Bid’ah dan Inovasi

… pendidikan disini menjadikan anak-anak kreatif sementara di tempat kita menjadikan anak-anak ensiklopedik. – a random thought

inovasi_ilyas

Anak Lanang dengan Inovasi Pesawatnya

Kemaren, yang telah lama berlalu, selepas sholat subuh jamaah di masjid. Ada seseorang yang menegurku. ” you have made an innovation, and it is not allowed in islam”  begitu, kira-kira pesan yang ingin disampaikan. Dia menggunakan kata “innovation” untuk menerjemahkan kata Bid’ah.

Rupanya tidak hanya di Indonesia, dimana teman-teman kelompok salafi, begitu gencar menyerang perilaku bid’ah, dimana NU, ormas Islam terbesar dengan jamaahnya yang ratusan juta itu (aku salah satunya), menjadi sasaran tembaknya; disini pun aku juga sudah berkali-kali divonis ahli bid’ah. Haha.

Ceritanya, setelah sholat, sebagai orang yang punya sentimental brain, aku sering sujud syukur. Intinya curhat kepada Allah, dan tentunya bersyukur atas segala apa yang telah Tuhan beri dalam kehidupan ini. Eh, malah divonis haram.

Aku pun enteng-enteng saja menanggapinya, meskipun dalam hati sambil ngomel: “Bid`ah endas mu, ngising mari sholat wae oleh, opo maneh sujud syukur“. Saya hanya bilang “thank you for your concern, but probably, we have different understanding“. Yah namanya orang, meskipun rambut sama hitamnya, tetapi isinya beda. Termasuk cara memahami agama. Mungkin mereka yang suka memvonis bid’ah itu, memahami agama dengan sangat textual. Jadi, apa-apa yang tidak secara explisit tertulis di buku-buku teks agama, yang sebenarnya buku-buku itu juga bikinan manusia, ya hukumnya haram. Sementara diriku, lebih senang memahami agama secara kontekstual. Latar belakang pendidikan yang berbeda pun menjadikan pemahaman kita yang berbeda.

Seingatku, selama ngaji fiqih di pesantren dulu, sholat itu dimulai takbir dan ditutup dengan salam. Jadi sependek pemahaman ku, setelah salam ya bebas kita mau ngapain saja boleh. Mau langsung ngising saja boleh, apalagi bersalaman atau bersujud syukur.

Tetapi saya sangat maklum dengan perbedaan pemahaman itu. Dan bukan kapasitas ku, menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Sungguh, wallahu a’lam bissowab. Hanya Allah yang maha mengetahui kebenaranya.

***

Tetapi aku sedang ingin menceritakan tentang Inovasi yang lain. Inovasi dalam membangun peradaban manusia di dunia, bukan peradaban di akhirat. Tentang bagaimana di Inggris ini rupanya semangat menciptakan inovasi sudah dibiasakan sejak bayek. Tak heran, jika banyak inovasi berdatangan dari negeri Inggris ini.

Inovasi inilah pemicu pertumbuhan ekonomi utama di negara maju, bukan konsumsi seperti di negara berkembang seperti di Indonesia. Boleh-boleh saja di media, pemerintah membangga-banggakan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik di dunia nomor tiga di dunia (padahal sebenarnya kurang tepat, lebih tepatnya nomor 3 diantara negara G20, dan banyak negara lain di luar G20 yang pertumbuhan ekonominya lebih tinggi daripada Indonesia, lihat disini), mengalahkan Inggris. Tetapi apalah artinya pertumbuhan ekonomi ranking segitu, jika pendapatan perkapita (yang menunjukan tingkat kesejahteraan) kita masih nomor 158 (yang jarang diekspos media).

Ceritanya kemaren pas liburan musim dingin, karena aku benar-benar nganggur jadi bisa mengamati perkembangan dan tingkah polah anak lanang dari bangun tidur hingga tidur lagi. Rupanya banyak hal-hal yang mengagumkan yang baru aku tahu dari anak lanang yang masih umur 5 tahun, yang aku yakin karena sistem pendidikan dasar yang sangat bagus disini.

Pertama, kemampuan bacanya yang berkembang pesat, sudah book band level 9 (lihat: oxford-owl) . Tidak hanya bisa membaca, tetapi juga paham apa yang dia baca. Terbukti dari hanya sekali membaca, lalu tutup buku, di hampir nyaris sempurna bisa menjawab semua pertanyaan berdasarkan bacaan yang diberikan di akhir buku.

Kedua, kebiasaan berinovasi. Selain pintar menggambar untuk mendeskripsikan sesuatu. Anak lanang juga terampil berinovasi dengan menggunakan barang-barang bekas, e.g. karton, kertas, kaleng bekas, untuk menciptakan sesuatu yang menurut dia baru. Satu yang menjadi poinya, menciptakan sesuatu yang dia fikir belum ada orang yang menciptakan sebelumnya.

Seperti kemaren, tentang pesawat kertas. Mungkin pesawat dari kertas yang bisa terbang sudah terlalu mainstream. Tetapi dia berinovasi dengan memberi roda pada pesawat kertas itu, dan menggambar jendela serta nama pesawatnya. Lalu setelah itu, dia mengambil laptop, buka google, mengetik : “paper aeroplane with plane“, dan diklik tab images. Ketika dia tidak menemukan satu pun gambar yang sama. Dengan excited, anak lanang berteriak dengan bangga: “ Hore!…. I am the first one in the world, making paper aeroplane with wheel“.

Pesawat kertas sendiri sih biasa-biasa saja, tetapi spirit untuk membuat bid’ah, alias inovasi, menciptakan sesuatu yang baru sungguh sangat luar biasa. Tidak hanya pesawat, selama liburan, anak lanang juga berinovasi menciptakan hal-hal yang lainya seperti: kapal laut, sledge, rumah, ikan, dll. yang setiap kali ditanya darimana datang idenya. Dia hanya menjawab: ” it just comes from my head“. Haha!

Aku jadi teringat, jaman aku seumur segitu, di sekolah hanya diajari hafalan. Hafalan nyanyi, hafalan pancasila, hafalan surat pendek. Lalu beranjak mendewasa hafalan pasal-pasal UUD, hafalan perkalian, hafalan nama menteri, hafalan tahun-tahun sejarah, dan hafalan materi-materi pelajaran lainya. Hafalan pelajaran berlanjut hingga kuliah. Apa yang bisa kita harapkan dari otak yang hanya digunakan untuk menghapal itu? Apa bedanya dengan wikipedia?

Tak heran jika miskin inovasi di negeri kita. Tak heran jika kita hanya bisa puas sebagai negara konsumen produk-produk teknologi di dunia, bukan produsen teknologi. Bahkan, kita pun parahnya jadi konsumen ideologi dan jati diri. Hal-hal yang kebarat-baratan dan kearab-araban dianggap lebih bergaya. Tak heran jika agama pun dipahami tak lebih dari hafalan aturan halal/haram. Bukan dihayati sepenuh hati sebagai penghambaan kepada Tuhan, dan inspirasi menciptakan rahmat untuk sekalian alam, inspirasi untuk menciptakan peradaban dunia yang berkemajuan.

Tetapi mungkin aku salah, dunia pendidikan di negeriku mungkin sudah banyak berubah?

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s