Tetangga Sebelah

…. alangkah sejuknya suasana hati selalu, bila setiap kita hadir untuk siap memahami, bukan untuk menghakimi – a random thought

tetangga_kita

Kiriman Tetangga Sebelah

Natal tahun ini, kami mendapat beberapa kartu ucapan natal. Ini rekor terbanyak buat ku. Tetapi, tetap saja si anak lanang juaranya. Ini kartu ucapan beneran, bukan kartu ucapan digital, atau ucapan lewat pesan elektronik. Kartu dengan desain gambar bertema natal yang menarik dan lucu, lengkap dengan tulisan tangan di dalamnya berikut nama pengirimnya, lalu dimasukkan dalam amplop berwarna putih.

Rupanya teknologi digital dengan dengan kemampuan telepon cerdas yang makin canggih pun tak mampu menggerus tradisi berkirim ucapan dengan media kartu. Ini yang paling aku suka dari orang Inggris. Cita rasa kehidupanya sangat tinggi. Tentu ada rasa yang tak bisa terwakilkan ketika kartu ucapan beneran bertransformasi ke kartu ucapan digital.

Argh orang Inggris memang keren. Bisa mempertahankan hal-hal klasik sama kuatnya dengan semengat mereka berinovasi menciptakan hal-hal yang baru. Seperti jargonya pesantren-pesantren NU, almuhafadu ‘ala qadimisoleh, walakhdu biljadidil aslah. Landlord ku saja, hingga saat ini masih sering berkomunikasi dengan kami melalui surat tulisan tangan dikirim lewat kantor pos berperangko.

Diantara semua kartu ucapan itu yang paling istimewa adalah dari tetangga sebelahku. Tetangga yang berbagi dinding rumah dengan kami. Uncle John namanya. Saat hari-h natal, saat semua layanan publik tutup, termasuk semua public transport, toko, dan super market yang mejual apa pun. Dan orang-orang berdiam diri di dalam rumah bersama keluarga. Hari itu, tetangga ku mengetuk pintu rumah kami. Memberikan sebuah kartu ucapan dan satu nampan makanan.

Saya jadi ingat peristiwa setahun yang lalu. Di momentum yang sama, Uncle John, memberi kami kartu ucapan dan satu botol besar minuman anggur merah berakohol. Tentu saja kami menerimanya dengan senang hati, meskipun tentu saja tidak kami minum. Dan akhirnya anggur merah itu diterima dengan senang hati dan senyum lebar oleh tukang yang kebetulan sedang membetulkan heater di rumah kami pada suatu ketika.

Ada yang berbeda dengan makanan yang diberikan kepada kami tahun ini. Meskipun Uncle John tak pernah menanyakan apa agama kami, sepertinya beliau jauh lebih mengerti kami, bahwa kami keluarga muslim yang hanya boleh memakan makanan yang halal. Hari itu, uncle john memberi kami satu nampan makanan, berisi tiga botol kecil yang sekilas seperti anggur merah. Tetapi rupanya, dilabelnya tertulis dengan sangat jelas, minuman tidak beralkohol. Lalu ada satu kotak nasi briani, seperti nasi goreng dicampur dengan daging kambing. Satu kotak ayam goreng, dan satu kotak sayur salad. Karena yakin halal, kami pun lahap menyantapnya. Terima kasih Uncle John!

Alangkah adem dan menyenangkan jika kita hidup bersama, dan kita saling belajar untuk saling mengerti, bukan saling menghakimi bukan? Tetapi sayang hal sebaliknya malah sedang mewabah di negeri ku. Media sosial, facebook, twitter, group WA, buatku menjadi tempat yang sangat tidak nyaman buat ku. Bukanya dijadikan media untuk saling memahami satu sama lain yang ditakdirkan berbeda-beda, sebagaimana diajarkan dalam agamaku, tertulis jelas dalam Alquran, li ta’arofuu. Tetapi sebaliknya malah jadi saling menghakimi.

