Semanggi Suroboyo yang Legendaris Itu

… semanggi suroboyo, lontong balap wonokromo, di makan enak sekali, sayur semanggi krupuk puli. bung… mari…. -lirik lagu

semanggi_surabaya

Ibu-ibu Jualan Semanggi Suroboyo di Taman Bunggul

Di Kota Surabaya, ada makanan legendaris namanya: semanggi suroboyo. Bagaimana tidak legendaris, makanan yang satu ini bersama lontong balap diabadikan dalam sebuah lagu daerah (yang juga legendaris) Surabaya dengan judul yang sama: Semanggi Suroboyo. Lagu ini dipopulerkan oleh Mus Mulyadi yang terkenal sebagai Raja Keroncong di jamanya.

Seperti apakah ajaibnya makanan satu ini? aku yang hidup di Surabaya sejak 2002 pun belum pernah sekalipun mengincipinya. Sampai akhirnya pada tahun 2017 kemaren, untuk kali pertamanya aku mencicipi makanan ini. Waktu itu, pas sedang mlaku-mlaku di kawasan Taman Bunggul Surabaya. Ketika sedang asyik mengedarkan pandangan di segala penjuru, Voila, mak jenunuk, seorang embah-embah di bawah pohon menarik perhatianku. Satu gelangsing kerupuk puli berwarna kuning kecoklatan itu membangunkan nafsu makanku.

Beberapa jenak kemudian, barulah aku sadar bahwa si Mbah ini berjualan makanan Semanggi Suroboyo yang legendaris itu. Sebenarnya makanan ini varian nasi pecel yang sangat jamak ditemui di seluruh penjuru Jawa Timur. Yang istimewa adalah sayurnya, yaitu sayur semanggi. Semanggi adalah sayuran sejenis gulma yang sepertinya sudah semakin sulit untuk dicari. Kemudian sambel pecelnya yang sepertinya dicampur dengan telo yang mengahasilkan aroma dan cita rasa yang khas. Dan yang terakhir keistimewaan dari makanan ini adalah kerupuk pulinya.

Bagiamana rasanya? menurut saya sih biasa-biasa saja malah cenderung tidak enak. Tetapi ini mungkin karena dua hal. Pertama, semanggi yang saya beli ini murahan. Murah kok njaluk wenak? maklum hanya beli dari si mbah, most likely janda, yang berikhtiar untuk bisa bertahan menyelenggarakan hidup di kota metropolis ini. Yang rela berpindah-pindah tempat dan seringkali harus uber-uberan sama satpol PP. Ada banyak lapak jualan di Taman Bungkul ini sebenarnya. Tapi ya tentunya tidak gratis. Buat Si Mbah, biaya sewa tentunya tidak nyucuk dengan keuntungan ala kadarnya dari jualan Semanggi Suroboyo ini. Kedua, barangkali memang seleraku yang beda. Jadi seenak apapun katanya, kalau ya memang tidak berselera ya tetap saja tidak enak.

Lain kali mungkin perlu makan Semanggi Suroboyo di tempat yang lebih mriyayini. Bukan di bawah pohon ala kadarnya begitu. Walaupun meski harganya pat gulipat jauh lebih mahal. Eh, atau coba di pasar dadakan tiap hari jumat di sekitar masjid kampus. Pak Dekan aku lihat sering mborong Semanggi Suroboyo disitu, lengkap dengan kerupuk pulinya yang buanyak.

***
Thanks for Reading 🙂
Matur Nuwun!
Jangan lupa, Untuk Cerita Lebih Seru, Please subscribe, My Youtube Channel ya! Klik: youtube

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s