Author: Cak Shon

a dull student at University of Nottingham

Hai ‘Riset’ ! Apa kabar?

…. terkadang masa-masa sulit, masa perjuangan adalah hal terindah dari kenangan perjalanan hidup manusia – a random thought

research_diary

Research Diary

Kemaren, kiriman 1 box sisa-sisa barang kami di Inggris, setelah melalui perjalanan yang panjang dan berliku, sampai juga di rumah. Satu setengah tahun sudah kami kembali di Indonesia. Dan barang-barang itu kami berhasil membuka kenangan kami kembali. Terperangkap dalam nostalgia. Eaa…

Dan diantara yang paling membuat saya tercenung adalah, beberapa buku tulis tebal, yang tidak lain adalah buku diary riset PhD saya. Sebagai mahasiswa S3 yang kadang-kadang rajin, saya terbiasa menulis apa yang akan saya lakukan dan apa yang telah saya lakukan di buku diary itu.  Memang mengelola proyek riset selama 4 tahun sendirian tentu bukan pekerjaan mudah. Apalagi kalau tidak well-documented bisa kacau balau dan acak adut, ketika harus menuliskan kembali apa yang telah kita lakukan.

Lembar demi lembar saya buka kembali buku itu sepenuh perasaan, beratus-ratus halaman jumlahnya.  Dan semuanya tulisan tangan. Dulu saya menulisnya penuh duka dan air mata. Sekarang, saat membacanya kembali rasanya pengen menertawakan diri sendiri.

Selain catatan riset, banyak curhatan, keluhan, kata-kata penyemangat, bahkan pisuan kepada diri sendiri. Membacanya kembali, membuat saya bersyukur bahwa saya telah melewati hari-hari sulit itu. Sungguh, perjalanan studi S3 adalah perjalanan yang tidak saja menguras fikiran, tapi juga menguras perasaan. Berkali-kali sudah rasanya saya pernah berfikir tidak akan bisa menyelesaikan. Berkali-kali sudah rasanya saya menemui jalan buntu. Berkali-kali sudah rasanya saya pernah merasa mengambang di antara ketidakpastian.

Tetapi, alhamdulilah setiap cerita pasti ada akhirnya. Dan kebetulan, pada akhirnya saya bisa mengakhiri dengan baik. Buat saya, dari pengalaman sekolah dari TK sampai S3, sekolah S3 inilah yang paling menantang. Kalau boleh saya simpulkan top tips bisa menyelesaikan PhD adalah:

  1. Jaga hubungan baik dengan Supervisor. Rendah hati dan mengalah sajalah sama supervisor tidak perlu banyak bertentangan. Termasuk bisa menahan diri untuk bersabar terhadap hal-hal yang kurang baik dari supervisor. Layaknya manusia pada umumnya, supervisor macam-macam bentuknya. Ada yang ‘baik’ tetapi juga tidak sedikit yang ‘jahat’. Berhusnudzon selalu saja.
  2. Perseverance. Sabar dan ulet. Namanya riset, which is aiming at creating new knowledge, sudah pasti penuh ketidakpastian, kadang salah, kadang gagal. Mental juga sama, kadang semangat, kadang down sampai pada titik nadzir. Semuanya normal. Jatuh adalah hal yang biasa. Tetapi harus bangkit lagi setelah jatuh.
  3. Banyak berdoa. Pengalaman saya banyak teman-teman PhD yang stres, depresi, bahkan sampai masuk klinik kesehatan jiwa. Berdo’a akan sangat membantu menenangkan jiwa kita kawan.

Buat saya, dan mungkin banyak teman-teman juga setuju faktor kepintaran dalam menyelesaikan PhD tidaklah penting, itu nomor dua puluh satu mungkin. Banyak teman-taman yang sangat pintar, tapi gagal baik di tengah maupun akhir perjalanan.

Buat teman-teman yang sedang berjuang menyelesaikan PhD, terus berjalan saja. Meski titik akhir perjalanan kadang terlihat masih sangat gelap. Buat teman-teman yang berencan Ph.D. be mentally well-prepared ! Siapkan mental saja kawan! mental yang kuat jatuh bangun selama perjalanan studi yang kadang dirundung ketidakpastian.

Dan ketika membuka catatan-catatan itu kembali, tiba-tiba terbesit kerinduan pada kerja-kerja ilmiah seperti dulu lagi. Saya jadi teringat kata-kata salah seorang profesor di Indonesia begini:

PhD adalah puncak karir akademik tertinggi dosen-dosen di Indonesia.

