Bahasa Indonesia

Bid’ah dan Inovasi

… pendidikan disini menjadikan anak-anak kreatif sementara di tempat kita menjadikan anak-anak ensiklopedik. – a random thought

inovasi_ilyas

Anak Lanang dengan Inovasi Pesawatnya

Kemaren, yang telah lama berlalu, selepas sholat subuh jamaah di masjid. Ada seseorang yang menegurku. ” you have made an innovation, and it is not allowed in islam”  begitu, kira-kira pesan yang ingin disampaikan. Dia menggunakan kata “innovation” untuk menerjemahkan kata Bid’ah.

Rupanya tidak hanya di Indonesia, dimana teman-teman kelompok salafi, begitu gencar menyerang perilaku bid’ah, dimana NU, ormas Islam terbesar dengan jamaahnya yang ratusan juta itu (aku salah satunya), menjadi sasaran tembaknya; disini pun aku juga sudah berkali-kali divonis ahli bid’ah. Haha.

Ceritanya, setelah sholat, sebagai orang yang punya sentimental brain, aku sering sujud syukur. Intinya curhat kepada Allah, dan tentunya bersyukur atas segala apa yang telah Tuhan beri dalam kehidupan ini. Eh, malah divonis haram.

Aku pun enteng-enteng saja menanggapinya, meskipun dalam hati sambil ngomel: “Bid`ah endas mu, ngising mari sholat wae oleh, opo maneh sujud syukur“. Saya hanya bilang “thank you for your concern, but probably, we have different understanding“. Yah namanya orang, meskipun rambut sama hitamnya, tetapi isinya beda. Termasuk cara memahami agama. Mungkin mereka yang suka memvonis bid’ah itu, memahami agama dengan sangat textual. Jadi, apa-apa yang tidak secara explisit tertulis di buku-buku teks agama, yang sebenarnya buku-buku itu juga bikinan manusia, ya hukumnya haram. Sementara diriku, lebih senang memahami agama secara kontekstual. Latar belakang pendidikan yang berbeda pun menjadikan pemahaman kita yang berbeda.

Seingatku, selama ngaji fiqih di pesantren dulu, sholat itu dimulai takbir dan ditutup dengan salam. Jadi sependek pemahaman ku, setelah salam ya bebas kita mau ngapain saja boleh. Mau langsung ngising saja boleh, apalagi bersalaman atau bersujud syukur.

Tetapi saya sangat maklum dengan perbedaan pemahaman itu. Dan bukan kapasitas ku, menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Sungguh, wallahu a’lam bissowab. Hanya Allah yang maha mengetahui kebenaranya.

***

Tetapi aku sedang ingin menceritakan tentang Inovasi yang lain. Inovasi dalam membangun peradaban manusia di dunia, bukan peradaban di akhirat. Tentang bagaimana di Inggris ini rupanya semangat menciptakan inovasi sudah dibiasakan sejak bayek. Tak heran, jika banyak inovasi berdatangan dari negeri Inggris ini.

Inovasi inilah pemicu pertumbuhan ekonomi utama di negara maju, bukan konsumsi seperti di negara berkembang seperti di Indonesia. Boleh-boleh saja di media, pemerintah membangga-banggakan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik di dunia nomor tiga di dunia (padahal sebenarnya kurang tepat, lebih tepatnya nomor 3 diantara negara G20, dan banyak negara lain di luar G20 yang pertumbuhan ekonominya lebih tinggi daripada Indonesia, lihat disini), mengalahkan Inggris. Tetapi apalah artinya pertumbuhan ekonomi ranking segitu, jika pendapatan perkapita (yang menunjukan tingkat kesejahteraan) kita masih nomor 158 (yang jarang diekspos media).

Ceritanya kemaren pas liburan musim dingin, karena aku benar-benar nganggur jadi bisa mengamati perkembangan dan tingkah polah anak lanang dari bangun tidur hingga tidur lagi. Rupanya banyak hal-hal yang mengagumkan yang baru aku tahu dari anak lanang yang masih umur 5 tahun, yang aku yakin karena sistem pendidikan dasar yang sangat bagus disini.

