Menjemput Senja di Kota Padang

… ada kenangan yang tertinggal di sudut ingatan setiap menunjungi tempat baru – a random thought.

padang_senja_1

Pantai Malin Kundang

Buatku, salah satu hal yang paling membahagiakan di dunia ini adalah mengunjungi tempat baru. Dan inilah cerita ku pertama kali berkunjung ke Kota Padang. Walaupun saat cerita ini ditulis, aku sudah dua kali mengunjungi bumi minang ini.

Setelah acaraku selesai, sore itu aku berniat menghabiskan hari hingga malam menjelang dengan jalan-jalan sendirian menyusuri sudut-sudut kota Padang. Menyusuri sudut-sudut kota dengan berjalan kaki adalah ritual wajib bagiku, setiap kali mengunjungi tempat baru.

padang_senja_2

Suasana di pinggir pantai arum manis

Aku googling sebentar, untuk mencari must see before die places di kota Padang. Dan, pilihan ku jatuh pada pantai arum manis atau pantai malin kundang di pinggiran kota melewati bukit. Gojek, selalu menjadi pilihan terbaik saat-saat seperti ini. Tidak pakai ribet, cuss langsung ke tempat tujuan.

Dari pusat kota padang menuju pantai arum manis harus melewati jembatan legendaris, jembatan siti nurbaya namanya, yang mengangkangi sungai terbesar di kota Padang yang sudah sangat dekat dengan muara sungai. Lepas dari jembatan, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki bukit. Cukup menanjak tetapi tak jadi persoalan, karena kebetulan armada motor gojek yang aku tumpangi adalah motor laki yamaha vixion.

Dari atas bukit, pantai pesisir kota padang terlihat begitu waw. Airnya jernih, biru kehijau-hijaun terlihat dari pohon-pohon yang rimbun. Sesekali terlihat kapal laut merapat di teluk bayur.

padang_senja_3

Kampung Nelayan

Setelah lebih kurang lima belas menit perjalanan, sampailah kami pada Pantai arum manis. Di sekitar pantai, dipenuhi lapak pedagang makanan. Tetapi rupanya banyak yang kosong. Sepi, tak banyak yang berkunjung di pantai sore itu.

Aku ngintik ke bibir pantai, dengan kamera siap membidik. Yah, penonton kecewa, pantai tak seindah yang terbayangkan. Kotor dan tak terawat itu kesanya. Air laut yang terlihat jernih indah biru kehijau-hijauan dari atas bukit, menjelma menjadi hitam dan keruh di Pantai ini. Pasir pantai juga tidak menarik untuk dilihat.

Satu-satunya daya tarik dari pantai ini adalah jejak Malin kundang dan kapalnya yang membatu di pinggir pantai. Sayang, lokasinya cukup jauh dari tempatku berdiri. Akupun enggan menuju kesana.

Hari semakin surup, pantai terlihat semakin sepi. Burung-burung terbang menuju bukit. Lalu hilang ditelan pepohonan. Aku khawatir akan kesulitan mencari driver gojek yang mau datang ke tempat ini. Beruntung masih ada yang bersedia menjemputku untuk kembali ke kota.

Aku minta turun di kawasan padat penduduk, di bawah Jembatan Siti Nurbaya. Kampung nelayan sepertinya, terlihat sejumlah perahu tertambat di pinggir sungai. Sayang, lagi-lagi sungainya kotor penuh dengan sampah plastik. Sangat merusak pemandangan sebenarnya. Tetapi begitulah, peradaban manusia Indonesia di pinggiran kota sepertinya melihat sampah plastik yang mengotori sungai sebagai hal yang biasa-biasa saja. Padahal aku haqqul yakin, jika bersih pemandanganya tak akan kalah indah dari kota Copenhagen atau kota-kota lainya di Eropa.

padang_senja_4

Anak-anak di Pinggiran Kota Padang

Aku berjalan di pinggir sungai, lalu duduk di pinggiran sungai. Menjadi penonton saat orang-orang sibuk beraktivitas adalah kenikmatan lainya dalam hidup ini. Dari pinggir sungai terlihat rumah-rumah penduduk yang sederhana dengan arsitektur ala kadarnya. Kata kumuh sebenarnya lebih tepat untuk mendeskripsikanya.

Rupanya, kesulitan ekonomi, susahnya perjuangan sekedar menyelenggarakan kehidupan cukup sandang pangan menjadikan estetika tidak begitu penting dalam kehidupan. Tetapi, mungkin tidak dengan kebahagiaan. Kebahagiaan tak enggan menyapa siapa saja yang hatinya tulus menjalani setiap detak nadi kehidupan.

padang_senja_5

Jembatan Siti Nurbaya

Lima orang bocah kegirangan di atas sepeda motor becak, saat aku mengarahkan lensa kamera DSLR ku ke arah mereka. Aku pun mengulas senyum. Aku terpesona dengan dengan tawa mereka yang begitu original. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Beberapa jepretan ku arahkan ke mereka. Tanpa perintah, mereka bereksen dengan senang sepenuh hati. Ada kehangatan memenuhi rongga dada, kebahagiaan mereka sore itu menular perlahan menjalar ke segenap jiwa.

Tak jauh dari pinggiran sungai, aku mampir di warung Mie ayam dan bakso yang laris manis. Penjualnya orang Jawa. Mendengar orang-orang lokal bercakap-cakap dengan bahasa daerah lokal mereka selalu menjadi suasana yang hangat dan menyenangkan. Bahasa membawa budaya katanya. Dan sore itu aku menyaksikan langsung budaya orang minang dalam tutur kata mereka.

Dari bawah Jembatan, aku menyusuri jalan naik ke atas Jembatan Siti Nurbaya. Hari semakin surup, tetapi di atas Jembatan semakin ramai. Para pedagang mulai menggelar dagangan mereka. Ada jagung bakar dan penganan lainya.

padang_senja_6

Sungai Padang

Lampu-lampu penerangan sudah menyala. Kelap-kelip lampu di atas bukit terlihat indah sekali. Pun sungai yang membelah kota padang ini, semakin indah untuk di pandang. Sungai yang kotor dan kumuh tak lagi terlihat. Berubah temaram dan kelap-kelip cahaya dari rumah penduduk dan pelahu nelayan yang bersandar. Cahanya berpendar dalam air sungai yang tenang.

padang_senja_7

Hari Menjelang Maghrib di Kota Padang

Suasana senja yang indah di Kota Indah. Hatiku menghangat tanda bahagia. Malampun perlahan datang menggulung senja. Sayup-sayup terdengar suara adzan dari TOA masjid terpung di pinggir sungai di bawah jembatan. Sahut-sahutan suara adzan menggema menyambut datangnya waktu maghrib di kota Padang. Menggetarkan jiwa, menuntun hati yang rindu untuk segera bersimpuh kehadapan sang pemberi kehidupan.

Seorang emak-emak tangguh, dengan senang hati memboncengku dengan motor scoopy nya ke masjid provinsi sumatera barat yang megah di tengah-tengah kota. Aku pun larut dalam pujian syukur dan doa-doa. Terima kasih ya Allah atas segala karunia mu dalam hidup hari ini, kemaren, dan hari-hari yang akan datang.

 

 

About Cak Shon

Santri yang tak kunjung jadi kyai. View all posts by Cak Shon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: