandangan hutan belantara. Suasana tenang, udara segar, dan jalanan mulus. Saking rimbunya, suasana seperti temaram menjelang waktu maghrib, padahal masih belum genap pukul empat sore. Terbayang betapa asyinya sepedahan menyusuri hutan ini.

Suasana tenang berubah jadi riuh saat sampai pos penjagaan Taman Nasional Alas Purwo. Rupanya, di pos penjagaan ini titik temu semua pengunjung. Melewati Pos Penjagaan ada beberapa spot yang bisa dikunjungi. Diantaranya yang paling terkenal adalah savana dengan bantengnya, Pantai Plengkung dan Pantai Pancur.

Kami memilih yang terdekat saja yaitu Pantai Pancur. Tidak ada yang istimewa dari pantai ini sebenarnya, selain lokasinya yang di ujung selatan Alas Purwo. Mungkin karena akhir pekan, banyak pengunjung di pantai ini. Sedikitnya terlihat tiga pasang calon pengantin yang sedang melakukan pemotretan pre-wedding di pantai ini. Menyaksikan perahu nelayan terombang ambing bersama matahari yang perlahan-lahan tenggelam di balik laut lepas, di penghujung senja adalah momentum paling menakjubkan di pantai ini. Ada keindahan perasaan yang sulit untuk dilukiskan.

Setelah matahari tenggelam, hari pun telah surup. Gelap perlahan datang menyergap. Banyak orang masih bertahan di bibir pantai. Kabarnya, banyak yang menginap, menyepi di pinggir pantai alas purwo ini. Atau barangkali mencari wangsit, atau sekedar menenangkan fikiran. Entahlah. Kami beranjak pergi meninggalkan pantai. Ada Mushola berbentuk rumah panggung di dekat pantai. Kami sholat maghrib untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


Teman Jailangkung

… datang tak diundang, pulang ngacir sendiri, itu jailangkung bukan teman – a random thought

tanjung_aan_3

a random illustration

Pola interaksi sosial antar manusia kadang memang lucu, salah satunya adalah dalam interaksi pertemanan. Ada teman dekat, yah teman karena secara fisik berdekatan dengan kita. Ada teman say hello, teman yang sekedar kenal nama dan tahu tempat tinggal/kerja doang tak pernah ngobrol heart to heart. Ada teman sejati, teman yang awet terus, tahan lama, meski sudah punya kehidupan sendiri-sendiri masih saja keep in touch. Yang ini berteman ya sekedar berteman saja tanpa ada niat yang lain. Ada teman bitonah, alias teman penjilat. Yang satu ini nih, berteman with purpose. Elu kudu ati-ati!

Belakangan ada lagi varian baru, namanya teman jailangkung.  Dia tidak masuk varian teman di atas. Tidak termasuk juga bitonah. Teman tipe ini suka muncul tiba-tiba dan menghilang tanpa jejak tiba-tiba juga. Eh, setelah jangka waktu yang lama kemudian muncul kembali secara tiba-tiba, dan menghilang lagi dan repeat! Jelas teman tipe ini tidak merugikan, tapi lucu sekali macam Jailangkung.

Jika sedang muncul, kita dibuat merasa orang paling penting banget buat dia. Eh, begitu kita sambut hangat, akan segera menghilang tanpa pesan, meninggalkan setumpuk tanda tanya. Membuat jengkel sih, eh tapi kok juga ngangenin haha. Benar-benar varian teman yang lucu.

Ada yang punya teman varian ini?