Seharusnya selesai PhD adalah awal karir ilmiah seseorang, karena PhD memang tidak lain adalah research training. Tetapi, sayangnya setelah kembali ke Indonesia kebanyakan kalau tidak semua, pada akhirnya memilih bahkan tidak bisa memilih untuk menjadi pejabat dan terjebak dengan kerja-kerja administratif. Bahkan yang sudah bergelar Profesor atau Guru Besar. Sehingga ada guyonan di Indonesia itu GBHN, Guru Besar Hanya Nama. Gelar administratif belaka.

Gelar nya profesor, tetapi nyaris tidak pernah melakukan kerja-kerja ilmiah. Tidak percaya? Cek saja di google scholar. Perhatikan, biasanya karya ilmiah berkualitas tertingginya (i.e. terbit di Jurnal Q1) adalah diperoleh setelah S3. Setelahnya? biasanya publikasi ecek-ecek saja.

Yah, yang saya alami dan rasakan memang kehidupan akademik kampus-kampus di Indonesia masih jauh dari kondisi ideal untuk melakukan kerja-kerja ilmiah, i.e. melakukan penelitian. Waktu habis tercurahkan untuk kerja-kerja administratif dan mengajar.

Kecuali mungkin sebagian orang-orang yang punya ‘kekuatan’ luar biasa untuk fokus pada akademik termasuk berani untuk memilih sedikit egois menolak kerja-kerja administratif. Tetapi tentu kalau semuanya egois, yang lainya pasti ada yang berantakan.

Saya yang termasuk terjebak dengan timpukan pekerjaan administratif, hehehe. Dan sayangnya, saya tidak memiliki ‘kekuatan’ luar biasa itu. Dan jadilah ngenes begini.

Sebenarnya, kalau salary dosen dan peneliti di Indonesia sudah sebaik di negara maju Dan pekerjaan-pekerjaan administratif diserahkan ke tenaga-tenaga profesional di bidangnya dan para dosen bisa fokus pada meneliti dan mengajar, perguruan tinggi akan kembali menemukan marwahnya sebagai tempat munculnya ilmu-ilmu baru. Bukan sekedar broker ilmu pengetahuan belaka.

Salary yang pas-pasan, mendorong dosen-dosen lebih senang mencari proyekan di luar. Pekerjaan administratif mendorong orang-orang lebih mementingkan tugas jabatan administratifnya.  Tugas ilmiahnya jadi tak tersentuh. Akibatnya diskusi dosen nyaris semuanya adalah tentang hal-hal administratif dan hal remeh temeh lainya. Diskusi ilmu? senyap-senyap saja. rasanya tak pernah aku mendengarnya.

Jadi jangan tanya kenapa kampus-kampus Indonesia peringkatnya jauh di bawah. Tidak usah jauh-jauh membangdingkan dengan kampus di Inggris. Dari kampus-kampus di Malaysia dan Thailand saja kita sudah sangat ketinggalan jauh (lihat datanya disini). Padahal, usia kampus-kampus kita jauh lebih tua dari kampus-kampus mereka.

Welcome to the reality dude! Kalau mau benar-benar berkarir akademik dan peneliti ndak usah pulang ke Indonesia. Saya tahu tidak sedikit teman-teman saya yang akhirnya memilih hidup di negara lain, bahkan negara tetangga. Dan saya tahu karir akademiknya luar biasa. Beginilah hidup di negeri ini. Orang-orang masih sibuk pada bungkus, tetapi melupakan esensi. Hem entahlah, entahlah.  Kadang ingin berputus asa mencintai negeri ini. Tetapi hidup harus dinikmati bukan digerutui bukan?

Ya Tuhan, ajari aku darimana dan bagaimana harus memulai. Mungkin saya harus mulai dengan membaca paper jurnal kembali (Kapan ya terakhir baca? hehe).

Advertisements

Merindu mu

…. sekedar puisi-puisian – a random thought

cinta_ku

Sayang

Andai tinta untuk menulis takdir belum mengering,
Akan kuminta Tuhan merubah cerita ini.
Agar dapat kuterus mendekap mu, sayang.
Menciumi ubun-ubun mu,
Menggenggam erat jemari kecil mu,
Membiarkan mu, menggigit jari ku.

Tapi, tinta telah mengering.
dan meyakini bahwa cerita inilah yang terbaik
adalah keniscayaan.

Biarlah, aku belajar memiliki kehilangan
karena memang tak ada yang bisa dimiliki sepenuhnya,
pun diriku sendiri.

Sayang,
Apa kabar mu?
Akhir-akhir ini, kau sering hadir dalam mimpi-mimpi ku.
mendekap mu adalah ingatan terindah,
meski hanya dalam mimpi.
Tetapi, apalah bedanya mimpi dan nyata?

Sayang,
Aku rindu ritual mu
Bangun sepertiga malam terakhir
dengan nyanyian rengen-rengeng mu
‘ca ca ca caca…’
membangun kan ku, untuk bersujud kepada Nya.