Pertama, kemampuan bacanya yang berkembang pesat, sudah book band level 9 (lihat: oxford-owl) . Tidak hanya bisa membaca, tetapi juga paham apa yang dia baca. Terbukti dari hanya sekali membaca, lalu tutup buku, di hampir nyaris sempurna bisa menjawab semua pertanyaan berdasarkan bacaan yang diberikan di akhir buku.

Kedua, kebiasaan berinovasi. Selain pintar menggambar untuk mendeskripsikan sesuatu. Anak lanang juga terampil berinovasi dengan menggunakan barang-barang bekas, e.g. karton, kertas, kaleng bekas, untuk menciptakan sesuatu yang menurut dia baru. Satu yang menjadi poinya, menciptakan sesuatu yang dia fikir belum ada orang yang menciptakan sebelumnya.

Seperti kemaren, tentang pesawat kertas. Mungkin pesawat dari kertas yang bisa terbang sudah terlalu mainstream. Tetapi dia berinovasi dengan memberi roda pada pesawat kertas itu, dan menggambar jendela serta nama pesawatnya. Lalu setelah itu, dia mengambil laptop, buka google, mengetik : “paper aeroplane with plane“, dan diklik tab images. Ketika dia tidak menemukan satu pun gambar yang sama. Dengan excited, anak lanang berteriak dengan bangga: “ Hore!…. I am the first one in the world, making paper aeroplane with wheel“.

Pesawat kertas sendiri sih biasa-biasa saja, tetapi spirit untuk membuat bid’ah, alias inovasi, menciptakan sesuatu yang baru sungguh sangat luar biasa. Tidak hanya pesawat, selama liburan, anak lanang juga berinovasi menciptakan hal-hal yang lainya seperti: kapal laut, sledge, rumah, ikan, dll. yang setiap kali ditanya darimana datang idenya. Dia hanya menjawab: ” it just comes from my head“. Haha!

Aku jadi teringat, jaman aku seumur segitu, di sekolah hanya diajari hafalan. Hafalan nyanyi, hafalan pancasila, hafalan surat pendek. Lalu beranjak mendewasa hafalan pasal-pasal UUD, hafalan perkalian, hafalan nama menteri, hafalan tahun-tahun sejarah, dan hafalan materi-materi pelajaran lainya. Hafalan pelajaran berlanjut hingga kuliah. Apa yang bisa kita harapkan dari otak yang hanya digunakan untuk menghapal itu? Apa bedanya dengan wikipedia?

Tak heran jika miskin inovasi di negeri kita. Tak heran jika kita hanya bisa puas sebagai negara konsumen produk-produk teknologi di dunia, bukan produsen teknologi. Bahkan, kita pun parahnya jadi konsumen ideologi dan jati diri. Hal-hal yang kebarat-baratan dan kearab-araban dianggap lebih bergaya. Tak heran jika agama pun dipahami tak lebih dari hafalan aturan halal/haram. Bukan dihayati sepenuh hati sebagai penghambaan kepada Tuhan, dan inspirasi menciptakan rahmat untuk sekalian alam, inspirasi untuk menciptakan peradaban dunia yang berkemajuan.

Tetapi mungkin aku salah, dunia pendidikan di negeriku mungkin sudah banyak berubah?

Tetangga Sebelah

…. alangkah sejuknya suasana hati selalu, bila setiap kita hadir untuk siap memahami, bukan untuk menghakimi – a random thought

tetangga_kita

Kiriman Tetangga Sebelah

Natal tahun ini, kami mendapat beberapa kartu ucapan natal. Ini rekor terbanyak buat ku. Tetapi, tetap saja si anak lanang juaranya. Ini kartu ucapan beneran, bukan kartu ucapan digital, atau ucapan lewat pesan elektronik. Kartu dengan desain gambar bertema natal yang menarik dan lucu, lengkap dengan tulisan tangan di dalamnya berikut nama pengirimnya, lalu dimasukkan dalam amplop berwarna putih.

