Advertisements

Author Archives: Cak Shon

About Cak Shon

Santri yang tak kunjung jadi kyai.

Masih Efektifkah Menggunakan Mesin Absensi Sidik Jari

Mungkin anda pernah bertanya di dalam benak anda masih efektikkah menggunakan absensi sidik jari? Bukan nya sekarang ini sudah ada teknologi aplikasi absensi android modern yang bisa dijadikan pengganti absensi sidik jari? Jawabannya memang tidak mudah untuk dijelaskan karena setiap sistem absensi ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing.

Tapi jika berbicara mengenai teknologi, perkembangan teknologi tentunya selaras dengan perkembangan fungsi yang bisa dibilang lebih baik, artinya kelebihan aplikasi absensi android memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh absensi sidik jari. Kita akan membahas mengenai kemungkinan absensi sidik jari, tidak seefektif aplikasi absensi android di jaman sekarang ini.

Baiklah kita akan membahas mengenai mengapa absensi sidik jari tidak seefektif aplikasi absensi mobile

1.    Penerapan Dan Installasi Fingerprint Tergolong Mahal

Jika dibandingkan dengan aplikasi absensi berbasis mobile, memasang sistem absensi fingerprint ini tergolong sangatlah mahal. Alat dan juga perangkat yang digunakan untuk memasang perlengkapan ini bisa memakan dana, budget yang tidak sedikit. Belum lagi proses pengambilan data yang kemungkinan tidak secara real-time, tidak seperti di aplikasi absensi android yang bisa diambil datanya secara real-time atau langsung.

Belum lagi permasalahan seperti mesin fingerprint sendiri yang belum tentu mampu untuk dipakai banyak orang, serta jika ingin mengintegrasikan dengan sistem yang lain akan menambah budget yang harus dikeluarkan. Sangat berbeda dengan menggunakan absensi berbasis mobile, Proses instalasi tidak rumit dan juga menawarkan banyak kelebihan serta fitur HR lainnya yang tentunya memudahkan pekerjaan anda.

Baca Juga : LinovHR Mobile Attendance: Teknologi Absensi Via Smartphone

2.    Terkadang Mesin Absensi Sidik Jari Tidak Bisa Diandalkan

Yang dimaksud dengan tidak dapat diandalkan adalah terkadang mesin absensi sidik jari membutuhkan waktu lama untuk membaca image sidik jari milik kita, atau dalam kasus tertentu sering gagal dalam membaca sidik jari. Tentunya anda tidak mau berdiri lama di depan mesin absensi sidik jari dan menunggu sampai akhirnya mesin sidik jari menerima absensi anda. Selain itu kita harus benar – benar memastikan sidik jari milik kita bersih sehingga bisa dibaca dengan baik oleh mesin sidik jari.

Berbeda dengan aplikasi absensi berbasis mobile yang bisa dengan mudah untuk check in dan check out jam kerja. Kekurangannya mungkin anda harus menghapal sedikit passcode, username atau kode yang sudah diberikan kepada admin kepada anda. Selain itu anda juga bisa langsung melihat jam kerja yang anda jalani secara langsung dan real-time.

3.    Mesin Sidik Jari Memiliki Biaya Maintenance dan Perawatan Yang Rumit dan Mahal

Sebelumnya kita mengetahui bahwa pemasangan dan juga instalasi mesin absensi sidik jari lebih mahal daripada aplikasi absensi android. Perawatan mesin ini juga memiliki tingkat kerumitan dan juga tergolong mahal. Sebagai contoh anda ingin memperbaiki mesin sidik jari yang rusak, tentunya memerlukan teknisi sendiri  dan membutuhkan tambahan pengeluaran.

Dibandingkan dengan aplikasi absensi android mesin absensi sidik jari juga tidak bisa digunakan dalam jangka yang melebihi aplikasi absensi android. Katakanlah kemungkinan anda harus mengganti mesin setiap 2, 3 atau 5 tahun sekali agar sistem bekerja dengan baik. Dengan menggunakan aplikasi absensi android ini perawatannya lebih mudah dan tidak akan menambah pengeluaran dana di perusahaan anda.

Kesimpulan

Mesin absensi sidik jari dan juga aplikasi absensi android memang berbeda dan memiliki kelebihan masing – masing. Dari segi pemasangan, penerapan, dan perawatan bisa jadi menjadi faktor perbedaan yang mencolok.

Jika perusahaan memiliki banyak kantor cabang dan karyawan yang sering bekerja di lapangan maka aplikasi absensi berbasis android dapat menjadi pilihan yang tepat, Tetapi jika sebaliknya maka absensi sidik jari masih menjadi pilihan yang cocok bagi perusahaan tersebut.

Advertisements

Menunggu Matahari Tenggelam di Alas Purwo

.. tak terasa gelap pun jatuh Di ujung malam menuju pagi yang dingin Hanya ada sedikit bintang malam ini. – Payung Teduh

Senja di Pantai Pancur, Alas Purwo

Banyak cerita yang belum sempat dituliskan. Semua menumpuk di sudut fikiran. Sayang semakin sedikit waktu dan momentum yang tepat untuk menuliskanya. Buat ku, tulisan hanya akan lahir dari momentum: perpaduan hati, fikir, dan suasana yang tepat. Baiklah, akan kutuliskan cerita teratas dari tumpukan cerita itu pada mu hari ini.

Akhir pekan lalu aku akhirnya sampai juga aku menginjakkan kaki di ujung selatan paling timur Pulau Jawa. Kalau lihat di peta, tempat itu adalah Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi. Salah satu hutan dari sangat sedikit hutan yang masih tersisa di Pulau Jawa, yang masih aman dari keserakahan manusia.  Meski dari lahir hingga remaja hidup di Banyuwangi, baru kali ini aku ke tempat ini. Sebelumnya, aku hanya tahu nama, alas purwo yang terkenal wingit itu.

The Team

Kami datang bersama rombongan 16 orang. Delapan orang dari ITS dan sisanya dari Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Berasan, Muncar, Banyuwangi. Berangkat dari desa wringin putih, kami menyusuri jalur darat terus ke arah selatan. Pemandangan sepanjang perjalanan, sungguh menyenangkan. Hiburan yang menarik hati orang-orang yang jenuh dengan keruwetan dan kebisingan kota.

Persawahan yang menghijau royo-royo. Didominasi tanaman jeruk, buah naga, jagung, dan padi. Lewat areal persawahan, pemandangan berubah jadi pemandangan hutan pohon jati yang rimbun, sebelum akhirnya pemandangan hutan belantara. Suasana tenang, udara segar, dan jalanan mulus. Saking rimbunya, suasana seperti temaram menjelang waktu maghrib, padahal masih belum genap pukul empat sore. Terbayang betapa asyinya sepedahan menyusuri hutan ini.

Suasana tenang berubah jadi riuh saat sampai pos penjagaan Taman Nasional Alas Purwo. Rupanya, di pos penjagaan ini titik temu semua pengunjung. Melewati Pos Penjagaan ada beberapa spot yang bisa dikunjungi. Diantaranya yang paling terkenal adalah savana dengan bantengnya, Pantai Plengkung dan Pantai Pancur.

Kami memilih yang terdekat saja yaitu Pantai Pancur. Tidak ada yang istimewa dari pantai ini sebenarnya, selain lokasinya yang di ujung selatan Alas Purwo. Mungkin karena akhir pekan, banyak pengunjung di pantai ini. Sedikitnya terlihat tiga pasang calon pengantin yang sedang melakukan pemotretan pre-wedding di pantai ini. Menyaksikan perahu nelayan terombang ambing bersama matahari yang perlahan-lahan tenggelam di balik laut lepas, di penghujung senja adalah momentum paling menakjubkan di pantai ini. Ada keindahan perasaan yang sulit untuk dilukiskan.

Setelah matahari tenggelam, hari pun telah surup. Gelap perlahan datang menyergap. Banyak orang masih bertahan di bibir pantai. Kabarnya, banyak yang menginap, menyepi di pinggir pantai alas purwo ini. Atau barangkali mencari wangsit, atau sekedar menenangkan fikiran. Entahlah. Kami beranjak pergi meninggalkan pantai. Ada Mushola berbentuk rumah panggung di dekat pantai. Kami sholat maghrib untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


Teman Jailangkung

… datang tak diundang, pulang ngacir sendiri, itu jailangkung bukan teman – a random thought

tanjung_aan_3

a random illustration

Pola interaksi sosial antar manusia kadang memang lucu, salah satunya adalah dalam interaksi pertemanan. Ada teman dekat, yah teman karena secara fisik berdekatan dengan kita. Ada teman say hello, teman yang sekedar kenal nama dan tahu tempat tinggal/kerja doang tak pernah ngobrol heart to heart. Ada teman sejati, teman yang awet terus, tahan lama, meski sudah punya kehidupan sendiri-sendiri masih saja keep in touch. Yang ini berteman ya sekedar berteman saja tanpa ada niat yang lain. Ada teman bitonah, alias teman penjilat. Yang satu ini nih, berteman with purpose. Elu kudu ati-ati!