Sayang,
Adakah kamu di langit yang ketujuh?
Bermain di taman syurga bersama Ibrahim.
Oh, alangkah indahnya.
Bukan taman dunia yang penuh kepalsuan.

Sayang,
Sampaikan salam ku untuk Ibrahim,
Sebagaimana salam untuk Muhammad.

Ya, Tuhan!
Kuatkanlah atas cobaan kerinduan ini.
Ku tunduk ikhlas atas segala takdir yang telah selesai Kau tulis.

Surabaya
Senja hari, 31-07-2018

Pundung di Telaga Ngebel

… bukan telaganya yang istimewa, tapi perjalanan menuju ke telaganya yang istimewa – a random thought

pundung_pnorogo

Buah Pundung

Ada yang tahu buah ini? ya betul, aku menyebutnya buah pundung. Rasanya, sudah lama sekali tidak bersua dengan buah ndeso yang murah meriah ini. Dulu sekali, waktu masih kecil, si embah atau emak kalau ke pasar, sering beli buah ini. Rasanya kecut ada manis-manisnya sedikit, dan isinya pahit sekali.

telaga_ngebel

Telaga Ngebel

Sampai kemaren  saat menyusuri pinggiran kabupaten Ponorogo menuju Telaga ngebel, akhirnya aku kembali bersua dengan buah satu ini. Dibanding Telaga Serangan Magetan, Telaga Ngebel ini mungkin kalah populer. Tapi, bak gadis desa yang belum pandai berdandan, Telaga ngebel justru lebih menarik untuk dijelajahi.

Jika sampean datang pada saat yang pas., pada liburan akhir tahun misalnya, perjalanan ke Telaga Ngebel ini sungguh menyenangkan. Selain suasana khas pedesaan yang adem dan menenangkan, selama perjalanan sampean bisa melihat dan menikmati langsung berbagai buah-buahan ndeso. Sambil bertegur sapa dengan orang-orang desa yang keramahan dan ketulusanya begitu otentik.

Diantara buah-buahan ndeso itu adalah buah duren, buah manggis, apukat, pisang, langsep, buah pundung, kelapa, waakhowatuha. Sampean bisa mampir membeli dan duduk-duduk santai di pinggir jalan di sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan sampean juga akan mendengar konser alam yang amat menakjubkan, yaitu konser Tonggeret. Serangga yang suaranya begitu indah dan panjang. Ah pasti mereka bukan sedang bernyanyi. Tetapi sedang bertasbih, menyenandungkan lagu puji-pujian untuk Tuhan atas karunia Nya atas hutan yang kaya raya itu. Tanah yang subur, udara yang sejuk dan menyehatkan, dan air bersih yang melimpah dan menyegarkan, buah-buahan, dedaunan, umbi-umbian, sumber penghidupan yang tumpah ruah .

Sampai di pinggir telaga, sampean bisa menikmati menu khas dari Telaga ini, yaitu Ikan Bakar. Ikan-ikan air tawar segar ini kabarnya diambil langsung dari keramba-keramba ikan di Telaga Ngebel. Bagi yang tidak suka makan ikan, ada juga ayam kampung bakar.

Oh, betapa pemurah betul bumi pertiwi karunia Tuhan yang satu ini bukan? Surga seolah pernah bocor sedikit, dan percikanya itu pernah jatuh ke bumi, bernama Indonesia. Tetapi,  anehnya banyak juga orang-orang yang serakah, yang ingin menukarnya dengan hutan beton yang gersang, penuh kepalsuan pula.

 

Cinta Para Nelayan Muncar untuk Gus Dur

… mencintai itu perkara gampang, tetapi barangkali sangat tidak mudah untuk dicintai oleh banyak orang, bahkan oleh orang-orang yang tidak pernah bertegur sapa dengan kita. – a random thought.

kota_muncar_bwi

Ilustrasi: Gus Dur di Perahu Nelayan

Kemaren, kemaren dulu sekali maksudnya. Derap perjalanan waktu mempertemukan ku kembali dengan tempat ini. Muncar, begitu orang-orang menyebut desa pesisir di pinggir timur kabupaten Banyuwangi ini.

Ada sejumput nostalgia menggelitik setiap menapakkan kaki di desa pesisir ini. Ada juga kangen mengisi rongga dada. Kangen pada aroma khas ‘wangi’ desa pesisir ini.

Banyak yang berubah dari pesisir ini. Pertama, semakin cantik. Seperti gadis desa yang telah beranjak dewasa yang baru mengenal berbagai produk kecantikan yang ditawarkan hampir setiap saat di teve-teve. Tak heran jika semakin memesona.