Rupanya teknologi digital dengan dengan kemampuan telepon cerdas yang makin canggih pun tak mampu menggerus tradisi berkirim ucapan dengan media kartu. Ini yang paling aku suka dari orang Inggris. Cita rasa kehidupanya sangat tinggi. Tentu ada rasa yang tak bisa terwakilkan ketika kartu ucapan beneran bertransformasi ke kartu ucapan digital.

Argh orang Inggris memang keren. Bisa mempertahankan hal-hal klasik sama kuatnya dengan semengat mereka berinovasi menciptakan hal-hal yang baru. Seperti jargonya pesantren-pesantren NU, almuhafadu ‘ala qadimisoleh, walakhdu biljadidil aslah. Landlord ku saja, hingga saat ini masih sering berkomunikasi dengan kami melalui surat tulisan tangan dikirim lewat kantor pos berperangko.

Diantara semua kartu ucapan itu yang paling istimewa adalah dari tetangga sebelahku. Tetangga yang berbagi dinding rumah dengan kami. Uncle John namanya. Saat hari-h natal, saat semua layanan publik tutup, termasuk semua public transport, toko, dan super market yang mejual apa pun. Dan orang-orang berdiam diri di dalam rumah bersama keluarga. Hari itu, tetangga ku mengetuk pintu rumah kami. Memberikan sebuah kartu ucapan dan satu nampan makanan.

Saya jadi ingat peristiwa setahun yang lalu. Di momentum yang sama, Uncle John, memberi kami kartu ucapan dan satu botol besar minuman anggur merah berakohol. Tentu saja kami menerimanya dengan senang hati, meskipun tentu saja tidak kami minum. Dan akhirnya anggur merah itu diterima dengan senang hati dan senyum lebar oleh tukang yang kebetulan sedang membetulkan heater di rumah kami pada suatu ketika.

Ada yang berbeda dengan makanan yang diberikan kepada kami tahun ini. Meskipun Uncle John tak pernah menanyakan apa agama kami, sepertinya beliau jauh lebih mengerti kami, bahwa kami keluarga muslim yang hanya boleh memakan makanan yang halal. Hari itu, uncle john memberi kami satu nampan makanan, berisi tiga botol kecil yang sekilas seperti anggur merah. Tetapi rupanya, dilabelnya tertulis dengan sangat jelas, minuman tidak beralkohol. Lalu ada satu kotak nasi briani, seperti nasi goreng dicampur dengan daging kambing. Satu kotak ayam goreng, dan satu kotak sayur salad. Karena yakin halal, kami pun lahap menyantapnya. Terima kasih Uncle John!

Alangkah adem dan menyenangkan jika kita hidup bersama, dan kita saling belajar untuk saling mengerti, bukan saling menghakimi bukan? Tetapi sayang hal sebaliknya malah sedang mewabah di negeri ku. Media sosial, facebook, twitter, group WA, buatku menjadi tempat yang sangat tidak nyaman buat ku. Bukanya dijadikan media untuk saling memahami satu sama lain yang ditakdirkan berbeda-beda, sebagaimana diajarkan dalam agamaku, tertulis jelas dalam Alquran, li ta’arofuu. Tetapi sebaliknya malah jadi saling menghakimi.

Rasanya kini seolah menjadi ritual setiap akhir tahun, masih saja ribut hal yang sama: haram merayakan maulud nabi, haram mengucapkan Natal, haram merayakan tahun baru, sentimen anti-syiah dan sebagainya. Orang-orang semakin menjadi sektarian. Sekte kelompoknya sendiri diyakini kebenaran sempurna, sementara yang diluar sektenya dihakimi salah semua. Lebih-lebih menjelang suksesi kepemimpinan di ibu kota yang kebetulan sang petahana menurut mereka dapat dua vonis kutukan sekaligus: sudah kafir, cina lagi. Makanya, belakangan aku sudah lama tidak membuka facebook, dan keluar tanpa permisi dari beberapa group WA yang juga semakin sektarian. Buatku, membaca buku khusuk jauh lebih bergizi.

Sungguh miris nian, ketika melihat orang-orang semakin alergi dengan perbedaan. Jangankan dengan yang berbeda agama, dengan yang seagama saja mereka senang sekali menghakimi. Ada yang menghakimi muslim liberal, ahli bidah, musyrik, akidahnya tidak benar, bahkan kafir sekalipun. Orang-orang nalar toleransinya semakin tumpul.

