Seorang Lelaki Dan Anak Lelakinya

… karena setiap orang yang melintas berpapasan atau beriringan dalam perjalanan hidup kita dihadirkan untuk sebuah alasan – a random thought

di_perlintasan_jalan

Ilustrasi: Di Perlintasan Jalan, Cambridge

Seperti lazimnya dalam sebuah perjalanan, dalam perjalanan hidup pun kita ditakdirkan bertemu dengan banyak orang. Kadang berpapasan, kadang berjalan beriringan. Kadang bersua sebentar saja, kadang bersama cukup lama. Kadang bertemu sekali lalu menghilang selamanya, kadang kita dipertemukan berkali-kali.

Mungkin, kebanyakan dari kita berfikir ah semua itu hanya rangkaian peristiwa-peristiwa kebetulan saja, titik. Aku pun juga pernah berfikir demikian. Tetapi belakangan, aku lebih percaya bahwa mereka hadir di dalam perjalanan hidup kita ini untuk sebuah alasan. Sebagaimana sesungguhnya tidak yang kebetulan dalam kehidupan ini bukan? Ndilalah itu bukanlah kebetulan, tetapi atas kersane Gusti Allah. Bukankah setiap daun yang jatuh, dan setitik embun yang menetes pun atas kehendaknya?

Berangkat dari keyakinan itu, setiap ditakdirkan berada di tempat mana pun, dan bertemu dengan siapa pun, alam fikiran ku selalu bertanya-tanya untuk apa Tuhan menempatku di tempat ini? untuk apa Tuhan mempertemukan ku dengan orang ini? Karenanya, aku juga percaya bahwa setiap tempat bisa menjadi sekolah, setiap orang bisa menjadi guru, dan setiap peristiwa adalah materi pembelajaran dalam universitas kehidupan ini.

Ada kalanya, kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang hanya sebentar saja, lalu menghilang selamanya dari kehidupan kita, tetapi kehadiranya yang sebentar itu menjadi inspirasi sepanjang hayat. Begitupun dengan tempat yang kita singgahi sebentar dan peristiwa yang terjadi sekali saja dalam perjalanan hidup ini.

Ada seorang Lelaki dan anak lelakinya, yang hampir setiap hari aku dan anak lanang berpapasan di jalan yang sama, sang lelaki dan anak lelakinya berjalan kaki aku dan anak lanang bersepeda, hanya bertukar seulas senyum dan sapa “hallo….”, tanpa kita sempat saling mengenal. Hari ini, sang lelaki itu menghentikan sepedaku, memberi sebungkus gula-gula pada si anak lanang. Kebahagian anak lanang pun berlimpah ruah.

Sang lelaki dan anak lelakinya itu telah mengajari ku bagaimana seorang bapak begitu wigati pada anak lanangnya. Setiap pagi, dengan setia, berjalan kaki cukup jauh, menghantar anak lanangnya, menunggu di depan gerbang sekolah cukup lama, hingga gerbang sekolah dibuka. Setiap sore, dengan setia, menunggu didepan gerbang sekolah, menunggu cukup lama, sambil menikmati setiap hisapan rokoknya, hingga si anak lanang keluar dari gerbang sekolah.

Di jaman, dimana orang-orang modern selalu dikejar-kejar oleh kesibukanya, hidupnya diatur-atur oleh jam, sungguh ini adalah peristiwa istimewa. Seorang lelaki yang begitu wigati antar-jemput anak lelakinya, dengan sepenuh hati, meski harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya dengan berjalan kaki.

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s