Belakangan ada lagi varian baru, namanya teman jailangkung.  Dia tidak masuk varian teman di atas. Tidak termasuk juga bitonah. Teman tipe ini suka muncul tiba-tiba dan menghilang tanpa jejak tiba-tiba juga. Eh, setelah jangka waktu yang lama kemudian muncul kembali secara tiba-tiba, dan menghilang lagi dan repeat! Jelas teman tipe ini tidak merugikan, tapi lucu sekali macam Jailangkung.

Jika sedang muncul, kita dibuat merasa orang paling penting banget buat dia. Eh, begitu kita sambut hangat, akan segera menghilang tanpa pesan, meninggalkan setumpuk tanda tanya. Membuat jengkel sih, eh tapi kok juga ngangenin haha. Benar-benar varian teman yang lucu.

Ada yang punya teman varian ini?


Lombok yang Cabe Rawit Itu

… ada orang yang ditakdirkan untuk mendapatkan uang sedikit saja, harus diiringi dengan susah payah, banting tulang, peras keringat. Tetapi, ada juga yang hanya dengan duduk manis di kursi empuk beberapa jenak, jutaan rupiah uang didapat setelah membubuhkan tanda tangan. Bahkan ada yang tidur ngorok pun, ajaib uangnya berlipat ganda sendiri – a random thought.

lombok_cabe_rawit

Lombok di Belakang Rumah

Minggu pagi kamu kemana? Aku, di rumah saja lah. Buatku, tidak ada tempat di dunia ini yang lebih nyaman di hati dari what we called Home. Enak sekali ya jadi anak rumahan seperti diriku, tidak perlu panik gegara kurang piknik.

Dari pada ke tempat hiburan buatan yang penuh sesak manusia-manusia pencari kebahagian semu, berjibaku dengan kemacetan dan kebisingan kota, buatku jauh lebih membahagiakan duduk manis di depan rumah di bawah pohon kelapa, sambil menikmati kelapa muda yang kupetik sendiri dari depan rumah; sambil membaca buku-buku sastra klasik yang baru saja aku beli dari pasar turi; sambil memandangi bunga-bunga beraneka warna yang sedang bermekaran ditingkahi kupu-kupu, lebah, dan capung. Diringi suara cici ruit burung kelangenan milik para tetangga dan burung-burung liar di ‘hutan belantara’ belakang rumah.

Pagi ini, si kakak dan bundanya sepulang dari sepedaan membawa sebungkus gorengan. Weci namanya kata orang Banyuwangi, Ote-ote kata orang Jombang, dan Bala-bala kata orang Bandung.

Aku ambil weci hangat sebuah, lalu kupetik sebiji lombok langsung dari pohonya, di belakang rumah, masih segar, masih putih belum memerah. Nyam, kumakan weci sepotong, kukunyah tiga kali. Lalu, kres ku kremus lombok langsung separuh. Ku kunyah-kunyah berkali-kali, sebelum kutelan perlahan.

Waw…., sensasi gurih-pedasnya luar biasa Broh! Sudah tak terhitung jumlahnya, berapa kali aku makan weci dan lombok, tapi tidak pernah senikmat ini. Pedasnya lombok segar yang masih muda berpadu dengan gurihnya gorengan campuran terigu, gubis, dan wortel itu sungguh menyuguhkan orkestra rasa yang luar biasa, yang bahkan kata-kata pun tak sanggup membahasakanya.

Alam fikiranku pun terbawa kenangan jaman SD, momentum aku terakhir merasakan sensasi weci paling nikmat di dunia. Beli weci di warung belakang sekolah, dimakan rame-rame di samping sekolah, yang ditutup dengan ritual mengelap tangan penuh minyak di tembok sekolah, mencipta lukisan abstrak terabsurd di dunia.

Aku pun jadi bertanya-tanya, ada apakah gerangan yang membuat sensasi makan weci terenak dunia itu terulang kembali? bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.

Aku pun menemukan jawabnya. Yang bikin enak adalah lomboknya. Aku yang membedeng sendiri dari lombok merah yang sudah membusuk. Lalu memindahkanya ke polibag, setelah tumbuh lumayan besar. Lalu, merawatnya, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Menyirami air, memberi pupuk organik, dan membersihkan hama yang sering menempel pada daun-daunya. Butuh ketelatenan dan kesabaran, tapi aku sangat menikmatinya. Melihatnya tumbuh satu milimeter demi milimeter adalah kebahagiaan yang mengagumkan.

Hingga akhirnya, pohon lombok itu tumbu subur, berbunga, lalu berbuah. Meski buahnya tidak banyak, tetapi buahnya sehat dan besar-besar. Dan pagi tadi aku memetiknya, mencipta sensasi makan weci terlezat di dunia. Kebahagiaan berbanding lurus dengan usaha/ikhtiar yang kita berikan.

Aku jadi tahu, kenapa para petani di dusun-dusun itu, meski kerja keras, literally banting tulang, peras keringat di bawah terik matahari yang menyengat, dan hanya menghasilkan uang yang tak seberapa itu. Tetapi mereka mudah sekali tersenyum, tertawa dan bahagia. Dan sebaliknya, di kantor-kantor gedung bergengsi, dimana peredaran uang berpusat, mudah sekali menemukan orang mengeluh, setres, dan tidak bahagia.

Aku pun jadi paham, mengapa makanan paling nikmat di dunia adalah makanan seadanya yang di makan di gubuk tengah sawah, yang dimakan bersama setelah lelah bekerja. Bukan makanan di restoran paling mahal di pusat keramaian kota.

Ada orang yang ditakdirkan untuk mendapatkan uang sedikit saja, harus diiringi dengan susah payah, banting tulang, peras keringat. Tetapi, ada juga yang hanya dengan duduk manis di kursi empuk beberapa jenak, jutaan rupiah uang didapat setelah membubuhkan tanda tangan. Bahkan ada yang tidur ngorok pun, uangnya secara ajaib berlipat ganda sendiri. Tetapi uang hanyalah uang, dan rejeki bukanlah sekedar uang. Dan sebaik-baiknya rejeki adalah kemudahan untuk tersenyum, tertawa, dan berbahagia. Dan semua kita tahu, kita punya jatah rejeki sendiri-sendiri, yang tak akan pernah tertukar.

 


Full-time Mother

… masihkah manusia modern bersedia menjadi full-time mother? – a random thought

inayah_wahid

a random illustration

Ada beberapa peristiwa dalam hidup yang tak mudah luntur dari ingatan, bahkan menjadi ingatan abadi sepanjang usia.  Seperti peristiwa pagi itu.

Aku pagi-pagi datang ke city centre, sesuai jam janjian datang ke city council, untuk mengambil akte kelahiran anak kedua saya.  Setelah menunggu beberapa jenak, seorang pria baya berpakaian sangat rapai lengkap dengan jas dan dasi, menjemput saya di ruang tunggu.

Dengan senyum yang bersahabat, bapak itu menjabat erat tangan saya, dan mengajaknya masuk kedalam ruang kerjanya. Sang Bapak memperkenalkan diri. Beliau mengaku sudah lama pensiun dari profesi sebelumnya sebagai guru komputer di sekolah, dan saat ini mengabdikan sisa hidupnya di city council sebagai pelayan masyarakat.

Di depan monitor komputernya, bapak itu mencoba mengkonfirmasi data-data kelahiran anak saya yang sebenarnya sudah terintegrasi dengan data di rumah sakit tempat anak saya lahir.  Saat Dia menanyakan apa pekerjaan istri saya. Aku pun menjawab housewife, ibu rumah tangga maksud ku.

Hemm, i don’t like that word, i think it should full-time mother.

Yeah, ibu penuh waktu, bukan ibu rumah tangga. Rasanya memang lebih mulia full-time mother ketimbang Ibu rumah tangga. Relasi suami-istri yang sangat sejajar di budaya barat, pekerjaan full-time mother sepertinya menjadi semakin langka. Tidak sedikit perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Dan mereka baik-baik saja. Tetapi kabarnya, negara maju mengalami permasalahan baru: aging population. Prosentase terbesar demografi penduduknya adalah generasi tua yang tak lagi produktif.

Nah loh, betapa mulianya kalian wahai para ibu penuh waktu! Manusia apa yang kamu cari?