Pak Tani

… pada mu aku belajar tentang kepasrahan menjalani hidup – a random thought

pak_tani

Pak Tani (Lokasi: Wonoasri, Kab. Madiun)

Di pagi-pagi buta, pak tani tua berangkat kerja. Berjalan gagah penuh keyakinan dengan caping dan dua keranjang menggantung dipundaknya. Telapak kaki telanjang nya menapak pasti jalanan terjal berbatuan.

Pak Tani, berapa uang yang akan kau dapatkan sepagi ini? Berapa uang yang dapat kau kumpulkan hingga petang nanti? Berapa uang yang akan masuk di rekening di tanggal muda bulan depan nanti?

Jika itu aku tanyakan kepada mu, engkau pasti menjawab dengan senyum tulus mu: hehe, apa itu rekening mas? aku ora ngerti, aku ora nduwe.

Pak Tani, aku sudah tahu. Jiwa-jiwa mu adalah jiwa-jiwa merdeka. Bukan jiwa-jiwa yang terkangkangi oleh harta dan benda. Semangat kerjamu bukanlah berjuta-juta uang layaknya orang-orang kantoran. Semangat hidupmu bukanlah menumpuk-menumpuk, melipatgandakan kekayaan layaknya para businessman.

Buatmu, hidup mung sadermo ngelakoni. Kepasrahan total pada yang maha memberi kehidupan. Seperti burung-burung pipit yang keluar dari sarangnya di pagi hari, dan kembali pulang dengan perut penuh sewajarnya. Tak ada timbunan makanan di sarangnya.

Ku tahu, jiwamu merdeka. Tak ada ketakutan akan masa depan, karena engkau percaya sepenuhnya pada Tuhan. Mesti kesalehanmu tak pernah kau pamerkan.

Dan, jiwa-jiwa kami adalah jiwa-jiwa rapuh. Yang selalu mengkhawatirkan akan ketidakpastian masa depan. Kami sering lebih percaya pada jaminan pekerjaan, jabatan, dan tabungan untuk masa depan. Daripada bersandar sepenuhnya pada jaminan Tuhan. Meskipun kami sering memamerkan kesalihan kepada Tuhan kami kepada teman-teman.

Pak Tani, tahukah  kamu, Pak Jokowi, presiden kita yang kabarnya bersahaja seperti mu itu, hutang ke luar negeri dalam jumlah yang bahkan akan teramat sulit untuk hadir dalam imajinasimu, untuk membangun badan negeri ini. Akankah ini kabar bahagia bagimu?

Jangan-jangan kamu malah menasehati kami. Bukan badan bangsa ini yang perlu dibangun, tapi jiwa-jiwa bangsa ini yang sakit yang perlu dibangun.

 

Advertisements

5 comments

  1. saya salut sekali dengan mereka..ntar tanpa mereka apa kita bisa makan nasi..
    habis subuh mereka sudah menyeburkan diri ke sawah…penuh lumpur..
    bahagia selalu ya mereka..

  2. Aku punya cerita, ibunya mamas adalah seorang petani. Suatu hari setelah panen, datanglah pengumpul beras untuk dijual ke kota bersama dengan hasil panen dari petani lain di kampung mamas. Si pengumpul datang ke rumah kami, untuk menawar gabah dengan harga paling murah yang ia bisa. Ibu mamas, seperti tidak punya pilihan untuk menaikkan harga gabahnya.

    Lalu aku tanya, mengapa? beliau bilang, “niat ibu jadi petani adalah memberi makan keluarga sendiri, keluarga sekitar hingga cukup, lalu sisanya untuk keluarga yang lain (maksudnya dijual ke kota via pengumpul), balik modal saja sudah puas rasanya.. tidak usah sampai laba sekian juta..”

    MasyaAllah, ndredeg rasanya ati.. hangat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s