Hidup Sederhana (Saja)

… banyak orang yang menghidupi hidup yang sejatinya bukan seperti nurani kecil mereka inginkan, tetapi hidup yang seperti apa orang lain ingin memandang – a random thought

snow_nott

Ilustrasi: Hidup yang terlihat

Kala sedang melihat kehidupan orang-orang yang menurut orang modern adalah terbelakang, ketinggalan jaman, seperti orang baduy, tengger, atau suku di pedalaman nusa tenggara sana, ataupun orang-orang desa aku sering bertanya-tanya. Betapa hidup itu begitu sederhana saja sebenarnya. Betapa semua kebutuhan hidup tersedia oleh alam. Dan mereka mengambil dari alam sebutuhnya saja.

Bukankah hidup sebenarnya sederhana saja? kita makan pun tak lebih 3 piring saja bukan? Sayang orang modern begitu serakah. Ingin menumpuk-numpuk kekayaan sendiri sebanyak-banyaknya. Untuk hidup selama-lamanya di dunia? Nyatanya tak seorangpun mampu bertahan hidup lebih dari dua ratus tahun, bukan? Diatas 60 tahun saja, hidup mu sudah sakit-sakitan?

Pun kebahagiaan, begitu sederhana juga bukan? Sesederhana seorang bocah mengumbar seulas senyum selepas mencium sekuntum melati mekar di taman di depan rumah di sore hari.

Hanya saja, kehidupan dibuat-buat semakin kompleks. Kebutuhan pun dibuat-dibuat. Orang-orang menghidupi hidup yang sejatinya, tak seperti nurani kecil mereka inginkan. Tetapi menghidupi hidup yang orang lain ingin melihat.

Orang-orang ingin menghidupi hidup seperti yang diinginkan para penjual gaya hidup. Penjual mobil, penjual rumah, penjual gadget, penjual hiburan, penjual syahwat. Para penjual pemilik keserakahan hidup. Sungguh hidup yang begitu menyebalkan dan menyesakkan. Hidup yang penuh kebutuhan yang terus dan terus bertambah. Disaat yang sama kulihat ketimpangan hidup yang semakin menganga. Kulihat kerusakan alam yang semakin memiriskan dada.

Setiap hari, kulihat banyak orang-orang memamerkan kebahagian, tetapi diam-diam hatinya menyimpan duka kesedihan yang dalam. Kulihat banyak orang memamerkan kesempurnaan hidup, tetapi diam-diam hatinya menyembunyikan kemunafikan yang menjijikkan.

Haruskah hidup penuh kepura-puraan ini kita lanjutkan? Jika ia, entah seperti apa pada akhirnya jadinya? Kalau aku bisa memilih, akan kupilih hidup sederhana saja. Bahagia yang sederhana saja. Tetapi memilih hidup sederhana di jaman ini justru tidaklah sederhana.

Advertisements

8 comments

  1. Turut. Berduka cita, mas, telah pergi lagi 1 orang baik meninggalkan kita untuk selamanya… Namun semoga dia mendapat tempat mulia Di SisiNya

  2. Cak, kenapa sampeyan gak nulis lagi? Saya mulai merindukan tulisan-tulisan sampeyan yang “renyah” dan “segar” 😀

    -Salam-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s