Padahal kalau kita mau merenungi sejenak apalah diri kita ini, kita justru semakin mudah memahami orang lain. Bukankah apa yang membentuk diri kita, yang mendefinisikan alam fikiran kita, hanya karena bentukan orang dan peristiwa di sekitar kita. Kita menjadi Jawa, kita menjadi Muslim, bukankah hanya kebetulan karena kita lahir di Jawa dan keluarga muslim. Imajinasi, pemahaman, keyakinan akan kebenaran yang ada di kepala dan hati kita bukankah juga tak jauh-jauh hasil dari bentukan pendidikan yang kita terima?

Sementara, kalau aku boleh bertanya, adakah di antara kita yang sebelum dilahirkan di dunia ini bisa memilih dari rahim siapa dan tempat dimana kita akan dilahirkan?

Sadar akan segala keterbatasan kita. Kawan, mari berhenti untuk menghakimi. Mari kita belajar memahami. Terus dan terus belajar. Mari kita terus perdalam dan perluas cakrawala pengetahuan kita yang terbatas. Agar segala permasalahan hidup terasa enteng-enteng saja kita hadapi.

Jika sampean masih kekeuh menghendaki agar semua orang seperti mu, memahami kebenaran tunggal dari Tuhan adalah seperti yang engkau yakini. Kenapa Tuhan yang maha kuasa tidak menjadikan setiap orang menjadi seperti mu? Bukankah Tuhan saja yang berkendak menciptakan perbedaan-perbedaan itu? Kalau begitu, kenapa kamu tidak protes kepada Tuhan saja?

***

Nb. buat pembaca blog ini yang Kriten/Katolik, khususon Mbak Tina Sklg :), Selamat Natal ya! Semoga bring blessing, joy and fun in your life selalu. Maaf telat

Perasaan Sentimentil di Setiap Pergantian Tahun

… apalah artinya pergantian tahun kecuali bertambahnya hitungan kita akan kesadaran dimensi waktu. Bukankah dalam hidup hanyalah ruang dan waktu yang berubah, sementara watak kehidupan selalu sama – a random thought

akhir_tahun_2016

Winter Wonderland 2016, Old Market Square, Nottingham

Yah, sudah akhir tahun lagi, Argh sudah tahun baru lagi. Liburan musim dingin akhir tahun 2016 ini, aku benar-benar merasakan liburan yang sebenarnya. Benar-benar melepas bebas sejenak segala beban fikiran, kerepotan hidup, yang biasanya terasa terus memburu. Menghabiskan hari-hari dan malam musim dingin yang panjang, untuk sekedar kruntelan dengan segenap anggota keluarga, di atas ranjang dan di balik selimut yang sama.

Hanya saja, di setiap pergantian tahun, selalu saja ada perasaan sentimentil yang melintas di hati. Rasanya tak ingin waktu berlalu begitu saja. Rasanya ingin gandoli waktu yang terus melesat bak anak panah yang telah terlepas dari busurnya. Tetapi, siapakah yang bisa melawan keperkasaan sang waktu?

Merambatnya waktu, berarti bertambahnya umur. Umur psikologis rasanya masih seperti anak-anak remaja, tetapi umur biologis rupanya sudah bapak-bapak yang semakin menua.Hahaha.

Merambatnya waktu, berarti pula bergantinya lakon dan peristiwa-peristiwa kehidupan. Aku kadang tak mudah lepas dari jebakan masa lalu dan kadang takut akan ketidakpastian masa depan.

Bersyukur, mungkin satu kata inilah yang paling pas melukiskan suasana hati ku sebagai catatan akhir tahun 2016 ini. Tugas belajar ku akhirnya selesai, Allah ngasih bonus dengan kelahiran anak kedua kami. Sungguh nikmat yang layak untuk disebutkan dan disyukuri.

