Menyapa Jakarta (Kembali)

… suruh siapa datang ke Jakarta? – anonim

ilyas_di_depok

Wajah Kota Depok di Pagi Hari

Satu Maret dua ribu tujuh belas, Pukul lima sore lebih lima belas menit, kami akhirnya tiba di bandara sukarno hata Jakarta. Setelah perjalanan panjang tiga belas setengah jam lamanya dari bandara Heathrow London. Sumuk dan gerah rasanya. Maklum, kami meninggalkan kota Nottingham saat masih diselimuti musim dingin.

Bagasi kami langsung ditransfer ke pesawat untuk penerbangan ke Solo hari berikutnya. Karenanya dari pesawat kami langsung ke nursery room, untuk ganti popok Alisa, anak wedok yang baru 3 bulan itu. Lalu, langsung menuju ke pintu keluar.

Di pintu keluar telah menunggu Mas Ilham sekeluarga, tetangga kami waktu sang kawan tinggal di kota Nottingham. Saling salam dan peluk hangat sesudahnya. Duh haru dan senang sekali rasanya bertemu kembali dengan sahabat lama.

Tak lama berselang, setelah adzan maghrib di Jakarta berlalu, datang pula pakde Yadin, sahabat kami lainya yang pernah satu kali berkunjung di rumah kontrakan kami di Nottingham. Sahabat baik kadang terasa lebih dekat dari saudara sendiri.

Pakde membawa kami keluar dari bandara menuju kota Depok lewat Jakarta. Lewat jalan tol sebenarnya, tapi bukan jalan bebas hambatan seperti hafalan ku waktu pelajaran bahasa indonesia di jaman SD. Macet luar biasa. Mobil dan truk-truk besar menyesaki jalanan. Dari balik mobil, mataku nanar menatap wajah ibu kota. Kelap-kelip lampu dari hutan beton berwujud gedung-gedung pencakar langit dan mall-mall besar mengundang tanya hati kecilku: Jakarta dibangun untuk kepentingan siapa? Para pemilik modal ataukah? entahlah, yang jelas kutahu banyak teman yang tak mampu sekedarmemiliki tempat berteduh di kota ini.

Berjam-jam kami terjebak dalam kemacetan kota. Tetapi aku tidaklah mengapa. Obrolan hangat dengan Pakde membuat perjalanan tetap menyenangkan.

Keluar dari jalan tol, keadaan semakin parah. Jakarta benar-benar semakin tidak manusiawi batinku. Motor, mobil, truk, bus, angkot seolah berdesak-desakan berebut sejengkal ruang sempit di jalanan. Berisik sudah pasti. Bunyi klakson dan deru mesin terasa begitu memekkakkan telinga.

Beruntung aku berada di dalam mobil Pajero Sport yang masih gress. Tak terbayang olehku bagaimana rasanya berada di dalam angkot yang penuh sesak itu. Rupanya ada kecelakaan di depan, sehingga banyak kendaraan yang berbalik arah di jalan satu arah itu. Duh, kacau balau jadinya.

Tetapi aku tetap berusaha menikmati perjalanan. Iyalah, aku hanya duduk diam. Tak perlu memikirkan bagaimana peliknya nyetir dalam kondisi jalanan seperti itu. Dari dalam mobil kuperhatikan ada yang berbeda dari tiga tahun yang lalu. Yaitu banyaknya tukang ojek berseragam label ojek berbasis aplikasi mobile. Gojek, uber, dan grab yang terlihat mata.

Setelah berjam-jam bergelut dengan kemacetan, akhirnya kami berhasil keluar dari leher botol Jakarta yang terasa begitu menjepit rasa. Luega rasanya. Mobil melaju kencang menyusuri jalan dalam hutan kampus Universitas Indonesia Depok. Kami fikir, kami akan menginap di rumah Pakde. Rupanya beliau menginapkan kami di The Margo Hotel, tidak jauh dari kampus UI.

Di loby hotel, bude dan adiknya bude sudah menunggu. Duh, teramat bahagia dan terharu rasanya. Seperti bertemu keluarga dekat sendiri yang sudah terlalu lama tidak bertemu. Hati-hati kami terasa sangat dekat dalam obrolan yang begitu gayeng dan bersahabat.

Obrolan kami berlanjut sambil makan malam bersama, lesehan di dalam kamar di lantai 17. Lidah kami berasa sangat dimanjakan dengan cita rasa masakan indonesia yang sudah terlalu lama kami rindukan. Ditambah menu sarapan pagi di hotel yang kaya dengan cita rasa lokal nusantara yang begitu menggoda.

makanan_ndeso_ala_hotel

Makanan Ndeso ala Hotel Berbintang

Rasanya semua makanan senusantara hadir disini. Ada soto, gudeg, kedelai godok, gedang godog, ketan keju, jamu beras kencur, jamu kunyit asem, dawet, dan buanyak lagi lainya. Duh sarapan pagi yang benar-benar geplek ilat. What a superb treat buat kami yang baru datang kembali setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah air. Thank a bunch Pak De dan Bu De. Jazakumullah khoiral jazak!

Advertisements

2 comments

  1. Well, selamat datang saudara se iman,maaf telat ngucapin hehehe,, sdh 3 bln ya di tanah air..baru 2 hari ini aku mengenalmu… lewat tulisan/ kisahmu yg tlah ku baca,,, susunan kalimat & alur ceritanya apik,,sukses ya kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s