Rasanya kini seolah menjadi ritual setiap akhir tahun, masih saja ribut hal yang sama: haram merayakan maulud nabi, haram mengucapkan Natal, haram merayakan tahun baru, sentimen anti-syiah dan sebagainya. Orang-orang semakin menjadi sektarian. Sekte kelompoknya sendiri diyakini kebenaran sempurna, sementara yang diluar sektenya dihakimi salah semua. Lebih-lebih menjelang suksesi kepemimpinan di ibu kota yang kebetulan sang petahana menurut mereka dapat dua vonis kutukan sekaligus: sudah kafir, cina lagi. Makanya, belakangan aku sudah lama tidak membuka facebook, dan keluar tanpa permisi dari beberapa group WA yang juga semakin sektarian. Buatku, membaca buku khusuk jauh lebih bergizi.

Sungguh miris nian, ketika melihat orang-orang semakin alergi dengan perbedaan. Jangankan dengan yang berbeda agama, dengan yang seagama saja mereka senang sekali menghakimi. Ada yang menghakimi muslim liberal, ahli bidah, musyrik, akidahnya tidak benar, bahkan kafir sekalipun. Orang-orang nalar toleransinya semakin tumpul.

Padahal kalau kita mau merenungi sejenak apalah diri kita ini, kita justru semakin mudah memahami orang lain. Bukankah apa yang membentuk diri kita, yang mendefinisikan alam fikiran kita, hanya karena bentukan orang dan peristiwa di sekitar kita. Kita menjadi Jawa, kita menjadi Muslim, bukankah hanya kebetulan karena kita lahir di Jawa dan keluarga muslim. Imajinasi, pemahaman, keyakinan akan kebenaran yang ada di kepala dan hati kita bukankah juga tak jauh-jauh hasil dari bentukan pendidikan yang kita terima?

Sementara, kalau aku boleh bertanya, adakah di antara kita yang sebelum dilahirkan di dunia ini bisa memilih dari rahim siapa dan tempat dimana kita akan dilahirkan?

Sadar akan segala keterbatasan kita. Kawan, mari berhenti untuk menghakimi. Mari kita belajar memahami. Terus dan terus belajar. Mari kita terus perdalam dan perluas cakrawala pengetahuan kita yang terbatas. Agar segala permasalahan hidup terasa enteng-enteng saja kita hadapi.

Jika sampean masih kekeuh menghendaki agar semua orang seperti mu, memahami kebenaran tunggal dari Tuhan adalah seperti yang engkau yakini. Kenapa Tuhan yang maha kuasa tidak menjadikan setiap orang menjadi seperti mu? Bukankah Tuhan saja yang berkendak menciptakan perbedaan-perbedaan itu? Kalau begitu, kenapa kamu tidak protes kepada Tuhan saja?

***

Nb. buat pembaca blog ini yang Kriten/Katolik, khususon Mbak Tina Sklg :), Selamat Natal ya! Semoga bring blessing, joy and fun in your life selalu. Maaf telat

Advertisements

3 comments

  1. Aduh mas, terima kasih ucapan natal nya, maaf ga bisa kasih bingkisan apa2, senang sekali bila walau beda agama namun saling ikut merayakan walau hanya dg ucapan selamat, sekali lagi ma kasih,mas. Semoga BerkahNya melimpah selalu utk mas sekeluarga 😀

  2. Tulisan mas kali ini sungguh berarti buat saya (di luar ucapan selamat nya;-))
    Beberapa waktu ini agak sedih, takut juga ngelihat kondisi di mana ada satu kelompok yg berusaha memaksakan kehendak sampai segitu nya. Ngerasa sedih, kenapa manusia tak pernah mau belajar dr sejarah, dan selalu terulang di mana gol.mayoritas menekan gol.minoritas. Padahal justru dg perbedaan itu kita bisa melihat Kebesarannya, dg perbedaan itu kita jd makin ‘kaya’
    Hhhhhh…..O:)

  3. Jadi malu sendiri, pas Hari Raya sy malah ga kasih selamat ya utk si mas n keluarga, mohon maaf yg sedalam2nya kl sifat cuek sy jd kebablasen 😳

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s