Kedua, dahulu, orang-orang datang ke pesisir ini untuk mencari ikan. Sekarang, orang-orang berbondong kesini hanya untuk mencari angin. Sekedar menghabiskan waktu bersama, memandangi pulau  kecil di seberang. Atau sekedar memandangi perahu-perahu nelayan yang bersandar  di bibir pantai.

Ah, perahu-perahu itu. Lebih seperti perahu-perahu hias yang jadi tontonan ketimbang perahu-perahu pencari ikan. Di perahu-perahu itu terpajang lukisan foto yang entah apa maksud gerangan mereka memajangnya.  Ada sosok perempuan cantik mengumbar kemolekan tubuhnya, ada lukisan foto dewa-dewi, tetapi tidak sedikit yang memajang lukisan foto Gus Dur lengkap dengan pecinya.

Yah, Gus Dur adalah satu-satunya tokoh nasional yang terpajang di perahu-perahu itu. Jokowi pun, yang kata media dicintai rakyatnya, tak terlihat lukisan fotonya. Ada sejumput tanya di kepala: apa gerangan istimewanya seorang Gus Dur?

Aku jadi teringat, satu waktu terjebak di sebuah surau sangat kecil dari kayu di tengah-tengah dusun yang terpencil. Di dinding surau yang sudah rapuh itu tidak tertempel apap pun, kecuali foto Gus Dur yang sudah amat lusuh.

Semua itu semakin menyakinkanku, bahwa Gus Dur banyak dicintai oleh orang-orang di akar rumput. Gus, gus apa sih amalan mu? Kok bisa, orang-orang yang bertemu dengan mu saja belum pernah, masih saja mencintai mu? Tolong ya Gus, jawab pertanyaan ku. Boleh lewat mimpi atau sekedar lewat pertanda. Gus, kami sangat merindukan mu.

**

Mataku masih saja terpaku pada perahu-perahu yang bersandar. Tetapi Muncar memang sudah berubah. Muncar yang ikanya berlimpah ruah tapi bau amis. Kini cantik dan wangi memesona, tetapi dimanakah perginya ikan-ikan mu? Lemuru, mernying, petek, tongkol, banyar, cucut akankah hanya tinggal nama-nama?

 

 

Murah Rejeki

… Wahai jiwa yang tenang! (27), Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya (28). Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambak-Ku (29), dan masuklah ke dalam surga-Ku (30). (Al-Fajr 27-30)

gadis_pantai_lombok

Anak-anak Penjual Souvenir di Pantai Tanjung Ann, Lombok

Mungkin di antara doa-doa yang paling sering kita panjatkan di hadapan Tuhan adalah agar kita dimurahkan rejeki oleh Nya. Rejeki yang melimpah dan barokah. Kita sering berfikir bahwa rejeki itu adalah sama dengan banyaknya harta benda yang kita miliki.

Maklum, di jaman moderen ini, hanya yang bersifat materi saja yang disanjung puji. Tak heran, jika ukuran umum kesuksesan hidup pun bertumpu pada banyaknya harta benda, jabatan dan kedudukan, serta popularitas. Dan kita pun berlomba-lomba mengejarnya, bersemangat saling unggul mengungguli untuk mendapatkan yang terbanyak.

Tetapi pernahkah kita berfikir  bahwa rejeki bukanlah sekedar materi belaka. Alangkah tidak adilnya Tuhan, jika rejeki itu hanya berupa harta benda belaka. Ada seseorang yang hanya duduk-duduk manis beberapa jam, bisa mendapatkan uang puluhan juta rupiah. Sebaliknya, ada yang bekerja sangat keras sekali, hanya mendapatkan uang yang hanya cukup untuk makan sehari saja.

Kawan, ingatlah bahwa rejeki bukan sekedar harta benda. Anak-anak yang soleh, pasangan yang baik, saudara, dan teman-teman yang baik, serta ilmu yang bermanfaat juga rejeki yang tidak ternilai harganya. Dan diantara rejeki yang paling sempurna adalah berupa kenikmatan hati yang mutmainnah, hati yang tenang.

Banyak di antara kita yang harta bendanya melimpah, tetapi belum di karunia anak-anak. Banyak yang dikaruniai gemilang harta tetapi pasanganya suka selingkuh. Banyak yang memiliki segala-galanya dalam hidup kecuali ketenangan hati, jiwanya selalu resah tiada tahu apa penyebabnya.

Sebaliknya, disana banyak orang-orang yang sederhana dari kaca mata materi keduniaan, tetapi sangat murah rejeki dalam hal kebahagiaan dan ketenangan hidup. Sayangnya di jaman sekarang, banyak sekali mereka yang ingin menukar rejeki immaterial itu dengan rejeki materi belaka.