Tetapi bukan itu sebenarnya yang membuatku begitu sentimentil. Kebaikan-kebaikan orang-orang di sekitar kamilah yang sungguh membuat ku terharu. Hidup di perantauan, juah dari keluarga, tentu bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Tetapi, di kelilingi orang-orang yang baik, rasanya aku sedang berada di tengah keluarga besar ku.

Haru rasanya, melihat teman-teman dengan suka hati, silih berganti berdatangan ke rumah. Bahkan jauh-jauh dari luar kota, dari ujung negeri ini. Membawa kehangatan, kedekatan, dan ketentraman. Memberikan ucapan selamat dan baris-baris doa. Membawa makanan, uang, hadiah. Sungguh membuat ku sangat terharu. Aku hanya bisa berterima kasih, dan untuk selamanya akan berhutang budi. Lemah teles, hanya Gusti Allah yang bisa mbales.

Masih berat rasanya, jika bulan depan kami harus beranjak meninggalkan tempat ini, (most probably) untuk selamanya. Berat rasanya untuk berucap: ” Selamat tinggal kenangan !”. Tetapi, hidup harus terus berjalan. Sudah saatnya, hidup harus berganti cerita.

Meski ada ketakutan akan ketidakpastian di masa depan, aku selalu menasehati diriku sendiri. Bukankah hidup hanyalah perubahan dimensi ruang dan waktu, sementara watak kehidupan ya begitu-begitu saja. Akan selalu ada naik-turun, pasang-surut, senang-susah dalam hidup. Tak ada kesenangan yang terus-menerus. Senang sebentar, habis itu susah lagi. Pun tak ada kesusahan yang terus-menerus. Habis susah-susah, pasti ada kesenangan yang menunggu. Argh, begitulah sifat kenikmatan dunia yang sesaat saja. Amatlah rugi, jika kita selalu mengejar dan memujanya.

Teori kehidupan pun tetaplah gampang dan sederhana. Tak perlu belajar bertahun-tahun seperti halnya studi doktoral untuk menemukan teori baru. Yang penting, gampang syukur, gampang sabar, dan gampang ikhlas. Dan selalu eleng lan waspada akan asal muasal kehidupan kita. Insya Allah, kehidupan akan baik-baik saja, bukan?

Selamat tahun baru kawan! Semoga semua dalam kehidupan kita menjadi lebih baik, dan kita ditakdirkan termasuk orang-orang yang beruntung, ammiin.

Sebelum Fajar : Tiga Lelaki, Senter, dan Buku

… banyak diantara kita merasa tak punya waktu untuk sekedar membaca satu dua halaman buku saja. Padahal berjam-jam waktu terbuang percuma untuk membaca lini masa media sosial di telepon genggam – a random thought

20160609_220045

Ilustrasi: Temaram Malam Menjelang Pagi

Kehidupan modern di kota ini rasa-rasanya hampir seperti robot saja, yang bisa diprogram seperti keinginan kita. Bus, kereta api, di hari dan jam yang sama selalu berada di tempat yang sama. Pun manusia-manusianya dengan segenap aktivitasnya. Semua serba teratur dan terkendali. Memudahkan memang, tetapi terkadang kehidupan seperti itu terasa sangat membosankan.

Aku pun bukan pengecualian, sama seperti orang-orang setengah robot di kota ini. Bangun pagi-pagi di jam yang sama, lalu pergi jalan kaki menapaki jalan yang sama, menuju tempat yang sama. Orang-orang yang kutemui di sepanjang perjalanan pun, orang-orang yang sama.

Dalam perjalan jalan kaki sebelum fajar itu, aku selalu bertemu dengan tiga orang lelaki di tempat yang nyaris sama. Yang pertama orang kulit hitam keturunan Afrika berjaket hitam. Yang dibalik temaram hari yang masih mengandung malam itu, dari agak kejahuan aku sama sekali tak bisa melihat rupa wajahnya. Kami selalu bertukar salam “morning” setiap kali berpapasan. Ya, hanya satu kata itu, tanpa sempat kita saling berkenalan.

Yang kedua seorang lelaki bertubuh tambun, orang British asli sepertinya. Yang selalu kulihat sedang duduk di halte bus. Dan beberapa saat kemudian, bus warna merah jambu bernomor 28, pun datang mengangkutnya. Entahlah, aku tak pernah tahu di halte mana lelaki itu akan turun dari bus.

