Dalam Antrian Loket Penjualan Tiket Kereta Api

…Jangan pernah lelah mencintai negeri ini -SMI

antrian

Antrian Loket Tiket Kereta Api

Hari itu aku masih di masa ‘bulan madu’ tinggal kembali di tanah air, setelah bertahun-tahun tinggal di Inggris. Duh, rasaya ‘shock culture’ dan ‘stresfull’ beneran. Rupanya, aku mengalami keterkejutan budaya justru setelah kembali ke tanah air sendiri. Rasanya, dulu waktu pertama kali tinggal di Inggris, semuanya terlihat dan terasa indah. Saat kembali, sepertinya semua tidak ada yang bener di negeri ini.

Seperti peristiwa hari itu, saat aku ke stasiun kereta api untuk membeli tiket kereta api. Bukanya aku tidak tahu PT Kereta Api Indonesia sudah memiliki pemesanan tiket online. Sudah aku coba, dan rupanya tidak semua tiket kereta api bisa dibeli online. Ada beberapa jenis kereta api yang tiketnya hanya bisa di pesan di stasiun kereta api hanya pada jam kerja 09.00-16.00 saja. Sungguh aneh Bin Ajaib.

Implementasi teknologi informasi untuk efisiensi dan efektifitas proses bisnis tak bisa sepenuhnya terjadi di negeri ini. Mengapa? Gampangnya saja, untuk kasus PT KAI, jika semua bisa online, berapa banyak para petugas penjual tiket kereta api di stasiun-stasiun yang kehilangan pekerjaanya? Hal yang hampir sama terjadi di pemerintahan, implementasi e-government tidak serta merta membawa kemudahan bagi masyarakat. Masih atau bahkan semakin ruwet saja. Itulah, keberhasilan implementasi sebuah teknologi bukan sekedar karena seberapa canggih teknologinya, tetapi kadang orang-orangnya dan kebijakan yang berlaku lebih menentukan.

Sesampai di stasiun, aku langsung mengantri di loket penjualan, lumayan panjang. Sampai pada akhirnya tiba giliranku dilayani, betapa terkejutnya diriku ketika si penjual tiket bilang bahwa tiket tidak bisa dibeli di loket ini, hanya bisa dibeli di loket stasiun lama yang tempatnya hanya dipisahkan oleh rel kereta api. Tambah mangkel sekali, ketika saya hendak menuju stasiun baru dengan menyebrang rel kereta dalam stasiun tidak diperbolehkan. Duh Gusti, aku harus jalan kaki muter keluar stasiun lewat jalan raya yang jaraknya lebih dari satu kilometer.

Dengan keringat bercucuran ditambah hati yang dongkol aku kembali mengantri di loket penjualan tiket stasiun lama. Lumayan panjang juga, tapi hatiku tak sabar-sabarkan. Sampai ketika giliranku untuk dilayani, tiba-tiba seorang ibu berjilbab sangat lebar dan panjang hampir menyentuh tanah dan menggandeng seorang bocah kecil, dari luar antrian tiba-tiba menyerobot diriku, tanpa sepatah katapun. Dan ajaibnya dilayani juga sama si penjual tiket. Aku hanya bisa mengelus-ngelus dadaku yang di dalamnya sedang bergemuruh kata “JUANCOK!!!!!”

Tidak kah dia berfikir ada orang lain yang sudah mengantri berlama-lama yang telah didzolimi, diambil haknya olehnya. Apalagi, melihat bungkusnya yang seolah memamerkan kesalehan. Tetapi perbuatanya sungguh sangat memalukan. Ini bukanlah peristiwa sekali dua kali, tetapi banyak kali. Di jalan raya, di bank, di stasiun, di toilet, aku sering sekali didzolimi orang-orang yang suka menyerobot antrian, bahkan dilakukan oleh orang-orang yang katanya berpendidikan.

Tetapi aku maklum, bukankah pendidikan, termasuk pendidikan agama, di tempat kita hanya bertujuan agar siswa bisa memilih jawaban ujian dan mendapatkan nilai yang bagus? Sehingga, Tidak masalah jika produk dari sekolahan adalah orang-orang yang bersabar mengantri saja tidak bisa. Harap maklum juga di kantor-kantor, banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi tidak sabar dalam berproses, akhirnya sikut sana sikut sini, serobot sana serobot sini, berkorupsi, untuk meraih kekayaan dan jabatan. Mereka menempelkan harga diri dan kehormatan mereka pada seberapa banyak kekayaan dan seberapa tinggi jabatan itu. Bukan pada etos kerjanya.

Pun pemahaman agama, hanya dipahami dengan hal-hal yang bersifat bungkus materi yang harus bisa diukur. Seberapa lebar jilbabnya, Seberapa panjang jenggotnya, seberapa banyak hafalanya. Tetapi lupa subtansi esensi dari agama itu sendiri. Bukankah sang nabi menyatakan diri tidak diutus kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlak ‘kelakuan’ yang baik.

Argh sudahlah, meskipun sepertinya semua terlihat salah. Jangan lelah mencintai negeri ini, kata bu Sri Mulyani.

Advertisements

3 comments

  1. Cinta negeri nya ga lelah, mas, Tp ngerasain orang2nya bisa stroke nganggur.
    Kl sy dulu diserobot msh diam saja, Tp krn makin lama kok makin sering, kl sekarang diserobot langsung sy tegur yg nyerobot kl perlu petugasnya sekalian, drpd sy yg jantungen ngempet emosi, mas
    Mslhnya jaman sekarang para ortu juga hanya ngejar pendidikan academic aja, tp ga urus dengan budi pekerti, wong gurunya aja sekarang juga banyak yg ga ngerti kok….susah…

  2. “Di jalan raya, di bank, di stasiun, di toilet, aku sering sekali didzolimi orang-orang yang suka menyerobot antrian, bahkan dilakukan oleh orang-orang yang katanya berpendidikan.”

    Hahaha aku wingi belum 1 jam mendarat di Indonesia wis didzolimi Cak 🤣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s