Yang ketiga, ini yang paling mengesankan bagi ku. Seorang lelaki berkaca mata, paruh baya yang rambutnya hampir memutih seluruhnya, dengan tas ransel di punggungnya. Berjalan sangat cepat, berpapasan dengan ku, tanpa saling menyapa, hanya saling memandang sekerjap saja. Dalam malam yang masih gelap itu, lelaki terlihat sambil membaca buku novel tebal. Tangan kirinya memegangi buku, tangan kananya memegang senter mungil sebagai lampu baca.

Alamak, aku benar-benar nggumun dibuatnya. Kalau orang membaca buku di bus dan kereta, pun sambil berdiri, di negeri ini itu mah hal yang biasa-biasa saja. Tapi ini sungguh istimewa. Tak pernah terlintas sedikit pun dalam alam fikiranku, untuk melakukanya. Berjalan kaki sangat cepat, di hari yang masih gelap, dingin menusuk di bawah nol derajat, membaca buku ya apa enaknya? menarik selimut tebal kembali menutupi seluruh badan di tempat tidur sambil malas-malasan tidur kembali, alangkah lebih jauh nikmatnya.

Tapi sungguh orang ini mempermalukan ku setiap hari. Aku yang selalu berkilah tak punya waktu lagi untuk membaca buku. Meski tak pernah absen berjam-jam waktu terbuang percuma untuk membaca lini masa berbagai media sosial di telepon genggam. Haha ! Argh….

Kalau di negara yang berperadaban sudah maju saja mereka rajin membaca, kalau kita yang sudah ketinggalan masih malas membaca apa jadinya? Atau apakah karena mereka rajin belajar dan membaca musabab mereka berperadaban maju?

Kang Hakim Yang Atheis

… kadang antara kebenaran dan keyakinan terlalu susah untuk dibedakan – a random thought

startford_17

Ilustrasi (yang tidak nyambung)

Kamis, pukul empat sore, aku setengah berlari turun dari kantor PhD ku, di lantai 3 gedung School of Computer Science menuju lantai 2 gedung Amenities Building yang berjarak hanya sekitar 5 menit jalan kaki. Jam segitu, di musim dingin hari sudah maghrib. Meskipun sedang berpuasa, aku biasanya sholat jamaah maghrib dulu di muslim prayer room, baru kemudian berbuka puasa di graduate centre room yang terletak di lantai yang sama.

Tetapi, hari itu rasa lapar ku rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Lapar tingkat kabupaten saudara-saudara. Gara-gara kalau musim dingin gini malas sekali makan sahur.

Aku langsung menuju graduate centre room, mengeluarkan lunch box dari tas dan memasukkan dalam microwave. Sambil menunggu bekal buka puasa ku menghangat, aku membuat secangkir teh manis hangat yang bahan-bahanya disediakan gratis di ruang itu.

Seorang lelaki muda, yang kurang lebih perawakan dan wajahnya mirip pengamen jalanan seperti foto di atas, dengan sangat agresif, sok kenal sok dekat, melempar seulas senyum kepada ku, dan memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan.

Hello, hai kamu. Kamu pasti muslim ya. Kamu pasti dari Indonesia, kan? Kamu tinggal di kota mana di Indonesia.

Begitu kira-kira sebagian pertanyaan yang aku ingat. Dalam alam batinku, aku bertanya-tanya. Nih orang asing kok tahu ya kalau aku muslim, rasanya tidak ada satu pun simbol agama yang aku pakai. Tebakan ini wajar andaikan saja aku perempuan dan memakai jilbab. Terus, kok dia bisa menebak aku langsung dari Indonesia. Rasanya baru kali ini, ada orang asing yang tebakan pertamanya benar 100%. Biasanya, paling banter mengira aku orang Malaysia.

Setelah micorowave berhenti berputar, aku membawa kotak makanan dan secangkir teh hangat di salah satu meja bundar di ruang itu. Menyeruput british tea dari skotlandia yang harum dan ginastel (baca: legi-manis, panas dan kentel) itu. Lalu, sesuap demi sesuap kunikmati nasi dengan ikan tempe bikinan emaknya anak-anak itu.

Eh, tanpa permisi, Si Mas yang sok akrab tadi, ikut duduk semeja dengan ku. Sambil lahap menikmati roti isi babi panggang, Si Mas kembali memberondong ku dengan sejumlah pertanyaan kembali.

kamu sehari sholat berapa kali? sekali sholat berapa lama? memang apa yang kamu dapatkan dari sholat? ngapain sih kamu masih percaya sama agama? bukankah agama hanya menjadikan perpecahan, konflik, perang tak berkesudahan saja? Mau saja kamu dibodohi,  agama sengaja diciptakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan?

Begitu kira-kira, beberapa pertanyaan yang Si Mas  ajukan dengan agresif kepada ku. Rupanya Si Mas ini seorang atheis fundamental. Yang sangat gemes jika melihat masih ada orang yang taat beragama seperti diriku. Dia pun bercerita panjang lebar tentang perjalanan spiritualnya. Sebelum menjadi atheis fundamental, Si Mas mengaku pernah percaya adanya Tuhan, walaupun tidak menganut agama tertentu, scientology namanya kalau aku tidak salah. Kini Si Mas benar-benar tidak percaya adanya Tuhan dan dia berusaha meyakinkan ku bahwa keputusanya benar.

Memang kamu percaya ada kehidupan setelah mati? Memang ada orang mati yang datang hidup kembali?

Begitu dia meyakinkanku bahwa hidup itu ya di dunia saja yang harus kita nikmati. Dia seolah-olah kasihan kepada ku. Hidup di dunia sekali saja, kok tidak dinikmati untuk bersenang-senang saja.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, aku mah kalem-kalem saja. Sama sekali tidak emosional. Malah, aku sangat menikmati obrolan itu. Kutanggapi setiap pertanyaan itu dengan santai dan senyum-senyum saja. Aku hanya menegaskan, kalau aku justru menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup sejati dengan menjalani agama itu, tidak merasa terbebani sama sekali. Malah rasanya, aku tidak bisa hidup tanpa bimbingan agama. Aku juga tidak setuju kalau agama dituduh penyebab konflik, itu penganut agamanya saja yang salah dalam memahami agamanya.

Aku tercenung saat si Mas bilang:

apa ketenangan jiwa? kamu fikir dengan atheis tidak bisa menemukan ketenangan jiwa? Gampang saja, jika aku ingin mendapatkan ketenangan jiwa, aku tinggal ngajak my girl friend to have sex. As simple as that.

Haha koplak. Pada akhirnya, kita tidak berhasil sedikit pun mempengaruhi satu sama lain. Kita tetep kekeuh pada pendirian masing-masing. Tetapi setidaknya we have better understanding satu sama lain. Siapa yang benar siapa yang salah? Sayang diantara kita belum pernah ada yang merasakan kematian. Untuk membuktikan ada tidaknya kehidupan sesudah kematian. Kalaupun, ternyata tidak ada, aku pun sama sekali tidak akan pernah menyesal, karena justru agama bagiku adalah jalan cinta yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna.

Apalah artinya kehidupan bila hanya untuk bersenang-senang saja? Toh kenikmatan dunia ya begitu-begitu saja. Hanya sekejap saja. Keyakinan akan kebenaran agama yang aku yakini pun tak menghalangi untuk toleran terhadap orang yang berkeyakinan akan kebenaran yang berbeda. Sebaliknya, semakin aku yakin, semakin aku mudah untuk toleran.

Tak terasa hampir, satu setengah jam kami bercengkrama. Sampai-sampai aku lupa belum sholat Maghrib, padahal waktu hampir saja masuk waktu Isyak. Di akhir perbincangan, kami baru berkenalan. Namanya Kang Hakim dari Azerbaijan katanya. Sejak saat itu, kami jadi akrab. Dia selalu tersenyum ramah dan menyapa ku setiap kali bertemu. Semoga Tuhan memberi mu hidaya Kang Hakim!